Uji Gerak Badan
dr. V. Sutarmo Setiadji, dr. B. Gunawan
Bagian Ilmu
Faal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta
PENDAHULUAN.
Bekerja dan bergerak merupakan fungsi tubuh. Untuk bekerja
dan bergerak diperlukan energi. Energi diperoIeh tubuh dari
pembakaran zat makanan oIeh oksigen. Untuk memperoleh
zat makanan, orang cukup hanya dengan makan sehari tiga
kali. Hal ini disebabkan karena zat makanan dapat disimpan
dalam sel-sel tubuh dalam jumlah yang cukup. Lain halnya
dengan oksigen yang tidak dapat disimpan. Oksigen harus sela-
lu diambil dari udara dengan perantaraan paru, darah dan sistem
peredaran darah.
Pada taraf kerja tertentu diperlukan sejumIah oksigen ter-
tentu. Makin tinggi taraf kerja, yang berarti makin banyak
jumlah energi yang diperlukan, makin banyak pula jumIah
oksigen yang diperlukan. Kemampuan tubuh untuk menyedia-
kan oksigen, disebut kapasitas aerobik, terutama bergantung
kepada fungsi sistem pernapasan, darah dan sistem kardiovas-
kuler. Dari ketiga sistem tersebut, yang hubungannya dengan
konsumsi oksigen paling linear iaIah sistem kardiovaskuler.
Bahkan pada beberapa cara uji gerak badan, frekuensi denyut
nadi merupakan satu-satunya parameter yang dijadikan ukuran
untuk meniIai hasiI uji gerak badan tersebut (1).
Dalam tuIisan ini akan diuraikan secara sipintas lalu bebera-
pa prinsip, kegunaan dan cara uji gerak badan. Mudah-mudah-
an bermanfaat bagi para pembaca.
PROSES AEROBIK DAN PROSES ANAEROBIK.
Dalam pembentukan energi, terdapat dua macam proses yang
dapat ditempuh, yaitu proses aerobik, proses yang memer-
lukan oksigen; dan proses anaerobik, proses yang tidak memer-
lukan oksigen. Pada proses aerobik terjadi proses pembakaran
yang sempuma. Atom hidrogen dioksidasi menjadi HzO dan
atom karbon dioksidasi menjadi COz. Sisa metabolisme ter-
sebut dikeIuarkan dari tubuh melalui proses pernapasan .
Energi yang diperoIeh dari proses aerobik ini tidak dapat
langsung digunakan otot sebagai sumber energi untuk menge-
rut.
Energi tersebut dengan proses lebih lanjut digunakan
untuk sintesis ATP (adenosine triphosphate) dan senyawa-
senyawa berenergi tinggi yang lain. Senyawa-senyawa tersebut
merupakan
senyawa yang dapat menyimpan energi dalam
jumlah yang besar. Proses pemecahannya yang tidak memer-
Iukan oksigen dengan menghasilkan energi yang besar itu me-
rupakan proses anaerobik. Energi yang dihasilkan dari peme -
cahan
ATP ini dapat digunakan sebagai sumber energi
untuk mengerut oleh otot (2,3). Proses aerobik dan proses
anaerobik tersebut dalam tubuh selalu terjadi bersama-sama
dan berurutan. Hanya berbeda intensitasnya pada jenis dan
tahap kerja tertentu. Pada kerja berat yang hanya berlangsung
beberapa detik saja, dan pada permulaan kerja pada umumnya,
proses anaerobik Iebih menonjol daripada proses aerobik.
Pada keadaan kerja tersebut, sistem kardiopuImonal beIum
bekerja dengan kapasitas yang diperlukan. Untuk penyesuaian-
nya, diperlukan waktu. Dengan demikian oksigen yang tersedia
tidak mencukupi. Maka keperluan akan energi terutama di-
cukupi dengan proses anaerobik. Pada keadaan kerja tersebut
terdapat "hutang" oksigen. "Hutang" ini akan dibayar sesudah
berhenti bekerja, sehingga orang sesudah berhenti bekerja
masih terengah-engah dan denyut jantungnya masih cepat.
Bila pekerjaan diteruskan dengan taraf kerja yang tetap,
refleks-refleks tubuh akan mengatur fungsi sistem kardiopuI-
monal untuk mencukupi jumlah oksigen yang diperlukan,
sehingga dicapai kerja
steady-state.
Pada
kerja
steady-state
ini jumlah oksigen yang diperlukan tetap jumIahnya dari
waktu ke waktu (2,3).
Bila taraf kerja ditingkatkan lagi dengan menambah beban
kerja, pada saat ditingkatkan tersebut terjadi "hutang" oksi-
gen lagi dan kembaIi proses anaerobik Iebih menonjoI. Dan
bila taraf kerja dipertahankan lagi pada taraf yang baru ini,
akan terjadi lagi kerja
steady-state
tetapi pada taraf yang lebih
tinggi. Jumlah oksigen yang diperlukan pada taraf kerja yang
lebih tinggi ini juga lebih besar.
Bila taraf kerja dinaikkan secara bertahap demikian dengan
setiap kali menambah beban kerja, suatu saat seluruh kapasitas
sistem kardiopulmonal terpaksa dikerahkan untuk memenuhi
keperluan akan oksigen. Dalam hal demikian berarti kapasitas
aerobik maksimal telah dicapai. Bila beban kerja dinaikkan la-
gi, tubuh tidak dapat lagi menambah persediaan oksigen.
Maka kembali proses anaerobik akan Iebih menonjol daripada
proses aerobik. Taraf kerja demikian tidak boleh dipertahan-
kan dalam waktu yang cukup lama (beberapa menit) karena
persediaan tenaga dalam tubuh akan habis dan orangnya me-
ngalami
exhaustion (2).
Proses anaerobik merupakan proses oksidasi yang tidak
sempurna. Salah satu sisa metabolismenya ialah asam Iaktat.
Maka biIa proses anaerobik meningkat, kadar asam laktat
darah juga meningkat.
3 0
Cermin Dunia Kedokteran No. 19, 1980
BUGARBADAN (PHYSICAL FITNESS).
Bugarbadan sering didefinisikan sebagai kemampuan tubuh
untuk memikul tugas sehari-hari dengan penuh semangat dan
kewaspadaan, tanpa menderita kelelahan yang berarti, bahkan
masih mempunyai cadangan daya kerja untuk menikmati masa
Iuang dan menghadapi hal-hal yang tidak terduga. Seseorang
dikatakan bugar
(fit),
kalau cadangan daya kerja alat-alat tu-
buhnya sebagai unsur penunjang bugarbadan, cukup besar.
Yang disebut unsur penunjang bugarbadan ialah kekuatan
otot, ketahanan otot
(muscle endurance),
ketahanan sistem
kardiovaskuler
(cardiovascular endurance),
kelenturan jaringan
(flexibility, mobility),
ketrampilan, ketangkasan, dIl. Masing-
masing unsur tersebut dapat dilatih secara sendiri-sendiri
maupun bersama-sama untuk meningkatkan kapasitas daya
kerjanya (4).
DaIam melaksanakan tugas tertentu, kapasitas daya kerja
alat dan sistem tubuh tidak seluruhnya dikerahkan. Hanya
sebagian dari daya kerja tersebut yang digunakan. Sisanya
merupakan cadangan daya kerja. Misalnya saja dalam hal
jantung. Tugas jantung ialah memompa darah ke seluruh tubuh
untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan darah. Curah jan-
tung (cardiac output) dalam keadaan istirahat kira-kira hanya
empat liter. Kalau kita bekerja, curah jantung akan meningkat
beberapa kali lipat. Pada orang yang terlatih yang bekerja
habis-habisan, curah jantung dapat meningkat sampai 40 liter.
Ini berarti pada orang
yang terlatih jantung mempunyai
cadangan daya kerja yang sangat besar (1).
Kapasitas daya kerja jantung yang sangat besar itu tidak
dapat diperoleh begitu saja. Perlu Iatihan gerak badan yang
teratur dan lama. Perlu teratur dan lama karena jantung perlu
penyesuaian anatomik. SeI-sel otot jantung oleh latihan yang
teratur dan lama dapat menjadi lebih besar dan pembuluh
darah jantung juga Iebih berkembang. Hal tersebut memung-
kinkan penyimpanan makanan yang lebih banyak dan pen-
darahan serta oksigenisasi jaringan yang lebih baik. Otot-otot
badan yang terlatih demikian, juga akan mengalami hal yang
sama (2).
Proses aterosklerosis pada pembuluh darah akan menyebab-
kan penyempitan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh
darah jantung akan mengurangi pendarahan jantung, dan juga
mengurangi kapasitas daya kerja jantung, selanjutnya mengu-
rangi bugarbadan pada umumnya. Jantung yang pembuluh
darahnya menyempit, bila harus bekerja pada batas-batas ter-
tentu, tidak akan mengalami gangguan. Tetapi bila beban ker-
janya melewati batas tertentu, jantung memerlukan darah
yang lebih banyak
yang
tidak dapat dipenuhi oleh pembuluh
darahnya, maka jantung akan mengalami iskemia. Kelainan
pembuluh darah jantung merupakan sebab kematian paling
besar di dunia Barat (5).
TUJUAN UJI GERAK BADAN.
Tujuan diadakannya uji gerak badan ini umumnya dapat di-
golongkan dalam dua bagian, yaitu mengukur tingkat bugar-
badan seseorang, dengan memberi nilai pada penampilannya
saat diuji, atau untuk membantu menentukan ada atau tidak
adanya penyakit atau penurunan daya kerja sistem kardio-
vaskuler-respirasi (2,5,6,7).
Dengan mengetahui tingkat bugarbadan seseorang, kita
dapat menentukan program latihan yang diperlukan bila ia
ingin meningkatkan bugarbadannya, atau menilai hasil latihan
atau pengobatan bila sebeIumnya telah dilakukan uji gerak
badan dan diberikan program Iatihan atau pengobatan pada-
nya. Atau memberi dan membangkitkan motivasi pada orang
tersebut untuk mengikuti program latihan, program:pengobat-
an atau program rehabilitasi yang harus diikutinya.
Untuk mendiagnosa adanya kelainan pada sistem kardio-
vaskuler, rekaman EKG perlu dimonitor. Dengan demikian
setiap perubahan pada EKG dapat segera diketahui.
CARA--CARA UJI GERAK BADAN.
Uji gerak badan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dari
tanpa alat sama sekali atau hanya dengan alat yang sangat
sederhana, sampai dengan menggunakan alat yang serba mo-
dern dan
sophisticated:
Yang sederhana misalnya dengan
menggunakan gerakan sehari-hari yang biasa dilakukan atau
yang biasa diberikan pada pelajaran gerak badan, misalnya
saja berjalan cepat, lari, mendorong, telentang-duduk, mem-
bungkuk, lompat, dll. Contoh uji gerak badan demikian ialah
uji PQ (Physical Quotient) yang diajukan oleh Gooding (8).
Cara kedua .ialah dengan naik-turun bangku atau tangga.
Cara ini sering dilakukan di laboratorium yang sederhana.
Tidak memerlukan banyak alat dan ruang besar.
Monitoring
pada cara terdahulu dan naik turun bangku ini sekarang di-
mungkinkan dengan adanya sistem telemetri.
Cara yang ketiga ialah dengan menggunakan alat ergometer
sepeda dan ban berjalan (tteadmill). Cara ini sangat baik kare-
na beban kerja dapat diukur dan diatur dengan sangat teIiti.
Lagi pula EKG dan tekanan darah orang yang sedang diuji
dapat dimonitor secara langsung. Cara ini, terutama yang
menggunakan ban berjalan, merupakan cara yang paling ideaI
saat ini. Gerakan yang diperlukan juga gerakan yang biasa di-
lakukan oleh setiap orang, yaitu berjalan cepat dan berlari,
sehingga orang sebelum diuji tidak perlu dilatih secara khusus
lebih dahulu. Pengumpulan udara ekspirasi untuk keperIuan
analisis untuk mengetahui oksigen yang dikonsumsi dan CO2
yang terbentuk, juga mudah dilakukan (2,7).
Untuk mengetahui teknik pengukurannya yang lebih ter-
perinci, kami anjurkan para pembaca untuk membaca buku-
buku yang memuat hal-haI di atas atau khususnya buku yang
namanya terdapat dalam daftar kepustakaan.
Gerakan-gerakan yang digunakan dalam uji gerak badan,
sebaiknya gerakan-gerakan yang meIibatkan sebagian besar
otot-otot tubuh. Makin banyak otot-otot tubuh yang terlibat,
makin baik (5). Dan seperti tadi sudah dijelaskan, bahwa
gerak badan terutama akan menjadi beban sistem kardiovas-
kuler, maka parameter-parameter yang perlu diperhatikan,
bahkan kalau mungkin dimonitor, ialah parameter sistem kar-
diovaskuler. Juga gejala-gejala yang mungkin timbul pada wak-
tu uji gerak badan yang menyangkut gangguan fungsi sistem
kardiovaskuler. Sebelum kita melaksanakan uji gerak badan,
kita harus tahu pasti bahwa orang yang akan kita uji dapat
menjalani uji gerak badan. Bila kita belum kenal keadaan
orangnya, lebih baik diperiksakan lebih dahulu kesehatan-
nya. Bila tidak terdapat indikasi kontra untuk dilakukan uji
gerak badan, bolehlah orang tersebut kita uji. Juga perlu di-
Cermin Dunia Kedokteran No. 19, 1980
31
ketahui adanya faktor-faktor risiko untuk terjadinya penya-
kit jantung koroner, misalnya umur di atas 35 tahun, perokok
berat, orangnya tambun, penderita diabetes melitus, tekanan
darah tinggi: Dalam hal ini kita harus berhati-hati (5).
SARAN--SARAN:
Akhir-akhir ini, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat
akan perlunya pemeliharaan bugarbadan dan pentingnya
latihan gerak badan, permintaan masyarakat untuk menjalani
uji gerak badan sangat meningkat: Alangkah baiknya bila di
tiap daerah terdapat pusat uji gerak badan yang lengkap dan
memadai, yang juga dapat berfungsi sebagai pusat konsultasi
peningkatan dan pemeliharaan bugar badan dan pusat
moni-
toring
latihan gerak badan.
KEPUSTAKAAN
1: Karpovich PV: Physiology of muscuIar activity: PhiIadeIphia: WB
6.
Saunders Co, 1953:
2: Astrand PO, RodahI K: Textbook of work physiology. Tokyo :
Mc Graw HiII Kogakusha Ltd, 1970:
3: Guyton AC: Textbook of medicaI physioIogy: PhiladeIphia: WB
7:
Saunders Co, 1966:
4. Clarke HH: Application of measurement to heaIth and physicaI
education: Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Inc, 1976:
5. International Society of Cardiology. MyocardiaI infarction, how to
prevent, how to rehabiIitate: 1973:
American Heart Association, The Committee on Exercise: Exercise
testing and training of individuals with heart disease or at high risk
for its deveIopment: A handbook for physicians: American Heart
Association, 1975.
Jones NL: Clinical exercise testing: Philadelphia: WB Saunders Co,
1975:
8: Tomi Hardjatno, V Sutarmo Setiadji, B Gunawan: Pengukuran
"physical quotient" siswa keIas III SMA Pangudi Luhur Jakarta
tahun 1977, 1979: Jakarta : Bagian Ilmu Faal FKUI:
TANAMLAH SENDIRI
Penyediaan sayur-mayur -- salah satu komponen penting
dalam makanan kita--merupakan masalah di negara-negara ber-
kembang. Maka kini didengung-dengungkan kampanye "Ta-
man Gizi" untuk memenuhi kebutuhan akan bahan makanan
ini: Manfaatkan setiap jengkal tanah kosong, misalnya peka-
rangan atau halaman rumah, dengan menanami sayur mayur
serta buah-buahan !:
Di Jerman Barat pun tampak ada gerakan serupa, meski
dengan tujuan berbeda: Perbincangan mengenai polusi ling-
kungan dalam media-media massa telah membuat masyarakat
khawatir akan kualitas sayur mayur yang tercemar oleh pupuk
buatan serta insektisida: Tapi mereka juga sadar bahwa tanpa
zat-zat kimia itu petani tidak mungkin dapat menghasilkan
sayur dengan cepat, mudah, serta dalam jumlah yang memadai:
Jadi, kesimpulannya, bila menginginkan makanan yang tidak
tercemar, hanya ada satu pilihan : tanamlah sendiri.
Ini mengakibatkan suatu perubahan besar di berbagai
pelosok Jerman Barat. Taman bunga di depan rumah
yang
biasanya dipakai sebagai bahan "pameran" serta "persaingan"
keindahan dengan tetangga kini berubah menjadi kebun ku-
bis, kol dan kentang; di halaman belakang tampak anak-anak
ayam mengais-ngais tanah. Bahkan mereka yang tidak memiliki
halaman ikut serta dengan menanamnya dalam pot-pot di
depan jendela.
Hasil sampingan yang menarik akibat fenomena ini ialah
suatu perubahan struktur sosial. Sebelum perang dunia II,
petani-petani miskinlah yang bercocok tanam, menanam apa
saja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kini, petani-
petani -mini itu adalah golongan masyarakat yang sebenar-
nya dapat membeli apa saja. Ada yang membuat kebun di
luar kota, sehingga sekali seminggu mereka harus menempuh
jarak 100 km untuk merawat kebunnya. Mereka memang
membayar Iebih mahal untuk sayur tanaman sendiri itu,
belum terhitung biaya transport; namun mereka memper-
oleh ketenangan batin:
Demam-berkebun ini dengan sendirinya menyebabkan
ledakan keuntungan bagi beberapa pihak; Pertama ialah para
penjual bibit: Kedua ialah penerbit-penerbit buku mengenai
cara bercocok tanam. Sebagai contoh, buku "Gardens and
Gardening Without Poison" telah terjual sejumlah 171.000
buah:
(HaIIo Friends, AS 2/80)
3 2
Cermin Dunia Kedokteran No. 19, 1980