Peranan Radioterapi pada
Neoplasma Susunan Saraf Pusat
DR. R. Susworo
Bagian Radiologi/Unit Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusmo
Bagian Radiologi RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta
PENDAHULUAN
Radioterapi merupakan salah satu metoda pengobatan pada
penatalaksanaan tumor-tumor ganas di samping metoda lain
seperti pembedahan dan khemo serta imunoterapi. Berbeda hal-
nya dengan pembedahan maka radioterapi merupakan sarana
pengobatan yang relatif masih baru, dan sampai saat ini pengem-
bangan ilmu ini masih berlangsung terus sejalan dengan kemaju-
an di bidang teknologi dengan diciptakannya berbagai sarana
radiasi yang lebih canggih beserta sarana pembantunya. Semua
upaya ini terutama bertujuan untuk memperoleh dosis semaksi-
mal mungkin pada tumor, tetapi seminimal mungkin pada ja-
ringan (sekitamya) sehingga akan diperoleh kematian tumor
tanpa meninggalkan efek samping yang terlalu banyak.
PENATALAKSANAAN RADIASI TUMOR OTAK
Pengobatan terpilih tumor otak adalah ekstirpasi radikal
(1)
namun apabila hal ini tidak dapat dilakukan maka dekompresi
merupakan hal yang harus dikerjakan semaksimal mungkin.
Selanjutnya radiasi diberikan sebagai pengobatan ajuvan setelah
dilakukan pengangkatan tumor tersebut. Tindakan ajuvan ini
dilakukan pada astrositoma (derajat keganasan II, III,IV), epen-
dimoma, oligodcndroglioma, kraniofaringioma, serta kordoma.
Pada kasus-kasus yang tidak lagi resektabel atau tidak layak
operasi ataupun menolak operasi maka radioterapi harus ber-
peran sebagai modalitas tunggal. Kasus ini terjadi pada tumor-
tumor yang letaknya sentral, pada batang otak,ventrikel 3, pada
metastasis otak yang multipel.
Sebagai terapi kombinasi maka radioterapi pada pengobatan
tumor-tumor intrakranial dilakukan setelah pembedahan (radiasi
pasea bedah), yakni bertujuan untuk mengeradikasi sisa-sisa sel
tumor yang masih tertinggal baik secara mikroskopik dan bila
mungkin juga untuk tumor yang masih tampak.
Untuk mencegah terjadinya udem yang mikroskopik pada
parenkim otak yang dapat menambah tinggi tekanan intra-
kranial maka dianjurkan pemberian kortikosteroid dosis tinggi.
Dosis radiasi ditentukan oleh jenis histologik, respons ter-
hadap radiasi, lokasi anatomik dan toleransi jaringan sehat di
sekitarnya. Luas lapangan radiasi ditentukan oleh ekstensi tumor
dan daerah-daerah potensial, seperti halnya radiasi elektif yang
dianjurkan diberikan pada meduloblastoma.
Usia merupakan faktor penting pada anak-anak usia muda,
pada umumnya tumor ini lebih sensitif, tetapi tingkat toleransi-
nya juga rendah.
Teknik radiasi seluruh otak (So; whole brain) serta sebagian
otak (parsial) atau hanya lokal pada lesi yang tampak, sampai saat
ini masih tetap kontroversial.
Berbagai upaya harus dilakukan pada pengobatan radiasi
tumor otak untuk memperoleh basil yang paling optimal, antara
lain :
·
Mengetahui letak tumor (prabedah) secara tepat terhadap
titik-titik anatomi intrakranial tertentu.
Sebelum ada CT Scan, maka pemeriksaan radiologik dengan
kontras (angiografi serebral) merupakan satu-satunya sarana,
pada saat ini dengan CT Scan dapat diketahui dengan tepat selain
lokasi juga volume tumor sehingga dapat ditetapkan volume
target radiasi. Pemeriksaan yang kurang invasif sifatnya ini juga
sangat bermanfaat dalam menilai hasil pengobatan.
·
Penggunaan simulator.
Simulator adalah sarana pembantu pada radioterapi yang
berfungsi untuk meniru (to simulate) alat radiasi yang sebenar-
Dibacakan pada Simposium Tumor Otak, RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, 30
lull 1991.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
26
nya, alat ini dilengkapi pula oleh tabir fluoroskopi dan televisi
sirkit tertutup sehingga dapat ditentukan berbagai lokasi anatomi
dalam tubuh. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pe-
meriksaan CT Sean, maka lokasi daerah penyinaran ditentukan
dengan bantuan simulator ini. Dengan demikian penggunaan
simulator ini akan menjamin ketepatan arah radiasi, dalam arti
tumor akan memperoleh radiasi maksimal dan minimal pada
jaringan sehat di sekelilingnya.
Setelah ditetapkan lapangan radiasi yang definitif dibuat
foto lapangan tersebut, sebagai alat pengecek serta guna do-
kumentasi.
·
Lapangan radiasi ganda (multiple-field irradiation).
Untuk tumor-tumor yang letaknya superfisial biasanya cukup
digunakan satu lapangan radiasi. Cara ini tidak mungkin di-
laksanakan untuk diberikan dalam dua atau lebih arah. Dengan
cara ini maka jaringan sehat yang dilintasi sinar pengion akan
memperoleh dosis yang relatif rendah. Dengan makin rendahnya
dosis radiasi yang diterima oleh jaringan sehat maka diharapkan
makin sedikit efek samping yang timbul.
·
Penggunaan Sistem Perencanaan Pengobatan (Treatment
Planning System). Ini merupakan suatu rangkaian sistem dalam
radioterapi yang membantu perencanaan radiasi, dalam mem-
bantu memilih alat radiasi yang paling sesuai untuk tumor
tertentu, dalam mengetahui penyebaran dosis radiasi dalam
jaringan, membantu perhitungan dosis yang tepat.
·
Menggunakan enersi radiasi yang tepat. Enersi radiasi yang
digunakan berperan pada daya tembus sinar, makin tinggi enersi
pesawat (disebut pesawat super atau megavolt), makin tinggi
daya tembus sinar. Sehingga makin dalam lokasi tumor makin
tinggi enersi radiasi yang dipilih. Untuk tumor-tumor superfisial
lebih menguntungkan apabila digunakan pesawat dengan enersi
rendah (ortovolt atau elektron). Pada tumor otak maka enersi
yang digunakan pada umumnya adalah dari kobalt 60, atau
akslerator linier 4-6 MV.
·
Kombinasi dengan metode lain. Di samping kombinasi
dengan pembedahan, dalam radioterapi dikenal pula kombinasi
antara radiasi eksterna dengan radiasi interna. Radiasi intema,
yang lebih dikenal dengan brakiterapi, adalah sarana pengobatan
radiasi dimana sumber radiasi dimasukkan ke dalam tumor serta
jaringan sekitarnya guna memperoleh dosis maksimal pada tumor.
Berbeda halnya dengan radiasi eksterna (teleterapi), maka di sini
jaringan yang "jauh" dari tempat pemasangan sumber radiasi
tidak atau kurang memperoleh radiasi. Dengan demikian di-
harapkan sel tumor mengalami kematian sebanyak-banyaknya
tetapi jaringan sehat dapat terpelihara dengan baik.
Sumber brakiterapi yang digunakan untuk tumor otak pada
saat ini adalah Iridium (192 Ir).
·
Penggunaan sarana pembantu radioterapi.
Untuk memperoleh basil yang optimal diperlukan sarana
pembantu yang pada umumnya bersifat mekanik. Masker, yang
terbuat dari plastik keras (polivinil klorida) adalah basil cetakan
positif wajah pasien yang berguna untuk fiksasi kepala pasien
tersebut selama radiasi agar tidak terjadi simpangan lapangan
radiasi akibat rotasi kepala serta deviasi pada aksis longitudinal.
Penopang kepala terbuat dari kayu berguna untuk mengatur
tinggi rendahnya kepala pada saat radiasi sehingga selain di-
peroleh posisi yang paling nyaman juga dapat dibatasi lapangan
radiasinya.
Karena bentuk kepala yang tidak menguntungkan untuk
memperoleh penyebaran dosis radiasi yang homogen dalam ja-
ringan otak, maka diperlukan bantuan sarana lain berupa wedge
(penyaring berbentuk baji terbuat dari timah), atau lilin (wax)
yang berguna untuk kompensator bentuk kepala tadi. Baik
masker, penopang, penyaring baji ini individuil sifatnya.
Untuk pasien kecil atau bayi, pada meduloblastoma misal-
nya, diperlukan pula fiksasi seluruh tubuh yang memerlukan
kreativitas tersendiri dalam pembuatannya.
TINJAUAN HASIL PENGOBATAN
Akan dibahas faktor-faktor prognosis serta basil pengobat-
an tumor otak dengan angka kekerapan terbanyak.
Astrositoma
Pada umumnya dianut terapi radiasi seluruh otak (SO) pada
astrositoma derajat keganasan 3 dan 4 sampai dosis 40 Gy,
kemudian dilanjutkan dengan radiasi lokal terbatas pada tumor
sehingga dosis mencapai 50-60 Gy, sedangkan untuk tumor
dengan derajat keganasan 1 dan 2 lebih disukai untuk memberi-
kan dosis penuh tadi pada lapangan terbatas pada tumor.
Path tumor-tumor dengan derajat keganasan 3 dan 4, maka
faktor-faktor prognosis yang mempengaruhi basil pengobatan
antara lain : Usia, status performans, luas reseksi, serta pengecil-
an tumor setelah pemberian radiasi
(2)
. Makin muda usia pende-
rita makin baik prognosisnya (kelompok umur 18-39 tahun vs
kelompok umur 40-59 tahun). Status performans berdasarkan
skala Karnofsky memperlihatkan bahwa skala 70-100 mem-
punyai harapan hidup yang lebih baik dibandingkan mereka
dengan skala Karnofsky di bawahnya.
Terdapat hubungan antara prognosis dengan luasnya pem-
bedahan. Chang et al. (1983) melaporkan basil pengdbatan 18
bulan pasien-pasien yang hanya dilakukan biopsi, dilakukan
reseksi parsial, atau reseksi total berturut-turut 15, 25, dan 34
persen
(3)
. Analisis lain dari Nelson (1985) mendapatkan basil
pengobatan 3 tahun 33,3 persen pasien yang hanya menjalani
biopsi vs 60,1 persen yang dapat dilakukan reseksi parsial.
Perbedaan ini bermakna. Juga ditarik kesimpulan bahwa makin
kecil sisa tumor pasea bedah atau 9 minggu setelah radiasi
makin baik prognosisnya
(3)
.
Pada umumnya dilaporkan tidak terdapat perbedaan yang
bermakna antara ketahanan hidup maupun terjadinya kekam-
buhan pada radiasi seluruh otak dibandingkan dengan radiasi
parsial, dengan catatan bahwa pada metoda yang kedua sebagian
besar jaringan otak akan terjaga fungsinya.
Kristiansen et al. (1981)
(4)
melaporkan hasil pengobatan
pada sebanyak 118 pasien astrositoma tingkat keganasan 3
dan 4 paseabedah yang dengan 3 metoda pengobatan secara
acak. Kelompok I memperoleh radiasi dosis 45 Gy ditambah
dengan bleomycin; kelompok II radiasi sama dengan kelompok
I tetapi diikuti oleh plasebo; dan kelompok III hanya pengobat-
an suportif saja. Kelompok I dan II tampaknya tidak berbeda
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 27
hasilnya, sedangkan antara kelompok II dan III memperlihatkan
adanya perbaikan dalam lamanya ketahanan hidup pada pasien
yang memperoleh radiasi pascabedah dibandingkan dengan yang
hanya mendapat pengobatan suportif. Menarik bahwa dosis
radiasi paseabedah yang diberikan hanya 45 Gy dibandingkan
dengan penelitian lain yang memberikan 60 Gy namun mem-
berikan nilai ketahanan hidup yang sebanding. Mungkin terdapat
perbedaan dalam hal frekucnsi jenis histologik.
Peneliti lain juga melaporkan bahwa dengan radiasi kon-
vensional, yakni 1,8 - 2 Gy perhari dosis total 60 Gy, yang di-
bandingkan dengan metoda radiasi hiperfraksinasi,1,1 Gy perkali
diberikan sebanyak 2 kali sehari dan dosis total 66 Gy, tidak
didapatkan perbedaan dalam basil pengobatan maupun efek
samping yang timbul
(5)
.
Beberapa peneliti, antara lain Duncan et al. (1986), me-
laporkan bahwa pemberian radiasi dengan partikel neutron tidak
memberikan basil yang lcbih baik, baik dalam ketahanan hidup
maupun kekambuhan dibandingkan dengan pemberian foton
saja
(6)
.
Sejumlah penelitian retrospektif pada astrositoma derajat
keganasan 1 dan 2 setelah menjalani reseksi tidak radikal mem-
perlihatkan peranan radioterapi yang menonjol
(7)
. Sedangkan
Wiuon dan Bloom (1990) menyatakan bahwa manfaat radio-
terapi paseabedah hanya terasa pada kasus-kasus dengan status
performans yang baik. Dengan dosis yang lebih dari 55 Gy di-
dapat kecenderungan peningkatan ketahanan hidup, sekalipun
ini tidak bermakna
(8)
. Tidak terdapat perbedaan dalam basil
pengobatan antara kedua derajat keganasan. Berbeda halnya
dengan derajat keganasan tinggi, pasien-pasien ini setelah
menjalani pembedahan memperoleh radiasi lokal dengan
akselerator linier 5 - 8 MV, terbatas path tumor sebanyak 50-55
Gy selama 6 minggu
(8)
.
Disamping faktor dosis penulis di atas melaporkan bahwa
usia sangat mempengaruhi prognosis; sedangkan penulis lain
(Fazekas, 1977) menyatakan bahwa disamping usia, luasnya
pembedahan, status performans, dan lamanya gejala merupakan
faktor prognosis lain
(7)
.
Analisis terhadap timbulnya kekambuhan menunjukkan
bahwa kekambuhan masih dapat terjadi sampai dengan tahun ke
sepuluh.
Meduloblastoma
Meduloblastoma merupakan neoplasma intrakranial yang
bukan saja paling sering dijumpai pada anak-anak tetapi juga
paling ganas. Duapuluh lima persen dari keganasan ini dijumpai
pada usia lebih dari 16 tahun
(9)
. Operasi merupakan pengobatan
terpilih dan terpenting, dengan tujuan pertama mengurangi
tekanan intrakranial dan efek penekanan lokal, memperoleh
jaringan guna diagnosis, menentukan tingkatan penyakit dan
mengurangi sebanyak mungkin jaringan tumor sebelum pem-
berian pengobatan ajuvan
(10)
.
Beberapa penulis membagi langkah radiasi meduloblas-
toma atas 3 tahap. Yang pertama radiasi seluruh otak sampai
dengan perbatasan vertebra servikalis 3 dan 4, yang diberikan
dari kiri dan kanan sebanyak 3035 Gy yang diberikan dalam
20 fraksi radiasi. Setelah itu lapangan radiasi kiri dan kanan
diperkecil, sambil ditambah lapangan posterior sehingga pada
fosa posterior dan ventrikel 3 dapat diberikan 10 Gy tambahan
dalam 6 fraksi. Tahap terakhir adalah memberikan radiasi
tambahan dari posterior sehingga fosa posterior memperoleh
tambahan 10 Gy lagi yang diberikan dalam 6 fraksi. Bersamaan
dengan itu diberikan radiasi spinal sebanyak 30- 35 Gy, 25 fraksi
pemberian, tergantung pada panjangnya medula spinalis maka
radiasi spinal ini diberikan dalam 1 atau 2 lapangan radiasi.
Dosis-dosis di atas sangat individuil, tergantung pada usia, besar
tubuh serta keadaan umum pasien. Pada tumor-tumor primer
yang 'dab diangkat, tentunya dosis dapat lebih rendah, sedang-
kan pemberian booster dimungkinkan apabila masih terdapat
adanya massa tumor pada pemeriksaan CT Sean pasearadiasi.
Beberapa faktor prognosis dapat disebutkan antara lain sisa
tumor setelah operasi
(9)
; tindakan pengangkatan tumor secara
total atau parsiil memberikan basil yang lebih baik daripada
tumor-tumor yang tidak dapat direseksi, angka ketahanan hidup
5 tahun berturut-turut 76 persen dan 22 persen.
Apabila dosis sebanyak 55 Gy atau lebih dapat diberikan,
maka basil akan lebih baik daripada dosis yang lebih rendah.
Demikian pula pemberian kombinasi radiasi dan khemoterapi
ternyata memberikan basil yang baik. Penggunaan alat radiasi
ternyata juga mempengaruhi basil, pasien-pasien yang memper-
oleh radiasi dengan alat ortovolt 250 - 400 KeV, yang hidup
setelah 5 tahun, 10 tahun dan 20 tahun berturut-turut sebanyak 38
persen, 23 persen, dan 20 persen. Sedangkan apabila digunakan
pesawat megavolt angka-angka di atas menjadi 59 persen, 53
persen, dan 44 persen. Pada pasien-pasien di atas yang juga
memperoleh khemoterapi ajuvan maka ketahanan hidup 5 dan 10
tahun masing-masing menjadi 76 persen. Angka-angka ini tidak
jauh berbeda pada pasien anak-anak. Perbedaan utama antara
meduloblastoma dewasa dan anak terletak pada lokasi tersering
serta asal tumornya. Pada orang dewasa lebih sering pada bagian
lateral dari hemisfer serebeli dan dekat pada sudut serebelo-
pontin, dan berasal lebih wring dari desmoplastik. Tetapi baik
lokasi maupun asal tumor ternyata tidak merupakan faktor
prognostik, sehingga tidak diperoleh perbedaan pada hasil
pengobatan.
Metastasis Tumor di Otak
Otak merupakan salah satu organ yang sering terjangkit
anak sebar tumor ganas dari tempat lain. Karsinoma payudara
dan kanker paru jenis sel kecil merupakan keganasan primer
yang seringkali bermetastasis ke otak secara sistemik, sedangkan
karsinoma nasofaring bermetastasis dengan jalan menginvasi
langsung melalui dasar tengkorak. Radiasi pada tumor sekunder
di otak ini sering dapat memberikan efek paliasi yang memuas-
kan dan cukup mengesankan terutama pada pasien-pasien yang
sudah (soporo) koma. Dengan bertitik tolak pada asumsi bahwa
metastasis serebri selalu multifokal sifatnya, maka pemberian
radiasi adalah seluruh otak sampai 30-40 Gy, ditambah dengan
booster 10-15 Gy pada lesi yang tampak terbesar pada CT Scan.
Pemberian radiasi ini dibarengi dengan pemberian kortikoste-
roid dosis tinggi yang secara bertahap diturunkan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
28
EFEK SAMPING RADIASI
Efek samping yang terjadi tentunya sangat tergantung pada
daerah-daerah yang dilintasi oleh sinar pengion yakni kulit,
subkutis, tulang tengkorak, telinga, tulang sendi temporman-
dibular. Terjadinya cedera akibat radiasi meliputi proliferasi
intima vaskuler dan demielinisasi.
Pada kulit terjadi epilasi rambut setelah dosis 3000 cGy dan
pada umumnya bersifat reversibel, kecuali apabila dosis lebih
dari 5000 cGy. Kerontokan rambut ini seringkali merupakan
salah satu efek samping yang ditakuti pasien terlebih pasien
wanita. Eritema dan deskuamasi kulit merupakan gejala ringan
lain yang biasanya tidak diperhatikan oleh pasien.
Udema jaringan otak merupakan salah satu efek samping
akut radiasi yang tentunya akan memperburuk keadaan klinis
pasien.
Nekrosis radiasi merupakan komplikasi yang seringkali
dilaporkan oleh berbagai peneliti, meskipun frekuensi terjadinya
tidak terlalu tinggi
(11)
.
Jannoun (1990) melaporkan hasil pemeriksaan psikologik
62 pasien dengan tumor primer intrakranial yang memperoleh
radiasi antara periode 19631979 yang dapat dievaluasi selama
3 sampai 20 tahun setelah pengobatan
(12)
. Pada pasien-pasien
tersebut telah dibuktikan tidak didapatkan adanya tumor lagi.
Apabila digunakan parameter WISE (Wechsler Intelligence Scale
for Children), maka diperoleh nilai rata-rata dalam batas normal,
tetapi 23 persen di antaranya berada di bawah batas nilai normal.
Terdapat hubungan bermakna antara inteligensi dengan usia
pasien pada saat memperoleh pengobatan. Usia di bawah 5 tahun
mempunyai nilai rata-rata yang paling rendah, 610 tahun lebih
balk, sedangkan kelompok usia 1115 tahun adalah yang paling
baik. Tidak terdapat hubungan antara keadaan intelektual pasien
dengan jenis kelamin, jenis tumor, lokasi tumor, dan radioterapi
(luas lapangan maupun dosis radiasi).
KEPUSTAKAAN
1.
Luyendijk W. Tumoren van het zenuwstelsel. Oncologie. Zwaveling A,
Zonneveld RJV, Sehaberg A. (eds). Leiden: Stafleu
'
s Wetensehap.
Uitgevermaatseh. 1978. pp. 340-50.
2.
Sheline GE. Radiotherapy for high grade gliomas. Int. J. Radiat. Oncol.
Biol. Phys. 1990; 18: 793-803.
3.
Chang CH, Horton J, Sehoenfield D et at. Comparison of post-operative
radiotherapy and chemotherapy in the multidisiplinary management of
malignant gliomas. Cancer 1985; 52: 99-103.
4.
Kristiansen K, Hagen S, Kollevold T et al. Combined modality therapy of
postoperative irradiation and lack of potentiation of Bleomycin on
survival time : a prospective multicenter trial of the Seandinavian
Glioblastoma Study Group. Cancer 1981; 47: 649-52.
5.
Simpson WJ, Platts ME. Fractionation study in the treatment of glioblas-
toma multifonne. Int. J. Radiat. Oncol. Biol. Phys. 1971; 1: 639-44.
6.
Duncan W, Melelland J, Jack WJL et al. The results of a randomized trial
of mixed sehedule (neutron/photon) irradiation in the treatment of supra-
tentorial grade III and grade IV astrocytoma. Brit. J. Radiol. 1986; 59:
379-83.
7.
Fazekas JT. Treatment of grade I and II brain astrocytomas. The role of
radiotherapy. Int. J. Radiat. Oncol. Biol. Phys. 1977; 2: 661-6.
8.
Whitton AC, Bloom HJG. Low grade glioma of the cerebral hemisphere
in adults : a retrospective analysis of 88 cases. Int. J. Radiat. Oncol. Biol.
Phys. 1990; 18: 781-6.
9.
Bloom HJG, Bessel EM. Medulloblastoma in adults : A review of 47
patients treated between 1952 and 1981. Int. J. Radiat. Oncol. Biol. Phys.
1990; 18: 763-72.
10.
Bloom HJG, Bull J. The treatment and long term prognosis of children
with intracranial tumors : A study of 610 cases, 1990-1981. Int. J. Radiat.
Oncol. Biol. Phys. 1990; 18: 723-45.
11.
Karlsson UL, Brady LW. Primary intracranial neoplasm. Dari : Principles
of Radiation Oncology. Perez CA & Brady LW. (eds.). Philadelphia: JB.
Lippincott. 1987. pp. 408-36.
12.
Jannoun L, Bloom HJG. Long-term psychological effects in children
treated for intracranial tumors. Int. J. Radiat. Oncol. Biol. Phys. 1990; 18:
747-53.
In charity there is no escess (Francis Bacon)
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 29