TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Farmakoterapi Rasional Pada
Amebiasis
Candra Wibowo
Laboratorium/SMF Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
Rumah Sakit Umum Pusat Malalayang, Manado
PENDAHULUAN
Pemberian terapi pada amebiasis perlu mendapat
perhatian, mengingat sekitar 90% infeksi penyebabnya
(Entamoeba histolytica) di usus besar tanpa gejala
(asimtomatik), sedangkan sisanya menimbulkan manifestasi
klinik yang beragam dari disentri, perdarahan usus, perforasi
usus, ameboma sampai abses hati atau organ lain. Jenis obat,
dosis dan lamanya pemberian disesuaikan dengan keadaan
klinis penderita serta manifestasi amebiasis itu sendiri
(1-5)
.
Pengobatan amebiasis sampai saat ini masih relevan untuk
dibahas mengingat penyebarannya hampir di seluruh belahan
bumi, menginfeksi sekitar 10% jumlah penduduk dan
menempati urutan ke tiga penyebab kematian akibat parasit
setelah schistosomiasis dan malaria
(1)
. Di negara maju, seperti
Amerika Serikat, prevalensi amebiasis sekitar 1%-5%, dan
insidensinya cenderung turun dalam empat dekade ini. Di
daerah subtropis dan tropis di negara-negara berkembang
dengan sanitasi lingkungan dan nutrisi yang buruk serta
penduduk yang padat, didapatkan angka prevalensi lebih dari
40%. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 50-100 juta kasus
amebiasis invasif dengan angka kematian di atas 100.000 per
tahun
(1-3,5)
. Dengan demikian, amebiasis sebenarnya merupakan
masalah kesehatan yang belum terselesaikan. Tinjauan pustaka
ini bertujuan untuk membantu usaha menurunkan prevalensi
amebiasis dengan farmakoterapi yang rasional, efektif, aman
dan ekonomis dengan mengingat diagnosis, pemilihan obat,
dosis, lama pemberian serta interval yang tepat dengan tidak
melupakan patologi, perjalanan penyakit serta pengawasan.
TINJAUAN ASPEK MEDIS AMEBIASIS
Sebenarnya E. histolytica merupakan protozoa usus yang
sering hidup komensal (apatogen) di dalam usus besar. Parasit
ini dapat berubah menjadi patogen jika situasi dan kondisi
memungkinkan
(1-3,5)
. Protozoa ini mempunyai dua bentuk
dalam siklus hidupnya, yaitu trofozoid yang dapat bergerak
dan mudah mati di udara bebas atau bila terkena asam
lambung; dan kista yang tahan terhadap berbagai perubahan
lingkungan. Oleh karena itu kista ameba berperan penting
dalam penularan
(1-5)
. Hanya trofozoid yang mampu menginvasi
mukosa usus besar, kista tidak. Trofozoid yang patogen ini
semula bersifat komensal di dalam lumen usus besar. Bentuk
ini berubah patogen karena berbagai faktor kerentanan tubuh,
obat-obat imunosupresan dan kortikosteroid, penyakit
keganasan, virulensi ameba maupun lingkungannya
(1,2,35)
.
Amebiasis diklasifikasikan menjadi amebiasis intestinal
(asimtomatik atau carrier/cyst passer, amebiasis intestinal
ringan-berat, amebiasis kronik) dan amebiasis ekstra intestinal
(abses hati, abses otak, abses paru, dan lain-lain
(1-5)
.
FARMAKOTERAPI YANG RASIONAL
1)
Berdasarkan tempat kerja
Obat amebisid digolongkan berdasarkan tempat kerjanya
menjadi: (1) amebisid jaringan atau sistemik, yaitu obat yang
bekerja terutama di dinding usus, hati dan jaringan ekstra
intestinal lainnya; contohnya emetin, dehidroemetin,
klorokuin, (2) amebisid luminal, yaitu yang bekerja dalam usus
dan disebut juga amebisid kontak contohnya,
diyodohidroksikuin, yodoklorhidroksikuin, kiniofon,
glikobiarsol, karbason, klifamid, diklosanid furoat, tetrasiklin
dan paromomisin dan (3) amebisid yang bekerja pada lumen
maupun jaringan, contohnya obat-obat golongan
nitroimidazol
(1,3,10-12)
.
2)
Berdasarkan manifestasi klinis
Amebiasis asimtomatik (carrier atau cyst passer)
Penderita amebiasis asimtomatik sebaiknya diobati karena
dapat menjadi amebiasis klinis atau invasi ke organ-organ
ekstra intestinal lainnya setisp saat. Di samping itu carrier juga
merupakan sumber utama penularan. Farmakoterapi yang
rasional adalah amebisid luminal; yang dapat mengeradikasi
80%-90% kasus amebiasis dengan satu macam obat.
Pemberian amebisid jaringan untuk pencegahan invasi ke hati
tidak dianjurkan
(1,3,11,12)
.
Amebiasis intestinal ringan-sedang
Pada penderita ini ditemukan ulkus mukosa usus besar
yang dapat mencapai lapisan submukosa, dapat mengakibatkan
gangguan peristaltik usus dengan manifestasi klinis disentri
tetapi tidak berat sehingga belum memerlukan cairan dan
elektrolit parenteral. Karena ditemukan trofozoid di dalam
lumen dan dinding usus besar maka obat amebisid yang
rasional adalah amebisid jaringan dan luminal seperti
nitroimidazol. Namun golongan ini diabsorbsi secara baik oleh
usus halus sehingga konsentrasi terapeutik di lumen usus besar
lebih kecil dibandingkan di dalam jaringan, di samping masih
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
26
ada kemungkinan timbul abses hati ameba dalam jangka waktu
3-4 bulan kemudian; penambahan amebisid luminal akan lebih
efektif mengeradikasi E. histolytica sampai 90%
(1-3,11,12)
.
Amebiasis intestinal berat.
Pada stadium ini penderita memerlukan terapi cairan dan
elektrolit parenteral atau bahkan transfusi darah. Selain
pengobatan di atas (b) dapat ditambahkan emetin/
dehidroemetin im/sk dalam (tidak intravena) dengan
memantau jantung melalui EKG atau kadar enzim jantung
(terutama pada pemberian emetin)
(1,3,10-12)
.
Pemberian amebisid parenteral juga dianjurkan pada
stadium ini mengingat keadaan umum pasien serta gejala klinis
berupa mual, muntah bahkan penurunan kesadaran
(2,11,12)
.
Abses hati amebiasis
Penderita perlu dirawat inap. Farmakoterapi rasional
adalah pemberian golongan nitroimidazol selama 10 hari yang
memberikan angka kesembuhan di atas 95% pada kasus-kasus
abses hati terlokalisasi
(11,12)
. Amebisid luminal sebaiknya juga
diberikan. Jika dalam 3 hari tidak didapatkan kemajuan klinis
yang diharapkan, dilakukan drainase abses serta pemberian
dehidroemetin/emetin atau dengan klorokuin. Sebaliknya, bila
dengan metronidazol sudah menunjukkan perbaikan klinis
maka dilanjutkan dengan pemberian klorokuin selama 2-3
minggu untuk mencegah kegagalan pengobatan abses hati di
kemudian hari
(2,10-12)
. Antibiotika hanya digunakan jika
didapatkan infeksi bakterial pada abses hati; hal ini jarang
terjadi
(11,12)
.
Sebagian besar kasus abses hati amebiasis yang dikelola
secara rasional tidak memerlukan aspirasi cairan abses,
kecuali: (1) abses yang besar (lebih 5 cm), (2) abses lobus kiri
hati yang berhubungan dengan komplikasi berat, (3) tidak
didapatkan perbaikan klinis setelah 3 hari terapi standar, (4)
untuk menyingkirkan abses hati piogenik
(2,3)
.
Ameboma dan amebiasis ekstra intestinal lainny.
Golongan nitroimidazol merupakan obat pilihan dan dapat
ditambah dengan hidroemetin/emetin selama 10 hari. Namun
klorokuin tidak dapat dipakai karena konsentrasinya di
jaringan selain hati tidak cukup efektif untuk mengeradikasi E.
histolytica
(2,11)
. Pemberian amebisid luminal dianjurkan
bersamaan dengan terapi di atas
(2,11,12)
.
3) Berdasarkan preparat amebisid
Emetin/dehidroemetin
Dehidroemetin mempunyai toksisitas lebih rendah
dibanding emetin, namun potensi dan half timenya juga lebih
rendah, maka diperlukan dosis lebih tinggi untuk mencapai
efek terapeutik yang diharapkan
(10,12)
. Emetin membunuh E.
histolytica secara langsung dan lebih efektif terhadap bentuk
trofozoid daripada kista. Kadarnya tertinggi di jaringan hati,
hal yang sangat berarti bagi pengobatan amebiasis hati
(11-13)
.
Pemberian obat ini hanya pada penderita amebiasis
ekstraintestinal yang tidak responsif terhadap metronidazol
mengingat efek sampingnya yang cukup mengkhawatirkan
(11-
13)
. Dosis emetin 1 mg/kgbb./hari (maksimal 60 mg/hari)
selama 3-5 hari. Tidak boleh lebih dari 5 hari (300 mg dalam
satu kali pengobatan) mengingat sifat kumulatifnya di tubuh.
Pemberiannya dapat dibagi dalam 2 porsi. Terapi ulangan baru
boleh diberikan 6-8 minggu setelah terapi pertama
(2,3,10-13)
.
Dosis dehidroemetin untuk dewasa 1,5 mg/kgbb./hari selama 5
hari. Dosis total sehari tidak boleh lebih 90 mg, dan
pengobatan boleh diulang 2 minggu setelah pengobatan
pertama dihentikan
(2,3,10-13)
.
Efek samping yang sering terjadi adalah mual, muntah,
diare (gastrointestinal) aritmia, nekrosis miokardium, chest
pain, kongesti jantung (kardiovaskuler) otot-otot lemah, nyeri
tekan, kaku dan tremor (neuromuskuler) dan urtikaria
(2,10-13)
.
Klorokuin
Absorbsi klorokuin di usus halus sangat baik dan lengkap
(kadar di hati 200-700 kali di plasma), sehingga kadar dalam
kolon sangat rendah. Oleh karena itu perlu ditambah amebisid
luminal untuk menghindari relaps
(10-13)
.
Pada penelitian ditemukan bahwa kadar klorokuin setelah
diabsorbsi tertinggi di dalam jaringan hati; maka sangat baik
untuk terapi abses hati amebiasis
(2,10-12)
. Dosis klorokuin untuk
dewasa dengan amebiasis ekstra intestinal 4x250 mg (garam
klorokuin), atau 150 mg basa klorokuin sehari selama 2 hari
pertama kemudian dilanjutkan dengan 2x250 mg/hari selama
2-3 minggu
(3,10,11)
.
Derivat 8-hidroksikuinolin
Beberapa derivat ini yang berperan dalam pengobatan
amebiasis adalah diyodohidroksikuin (iodokuinol),
yodoklorhidroksikuin (kliokuinol), broksikuinolin,
klorkuinadol dan kiniofon
(2,10,12)
. Golongan amebisid ini
memperlihatkan efeknya langsung terhadap E.histolytica
dalam lumen usus dan tidak efektif untuk amebiasis jaringan.
Namun efektif untuk trofozoid maupun kista. Jadi baik sekali
untuk pengobatan carrier/cyst passer
(10-13,15)
.
Di antara golongan ini, diyodohidroksikuin yang masih
digunakan secara luas. Amebisid ini dikontraindikasikan
kepada penderita dengan gangguan visus, anak-anak, gangguan
fungsi hati serta intoleransi yodium (penderita penyakit
gondok). Sehingga, pemakaian amebisid ini secara rutin tidak
dianjurkan jika masih tersedia amebisid lain yang lebih
aman
(10,13)
. Dosis yodokuinol yang rasional 3x600-650mg
sehari selama 20 hari (maksimum 2g/hari), dan
yodoklorohidroksikuin 3x250 mg/hari selama 10 hari
(2,10-13)
.
Golongan nitroimidazol
(11-15)
Yang mempunyai efek amebisid adalah metronidazol,
tinidazol dan ornidazol. Dua obat terakhir mempunyai efek
samping yang lebih ringan dibanding metronidazol selain half
timenya yang cukup panjang (14 jam dan 12-13 jam).
Golongan ini merupakan obat pilihan untuk amebiasis intra
dan ekstra intestinal.
Amebisid ini efektif untuk amebiasis hati, namun jika
absesnya besar, tetap memerlukan aspirasi untuk
mengeluarkan pus. Keuntungan lain, adalah mampu
membunuh kuman-kuman anaerob yang sering terdapat pada
kasus-kasus abses. Efek samping yang sering dijumpai ialah
mual, muntah, nyeri ulu hati, pusing, glositis, stomatitis,
penurunan nafsu makan, dan gangguan darah terutama jika
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 27
diberikan pada orang muda dan penderita yang rendah daya
tahannya serta lama pemberian lebih dari 7 hari.
Kontraindikasi pada penderita dengan riwayat penyakit darah,
ibu hamil trimester pertama.
Dosis pemberian metronidazol 35-50 mg./kgbb./hari atau
3 x 500-750 mg/hari selama 10 hari, tinidazol 2 g/hari selama
2-3 hari atau 50 mg/kgbb./hari dan ornidazol 50-60 mg/kg
bb./hari atau 2 g/hari selama 3 hari.
Diklosanit furoat
(2,10-14)
.
Saat ini merupakan amebiasid luminal terbaik, karena
efektif membunuh trofozoid dan kista di lumen usus (80%-
85%), dengan efek samping yang relatif kecil. Bahkan pada
carrier, amebisid ini digunakan secara tunggal untuk kasus-
kasus amebiasis ekstra intestinal dikombinasi dengan amebisid
jaringan. Dosis pemberian 3x500 mg/hari selama 10 hari atau
20 mg/kgbb./hari dalam dosis terbagi .
Tetrasiklin
(2,10-13)
.
Tetrasiklin mempunyai efek terapi yang kurang kuat
terhadap E. histolytica, namun efeknya terhadap kuman-kuman
usus besar cukup berguna untuk mengobati amebiasis
intestinal ringan sampai sedang.
Dosis yang dianjurkan 4x250mg/hari selama 5 hari,
dilanjutkan dengan 4x500 mg selama 5 hari. Sebaiknya tidak
diberikan pada ibu hamil serta anak kurang dari 8 tahun.
Paromomissin
(2,10-14)
.
Merupakan golongan aminoglikosida yang sangat buruk
absorbsinya di usus, sehingga konsentrasi di lumen usus cukup
tinggi untuk membunuh E.histolytica. Karena merupakan
antibiotika, maka memiliki juga efek antibakterial di dalam
kolon. Efek sampingnya antara lain: mual, muntah, ototoksik,
dan nefrotoksik; sehingga dikontraindikasikan pada penderita
dengan gangguan fungsi ginjal dan pendengaran. Dosis
pemberian 25-35 mg/kgbb./hari atau 3 x 500 mg/hari selama 5-
10 hari.
KESIMPULAN
1)
Farmakoterapi rasional pada amebiasis tergantung
manifestasi klinis penderita tanpa melupakan farmakologi
klinik masing-masing preparat amebisid. Obat-obat amebisid
yang ada sekarang masih potensial untuk membunuh E.
histolytica, baik dalam bentuk trofozoid maupun kista; dan
angka kesembuhan masih tinggi (80%-90%), juga pada
amebiasis ekstra intestinal.
KEPUSTAKAAN
1.
Reed SL. Amebiasis and infection with free living. In Fauci AS,
Braunwald E, Isselbacher KJ et al. Harrison's Principles of Internal
Medicine. New York: Mc Graw Hill, 1998; 14: 1176-9.
2.
Soewondo ES. Amebiasis. Dalam: Noer S, Waspadji S, Rachman AM
dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid I. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI, 1996; 3: 495-503.
3.
Goldsmith RS. Infectious disease: protozoal & helminthic. Tierney LM,
Mc Phee SJ, Papadakis MA. Current medical diagnosis & treatment. San
Francisco: Appleton & Lange, 1999; 38: 1327-32.
4.
Jeffrey HC, Leach RM. Atlas of medical helminthology and
protozoology. Edinburg: Churchill Livingstone, 1988; 2: 31-2, 49-56.
5.
Schain D, Ravdin Jl. Entanmoeba histolytica and other intestinal
amoebae. Gorback S, Burtlett JG, Backlow NR. Infectious disease.
Philadelphia: WB Saunders Co. 1992; 1953-7.
6.
Moningka BH. Hakekat penggunaan klinik obat yang rasional dari sudut
pandang farmakologi. Disampaikan pada Simposium Penggunaan Obat
secara Rasional. Tomohon: YK/GMIM dan Kanwil Depkes Sulut, 1990.
7.
Dwiprahasto I, Kristin E. Penggunaan obat yang rasional untuk dokter
puskesmas. Jakarta: Depkes RI, 1997; 29-48.
8.
Agus A. Farmakoterapi dalam pembangunan kesehatan keluarga. Maj
Ked Indon 1998; 48: 111-3.
9.
Jones MHW, Wright SG, Mc Manus TJ. Infectious, tropical and parasitic
diseases. Souhami RL, Moxham J. Textbook of Medicine. Endinburgh:
Churchill Livingstone, 1994; 2: 284-7.
10.
Sjarif A. Amebisid. Gan S, Setiabudy R, Sjamsudin U, Bustami ZS.
Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1995; 4: 548-55.
11.
Webster LT. Drugs used in the chemotherapy of protozoal infections.
Hardman JG, Limbird LE, Molinoff PB, et al. Goodman and Gillman's
the Pharmacological Basis of Therapeutics. New York: Mc Millian Pub
Co, 1985; 7: 1149-57.
12.
Katzung BG. Treatment of amebiasis. Bertram GK. Basic and clinical
pharmacology. Connecticut: Large Medical Book, 1989; 4: 6549.
13.
Mathisen GE, Finegold SM. Metronidazole and other nitroimidazoles.
Gorback S, Burtlett JG, Backlow NR. Infectious disease. Philadelphia:
WB Saunders Co. 1992; 260-4.
14.
Reken DEV, Pearson RD. Antiparasitic agents. Mandell, Douglas,
Bennett. Principles and Practice of Infectious Disease. Edinburgh:
Churchill Livingstone, 1990; 3: 398-407.
15.
Tan YJ, Holodniy M, Hanley O, et al. Infectious disorders. Melmon LK,
Morrelli HF, Hoffman BB, Niernberg DW. Clinical pharmacology basic
principles in therapeutics. New York: Mc Graw Hill, 1992; 710-11.
Lampiran
Tabel 1. Farmakoterapi rasional pada amebiasis
Sindrom
Klinis
Obat terpilih
Obat Alternatif
Asimtomatik Diloksanit
furoat
-
Lodokuinol
-
Paromomisin
Amebiasis
ringan
Metronidazol+
Lodokuinol/diloksanit
furoat
-
Paromomisin lanjutan
klorokuin
-
Diloksanit furoat/
iodokuinol+ tetrasiklin
lanjutan klorokuin
Amebiasis berat
Metronidazol+
Diloksanit
furoat/iodokuinol
-
Tetrasiklin+diloksanit
furoat/iodokuinol
lanjutan klorokuin
-
Dehidro/emetin lanjutan
tetrasiklin+ diloksanit
furoat/ iodokuinol
lanjutan klorokuin
Abses hati
Metronidazol+Diloksanit
furoat/iodokuinol
dilanjutkan klorokuin
Dehidro/emetin+klorokuin
+diloksanit
furoat/iodokuinol
Ameboma/
ekstra intestinal
Seperti abses hati tetapi
tanpa klorokuin
Seperti abses hati tetapi
tanpa klorokuin
Keterangan dosis:
-
Diloksanit furoat, 20 mg/kg/hr dalam 3 dosis atau 3 x 500 mg/hr (10 hari).
-
Paromomisin, 25-30 mg/kg/hr dalam 3 dosis atau 3 x 500 mg/hr (7 hari).
-
Iodokuinol, 30-40 mg/kg/hr dalam 3 x dosis atau 3 x 650 mg/hr (20 hari),
maksimum 2 g/hr 3 x 650 mg/hr (20 hari), maksimum 2 g/hr.
-
Metronidazol, 35-50 mg/kg/hr dalam 3 dosis atau 3 x 750 mg/hr (10 hari).
-
Dehidroemetin, 1-1,5 mg/kg/hr im/sc dalam 1-2 x pemberian, maksimum
90 mg/hr (5 hari).
-
Emetin, 1 mg/kg/hr im/sc dalam 1-2 x pemberian, maksimum 60 mg/hr (5
hari).
-
Tetrasiklin, 20 mg/kg/hr dalam 4 dosis atau 4 x 250 mg/hr (5 hari)
kemudian 4 x 500 mg/hr (5 hari).
-
Klorokuin garam, 16 mg/kg/hr (14 hari) atau 600 mg/hr (2 hari) kemudian
300 mg/hr (12 hari).
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
28
Document Outline