TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Diagnosis dan Penatalaksanaan
Gangguan Asperger
Theresia
Kaunang
Sub Bagian Psikiatri Anak dan Remaja, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Gangguan Asperger merupakan salah satu jenis gangguan
dari kelompok gangguan perkembangan pervasif
(1-3)
.
Dalam
DSM IV kategori ini meliputi gangguan autistik, gangguan
Rett, gangguan disintegrasi pada anak, gangguan Asperger dan
gangguan perkembangan pervasif yang tidak ditentukan
(pervasive developmental disorder not otherwise specified)
(4-6)
.
Tulisan asli tentang gangguan Asperger pertama kali
dipublikasikan di Jerman oleh Hans Asperger (1942)
(7-9)
.
Asperger menggambarkan 4 anak yang mengalami kesulitan
integrasi sosial dalam kelompoknya. Ia menyebutkan kondisi
ini sebagai "autistic psychopathy", yang menunjukkan suatu
gangguan kepribadian dengan ditandai oleh isolasi sosial
(10-13)
.
Dengan meningkatnya jumlah kasus autisme dalam tahun-
tahun terakhir ini, terlihat meningkat pula angka kejadian
gangguan Asperger, karena gangguan ini termasuk dalam
spektrum autistik. Pada awalnya, di Indonesia sangat jarang
klinikus mendiagnosis gangguan Asperger, bahkan hampir
tidak ada. Akan tetapi beberapa tahun terakhir ini mulai ada
beberapa kasus gangguan Asperger yang terdiagnosis,
demikian juga seperti yang terlihat dalam media massa dan
website. Namun demikian belum ada data di RSUPN Cipto
Mangunkusumo Jakarta. Sangatlah penting mengetahui dan
menyegarkan kembali ingatan tentang gangguan Asperger agar
memudahkan klinikus mendiagnosis gangguan ini. Tulisan ini
berusaha membahas gangguan Asperger secara singkat.
DEFINISI
Gangguan Asperger ditandai dengan gangguan dalam
interaksi sosial dan terhambatnya perhatian serta perilaku
seperti yang terlihat pada autisme, tetapi tidak ada kelambatan
dalam berbicara dan berbahasa reseptif, perkembangan
kognitif, ketrampilan menolong diri sendiri, atau keingintahuan
terhadap lingkungan
(1)
.
EPIDEMIOLOGI
Menurut Volkmar, prevalensi gangguan Asperger adalah 1
di antara 10.000
(1)
.
Kepustakaan lain menyebutkan 20-25 setiap
10.000 orang anak
(5)
.
Angka kejadian gangguan Asperger
dengan kriteria diagnosis Gillberg & Gillberg (1989) atau de-
ngan kriteria ICD-10 terlihat meningkat. Gillberg & Gillberg
memperkirakan 0,26%
(14)
.
Pada tahun 1991 suatu penelitian menyebutkan prevalensi
gangguan Asperger 2,6-3 setiap 1000 anak
(11)
.
Menurut
penelitian suatu populasi 3,6-7,1 dalam 1000 anak dengan
rentang usia 7-16 tahun (Ehler & Gillberg, 1993)
(3,8,15)
.
Di RS
Broadmoor, sebuah rumah sakit khusus, prevalensi gangguan
Asperger mencapai 1,5%
(15)
. Wolf dkk (1991) menemukan 3-
5% kasus skizoid mirip dengan gangguan Asperger
(8)
.
Wing (1978) mengatakan bahwa gangguan Asperger me-
nunjukkan rasio laki-laki : perempuan 15:4, sedangkan menurut
Wolff & Barlow(1979) rasio laki-laki : perempuan adalah
9:1
(9)
. Kepustakaan lain (1981) mengatakan 10-15:1. Ehler dan
Gillberg (1993) menyebutkan 4:1
(8)
.
Prevalensi gangguan
Asperger pada anak usia 7-16 tahun adalah 0,71 % ; laki-laki
0,97% dan perempuan 0,44%
(15)
.
ETIOLOGI
Etiologi gangguan Asperger masih menjadi perdebatan
(16)
.
Gangguan Asperger merupakan kondisi yang termasuk dalam
spektrum autisme, sehingga kepustakaan menyebutkan bahwa
etiologinya sama
(10)
.
Beberapa kepustakaan mengatakan bahwa
etiologinya terkait dengan genetik dan kerusakan otak
(17-20)
.
Sedangkan Ciaranello dan Ciaranello (1995) membagi etiologi
gangguan Asperger ke dalam dua tipe yaitu genetik dan non
genetik
(3)
.
Tipe genetik.
Etiologi genetik berhubungan dengan kontrol gen pada
perkembangan otak
(3)
.
Hubungan genetik antara autisme dan
gangguan Asperger dapat digambarkan sebagai berikut: anak
yang menderita gangguan Asperger seringkali ayahnya me-
miliki kesulitan dalam interaksi sosial
(1)
.
Terdapat beberapa
laporan adanya transmisi keluarga pada gangguan Asperger.
Gillberg mengatakan terdapat patologi "Asperger Syndrome-
like" pada anggota keluarga terdekat dari penderita gangguan
Asperger
(8)
.
De Long & Dwyer menemukan gangguan Asperger
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
24
pada keluarga dari anak yang menderita gangguan autistik high
functioning
(11)
.
Faktor genetik menunjukkan adanya hubungan
antara autisme dengan gangguan Asperger
(21)
.
Sejumlah 9%
anak penderita autisme mempunyai ayah sindrom Asperger
atau ciri-ciri Asperger
(22)
.
Secara genetik peranan kromosom fragile-X untuk ter-
jadinya gangguan Asperger sangat bermakna
(11,22,23)
. Studi
kembar dua memberi dukungan adanya dasar genetik gangguan
ini
(3)
,
akan tetapi pada studi kembar tiga tidak. Jikapun dasar
etiologinya genetik, faktor lain perlu dipertimbangkan misalnya
keadaan prenatal, perinatal dan postnatal
(23)
.
Non genetik
Ciaranello (1995)mengatakan etiologi nongenetik meliputi
infeksi prenatal. Menurut Chess (1997) ada peningkatan
insidens setelah pandemi rubella. Infeksi varisela dan toxo-
plasmosis prenatal berhubungan dengan terjadinya gangguan
ini. Juga berhubungan dengan riwayat ibu, riwayat kehamilan
dan persalinan.
Hipotiroid pada ibu selama kehamilan berkaitan
dengan terjadinya gangguan ini
(3)
.
Beberapa penelitian melaporkan hubungan antara gejala
gastrointestinal dengan gangguan autistik. D'eufemia dkk,
mengatakan bahwa terdapat peningkatan permeabilitas usus
pada pasien gangguan spektrum autistik. Ini memberi kesan
bahwa disfungsi gastrointestinal berhubungan dengan ganggu-
an perkembangan pervasif
(19,24)
.
Pemeriksaan beberapa penderita Asperger menunjukkan
adanya abnormalitas makroskopis asam amino dengan pe-
ningkatan arginin, ornitin, histidin, treonin dan serin. Jadi
memperlihatkan adanya aminoasiduria
(25)
.
Davis, Fennoy
(1992) menyebutkan bahwa penyalahgunaan zat berperan
untuk terjadinya gejala spektrum autistik pada anak yang di-
lahirkan. Penelitian menemukan bahwa penyalahgunaan kokain
dan zat lain dapat berhubungan dengan gangguan ini
(3)
. Adanya
hubungan temporal antara vaksinasi MMR dan gangguan spek-
trum autistik masih diperdebatkan
(16)
.
Faktor imunitas nampak-
nya berperan untuk terjadinya gangguan Asperger. Beberapa
penderita menunjukkan disfungsi atau abnormalitas sejumlah
sel T
(20)
.
Proses penyakitnya adalah akibat langsung dari
gangguan di susunan saraf pusat
(16)
.
Terjadi hipometabolisme
glukosa di cingulata anterior dan posterior pada penderita
gangguan spektrum autistik. Juga terlihat adanya penyusutan
volume girus cingulata anterior kanan, khususnya area
Brodmann's 24
(21)
.
Wing mengatakan ada riwayat trauma serebral pada pra,
peri dan post-natal
(23)
.
Gambaran pencitraan otak, memper-
lihatkan adanya lesi di substansia alba girus temporal medial
kanan. Beberapa penelitian menggambarkan adanya disfungsi
hemisfer kanan pada gangguan Asperger
(8,26)
.
Juga memper-
lihatkan adanya abnormalitas fasikulus longitudinal inferior,
suatu serabut ipsilateral yang menghubungkan lobus oksipitalis
dan temporalis serta pola aktivitas abnormal di daerah kortikal
temporal ventral
(27)
. Girus temporal medial dan sulkus temporal
superior yang berbatasan, berperan pada ekspresi wajah dan
kontak mata langsung
(10)
. Disfungsi lobus frontalis memper-
lihatkan adanya defisit fungsi eksekutif
.
(8)
.
Pada gangguan
Asperger ditemukan adanya ganglioside yang meningkat ber-
makna pada cairan serebrospinal
(8)
.
Semua abnormalitas yang
terjadi, berhubungan dengan gejala klinis dan neuropsiko-
logi
(9,28)
.
Bukti neuropatologi yang bervariasi menyebabkan
perdebatan tentang lokasi kerusakan
(12)
. Laporan terakhir me-
nyebutkan etiologi penyakit spektrum autistik berhubungan
dengan kondisi biomedis
(19)
.
GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis penderita gangguan Asperger dalam
beberapa hal sebagai berikut:
Interaksi sosial
Penderita gangguan Asperger mengalami isolasi sosial,
tetapi tidak selalu menarik diri di antara orang lain. Walaupun
demikian pendekatan mereka terhadap orang lain adalah
inappropriate atau dengan cara eksentrik. Mereka menunjuk-
kan perhatian untuk bersahabat bila bertemu orang lain, tapi
selalu terhambat oleh pendekatan yang kaku dan tidak sensitif
terhadap perasaan orang lain. Mereka juga tidak sensitif atas
komunikasi samar-samar dari orang lain, misalnya tidak mema-
hami tanda kebosanan, pergi karena terburu-buru dan keadaan
yang memerlukan privacy
(1)
.
Hal ini menyebabkan kesulitan membina hubungan per-
sahabatan. Mereka tidak mengerti petunjuk yang halus/samar,
gaya bicara metafora, dan seringkali dianggap konkrit
(14)
.
mengerti pertanyaan, tetapi tidak dapat menggunakan pe-
ngetahuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah
(23)
.
Penderita gangguan Asperger tidak dapat mengomentari
tujuan aktivitas sosial, perasaan dan elemen sosial lainnya dari
suatu cerita
(10)
.
Penderita gangguan ini mampu menjelaskan
dengan benar (kognitif dan cara yang formal) tentang emosi,
maksud yang diharapkan dan aturan sosial. Namun demikian
tidak dapat menerapkan pengetahuan ini secara intuitif dan
spontan, sehingga kehilangan waktu untuk berinteraksi
(1)
.
Terhadap orang lain, mereka sangat kaku, bereaksi tidak
sesuai dan gagal berinterpretasi, serta kurang mempunyai eks-
presi wajah
(1,3,11)
. Mereka kurang peka terhadap lingkungan,
tidak peduli dengan ekspresi emosi orang lain
(1,3)
,
dan kurang
empati dengan perasaan orang lain
(2,8,9,11)
,
sehingga Gillberg
mengklasifikasikannya ke dalam kelompok gangguan
empati
(29)
.
Saat sedang berbicara, penderita tidak menatap sehingga
memperlihatkan kurang atensi dan kurang berrespons dengan
isyarat sosial
(8)
.
Dengan demikian menunjukkan komunikasi
yang kurang mendalam
(3)
.
Gangguan Asperger menyebabkan
hambatan untuk mengenal wajah orang lain. Keadaan ini
merupakan inti dari disabilitas sosial
(8,27)
.
Penderita gangguan ini menyenangi lingkungan yang
penuh rutinitas dan terstruktur. Mereka suka dipuji, suka
memperoleh kemenangan, dan mampu menjadi juara, akan
tetapi sering mendapatkan kegagalan, ketidaksempurnaan dan
kritik
(14)
.
Motorik
Anak dengan gangguan Asperger mempunyai riwayat
kemahiran motorik yang tertunda
(1,29)
,
seperti mengayuh
sepeda, menangkap bola (tidak ada koordinasi antara kedua
tangan)
(30,31)
.
membuka botol dan panjat-memanjat
(1,10)
. Mereka
sulit mengikat dasi atau tali sepatu.
Mereka tampak kurang
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 25
koordinasi serta menunjukkan pola jalan yang resmi
(1,10)
.
aneh
dan sulit untuk berbaris
(31)
. Terdapat motoric clumsiness
(10,29,30)
.
Menunjukkan kesulitan menulis dengan tangan, sehingga
menjadi malu atau marah karena ketidakmampuan menulis
rapi. Mereka mempunyai kemampuan menggunakan komputer
dan keyboard sehingga lebih memilih komputer daripada
menulis tangan
(22)
.
Tampak jelas terdapat gangguan ketrampilan
motorik-visual dan visuospatial
(11,17,31,32)
. Mereka mengalami
kesulitan menggunting bentuk dari kertas
(30)
.
Dalam hal psiko-
motor mereka menunjukkan gerakan stereotipik
(9,10,31,32)
.
Kognitif
Kemampuan intelektual penderita menetap
(10)
. Tidak ada
defisit kognitif
(3,8)
, namun beberapa penelitian menggambarkan
adanya defisit daya ingat dalam beberapa aspek
(33,34)
. Ke-
pustakaan lain mengatakan bahwa kemampuan daya ingat
cukup baik dan mereka mengingat tanpa berpikir. Penderita
Asperger dapat mengingat dengan seksama fakta, bentuk, data,
waktu dan lain-lain. Mereka tertarik pada topik luar biasa
yang mendominasi pembicaraan mereka
(1)
.
Mereka mengum-
pulkan banyak informasi tentang fakta di dunia
(3)
.
Sejumlah
besar topik dikumpulkan dengan semangat. Mereka mem-
pelajari topik seperti ular, nama binatang, pemandu televisi,
musim, data pribadi anggota kongres, jadwal kereta api dan
astronomi, tanpa pengertian luas dari fenomena yang ter-
libat
(1,23)
.
Mereka unggul dalam bidang matematika dan ilmu
pengetahuan. Mereka dapat mengingat banyak frasa tapi tidak
dapat menggunakannya dalam konteks yang benar
(14)
.
Pada umumnya IQ mereka normal sampai superior. Verbal
IQ lebih tinggi dibandingkan dengan performance IQ
(29,35,36)
Akan tetapi terdapat gangguan dalam konsep belajar
(1)
.
Suatu penelitian melalui story-telling memperlihatkan
adanya gangguan imajinasi
(37)
. Penelitian lain juga mendapat-
kan gangguan kreativitas dan imajinasi
(38)
.
Bahasa
Secara kasar perkembangan bahasa penderita gangguan
Asperger nampak normal, tidak ada kesulitan menempatkan
bahasa. Pasien berbicara agak formal dengan tata bahasa yang
tinggi, sehingga pada awal perkembangan tidak dapat di-
diagnosis. Asperger menyebutkannya little professor. Ada tiga
aspek pola komunikasi yang menarik secara klinik pada
gangguan Asperger yaitu :
(1)
1. Pembicaraan ditandai dengan kurangnya prosodi, pola
intonasi terbatas, walaupun nada suara dan intonasi tidak
sekaku dan semonoton gangguan autistik
(1,3,9)
.
Bicaranya
terlalu cepat, tersentak-sentak, dengan volume yang
kurang modulasi: misalnya suara keras walaupun lawan
bicara berada dalam jarak dekat. Kurang pertimbangan
untuk situasi sosial tertentu, misalnya di perpustakaan atau
pada keadaan gaduh
(1,39)
.
2. Pembicaraan tangensial dan sirkumstansial, sehingga
memberi kesan suatu asosiasi longgar dan inkoheren
(1,3)
.
Sebagian pasien memberi kesan gangguan proses pikir.
Gaya bicara egosentris dengan menggunakan kata-kata
harfiah
(1,3,11)
. seperti monolog tentang nama, kode, atribut
di televisi dari berbagai negara. Gagal memberi alasan atau
komentar tentang suatu pembicaraan dan secara jelas
membatasi topik
(1)
.
3.
Gaya bicara bertele-tele tentang subyek favorit dan tidak
peduli apakah pendengar tertarik,menolak atau mencoba
menyelipkan kata-kata untuk mengganti subyek. Mereka
tidak pernah sampai pada satu titik kesimpulan. Lawan
bicara seringkali gagal mencoba menguraikan masalah
atau logika, ataupun mengalihkan topik
(1)
.
KRITERIA DIAGNOSTIK
Dahulu para peneliti membuat kriteria diagnosis gangguan
Asperger sendiri yaitu: kriteria diagnostik Wing (1981),
Gillberg and Gillberg (1989), Szatmari dkk (1989), kriteria
diagnostik ICD 10 (1990), kriteria diagnostik DSM IV
(13,40)
.
Sekarang ICD 10 dan DSM IV digunakan sebagai kriteria
diagnosis.
Kriteria diagnosis Gangguan Asperger menurut DSM IV:
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti yang
ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut :
- Ditandai gangguan dalam penggunaan perilaku
nonverbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi
wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur
interaksi sosial.
- Gagal mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya yang sesuai menurut tingkat perkembangan.
-
Gangguan untuk secara spontan membagi kesenangan,
perhatian atau prestasi dengan orang lain (seperti
kurang memperlihatkan, membawa atau menunjukkan
obyek yang menjadi perhatian orang lain).
-
Tidak adanya timbal balik sosial dan emosional.
2.
Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang
dan stereotipik, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang -
kurangnya satu dari berikut :
- Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang
stereotipik, dan terbatas, yang abnormal baik dalam
intensitas maupun fokusnya.
- Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap
rutinitas atau ritual yang spesifik dan nonfungsional.
- Manerisme motorik stereotipik dan berulang (men-
jentik dan mengepak-ngepak tangan atau jari, atau
gerakan kompleks seluruh tubuh).
-
Preokupasi persisten dengan bagian-bagian obyek.
3. Gangguan ini menyebabkan gangguan yang bermakna
secara klinis dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi
penting lainnya.
4. Tidak terdapat keterlambatan menyeluruh yang bermakna
secara klinis dalam bahasa (misalnya, menggunakan kata
tunggal pada usia 2 tahun, frasa komunikatif digunakan
pada usia 3 tahun).
5. Tidak terdapat keterlambatan bermakna secara klinis
dalam perkembangan kognitif atau dalam perkembangan
ketrampilan menolong diri sendiri dan perilaku adaptif
yang sesuai dengan usia (selain dalam interaksi sosial), dan
keingintahuan tentang lingkungan pada masa kanak-kanak.
6. Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan pervasif spesifik
atau skizofrenia
(6)
.
Klasifikasi gangguan perkembangan pervasif yang ada
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
26
sekarang ini kurang memuaskan orang tua yang mempunyai
anak dengan gangguan ini, klinikus dan peneliti akademik.
Karena reliabilitas dan validitas dari data empirik gangguan ini,
dianjurkan pendekatan baru untuk klasifikasinya
(40)
.
DIAGNOSIS BANDING
1. Autisme
infantil
Gangguan Asperger berbeda dengan autisme infantil
dalam onset usia onset autisme infantil lebih awal
(2,41)
, juga
berbeda dalam keparahan penyakit yaitu autisme infantil lebih
parah dibandingkan gangguan Asperger
(2,42)
. Pasien autisme
infantil menunjukkan penundaan dan penyimpangan dalam
kemahiran berbahasa serta adanya gangguan kognitif
(2,17)
.Oral
vocabulary test menunjukkan keadaan yang lebih baik pada
gangguan Asperger. Defisit sosial dan komunikasi lebih berat
pada autisme
(17)
. Selain itu ditemukan adanya manerisme
motorik sedangkan pada gangguan Asperger yang menonjol
adalah perhatian terbatas dan motorik yang canggung, serta
gagal mengerti isyarat nonverbal. Lebih sulit membedakan
gangguan Asperger dengan autisme infantil tanpa retardasi
mental. Gangguan Asperger biasanya memperlihatkan gambar-
an IQ yang lebih baik daripada autisme infantil
(2)
, kecuali
autisme infantil high functioning
(41)
.
Batas antara gangguan
Asperger dan high functioning autism untuk gangguan ber-
bahasa dan gangguan belajar sangat kabur
(8)
. Gangguan
Asperger mempunyai verbal intelligence yang normal sedang-
kan autisme infantil mempunyai verbal intelligence yang
kurang
(2)
. Gangguan Asperger mempunyai empati yang lebih
baik dibandingkan dengan autisme infantil, sekalipun keduanya
mengalami kesulitan berempati
(2,11)
.
2. Gangguan perkembangan pervasif yang tidak di-
tentukan
Gangguan Asperger lebih berat dalam disfungsi sosial
(
1,10)
.
3. Gangguan kepribadian skizoid
Gangguan kepribadian skizoid tidak memperlihatkan
keparahan dalam gangguan sosial, juga tidak ada kelainan pada
pola perkembangan awal seperti yang tampak pada gangguan
Asperger
(1,43)
. Gillberg memberi gambaran anak dengan
gangguan Asperger memenuhi kriteria gangguan kepribadian
skizoid untuk orang dewasa
(44)
Wolf dan Cull (1986) mengata-
kan bahwa gangguan Asperger merupakan varian dari ganggu-
an kepribadian skizoid
(45)
dan identik dengan gangguan
kepribadian skizoid pada orang dewasa
(14)
.
Sementara Tantam
(1988,1991) mengatakan bahwa jelas berbeda antara gangguan
Asperger dan gangguan kepribadian skizoid
(46)
.
4. Skizofrenia
Gangguan Asperger didiagnosis banding dengan
skizofrenia onset masa kanak-kanak
(8)
. Kombinasi dari bicara
bertele-tele, bicara sendiri, pola pembicaraan inkoheren, gagal
mengganti topik pembicaraan dan gagal memberi latar be-
lakang suatu cerita, menyebabkan kekeliruan mendiagnosis
Skizofrenia. Gangguan Asperger lebih menunjukkan disfungsi
komunikasi daripada gangguan proses pikir
(1,10)
.
Ekspresi wajah
yang abnormal terdapat pada kedua gangguan ini
(18)
.
5. Gangguan Kepribadian Obsesi Kompulsi.
Beberapa gejala gangguan Asperger bertumpang tindih
dengan gangguan kepribadian obsesi kompulsi seperti fungsi
sosial yang terbatas. Keadaan ini menyebabkan gangguan
Asperger didiagnosis banding dengan gangguan Kepribadian
Obsesi Kompulsi
(8,9)
.
Tabel 1. Differential diagnostic features of autism and nonautistic
pervasive developmental disorders
(1)
Feature
Autistic
disorder
Asperger's
disorder
Pervasive
developmental
disorder NOS
Age at recognition
(month)
0-36
Usually > 36
Variable
Sex ratio
M>F
M>F M>F
Loss of skills
Variable
Usually not
Usually not
Social skills
Very poor
Poor
Variable
Communication
skills
Usually poor
Fair
Fair to good
Circumscribed -
interests
Variable
(mechanical)
Variable
Marked (facts)
Variable
Unknown
Family history of
similar problems
Sometimes
Frequent Frequent
Seizure disorder
Common Uncommon Uncommon
Head growth -
deceleration
No No No
I.Q. range
Severe MR
to normal
Mild MR to
normal
Severe MR to
normal
Outcome
Poor to fair
Fair to good
Fair to good
PROGNOSIS DAN PERJALANAN PENYAKIT
Perbedaan klinik antara gangguan autisme dan gangguan
Asperger mempunyai nilai prognosis
(21)
. Gangguan Asperger
mempunyai prognosis yang lebih baik
(12,22,29)
. Terdapat per-
bedaan rentang keparahan dari gangguan Asperger, sehingga
beberapa kasus tidak terdiagnosis karena penderitanya hanya
tampak aneh dan eksentrik
(14)
. Perempuan mempunyai prog-
nosis yang lebih baik
(47)
.
Perjalanan penyakit dan akibatnya
sangat bervariasi
(1)
karena IQ dan ketrampilan berbahasanya
relatif baik
(41)
.
Beberapa anak dapat mengikuti pendidikan
secara teratur dengan mendapat dukungan sedangkan yang lain
membutuhkan pendidikan khusus. Keadaan ini disebabkan
karena gangguan dalam perilaku dan interaksi sosial, bukan
karena defisit akademik
(1)
.
Prediksi masa depan anak Asperger positif. Beberapa
pasien menggunakan talenta khususnya untuk memperoleh
pekerjaan yang dapat menunjang kehidupannya sendiri
(1)
.
Perilaku buruk seringkali didasari ketidakmampuan meng-
komunikasikan frustrasi dan kecemasan
(14)
.
Pada saat remaja,
mereka tidak menyadari kalau berbeda dengan yang lain dan
sering disingkirkan dalam hubungan interpersonal. Pada saat
dewasa mereka beradaptasi sangat superfisial, egosentris dan
terisolasi
(3)
. Gangguan bipolar dan gangguan cemas dapat
menjadi komorbiditas untuk gangguan Asperger
(5,11,48)
. Frustrasi
kronis akibat kegagalan berulang apabila berbicara dengan
orang lain dan saat menjalin persahabatan menye- babkan
penderita dengan gangguan Asperger dapat menderita juga
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 27
gangguan mood
(1)
.
Beberapa penderita dapat mempunyai gambaran kata-
tonik
(8)
gangguan obsesi kompulsi
(3,5,49)
ide bunuh diri, temper
dan gangguan menentang
(49)
.
Penderita gangguan Asperger
mengalami penurunan berat badan dan gangguan makan
(50)
.
Pada beberapa populasi penelitian ditemukan adanya komor-
biditas gangguan ini dengan gangguan tik
(2,5,40)
dan sindrom
Tourette
(3,8,22)
Volkmar & Klin,1997 mengatakan adanya
komorbiditas antara gangguan Asperger dengan Attention
Deficit Hiperactivity Disorder
(3)
.
Menurut Tantam (1980), penderita Asperger memper-
lihatkan perilaku antisosial pada saat dewasa
(45)
.
Gangguan
Asperger akan berkembang pada kecenderungan paranoid
(22)
.
Mawson dan kawan-kawan (1985), menunjukkan adanya
hubungan antara gangguan Asperger dengan perilaku kekeras-
an dan agresif serta membakar rumah
(15)
.
Beberapa gangguan
medis spesifik yang dapat bersamaan dengan gangguan Asper-
ger yaitu tuberous sclerosis,
(17,26,39)
Marfan-like syndrome,
Kleine-Levin syndrome, fragile X syndrome dan sindrom
kromosom lain termasuk translokasi kromosom 17-19
(8)
.
PENATALAKSANAAN
Pada dasarnya adalah suportif dan simtomatis; meliputi
beberapa aspek antara lain ketrampilan sosial dan komunikasi,
orangtua, pendidikan, pekerjaan dan terapi yang lain.
1
Ketrampilan sosial dan komunikasi
Penderita Asperger mempunyai kecenderungan menggan-
tungkan diri pada aturan yang kaku dan rutinitas. Keadaan ini
dapat digunakan untuk mengembangkan kebiasaan yang positif
dan meningkatkan kualitas hidup. Strategi menyelesaikan
masalah diajarkan untuk menangani keadaan yang sering
terjadi, situasi sulit seperti terlibat dengan hal baru, kebutuhan
sosial dan frustrasi. Dibutuhkan latihan untuk mengenal situasi
sulit dan memilih strategi yang pernah dipelajari untuk situasi
seperti itu
(1)
.
Program Behavioral Modification dilakukan untuk melatih
anak agar bersikap lebih layak dan dapat diterima secara sosial.
Dalam program ini yang diintervensi adalah
(51)
.
· Rutinitas harian.
· Pengendalian temper tantrum
· Komunikasi
· Aspek emosi
Ketrampilan sosial dan komunikasi sebaiknya diajarkan oleh
ahli komunikasi untuk berbicara pragmatis. Keadaan ini dapat
dilakukan dalam terapi dua orang atau terapi kelompok kecil.
Terapi komunikasi meliputi:
(1)
1. perilaku nonverbal yang sesuai (cara memandang untuk
interaksi sosial, memonitor dan mencontoh perubahan
suara).
2. membaca kode verbal dari perilaku nonverbal orang lain
3. social
awareness.
4. perspective taking skill
5. interpretasi yang benar untuk komunikasi yang berarti
ganda.
Kelompok self support dapat membantu penderita Asperger.
Pengalaman kecil pada kelompok self-support memberi kesan
bahwa individu dengan gangguan Asperger menikmati kesem-
patan tertentu dengan orang lain. Ia dapat mengembangkan
hubungan di sekitar aktivitasnya dengan orang lain untuk
membagi perhatian. Perhatian khusus dibuat untuk mencipta-
kan kesempatan sosial melalui kelompok minat.
Mereka membutuhkan kasih sayang, kelembutan hati,
kepedulian, kesabaran dan pengertian. Jika mereka mendapat
kannya, sedikitnya dapat lebih terlibat dalam masyarakat
(14)
.
Orang tua
Orang tua berperan sangat besar dalam penatalaksanaan
gangguan Asperger. Beberapa strategi yang menolong orangtua
untuk menghadapi anaknya :
- Buatlah pembicaraan yang sederhana sesuai dengan tingkat
pengertian mereka
-
Buatlah instruksi yang sederhana untuk pekerjaan yang rumit
dengan menggunakan daftar atau gambar.
- Mencoba mengkonfirmasi apakah mereka mengerti apa yang
dibicarakan atau ditanyakan. Jangan membuat pertanyaan yang
cukup dijawabYes/No.
- Jelaskan bahwa mereka harus menatap saat berbicara dengan
orang lain, beri semangat, pujian untuk prestasi, khususnya
pada saat mereka menggunakan ketrampilan sosial tanpa
disuruh.
- Untuk anak kecil yang tampaknya tidak mau mendengar,
berbicara dengan dinyanyikan akan lebih bermanfaat.
- Berilah pilihan yang dibatasi dua atau tiga pilihan
(14)
.
Pendidikan
Sangat bermanfaat jika anak dimasukkan ke sekolah yang
memahami kesulitan anak dan orangtuanya. Guru harus me-
nyadari bahwa muridnya mempunyai gangguan perkembangan
dan berbeda dari murid lain
(5,14)
. Ketrampilan, konsep, prosedur
yang teratur, strategi kognitif dan norma-norma perilaku dapat
diajarkan dengan efektif
(1)
.
Beberapa prinsip umum sekolah agar dapat diaplikasikan
pada anak dengan gangguan Asperger :
(5)
- Rutinitas kelas harus konsisten, terstruktur, dan sebisa
mungkin dapat diramalkan. Mereka harus dipersiapkan terlebih
dahulu. Termasuk jadual istirahat, hari libur dan sebagainya.
- Aturan diterapkan dengan seksama. Beberapa anak kaku
dengan aturan. Pedoman dan aturan diterangkan dengan jelas,
akan menolong jika melalui tulisan.
- Guru mengambil kesempatan pada bidang yang menjadi
perhatian anak saat mengajar. Anak akan belajar dengan baik
dan memperlihatkan motivasi dan perhatian yang besar bila
sesuai dengan yang dijadualkan.
- Banyak anak gangguan Asperger berespons baik secara
visual dengan alat seperti : jadual, chart, list, gambar dsb.
- Secara umum mengajar dengan konkrit. Hindari gaya
bahasa yang sulit dimengerti seperti sarkasme, idiom dan
sebagainya.
- Strategi mengajar didaktik dan eksplisit dapat membantu
anak memperoleh kecakapannya pada bidang fungsi eksekutif.
-
Pastikan bahwa staf lain seperti guru olahraga, sopir bus,
petugas perpustakaan dan kafetaria mengetahui keadaan anak.
Lakukanlah pendekatan terhadap mereka.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
28
Pekerjaan
Dalam pekerjaan, manfaatkan kemampuan mereka untuk
dapat mandiri. Kemandirian dalam berbagai bidang menjadi
prioritas
(1)
.
Penderita gangguan Asperger dilatih dan ditempat-
kan pada pekerjaan yang mendapat dukungan dan perlindungan
dengan demikian mereka tidak akan mengalami gangguan
psikologik. Sebaiknya pekerjaan mereka tidak melibatkan
tuntutan sosial yang intensif, tekanan waktu atau membutuhkan
perubahan cepat. Jangan ditempatkan pada situasi baru yang
membutuhkan pemecahan masalah
(1)
.
Terapi lain
Diberikan psikoterapi dan terapi okupasi. Psikoterapi suportif
dapat menolong penderita agar dapat beradaptasi dengan perasaan
sedih, frustrasi dan ansietas. Keadaan yang langsung terfokus pada
pemecahan masalah lebih berguna daripada pendekatan ber-
orientasi tilikan (insight)
(32)
. Terapi okupasi sangat dibutuhkan,
diberikan oleh seorang terapis yang berpengalaman, untuk
melatih koordinasi gerakan
(32)
.
Intervensi farmakologi tak kalah
penting untuk menghilangkan gejala dan psikopatologi lain
(32)
.
Diutamakan jika ada gejala agresivitas dan self injuries.
Golongan antagonis serotonin dopamin seperti risperidone,
olanzapine, quetiapine
(52,53)
dan serotonin selective reuptake
inhibitor seperti fluoxetin menurut kepustakaan sangat baik
untuk gangguan Asperger. Clomipramine efektif untuk terapi
gejala obsesi kompulsi pada gangguan ini. Terapi stimulan
bermanfaat untuk mengatasi gangguan atensi
(8)
.
Nutrisi dapat menolong anak dengan gangguan Asperger.
Makanan bebas gluten dan kasein sangat dianjurkan. Hal ini
berdasarkan pada hipotesis opioid pada autisme. Mega dosis
vitamin dan mineral dianjurkan pada penatalaksanaan ganggu-
an spektrum autisme. Diet bebas fenol dan salisilat, gula, zat
aditif, jamur/fermentasi dianjurkan dengan menggunakan rotasi
diet
(54,55)
.
Integrasi sensorik dilakukan pada anak gangguan
spektrum autisme dengan tujuan untuk memperbaiki sistem
registrasi dan modulasi dari berbagai input sensorik, memfasili-
tasi fungsi regulasi, memfasilitasi proses dari berbagai input
sensorik, dan membantu perkembangan praksis dan ketrampil-
an untuk memecahkan masalah
(56)
.
ILUSTRASI KASUS
B, laki-laki, 7 tahun, datang dengan keluhan suka me-
mukul dan berteriak jika keinginan tidak atau lama dipenuhi.
Pasien lebih suka main sendiri dan sulit berteman, juga di
sekolah. Pasien kelihatan aneh dan tidak bisa bergaul. Pasien
suka bermain permainan aneh yang diciptakan sendiri. Ia tidak
bisa mengerti dan peduli dengan perasaan orang lain. Ia sering
melempar, menonjok tanpa mempedulikan orang lain, tapi
tidak boleh ditegur. Pasien juga suka membangkang.
Nilai pelajaran cukup bagus dengan rata-rata 7-9 untuk
matematika dan pelajaran hafalan. Pasien kurang abstraksi,
sulit mengerti bahasa. Pasien anak tunggal, kedua orang tua
bekerja, riwayat prenatal tidak ada keluhan, proses persalinan
dengan risiko ketuban pecah dini, berat badan lahir 3,5 kg,
panjang badan 49 cm.
Pasien mengikuti aktivitas seperti taekwondo, piano dan
komputer. Pasien bercita-cita ingin menjadi pilot karena ia
ingin naik pesawat yang ada baling-balingnya di hidung dan
mesinnya jet. Pasien masuk TK pada usia 5 tahun, bisa mem-
baca dan berhitung pada usia 4 tahun, tidak ada keterlambatan
bicara dan berbahasa. Usia 6 tahun masuk SD. Di kelas II cawu
II pasien pindah sekolah, karena murid di SD sebelumnya
terlalu banyak.
Pada pemeriksaan pasien tampak bersikap kaku, berbicara
dengan bahasa yang baku dan sangat formal tanpa memandang
lawan bicaranya (menghindari kontak mata). Pasien bicara
keras dan tidak bisa pelan. Pasien memperlihatkan gangguan
interaksi sosial dalam kontak mata yang kurang adekuat.
Memperlihatkan respons yang tertunda waktu disapa.
Pembicaraannya kurang modulasi dan nampak monoton. Ia
tidak menunjukkan rasa sedih atau kecewa saat menceritakan
tidak bisa makan McDonald, padahal ia menyukainya. Ia tidak
berespons dengan ekspresi wajah dan sikap orang lain. Ia tidak
membalas jika orang lain tersenyum kepadanya. Pasien me-
nyebutkan tanda waktu secara detil misalnya waktu ditanyakan
jam berapa pulang sekolah, ia menjawab jam dua belas lewat
tiga puluh enam menit, sepuluh detik, demikian juga untuk
pertanyaan lain mengenai waktu. Pada saat ditanya, pertanyaan
harus diulang baru pasien menjawab. Terkadang jawaban tidak
sesuai.
Saat ditegur karena melakukan kesalahan, pasien berkata:
"mengapa marah-marah, saya tidak salah", dengan wajah tak
bersalah. Ia tidak bisa menulis rapi dan sering marah-marah
dan berteriak-teriak karena tidak bisa menulis rapi. Ia sering
menghindari pekerjaan menulis. Pada saat menjiplak pasien
tidak dapat melakukannya dengan rapi dan teratur, ia me-
lakukannya berulang-ulang sampai bosan dan istirahat.
Demikian juga saat menggunting gambar di kertas terlihat
sangat kaku dan hasilnya tidak rapi. Apabila pasien melakukan
sesuatu yang sulit, kemudian gagal maka ia akan frustrasi dan
berteriak-teriak. Setiap kali kunjungan pasien melakukan hal
yang rutin yaitu menggambar, padahal tidak disuruh. Untuk
mengubah kebiasaan pasien ke hal-hal yang baru harus melalui
proses dan tidak boleh langsung karena pasien akan ngambek.
Di rumah pasien suka main playstation. Interaksi pasien
dengan orangtuanya: pasien dapat ditinggal orang tuanya tanpa
protes, tetap bisa bermain dengan baik (asyik sendiri). Orientasi
dan persepsi baik, Mood/afek inappropriate, empati sulit
dirabarasakan, proses pikir terhambat.
DISKUSI
Memahami gambaran klinis dan kriteria diagnostik adalah
modal untuk mendiagnosis gangguan Asperger. Gambaran
klinis yang mirip atau tampaknya bertumpang tindih dengan
gangguan dalam spektrum autistik, dapat menyulitkan diag-
nosis.
Deteksi dini gangguan Asperger dapat dilakukan jika
mampu melakukan anamnesis dan pemeriksaan dengan teliti
untuk menegakkan diagnosis. Etiologi gangguan Asperger
masih dalam perdebatan, sehingga sampai saat ini penata-
laksanaan pada dasarnya adalah suportif dan simtomatis.
Terapi non farmakologis dan farmakologis diberikan
sesuai kebutuhan pasien. Pendekatan multidisiplin bermanfaat
untuk memberikan terapi yang holistik dan komprehensif.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 29
PUISI KARANGAN SEORANG ANAK
GANGGUAN ASPERGER
Ironing Out the Wrinkles
Life was once a tangled mess.
Like missing pieces, in a game of chess.
Like only half a pattern for a dress.
Like saying no, but meaning yes.
Like wanting more, and getting less.
But I'm slowly straightening it out.
Life was once a tangled vine.
Like saying yours, and meaning mine.
Like feeling sick, but saying fine.
Like ordering milk, but saying wine.
Like seeing a tree, and saying vine.
But I'm slowly straightening it out.
Life is now a lot more clear.
The tangles are unraveling,
And hope is near.
Sure there are bumps ahead.
But no more do I look on with dread.
After fourteen years the tangles have straightened.
(Vanessa Regal)
30
Gambar 1 : Dari seorang anak penderita gangguan Asperger
KEPUSTAKAAN
1.
Volkmar FR, Klin A. Pervasive developmental disorder. Dalam : Kaplan
HI, Sadock BJ. Comprehensive Textbook of Psychiatry, 7
th
ed, Baltimore,
William & Wilkins;1999:2674-7.
2.
Bowman EP. Asperger's syndrome and autism: the case for a connection.
Br J Psychiatr. 1988; 152 : 377-82.
3.
Rosen BS. Asperger's syndrome, high functioning autism, and disorder of
2001.
4. Levin K. Pervasive developmental disorder: PDD-NOS, Asperger
disorder and autism parent information booklet. http://www.children
hospital.org/ici/publications. Diakses 4 April 2001.
5.
Bauer S. Asperger syndrome. http://www.asperger.org/articles. Diakses 4
April 2001.
6. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder 4
th
ed. American
Psychiatric Association.Washington, DC:75-7.
7.
Volkmar FR, Klin A, Siegel B, et al. Field trial for autistic disorder in
DSM-IV. Am J Psychiatr. 1994;151:1361-7.
8. Gillberg C. Asperger syndrome and high functioning autism, Br J
Psychiatr. 1998;172:200-9
9.
Kerbeshian J, Burd L. Asperger's syndrome and Tourette syndrome: the
case of the Pinball Wizard. Br J Psychiatr. 1986;148:731-6.
10. Volkmar FR, Klin A, Schultz RT et al. Clinical case conference :
Asperger's disorder. Am J Psychiatr. 2000;157:262-7.
11. Cox AD. Is Asperger's syndrome a useful diagnosis ?. Arch. Dis.
Childhood 1991;66: 259-62.
12. Kerbeshian J, Burd L, Fisher W. Asperger's syndrome: to be or not to
be?. Br J Psychiatr. 1990;156:721-5.
13. Ehlers S, Gillberg C. The epidemiology of Asperger syndrome : A total
population study. Cambridge University Press, 1993.
April 2001.
15. Scragg P, Shah A. Prevalence of Asperger's syndrome in a secure
hospital. Br J Psychiatr. 1994;165:679-82
16. Editorial. By one name. J Pediatr. 2000;136:576-7.
17. Szatmari P et al. Two year outcome of preschool children with autism or
Asperger's syndrome and high functioning autism. Br J Psychiatr.
1998;172:200-9.
18. Tantam D. Lifelong eccentricity and social isolation II: Asperger's
syndrome or schizoid personality disorder?. Br J Psychiatr.1988;153:
783-91.
19. Editorial. Zebras in the livingroom : The changing faces of autism. J
Pediatr.1999;135:533-5.
20. Connolly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner
variant, autism, and other neurologic disorder. J Pediatr. 1999;134:607-
13.
21. Volkmar FR et al. Nosology and genetic aspect of Asperger syndrome. J
Autism Dev Disord.1998;28(5):457-63.
22. Gillberg CL. Autism and autistic-like conditions : subclasses among
disorder or empathy. Cambridge University Press. 1992.
23. Burguine E, Wing L. Identical triplets with Asperger's syndrome. Br J
Psychiatr. 1983; 143:261-5.
24. Horvath K et al. Gastrointestinal abnormalities in children with autistic
disorder. J. Pediatr. 1999;135:559-63.
25. Milles, Capelle. Asperger's syndrome and aminoaciduric : a case sample.
Br J Psychiatr.1987;150:397-400.
26. Rinehart NJ et al. Atypical interference of local detail on global
processing in high -functioning autism and Asperger's disorder.J Child
Psychol Psychiatr. 2000; 41 (6) :769-78.
27. Schultz RT, Gaulthier I et al. Abnormal ventral temporal cortical activity
during face discrimination among individuals with autism and Asperger
syndrome. Arch Gen Psychiatr. 2000;57:331-40.
28. Jones PB, Kerwin RW. Left temporal lobe damage in Asperger's
syndrome. Br J Psychiatr.1987; 150:397-400.
29. Klin A, Volkmar FR et al. Validity and neuropsychological
characterization of Asperger syndrome: convergence with nonverbal
learning disability syndrome. Cambridge University Press.1995.
30. Attwood T. Motor Clumsiness. http://www.Asperger.org/articles. Diakses
4 April 2001.
31. Ringman JM, Jankovic J. Occurrence of tics in Asperger's syndrome and
autistic disorder. J Child Neurol. 2000;156:394-400.
32. Grossman JB, Klin A, Carter AS, Volkmar FR. Verbal bias in recognition
of facial emotion in children with Aspreger syndrome. J Child Psychol
Psychiatr. 2000;41(3):369-79.
33. Bowler DM, Gardiner JM, Grice S et al. Memory illusions: false recall
and recognition in adults with Asperger's syndrome. Abnorm Psychol.
2000;109(4): 663-72.
34. Bowler DM, Gardiner JM, Grice SJ. Episodic memory and remembering
in adults with Asperger syndrome. J Autism Dev Disord.2000; 30(4):295-
304.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
30
35. Miller JN, Ozonoff S. The external validity of Asperger disorder: lack of
evidence from the domain of neuropsychiatry. J Abnorm Psychol.
2000;109(2):227-38.
36. Bolton PF et al. Association of tuberous sclerosis of temporal lobes with
autism and atypical autism. Lancet.1997;349:392-5.
37. Craig J, Baron-Cohen S. Story-telling ability in children with autism or
Asperger syndrome: a window into the imagination. Isr J Psychiatry Relat
Sci. 2000;37(1): 64-70.
38. Craig J, Baron-Cohen S. Creativity and imagination in autism and
Asperger syndrome. J Autism Dev. Disord.1999;29(4):319-26.
39. Littlejohns CS, Clarke DJ, Corbett JA. Tourette-Like Disorder in
Asperger syndrome.Br J Psychiatr.1990;156:430-3.
40. Szatmari P. The classification of autism, Asperger syndrome and
pervasive developmental disorder. Can J Psychiatr. 2000;45(8):731-8.
41. Charman T, Skuze DH. Autism. Psychiatr. Medicine Internat. 2000; 3:
54-6.
42. Baron-Cohen S. Is Asperger syndrome/high-functioning autism
necessarily a disability?.Dev Psychopathol.2000;12(3):489-500.
43. Prior M, Eisenmajer R, Leeham et al. Are there subgroup within the
autistic spectrum?. A cluster analysis of groups of children with autistic
spectrum disorder. J Child Psychol Psychiatr. 1998;39(6):893-902.
44. Wolff S. "Schizoid" personality in childhood and adulthood life. III : the
childhood picture. Br J Psychiatr.1991;159:629-35.
45. Everall IA, Lecounter A. Firesetting in an adolescent boy with Asperger
syndrome.Br J Psychiatr. 1990;157:284-7.
46. Walker A. Separate realities; a plain narrative of a-posteriori cognition:
analogue for comparisons with and between Asperger's syndrome and
Diakses 4 April 2001.
47. Attmood T. Asperger syndrome: Some common question.:
48. Ghaziuddin M et al. Comorbidity of Asperger syndrome : a preliminary
report. J Intellect Disabil Res. 1998;42:279-83.
49. Green J et al. Social and psychiatry functioning in adolescent with
Asperger syndrome compared with conduct disorder. J Autism Dev
Disord.2000;30(4) :27993.
50. Sobanski E. Further evidence for a low body weight in male children
and adolescent with Asperger's disorder. Eur Child Adolesc Psy.1999;
8(4):312-4.
51. Grossman R. Behavioral Modification Programme for PDD Children.
Child Neurology and Developmental Centre. www.child brain.com.
Diakses 8 April 2003
52. Sadock BJ, Kaplan HI, Pervasive Develompental Disorder. Synopsis of
Pychiatry, 9
th
ed, 2002 :1208-22.
53. Zepf B. Risperidone for aggressive behavior in autistic children. Am.
Family Physician 2003:Feb.
54. Mehl-Madrona L.Effective Therapies for Autism and other Developmental
Disorder. Autism/Asperger's Digest Magazine, 2000.
55. Susilo RPP. Pengalaman menjalankan diet pada anak Autistic Spectrum
Disorder. Konferensi Nasional Autisme I, Jakarta, 2003 :182-9.
56. Utama DK. Terapi sensori integrasi untuk anak-anak dengan gangguan
spektrum autisme. Konferensi Nasional Autisme I, Jakarta, 2003 : 73-9.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 31
Document Outline