background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Radikal Bebas - Sifat dan Peran dalam
Menimbulkan Kerusakan/Kematian Sel
Retno Gitawati
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Salah satu penyebab kerusakan sel/jaringan adalah akibat
pembentukan radikal bebas. Radikal bebas adalah produk-antara
yang terbentuk dalam berbagai proses reaksi dari metabolisme
sel
(1,2)
. Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir banyak studi di-
lakukan untuk mengetahui peran radikal bebas dalam menimbul-
kan kerusakan sel dan terjadinya bermacam kelainan tubuh.
Salah satu radikal bebas yang banyak dipelajari dan dikenal ber-
sifat toksik bagi sel hidup adalah radikal bebas oksigen (super-
oksida) dan derivatnya (radikal hidroksil). Berbagai proses
metabolisme dalam tubuh manusia menghasilkan radikal bebas
yang berbal namun dalam keadaan fisiologik tubuh kita
memiliki mekanisme proteksi yang menetralkan radikal bebas
tersebut, antara lain dengan adanya enzim-enzim yang bersifat
scavenger terhadap radikal bebas.
Tulisan ini bermaksud mengulas secara ringkas apa, bagai-
mana dan mekanisme biokimiawi radikal bebas dalam menim-
bulkan kerusakan dan kematian sd, dan scavenger-nya.
APA DAN BAGAIMANA TERBENTUKNYA RADIKAL
BEBAS
Radikal bebas adalah suatu atom, gugus atom atau molekul
yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan
pada orbital paling luar
(1,2,3)
, termasuk di antaranya adalah atom
hidrogen, logam-logam transisi dan molekul oksigen. Adanya
"elektron-tidak-berpasangan" menyebabkan radikal bebas (di-
beri simbol R.) secara kimiawi sangat reaktif. Radikal bebas
dapat bermuatan positif (kation), negatif (anion) atau tidak ber-
muatan.
Secara umum, radikal bebas dapat terbentuk melalui salah
satu cara sebagai berikut
(2)
: (i) melalui absorpsi radiasi (ionisasi,
uv, radiasi sinar tampak, radiasi panas), atau (ii) melalui reaksi
redoks, dengan mekanisme reaksi fisi ikatan homolitik (a) atau
pemindahan elektron (b):
A:B ­­­­­> A· + B· (a) A:B A: + B
A : + B ­­­­­> A· + B· (b)
Pengaruh radiasi ionisasi terhadap materi biologik akan
menghasilkan bermacam-macam radikal bebas yang kompleks,
terutama radikal hidrogen (H.), hidroksil (OH.), dan elektron,
yang siap berinteraksi dengan biomolekul-biomolekul lain yang
berdekatan. Energi panas juga dapat menghasilkan radikal bebas.
Secara umum, suhu tinggi dibutuhkan untuk memecahkan ikatan
kovalen, tetapi beberapa ikatan yang relatif tidak stabil dapat
dipecahkan secara homolitik pada suhu 30° ­ 50°C. Senyawa-se-
nyawa demikian sebagian besar merupakan pencetus (initiator)
reaksi pembentukan radikal bebas. Zat-zat organik ataupun xeno-
biotik yang terpapar suhu tinggi, misalnya polutan, sampah
organik yang dibakar, rokok yang terbakar, menghasilkan cam-
puran berbagai radikal bebas yang kompleks
(2)
. Beberapa reaksi
redoks penghasil radikal bebas membutuhkan katalisator, biasa-
nya logam transisi atau suatu enzim (metaloenzim atau flavo-
protein).
Berbagai proses metabolisme normal dalam tubuh dapat
menghasilkan radikal bebas dalam jumlah kecil sebagai produk.
antara. Didalam sel hidup radikal bebas terbentuk pada membran
plasma dan organel-organel seperti mitokondria, peroksisom,
retikulum endoplasmik dan sitosol; melalui reaksi-reaksi enzi-
matik fisiologik yang berlangsung dalam proses metabolisme
(4)
.
Proses fagositosis oleh sel-sel fagositik termasuk netrofil, mo-
nosit, makrofag dan eosinofil, juga menghasilkan radikal bebas,
yaitu superoksida (O
2
­
·)
(1)
.
RADIKAL BEBAS OKSIGEN DAN DERIVATNYA
Seperti telah disinggung di atas ada beberapa jenis radikal
bebas. Tiga di antaranya diulas lebih lanjut berikut ini:
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 33
background image
1) Radikal superoksida (O
2
­·)
Radikal ini merupakan jenis yang paling banyak: diteliti,
dan terbentuk bila 1 molekul O
2
menerima 1 elektron.
O
2
­­­­­> O
2
­·
Superoksida bersifat oksidan atau reduktan, dapat bereaksi
dengan berbagai substrat biologik. Reaktifitas O
2
· sangat ter-
batas karena adanya dismutasi spontan yang dapat terjadi pada
pH fisiologik, membentuk H dan O
2
· Tetapi dengan terba-
tasnya reaktifitas O
2
-
menyebabkan radikal ini dapat berdifusi
dan bereaksi dengan substratnya dalam jarak yang relatif lebih
jauh dari tempat asalnya.
2) Hidrogen peroksida
Penambahan 1 elektron pada radikal O
2
-
menghasilkan ion
peroksida O
2
2-
yang tidak bersifat radikal, dan pada pH fisiologik
akan segera mengalami protonasi membentuk H
2
O
2
. Derivat
oksigen ini bersifat oksidan kuat tetapi bereaksi lambat dengan
substrat organik, dan dianggap toksik pada kadar tinggi. Meskipun
bukan radikal bebas, akumulasi H
2
O
2
dapat berbahaya bila ter-
dapat bersama-sama dengan logam (Fe, Cu) atau zat-zat kelator
(chelating agents)
(1,3)
karena akan bereaksi membentuk radikal
hidroksil yang sangat reaktif. Akumulasi hidroperoksid secara
langsung bersifat toksik dan dapat menginaktifasi enzim-enzim
dengan cara oksidasi terhadap residu asam amino (mis. metionin,
histidin, sistein, lisin) atau memperantarai reaksi polimerasi.
3) Radikal hidroksil (OH.)
Reaksi fisi homolitik ikatan O-O pada H
2
O
2
menghasilkan 2
molekul radikal hidroksil, OH.. Reaksi homolitik ini dapat
terjadi karena pengaruh panas atau radiasi ionisasi. Selain itu,
radikal hidroksil juga dapat terbentuk dari H dengan adanya
ion-ion logam (Fe
2+
,Cu
+
), menurut reaksi Fenton, dan dengan
adanya kelator melalui reaksi Haber-Weiss
(1,3,4)
.
(i) Fe
2+
+
H
2
0
2
­­­­>
Fe
3+
+ OH· + OH-
(ii) Cu
+
+
H
2
0
2
­­­­>
Cu
2+
+ OH· + OH-
(iii) Me
n+chel
+ 0
2
­·
--­­>
Me
(n­1)+chel
+ 0
2
Me
(n­1)+chel
+ H
2
O
2
­­­­> Me
n+chel
+ OH
­
+ OH·
Radikal hidroksil adalah oksidan yang sangat reaktif dan
tidak stabil. Ia dapat bereaksi dengan hampir semua substrat bio-
logik. Karena sangat reaktif efek radikal ini hanya berlangsung di
daerah yang dekat dengan tempat terbentuknya, dan dalam kon-
disi fisiologik normal tidak ditemukan radikal hidroksil dalam
kadar yang besar.
SIFAT-SIFAT RADIKAL BEBAS
Radikal bebas bersifat sangat reaktif, dapat menimbulkan
perubahan kimiawi dan merusak berbagai komponen sel hidup
seperti protein, gugus tiol non-protein, lipid, karbohidrat, nukleo-
tida
(4)
. Terhadap protein, radikal bebas dapat menyebabkan
fragmentasi dan cross-linking, sehingga mempercepat terjadinya
proteolisis. Pengaruh radikal bebas pada gugus tiol enzim akan
menyebabkan antara lain perubahan dalam aktifitas enzim ter-
sebut. Terhadap lipid menyebabkan reaksi peroksidasi yang
akan mencetuskan proses otokatalitik yang akan menjalar sam-
pai jauh dari tempat asal reaksi semula. Terhadap nukleotida
radikal bebas akan menyebabkan terjadinya perubahan struktur
(DNA atau RNA) yang menyebabkan terjadinya mutasi atau
sitotoksisitas.
Perusakan sel oleh radikal bebas reaktif didahului oleh
kerusakan membran sel
(2)
, dengan terjadi rangkaian proses se-
bagai berikut:
(a) terjadi ikatan kovalen antara radikal bebas dengan kompo-
nen-komponen membran (enzim-enzim membran, komponen
karbohidrat membran plasma, sehingga terjadi perubahan struk-
tur dari fungsi reseptor;
(b) oksidasi gugus tiol pada komponen membran oleh radikal
bebas yang menyebabkan proses transpor lintas membran ter-
ganggu;
(c) reaksi peroksidasi lipid dan kolesterol membran yang me-
ngandung asam lemak tidak jenuh majemuk (PUFA = poly
unsaturated fatty acid). Hasil peroksidasi lipid membran oleh
radikal bebas berefek langsung terhadap kerusakan membran
sel, antara lain dengan mengubah fluiditas, cross-linking, struktur
dan fungsi membran; dalam keadaan yang lebih ekstrim akhirnya
akan menyebabkan kematian sel.
Efek biologik peroksidasi lipid membran bergantung antara
lain pada populasi sel yang bersangkutan dan profil asam lemak
pada membran fosfolipid. Contoh, membran mitokondria dan
mikrosom sensitif terhadap peroksidasi lipid karena kandungan
PUFA pada fosfolipid membran cukup tinggi. Umumnya semua
membran peka terhadap reaksi peroksidasi lipid dalam derajat
yang berbeda-beda.
Kerusakan struktur subseluler secara langsung mempenga-
ruhi pengaturan metabolisme. Sebagai contoh adalah: disrupsi
membran lisosom menyebabkan penglepasan enzim-enzim
hidrolitik lisosom yang selanjutnya mampu memperantarai
pengrusakan intraseluler, dan memperkuat kemampuan radikal
bebas dalam menginduksi kerusakan sel
(5)
.
Dalam keadaan normal tubuh kita memiliki mekanisme per-
tahanan terhadap pengrusakan oleh radikal bebas yang beragam,
efisien dan tersebar di berbagai tempat dalam sel. Menurut
konsep radikal bebas, kerusakan sel akibat molekul radikal baru
dapat terjadi bila kemampuan mekanisme pertahanan tubuh
sudah dilampaui atau menurun
(2)
.
RADIKAL BEBAS OKSIGEN SEBAGAI MEDIATOR
PROSES PATOFISIOLOGIK
Proses patofisiologi yang melibatkan pembentukan radikal
bebas dengan terjadinya kerusakan jaringan, banyak dipelajari
terutama mengenai iskemia (jantung dan SSP) dan terjadinya
proses inflamasi akut. Penyakit-penyakit degeneratif, proses
penuaan dan kanker juga banyak dihubungkan dengan terben-
tuknya radikal bebas oksigen. Pada iskemia SSP, radikal bebas
yang terbentuk terutama mempengaruhi lipid membran
(3)
. Di-
temukan zat-zat yang dapat menghambat pembentukan dan/atau
efek radikal bebas, yang diduga dapat pula menghambat keru-
sakan SSP akibat iskemia, contohnya, antiinflamasi non-steroid
dan mannitol
(3)
.
Pada iskemia, radikal bebas superoksida terbentuk dari
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
34
background image
hipoxantin yang merupakan hasil degradasi ATP. Reaksi ini
dikatalisis oleh xantin oksidase (tipe-O), yang merupakan hasil
konversi dari xantin dehidrogenase (tipe-D) dan terbentuk pada
keadaan patologik (iskemia) karena energi rendaH
(6,7)
.
tipe-O
hipoxantin
­­­­­­­­­>
xantin
+
O
2
­·
Proses inflamasi diperantarai oleh sintesis prostaglandin
yang dikatalisis oleh siklo-oksigenase. Produk-antara pada tahap
sintesis ini adalah terbentuknya radikal bebas
(3)
. Selain itu,
aktifasi sel-sel fagosit sebagai mekanisme imunologik normal
dalam meregulasi proses inflamasi (antara lain dengan merubah
permeabilitas vaskuler dan pembentukan faktor-faktor kemo-
taktik), juga akan menghasilkan radikal bebas oksigen
(1,2)
.
Zat-zat yang dapat bereaksi dengan DNA, sangat potensial
bersifat karsinogenik. DNA yang terpapar sistim penghasil ra-
dikal bebas oksigen, misalnya radikal hidroksil (OH.) reaktif
yang terbentuk dengan adanya ion-ion logam transisi, akan
mengalami pemecahan dan degradasi rantai desoksiribos
(1,2)
.
Efek mutagenik radikal superoksida yang terbentuk selama
aktifasi sel-sel fagosit pada inflamasi jaringan kronik, dapat
mendorong terjadinya sel kanker. Zat-zat kimia karsinogen dapat
mengalami aktifasi metabolik menjadi produk-antara radikal
bebas, misalnya metabolisme hidrokarbon polisiklik, amin-
aromatik dan sebagainya; bila terbentuk dekat dengan DNA,
akan bereaksi dengan DNA dan terjadi aktifitas karsinogenik
(2)
.
Dengan bertambahnya usia, radikal bebas yang terbentuk
selama metabolisme normal dapat merusak DNA dan makro-
molekul lain sehingga terjadi penyakit-penyakit degeneratif,
keganasan, kematian sel-sel vital tertentu, yang pada akhirnya
akan menyebabkan proses penuaan dan kematian bagi individu
tersebut. Sejenis pigmen (lipofuscin) yang terakumulasi pada
semua spesies mammalia sejalan dengan bertambahnya usia,
diduga berkaitan dengan terjadinya peroksidasi lipid. Terjadinya
katarak pada usia lanjut diduga antara lain karena proses
peroksidasi lipid akibat terbentuknya radikal superoksida secara
fotokimia oleh efek fotosensitisasi cahaya
(8)
.
SCAVENGER RADIKAL BEBAS
Scavenger radikal bebas adalah suatu substansi atau molekul
yang dapat bereaksi dengan radikal bebas, dan berfungsi me-
netralkan radikal bebas. Scavenger radikal bebas terdapat endo-
gen dalam tubuh kita, maupun berasal dari luar tubuh (eksogen).
Komponen-komponen sel, seperti gula, asam amino tak jenuh,
asam amino yang mengandung sulfur, asam lemak tak jenuh,
dapat bereaksi `menetralkan' radikal bebas. Produksi reaksi ini
akan bersifat kurang toksik terhadap sel dibandingkan radikal
bebas semula atau dengan mekanisme pertahanan ini diusaha-
kan mempertahankan kadar radikal bebas terendah yang tidak
lagi dapat menyebabkan kerusakan komponen sel.
Scavenger endogen berupa enzim-enzim mikrosom hati se-
perti katalase, peroksidase, dan superoksida dismutase (SOD),
secara fisiologik menetralkan pembentukan dan/atau efek radi-
kal bebas yang terbentuk selama proses metabolisme normal
(5,7)
dengan mekanisme sebagai berikut:
Pada keadaan patologik yang antara lain diakibatkan ter-
bentuknya radikal bebas dalam jumlah berlebihan, enzim-enzim
yang berfungsi sebagai scavenger endogen dapat menurun akti-
fitasnya, sehingga memperparah keadaan patofisiologik yang
telah terjadi.
Beberapa antioksidan dan zat/obat-obat seperti vitamin-E
(alfatokoferol), betakaroten, DMTU, allopurinol, kaptopril,
manitol, dalam beberapa penelitian dibuktikan mempunyai
aktifitas sebagai scavenger radikal bebas
(8)
antara lain dengan
mereduksi radikal bebas menjadi bentuk tidak toksik.
KESIMPULAN
Radikal bebas adalah suatu substansi kimia yang bersifat
reaktif karena memiliki "elektron-tidak-berpasangan" pada
orbital paling luar; yang paling banyak dipelajari adalah radikal
superoksida (O
2
-
·) dan radikal hidroksil (OH'). Substansi ter-
sebut mampu merusak berbagai komponen sel sehingga dapat
berakibat terjadinya kerusakan bahkan kematian sel dan berbagai
kelainan tubuh. Sistim biologik dapat terpapar oleh radikal
bebas, baik yang terbentuk endogen sebagai produk antara dalam
proses metabolisme sel, maupun eksternal seperti pengaruh
radiasi ionisasi dan proses pembakaran berbagai polutan.
Meskipun demikian, dalam keadaan fisiologik tubuh memiliki
mekanisme proteksi terhadap efek radikal bebas dengan adanya
enzim-enzim dan antioksidan yang bersifat scavenger.
Berbagai penelitian telah dilakukan terhadap substansi/obat-
obat yang diduga memiliki sifat scavenger radikal bebas antara
lain alfatokoferol (vitamin E), betakaroten, allopurinol, kaptopril
dan sebagainya; sebagian dengan tujuan untuk mengetahui
mekanisme pengrusakan radikal bebas, sebagian lain dengan
tujuan untuk terapi terhadap kelainan-kelainan yang ditimbul-
kan.
KEPUSTAKAAN
1. Halliwell B, Gutteridge JMC. Oxygen toxicity, oxygen radicals, transition
metals and disease. Biochem J 1984; 279: 1­14.
2. Slater TF. Free-radical mechanisms in tissue injury. Biochem J 1984; 222:
1­15.
3. Hess ML, Manson NH. Molecular Oxygen: Friend and Foe. The role of the
oxygen free radical system in the calcium paradox, the oxygen paradox
and ischemia/reperfusion injury. J Mol Cell Cardiol 1984; 16: 969­85.
4. Suyatna FD. Radikal bebas dan iskemia. Cermin Dunia Kedokt 1989; 57:
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 35
background image
25­8.
7. Granger DN, Hoowarth ME, Park DA. lschemia-reperfusion injury: role of
oxygen-derived free radicals. Acta Physiol Scand 1986; 126, Suppl 548:
57­63.
5. Bulkley GB. The role of oxygen free radicals in human disease processes.
Surgery 1983; 94(3): 407­11.
6. McCorcFJM. The superoxide free radical: its biochemistry and
pathophysio logy. Surgery 1983; 94(3): 412­4.
8. Southorn PA, Powis G. Free radicals in medicine. II. Involvement in
human disease. Mayo Clin Proc 1988; (63(4): 390­408.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
36