background image
HASIL PENELITIAN
Sulbaktam / Ampisilin
sebagai Antibiotika Profilaksis
pada Seksio Sesarea Elektif
di RSIA Rosiva Medan
R. Haryono Roeshadi
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Medan, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian dilakukan di RSIA Rosiva Medan melibatkan 60 orang ibu hamil yang akan
menjalani seksio sesarea elektif untuk membandingkan manfaat Sulbaktam / Ampisilin sebagai
antibiotika profilaksis (dosis tunggal) dan terapeutik (multidosis).
Penelitian dilakukan dengan rancangan klinik acak (Randomized Clinical Trial): penderita
dibagi 2 kelompok masing-masing 30 kasus mendapat antibiotika dosis tunggal dan 30 kasus
lainnya mendapat antibiotika multidosis. Tidak terdapat perbedaan pada kedua kelompok
penelitian, semua kasus sembuh sempurna, tidak terdapat tanda infeksi.
Pada seksio sesarea yang bersih dan didukung fasilitas yang baik dan aseptis, disarankan
cukup menggunakan antibiotika profilaksis dosis tunggal.
PENDAHULUAN
Meskipun diktum Once a caesarean always a caesarean di
Indonesia tidak dianut, tetapi sejak dua dekade terakhir ini telah
terjadi perubahan kecenderungan sectio caesarea (SC) di
Indonesia. Angka kejadian SC sejak tahun 1980 meningkat; di
RS Cipto Mangunkusumo Jakarta SC pada tahun 1981 sebesar
15,35% meningkat menjadi 23,23% pada tahun 1986.
Peningkatan ini juga terjadi di seluruh dunia. Di Amerika
Serikat angka kejadian SC meningkat dari 5,5% pada tahun
1970 menjadi 15% pada tahun 1978 dan 24-30% saat ini.
Peningkatan ini diduga disebabkan karena teknik dan
fasilitas operasi bertambah baik, operasi berlangsung lebih
asepsis, teknik anestesi bertambah baik, kenyamanan pasca
operasi dan lama rawat yang bertambah pendek. Di samping itu
morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal dapat
diturunkan secara bermakna. Peningkatan angka kejadian SC
ini juga dipengaruhi oleh perubahan penanganan persalinan
terutama dengan kehadiran partograf, penanganan persalinan
aktif dan penanganan persalinan kehamilan risiko tinggi.
Dibandingkan dengan persalinan pervaginam, biaya SC
jauh lebih tinggi. Di Amerika Serikat biaya SC lebih kurang 2-
2,5 kali biaya persalinan pervaginam. Sedangkan di Medan
lebih kurang 2,5-3 kali biaya persalinan pervaginam.Salah satu
komponen biaya dalam SC adalah penggunaan antibiotika.
Penggunaan antibiotika profilaksis dosis tunggal diharapkan
dapat menghemat biaya antibiotika sampai 75%. Dengan
pemberian antibiotika dosis tunggal ½-1 jam sebelum operasi,
diharapkan kadar hambat maksimal dalam darah atau di daerah
pembedahan akan dapat mencegah penyebaran kuman
nosokomial, mengingat sterilisasi alat, bahan dan kamar bedah
di beberapa rumah sakit belum memadai. Kadang-kadang hal
tersebut di atas diperburuk oleh keadaan umum dan keadaan
gizi pasien yang rendah.
Pada penelitian ini akan dikaji manfaat penggunaan
Sulbaktam/Ampisilin sebagai antibiotika profilaksis dosis
tunggal yang diberikan ½-1 jam sebelum operasi dibandingkan
dengan pemberian multidosis yang dimulai segera setelah
operasi selesai dan diulangi setiap 12 jam selama 3 hari.
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 21
background image
Sulbaktam/Ampisilin keduanya merupakan derivat
Penisilin berspektrum luas terhadap bakteri Staphylococcus,
Streptococcus, H. influenzae, Bacteroides fragilis, E.coli,
Klebsiella sp. Neisseria meningitis, Neisseria gonorrhoe,
Proteus sp. dan Enterobacter sp.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan di RSIA Rosiva Medan atas penderita
yang akan menjalani seksio sesarea elektif selama periode Juli
sd. Nopember 2000. Rancangan penelitian berupa rancangan
uji klinik acak (Randomized Clinical Trial) membandingkan
pemberian antibiotika Sulbaktam/Ampisilin multidosis pasca
bedah. Penderita diseleksi sesuai dengan kriteria penerimaan;
semua penderita yang memenuhi kriteria diminta kesediaannya
untuk ikut serta dalam penelitian dan diwawancara untuk
pengisian data klinik. Diamati dan dicatat jenis operasi, lama
operasi dan komplikasi yang terjadi.
Penderita dibagi menjadi dua kelompok sesuai dengan
kartu random sampling. Pada kelompok profilaksis diberikan
antibiotika Sulbaktam/Ampisilin 1,5 gram dosis tunggal, ½-1
jam sebelum operasi dimulai, sedangkan pada kelompok
pembanding diberikan Sulbaktam/Ampisilin multidosis dimulai
dengan dosis 1,5 gram setelah operasi selesai dan diulangi
setiap 12 jam selama 3 hari.
Kriteria Penerimaan
1.
Bersedia ikut dalam penelitian.
2.
Tidak menderita komplikasi kehamilan yang memerlukan
penanganan khusus seperti preeklampsia, diabetes melitus,
penyakit jantung, dan penyakit ginjal.
3.
Kehamilan aterm, lebih dari 37 minggu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada periode Juli 2000 sd. Nopember 2000 di RSIA
Rosiva Medan terdapat 905 persalinan, 239 (26%) kasus di
antaranya dengan seksio sesarea. Yang diikutsertakan dalam
penelitian ini sebanyak 60 kasus, masing-masing 30 kasus
memperoleh antibiotika Sulbaktam/Ampisilin dosis tunggal
dan 30 lainnya memperoleh multidosis.
Tabel 1. Hasil tes kemaknaan sebaran umur, berat badan, kadar Hb
dan jumlah kehamilan pada kelompok dosis tunggal dan
kelompok multidosis pemberian antibiotika Sulbaktam /
Ampisilin.
Tidak ada perbedaan bermakna mengenai sebaran umur,
berat badan, kadar Hb dan jumlah kehamilan penderita pada
kedua kelompok (p > 0,05) (Tabel 1). Umumnya penderita
dalam masa reproduksi sehat dan gizi yang baik; umur rata-rata
29-30 tahun, jumlah kehamilan rata-rata
± 2, kadar Hb rata-
rata : 12,5 g% dan berat badan rata-rata 72 kg. Keadaan ini ikut
mempengaruhi morbiditas penderita pasca seksio sesarea.
(7)
Tabel 2. Sebaran kasus berdasarkan indikasi seksio sesarea elektif
kelompok dosis tunggal dan kelompok multidosis.
Indikasi
Dosis
tunggal
Multi
dosis
Jumlah %
SC Ulangan
11
11
22
36,7
SC Pertama :
19
19
38
63.3
Letak Lintang
1
2
3
5,0
Letak Sungsang
6
7
13
21,7
F.P.D
6
5
11
18,3
Anak Berharga
3
4
7
11,6
Gemelli
1
0
1
1,7
Plasenta Previa
2
1
3
5,0
Jumlah
30 30 60 100,0
Tabel 2 memperlihatkan bahwa seksio sesarea ulangan
yang dilakukan pada 22 (36,7%) penderita, merupakan indikasi
tersering, 7 kasus menjalani seksio sesarea yang ke tiga.
Indikasi anak berharga pada 7 kasus; 5 kasus di antaranya telah
berumah tangga lebih dari 5 tahun dan 2 kasus lainnya
primigravida pada usia di atas 35 tahun. Tiga kasus dengan
plasenta previa, dilakukan seksio sesarea elektif pada
kehamilan di atas 37 minggu dan belum mengalami
perdarahan. Manfaat Sulbaktam / Ampisilin pada penelitian ini
dapat dilihat dari tanda infeksi dan kenyamanan pasca bedah.
Adanya infeksi pasca bedah yang berupa endometritis dan
infeksi luka bedah dapat dinilai dari tanda-tanda klinis berupa
kenaikan suhu tubuh lebih dari 38
°C, subinvolusi uteri, uterus
lembek dan nyeri tekan, lokhia berbau atau adanya eritema
dengan cairan serous, serosanguinus atau pus, adanya indurasi
atau infiltrat disertai nyeri tekan, kadang-kadang luka operasi
terbuka. Sedangkan kenyamanan operasi dapat dinilai dari
lama operasi, keadaan umum dan keadaan penyakit pasca
bedah, lama puasa dan immobilisasi, adanya komplikasi dan
lama rawat di rumah sakit. Pada penelitian ini, semua kasus
tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi, luka operasi sembuh
sempurna. Pasca bedah tidak perlu puasa, mobilisasi dilakukan
24 jam setelah pembedahan dan lama rawat antara 3 sampai 5
hari, semua pasien dipulangkan tanpa komplikasi.
Pada penelitian ini semua kasus baik kelompok
profilaksis (dosis tunggal) ataupun kelompok
multidosis:
1.
Keadaan umum dan keadaan gizinya baik; berat
badan terendah 50 kg dan berat badan rata-rata
72 kg. Di samping itu kadar Hb terendah 10 g
% dan kadar Hb rata-rata 12,5 g %.
2.
Kemungkinan adanya infeksi subklinis kecil,
karena semua kasus dipersiapkan dengan baik dan
penderita dengan ketuban pecah dini tidak
dimasukkan dalam penelitian.
3.
Lama operasi berkisar antara 30-60 menit.
Dosis tunggal
Multidosis
Kemaknaan
Sebaran
Mean SD Range Mean SD Range
t
P
Umur
29,50
4,03
21 ­ 38
30,17
3,98
22 ­ 39
0,647
0,26
Berat
badan
72,00
7,64
53 ­ 90
72,50
7,11
50 ­ 88
0,263
0,40
Kadar Hb
12,40
0,70
10,5 -14,5
12,43
0,73
10,0 ­ 14,5
0,160
0,07
Jumlah
kehamilan
1,97
0,98
1 ­ 4
0,91
0,91
1 ­ 4
0,246
0,18
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
22
background image
Di samping pemberian antibiotika dosis tunggal dan
multidosis, keadaan pasien seperti di atas tampaknya turut
berpengaruh dalam penyembuhan luka operasi, seperti yang
dinyatakan oleh beberapa peneliti; Younis MN dkk.
menemukan perbedaan bermakna angka kekerapan infeksi jika
kadar Hb < 9 g % dibandingkan dengan kadar Hb 10 g %
(7)
Feijgin dkk. menemukan jika lama operasi lebih dari 4 jam
maka kekerapan infeksi pasca bedah akan meningkat dua kali
lipat.
(3)
Sedangkan Unalp K menemukan jika antibiotika
profilaksis diberikan pada kasus yang sudah mengalami infeksi
subklinis maka kekerapan infeksi pasca bedah akan
meningkat.
(6)
Pada penelitian ini dijumpai 2 kasus dengan reaksi alergi
terhadap pemberian Sulbaktam/Ampisilin. Kasus pertama
mengalami hidung tersumbat, konjungtiva merah, telapak
tangan dan kaki eritema yang muncul segera setelah operasi
berlangsung dan hilang dalam 48 jam setelah pemberian
antihistaminika dan kortikosteroid. Sedangkan pada kasus ke
dua reaksi alergi muncul setelah 24 jam pasca bedah berupa
eritema hampir pada seluruh tubuh. Pemberian Sulbaktam /
Ampisilin multidosis kemudian dihentikan, penderita sembuh
setelah diberi antihistaminika dan kortikosteroid.
KESIMPULAN
1.
Keberhasilan penggunaan antibiotika profilaksis
Sulbaktam / Ampisilin dipengaruhi oleh keadaan umum,
gizi, infeksi nosokomial, lama operasi, fasilitas dan bahan-
bahan aseptis di kamar bedah.
2.
Dengan penggunaan antibiotika profilaksis, kebutuhan
antibiotika dapat dikurangi sampai 75 %.
SARAN
Pada seksio sesarea yang bersih dan didukung fasilitas dan
bahan-bahan kamar bedah yang aseptis, disarankan cukup
menggunakan antibiotika profilaksis dosis tunggal.
KEPUSTAKAAN
1.
Achadiat CM, Wiknjosastro GH. Single dose prophylaxis of sulbactam /
ampicillin for non elective caesarean section. Proc. Seventh Annual
Meeting of Indonesia Society of Obstetrics and Gynecology, Surakarta,
1991.
2.
Quililgan EJ. Caesarean Section : Modern Prospectives In Management
of High Risk Pregnancy, Ed. Queenan JT, Third Ed, Boston: Blackwell
Scient Publ, , 1994 Ch. 58 : 520-3.
3.
Feijgin, Markous, Goshens S, Segal J, Arbely, Lang R. Antibiotic for
Caesarean Section : The case for true prophylaxis, Int. J. Gynecol &
Obstet, 1993 ; 43 : 257-61.
4.
Rustam RP. Pemberian antibiotika profilaksis ampisilin dosis tunggal pra
bedah dan multidosis pasca bedah pada bedah sesar elektif. Tesis Bagian
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran USU, September 1999.
5.
Samil RS. Changing trends in caesarean section in Indonesia. Maj Obstetr
Ginekol Indon. 1988;14(2) : 72- 9.
6.
Unalp K, Condon RE. Antibiotic prophylaxis for scheduled operation
procedure. Infect Dis Clin N Am. Sept 1992 : 613-24.
7.
Younis MN, Hamed AF, Abdel MS, Edessy M. The febrile morbidity
score as a predictor of febrile morbidity following cesarean section. Int. J.
Gynecol Obstetr.1991 ; 35 : 225-9.
Virtue is the only thing necessary
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 23

Document Outline