tidak, penyakit malaria di suatu negara itu sudah terberantas,
bangsa dari negara tersebut dapat ditulari lagi oleh pendatang
dari negara lain yang merupakan carrier, kecuali kalau kita
dapat menciptakan
imunitas aktif
terhadap penyakit malaria:
Hal ini sedang dalam penelitian; di antaranya dengan mencoba
menggunakan sporozoite dan bentuk-bentuk eritrositik yang
telah diradiasi untuk membuat
vaksin malaria:
· Mengenai 2 : Pada umumnya kuman dapat menjadi resisten
terhadap obat melalui beberapa cara :
1. Mutasi spontan : tanpa suatu sebab yang hingga sekarang
diketahui kuman berobah genotip sehingga menjadi resisten
terhadap obat-obat yang ada:
2. Transduksi : Resistance factor dapat ditularkan ke kuman
lain (Suatu percobaan di Jepang dari
Escherichia coli
ke
Shigella):
Multiresistance demikian juga dapat ditularkan.
3. Konjugasi : Resistance factor dengan 1 atau beberapa
resistance-determinants dengan RTF (= resistance transmis-
sion factor), yang mengatur pemindahan plasmid-plasmid
atau episome-episome yang mengandung macam-macam
resistance determinants dari kuman yang satu ke yang lain
pada peristiwa konjugasi.
4. Resistensi yang disebabkan karena underdose: Underdose
dapat diberikan pada waktu penyakitnya sedang bermani-
festasi atau obat itu dapat diberikan sebagai profilaksis
kausal pada penderita yang kuman-kumannya bersifat tidak
sensitif terhadap obat ataupun juga obat itu dapat diberikan
untuk
keperluan
non khemotherapeutik (chloroquine
untuk rheumatoid arthritis; totaquina sebagai amarum
dalam tonika; kinine yang masih banyak digunakan sebagai
anti-piretikum):
Kesimpulan :
Di dalam daerah yang sedang berkembang, diperlukan
tindakan-tindakan jangka panjang dan jangka pendek:
Dalam jangka panjang diperlukan perbaikan kesejahteraan
bersama pendidikan kesehatan masyarakat, sehingga kemung-
kinan-kemungkinan terdapatnya tempat-tempat pengeraman
telur-telur nyamuk berkurang. Hal ini penting karena sekalipun
ada carrier, jika tidak ada vektor-vektor dari plasmodia tentu-
nya juga penyakit malaria tak dapat ditularkan (jarang sekali
terjadi penularan melalui transfusi darah dan lain-lain:):
Juga pada masyarakat yang sejahtera kecil kemungkinan
adanya carrier yang secara epidemiologis merugikan itu karena
berobat sampai sembuh bukan merupakan masalah.
Dalam jangka pendek perlu diusahkan kampanye peng-
obatan yang efisien, sehingga sebanyak mungkin penderita
dapat tertolong, tanpa menimbulkan kerugian karena obat-
obat anti-malaria (toxisitas, antaraksi yang merugikan). Suatu
penyakit rakyat nyata-nyata akan mengganggu pembangunan
karena mudah menghinggapi sejumlah besar tenaga yang
diperlukan pembangunan, sedang biaya yang seharusnya dapat
digunakan untuk pembangunan banyak harus dihambur-
hamburkan untuk pengobatan:
Dalam hal pengobatan perlu dipikirkan adanya kemungkin-
an terjadinya resistensi karena penggunaan obat yang kurang
efektif, penggunaan kausal profilaksis pada orang yang se-
benarnya menderita malaria latent, dan penggunaan obat-
obat anti-malaria untuk keperluan lain; di negara yang sedang
berkembang terdapat penderita-penderita malaria menahun
yang lemah dan tak suka makan, sehingga mudah mengguna-
kan tonika yang mengandung totaquina sebagai amarum;
juga karena kurang waspadanya dokter dan penderita kadang-
kadang digunakan pengobatan chloroquine dalam dosis anti-
malaria subterapeutik terhadap arthritis rheumatoid dan
kelainan-kelainan lain.
Di samping kampanye pengobatan yang efisien perlu juga
masyarakat disadarkan untuk hidup menurut aturan-aturan
kesehatan, terutama karena menjadi sakit sekarang ini adalah
sesuatu yang lux.
KEPUSTAKAAN
1:Arwati: Masalah Penyakit Malaria di Indonesia: Direktorat P2B,
Direktorat Jenderal P3M Departemen Kesehatan RI; 1977.
2.Symposium on Malaria Research. 1 - 5 April 1974, Rabat, Maroc.
Bull Wld Hlth Org 1974; 50 (3 - 4) : 143 - 571:
3: Goodman LS, Gilman A: The pharmacological basis of therapeutics,
5 th ed: New York : Macmillan Publishing Co; 1975; 1045 - 1066:
4:ISO Indonesia (Informasi specialite obat Indonesia) vol: 1, Jakarta :
ISO Indonesia, 1979:
5:Pratt WB: Fundamentals of chemotherapy; London, Toronto :
Oxford University Press, 1973; 145 - 176:
6: Remington JP: Remington s pharmaceutical sciences; 5 th ed;
Easton : Mack Publishing Company, 1975; 1154 - 1158:
7:Rieckmann KH: In : Conn MF ed: Current Therapy 1978: Philadel-
phia/London/Toronto : WB Saunders Co, 1978; 34 - 37.
Resistensi Plasmodium falciparum terhadap
Chloroquine di lndonesia
Wita
Pribadi, Legia S Dakung
Bagian Parasitologi dan Ilmu Penyakit Umum Fakultas Ke-
dokteran UI.
PENDAHULUAN
Resistensi terhadap obat-obat dari golongan 4-aminokuino-
lin hingga saat ini masih terbatas pada species
Plasmodium
falciparum:
Untuk pertama kali resistensi
Plasmodium falci-
parum
terhadap chloroquine dilaporkan dalam tahun 1961 oleh
Moore dan Lanier di Colombia, Amerika Selatan (1). Sejak itu
dilaporkan pula kasus-kasus dari Brazil, Guyana, Suriname,
Venezuela, Bolivia dan Panama (2): Di Asia Tenggara resistensi
dilaporkan untuk pertama kali di Muangthai dalam tahun
1961, kemudian berturut-turut di Malaysia (1962), Kamboja
(1964), Laos (1964), Vietnam (1967), Filipina (1970), Birma
(1971) dan Sabah (1972) (2): Di Afrika, hasil penyelidikan
yang dilakukan dalam tahun 1972, menyatakan bahwa
Plasmo-
dium falciparum
masihsensitif terhadap chloroquineyaitu di
daerah Kenya dan Tanzania di Afrika Timur dan di Nigeria,
Ghana, Upper Volta, Liberia, Siera Leone, Guinea dan Senegal
di Afrika Barat sekitar Pantai Gading (2): Akan tetapi sejak
1978 mulai ada laporan kasus malaria yang resisten terhadap
chloroquine dari Sudan (3), Zambia (4), Kenya (5), Tanzania
(6) dan Nigeria (7):
Di Indonesia, resistensi parasit malaria, terutama
Plasmodi-
um falciparum
terhadap obat antimalaria telah dikenal sejak
lebih dari 40 tahun yang
,
lalu: Tillema dalam tahun 1936
melaporkan adanya resistensi
Plasmodium falciparum
terhadap
kina dan atebrin, yaitu obat-obat antimalaria yang digunakan
Simposium Masalah Penvakit Parasit
24
pada waktu itu, di daerah Samarinda, Kalimantan Timur.
Semua kasus berasal dari Sangkulirang, daerah yang sejak dulu
terkenal dengan malarianya: Penderita-penderita ini tidak
dapat disembuhkan dengan dosis kina atau atebrin yang
diberikan selama
17 - 20 hari (8). Van Goor dan Lodens
(
1950) telah melakukan percobaan profilaksis dengan progua-
nil (Paludrin) dan chloroquine (Nivaquine) di tiga kampung di
Jawa Barat (9). Proguanil diberikan dengan dosis 100 - 200
mg sekali seminggu selama 2 tahun dan pada golongan pen-
duduk yang lain diberikan chloroquine 100 - 200 mg sekali
seminggu selama I tahun: Pencegahan dengan chloroquine mem-
berikan hasil yang baik: Pencegahan dengan proguanil pada
permulaan juga berhasil, tetapi setelah 6 bulan Plasmodium
falciparum dan Plasmodium malariae menjadi resisten terha-
dap proguanil (10). Di Irian Jaya, Meuwissen (I96I) mela-
porkan bahwa 3 bulan setelah dimulai percobaan dengan
pemberian garam yang mengandung pyrimethamine pada pen-
duduk di daerah holo-endemik di Arso, Irian Jaya, Plasmo-
dium falciparum menjadiresisten terhadap pyrimethamine ( 11).
Baru dalam tahun I974 untuk pertama kali Verdrager dan
Arwati melaporkan infeksi Plasmodium falciparum yang
resisten terhadap chloroquine di Indonesia (
12):
RESISTENSI CHLOROQUINE DI INDONESIA
Sampai tahun I977 kasus resistensi terhadap chloroquine
hanya terdapat di dua daerah di Indonesia, yaitu Kalimantan
Timur dan Irian Jaya: Sejak tahun I978 ditemukan beberapa
kasus Plasmodium falciparum yang resisten terhadap chloro-
quine yang berasal dari fokus baru, yaitu daerah Lampung
dan Sumatra Selatan (Gambar I).
Kalimantan Timur
Di daerah Samarinda, Verdrager dan Arwati (I974) me-
laporkan 3 kasus malaria falciparum yang resisten terhadap
chloroquine: Resistensi ini ditemukan pada orang-orang yang
berasal dari daerah Yogyakarta, yang bekerja di tempat pe-
nebangan kayu di daerah Samarinda: Parasit ini diduga ter-
golong resisten tingkat R I(
12). Tahun berikutnya (1975)
dilaporkan satu kasus dari daerah Balikpapan oleh penulis-
penulis yang sama. Penderita adalah seorang mahasiswa dari
Yogyakarta yang dikirim dari Jakarta untuk dilatih di Per-
tamina Balikpapan: Infeksi ini resisten terhadap chloroquine
tingkat R I(I3). Pada pemeriksaan kepekaan yang dilakukan
di Kalimantan Timur pada 20 orang yang diberi chloroquine
25 mg/kg bb selama 3 hari, Verdrager dkk: (I976) mendapat-
kan hasil sbb: : 2 orang resisten tingkat R II, 1 orang resisten
tingkat R I dengan rekrudesensi dini dan 7 orang resisten
tingkat R I dengan rekrudesensi lambat (I4). Ebisawa dkk.
(I976) melaporkan 4 kasus resisten di daerah Sangkulirang
(I5, 16, I7). Dua kasus (orang Jepang) adalah dari daerah
Turksleiman di Kalimantan Timur: Kasus pertama ternyata
resisten tingkat R II dan yang lain tingkat R I. Dua kasus
lagi mendapat infeksi dari Sangkulirang, Kalimantan Timur.
Kedua-duanya adalah resisten tingkat R I. Jumlah kasus dari
Kalimantan seluruhnya adalah I8 kasus dengan 3 kasus re-
sisten R II dan I5 kasus resisten R I(Tabel I).
Irian Jaya
Verdrager dkk. (I975) telah mengadakan test kepekaan
terhadap chloroquine in vivo di beberapa daerah sebelah timur
kota Jayapura (Hamadi) dekat perbatasan Papua Nugini pada
penduduk setempat yang menderita malaria falciparum:
Dari 35 penderita yang diperiksa, I orang tergolong resisten
tingkat R I dengan rekrudesensi dini dan 6 orang resisten
tingkat R I dengan rekrudesensi lambat (I8). Di Nabire di-
laporkan 2 kasus oleh Ebisawa dkk. (I976) dengan resistensi
tingkat R I pada I kasus (I7). Clyde dkk. (I976) menyelidiki
strain Plasmodium falciparum yang ditemukan pada seorang
Inggris yang telah mengunjungi Irian Jaya dan Sulawesi.
Strain tersebut tergolong resisten tingkat R II terhadap chloro-
quine dan strain ini diberi nama Strain Indonesia (Whit: ) (I9).
Di samping itu telah dibuktikan bahwa strain ini juga resisten
terhadap pyrimethamine dan proguanil:
Di Salawati diadakan pengamatan jangka panjang (in vivo
extended field test) mengenai kepekaan Plasmodium falcipa-
rum terhadap chloroquine oleh Soegiarto dkk: (1978): Ditemu-
kan 20 kasus resisten terhadap chloroquine, diantaranya I3
orang tergolong resisten R I(11 dengan rekrudesensi dini dan
2 dengan rekrudesensi lambat) dan 7 orang resisten R II (20).
Di Jakarta dilaporkan 3 kasus impor yang resisten R I
dengan rekrudesensi lambat. Kasus pertama adalah seorang
penduduk Jakarta yang pergi ke Sorong untuk tugas men-
demonstrasikan alat-alat penebangan kayu (21): Kasus kedua.
seorang biarawati mendapat infeksi di Mapi (dekat Merauke)
dan kasus ketiga, seorang pegawai alat-alat keamanan
di
lapangan terbang, mendapat infeksi dari Sentani, Jayapura.
Laporan terakhir datang dari Hutapea (I979) yang me-
nyelidiki kasus resistensi di daerah Hamadi, Jayapura dengan
hasil 29 orang resisten terhadap chloroquine, di antaranya 2
orang tergolong resisten R III, 3 orang resisten R II dan 24
orang resisten R I (22):
Kasus resistensiPlasmodium falciparum terhadapchloroquine
di Irian Jaya seluruhnya menjadi 62 orang dengan 49 kasus
resisten tingkat R I, 1I kasus resisten tingkat R II dan 2 kasus
resisten tingkat R III(tabel 1).
Tabel 1. KASUS INFEKSI PLASMODIUM FALCIPARUM YANG
RESISTEN TERHADAP CHLOROQUINE DI INDONESIA
(1974 - 1979)
Daerah
Resisten
R I
R II
R III
Jumlah
Kalimantan Timur :
Sangkulirang
3
1
4
Turksleiman
1
Samarinda
3
3
Balikpapan
8
1
9
Tanahgrogot
1
1
18
Irian Jaya :
Jayapura
32
4
2 38
Nabire
1
1
Manokwari
1
1
Sorong
1
1
Salawati
13
7
20
Mapi
1
1
62
Sumatra Selatan : Kotabumi
1
1
dan Lampung
Tanjung Karang
1
1
Pulau Pidada
1
1
Pangkalpinang
1
1
4
68
14
2
84
25
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
1
Gambar 1.
DISTRIBUSI GEOGRAFIS KASUS MALARIA FALCIPARUM YANG RESISTEN TERHADAP CHLOROQUINE
Dl INDONESIA (1974 -- 1979)
LAMPUNG dan SUMATRA SELATAN
KALIMANTAN TIMUR
IRIAN JAYA
1. Kotabumi
2. Tanjung Karang
5. Sangkulirang
6. Turksleiman
10. Salawati
11. Sorong
3. Pulau Pidada
4. Pangkal Pinang
7. Samarinda
8. Balikpapan
12. Manokwari 13. Nabire
9 Tanahgrogot
14. Jayapura
15. Mapi
Lampung dan Sumatra Selatan
Pada pertengahan tahun 1978 di Bagian Parasitologi dan
Ilmu Penyakit Umum FKUI telah diselidiki satu kasus malaria
falciparum yang tersangka resisten terhadap chloroquine secara
in vivo. Infeksi berasal dari Baradatu di Kotabumi, Lampung.
Pada hari ke 26 setelah pengobatan dengan chloroquine dosis
standar (I500 mg basa selama 3 hari) darah penderita menjadi
positif lagi. Chloroquine diberikan lagi dalam dosis yang di-
tingkatkan (1950 mg basa = 13 tablet Resochin). Pada hari ke
25 darahnya menjadi positif lagi. Sulfadoksin 1500 mg dan
pyrimethamine 75 mg dosis tunggal mengakhiri infeksinya.
Pada akhir tahun 1979 diselidiki pula dua kasus yang resis-
ten terhadap chloroquine. Yang pertama adalah seorang pen-
duduk Jakarta yang pergi ke daerah Tanjung Karang dan men-
dapat infeksi malaria falciparum setelah berburu di daerah
rawa. Kasus kedua ditemukan pada seorang penduduk Jakarta
yang pergi ke Pulau Pidada di Teluk Lampung untuk beberapa
hari dengan maksud membeli tanah untuk usaha bertanam
cengkeh. Penderita ini kembali ke Jakarta dengan malaria
falciparum. Pada kedua kasus ini resistensi dibuktikan dengan
test kepekaan secara in vivo dan in vitro.
Kasus keempat yang diselidiki baru-baru ini mendapat
infeksi dari daerah Pangkal Pinang di Pulau Bangka, Sumatra
Selatan. Telah dibuktikan juga dengan kedua macam test
tersebut di atas bahwa parasit
Plasmodium falciparum
yang
ditemukan juga resisten terhadap chloroquine. Penderita ini
pergi ke Bangka untuk bekerja sebagai pemasang tirai alumini-
um untuk perumahan PN Timah.
Keempat kasus dari daerah Lampung dan Sumatra Selatan
adalah resisten tingkat R I dengan rekrudesensi lambat (Tabel
I).
Penyelidikan resistensi yang telah dilakukan di beberapa
daerah lain di Indonesia menunjukkan bahwa
Plasmodium
falciparum
masih sensitif di Sumatra Utara (23), Way Abung
III , Kalimantan Selatan. Sulawesi Selatan (Simandjuntak,
I978, hubungan pribadi) dan Timor (24).
KESIMPULAN
Kasus malaria yang resisten terhadap chloroquine di seluruh
Indonesia yang telah dilaporkan berjumlah 84 kasus. Sebagian
besar tergolong resisten tingkat R I(80.9%), 16.7% adalah
resisten tingkat R II dan 2.4% resisten tingkat R III.
Plasmo-
dium falciparum
yang resisten terhadap chloroquine ini terda-
pat di seluruh Muangthai dengan drajat resistensi RI sampai RIl
pada strain Thailand (JHK), R I pada strain Thailand II dan
R II pada strain Thailand (Man). Penting untuk diingat bahwa
strain dengan spektrum resistensi yang terlebar sekarang ini
adalah strain Smith dan Marks yang terdapat di Vietnam.
Derajat resistensinya terhadap chloroquine berkisar antara R I,
R II dan R III. Di samping itu juga ada resistensi terhadap obat
antimalaria lain (amodiakuin, proguanil, pyrimethamine kina).
Di Filipina dan di Kamboja derajat resistensi
Plasmodium
falciparum
terhadap chloroquine adalah R I, sedangkan di Malay-
sia resisten tingkat R II, R III dan R I, di Birma resisten
tingkat R II dan R III dan di Sabah resisten tingkat R I dan
R II (25).
Di samping ke 84 kasus yang dilaporkan di Indonesia,
kemungkinan besar masih banyak kasus resistensi yang belum
ditemukan karena sampai sekarang penyelidikan ke arah ini
terbatas.
Jumlah kasus resistensi akan bertambah dan menyebar luas
dengan adanya perpindahan penduduk. Transmigrasi akan
mengambil perananan penting dalam hal ini.
Jumlah kasus resisten yang dilaporkan dapat dikatakan masih
sedikit bila dibandingkan dengan jumlah kasus malaria di
seluruh Indonesia yang masih sensitif terhadap chloroquine.
Mengingat bahwa masih banyak sekali kasus malaria falcipa-
rum dan kasus malaria yang disebabkan species lain yang
sensitif terhadap chloroquine, maka chloroquine, obat anti-
malaria yang termasuk golongan 4-aminokuinolin, masih tetap
merupakan obat antimalaria yang penting di Indonesia. Hal ini
sesuai dengan pendapat WHO (1973) yang mengatakan bahwa
"Obat dari golongan 4-aminokuinolin, termasuk chloroquine,
masih merupakan obat antimalaria yang utama untuk semua
species malaria, ditambah dengan obat lain dari golongan
8-aminokuinolin dan pyrimethamine" (2).Bilamana ditemukan
kasus malaria falciparum yang resisten tingkat R I, maka
chloroquine masih tetap dapat digunakan dengan meninggikan
dosisnya, yaitu 25 - 40 mg per kg/bb dengan dosis total 1.5 -
Simposium Masalah Penyakit Parasit
26
2.4 gm
(2 ).
Di daerah-daerah yang sudah diketahui terdapat
Plasmodium falciparum
yang resisten terhadap chloroquine,
baru dapat dipertimbangkan untuk menggunakanobat antimala-
ria lain bila perlu, misalnya kombinasi sulfadoksin dan pyrime-
thamine. Kombinasi ini perlu dibatasi pemakaiannya untuk
mencegah timbulnya resistensi parasit malaria terhadap obat ini.
KEPUSTAKAAN
1. Moore DV, Lanier JE. Observations on two Plasmodium falciparum
infections with an abnormal response to chloroquine. Am J Trop
Med Hyg 1961; 10 : 5 - 9.
2.Wld Hlth Org. Chemotherapy of malaria and Resistance to anti-
malaria. Wld Hlth Org Tech Rep Ser No. 529, 1973.
3.Omer AH. Response of Plasmodium falciparum in Sudan to oral
chloroquine. Am J Trop Med Hyg 1978; 27 : 853 - 857.
4. Khan AA, Maguire MJ. Relative chloroquine resistance of Plasmodi-
um falciparum in Zambia. Br Med J 1978; i: 1669 - 1670.
5.Fogh S, Jepsen S, Efferson P. Chloroquine-resistant Plasmodium
falciparum malaria in Kenya. Trans Roy Soc Trop Med Hyg I979;
73 : 228 - 229.
6.Campbell CC, Chin W, Collins WE, Teutsch SM, Moss DM. Chloro-
quine-resistant Plasmodium falciparum from East Africa. Lancet
1979; 1151 - 1154.
7.Eke RA. Possible chloroquine-resistant Plasmodium falciparum in
Nigeria. Am J Trop Med Hyg 1979; 28 (6) : 1074 - 1075.
8.Tillema S. Enkele gevallen van chinine of atebrin resistente malaria.
Geneesk Tijdschr Ned Ind 1936; 76 : 2399.
9.Van Goor WTh, Lodens JG. Clinical malaria prophylaction with
proguanil. Doc Neerl Ind Morb Trop 1950; 2 : 62.
10.Van Goor WTh, Lodens JG, Gemps JA. Klinische prophylaxe met
proguanil (paludrin) gedurende 2 jaar en met Nivaquine (chloro-
quine) gedurende 1 jaar bij de bevolking van een zelfde dessa.
Madj Kedok Ind 1951; 1: 141.
11.Meuwissen JHET. Resistance of Plasmodium falciparum to pyri-
methamine and proguanil in Netherlands New Guinea. Am J Trop
Med Hyg 1961; 10 : 135.
12.Verdrager J, Arwati. Resistant Plasmodium falciparum infection
from Samarinda, Kalimantan. Bull Hlth Studies in Indon 1974;
2 : 43.
13.Verdrager J, Arwati. Effect of a single dose of minocycline on a
chloroquine-resistant falciparum infection from Balikpapan, Kali-
mantan. Bull Hlth Studies in Indon 1975; 3 : 41 - 46.
14.Verdrager J, Arwati, Simandjuntak CH, Sulianti Saroso J. Chloro-
quine-resistant falciparum malaria in East Kalimantan, Indonesia.
J Trop Med Hyg 1976; 79 (3) : 58 - 66.
15.Ebisawa I, Fukuyama T. Chloroquine-resistant falciparum malaria
from West Irian and East Kalimantan. Ann Trop Med Parasit 1975;
69 (1) : 131 - 132.
16.Ebisawa I, Fukuyama T. Chloroquine resistance of Plasmodium
falciparum in West Irian and East Kalimantan. Ann Trop Med
Parasit 1975; 69 (1) : 275 - 282.
17.Ebisawa I, Fukuyama T, Kawamura Y. Additional foci of chloro-
quine-resistant falciparum malaria in East Kalimantan and West
Irian, Indonesia. Trop geogr Med 1976; 28 : 349 - 354.
18.Verdrager J, Sulianti Saroso J, Arwati, Simandjuntak CH. Response
of falciparum malaria to a standard regimen of chloroquine in
Jayapura, Irian Jaya (Indonesia). Bull Hlth Studies in Indon 1976;
4 : 19.
19.Clyde DF, Mc Cazthy VC, Miller RM, Hornick RB. Chloroquine-
resistant falcipazum malaria from Irian Jaya (Indonesia, New Gunea).
J Trop Med Hyg 1976; 79 : 38 - 41.
20.Soegiarto AH, Soedarmadji ThP,Sorensen K, Dennis DT, Atmosoe-
djono S. Pengamatan kekebalan falcipazum malaria terhadap kloro-
kuin di Salawati, Irian Jaya. Seminaz Nasional Parasitologi I, Bogor,
1977; 8 - 10 Desember.
21.Dakung LS, Pribadi W, Ismid IS. Plasmodium falciparum yang
tersangka resisten terhadap klorokuin di Jakarta. Maj Kedok Indon
1978; 28 (10, 11, 12) : 114 - 117.
22.Hutapea AM. In vivo strain sensitivity test to a standard dose of
chloroquine in falcipazum malaria in Jayapura, Indonesia. Maj
Kedok Indon 1979; 29 (9, 10, 11, 12) : 49 - 51.
23.Dondero Jr TJ, Kosin E, Parsons RE, Tann G, Lumanauw FH.
Preliminazy survey for chloroquine resistant malaria in parts of
North Sumatra, Indonesia. Southeast Asian J Trop Med Pub Hlth
1974; 5 (4) : 574 - 578.
24.Gundelfinger BF, Wheeling CH, Lien JC, Atmosoedjono S, Siman-
djuntak CH. Observation of malaria in Indonesia Timur. Am J Trop
Med Hyg 1976; 24 : 393.
Pengaruh Penyakit Malaria terhadap Keadaan
Gizi Anak Balita
Marbaniati
Puskesmas Wanadadi Kabupaten Banjarnegara.
PENDAHULUAN
Sudah sejak lama diketahui, bahwa penyakit infeksi mem-
punyai hubungan yang erat dengan gizi. Keduanya saling
pengaruh mempengaruhi. Dari pengunjung poliklinik dan
hasil active case detection terhadap malaria, ternyata penyakit
malaria menduduki tempat teratas dalam urut-urutan penyakit
yang terbanyak diderita oleh penduduk kecamatan Wanadadi
(tabel 1).
Sejak puluhan tahun yang silam sebetulnya penyakit
malaria di kecamatan Wanadadi telah banyak, namun karena
jeleknya pelaporan dan pencatatan, maka tak banyak yang
diketahui tentang malaria di kecamatan Wanadadi sampai
dengan tahun
1972.
Hal ini sesuai dengan pendapat Bachrawi
Wongsokoesoemo (1976) bahwa reporting dan recording
penyakit menular di Indonesia sangat jelek sampai tahun
1969 (1).
Dari tabel
2
nampak bahwa penyakit malaria sudah nampak
tinggi sejak tahun
1972,
dengan Annual Parasit
e Incidence
43
°/o
o
,
dan Slide Positivity Rate I6,5%. Pada tahun
1975
Annual Parasite Incidence-nya menjadi meningkat 4 kalinya
dan pada tahun 1976 menjadi I0 kalinya. Pada tahun
1978
dan 1979 keadaan ini dapat ditekan.
Tabel 1 : Distribusi penyakit
yang
diketemukan pada pengunjung
poliklinik Puskesmas Wanadadi dan dari active case
detection terhadap malaria, pada tahun 1979 berdasar
jenis penyakit.
No.
Jenis penyakit
Banyaknya %
1.
malaria
21,5
2.
Penyakit saluran pernapasan
bagian atas
18,8
3.
Kelainan kulit
12,5
4.
Penyakit saluran pernapasan
bagian bawah
6,1
5.
Mencret
3,9
6.
Kelainan mata
3,7
7.
Keluhan saluran pencernaan
3,6
8.
Helminthiasis
0,3
9.
Penyakit kelamin
0,6
10.
Lain - lain
29
27
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980