Sanitasi Rumah Sakit sebagai Investasi
D. Anwar Musadad
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemeri Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Sanitasi, menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai
'pemelihara kesehatan'. Menurut WHO, sanitasi lingkungan
(environmental sanitation) adalah upaya pengendalian semua
faktor lingkungan fisik manusia yang mungkin menimbulkan
atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi perkem-
bangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia.
Dalam lingkup Rumah Sakit (RS), sanitasi berarti upaya
pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik, kimiawi dan bio-
logik di RS yang menimbulkan atau mungkin dapat meng-
akibatkan pengaruh buruk terhadap kesehatan petugas, pen-
derita, pengunjung maupun bagi masyarakat di sekitar RS.
Dari pengertian di atas maka sanitasi RS merupakan upaya
dan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan ke-
sehatan di RS dalam memberikan layanan dan asuhan pasien
yang sebaik-baiknya, )(arena tujuan dari sanitasi RS tersebut
adalah menciptakan kondisi lingkungan RS agar tetap bersih,
nyaman, dan dapat mencegah terjadinya infeksi silang serta
tidak mencemari lingkungan.
Dalam pelaksanaannya sanitasi RS seringkali ditafsirkan
secara sempit, yakni hanya aspek kerumahtanggaan (house-
keeping) seperti kebersihan gedung, kamar mandi dan WC, pe-
layanan makanan minuman. Ada juga kalangan yang meng-
anggap bahwa sanitasi RS hanyalah merupakan upaya pem-
borosan dan tidak berkaitan langsung dengan pelayanan kese-
hatan di RS. Sehingga seringkali dengan dalih kurangnya dana
pembangunan dan pemeliharaan, ada RS yang tidak memiliki
sarana pemeliharaan sanitasi, bahkan cenderung mengabaikan
masalah sanitasi. Mereka lebih mengutamakan kelengkapan
alat-alat kedokteran dan ketenagaan yang spesialistik. Di lain
pihak dengan masuknya modal asing dan swasta dalam bidang
perumahsakitan kini banyak RS berlomba-lomba untuk me-
napipilkan citranya melalui kementerengan gedung, kecanggih-
an peralatan kedokteran serta tenaga dokter spesialis yang
qualified, tetapi kurang memperhatikan aspek sanitasi. Sebagai
contoh, banyak RS besar yang tidak memiliki fasilitas peng-
olahan air limbah dan sarana pembakar sampah (incinerator)
serta fasilitas cuci tangannya tidak memadai atau sistim pem-
buangan sampahnya tidak saniter. Apabila hal ini dibiarkan
berlarut-larut akan dapat membahayakan masyarakat, baik
berupa terjadinya infeksi silang di RS maupun pengaruh buruk
terhadap lingkungan dan masyarakat luas. Dari berbagai pe-
nelitian diketahui bahwa kejadian infeksi di RS ada hubungan-
nya dengan kondisi RS yang tidak saniter.
Untuk itu apabila RS akan menjadi lembaga swadana,
aspek sanitasi perlu diperhatikan. Karena di samping dapat
mencegah terjadinya pengaruh buruk terhadap lingkungan, juga
secara ekonomis dapat menguntungkan. Sungguh ironis bila RS
sebagai tempat penyembuhan, justru menjadi sumber penularan
penyakit dan pencemar lingkungan.
KONSEP SANITASI RUMAH SAKIT
Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang di
dalamnya terdapat bangunan, peralatan, manusia (petugas, pa-
sien dan pengunjung) dan kegiatan pelayanan kesehatan, ter-
nyata di samping dapat menghasilkan dampak positif berupa
produk pelayanan kesehatan yang baik terhadap pasien, juga
dapat menimbulkan dampak negatif berupa pengaruh buruk
kepada manusia seperti pencemaran lingk mgan, sumber pe-
nularan penyakit dan menghambat proses penyembuhan dan
pemulihan penderita. Untuk itu sanitasi RS diarahkan untuk
mengawasi faktor-faktor tersebut agar tidak membahayakan.
Dengan demikian, sesuai dengan pengertian sanitasi, ling-
kup sanitasi RS menjadi luas mencakup upaya-upaya yang bcr-
sifat fisik seperti pembangunan sarana pengolahan air limbah,
penyediaan air bersih, fasilitas cuci tangan, masker, fasilitas
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
26
pembuangan sampah, serta upaya non fisik seperti pemeriksaan,
pengawasan, penyuluhan, dan pelatihan.
Ben Freedman menyebutkan lingkup garapan sanitasi RS
meliputi :
A. Aspek Kerumahtanggaan (Housekeeping) seperti :
1.
Kebersihan gedung secara keseluruhan.
2.
Kebersihan dinding dan lantai.
3.
Pemeriksaan karpet lantai.
4.
Kebersihan kamar mandi dan fasilitas toilet.
5.
Penghawaan dan pembersihan udara.
6.
Gudang dan ruangan.
7.
Pelayanan makanan dan minuman.
B. Aspek khusus Sanitasi.
1.
Penanganan sampah kering mudah terbakar.
2.
Pembuangan sampah basah.
3.
Pembuangan sampah kering tidak mudah terbakar.
4.
Tipe incinerator Rumah Sakit.
5.
Kesehatan kerja dan proses-proses operasional.
6.
Pencahayaan dan instalasi listrik.
7.
Radiasi.
8.
Sanitasi linen, sarung dan prosedur pencucian.
9.
Teknik-teknik aseptik.
10.
Tempat cuci tangan.
11.
Pakaian operasi.
12.
Sistim isolasi sempurna.
C. Aspek dekontaminasi, disinfeksi dan sterilisasi.
1.
Sumber-sumber kontaminasi.
2.
Dekontaminasi peralatan pengobatan pernafasan.
3.
Dekontaminasi peralatan ruang ganti pakaian.
4.
Dekontaminasi dan sterilisasi air,makanan dan alat-alat
pengobatan.
5.
Sterilisasi kering.
6.
Metoda kimiawi pembersihan dan disinfeksi.
7.
Faktor-faktor pengaruh aksi bahan kimia.
8.
Macam-macam disinfektan kimia.
9.
Sterilisasi gas.
D. Aspek pengendalian serangga dan binatang pengganggu.
E. Aspek pengawasan pasien dan pengunjung Rumah Sakit :
1.
Penanganan petugas yang terinfeksi.
2.
Pengawasan pengunjung Rumah Sakit.
3.
Keamanan dan keselamatan pasien.
F. Peraturan perundang-undangan di bidang Sanitasi Rumah
Sakit.
G. Aspek penanggulangan bencana.
H. Aspek pengawasan kesehatan petugas laboratorium.
I. Aspek penanganan bahan-bahan radioaktif.
J. Aspek standarisasi sanitasi Rumah Sakit.
Dari lingkup sanitasi yang begitu luas tersebut yang paling
penting untuk dikembangkan adalah menyangkut :
a)
Program sanitasi kerumahtanggaan yang meliputi penye-
hatan ruang dan bangunan serta lingkungan RS.
b)
Program sanitasi dasar, yang meliputipenyediaan air
minum, pengelolaan kotoran cair dan padat, penyehatan
makanan dan minuman, pengendalian serangga, tikus dan
binatang pengganggu.
c)
c) Program dekontaminasi yang meliputi kontaminasi ling-
kungan karena mikroba, bahan kimia dan radiasi.
d)
Program penyuluhan.
e)
Program pengembangan manajemen dan perundang-un-
dangan yang meliputi penyusunan norma dan standar serta
pengembangan tenaga sanitasi RS melalui pelatihan, konsul-
tasi.
MEMPERHITUNGKAN BIAYA DAN MANFAAT SANI-
TASI RS
Dalam lingkup RS, terdapat proses interaksi timbal balik
antara petugas, pasien dan pengunjung RS dengan lingkungan
RS yang mana orang-orang tersebut (terutama pasien) meru-
pakan kelompok rentan terhadap kemungkinan sakit. Begitu
pula RS sebagai unit yang menghasilkan limbah akan ber-
pengaruh buruk terhadap masyarakat di sekitarnya. Akibat ne-
gatif yang mungkin timbul dari keadaan demikian dapat berupa
gangguan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan atau
kematian, hilangnya waktu kerja dan lain sebagainya sehingga
dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Pada dasarnya dampak yang dirasakan oleh masyarakat RS
dan masyarakat luas sebagai akibat dari keadaan sanitasi RS
yang jelek adalah merupakan pengalihan beban yang
semestinya menjadi tanggung jawab RS. Dengan perkataan
lain, biaya yang dikeluarkan masyarakat sebagai ongkos dalam
menanggulangi akibat negatif dad RS sebenarnya merupakan
beban tanggungan RS.
Untuk itu dalam penyusunan proposal suatu proyek RS atau
dalam menilai perkembangan suatu RS perlu dikaji dan diper-
hitungkan secara eksplisit dampak negatif terhadap lingkungan,
baik alam maupun sosial. Pengkajian tersebut menyangkut per-
hitungan biaya-biaya kerusakan lingkungan dan sosial yang
diakibatkan dampak negatip serta upaya pencegahannya.
Dalam nerhitunean tersebut dapat digunakan beberapa
analisis untuk mengukur biaya dan manfaat (cost-benefit analy-
sis) fasilitas sanitasi RS yang langsung maupun tidak langsung.
INVESTASI SANITASI RS
Bila seluruh RS memperhatikan upaya pencegahan terjadi-
nya infeksi silang di RS dan kemungkinan pencemaran terhadap
lingkungan, maka pihak RS harus menambah investasinya
untuk keperluan sanitasi RS, baik upaya-upaya yang bersifat
fisik maupun non fisik. Rumah Sakit selain memperhatikan
aspekaspek yang berhubungan langsung dengan pelayanan
kesehatan terhadp pasien seperti peralatan kedokteran yang
canggih, juga harus memperhatikan aspek-aspek sanitasinya.
Sanitasi RS, baik fisik maupun non fisik memerlukan dana
pembiayaan yang tidal( sedikit. Tetapi apabila dikaitkan dengan
kemungkinan dampak yang timbul akibat dari RS yang tidak
saniter, upaya tersebut menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Di samping menguntungkan dari segi kesehatan, juga mem-
punyai dampak ekonomis. Rumah Sakit yang saniter, tenang
dan nyaman dapat mencegah terjadinya infeksi silang dan
mempercepat proses penyembuhan penderita. Sehingga dapat
menekan biaya perawatan baik bagi RS maupun pasien. Bahkan
dengan keadaan demikian pasien berani membayar mahal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 27
Secara ekonomis upaya tersebut tidak berpengaruh besar
terhadap sistim penganggaran RS, terkecuali apabila kebutuhan
dana tersebut mengambil porsi yang sangat besar dari dana
yang tersedia. Upaya tersebut juga dapat disesuaikan dengan
besar kecilnya RS serta kemampuan RS. Dengan demikian
sanitasi RS tidak dipandang sebagai 'ongkos' tapi menjadi
'keuntungan' karena upaya tersebut akan menjadi investasi
dalam upaya pencegahan terjadinya dampak negatif terhadap
lingkungan dan masyarakat.
Manfaat yang diperoleh dari adanya upaya-upaya dan
sarana sanitasi, baik secara langsung maupun tidak langsung
akan menimbulkan dampak positif, antara lain :
1)
Dapat mengurangi kemungkinan terjadinya re-infeksi dan
infeksi silang di RS.
2)
Dapat mempercepat proses penyembuhan penderita.
3)
Akibat dari butir 1 dan 2 akan dapat dihemat biaya
pengeluaran RS dan masyarakat yang terkena infeksi (pasien,
petugas dan pengunjung RS).
4)
Mengurangi dampak negatif limbah RS terhadap lingkung-
an dan masyarakat.
5)
Rumah Saki' yang saniter merupakan daya tank bagi ma-
syarakat untuk menggunakannya.
6)
Meningkatkan citra RS sebagai tempat yang bersih, sehat
dan tenang.