TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Peran Media
untuk Identifikasi Mikroba Patogen
Usman Suwandi
Penelitian dan Pengembangan, PT Kalbe Farma, Jakarta
PENDAHULUAN
Sediaan obat tertentu seperti tablet, sirup, kapsul atau krim
tidak perlu dibuat steril, namun mikroba tertentu atau dalam
jumlah besar dapat menyebabkan infeksi berat atau fatal. Oleh
karena itu walaupun. tidak dibuat steril, kontaminan sediaan
tersebut harus dibatasi jumlahnya. Untuk membatasi jumlah
mikroba perlu dilakukan berbagai cara seperti pemeliharaan
ruang proses, peralatan, penyimpanan bahan maupun penam-
bahan zat pengawet.
Selain pembatasan jumlah mikroba, masing-masing sedia-
an juga harus bebas dari kuman tertentu, terutama yang pato-
genik. Namun demikian antara farmakope satu dengan yang
lain sedikit ada perbedaan dalam membatasi jumlah dan jenis
patogenik yang diuji. Sebagai contoh diambil dari USP-23 dan
European Pharmacopeia. Secara umum syarat jumlah mikroba
pada European Pharmacopeia pada berbagai jenis sediaan
terlihat lebih jelas dan tegas dibandingkan USP (Tabel 1 dan
Tabel 2 ).
Untuk menetapkan bahwa suatu kontaminan merupakan
salah satu mikroba tersebut, mereka harus ditumbuhkan/
dibiakkan terlebih dahulu. Kemudian koloni yang terbentuk
ditumbuhkan pada media spesifik. Hanya mikroba tertentu
yang dapat tumbuh pada media tersebut dengan bentuk dan
warna spesifik. Makin sedikit jenis mikroba yang dapat
tumbuh, maka makin baik media tersebut untuk menetapkan
dan memilah jenis mikroba tertentu. Makin banyak mikroba
yang dapat tumbuh, maka semakin sulit untuk memilah dan
menetapkan jenis kontaminan tersebut. Di samping meng-
gunakan media khusus, konfirmasi jenis mikroba dapat meng-
gunakan berbagai pewarnaan, reaksi ensimatis atau reaksi bio-
kimia, terutama jika identifikasi menggunakan media masih
meragukan/belum memuaskan. Tulisan ini akan mengulas
dasar pemikiran menggunakan media tertentu untuk menetap-
kan dan memilah jenis mikroorganisme tertentu.
Seperti telah disebutkan bahwa masalah utama dalam
menggunakan media adalah spesifisitas media terhadap mik-
Tabel 1. Pengujian mikrobiologi menurut USP-23, 1995
1.
Sedisan suspensi untuk oral :
· Eschericia coli
2.
Sediaan untuk topikal
:
· Staphyloccus aureus
· Pseudomonas aeruginosa
3.
Bahan yang berasal dari alam :
· Jamur dan ragi
· Eschericia coli
4.
Sediaan uretral dan vaginal :
· Jamur dan ragi
Tabel 2. Pengujian mikrobiologi menurut European Pharmacopeia 1997
1. Sediaan untuk topikal dan saluran pernafasan :
·
Angka mikroba
< 100 cfu/gr atau ml
·
Jamur
< 100 cfu/gr atau ml
·
Enterobakteria
< 10 cfu/gr atau ml
·
Bakteri gram negatif lain
< cfu/gr atau ml
·
Pseudomonas aeruginosa
= negatif/gr
·
Staphylococcus aureus
= negatif/gr
2. Sediaan untuk oral dan rektal :
·
Angka mikroba
< 1000 cfu/gr
·
Jamur <
100
cfu/gr
·
Escheacia coli
= negatif/gr
3. Sediaan menggunakan bahan baku dari alam :
·
Angka mikroba
< 1000 cfu/gr
·
Jamur <
100
cfu/gr
·
Bakteri gram negatif
< 100 cfu/gr
·
Enterobakter <
100
cfu/gr
·
Salmonella =
negatif/10
g
·
Eschericia coli
= negatif/g
·
Staphylococcus aureus
= negatif/g
roba tertentu. Sebagai contoh, media yang digunakan untuk
identifikasi dan memilah Salmonella. Dengan menggunakan
media tersebut diharapkan hanya Salmonella yang tumbuh,
ternyata kuman lain juga dapat tumbuh; dengan demikian akan
menyebabkan kesalahan dalam menetapkan jenis mikroba ter-
sebut. Oleh karena itu, untuk memastikan jenisnya, perlu kon-
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 21
firmasi dengan media spesifik lainnya atau dengan cara reaksi
biokimia lainnya.
MEDIA UNTUK ISOLASI DAN IDENTIFIKASI
MIKROBA PATOGEN
Bila mempelajari berbagai farmakope seperti Farmakope
Indonesia - IV 1995; USP-23 1995; European Pharmacopeia
1997 dan British Pharmacopeia -1993, jenis mikroorganisme
patogenik yang harus dibatasi jumlah dan jenisnya yaitu
Eschericia coli, Salmonella sp, Pseudomonas aeruginosa,
Staphylococcus aureus. Untuk menetapkan bahwa suatu kon-
taminan merupakan salah satu dari mikroorganisme tersebut,
farmakope menunjukkan berbagai macam media yang dapat
dipergunakan. Gambar 1, merupakan contoh jenis media dan
karakteristik koloni yang terbentuk seperti dianjurkan oleh
FI-IV. Dalam kenyataannya, menggunakan beberapa jenis
media sekaligus memerlukan banyak waktu dan biaya, karena
itu menggunakan satu jenis media yang paling selektif dan
spesifik akan sangat membantu dan lebih efisien. Untuk dapat
memilih dengan tepat media yang digunakan diperlukan pe-
ngetahuan mengenai komposisi media dan peranan setiap
komponen serta karakteristik mikroorganisme tertentu.
Gambar 1. Media dan morfologi mikroorganisme
Mikroorganisme Jenis
Media
Karakteristik
1. Staphylococcus
aureus
Mannitol salt agar (MSA)
Kuning dengan zona
kuning
Vogel Johnson Agar (VGA) Hitam dikelilingi zona
kuning
Baird Parker Agar (BPA)
Hitam
berkilau
di
kelilingi zona jernih
2. Pseudomonas
aeruginosa
Cetrimide Agar Medium
(CAM)
Pseudomonas Agar Medium-
deteksi fluoresin (PAM-p)
Kehijauan
Kekuningan
3. Salmonella sp.
Bismuth Sulfite Agar (BSA)
Briliant Green Agar (BGA)
Hitam atau hijau
Kecil, transparan, tidak
berwarna atau merah
muda hingga buram,
dikelilingi zona merah
muda
Xylose-Lysine-Desoxycho-
late Agar Medium (XLD)
Merah, dengan atau
tanpa pusat berwarna
hitam
4. Eschericia coli L. Eosin Methylene Blue (L.
EMB)
MacConkey Agar (MCA)
Koloni hitam dengan
kilap logam
Merah bata, dikelilingi
endapan empedu
A. PENGUJIAN E. COLI
E. coli merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang,
uji indole positif dan mampu memfermentasi berbagai kar-
bohidrat seperti glukosa, laktosa, manitol dan arabinosa.
Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan
mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba
yang memfermentasi laktosa seperti E. coli dengan mikroba
yang tidak memfermentasikan laktosa seperti S. aureus; P.
aeruginosa dan Salmonella. Mikroba yang memfermentasi lak-
tosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan
kilap logam, sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh
koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan methylene blue
membantu mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian
jika media ini digunakan pada tahap awal, karena kuman lain
juga tumbuh terutama P. aeruginosa dan Salmonella sp dapat
menimbulkan keraguan. Bagaimanapun media ini sangat baik
untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.
coli.
Media MacConkey Agar mempunyai keistimewaan me-
milah bakteri enterik gram negatif yang memfermentasi lak-
tosa, karena media ini mengandung laktosa, crystal violet dan
neutral red bile salt. Kemampuan E. coli memfermentasi
laktosa menyebabkan penurunan pH, sehingga mempermudah
absorpsi neutral red untuk mengubah koloni menjadi merah
bata dan bile/ empedu diendapkan. Koloni lain (S. aureus; P.
aeruginosa dan Salmonella), bila tumbuh tidak akan berwarna
karena tidak mampu memfermentasi laktosa. Mikroba lain
yang dapat tumbuh pada media ini antara lain Enterobacter;
Proteus; Salmonella; Shigella, Aerobacter; Enterococcus.
Media MacConkey Broth, walaupun tidak tercantum di
FI-IV, sebenarnya media ini bermanfaat sekali dalam memilah
E. coli dari mikroba lain terutama S. aureus, P. aeruginosa dan
Salmonella. Adanya Oxgall dalam media berperanan dalam
menghambat bakteri gram positip lain seperti S. aureus. Kan-
dungan laktosa sangat penting untuk memilah E. coli dari
mikroba lain yang tidak memfermentasi laktosa, terutama P.
aeruginosa dan Salmonella. Fermentasi laktosa oleh E. coli
menyebabkan pH turun. Kondisi asam akan menyebabkan
bromo cresol purple (media berwarna ungu) berubah menjadi
kuning (media berwarna kuning) dan adanya pembentukan gas
yang dapat diamati pada tabung durham. Sedangkan Salmo-
nella dan P. aeruginosa tidak dapat mengubah warna media
karena tidak memfermentasi laktosa, sedangkan mikroba lain
yang mampu memfermetasi laktosa dan mempunyai ekspresi
pada media seperti E. coli adalah Enterobacter aerogenes.
Adapun cara memilah E. aerogenes antara lain dengan reaksi
indole. E. coli mempunyai reaksi positif, sedang E. aerogenes
bereaksi negatif. Dengan sifat tersebut media ini sangat baik
untuk memilah E. coli dari mikroba lain pada tahap awal ter-
utama P. aeruginosa; S. aureus dan Salmonella.
B. PENGUJIAN SALMONELLA SP
Bakteri Salmonella mempunyai karakteristik gram negatif;
berbentuk batang, tidak membentuk spora, aerob/fakultatif an-
aerob. Ia dapat memfermentasi glukosa dengan membentuk
asam/gas dan dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit. Mempunyai
sifat katalase positif dan oksidase negatif serta mudah tumbuh
pada kebanyakan media.
Bismuth Sulfite Agar merupakan media yang sangat spe-
sifik untuk isolasi Salmonella typhii dan spesies lain. Adanya
bismuth sulfite dan brilliant green dapat menghambat pertum-
buhan gram positip dan coliform. Adanya S dalam media akan
diubah menjadi H
2
S yang berperanan mengendapkan besi,
sehingga koloni berwarna coklat-hitam dengan kilap logam,
tampak seperti mata kelinci. Mikroba lain yang dapat tumbuh
antara lain Pseudomonas, Shigella dan Vibrionaceae. Media ini
sangat baik digunakan pada tahap awal untuk memilahkan
Salmonella dari mikroba lain. Sedangkan mikroba lain yang
tumbuh terutama Pseudomonas dapat dipilah dengan media
lain.
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
22
Brilian green Agar mengandung brilian green yang
sangat baik untuk menghambat E. coli dan bakteri yang mem-
fermentasi sukrosa dan laktosa. Garam empedu berperanan
menghambat bakteri untuk batang gram negatif. Media ini
sangat selektif untuk isolasi Salmonella sp. Salmonella typhii
akan berwarna merah dikelilingi zona merah. Pseudomonas
dihambat, tetapi jika tumbuh menyerupai koloni Salmonella
berwarna merah. Untuk menetapkan kontaminan tersebut Sal-
monella atau Pseudomonas diperlukan konfirmasi dengan
media lain.
Xylose-Lysine-Desoxycholate Agar medium digunakan
untuk isolasi Salmonella dan memilah organisme lain dengan
cara memfermentasi xylose, dekarboksilasi lysine dan produksi
H
2
S. Fermentasi xylose sangat lazim bagi kebanyakan organis-
me enterik kecuali, Shigella, Providencia, Edwardsiella. Pada
media ini, Salmonella akan membentuk koloni merah dengan
inti hitam, sedang Pseudomonas dapat tumbuh dengan warna
merah dan Eschericia berwarna kuning. Mikroba lain yang
dapat tumbuh pada media ini antara lain Arizona, Proteus,
Aerobacter, Klebsiella, Citrobacter. Begitu banyak mikroba
yang dapat tumbuh, sehingga media ini kurang dapat memilah
Salmonella pada tahap awal. Lebih baik digunakan untuk tahap
konfirmasi kontaminan Salmonella.
Triple Sugar Iron Agar medium, biasanya digunakan
untuk konfirmasi pengujian E. coli dan dapat digunakan untuk
identifikasi bakteri gram negatif yang memfermentasi deks-
trosa/laktosa/sukrosa dan produksi H
2
S. Dari fungsi tersebut
media ini dapat diusulkan untuk konfirmasi Salmonella dan
memilahkan dari Pseudomonas yang tumbuh pada media lain
BSA dan BGA. Terjadinya fermentasi dekstrosa oleh Salmo-
nella akan menurunkan pH menjadi asam. Kondisi ini akan
menyebabkan perubahan phenol red (media merah) menjadi
kuning. Sedangkan Pseudomonas karena tidak mampu mem-
fermentasi dekstrosa, maka media akan tetap berwarna merah.
Dengan demikian media ini dapat dengan mudah memilah
Salmonella dari Pseudomonas.
C. PENGUJIAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS
Mannitol Salt Agar Medium mempunyai kandungan
garam cukup tinggi, sehingga mikroba lain terutama P. aeru-
ginosa; E. coli; Salmonella akan dihambat pertumbuhannya. S.
aureus cukup tahan terhadap garam tinggi, sehingga dapat
tumbuh dengan warna kuning keemasan dan mediapun berubah
menjadi kuning. Dengan demikian media ini sudah sangat
selektif dan mampu memilah S. aureus dari mikroba lain
terutama ketiga mikroba tersebut. Namun demikian ada juga
mikroba lain yang dapat tumbuh pada media tersebut seperti
jenis Staphylococcus lain dan beberapa mikroba halophili
marine.
Vogel Johnson Agar Medium mengandung mannitol,
tellurite dan lithium chloride yang berperan untuk mengisolasi
bakteri yang bersifat koagulase positip, karena semua yang ber-
sifat koagulase positip akan tumbuh pada media ini. S. aureus
mempunyai koloni hitam sebagai akibat pengendapan hasil
reduksi tellurite. Media di sekitar koloni akan berubah menjadi
kuning akibat fermentasi mannitol. Adanya lithium chloride:
sangat bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan bakteri lain
termasuk E. coli. Namun demikian media ini kurang mampu
memilah S. aurrus karena semua koagulase positip dapat
tumbuh termasuk S. epidermidis dan Proteus.
Baird Parker Agar Medium juga mengandung lithium
untuk menghambat pertumbuhan mikroba lain dan mikroba
bersifat koagulase positip akan tumbuh. S. aureus mempunyai
koloni spesifik berwarna hitam akibat endapan hasil telurite
dan media disekitarnya menjadi jernih. Jenis mikroba yang
dapat tumbuh antara lain Bacillus, Proteus dan yeast.
D. PENGURAN PSEUDOMONAS AERUGINOSA
P. aeruginosa mempunyai karakteristik berbentuk batang,
gram negatif, tidak mampu memfermentasi tetapi dapat meng-
oksidasi glukosa/karbohidrat lain, aerob, katalase positip, oksi-
dase positip dan tidak berspora. Ia dapat tumbuh di air suling
dan akan tumbuh dengan baik dengan adanya unsur Nitrogen
dan Carbon. Mereka banyak dijumpai melimpah dalam air dan
tanah.
Cetrimide Agar Medium biasanya digunakan untuk iso-
lasi Pseudomonas. Kandungan cetrimide yang merupakan
quarternary ammonium merupakan senyawa yang dapat meng-
hambat pertumbuhan bakteri lan, karena menyebabkan kebo-
coran unsur-unsur didalam sel, namun tidak terjadi pada
Pseudomonas. Pada media cetrimide konvensional beberapa
bakteri dapat tumbuh seperti Klebsiella, Proteus dan Provi-
dencia. Untuk menghambat pertumbuhan mereka dapat ditam-
bahkan cetrimide. Pada media ini, P. aeruginosa dapat dibantu
dengan menggunakan media Pseudomonas Selective Medium
yang mengandung Nalidixi acid untuk menghambat pertum-
bunan bakteri lain.
PENUTUP
Dari uraian tersebut dapat dimengerti bahwa tidak ada
media tunggal yang hanya ditumbuhi oleh satu jenis mikroba.
Setiap media dapat ditumbuhi oleh beberapa jenis mikroba.
Makin spesifik suatu media, maka semakin sedikit jenis
mikroba yang dapat tumbuh pada media tersebut, dengan
demikian makin baik media tersebut untuk menetapkan jenis
mikroba kontaminan. Namun karena tidak ada satu jenis media
yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu jenis mikroba, maka
perlu menggunakan kombinasi beberapa media. Bila
menggunakan media seperti dianjurkan oleh Farmakope, pada
umumnya sudah cukup untuk menetapkan jenis mikroba
kontaminan patogen yang dipersyaratkan. Bila menggunakan
beberapa media secara bersama dapat menimbulkan
permasalahan, karena jika kontaminan lebih dari satu jenis
maka koloni pada media yang berbeda mungkin dari jenis
berbeda. Dengan demikian media satu tidak memperkuat
kesimpulan dari media yang lain. Disamping itu, penggunaan
beberapa media secara bersama dapat menjadi pemborosan.
Untuk mengantisipasi hal ini dapat dilakukan satu media
pada tahap pertama dan dilanjutkan dengan media lain jika
hasilnya meragukan. Namun yang menjadi pertanyaan media
mana yang didahulukan. Untuk rnenentukan media yang
dipergunakan maka diperlukan analisa mengenai sifat mikroba
yang diuji dan media yang digunakan. Komponen yang
terkandung pada media dan reaksi/respon yang terjadi bila
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 23
suatu jenis mikroba tumbuh merupakan pengetahuan yang
sangat diperlukan. Dari pengetahuan tersebut maka urutan
media yang digunakan akan lebih mudah ditentukan dan
hasilnya akan saling memperkuat untuk menetapkan jenis
kontaminan tersebut. Namun dengan cara demikian walaupun
dapat menghemat penggunaan media dan jenis kontaminan
dapat ditetapkan dengan yang lebih baik tetapi memerlukan
waktu pengujian lebih lama.
KEPUSTAKAAN
1.
Difco Manual. 1984.
2.
European Pharmacopeia. 1997 ; 83-8.
3.
Farmakope Indonesia-IV. 1995; 847-55.
4. Merck
Manual.
1988.
5.
United States Pharmacopieae-23. 1985 ; 1681-86.
English Summary
(Sambungan halaman 4)
BACTERIA SENSITIVTY AGAINST
QUINOLONES AND CEPHALO-
SPORINES
Agus Sjahrurachman, Widyasari
Kumala, Tassimin Nurjadi
Dept. of Microbiology, Faculty of
Medicine, University of Indonesia,
Jakarta, Indonesia
161 bacterial isolates from
respiratory tract, pus, blood and
faeces consisted of 32 strains of
K. pneumoniae, 32 strains of S.
aureus, 27 strains of Str. beta
hae-molyticus, 9 strains of Str.
pneumo-niae, 30 strains of B.
catarrhalis and 31 strains of E.
coli are sub-jected to test for
Minimal Inhibitory of Antibiotic
Concentration deter-mination.
Result indicate that none of
bacteria tested is resistant to
sparfloxacine. Some bacteria,
however, have been resistant to
ciprofloxacine, cefotaxime or
cefachlor Str. pneumoniae and
Str. beta haemolitycus strains to
ciprofloxacine, K. pneumoniae
and S. aureus strains to cefo-
taxime, K. pneumoniae and E.
coli to cefachlor. In addition,
one strain of Methicillin resistant
S. aureus resistant to all
antibiotic tested is also isolated.
Comparative analyses with
data from abroad indicate that
antibacterial activity of
antibiotics depend upon
species and geo-graphic origin
of the bacteria.
Cermin Dunia Kedokt, 1999; 124: 17-20
As, Wk, Tn
HEPATITIS VIRUS-G: ITS ORIGIN,
MOLECULARBIOLOGY AND CLI-
NICAL APPLICATIONS
Suwarso
Virology-Immunology Dept.,
Clinical Pathology Lab., Faculty of
Medicine, Gadjah Mada
University/Dr. Sardj(to General
Hospital, Yogyakarta, Indonesia
Since 1975, the name PTH
Non-A, Non-B have been pro-
posed as posttransfusion
hepatitis (PTH) that both
seronegative for markers of HBV
and HAV. At least there exist 2
undefined PTH-NANB viruses by
conventional methods. One of
these viruses in 1989 was
discovered by the relatively
new molecularbiology
technology and named
Hepatitis-C virus (HCV), a major
agent PTH-NANB distributed in
different clinical specimens
world-wide by different sub
types. In the middle of 1995 the
imple-mentation of this same
technology have also
discovered 5 new hepatitis
viruses named GBV-A, -B, -C,
HGV, and HTTV that Would be
responsible in 10% of acute-PTH
non-A-C, 18% of community ac-
quired hepatitis, 12% of PTH non-
A-E, and in 8,1% of chronic
hepatitis non A-E.
Cermin Dunia Kedokt, 1999; 924: 39-6
So
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
24