Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
24
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Gejala Klinis dan Pengobatan
Leptospirosis
Masri S Maha
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang disebabkan
oleh beberapa bakteri dari golongan leptospira yang berbentuk
spiral kecil disebut spirochaeta. Bakteri ini dengan flagellanya
dapat menembus kulit atau mukosa manusia normal. Penyakit
leptospira tersebar terutama di daerah tropis dan subtropis,
khususnya di daerah berawa-rawa atau pasca banjir. Infeksi
bakteri ini dapat menyebabkan penyakit dengan gejala dari
yang ringan seperti penyakit flu biasa sampai yang berat atau
menimbulkan sindrom termasuk penyakit kuning (ikterus) berat,
sindrom perdarahan (perdarahan paru paling sering
menyebabkan kegawatan), gagal ginjal sampai menyebabkan
kematian. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit yang
berhubungan dengan rekreasi, terutama yang berhubungan
dengan air seperti berenang di sungai. Kejadian bencana alam
seperti banjir besar juga memungkinkan banyak orang
terinfeksi. Para klinisi perlu mewaspadai penyakit ini.
EPIDEMIOLOGI
Binatang pengerat terutama tikus merupakan sumber
penularan leptospira paling penting; binatang mamalia lain juga
dapat sebagai sumbar beberapa jenis leptospira tertentu.
Binatang-binatang ini dapat mengeluarkan bakteri leptospira
dalam jangka waktu yang lama tanpa gejala. Manusia bisa
tertular secara langsung maupun tidak langsung dari binatang
yang mengidap bakteri tersebut.
Secara alamiah bakteri ini terdapat di air yang
terkontaminasi urin binatang pengidap bakteri ini dan dapat
bertahan lama. Di air yang pHnya normal dapat bertahan
selama 4 minggu. Dengan demikian biasanya kasus penyakit
ini sering ditemukan pada musim hujan, terutama pada daerah -
daerah banjir.
FAKTOR RISIKO
(1,2)
1. Pekerjaan yang kontak dengan air seperti: petani yang
bekerja di sawah, peternakan, pekerja rumah potong hewan,
dan tentara yang berlatih di daerah rawa-rawa.
2. Orang yang sedang berekreasi seperti berenang di sungai,
rekreasi kano dan olah raga lintas alam di daerah berawa.
3. Di rumah tangga pada orang yang merawat binatang
peliharaan, pemelihara hewan ternak, dan tikus di rumah-
rumah.
TANDA DAN GEJALA
(3,4)
Tabel 1. Gejala klinik 150 pasien leptospirosis di Vietnam.
(5)
No
Tanda dan gejala
persentase
1. Nyeri
kepala
98
2. Demam
97
3. Nyeri
otot
79
4. Menggigil
78
5. Mual
41
6. Diare
29
7. Sakit
perut
28
8. Batuk
20
9. Conjuctivitis
42
10. Pembesaran
limpa
22
11. Pembesaran kelenjar limfe
21
12. Sakit
tenggorokan
17
13. Pembesaran
hati
15
Leptospirosis disebabkan oleh kontaminasi (kontak dengan)
spirochaeta yang dapat ditemukan dalam air yang terkontami-
nasi air kencing hewan. Ini biasanya terjadi pada daerah
beriklim tropis.
Masa inkubasi 2 sampai 26 hari (rata-rata 10 hari)
Demam tiba-tiba, menggigil, nyeri otot dan nyeri kepala
merupakan gejala awal.
Mual, muntah dan diare dialami oleh 50% kasus
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 25
Batuk kering dialami oleh 25-35 % kasus
Nyeri sendi, nyeri tulang, sakit tenggorokan dan sakit perut
dapat juga dijumpai tetapi agak jarang
Pendarahan conjuctiva merupakan tanda khas penyakit ini
pada fase leptospira beredar di dalam darah penderita
Pada fase ke dua atau fase imunitas, menjadi asimtomatis;
demam tidak terlalu tinggi, nyeri otot dan gejala gangguan
saluran pencernaan menjadi ringan
Gejala meningitis merupakan tanda khas fase kedua (50%).
Kasus berat dengan gejala karakteristik berupa demam tinggi
disertai perdarahan, kuning (jaundice) dan gagal ginjal dikenal
dengan Weil's disease; pada keadaan ini angka kematian
sangat tinggi.
DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN
(6,7)
-
Leukositosis dengan netrofil sering ditemukan.
- Pemeriksaan urin biasanya menunjukkan proteinuri dan
ditemukan sel di urin.
- Peningkatan
ureum
dan
kreatinin serum (67%).
-
Sekitar 40% pasien menunjukkan peningkatan enzim hepar
minimal sampai moderat.
- Di cairan spinal pleositosis, glukosa normal dan protein
sedikit meningkat.
- Penegakan diagnosis lebih sering dilakukan dengan
pemeriksaan serologis (antibodi).
- Bakteri dapat jelas terlihat dengan menggunakan
mikroskop kamar gelap, silver stain atau mikroskop
flouresen.
- Leptospira dapat dibiakkan dari darah, urin dan cairan
spinal, tetapi tumbuh sangat lambat.
-
Isolasi bakteri dari darah berhasil pada 50% kasus.
-
Kultur urin biasanya positif sesudah minggu ke dua sampai
30 hari sesudah infeksi.
Pemeriksaan antibodi terhadap leptospira di laboratorium
untuk diagnosis pasti dapat dengan cara: MAT (microscopic
agglutination test), HI (hemagglutination) test, ELISA (IgM).
Selain itu ada pula pemeriksaan cepat menggunakan kit seperti:
Dip-S-Ticks (PanBio).
Diagnosis biasanya didasarkan atas gejala klinik dan
pemeriksaan laboratorium. Di samping itu anamnesis mengenai
pekerjaan serta aktifitas yang berhubungan/kontak dengan air
sangat membantu dalam menegakkan diagnosis.
PENGOBATAN
(5,8,9)
Pengobatan kasus leptospirosis masih diperdebatkan.
Sebagian ahli mengatakan bahwa pengobatan leptospirosis
hanya berguna pada kasus kasus dini (early stage) sedangkan
pada fase ke dua atau fase imunitas (late phase) yang paling
penting adalah perawatan.
(10)
Tujuan pengobatan dengan antibiotik adalah:
1. mempercepat pulih ke keadaan normal
2. mempersingkat lamanya demam
3. mempersingkat lamanya perawatan
4. mencegah komplikasi seperti gagal ginjal (leptospiruria)
5. menurunkan
angka
kematian
Obat pilihan adalah Benzyl Penicillin. Selain itu dapat
digunakan
Tetracycline,
Streptomicyn,
Erythromycin,
Doxycycline, Ampicillin atau Amoxicillin.
Pengobatan dengan Benzyl Penicillin 6-8 MU iv dosis terbagi
selama 5-7 hari. Atau Procain Penicillin 4-5 MU/hari
kemudian dosis diturunkan menjadi setengahnya setelah
demam hilang, biasanya lama pengobatan 5-6 hari.
Jika pasien alergi penicillin digunakan Tetracycline dengan
dosis awal 500 mg, kemudian 250 mg IV/IM perjam selama 24
jam, kemudian 250-500mg /6jam peroral selama 6 hari. Atau
Erythromicyn dengan dosis 250 mg/ 6jam selama 5 hari.
Tetracycline dan Erythromycin kurang efektif dibandingkan
dengan Penicillin.
Ceftriaxone dosis 1 g. iv. selama 7 hari hasilnya tidak jauh
berbeda dengan pengobatan menggunakan penicillin.
(11)
Oxytetracycline digunakan dengan dosis 1.5 g. peroral,
dilanjutkan dengan 0.6 g. tiap 6 jam selama 5 hari; tetapi cara
ini menurut beberapa penelitian tidak dapat mencegah
terjadinya komplikasi hati dan ginjal.
(12)
Pengobatan dengan Penicillin dilaporkan bisa menyebab-
kan komplikasi berupa reaksi Jarisch-Herxheimer. Komplikasi
ini biasanya timbul dalam beberapa waktu sampai dengan 3
jam setelah pemberian penicillin intravena; berupa demam,
malaise dan nyeri kepala; pada kasus berat dapat timbul
gangguan pernafasan.
(13, 14)
PENCEGAHAN
Yang paling penting adalah menghindari daerah yang
diperkirakan banyak binatang pengeratnya dengan risiko
kontaminasi urine hewan tersebut. Beberapa peneliti
menganjurkan antibiotik untuk pencegahan; yang terbaik
adalah doxycycline 200 mg./minggu. Selain itu pemberian
antibiotik tersebut pada awal penyakit (fase dini) dapat
mengurangi gejala seperti: demam, nyeri kepala, badan tidak
enak dan nyeri otot; juga dapat mencegah terjadinya
leptospiruria (ditemukannya kuman leptospira dalam urin) dan
yang penting tidak ditemukan efek samping yang merugikan
pasien.
(15,16)
PROGNOSIS
Secara umum kasus yang ditangani dengan baik dengan
perawatan yang dianjurkan, prognosisnya baik. Angka kemati-
an menjadi tinggi pada penderita lanjut usia, yang mengalami
jaundice berat, datang dengan komplikasi gagal ginjal akut dan
dengan kegagalan pernafasan akut.
KESIMPULAN
1. Penyakit leptospirosis mungkin banyak terdapat di
Indonesia terutama di musim penghujan.
2. Pengobatan dengan antibiotik merupakan pilihan terbaik
pada fase awal ataupun fase lanjut (fase imunitas).
3. Selain pengobatan antibiotik, perawatan pasien tidak kalah
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
2
pentingnya untuk menurunkan angka kematian.
4. Scott G, Coleman TJ. Leptospirosis. In: Cook GC, Zumla AI eds.
Manson's Tropical Diseases 21
st
ed. London: Saunders 2003;68:1165-73
4. Angka kematian pada pasien leptospirosis menjadi tinggi
terutama pada usia lanjut, pasien dengan ikterus yang
parah, gagal ginjal akut, gagal pernafasan akut.
5.
Farrar WE, Leptospira species (leptospirosis). In: Mandel GL, Bennet JE,
Dolin R, eds. Principles and Practice of Infectious Diseases 3
rd
ed. New
York: Churchill Livingstone; 1995: p.2137-41
6.
Sitprija V. Leptospirosis. In:Weatherall, Ledingham, Warrel, eds. Oxford
Textbook of Medicine 3rd ed. Oxford: Oxford University Press
1996:p.689-91
SARAN
1) Pada orang berisiko tinggi terutama yang bepergian ke
daerah berawa-rawa dianjurkan untuk menggunakan
profilaksis dengan doxycycline.
7. Faine S. Leptospirosis. Turano A, ed. Laboratory Diagnosis of
Infectious Diseases: Principles and Practice. New York: Springer-Verlag,
1988.
8.
Faine S. Leptospirosis. WHO 1982 (WHO Offset Publ. 67)
2) Masyarakat terutama di daerah persawahan, atau pada saat
banjir mungkin ada baiknya diberi doxycycline untuk
pencegahan.
9.
Guidugli F, Castro AA, Atallah AN. Antibiotic for preventing leptospira.
Cochrane database of systematic reviews. The Cochrane Library 2004;2
10. Watt G, Padre LP, Tuazon ML, Calubaquib C, Santigo E, Ranoa CP, et al.
Placebo controlled trial of intravenous penicillin for severe and late
leptospirosis. Lancet 1988;1(8583): 433-5
3) Para klinisi diharapkan memberikan perhatian pada
leptospirosis ini terutama di daerah-daerah yang sering
mengalami banjir.
11. Panaphut T, Domrongkitchairporn S, Vibhagool A, Thinkamrop B,
Susaengrat W. Ceftriaxone compared with sodium penicillin G for
treatment of severe leptospirosis. CID 2003;36(12):1507-13
4) Penerangan tentang penyakit leptospirosis sehingga
masyarakat dapat segera menghubungi sarana kesehatan
terdekat.
12. Russell RW. Oxytetracycline for treatment of leptospira. Lancet
1958;2:1143-5
13. Emmanouilides CE, Kohn OF, Garibaldi R. Leptospirosis complicated by
a Jarisch-Herxheimer reaction and adult respiratory distress syndrome:
case report. Clin Infect Dis 1994;18(6):1004-6
KEPUSTAKAAN
14. Jarisch-Herxheimer
reaction, general practice notebook. Available from
1.
Ashford DA, Kaiser RM, Spiegel RA, Perkins BA,Weyant RS, Bragg SL,
et al. Asymptomatic infection and risk factor for leptospirosis in
Nicaragua. Am J Trop Med Hyg 2000;63(5,6):249-54
15. Edwards CN, Levett PN. Prevention and treatment of leptospirosis.
Expert Rev Anti Infect Ther 2004;2(2):293-8
2.
Padre LP, Watt G, Tuazon ML, Gray MR, Laughlin. A serologic survey
of rice-field leptospirosis in Central Luzon, Philippines. Southeast Asian
J Trop Med Public Health. 1988;19(2):197-9
3. Watt G. Leptospirosis, Hunter's Tropical Medicine and Emerging
Infectious Disease 8
th
ed. 2000;p.452-8
16. Takafuji ET, Kirpatrick JW, Miller RN, Karwacki JJ, Kelley PW, Gray
MR, et al . An efficacy trial of doxycycline chemoprophylaxis against
leptospirosis. N Engl J Med 1984;310:497-500.
It is the passions that do and undo everything
(Fontenelle)
6
Document Outline