background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Regenerasi Jaringan Periodontium
Setelah Perawatan Periodontal
Yuniarti Syafril
Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Tujuan utama perawatan periodontal tidak hanya meng-
hentikan penyakit periodontal, tetapi juga dapat meramalkan
regenerasi jaringan periodontium pada sisi yang mengalami ke-
rusakan. Regenerasi yang diharapkan antara lain terbentuknya
sementum, ligamentum periodontal dan tulang alveolar. Proses
regenerasi jaringan, perbaikan jaringan, pembentukan perlekat-
an baru, merupakan aspek yang terdapat pada proses penyem-
buhan setelah perawatan periodontal. Regenerasi jaringan
periodontium merupakan proses fisiologis yang terus berlanjut.
Beberapa istilah perlu dibedakan dalam hubungannya de-
ngan proses penyembuhan dan regenerasi jaringan, antara lain
reattachment atau perlekatan kembali, new attachment atau per-
lekatan baru, adaptasi epitel. Akhir-akhir ini prosedur perawat-
an periodontal dengan guided tissue regeneration banyak di-
lakukan. Perawatan periodontal dengan "GTR" diharapkan dapat
mencegah kehilangan jaringan penyangga pada batas tertentu.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEM-
BUHAN
Tujuan perawatan periodontal tidak hanya bermaksud
menghentikan penyakit periodontal, tetapi juga menggantikan
bagian jaringan penyangga yang mengalami kerusakan
(1)
.
Keberhasilan perawatan periodontal sangat bergantung ke-
pada kesempurnaan dalam menghilangkan keradangan gingiva,
perdarahan gingiva, mengurangi kedalaman poket, menghenti-
kan proses infeksi, menghentikan pembentukan pus, menghenti-
kan kerusakan jaringan lunak dan tulang, mengurangi kegoyang-
an gigi, memperbaiki fungsi oklusi, memperbaiki jaringan yang
mengalami kerusakan, mencegah rekurensi penyakit, serta
mengurangi hilangnya gigi-geligi
(2)
. Proses penyembuhan pada
dasarnya sama untuk setiap jenis perawatan. Proses regenerasi
jaringan, perbaikan jaringan, pembentukan perlekatan baru me-
rupakan aspek yang terdapat pada penyembuhan setelab pera-
watan periodontal.
Beberapa istilah perlu dibedakan dalam hubungannya
dengan proses penyembuhan dan regenerasi jaringan periodon-
tium. Istilah reattachment atau perlekatan kembali digunakan
untuk menerangkan proses regenerasi struktur jaringan penyangga
gigi setelah suatu perawatan. Perlekatan kembali lebih ditujukan
untuk menerangkan adanya reunion jaringan ikat dengan akar
gigi yang terpisah karena adanya injury atau insisi
(1)
. Keadaan
tersebut misalnya: setelah suatu tindakan bedah, trauma daerah
sementum, fraktur gigi, atau perawatan lesi periapikal
(2)
.
Istilah new attachment atau perlekatan baru menerangkan
proses reunion jaringan ikat dengan permukaan akar gigi yang
terbuka karena proses patologis. Pada keadaan ini terjadi pem-
bentukan serat ligamentum baru yang tertanam pada sementum
baru dan melekatnya epitel gingiva pada permukaan akar gigi
yang terbuka sebelumnya karena proses penyakit
(1,3)
.
Adaptasi epitel atau epithelial adaptation berbeda dengan
perlekatan baru. Pada keadaan ini epitel gingiva melekat ke per-
mukaan akar gigi, karena perawatan poket yang tidak sempurna
sebelumnya. Probe tidak dapat masuk ke dalam celah poket.
Menurut penelitian sulkus gingiva yang dalam ini dibatasi oleh
epitel yang panjang, tipis, tahan terhadap penyakit dan merupa-
kan perlekatan jaringan ikat sebenarnya
(4)
. Tetapi Nyman dan
kawan-kawan menyatakan bahwa jaringan ikat gingiva tidak
mempunyai kemampuan untuk membentuk perlekatan jaringan
ikat baru pada permukaan gigi yang terbuka karena proses
penyakit
(5)
.
Proses penyembuhan dipengaruhi oleh faktor lokal dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 23
background image
sistemik. Faktor lokal seperti kontaminasi mikroorganisme,
oklusi merupakan faktor yang sering menghambat
penyembuhan jaringan. Menghilangkan plak dan semua faktor
yang mempermudah retensi plak serta menghilangkan tekanan
yang berlebihan, dapat meningkatkan regenerasi tulang dan
menghasilkan perlekatan jaringan baru
(2,6,7)
. Kelainan sistemik
dapat mempengaruhi atau menghambat penyembuhan jaringan
setelah perawatan periodontal; penyembuhan jaringan akan ter-
hambat pada penderita dengan infeksi menyeluruh, penderita
Diabetes Meilitus, pada keadaan defisiensi nutrisi tertentu, pen-
derita dengan penyakit infeksi yangt melemahkan tubuh
(1,2,6)
.
Faktor hormonal juga berpengaruh; pemberian glukokortikoid
seperti kortison dapat menghalangi proses perbaikan jaringan,
menekan reaksi radang atau menghambat pertumbuhan fibro-
bias, pembentuk kolagen dan sel endotel. Stres sistemik, peng-
angkatan kelenjar tiroid, pemberian hormon testosteron, hormon
adenokortikotropik dan estrogen dalam dosis besar, akan me-
nekan pembentukan jaringan granulasi serta menghambat
penyembuhan.
PENYEMBUHAN JARINGAN PERIODONTIUM
Perawatan bedah periodontal dilakukan dengan menghi-
langkan jaringan lunak dan keras yang mengalami kerusakan
karena proses penyakit periodontal. Penyembuhan luka jaringan
periodonsium setelah tindakan bedah merupakan proses yang
kompleks; setelah insisi dan pengangkatan jaringan granulasi,
maka permukaan gigi akan diisi oleh 4 bentuk sel yang berbeda
yaitu: sel epitel, sel yang berasal dari jaringan ikat gingiva, sel
tulang dan sel yang berasal dari ligamentum peniodontal
(8)
. Bila
sel yang berasal dari oral epithelium berproliferasi sepanjang
perrnukaan akar sampai batas epitel poket, maka yang terbentuk
adalah long junctional epithelium atau epitel penghubung yang
panjang. Epitel ini dapat berproliferasi dengan cepat ke arah
apikal, dan menghalangi perlekatan jaringan ikat ke semen-
tum
(7,9,10)
.Bila sel yang berasal dari jaringan ikat gingiva berkum-
pul pada permukaan akar, maka sejenis jaringan ikat akan melekat
di antara jaringan lunak dan jaringan keras. Jika sel tulang
bermigrasi hingga berkontak dengan akar, maka akan terjadi
resorbsi permukaan akar gigi dan ankilosis
(11)
. Keadaan yang
paling ideal adalah, jika sel dan ligamenturn periodontal ber-
prolifereasi ke arah korona, menutup permukaan akar yang ter-
buka
(8)
.
Selama penyembuhan,, proliferasi sel epitel untuk mencapai
setinggi epitel poket sebelum tindakan bedah, adalah 1 minggu
setelah operasi
(12)
. Migrasi epitel ini berfungsi sebagai barier
pelindung agar tidak terjadi resorbsi akar dan ankilosis
(13)
.
Regenerasi adalah pertumbuhan serta pembelahan sel-sel
baru dan substansi interseluler yang membentuk jaringan baru.
Regenerasi terdiri dari fibroplasia, proliferasi endotel, deposisi
dan substansi dasar intersisial dan kolagen, epitelisasi dan pe-
matangan jaringan ikat. Regenerasi terjadi dari pertumbuhan
jaringan dari jenis yang sama atau prekursornya. Jaringan perio-
donsium, epitel gingiva digantikan oleh epitel, Jaringan ikat di
bawahnya serta ligamentum periodontal digantikan oleh jaring-
an ikat. Tulang serta sementum tidak digantikan oleh tulang dan
sementum yang ada, tetapi oleh jaringan ikat atau prekursor-
nya
(1,2)
. Bentuk penyembuhan yang sering terjadi setelah tindakan
bedah adalah pertumbuhan long junctional epithelium atau epitel
penghubung panjang dan perlekatan jaringan ikat. Keadaan ini
secara klinis menunjukkan hasil yang memuaskan, tetapi proses
regenerasi yang terjadi tidak menunjukkan hasil yang memuas-
kan
(13)
.
Regenerasi juga merupakan rekonstitusi perlekatan jaringan
periodontium termasuk perlekatan gingiva, sementum, ligamen-
tum periodontal, dan tulang alveolar yang mengelilingi gigi
(14,15)
.
Regenerasi jaringan penodonsium merupakan proses fisiologis
yang terus berlanjut. Pada keadaan normal sel-sel baru dan ja-
ringan terbentuk secara tetap, menggantikan jaringan matang
dan mati. Hal ini terjadi karena aktivitas mitotik epitel gingiva
dan jaringan ikat ligamentum periodontal. Aktivitas ini berupa
pembentukan tulang baru serta deposisi terus menerus dan se-
mentum
(2)
.
Penelitian Gottlow dan kawan-kawan memisahkan per-
tumbuhan jaringan granulasi yang berasal dari ligamentum pe-
riodontal dengan permukaan akan gigi; epitel dan jaringan ikat
gingiva dicegah untuk berkontak dengan akar gigi selama penyem-
buhan. Hasilnya adalah pembentukan sementum baru yang ter-
tanam di antara serat-serat kolagen pada permukaan akar yang
telah terbuka sebelumnya
(16)
. Di sini terlihat bahwa jaringan
granulasi yang berasal dari ligamentum periodontal mempunyai
kemampuan membentuk jaringan ikat baru. Jadi regenerasi
ligamentum periodontal merupakan kunci terjadinya perlekatan
baru, karena ligamentum periodontal merupakan penghubung
antara sementum dan tulang baru
(16,17,18)
, ligamentum periodontal
juga mengandung sel yang dapat mensintesis dan membentuk
kembali ke tiga jenis jaringan ikat yang merupakan bagian
alveolar dan jaringan periodontium, serta mempunyai kemam-
puan membentuk sementum baru
(8)
.
Dengan adanya kemampuan ligamentum periodontal mem-
bentuk jaringan ikat baru, tidak hanya migrasi epitel dento-
gingival saja yang dapat dicegah pada saat penyembuhan;migrasi
jaringan granulasi yang berasal dari jaringan ikat gingiva juga
dihambat berkontak dengan permukaan akar selama penyem-
buhan. Hal ini dibuktikan pada binatang percobaan monyet yang
permukaan bukal gigi kaninusnya diinsisi berbentuk U. Di-
lakukan flap mukopenosteal di daerah korona hingga tulang
alveolar terbuka, dan neseksi tulang alveolar serta pengangkatan
seluruh sementum seluas 3 mm ke arah apeks hingga 2 mm dari
tepi puncak tulang alveolar. Tujuannya agan selama penyem-
buhan tidak terdapat gangguan yang berupa migrasi epitelden-
togingival. Untuk mencegah jaringan ikat gingiva berkontak
dengan permukaan akar selarna penyembuhan, dilakukan penu-
tupan fenestrasi daerah alveolar dengan filter millipore. Setelah 3
bulan penyembuhan, secara histologis terlihat adanya pemben-
tukan perlekatan baru termasuk pembentukan sementum baru,
perlekatan jaringan fibrous dan tulang alveolar
(19)
. Kemampuan
iigamentum periodontal untuk beregenerasi hanya terjadi jika sel
epitel, sel tulang dan sel jaringan ikat gingiva dicegah berkontak
dengan akan selama penyembuhan
(12,19,20)
.
Setelah tindakan bedah regeneratif yang dilakukan pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
24
background image
binatang percobaan dengan kerusakan daerah furkasi, regenerasi
tulang pertama kali terjadi di daerah yang paling dekat dengan
permukaan akar, diikuti daerah sentral interadikular. Ankilosis
terjadi pada 24 area dan 39 sampel, serta mengenai daerah
dengan kerusakan yang luas. Seluruh sampel menunjukkan
adanya penyembuhan berupa perlekatan jaringan ikat yang
mengelilingi daerah furkasi
(19)
.
Perlekatan baru hanya akan terbentuk jika sel yang berasal
dari ligamentum periodontal mengisi daerah luka yang berde-
katan dengan permukaan akar
(16)
. Jaringan granulasi yang berasal
dari jaringan periodontium lainnya seperti dari tulang alveolar
atau dari jaringan ikat gingiva, bila berkontak dengan permuka-
an akan selama penyembuhan akan menghasilkan resorbsi akar
daripada pembentukan, perlekatan jaringan ikat baru
(5,22)
. Ke-
mampuan ligamentum periodontal untuk beregenerasi dan
membentuk perlekatan baru, telah dibuktikan pada penderita
dengan penyakit periodontal lanjut disertai terbukanya permuka-
an akar
(13,20)
.
PENCEGAHAN MIGRASI EPITEL PENGHUBUNG
DAN EPITEL POKET
Perlekatan baru dengan regenerasi tulang merupakan hasil
yang terbaik setelah suatu perawatan. Pengangkatan junctional
epithelium atau epitel penghubung dan epitel poket, serta pen-
cegahan migrasi epitel pada saat penyembuhan setelah suatu
tindakan bedah sangatlah penting
(13,20)
. Adanya epitel poket dan
epitel penghubung akan mengganggu aposisi jaringan ikat dan
sementum, yang selanjutnya akan menghambat pertumbuhan,
serat periodontium yang tertanam di antara sementum. Beberapa
metode dapat digunakan untuk pengangkatan epitel penghubung
dan epitel poket, antana lain tindakan bedah dengan kuretase,
modified widman flap, internal bevel incision tanpa pembukaan
area operasi, gingivektomi ke arah puncak tulang alveolar serta
pengangkatan, debridemen seluruh iritan
(2)
.
Pengangkatan epitel penghubung dan epitel poket saja,
kadang-kadang tidaklah cukup untuk menghasilkan penyem-
buhan yang baik. Hal ini disebabkan karena epitel yang berasal
dari potongan daerah tepi sangat cepat berproliferasi ke apikal,
menyilang di antara jaringan ikat dan sementum. Bedah re-
konstruktif pada perawatan periodontal dibutuhkan untuk mem-
bantu regenerasi tulang. Bedah rekonstruktif dibagi menjadi dua
yaitu tanpa graft dan dengan graft yang keduanya berhubungan
dengan pembentukan perlekatan baru. Beberapa peneliti telah
mengembangkan penggunaan graft tulang yang semuanya ber-
tujuan untuk mencegah migrasi epitel.
Guided tissue regeneration atau GTR merupakan salah
satu teknik yang digunakan untuk mencegah migrasi epitel se-
panjang dinding semen dan poket periodontal, berupa peletakan
suatu barier yang menutup tulang alveolar dan ligamentum
periodontal
(13,20)
. Selama penyembuhan migrasi epitel dento-
gingival juga dapat membahayakan pembentukan perlekatan
jaringan ikat baru
(23)
. Pemakaian membran millipore telah di-
lakukan pada binatang percobaan dengan hasil memuaskan
(19)
.
Teknik GTR telah membuka kemungkinan baru untuk memper-
baiki atau mengembalikan kehilangan jaringan penyangga pada
tingkat tertentu.
Gottlow dan kawan-kawan menggunakan membran teflon
yang diletakkan pada permukaan akan yang terbuka, pada waktu
flap operasi. Hasilnya menunjukkan adanya penyembuhan be-
rupa penutupan akan yang terbuka, dan pembentukan perlekatan
baru
(20)
. Sedang Warrer dan Karring mengevaluasi pemakaian
graft tulang (Tissel) yang dikombinasi dengan membran GTR
(Zitex) pada poket supraboni. Hasilnya menunjukkan bahwa pe-
makaian membran yang terlalu besar serta kontaminasi daerah
operasi, menyebabkan penyembuhan daerah operasi kurang baik
dan keluamya materi graft tulang. Hal ini karena kegagalan pe-
nutupan tepi bukal dan lingual pada daerah interproksimal pada
waktu penyembuhan. Selanjutnya terjadi resesi dan terbukanya
membran yang menyebabkan terjadinya pengumpulan plak serta
sisa-sisa makanan
(24)
. Dari penelitian di atas dapat disimpulkan
bahwa membran harus benar-benar tertutup jaringan selama pe-
nyembuhan dengan menghindari pemakaian membran yang
terlalu besar. GTR menghasilkan penambahan jaringan yang
cukup bermakna selama 4 sampai 6 minggu setelah tindakan
bedah. Penambahan jaringan yang mengalami mineralisasi pada
penyakit periodontal lanjut setelah pembedahan dengan GTR,
dapat menyèmpurnakan penyembuhan atau perbaikan jaring-
an
(25)
.
Pemakaian asam sitrat pada binatang percobaan menunjuk-
kan bahwa tertanamnya matriks dentin yang mengalami demine-
ralisasi ke dalam jaringan ikat, akan merangsang sel mesensim
untuk berdiferensiasi menjadi osteoblas dan kemudian terjadi
proses osteogenik. Pemakaian asam sitrat pada pH 1 selama 2
sampai 3 menit pada permukaan akan gigi, akan menghasilkan
permukaan akan yang terdemineralisasi. Keadaan ini akan me-
rangsang proses sementogenesis dan perlekatan serat-serat
kolagen
(2)
tetapi pemakaian asam sitrat pada permukaan akar
tidak meningkatkan penyembuhan setelah bedah periodontal
(26)
.
Kombinasi fibronektin dan asam sitrat telah diteliti terhadap
hewan percobaan. Pemberian fibronektin pada permukaan akar
dapat meningkatkan perlekatan baru. Pada penelitian ini fibro-
nektin diletakkan pada daerah flap, kemudian ditambahkan asam-
sitrat pada permukaan akan. Hasilnya menunjukkan penyembuh-
an yang lebih cepat disertai dengan peningkatan proliferasi sel
(27)
.
EVALUASI KEBERHASILAN PERAWATAN JARINGAN
PERIODONTIUM
Evaluasi keberhasilan perawatan periodontal kadang-ka-
dang agak sukar diketahui secara klinik maupun eksperimental.
Keberhasilan perawatan dapat dilihat secara klinis, radiografis,
tindakan bedah, atau secara histologis.
Metode klinis yang digunakan dengan membandingkan ke-
adaan sebelum dan sesudah probing. Tiga cara probing yang di-
lakukan yaitu pengukuran kedalaman poket, tinggi perlekatan,
dan tinggi tulang. Menentukan tinggi perlekatan lebih penting
daripada pengukuran poket. Hal ini disebabkan karena adanya
perubahan tepi gingiva setelah perawatan. Beberapa penelitian
telah dilakukan terhadap pengaruh penetrasi probing kedalaman
poket. Penetrasi probing ini sangat bervariasi bergantung kepada
derajat keradangan jaringan, yang secara langsung berpengaruh
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 25
background image
terhadap dasar poket. Probing mungkin tidak mencatat keda-
laman poket yang sebenarnya, tetapi merupakan hasil penetrasi
probe ke jaringan periodontium, sehingga menghasilkan per-
kiraan yang berlebihan dan kedalaman poket
(28)
.
Penilaian klinis jaringan keras memerlukan re-entry surgery
atau pembedahan kedua setelah periode penyembuhan. Tindakan
ini biasanya dilakukan 6 sampai 12 bulan setelah pembedahan
pertama. Pembedahan kedua ini biasanya berjalan lebih cepat
dan trauma yang terjadi lebih sedikit. Jika pengukuran ini di-
kombinasi dengan penilaian klinis jaringan lunak, dapat mem-
berikan informasi yang bermanfaat sesuai tujuan perawatan yaitu
regenerasi jaringan periodontium. Penilaian dilakukan dengan
membuat model cetakan tulang pada waktu pembedahan per-
tama dan pembedahan kedua,yang kemudian dibandingkan
(1,2,14)
.
Teknik pengukuran secara linear terhadap perubahan jaring-
an keras gigi, ditentukan dan beberapa titik yaitu: 1) Tinggi
puncak tulang alveolar, yaitu jarak dan batas semen enamel ke
puncak tulang alveolar, 2) Kehilangan tulang, yaitu jarak dari
batas semen enamel ke dasar kerusakan tulang, 3) Dalamnya ke-
rusakan, yaitu jarak dan puncak tulang alveolar ke dasar keru-
sakan tulang, 4) Kedalaman probing pada kerusakan daerah
furkasi horizontal, yaitu jarak dan permukaan bukal atau lingual
daerah furkasi yang mengalami kerusakán, ke permukaan luar
dan kedudukan probe pada lekukan furkasi
(14)
.
Perlu adanya standar teknik pemotretan, untuk menilai
regenerasi tulang alveolar. Walaupun terdapat standar teknik pe-
motretan, gambaran radiografis tidak dapat memperlihatkan
topografi keseluruhan daerah tulang sebelum dan sesudah pe-
rawatan. Beberapa peneliti menyatakan bahwa pemeriksaan
radiografis kurang akurat dibanding probing secara klinis
(29)
.
Pemakaian teknik digital komputer substraction radiography
akan menghasilkan gambar yang baik. Hasilnya dapat memper-
lihatkan perubahan tinggi puncak tulang dan dasan kerusakan
yang berdekatan dengân permukaan akar, perubahan kepadatan
tulang, perubahan persentasi jaringan penyangga gigi pada setiap
akar gigi
(14)
.
Analisis radiografis dan re-entry operations dilakukan un-
tuk mengukun regenerasi tulang pada kerusakan tulang angular
sebelum dan sesudah perawatan. Analisis ini tidak dapat mem-
perlihatkan adanya pembentukan sementum baru pada permukaan
akar dan ligamentum periodontal baru
(1)
.
Regenerasi jaringan periodontium dan perlekatan baru hanya
dapat ditentukan secara tepat melalui pemeriksaan mikroskopis.
Penilaian regenerasi jaringan diperlukan bukti adanya sementum
baru dan pertumbuhan ligamentum periodontal ke arah koronal
tulang alveolar, serta pembentukan perlekatan baru secara se-
mpurna. Penilaian histologis perlekatan baru hanya membutuhkan.
bukti terbentuknya sementum baru dengan pertumbuhan serat
kolagen di antaranya
(14)
.
RINGKASAN
Tujuan perawatan periodontal tidak hanya bermaksud meng-
hentikan penyakit periodontal, tetapi juga menggantikan bagian
jaringan penyangga yang mengalami kerusakan. Proses regene-
rasi jaringan, perbaikan jaringan dan pembentukan perlekatan
baru merupakan aspek-aspek yang terdapat pada penyembuhan.
Setelah perawatan regenerasi terjadi dan pertumbuhan jaringan
dari jenis yang sama atau prekursornya. Bedah rekonstruktif di-
perlukan untuk membantu regenerasi tulang, antara lain dengan
graft tulang dan guided tissue regeneration. Penilaian regenerasi
jaringan dapat dilihat secara klinis, radiografis, tindakan bedah
atau re-entry surgery dan pemeriksaan histologis.
KEPUSTAKAAN
1. Lindhe J. ed. Textbook of Clinical Penodontology. Philadelphia: WB
Saunders 1983; 410­30.
2. Carranza Jr FA. Glickman's clinical pei-iodontology. 7th ad. Philadelphia:
WB Saunders 1990; 555­562, 836­59.
3. Nyman S, Lindhe J, Karnng T, Rylander H. New attachment following
surgical treatment of human periodontal disease. J Clin Periodontol 1982;
9: 290­96.
4. Weinstrom J, Lindhe J. Plaque-induced gingival inflammation in the
absence of attached gingiva in dogs. J Clin Periodontol 1983; 10: 266­76.
5. Nyman S, Karring T, Lindhe J, Planten S. Healing following implantation
of periodontitis affected roots into gingival connective tissue. J Clin
Periodontol 1' 0; 7: 394­401.
6. Goldman HM, Cohen DW. Periodontal therapy. 6th ad. St Louis: CV.
Mosby 1980; 721­32.
7. Wikesjo U ME, Nilveus RE, Selvig KA. Significance of early healing
events on periodontal repair : A review. J Periodontol 1992; 63: 158­65.
8. Melcher AH. On the repair potential of periodontal tissue. In Lindhe J.
Textbook of Clinical Periodontology. Philadelphia: WB Saunders 1983;
410-30.
9. Ramfyord SP. Experimental periodontal treatment in rhesus monkeys. In
Carranza Jr FA. Glikman's Clinical Periodontology. 7th ed. Philadelphia:
WB Saunders 1990; 836­59.
10. Wirthlin MR. The current status of New Attachment Therapy. J
Periodontol 1981; 52: 529-44.
11. Karring T, Nyman S. Lindhe J. Healing following implantation of perio-
dontitis affected roots into bone tissue. J Clin Periodontol 1980; 7:96­105.
12. Proye M, Poison AM. Effect of root surface alterations on periodontal
healing. 1. Surgical denudation. J Clin Periodontol 1982; 9: 428­40.
13. Caffesse RG, Nasjleti CE, Anderson GB, Lopatin DE, Smith BA,
Morrison EC. Periodontal healing following Guided tissue regeneration
with citric acid and fibronectin application. J Periodontol 1991; 62: 21­29.
14. Lynch SE. Methods for evaluation of regenerative procedures. J Periodon
tol 1992; 63: 1085­92.
15. Isidor F, Attstrom R, Karnng T. Regeneration of alveolar bone following
surgical and non surgical periodontal treatment. J Ciin Periodontol 1985;
12: 687­96.
16. Gottlow J, Nyman S, Karring T, Lindhe J. New attachment formation as
the result of controlled tissue regeneration. J Clin Periodontol 1984; 11:
494-503.
17. Karring T, Nyman S. Lindhe J. Healing following implantation of perio-
dontitis affected roots into bone tissue. J Clin Periodontol 1980; 7:96­105.
18. Isidor F, Karr ngT, Nyman S. Lindhe J. The significance of coronal growth
of periodontal ligament tissue for new attachment formation. I Clin Perio-
dontol 1986; 13: 145­150.
19. Nyman S, Gottlow J, Karring T, Lindhe J. The regenerative potential of the
periodontal ligament. An experimental study in the monkey. J Clin Perio-
dontol 1982; 9: 157­265.
20. Gottlow J, Nyman S, Lindhe J, Karnng T, Wennstrom J. New attachment
formation in the human periodontium by guided tissue regeneration. J Clin
Periodontol 1986; 13: 604­16.
21. Klinge B, Nilveus R, Engelberg I. Bone regeneration pattern and ankylosis
in experimental furcation defects in dogs. I Clin Periodontol 1985; 12:
456­64.
22. Karring T, Nyman S. Lindhe J. Healing following implantation of perio-
dontitis affected roots into bone tissue. J Clin Penodontol 1980; 7:96-105.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
26
background image
23. KarringT, Isidor F, Nyman S. Lindhe J. New attachment formation on
teeth with a reduced but healthy periodontal ligament. J Clin Periodontol
1985; 12: 51­60.
24. Warrer K, Karnng T. Effect of tisseel on healing after periodontal flap
surgery. J Clin Periodontol 1992; 19: 449­54.
25. Flores-de-Jacoby L, Zimmermann A, Tsalikis L. Experiences with Guided
tissue regeneration in the treatment of advanced periodontal disease. J Clin
Penc,dontol 1994; 21: 113­17.
26. Kersten BG, Chamberlain AD, Sam Khorsandi, Wikesjo UM, Selvig K,
Nilveus R. Healing of the intrabony periodontal lesion following root
conditioning with citric acid and wound closure including an expanded
PTFE membrane. J Periodontol 1992; 63: 876­882.
27. Caffesse RG, Holden M, Kon S, Nasjleti CE. The effect of citric acid and
fibronectin application on healing following surgical treatment of natur-
rally occurring periodontal disease in beagle dogs. J Clin Periodontol
1985; 12: 578­590.
28. Listgarten MA. Periodontal probing: What does it mean?. J Clin Periodon-
tol 1980; 7: 165­176.
29. Lang NP, Hill RW. Radiographs in periodontics. J Clin Periodontol 1976;
4: 16.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 27