Peranan Obat
Anti Inflamasi Non Steroid terhadap
Nyeri dan Inflamasi pada
Penyakit Reumatik
Harry Isbagio
Subbagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
R.S. Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Penggunaan medikamentosa hanya merupakan salah satu
mata rantai penanggulangan penyakit reumatik yang terdiri
dari :
1.
Pendidikan dan Psikoterapi
2.
Proteksi sendi
3.
Medikamentosa
4.
Rehabilitasi
5.
Penggunaan alat bantu
6.
Pembedahan
Nyeri dan inflamasi merupakan keluhan utama penderita
penyakit reumatik di samping keluhan lainnya. Berbagai usaha
dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan keluhan ini,
antara lain dengan menggunakan medikamentosa.
Penggunaan medikamentosa pada penyakit reumatik selain
bertujuan untuk menekan nyeri dan inflamasi, bila mungkin,
juga menghentikan perjalanan penyakit reumatik. Hingga saat
ini hanya pada artritis reumatoid dan gout yang telah ada obat
yang dapat mempengaruhi perjalanan penyakitnya. Sebagian
besar penyakit reumatik lainnya diobati dengan obat anti-infla-
masi non-steroid yang telah terbukti dapat menekan rasa nyeri
dan inflamasi, tetapi tidak dapat menghentikan perjalanan
penyakit.
NYERI DAN INFLAMASI PADA PENYAKIT REUMA-
TIK
Nyeri dan inflamasi merupakan tanda bahwa sendi tersebut
telah mengalami gangguan. Hampir semua gangguan reumatik
disertai dengan nyeri atau nyeri dan inflamasi. Perkecualian pada
sendi neuropatik (neuropathic joint), ialah suatu keadaan hi-
langnya rasa nyeri akibat keadaan tertentu seperti tabes dorsalis
atau siringomielia. Rasa nyeri ini penting karena menunjukkan
adanya mekanisme proteksi dari badan. Adanya rasa nyeri
menunjukkan bahwa si penderita harus mengurangi penggunaan
yang berlebihan dari sendi tersebut, sedangkan adanya inflamasi
menunjukkan bahwa si penderita harus mengistirahatkan sendi
tersebut. Pada sendi neuropatik, di mana si penderita tidak
merasa nyeri, telah terbukti akan terjadi kerusakan sendi yang
lebih cepat; selain itu gangguan fungsi baru terjadi setelah ada
kerusakan mekanikal yang nyata. Sebaliknya pada artritis jenis
lainnya gangguan fungsi sudah mulai tampak pada awal penyakit
bersamaan dengan timbulnya rasa nyeri.
Nyeri pada penyakit reumatik terutama disebabkan oleh
adanya inflamasi yang mengakibatkan dilepaskannya mediator-
mediator kimiawi. Kinin dan mediator kimiawi lainnya dapat
merangsang timbulnya rasa nyeri. Prostaglandin berperan dalam
meningkatkan dan memperpanjang rasa nyeri yang disebabkan
oleh suatu rangsangan/stimulus (lihat kaskade inflamasi gam-
bar 1).
Pada artritis reumatoid nyeri dan inflamasi disebabkan oleh
terjadinya proses imunologik pada sinovia yang mengakibatkan
terjadinya sinovitis dan pembentukan pannus yang akhirnya
menyebabkan kerusakan sendi (gambar 2). Pada artritis gout
adanya deposit kristal asam urat pada sinovia/rongga sendi
akan mengakibatkan terjadinya inflamasi. Pada osteoartritis
tidak selalu ditemukan adanya inflamasi, hanya pada kira-kira
40% kasus yang disertai inflamasi yang disebabkan oleh lepas-
nya kristal kalsium-pirofosfat atau serpihan rawan sendi ke
dalam rongga sendi. Osteoartritis ialah penyakit yang bermula
dari gangguan rawan sendi, sedangkan diketahui bahwa rawan
sendi tidak mempunyai persyarafan. Dengan demikian timbul
pertanyaan darimasa asal rasa nyeri pada osteoartritis bila tidak
ada inflamasi? Ternyata nyeri pada osteoartritis dapat disc-
babkan antara lain oleh : 1. Terjadinya mikrofraktur di antara
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
32
trabekulae tulang subkondral, 2. Terjadinya bendungan vena
akibat perubahan bentuk trabekulae
.
tulang subkondral, 3. Re-
gangan dari syaraf periosteal yang berakhir pada osteofit, 4.
Regangan ligamen akibat deformitas atau akibat efusi sendi dan
5. Karena regangan otot.
Hal yang penting ialah membedakan antara nyeri yang
disebabkan perubahan mekanikal dengan nyeri yang disebabkan
inflamasi. Perubahan mekanikal disebabkan oleh perubahan
anatomis yang lanjut akibat beratnya penyakit. Nyeri mekanikal
timbul setelah penderita melakukan aktivitas dan tidak timbul
pada pagi hari atau setelah penderita beristirahat serta tidak
disertai dengan kaku sendi (joint stiffness). Perubahan mekanikal
ini memerlukan pula pengobatan mekanikal seperti artroplasti
(joint replacement) atau artrodesis (joint fusion). Sebaliknya
nyeri inflamasi alcan bertambah berat pada pagi hari saat bangun
tidur dan disertai kaku sendi pagi hari atau setelah duduk lama.
Nyeri inflamasi ini akan berkurang bila diberikan latihan atau
obat anti-inflamasi non-steroid. Pada artritis reumatoid nyeri
paling berat biasanya pada pagi hari, membaik pada siang hari
dan sedikit lebih berat pada malam hari. Sebaliknya pada osteo-
artritis nyeri paling berat pada malam hari, pagi hari terasa lebih
ringan dan membaik pada siang hari.
Ada 2 faktor yang berperanan dalam beratnya rasa nyeri
pada penderita penyakit reumatik, yaitu beratnya penyakit dan
ambang nyeri dari si penderita. Makin bertambah berat penyakit
makin bertambah pula rasa nyen dan bila perjalanan penyakit
dapat dihentikan (remisi) seperti pada artritis reumatoid, maka
rasa nyeri akan pula berkurang. Pasien dengan ambang nyeri
yang tinggi akan merasa sedikit nyeri dan hanya membutuhkan
sedikit obat serta dapat tetap bekerja seperti biasa. Semula di-
anggap bahwa pasien dengan ambang nyeri yang tinggi akan
mengalami kerusakan sendi yang lebih cepat karena penderita
tetap akan menggunakan sendi yang sakit tersebut terus me-
nerus. Hal tersebut didasarkan pada penemuan bahwa pada sendi
neurepatik terjadi kerusakan sendi yang lebih cepat. Tetapi
hingga sekarang belum ada bukti penelitian bahwa pendapat
tersebut benar.
Pada penyakit gout nyeri yang terjadi karakteristik, yaitu
berupa serangan akut yang hebat timbul pada waktu bangun pagi
hari, padahal malam hari sebelumnya penderita tidak merasakan
apa-apa, rasa nyeri dan inflamasi ini biasanya self-limiting dan
sangat responsif dengan pengobatan. Pada artritis reumatoid
dan osteoartritis rasa nyeri timbul sesuai dengan beratnya penya-
kit. Pada artritis reumatoid sifat nyerinya tajam (sharp pain),
sedangkan pada osteoartritis lebih ringan (dull pain). Pada
spondilitis ankilosis rasa nyeri biasanya tidak terlalu hebat, dan
justru pada penyakit ini penderita harus tetap aktif bergerak,
sebagai bagian dari pengobatan untuk mencegah terjadinya
kekakuan.
Pada anak terdapat perbedaan, suatu penelitian pada artritis
kronik juvenil mendapatkan bahwa sebagian besar penderita
hanya merasa nyeri ringan dan tidak ada korelasi antara berat-
nya penyakit dengan rasa nyeri.
Rasa nyeri mengakibatkan gangguan fungsi dan rasa putus
asa dari si penderita, sehingga diperlukan pengobatan untuk
mengatasinya.
PERANAN OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID
Sebagai telah disebut di atas maka obat hanya merupakan
sebagian dari pengelolaan penyakit reumatik, tetapi karena obat
relatif mudah didapat dan cepat memberikan respons, maka
biasanya penderita segera meminta obat kepada dokter, bahkan
sebagai pertolongan pertama banyak yang telah minum obat
sebelum pergi ke dokter. Memang benar bahwa obat dapat
menekan rasa nyeri dan inflamasi, tetapi perlu diingatkan
bahwa di lain pihak dengan hilangnya rasa nyeri tersebut akan
ada kecenderungan dari penderita untuk menggitnakan sendi
tersebut secara berlebihan.
Ada 3 golongan obat utama yang digunakan pada artritis
yaitu analgesik, obat anti-inflamasi non-steroid dan obat spesifik
untuk penyakit tertentu. Pada setiap golongan terdapat lagi ber-
bagai jenis obat yang berbeda. Keberhasilan pengobatan ter-
gantung dari keahlian untuk memilih obat yang tepat dalam dosis
yang tepat untuk pasien yang tepat pada penyakit yang tepat dan
saat yang tepat dari perjalanan penyakit.
Analgesik terdiri dari yang bekerja sentral seperti dihidro-
kodein atau dkstropropoksifen dan yang bekerja perifer seperti
parasetamol, aspirin dan obat anti-inflamasi non steroid. Anal-
gesik hanya dapat menghilangkan rasa nyeri saja, bekerja cepat
setelah beberapa menit dan hilang setelah beberapa jam, pem-
berian dosis kedua memberikan hasil yang sama. Tidak ada
gunanya untuk memberikan analgesik secara reguler, sebaiknya
diberikan apabila penderita memerlukannya. Analgesik sangat
ideal untuk nyeri yang ringan dan intenniten. Analgesik mem-
punyai 2 hambatan penting. Yang pertama ialah tidak adanya
efek anti-inflamasi sehingga tidak dapat diberikan pada ke-
adaan nyeri yang disebabkan inflamasi. Yang kedua ialah pada
penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan kematian;
aspirin dapat menyebabkan asidosis-metabolik dan parasetamol
dapat menyebabkan nekrosis hati. Obat yang bekerja sentral
seperti dekstropropoksifen dapat menyebabkan depresi per-
nafasan, terutama bila dikombinasi dengan depresan SSP seperti
alkohol.
Pada tahun 1971, Sir John Vane membuat hipotesis bahwa
produksi prostaglandin lokal sangat penting dalam proses infla-
masi. Proses inflamasi atau kaskade inflamasi Mb. 1), dimulai
dari suatu stimulus yang akan mengakibatkan kerusakan sel.
Sebagai reaksi terhadap kerusakan maka sel tersebut akan me-
lepaskan beberapa fosfolipid yang di antaranya ialah asam
arakhidonat. Setelah asam arakhidonat tersebut bebas akan se-
gera diaktifkan oleh beberapa enzim, diantaranya lipoksigenase
dan siklooksigenase. Enzim tersebut merubah asam arakhidonat
ke dalam bentuk yang tidak stabil (hidroperoksid dan endo-
peroksid) yang selanjutnya dimetabolisir menjadi leukotrien,
prostaglandin, prostasiklin dan tromboksan.
Sebagian besar OAINS dapat mengurangi inflamasi dengan
cara menghambat kerja enzim siklooksigenase sehingga men-
cegah transformasi asam arakhidonat menjadi prostaglandin
Gambar 1. Kaskade inflamasi
Keterangan :
LTB
4
= leukotrien B4; 0
2
anion superoksid; IL1 = Interleukin1;
cAMP = siklik adenosin monofosfat
yang stabil (PGE2dan PGIz/Prostasiklin). Selain itu OAINS juga
menghambat kerja prostaglandin pada tempat reseptor.
Beberapa GAINS dapat pula menghambat kerja enzim lipo-
oksigenase dan mencegah transformasi asam arakhidonat men-
jadi leukotrien, di antaranya yang cukup poten ialah sodium
meklofenamat dan benoksaprofen, yang kerjanya moderat ialah
sodium dikiofenak dan ketoprofen, sedangkan ibuprofen, na-
proksen, piroksikam dan indometasin tidak punya daya kerja
menghambat enzim lipooksigenase,
Saat ini inflamasi dianggap sebagai akibat dari proses multi-
faktor yang melibatkan proses lokal dan sistemik. Pada artritis
reumatoid dan juga pada osteoartritis, proses inflamasi diawali
dengan suatu stimulus yang merupakan kombinasi dari pencetus
tak dikenal (unknown trigger) dan predisposisi genetik. Terjadi-
lah akumulasi limfosit pada sinovia sendi yang akan mempro-
duksi faktor reumatoid (Gambar 2). Faktor ini berperan dalam
pembentukan kompleks imun yang akan mengaktifkan kom-
plemen,yang mempunyai efek khemotaktik pada neutrofil dan
makrofag. Neutrofil dan makrofag akan bermigrasi ke dalam
sendi di mana kemudian diproduksi anion superoksid, kolagenase,
elastase dan enzim degeneratif lainnya seperti prostaglandin.
Akhir dari proses ini ialah timbulnya nyeri, inflamasi dan proses
destruksi.
Gambar 2. Proses inflamasi pada artritis reumatoid
(4)
Jadi dari berbagai penelitian yang ada, berbagai hipotesis
telah disusun untuk menjelaskan peranan OAINS pada infla-
masi, dan masing-masing hipotesa menjelaskan sebagian dari
mekanisme kerja dari OAINS. Tetapi bagaimana kerja yang
pasti dari OAINS terhadap inflamasi belumlah seluruhnya
diketahui.
Di lain pihak penelitian klinik telah membuktikan bahwa
penggunaan OAINS dapat menekan rasa nyeri dan inflamasi.
Dari sekian banyak GAINS yang telah beredar, Huskisson dkk.
menemukan bahwa walaupun di antara OAINS tersebut tidak
ditemukan perbedaan efektifitas, tetapi terdapat perbedaan indi-
viduil di antara penderita; jadi ada penderita yang merasa cocok
dengan salah satu obat, tetapi tidak cocok dengan obat yang lain
dan sebaliknya. Misalnya penderita A merasa cocok dengan obat
X tetapi tidak cocok dengan obat Y, sebaliknya penderita B
merasa cocok dengan obat Y dan tidak cocok dengan obat X,
walaupun kedua penderita tersebut mempunyai diagnosis dan
gejala klinik yang sama. Implikasi dari penelitian ini ialah
beberapapasien mungkin lebih dahulu perlu mencoba berbagai
OAINS yang berbeda sebelum ditemukan salah satu obat yang
dirasa penderita paling optimal menghilangkan rasa nyeri. Yang
perlu diperhatikan pada waktu mencoba obat tersebut ialah saat
aksi kerja obat tersebut; beberapa obat memerlukan waktu bebe-
rapa hari sedangkan obat yaeg lainnya memerlukan beberapa
waktu beberapa minggu sebelum diperoleh efek yang diingin-
kan.
OAINS memang dapat menghilangkan rasa nyeri dan infla-
masi, tetapi bukan menyembuhkan. Pengobatan yang paling
tepat tentunya dengan menggunakan obat yang dapat meng-
hentikan perjalanan penyakit. Walaupun demikian OAINS
untuk sementara masih diperlukan sebelum obat tersebut di-
temukan.
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah rasa takut terhadap
penyakit. Penjelasan dan pemberian pengertian mungkin akan
mengurangi rasa nyeri karena rasa nyeri akan bertambah apabila
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
34
penderita merasa takut akan penyakitnya.
Seperti telah disebut pada awal dari makalah ini, obat
hanyalah sebagian saja dari penanggulangan nyeri pada penyakit
reumatik; masih ada berbagai tindakan seperti program rehabi-
litasi dan penggunaan alat bantu yang secara bersama dapat
membantu penderita dalam memerangi nyeri dan inflamasi pada
penyakit reumatik, dan akhirnya mungkin penderita memerlu-
kan tindakan pembedahan untuk menanggulangi penyakitnya.
KESIMPULAN
Nyeri dan inflamasi merupakan gejala utama dari penyakit
reumatik. Beratnya rasa nyeri tergantung dari beratnya penyakit
dan ambang nyeri dari penderita. Dikenal nyeri mekanik yang
membutuhkan tindakan operatif dan nyeri inflamasi yang dapat
ditekan dengan OAINS. Analgetik hanya bekerja singkat dan
tidak punya efek terhadap nyeri inflamasi. OAINS bekerja
dengan menghambat enzim siklooksigenase dan lipooksigenase
untuk mencegah transformasi asam arakhidonat menjadi
prostaglandin, prostasiklin, tromboksan dan leukotrien yang
dianggap sebagai penyebab terjadinya gejala nyeri dan infla
masi, walaupun ada pendapat bahwa prostaglandin mempunyai
efek positif terhadap inflamasi.
Mekanisme pasti dari aksi kerja OAINS terhadap inflamasi
belum sepenuhnya diketahui dengan pasti. Secara klinis walaupun
berbagai OAINS mempunyai efektifitas yang sama, terdapat
perbedaan respon individuil di antara penderita. Medikamentosa
hanyalah sebagian dari program dalam mengelola penyakit
reumatik.
KEPUSTAKAAN
1.
Harry Isbagio. Medikamentosa pada osteoartritis: Peranan obat anti-infla-
masi non-steroid, prostaglandin dan interleukin pads rawan sendi. Sim-
posium Osteoartritis KOPAPDI VIII, Yogyakarta, 2430 Juni 1990.
2.
Huskisson EC. Pain in rheumatic disorders and its medical control. Kumpulan
Naskah Lengkap Simposium Nyeri pads Penderita Reumatik. Biennial
Meeting IRA. Jakarta, 9 Mei 1981.
3.
Paulus HE. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs. In: Kelley WN et al (ed).
Texbook of Rheumatology. Third edition. Philadelphia, London, Toronto,
Montreal, Sydney, Tokyo: W.B. Saunders Company. 1989, p. 765.
4.
Weissmann G. Supression of Inflammation in Rheumatoid Arthritis : The
Role of Prostaglandin. In: New Frontiers in Prostaglandin Therapeutics.
Excerpta Medics. 1989, p. 1.
Idleness is only a refuge of weak,mind
(Philip DS Chesterfield)
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992 35