background image
Sterilitas Udara Ruang Operasi dan
Peralatan Bedah serta Higiene Petugas
Beberapa Rumah Sakit di Jakarta
Pudjarwoto Trlatmodjo
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Untuk mendapatkan gambaran mengenai sumber penularan kejadian infeksi no-
sokomial di rumah sakit, telah dilakukan pemeriksaan mikrobiologis terhadap udara
ruang operasi dan bebrapa jenis ruang perawatan, serta peralatan bedah. Di swiping im
diperiksa pula hygiene petugas melalui pemeriksaan terhadap tangan (hand swab)
perawat.
Dari hasil pemeriksaan tampak bahwa angka kuman pada beberapa ruang bedah
mencapai lebih dari 5 CPU/15' sehingga melebihi ambang batas yang ditetapkan.
Staphylococcus merupakan bakteri penyebab infeksi nosokomial yang paling banyak
mencemari udara ruang operasi. Angka kuman pada beberapa ruang perawatan berkisar
antara 10-300 CPU/15'.
Sebesar 34,4% tangan petugas rumah sakit (perawat) diketahui terkontaminasi oleh
beberapa jenis mikroba penyebab infeksi nosokomial seperti E. coli, Staphylococcus,
Pseudomonas, Proteus, Streptococcus dan spesies jamur Aspergillus sp. Beberapa jenis
perlengkapan bedah d>7cetahui tidak steril dan ditemukan mengandung bakteri.
PENDAHULUAN
Walaupun pemeliharaan kesehatan saat ini telah menjadi
lebih baik antara lain karena telah digunakannya cara-cara baru
dan modem untuk membantu menegakkan diagnosis dan peng-
obatan penyakit, namun insiden infeksi nosokomial masih harus
mendapat perhatian lebih banyak. Beberapa negara melaporkan
bahwa rata-rata 5-10% penderita yang dirawat di rumah sakit
akan mendapat infeksi yang ditularkan oleh seseorang atau dari
suatu alat selama ia dirawat. Pasien bedah merupakan pasien
yang mempunyai risiko tinggi untuk mendapatkan infeksi
nosokomial, lebih-lebih apabila dirawat di rumah sakit dengan
tingkat hygiene lingkungan rumah sakit yang masih belum
sesuai dengan yang dipersyaratkan. Angka infeksi nosokomial
untuk luka bedah di Indonesia dilaporkan sebesar 2,3-18,3%
(1)
.
Public Health Laboratory Service (1960) menulis, 5-19% pen-
derita yang dioperasi mengalami luka postoperasi dengan
frekuensi infeksi luka yang berbeda tergantung dari jenis operasi
yang dilakukan.
Dalam upaya menanggulangi kejadian infeksi nosokomial,
tinjauan epidemiologi terhadap masalah pencemaran dan infeksi
nosokomial perlu dilakukan karena pada dasarnya kejadian
infeksi nosokomial melibatkan unsur manusia, lingkungan dan
mikroba yang satu sama lain sating terkait. Dalam hubungan ini
kegiatan survai epidemiologi yang diarahkan untuk survai
.infeksi nosokomial dapat meliputi: pengenalan konsep survai
epidemiologi di rumah sakit untuk pencegahan dan penang-
gulangan infeksi nosokomial, pengembangan teknologi peng-
amatan infeksi nosokomial, pengumpulan data rutin untuk mem-
peroleh gambaran tentang berbagai aspek epidemiologi infeksi
nosokomial, penelitian KLB (Kejadian Luar Biasa) infeksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 21
background image
nosokomial yang terjadi di beberapa rumah sakit serta melak-
sanakan berbagai survai dan studi dalam rangka pengumpulan
data dasar infeksi nosokomial
(2)
.
Beberapa cara transmisi penyebab infeksi nosokomial
adalah dengan cara air-borne yaitu melalui udara, inhalasi, dan
lain-lain. Di samping itu transmisi kuman dapat berlangsung
dengan cara contact spread yaitu mclalui tangan petugas, alat-
alat, serta dapat pula terjadi dengan cara wound precaution yaitu
melalui perawatan postoperasi, alat-alat untuk tindakan invasif,
dan lain-lain
(3)
.
Untuk mendapatkan gambaran mengenai sumber-sumber
penularan dan kemungkinan rute penyebaran kuman penyebab
infeksi nosokomial sebagai salah satu upaya pengumpulan data
dalam pemecahan masalah infeksi nosokomial, dalam makalah
ini disajikan data hasil studi mengenai pencemaran mikroba
pada beberapa peralatan bedah, udara ruang operasi dan usap
tangan petugas (hand swab) yang berasal dari 6 rumah sakit di
Jakarta yaitu RS. I, RS. II, RS. III, RS. IV, RS. V dan RS. VI
untuk mendeteksi sampai seberapa besar pencemaran yang ter-
jadi oleh mikroba penyebab infeksi nosokomial.
BAHAN DAN CARA
1. Kriteria bahan penelitian
Obyek penelitian adalah udara ruang operasi, alat-alat dan
perlengkapan bedah dan personil rumah sakit (perawat) yang
sering mengadakan kontak langsung dengan pasien.
Pemeriksaan milcrobiologis dilakukan terhadap beberapa
jenis sampel berikut ini :
­
Alat-alat untuk keperluan operasi pasien seperti gunting,
kain kasa, sarung tangan, baju operasi, handuk dan lain-lain
yang berada dalam keadaan siap pakai.
­
Udara ruang bedah/ruang operasi, serta beberapa ruang
perawatan seperti ruang kebidanan, ruang penyakit dalam,
ruang anak-anak, ruang bayi.
­
Usap tangan (hand swab) personil rumah sakit yang sedang
dinas di bangsal-bangsal perawatan.
2. Cara pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara aseptis. Sampel alat-
alat dan perlengkapan bedah diambil dengan cara swab, yaitu
dengan lidi kapas steril yang terlebih dahulu dibasahi dengan
PBS (Phosphate Buffer Saline) kemudian diusapkan pada alat-
alat yang diperiksa. Kemudian lidi kapas segera dimasukkan ke
dalam media PBS yang telah disiapkan dalam tabung reaksi
(tube).
Cara yang sama juga dilakukan untuk pengambilan sampel
dari hand swab. Pengambilan sampel udara dilakukan dengan
media Agar Darah dalam petridisk yang dibuka selama 15 menit
dalam ruang yang diperiksa. Transportasi sampel ke laborato-
rium dengan menempatkan sampel dalam boks berisi es.
3. Identifikasi mikrobiologi
Dilakukan dengan menggunakan metode yang telah di-
bakukan oleh WHO (1987)
(4
) dan Manual for Clinical Micro-
biology
(5)
.
Dalam identifikasi ini pertama dilakukan kultur terhadap
masing-masing sampel dengan media spesifik. Dari tahap
kultur kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis melalui
pewarnaan gram dan uji biokimia serta uji serologi untuk identi-
fikasi jenis-jenis mikroba tertentu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini telah dapat diperiksa sejumlah 105
spesimen yang terdiri dari sampel ruang bedah dan ruang pe-
rawatan 30 spesimen, hand swab dari perawat 64 spesimen dan
usap alat dan perlengkapan bedah 11 spesimen.
Angka pencemaran ruang bedah dari 6 ruang bedah yang
berasal dari 6 numah sakit adalah berkisar antara 3­8 CPU/15'.
Ambang batas pencemaran mikroba yang diperkenankan untuk
ruang bedah adalah 5 CPU/15'. Berdasarkan pada persyaratan
tersebut di atas maka dapatlah dikemukakan bahwa 4 ruang
bedah dari 4 rumah sakit masih belum memenuhi standar
mikrobiologi yang ditetapkan. Ke empat ruang bedah tersebut
adalah ruang bedah RS. III dengan angka kuman sebesar 5
CPU/15', ruang bedah RS. IV dengan angka kuman 7 CPU/15',
ruang bedah RS. V dengan angka kuman 8 CPU/15' dan ruang
bedah RS. VI dengan angka kuman 7 CPU/15' (tabel 1). Ruang
bedah RS. I dan RS. II mempunyai angka kuman sama yaitu 3
CPU/15'. Nilai pencemaran dari dua kamar bedah tersebut
belum tentu memenuhi standar karena waktu penangkapan ku-
man hanya berlangsung 15 menit sedangkan persyaratan yang
ditetapkan 30 menit.
Beberapa jenis kuman yang terdeteksi mencemari ruang
bedah adalah Staphylococcus sp dan kuman gram negatip yang
dalam pemeriksaan ini belum jelas nama genusnya. Mikroba
lain yang ditemukan adalah jenis jamur Aspergillus sp. Di sini
Staphylococcus ditemukan pada sebagian besar ruang bedah (4
ruang bedah). Dua ruang bedah yang tidak tercemar Staphylo-
coccus adalah ruang bedah dari RS. III dan RS. VI, tetapi nilai
pencemarannya di atas ambang batas yang dipersyaratkan
(tabel 1).
Tabel 1. Besarnya pencemaran mikroba pada ruang bedah dan bebe
rapa ruang perawatan dari 6 rumah sakit di Jakarta berda
sarkan jumiah mikroba yang tertangkap dengan media Agar
Darah
selama
15
menit
(N
=
30)
Ruang
Angka kuman (dalam CPU/15 menit)
Range
RS. I
RS. II RS. III RS. IV RS. V RS. VI
Bedah
Kebidanan
Penyakit
dalam
Perawatan
bayi
Perawatan
anak
3
18
53
30
34
3
25
19
10
28
5
33
24
36
89
7
12
37
21
34
8
35
300
32
80
7
32
48
96
74
3-8
12-35
19-300
10-96
28-89
Total
138 85 187 111 455 257
3-300
Keterangan :
N
=
Jumlah
ruang
diperiksa
RS.I s/d RS. VI = Kode rumah sakit yang diteliti
CPU = Colony Plate Unit
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
22
background image
Dari 5 jenis ruang perawatan yang diperiksa yaitu ruang
kebidanan, ruang penyakit dalam, ruang perawatan bayi dan
ruang perawatan anak tampak adanya variasi nilai pencemaran
mikroba. Angka pencemaran terendah diketahui terdapat pada
ruang kebidanan dengan nilai pencemaran sebesar 12­35 CPU/
15', sedangkan angka pencemaran tertinggi terdapat pada ruang
penyakit dalam dengan nilai pencemaran sebesar 19­300
CPU/15
'
.
Dilihat dari jenisnya Staphylococcus merupakan mikroba
yang paling dominan mencemari berbagai ruang perawatan
tersebut. Beberapa jenis mikroba lain yang ditemukan antara
lain adalah Streptococcus dan bakteri gram negatip yang dalam
pemeriksaan ini belum jelas nama genusnya, serta beberapa jenis
jamur yaitu Aspergillus sp dan Mucor sp.
Dilihat dari jumlah mikroba pencemar per rumah sakit
tampak pula bahwa angka pencemaran terkecil terdapat pada
RS. II, sedangkan angka pencemaran terbesar dijumpai pada
RS. V.
Petugas rumah sakit seperti dokter, bidan, perawat dan lain-
lain dapat merupakan sumber atau media transmisi/penularan
kuman-kuman patogen, karena di samping dapat berperan se-
bagai carrier dari bakteri tertentu, dapat pula membawa kuman
karena kontak dengan para pasien yang telah terinfeksi sebe-
lumnya; atau tangan petugas terkontaminasi oleh kuman yang
mengandung CFA (Colonizing Factor Antigen) dan bila kuman
ini menginfeksi seseorang dapat menjadi patogen di dalam
tubuh.
Dari hasil pemeriksaan mikrobiologis terhadap tangan
petugas rumah sakit tampak bahwa sebesar 34,4% tangan petu-
gas (perawat) membawa bakteri penyebab infeksi nosokomial
(tabel 2).
Beberapa jenis kuman yang terdeteksi mengkontaminasi
tangan petugas antara lain adalah E. coli, Staphylococcus, Pseudo-
monas, Proteus, Streptococcus dan Jamur. Di sini ditemukan
pula adanya kontaminasi ganda pada 3 orang petugas, yaitu
satu petugas terkontaminasi oleh Staphylococcus + Proteus dan
dua orang petugas oleh Staphylococcus + Jamur Aspergillus sp.
Staphylococcus merupakan bakteri yang paling banyak men-
cemari tangan petugas yakni sebesar 18,7% (12 dari 64). Kemu-
dian berturut-turut Pseudomonas 6,2%, Proteus 4,6%; E. coli
dan Streptococcus serta Jamur Aspergillus masing-masing se-
besar 3,1% (gambar 1).
Pola infeksi nosokomial dapat berubah dari waktu ke waktu
dan perubahan tersebut terjadinya bersamaan dengan pemakaian
serta makin meluasnya penggunaan antibiotik
(6)
. Sebelum tahun
1950-an yakni pada waktu antibiotik Penicillin barn dipakai,
infeksi nosokomial terutama disebabkan oleh Pneumococcus
dan Streptococcus. Kemudian sejak tahun 1950-an yakni se-
telah meluasnya pemakaian antibiotik Penicillin, dilaporkan
penyebab utama infeksi nosokomial adalah bakteri gram positip
Staphylococcus yang kebal (resisten) terhadap Penicillin dan
sampai kini diperkirakan masih merupakan penyebab infeksi
nosokomial walaupun telah banyak bermunculan jenis anti-
biotik baru. Hal ini terbukti dengan tingginya angka pencemar-
Tabel 2. Distribusi kuman penyebab infeksi nosokomial yang terdeteksi
pada usap tangan (hand swab) petugas rumah sakit (perawat)
yang bertugas di beberapa rumah sakit di Jakarta (N = 64)
Kode
Rumah Sakit
Jumlah petugas
diperiksa
Jumlah petugas
tercemar
Mikro organisms
RS. I
RS. II
RS. III
RS. IV
RS. V
RS. VI
11
10
14
10
9
10
3
3
5
3
4
4
Staphylococcus (2)
Pseudomonas (1)
Staphylococcus +
Proteus (1)
Proteus (2)
Staphylococcus (1)
Staphylococcus (2)
Staphylococcus +
Jamur (2)
Pseudomonas (1)
Staphylococcus (1)
Pseudomonas (1)
E. coli (1)
Streptpcoccus (2)
Proteus (1)
Staphylococcus (1)
Staphylococcus (2)
Pseudomonas (1)
E. coil (1)
Jumlah 64
22
% 100 34,4
Keterangan :
N
=
Total
petugas
diperiksa
RS. I s/d RS. VI = Kode umiak sakit yang diteliti
Gambar 1. Jenis bakterl penyebab infeksi nosokomial dan besarnya pen
cemaran (dalam %) pada usap tangan (hand swab) petugas
rumah sakit (perawat) dl beberapa rumah sakit di Jakarta
(N = 64)
Keterangan :
A = Streptococcus = 3,1% N = Jumlah sampel
B
=
Proteus =
4,6% diperiksa =
64
C = Pseudomonas = 6,2%
D = Staphylococcus = 18,7%
E = E. coli = 3,1%
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 23
background image
an oleh Staphylococcus di lingkungan rumah sakit. Angka ke-
jadian infeksi nosokomial yang disebabkan oleh Staphylococcus
memerlukan penelitian yang lebih mendalam di lingkungan
perawatan.
Alat-alat dan perlengkapan operasi bedah dapat menjadi
alat transmisi kuman-kuman penyebab infeksi nosokomial; dan
angka infeksi nosokomial untuk luka bedah di Indonesia di-
laporkan cukup tinggi (2,3­18,3%). Tabel 3 memberikan
informasi tentang kondisi sterilitas alat-alat dan perlengkapan
operasi bedah yang ada di beberapa rumah sakit di Jakarta. Di
sini terlihat bahwa masih terdapat alat-alat dan perlengkapan
bedah yang slap pakai tetapi dalam keadaan tidak steril; dari 11
jenis perlengkapan bedah yang diperiksa terdapat 4 jenis yang
terdeteksi tidak steril: Beberapa kemungkinan penyebabnya
adalah proses sterilisasi yang tidak sempurna atau penanganan
yang kurang hygienis. Apabila keadaan tidak steril ini akibat
dari cara sterilisasi yang tidak sempllma, kiranya beberapa hal
penting yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan sterilitas
yang optimal adalah tercapainya holding time (waktu sterilisasi)
dan meratanya temperatur ke setiap bagian yang disterilisasi.
Tabel 3. Kondisi aterilitas beberapa Jenis peralatan operasi bedah dari
beberapa
rumah
sakit
dl
Jakarta
Nama/Asal bahan
Jumlah
Kuman/swnb
Mikro
organisme
Pertimbangan
Instrumen/Ruang
OK darurat V
Kain kasa/Ruang
OK Pam
Kain kasa/Ruang
instalasi bedah
Handuk/Instalasi
bedah
Sarung tangan/
Instalasi bedah
Baju operasi/
Instalasi bedah
!Cain kasa/
Kebidanan
Alat operasi/
OK mata
Instmnen/
Instalasi bedah
Kain kasa/
Bedah umum
Mat operast/
OK Bedah sesar
0
0
0
2x10
4
0
3x104
0
35x10
4
2x10
4
0
0
­
­
­
Bakteri gram (+)
kokus
­
Bakteri gram (­)
batang
­
Bakteri gram (+)
kokus
Bakteri gram (+)
kokus
­
­
Stern
Steril
Steril
Tidak steril
Steril
Tidak steril
Stern
Tidak steril
Tidak steril
Steril
Steril
Salah satu cara sterilisasi yang digunakan di rumah sakit adalah
dengan autoclave (panas uap). Cara ini paling umum digunakan
karena dapat diandalkart, mudah pelaksanaannya dan dapat di-
terapkan pada hampir 80% kebutuhan bahan yang ada serta biaya
operasional yang rendah. Temperatur dan holding time yang
perlu diprhatikan dalam sterilisasi dengan autoclave adalah
132°C selama 2 menit, 121°C ­ 12 menit dan 116°C ­ 30 menit.
Dengan memperhatikan temperatur dan holding time secara
tepat seperti tersebut di atas maka diharapkan diperoleh kondisi
sterilitas yang optimal pada alat-alat yang disterilkan.
Apakah tingginya angka infeksi nosokomial pada pasien
luka bedah ini adalah akibat'dari perlengkapan dan alat operasi
bedah yang kondisi sterilitasnya kurang memadai? Hal ini
perlu diteliti dari berbagai aspek secara lebih mendalam.
KESIMPULAN DAN SARAN
­
Bakteri gram positip Staphylococcus merupakan salah satu
mikroba penyebab infeksi nosokomial yang dominan sebagai
pencemar pada anggota tubuh/tangan petugas rumah sakit/pera-
wat, udara di berbagai ruang perawatan seperti ruang perawatan
bayi, kebidanan, anak, penyakit dalam dan lain-lain. Bahkan
udara pada beberapa ruang operasi/ruang bedah dan beberapa
peralatan bedah menunjukkan indikasi tidak steril dan tercemar
Staphylococcus.
­
Beberapa jenis mikroba lain yang terdeteksi mencemari
udara dan peralatan medis serta petugas antara lain adalah E.
coli, Pseudomonas, Streptococcus, Proteus dan Jamur.
­
Proteksi terhadap para pasien yang mempunyai risiko
tinggi terhadap kejadian infeksi nosokomial perlu dilakukan
secara lebih saksama. Di samping itu peningkatan hygiene di
rumah sakit dengan cara meningkatkan tindakan sterilisasi,
desinfeksi dan antisepsis perlu dilakukan secara lebih saksama,
tidak terkecuali peningkatan cara cuci tangan para petugas/
perawat.
KEPUSTAKAAN
1.
Effendy A, Ibrahim R, Mubarak Z Insiden infeksi nosokomial di RSU DR.
Z. Abidin Banda Aceh (Penelitian Pendahuluan). MKT 1988; 3(1): 13­5.
2.
Surachmad S, Sutoto, Josodipuro K. Kumpulan Makalah Penataran Isolasi
Penderita Penyakit Menular (Infeksi Nosokomial dan Pencegahannya).
Dep Kes RI, Jakarta 1984.
3.
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Lingkungan
Pemukiman. Pentaloka Survailans Epidemiologi bagi Para Kepala Dinas
Kesehatan Dati II. Dep Kes RI, Jakarta 1990.
4.
WHO, CDD Program for Central Diarrhoeal Diseases. Manual for Labors-
tot)
,
Investigation of Acute Enteric Infection, 1987.
5.
Lennette EH, Ballows A, Flimsier JW, Shadomy HJ (eds). Manual for
Clinical Microbiology. American Society for Microbiology Association
PubL Washington, 1985.
6.
Usman Chatib Warsa. Aspek Mtkrobiologi Infeksi Nosokomial. Maj Infor-
masi Kesehatan No. 19, Januari 1987. Dibawakan Pada Seminar Penyakit
Menular di Jakarta, 4 Febtuart 1986.
7.
Janes, Sototo, Punjabi NH. Infeksi Nosokomial Saluran Cema (INSC)
pada Penderita Anak di Rumah Sakit Khusus Penyakit Menular, Jakarta.
Medika (Sept.) 1985; 11(a): 851­8.
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
24