LAPORAN KASUS
Tuberkulosis Milier
dengan
Tuberkuloma Intrakranial
Laporan Kasus
Djoko Mulyono, Djoko Iman Santoso
PPDS I Ilmu Penyakit Paru, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Rumah Sakit Umum Daerah Dr Sutomo, Surabaya
PENDAHULUAN
Salah satu masalah kesehatan, khususnya penyakit menular
yang merupakan penyakit "rakyat" dengan keadaan sosio-
ekonomi yang kurang, terutama di negara yang sedang ber-
kembang antara lain adalah tuberkulosis (TB); bahkan di negara
majupun dengan munculnya AIDS maka tuberkulosis akibat
mikobakterium atipikal mulai diperhatikan
(1)
.
Salah satu manifestasi infeksi tuberkulosis ekstrapulmonal
yang berbahaya adalah TB pada sistim saraf, dalam hal ini
adalah tuberkuloma intrakranial.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Cara penularan TB yang paling banyak ialah melalui saluran
napas, meskipun cara lain masih mungkin. Kuman TB yang
masuk alveol akan ditangkap dan dicerna oleh makrofag. Bila
kuman virulen, ia akan berbiak dalam makrofag dan merusak
makrofag; makrofag yang rusak mengeluarkan bahan kemo-
taksik yang menarik monosit (makrofag) dari peredaran darah
dan membentuk tuberkel kecil. Aktivasi makrofag yang berasal
dari darah dan membentuk tuberkel ini dirangsang oleh limfokin
yang dihasilkan dari sel T lirnfosit
(2)
.
Kuman yang berada di alveol membentuk fokus Ghon,
melalui saluran getah bening kuman akan mencapai kelenjar
getah bening di hilus dan membentuk fokus lain (limfadenopati).
Fokus Ghon bersama dengan limfadenopati hilus disebut primer
kompleks dan Ranke. Selanjutnya kuman menyebar melalui
saluran limfe dan pembuluh darah dan tersangkut di berbagai
organ tubuh; jadi TB primer merupakan suatu infeksi sistemik
(3)
.
Pada saat terjadinya bakteremia yang berasal dari fokus
infeksi. TB primer, terbentuk beberapa tuberkel kecil pada
meningen atau medula spinalis. Tuberkel dapat pecah dan me-
masuki cairan otak dalam ruang subarachnoid dan sistim
ventrikel, menimbulkan meningitis dengan proses patologi
berupa
(1,4)
:
1) Keradangan cairan serebrospinal. meningen yang berlanjut
menjadi araknoiditis, hidrosefalus dan gangguan saraf pusat
2) Vaskulitis dengan berbagai kelainan serebral, antara lain
infark dan edema vasogenik.
3) Ensefalopati atau mielopati akibat proses alergi.
Gambaran klinis penderita dibagi menjadi 3 fase. Pada fase
permulaan gejalanya tidak khas, berupa malaise, apati, anoreksia,
demam, nyeri kepala. Setelah minggu ke dua, fase meningitis
dengan nyeri kepala, mual, muntah dan mengantuk (drowsiness).
Kelumpuhan saraf knanial dan hidrosefalus terjadi karena eksudat
yang mengalami organisasi, dan vaskulitis yang menyebabkan
hemiparesis atau kejang-kejang yang juga dapat disebabkan oleh
proses tuberkuloma intrakranial. Pada fase ke tiga ditandai
dengan mengantuk yang progresif sampai koma dan kerusakan
fokal yang makin berat
(1)
.
Tuberkel bisa tumbuh, mendesak atau menginfiltrasi ja-
ringan sekitarnya dan menimbulkan gejala yang tergantung pada
lokasi, kecepatan tumbuh serta reaksi radang di sekitarnya. Lesi
ini bila bersifat lokal, membesar disebut sebagai tuberkuloma
atau tersebar, infiltrasi sebagai granulomata. Tuberkuloma intra
kranial bisa tidak memberi gejala klinis
(1)
.
Pada CT Scan sesudah pemberian kontras, tuberkuloma
memberi gambaran sebagai
(4)
:
1) Lesi berbentuk cincin dengan area hipodens/isodens di
tengah dan dinding yang menyerap kontras.
2) Lesi berbentuk nodul/plaque yang menyerap kontras.
Tanpa kontras, lesi pada umumnya hipodens/isodens, pada
beberapa kasus didapatkan kalsifikasi. Gambaran tuberkuloma
pada CT Scan sukar dibedakan dengan tumor, abses atau granu-
loma kronik kronik
(1)
.
Diagnosis pasti tuberkuloma ditegakkan dengan operasi. Be-
berapa penulis berpendapat bahwa tuberkuloma dapat dipastikan
bila pada serial CT Scan atau serial Magnetic Resonance Imag-
ing (MRI) lesi menghilang sesudah mendapat terapi obat anti
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
30
tuberkulosis (OAT)
(5-9)
.
Pengobatan TB menurut WHO (1993), disesuaikan dengan
kategori penyakitnya. Untuk penderita baru TB paru dengan
sputum BTA(÷), TB ekstrapulmonal yang berat seperti meningi-
tis TB, disseminated tuberculosis, atau TB paru yang luas dengan
sputum BTA () dimasukkan ke dalam kategori I, dianjurkan
pemberian INH (H), Rifampisin (R), Pirasinamid (Z) dan Strep-
tomisin (S) atau Etambutol (E).
Fase awal : 2HRZ S(E). Obat HRZ S(E) diberikan tiap hari
selama 2 bulan (8 minggu). Bila fase ini telah selesai dan hapusan
sputum negatif, diteruskan dengan fase lanjutan, tetapi bila
hapusan sputum positif, terapi ditambah 2-4 minggu, diteruskan
dengan fase lanjutan.
Pada fase lanjutan diberikan : 4HR atau 4H3R3. Obat HR
diberikan tiap hari atau 3 kali seminggu selama 4 bulan. Untuk
penderita meningitis TB, TB milier atau dengan kelaian
neurologis HR harus diberikan setiap hari selama 6-7 bulan
(total 8-9 bulan)
(10)
.
Tuberkuloma yang kecil (<2 cm) dapat sembuh dengan
terapi medisinal dalam 10 minggu, lesi yang lebih besar me-
merlukan eksisi. Dengan CT Scan dapat terdeteksi lesi kecil (2-
3 mm) dan dapat diterapi medisinal sehingga mengurangi
morbiditas dan mortalitas akibat operasi
(7)
.
LAPORAN KASUS
Kami laporkan dua kasus tuberkulosis paru milier dengan
tuberkuloma intrakranial yang dirawat di Ruangan Paru Laki
UPF Paru RSUD Dr Soetomo selama bulan Pebruari dan April
1992.
Kasus 1
Seorang laki-laki 18 tahun diantar ke UGD Medik dengan
keluhan utama sesak napas. Dari allo anamnesis didapat
keterangan: sesak napas dirasakan sejak 3 hari sebelum ke RS,
sesak terus menerus tidak mengi. Demam ningan lebih dari 2
minggu. Batuk-batuk dengan dahak berwarna putih sukar di-
keluaskan dirasakan 3 bulan. Dua hari sebelum masuk RS
lengan kanan dan tungkai kanan Iemah dan sukar digerakkan.
Sehari sebelum masuk RS penderita sukar berbicara.
Selama sakit belum pernah berobat. Keluarga penderita
serumah ada yang menderita penyakit paru. Riwayat penyakit
sebelumnya disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah,
gelisah, tidak dapat berbicara (afasia motonik), gizi kurang,
hemodinamik baik, respirasi 28 x/menit, berat badan 40 kg. Pe-
meriksaan toraks, suara napas vesikuler dengan ronki basah halus
pada kedua lapangan paru. Didapatkan hemiparesis lengan kanan
dan tungkai kanan.
Pemeriksaan laboratonium LED 103/110, darah lengkap,
kimia darah maupun analisa gas darah rnasih dalam batas nor-
mal. Test mantoux negatif.
X-foto toraks : bercak granuler milier pada kedua lapangan
paru. CT Scan kepala dengan kontras menunjukkan infark
serebri di basal ganglia kanan dan kiri, dan tuberkuloma pada
nukleus kaudatus kanan dan kiri.
Pengelolaan penderita : dirawat bersama dengan bagian
neurologi. Pemberian nutnisi dan obat-ohatan personde. Obat
yang diberikan tiap hari adalah : INH 1 x 400 mg, Rifampisin 1
x 450 mg, Pirazinamid 1500mg, Streptomisin inj. 1 gram i.m
dan prednison 30 mg/hari. Dari neurologi diberikan Dilantin,
Asetosal dan Antasida.
Hari ke 46 terdapat kejang-kejang dan double hemiparesis.
X-foto toraks ulangan : bercak granuler milier menipis dan
berkurang (membaik).
Hari ke 53 penderita kejang-kejang dan meninggal.
Kasus 2
Seorang laki-laki, 20 tahun dibawa ke UGD Medik dengan
keluhan batuk yang tak mau sembuh dan sesak napas. Dari allo
anamnesis didapat keterangan Batuk-batuk diderita selama 2
bulan sebelum masuk RS dengan dahak berwarna putih kental.
Demam ringan 2 minggu disertai dengan sesak napas, tidak
mengi. Nyeri kepala dirasakan 2 minggu disentai muntah tanpa
kejang. Penderita belum pernah berobat. Riwayat kontak TB
serumah disangkal. Riwayat penyakit sebelumnya disangkal.
Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum lemah, soporous,
gizi kunang, hemodinamik baik, tampak sesak dengan respirasi
32 x/menit, berat badan 42 kg. Didapatkan kaku kuduk, suara
napas vesikuler dengan ronki basah halus pada kedua lapangan
paru.
Laboratorium dalam batas normal. Test mantoux negatif.
X-foto toraks, bercak granuler miller pada kedua lapangan
paru. CT Scan kepala dengan kontras menunjukkan tuberkuloma
pada nukleus kaudatus kanan dan thalamus kiri dengan hidro-
sefalus.
Penderita dirawat bersama dengan bagian neurologi. Men-
dapat diet personde, obat INH I x 400 mg, Rifampisin 1 x 450
mg, Pirazinamid 1500 mg, diberikan melalui sonde. Streptomisin
inj. 1 gram i.m dan deksametason ini.
Penderita dirawat selama 18 hari dan meninggal.
DISKUSI
Tuberkulosis milier terjadi karena penyebaran masif kuman
tuberkulosis yang berupa emboli ke dalam alinan darah, dengan
demikian organ-organ yang mempunyai suplai darah yang
banyak dan capillary bed yang luas lebih banyak terserang, baik
kualitatif maupun kuantitatif
(11)
.
Kuman TB yang masuk ke dalam aliran darah biasanya
berasal dari suatu fokus pengejuan, sering dari kelenjar limfe
atau proses di paru sendini
(12)
.
Tuberkulosis milier yang terjadi pada orang dewasa dapat
merupakan komplikasi infeksi primer atau TB primer, hal ini
terutama terjadi di negara maju di mana kemungkinan terinfeksi
kuman TB pada masa kanak-kanak sangat kecil, dengan de-
mikian orang tersebut tidak mempunyai daya tahan tubuh pada
masa dewasa; meskipun dernikian TB milien pada orang dewasa
dapat pula berasal dari TB kronis atau TB post primer. Meskipun
orang itu mempunyai daya tahan tubuh, tetapi bersifat fluktuatif
dan proses TB knonis tidak menjamin daya tahan tubuh tetap
stabil sehingga dapat juga terjadi reaktivasi dan proses kronis
tersebut
(12)
.
Gambaran klinis dan TB milien tidak khas, timbulnya
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 31
keluhan dan lamanya sakit sebelum dirawat tidak jelas, bervariasi
antara 3-5 minggu. Gejala yang dijumpai biasanya berhubungan
dengan gejala tuberkulosis pada umumnya yaitu berupa : ke-
lelahan, Iemah, anoreksia, berat badan yang menurun, batuk
batuk, panas badan, keringat malam dan kadang-kadang sesak
napas
(11)
. Panas dan berat badan yang menurun sering dijumpai
(13)
.
Pada kedua penderita ini, gejala awal tidak khas, yakni
berupa batuk-batuk, demam dan sesak napas.
Pada pemeriksaan fisikjuga tidak dijumpai tanda yang khas.
Tanda-tanda yang sering dijumpai adalah panas, kurang gizi,
takikardi, takipneu. Pada pemeriksaan paru mungkin dijumpai
ronki basah pada kedua lapangan paru. Pemeriksaan mata dengan
funduskopi, memberi tanda yang khas berupa tuberkel koroid
pada 60-75% dan TB milier, tetapi tidak ditemukannya tuberkel
koroid tidak menyingkirkan akan kecurigaan TB mi1ier
(13)
.
Pada pemeriksaan fisik kedua penderita, didapatkan kurang
gizi, ronki basah halus pada kedua lapangan paru. Salah satu
penderita mengalami hemiparesis pada ekstremitas kanan, ke-
mungkinan akibat suatu proses dan tuberkuloma yang mengada-
kan pendesakan.
Karena gambaran klinis TB miller tidak spesifik, maka tidak
banyak membantu menegakkan diagnosis, kecuali bila disertai
panas yang tidak diketahui sebabnya
(13)
.
Grieco
(14)
, membuat kriteria untuk menegakkan diagnosis
TB milier, harus dipenuhi salah satu atau lebih kriteria berikut:
1) Pada biakan dijumpai kuman Mycobacterium tuberculosis,
pada lebih dari satu bahan : sputum, urin, lesi di kulit, cairan
serebrospinal, cairan pleura, cairan lambung, cairan asites.
2)
Biopsi atau nekropsi organ, pada pemeriksaan
histopatologis terlihat granuloma pengejuan atau granuloma
epiteloid tanpa pengejuan.
3) X-foto toraks memperlihatkan gambaran nodul milier.
Whitham dkk.
(15)
melaporkan bahwa CT Scan merupakan
alat yang cukup peka untuk menunjukkan adanya tuberkuloma
intrakranial pada tuberku milier meskipun belum ada gejala
atau tanda-tanda dari kerusakan otak. Pada kedua penderita,
dari pemeriksaan x-foto toraks didapat gambaran nodul milier,
dan pada CT Scan dengan kontras didapatkan tuberkuloma
pada nukleus kaudatus kanan-kiri dan infark cerebri, sedangkan
pada penderita lain didapatkan tuberkuloma pada nukleus
kaudatus kanan dan thalamus serta hidrosefalus.
Pada tuberkuloma intrakranial, selain terdapat gejala
kenaikan tekanan intrakranial akibat proses desak ruang juga
menimbulkan gejala meningitis, sering disertai TB pada organ
lain Pada kedua penderita ditemukan TB paru miller, satu
penderita dengan gejala meningitis.
Manifestasi klinis dan tuberkuloma intrakranial adalah
proses desak ruang (20% dari proses desak ruang disebabkan
oleh tuberkuloma intrakranial). Gejala yang terjadi akibat dan
edema otak, dan ini merupakan indikasi untuk pemberian
kortikosteroid
(1,13,16)
.
Kemoterapi anti tuberkulosis harus segera diberikan pada
penderita yang diduga TB milier tanpa harus menunggu di-
temukannya kuman (BTA). Penggunaan kortikosteroid pada TB
miller dapat menyebabkan tuberkel menjadi kecil dan sangat
efektif untuk mengurangi sesak napas yang kadang-kadang
dijumpai padaTB milier, serta untuk mengontrol edema otak
(5,13)
.
RINGKASAN
Telah dikemukakan 2 buah kasus yakni seorang laki-laki
18 tahun, dengan keluhan sesak, ronki basah halus pada kedua
paru, x-foto toraks didapatkan nodul miller, pada CT Scan dengan
kontras didapatkan tuberkuloma pada nukleus kaudatus kanan
dan kiri dari infark serebri pada basal ganglia.
Penderita kedua, laki-laki 20 tahun, dengan sesak napas dan
batuk lama, ronki basah halus pada kedua paru, x-foto toraks
didapatkan nodul milier, pada CT Scan dengan kontras dida-
patkan tuberkuloma pada nukleus kaudatus kanan dan thalamus
kiri serta hidrosefalus.
Diagnosis tuberkuloma intraklanial sulit diambil bila
hanya berdasarkan gejala klinis dari pemeriksaan CT Scan saja,
terutama bila tidak didapatkan tanda-tanda meningitis atau
tuberkulosis di organ lain.
Pengobatan dengan HRZS tiap hari memberi hasil yang
cukup baik terhadap gambaran parunya. Keduanya meninggal
setelah dirawat selama 53 hari dan 18 hari.
KEPUSTAKAAN
1. Kocen RS. Tuberculosis of the nervous system. In: Disease of The
Nervous System. Clinical Neurobiology. Eds: Kennedy PGE, Johnson RT.
2nd ed, Butterworths, London, 1992; 1371-78.
2. Dannenberg JR AM. Pathogenesis of pulmonary tuberculosis. Koch
Centennial Suppl, Am Rev Respir Dis 1982; 125: 25-9.
3. Grange JM. The Immunophysiology and immunopathology of tuber-
culosis. In: Clinical Tuberculosis. Editor: Davies PDO. 1st ed, Chapman &
Hall Medical London, 1994; 55-71.
4. Whelan MA, Stern J. Intracranial tuberculoma. Radiology 1981; 138: 75
81.
5. Choudhury AR. Non surgical treatment of tuberculomas of the brain. Br J
Neurosurg. 1989; 3(6): 643-53.
6. Gupta RK, Jena A, Singh AK et al. Role of magnetic resonance (MR) in
the diagnosis and management of intracraniual tuberculomas. Clin Radiol.
1990; 41(2): 120-27.
7. Bhargava S, Tandon PN. Intracranial tuberculomas: a CT study, Br J
Radiol. 1980; 523: 935-45.
8. Welchman JM. Computerized tomography of intracranial tuberculomata.
Clin Radiol. 1979; 30: 567-73.
9. Peafield RC, Shawdon HH. Five cases of intracranial tuberculoma
followed by serial computerized tomography. J Neurol Neurosurg and
Psych. 1979; 42: 373-79.
10. World Health Organization. Treatment of tuberculosis. Guidelines for
national programmes, Geneva 1993 : 1-41.
11. GeIb AF, Leffler C, Brewin Act al. Miliary tuberculosis. Am Rev Respir
Dis 1973; 108: 1327-33.
12. Fraser RG, Pare JAP Pare PD, Fraser RS, Genereux GP. Diagnosis of
Diseases of The Chest. 3rd ed. WB Saunders Co. Philadelphia, 1989 886-
926.
13. Geppert EF, Leff A. The pathogenesis of pulmonary and miliary tuber-
culosis. Arch Intern Med t979; 139: 138 1-83.
14. Grieco MH, Chmel H. Acute disseminated tuberculosis as a diagnostic
problem. A clinical study based ois cases. Am Rev Respir Dis 1979; 109:
554.
15. Whitham RR, Johnson RH, Roberts DL. Diagnosis of miliary tuberculosis
by cerebral computerized tomography. Arch Intern Med 1979; 139: 479.
16. Adams RD, Victor M. Principles of Neurology, 4th edition. Mc Graw Hill
Book Company, 1989 : 570-72.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
32