Pengobatan Cacing Askaris dengan Pyrantel
Pamoate
dr. D.
Tandijo,
dr.
Indrawarman,
dr.
Sabdo Walujo
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret/RSU Surakarta
di
Surakarta.
PEN
DAHULUAN
Pyrantel pamoate suatu antelmintik yang diberikan dengan
dosis tunggal bersifat efektif terhadap infestasi Enterobius
vermicularis, Ascaris lumbricoides, Ancylostoma duodenale
dan Necator americanus pada anak-anak dan orang dewasa.
Rumus
kimianya adalah Trans -1,4,5,6, -tetra hydro-l--
methyl-2 (2-(2-thienyl) )-venyl pyrimidine hydrogen pamoate,
merupakan garam berbentuk kristal, tidak larut dalam air dan
tidak mempunyai rasa.
Mekanisme kerjanya terhadap cacing Askaris adalah me-
nyebabkan efek neuromuscular blocking, yang menyebabkan
imobilisasi cacing Askaris sehingga dengan mudah dikeluarkan
oleh peristaltik usus. Obat ini efektif terhadap bentuk mature
atau immature dari parasit-parasit.
Pyrantel pamoate hanya sedikit diabsorbsi oleh saluran
pencernaan pada manusia dan binatang. Sedikitnya setengah
dari jumlah obat yang diberikan dikeluarkan melalui tinja
dalam bentuk yang tidak diubah, dan sebagian lagi berupa
hasil
metabolit dan diekskresikan melalui tinja pula. Dalam plasma
darah hanya didapatkan konsentrasi obat dan
hasil metabolit-
nya yang rendah, dan dikeluarkan melalui aliran darah dalam
jangka waktu 5 jam (1).
Dosis untuk anak adalah 10 mg/Kg bb dosis tunggal;
laxantia tidak diperlukan. Pyrantel pamoate disediakan dalam
bentuk suspensi oral dan tablet. Efek samping yang sering di-
jumpai adalah gangguan gastrointestinal (1).
BAHAN
DAN CARA
Sebanyak 75 anak yang pada pemeriksaan tinja ditemukan
telur cacing Ascaris lumbricoides diikutsertakan dalam penye-
lidikan ini. Umur mereka antara 8 bulan sampai 8 tahun, dan
dirawat di Bagian Kesehatan Anak RSU Surakarta di Surakarta
dengan pelbagai penyakit dalam periode April 1977 s/d Sep-
tember 1977.
Pemeriksaan tinja dilakukan oleh Laboratorium RSU
Surakarta dengan preparat langsung dengan larutan eosin 1%.
Bila pada satu lapangan penglihatan ditemukan telur cacing
)
Telah dibacakan pada Presentasi Kertas Kerja Bebas dalam Mukta-
mar IDI
di
Denpasar, Desember 1978.
Ascaris antara 5 - 10 diberi tanda +, bila lebih dari 10 telur
diberi tanda ++.
Pyrantel pamoate diberikan dalam bentuk oral suspension
dimana 5 ml mengandung 250 mg pyrantel pamoate, dosis
yang diberikan sebagai berikut : 6 bulan sampai 2 tahun : 2½
ml, 2 tahun sampai 6 tahun : 5 ml, 6 tahun sampai 12 tahun :
10 ml. Diberikan dengan dosis tunggal pada sore hari, dan
tidak perlu diberikan laxantia. Kepada keluarga penderita yang
menunggu dan para perawat diminta untuk mengawasi kapan
serta jumlah cacing yang dikeluarkan. Pemeriksaan tinja
ulangan dilakukan pada minggu ke 1 dan minggu ke 3 setelah
pengobatan dengan metode pemeriksaan yang sama.
Kriteria yang kami pakai untuk menilai
hasil pengobatan
berdasarkan kriteria Sjamsir Daili (2) :
· Baik : Cacing dikeluarkan, dan pada waktu pemeriksaan
tinja ulangan tidak ditemukan telur cacing Askaris.
· Memuaskan : Cacing dikeluarkan, dan pada pemeriksaan
ulangan masih ditemukan telur cacing Askaris tetapi
dalam jumlah yang berkurang dari pemeriksaan
pertama.
· Gagal : Cacing tidak dikeluarkan, pada pemeriksaan ulangan
jumlah telur tetap sama seperti sebelum pengobatan.
Karena para penderita dengan berbagai penyakit juga diberi-
obat-obat lain untuk penyakit utama yang dideritanya , maka
suatu gejala dianggap efek samping pyrantel pamoate, jika
gejala tersebut tidak ditemui sebelumnya dan jika menghilang
setelah selesai pengobatan.
HASIL
Hasil pemeriksaan tinja sebelum pengobatan dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel
1 :
Hasil pemerilcsaan tinja sebelum pengobatan
Jenis telur parasit
Jumlah kasus
Persentasi
Askaris
+
48
64.0%
Askaris
++
16
21.5%
Askaris
+
Trichuris
8
10.5%
Askaris
+
Ankilostoma
3
4.0%
Jumlah
75
100.0%
Setelah pengobatan 73 anak mengeluarkan cacing bersama
tinjanya (97.3%), 2 anak tidak mengeluarkan cacing (2.7%);
Cermin Dunia Kedokteran
No. 21, 1981 41
Sebagian besar anak mengeluarkan cacing pada hari pertama
setelah pengobatan (90.6%)
,
lihat Tabel 2
.
Tabel 2 : Hari permulaan cacing keluar
H a r i
Jumlah kasus
Persentasi
1
2
3
68
3
2
90.6%
4.0%
2.7%.
73
Jumlah cacing yang dikeluarkan berkisar antara 4 ekor
sampai 40 ekor (lihat Tabel 3). Sebagian besar kasus me-
ngeluarkan 10 - 20 ekor cacing (42,6%).
Tabel 3 : Jumlah cacing yang dikeluarkan setelah pengobatan
Jumlah cacing
Jumlah kasus
Persentasi
< 10
26
34.5%
10 20
32
42.6%
20 30
10
13.5%
30 40
5
6.7%
Jumlah
73
Hasil pengobatan
yang
kami nilai baik sebanyak 61 anak
(81.3%), memuaskan sebanyak 12 anak (16.0%) dan gagal
sebanyak 2 anak (2.7%). (Tabe14).
Tabel 4 : Hasil Pengobatan
Hasil
Jumlah kasus
Persentasi
Baik
61
81.3%
Memuaskan
12
16.0%
Gagal
2
2.7%
Dari 12 anak dengan hasil pengobatan yang memuaskan
10 anak yang sebelum pengobatan dengan telur Askaris ++,
setelah pengobatan telur Askaris menjadi +.
Pada 2 anak dengan telur Askaris dan Ancylostoma +,
setelah pengobatan kedua telur parasit menjadi negatif. Untuk
8 anak dengan telur Askaris dan Trichuris +, setelah pengobat-
an telur Askaris menjadi negatif sedangkan telur Trichuris
tetap positif, (Tabel 5).
Tabel 5 : Hasil pengobatan pada infestasi campuran
Jenis parasit
Pemeriksaan ulangan
Askaris + Ancylostoma
Askaris +Trichuris
Trichuris +
Hanya 3 dari 75 anak (4.0%) mengalami nausea, muntah-
-muntah, sakit perut, diare dan pusing kepala. Efek samping
bersifat ringan dan sementara dan tidak memerlukan pengobat
an.
PEMBICARAAN
Pengobatan cacing Askaris dengan pyrantel pamoate yang
telah kami lakukan memberikan hasil baik 81.3%, memuaskan
16.0% dan gagal 2.7%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
obat tersebut di atas efektif terhadap infestasi cacing Askaris.
Penyelidikan-penyelidikan terdahulu menunjukkan cure rate
yang tinggi dari pyrantel pamoate
(1, 3, 4, 5, 6).
Pyrantel
pamoate juga efektif terhadap ancylostomiasis ( 4, 5, 7 )
tetapi kasus kami dengan kombinasi cacing Askaris dan cacing
Ancylostoma terlampau sedikit. Menurut WHO (1973) obat
cacing yang dipergunakan untuk pengobatan masal, di samping
memiliki efektivitas yang tinggi juga harus memiliki toxisitas
yang minim, kimiawi stabil, dapat diterima oleh tubuh pen-
derita dan harganya murah. Tetapi sampai sekarang harga
pyrantel pamoate masih jauh lebih tinggi dari obat cacing yang
banyak dipergunakan oleh masyarakat, misalnya piperazine.
Infestasi cacing Askaris dan cacing-cacing lainnya umumnya
berasal dari golongan masyarakat yang sosial ekonominya
rendah dan keadaan sanitasi yang jelek (7,8).
Hasil pengobatan yang kami lakukan menunjukkan bahwa
pyrantel pamoate tidak efektif terhadap Trichuris, sejalan
dengan pendapat pelopor terdahulu (5). Pada hal untuk daerah
Surakarta Trichuris menduduki urutan kedua di antara parasit
usus yang dijumpai pada anak, dan kombinasi cacing Askaris
dan Trichuris menempati urutan pertama (8).
KEPUSTAKAAN
1.Pedro P Chanco Jr, Eusebio Cabe Jr, MS Juliarta Y Vidad. The
efficacy of pyrantel pamoate in the treatment of ascariasis. Asian J
Med 1973; 9:
2. Sjamsir Daili, Emil Jahja, Darfioes Basir, Martono. Treatment of
children with Ascaris lumbricoides with a single dose of Ascaridil.
Paediatr Indons 1972; 12 : 271.
3.Byong-Seol Seo, Jung-Kyoo Lim, Soon-Hyung Lee. Mass Treatment
of ascariasis and hookworm infections with pyrantel pamoate
(Combantrin). Abstracts Twelfth Seameo Tropmed Seminar, Seoul,
1973.
4.Han-Jong Rim, Jung-Kyoo Lim , 3.Byong-Seol Seo. The effect of
pyrantel embonate (Combantrin) against hookworm and other
intestinal nematodes in Korea. Asian J Med 1973; 9 :
5.Kwo E H, H Arbain Jusuf. Efficacy, of pyrantel pamoate (Comban-
trin) in the mass treatment of ascariasis and hookworm infection.
Abstracts, Twelfth Seameo-Tropmed Seminar, Seoul, 1973.
6.Tatsushi Ishizaki. A double blind comparative study of pyrantel
pamoate and piperazine phosphate upon ascariasis. Abstracts.
Twelfth Seameo-Tropmed Seminar, Seoul, 1973.
7.Djauhar Ismail, Utomo, Sugeng Yuwono, Nurhayati S. The use of
anthelmintics in the treatment of ascariasis. Paediatr Indons 1976;
16 : 391.
8.Tandijo D, Indrawarman, Sabdo Walujo, Gunawan S, Mustarsid.
Parasit usus yang terdapat pada bayi dan anak di RSU Surakarta.
Konika IV Yogyakarta 1978.
4 2 Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981