background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Rehabilitasi Medik pada Osteoartritis
Angela B.M. Tulaar
Unit Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Rematik adalah salah satu penyakit yang dapat membuat
orang tidak berdaya, tidak dapat melakukan aktivitas kehidupan
sehari-hari dan kadang-kadang terpaksa bergantung kepada orang
lain.
Osteoartritis termasuk penyakit reatik yang sering dijumpai
dan kathng-kadang juga cukup mengganggu aktivitas kita.
Rehabilitasi medik merupakan bagian dari penatalaksanaan
osteoartritis dengan tujuan menghindari atau mengurangi gang-
guan dan cacat menjadi seminimal mungkin dan mengembalikan
kemampuan fungsi semaksimal mungkin sehingga dapat me-
ningkatkan kualitas hidup dan kemandirian seseorang.
Di dalam makalah ini akan dibahas intervensi rehabilitasi
medik pada penatalaksanaan menyeluruh osteoartnitis.
DEMOGRAFI, ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Osteoantritis adalah bentuk antritis atau `rematik" yang pa-
ling sering dijumpai, dikénal dengan singkatan OA. Kejadiannya
meningkat dengan usia, terlihat pada pemeriksaan radiologis
tangan dimana 7% pria dan 2% wanita berumur 18­24 tahun
menunjukkan gejala OA sedangkan pada usia 75­79 tahun rata-
rata semua mempunyai tanda-tanda OA. Di bawah 45 tahun pria
lebih sering terserang danipada wanita tetapi di atas 45 tahun
wanita lebih sering mendapat OA dan cenderung lebih berat
daripada pria.
Penyakit ini asimetris, tidak meradang (non inflammatory)
dan tidak ada komponen sistemik. Osteoartritis adalah suatu
kelainan berupa proliferasi tulang pada batas sendi dan tulang
subkondral akibat deteriorasi tulang rawan sendi.
Penyebab degenerasi tulang rawan tidak diketahui tetapi
mungkin termasuk:
a) kerusakan framework kolagen karena fatigue (kelelahan)
dan abrasi.
b) perubahan pada sintesis proteoglikan atau degradasinya.
c) defek (kerusakan) pada fungsi cairan sinovial dan kondrosit.
Beberapa faktor lain yang mungkin mempengaruhi progre
sifitas OA seperti:
1. Lokasi lesi
2. Jumlah beban pada tulang rawan
3. Resiliensi tulang
4. Kelainan sendi yang sudah ada (pre-existing)
5. Umur
6. Berat badan
7. Olahraga yang menghasilkan mikrofraktur berulang.
8. Keturunan
Pada OA Primer, beberapa sendi yang terserang menurut
urutan menurun adalah sendi lutut, sendi MTP I (Metatarso
Phalangeal) sendi DIP (Distal Inter Phalangeal), sendi CMC
(Carpo Metacarpal), panggul, leher dan lumbal (punggung).
Siku dan bahu jarang kecuali pada OA sekunder akibat cedera
fraktur atau yang berhubungan dengan pekerjaan.
MASALAH DAN INTER VENSI REHABILITASI
Gangguan utama fungsi terjadi akibat keterlibatan sendi pe-
numpu berat seperti lutut yang menyebabkan nyeri dan meng-
hambat gerak. Berikutnya adalah keterlibatan punggung.
Artritis sendi CMC (Canpo MetaCarpal) yang bermakna dapat
menyulit- kan pekerjaan yang menggunakan tangan (manual).
Peradangan osteoartritis erosif dengan nyeri, bengkak dan
kemerahan pada sendi PIP dan DIP (Proksimal dan Distal
Interfalangeal) menye- rupai RA mengganggu ADL (Activities
of Daily Living) yaitu aktivitas hidup sehari-hari.
Karena OA pada dasarnya adalah proses degeneratif maka
nyeri biasanya lokal disebabkan oleh penyimpangan biomekanik
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
32
background image
dari sendi yang terlibat, serta stres dan tegangan pada struktur
periartikuler, yaitu tendon, otot dan saraf, sehingga menyebab-
kan nyeri radiasi ke tempat lain. Nyeri khususnya dapat di-
sebabkan karena elevasi periosteal oleh spur, mikrofraktur
trabekuler dan distensi kapsuler dengan akumulasi cairan dan
penyakit yang berkaitan dengan deposisi (penimbunan) kristal.
Intervensi rehabilitasi mencakup:
1) Pengurangan rasa nyeri.
2) Pemeliharaan serta pemulihan rentang sendi (ROM) dan
kekuatan otot.
3) Pengurangan beban sendi.
4) Pencegahan atau pengurangan kontraktur.
5) Pemeliharaan susunan/kesegarisan sendi.
Istirahat merupakan tindakan awal dalam mengatasi nyeri
terutama pada radang yang akut. Istirahat bersifat:
·
Istirahat sistemik/total (tempat tidur)
·
Istirahat lokal dengan bantuan bidai
·
Istirahat selingan (waktu tertentu selama pagi dan siang hari)
Kerugian:
·
Istirahat lokal; telah dibuktikan adanya peningkatan keka-
kuan jaringan ikat dan sendi serta penurunan integritas tulang
rawan; perubahan terjadi setelah 1­2 bulan.
·
Istirahat sistemik; dapat menyebabkan dekondisi, osteopo-
rosis, hiperkalsemia/hiperkalsiuria, atrofi dan kelemahan otot,
intoleransi ortostatik, ataksia, penurunan volume jantung dan isi
sekuncup (stroke volume) serta peningkatandenyut nadi.
Beberapa peneliti menemukan penurunan lean body mass
setelah istirahat selama 2­3 minggu akibat atrofi otot
(3)
.
Keuntungan:
·
Istirahat lokal; telah didemonstrasikan berkurangnya pe-
radangan apabila sendi yang meradang diistirahatkan dalam
bidai selama 1 minggu atau lebih
(4)
.
·
Istirahat sistemik; beberapa penelitian telah melaporkan
perbaikan menyeluruh pada penderita rheumatoid artritis yang
dirawat di rumah sakit selama 1­10 minggu adalah rasional.
Perawatan di rumah sakit untuk penderita dengan sendi yang
sangat meradang diperlukan apabila rawat jalan dan perawatan
rumah tidak cukup. Sendi yang parah membaik setelah 1­2
minggu perawatan rumah sakit
(5)
.
Latihan atau exercise diketahui:
·
Meningkatkan dan mempertahankan rentang sendi (ROM =
Range of Motion);
·
Mengajar kembali (re-edukasi) dan menguatkar. otot;
·
Meningkatkan ketahanan statik dan dinamik;
·
Memungkinkan sendi berfungsi secara biomekanik lebih
baik;
·
Meningkatkan fungsi menyeluruh dan rasa-nyaman pen-
derita.
Penderita artritis yang dipertahankan diam terus akan kehi-
langan 30% massa otot dalam seminggu dan hingga 5% kekuatan
otot perhari
(6,7)
.
Program latihan harus memperhatikan beberapa hal se-
perti :
·
Derajat radang sendi
·
Penyimpangan mekanik
·
Efusi sendi (cairan sendi berlebihan)
·
Kondisi otot sekitar
·
Tingkat ketahanan umum penderita
·
Kondisi sistem kardiorespirasi Latihan terdiri dari:
Latihan terdiri dari :
1. Latihan Pasif
2. Latihan Aktif
3. Latihan Penguatan
4. Latihan Ketahanan (Endurance)
5. Latihan Peregangan (Stretching)
6. Latihan Rekreasi
Fisher mendapat perbaikan kekuatan otot, ketahanan dan
kecepatan pada penderita OA lutut yang diberi program latihan
selama 4 bulan, 3 kali seminggu. Peningkatan fungsi otot ber-
hubungan dengan berkurangnya ketergantungan, kesulitan dan
nyeri
(8)
.
MODALITAS TERAPI
Sebagai penunjang maka terapi lain diberikan berupa:
·
Terapi panas
·
Terapi dingin
·
Terapi listrik
·
Terapi air
·
Terapi laser
Pemakaian terapi panas untuk mengurangi nyeri pada artri-
tis telah lama dikenal. Panas akan mengurangi nyeri; mengurangi
spasme otot, mengurangi kekakuan sendi, menambah ekstensi-
bilitas tendon.
Kompres dingin pada sendi rheumatoid akan menghambat
aktivitas kolagenase di dalam sinovium. Dinginjuga mengurangi
spasme otot
(8)
.
Terapi listrik TENS (Transcutaneous Electrical Nerve
Stimulation) digunakan untuk mengurangi nyeri melalul kerja-
nya menaikkan ambang rangsang nyeri.
Air sebagai terapi digunakan terutama dalam memberikan
latihan. Daya apung air akan membuat nngan bagian atau ekstre-
mitas yang direndam sehingga sendi lebih muda digerakkan.
Selain itu, suhu air yang hangat membantu mengurangi rasa
nyeri.
Terapi laser pada dekade terakhir ini mulai populer diguna-
kan pada artritis untuk mengurangi nyeri.
Ortosis atau alat bantu atau Bidai diberikan untuk :
·
Mengurangi beban sendi
·
Menstabilkan sendi
·
Mengurangi gerakan sendi
·
Memelihara sendi pada posisi fungsi maksimal
·
Mencegah deformitas
Peralatan penunjang dan adaptif adalah beberapa peralatan
dasar yang telah dimodifikasi agar dapat digunakan oleh pen-
derita dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Peralatan ini
berfungsi membantu penderita melakukan aktivitas hidup se-
hari-hari dengan menyesuaikan dan mengkompensasi keter-
batasan gerak sendi dan nyeri serta meningkatkan kemandirian-
nya. Peralatan tersebut harus mudah dibeli, murah, mudah di-
gunakan dan memperbaiki fungsi penderita, misalnya untuk ber-
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 33
background image
jalan dan berpindah tempat (transfer), makan, minum, berpakai-
an, dan kebersihan diri.
Edukasi merupakan hal yang penting bagi penderita ter-
utama tentang perjalanan penyakit dan kemungkinan dampaknya
terhadap gaya hidup, pekerjaan serta aktivitas santai penderita.
Untuk proteksi atau pemeliharaan sendi (Joint Protection)
dikenal 12 prinsip sebagai berikut:
1) Memakai sendi yang terkuat atau terbesar untuk melakukan
tugas.
2) Membagi beban pada beberapa sendi.
3) Gunakan setiap sendi pada posisi yang paling stabil dan
fungsional.
4) Gunakan mekanisme tubuh yang baik.
5) Kurangi tenaga yang diperlukan untuk melakukan pekerja-
an.
6) Hindari terlalu lama mempertahankan posisi sendi yang
sama.
7) Usahakan gerakan sendi penuh dan lengkap dalam aktivitas
sehari-hari.
8) Hindari posisi dan aktivitas sendi.
9) Organisasikan pekerjaan.
10) Seimbangkan pekerjaan dan istirahat.
11) Gunakan penyimpanan yang efisien.
12) Hilangkan tugas yang tidak penting.
Hemat energi merupakan hal yang penting untuk memaksi-
malkan fungsi terutamapâda reumatik yang sistemik dan disertai
fatigue atau kelelahan. Mekanisme hemat energi termasuk :
·
Maksimalisasi fungsi biomekanik sendi untuk mengefek-
tifkan ambulasi dan fungsi tangan yang efisien energi, misalnya
dengan penggunaan ortosis dan alat bantu yang tepat.
·
Penggunaan peralatan adaptif dan pakaian yang tepat.
·
Rancangan lingkungan yang tepat.
·
Periode istirahat di siang hari.
·
Mempertahankan gerak sendi dan kekuatan.
·
Mempertahankan sikap yang tepat.
Intervensi psikososial diperlukan pada penderita yang me-
nunjukkan gejala reaksi menyangkal, represi dan depresi serta
marah. Hal ini terjadi apabila penyakitnya terutama rasa nyeri
sangat mengganggu sehingga selain mengatasi rasa nyeri ia
harus menyesuaikan dengan keterbatasan fungsi ataupun de-
formitas baik karena penyakit maupun akibat sampingan obat;
juga reaksi teman, anggota keluarga dan masyarakat.
Bantuan psikologis bagi penderita dan keluarga sering di-
perlukan dan dapat diberikan dalam bentuk terapi kelompok.
Penyesuaian seksual adalah salah satu masalah yang sering
harus dihadapi penderita rematik osteoartritis yang mengalami
gangguan keterbatasan sendi daerah panggul, lutut, bahu, tangan
dan punggung, di samping rasa nyeri. Masalah ini memerlukan
penanganän tersendiri misalnya edukasi atau penyuluhan ten-
tang sikap atau posisi yang tepat yang disarankan untuk gangguan
sendi tertentu.
PENUTUP
Telah dibahas tentang intervensi rehabilitasi medik pada
penderita osteoartritis. Walaupun penyakit ini progresif dengan
usia dan tidak dapat dihambat atau disèmbuhkan, namun de-
mikian upaya rehabilitasi medik di samping obat-obatan dan
tindakan bedah dapat membantu penderita tetap hidup aktif
dengan osteoartritisnya serta sedapat mungkin mempertahankan
kualitas hidup yang baik.
KEPUSTAKAAN
1. Hicks JE, Gerber LH.. Rehabilitation of the Patient with Arthritis and
Connective Tissue Disease. In: Delisa JA (ed) Rehabilitation Medicine
Principles and Practice. Philadelphia: JR Lippincott, 1988; pp 765­794.
2. Meachim 0, Brooke 0. Pathology of OA in Osteoarthritis : Diagnosis and
Management, pp 29­39. Moscowitz Ret al (eds) : Philadelphia, Saunders,
1984.
3. Greenleaf JE, Bernauer EM, Juhos iT, et al. Effects of exercise on fluid
exchange and body composition in man during 14 day bed rest. J Appl.
Physiol 1977; 43: 126­32.
4. Nicholas JJ, Ziegler G. Cylinder Splints : Their use in the treatment of
arthritis of the knee. Arch Phys Med Rehabil 1977; 58: 264­67.
5. Lee P, Kennedy AC, Anderson J, Buchanan WW. Benefits of hospitalize-
tion in rheumatoid arthritis. QJ Med (New Series) 1977; 43: 205­214.
6. Kohke F. The effects of limitation of activity upon the human body.
JAMA 1966; 196: 825­830.
7. Muller EA. Influence of training and activity on muscle strength, Arch Phys
Med 1970; 51: 449­62.
8. Fisher NM, Pendergast DR, Greshani GE, Calkins E. Muscle Rehabilita-
tion: Its effects on muscular and functional performance of patients with
knee osteoarthritis. Arch Phys Med Rehabilitation, 1991; 72(6): 367­74.
9. MigliettaO. Action of cold on spasticity. lmJ Phys Med 1973; 52: 198-202.
10. Long K, Fries JF. The Arthritis Helpbook, Addison-Wesley PubI. Co.
Reading, Massachusetts, 1980.
Many acquaintances, but few friends
(Johnson)
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
34