background image
HASIL PENELITIAN
Pengaruh B. thuringiensis H-14
Formula Tepung pada Berbagai Instar
Larva Aedes aegypti di Laboratorium
Amrul Munif
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan , Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Aedes aegypti merupakan salah satu vektor penyakit demam berdarah yang di-
sebabkan oleh virus dengue. Pengendalian populasi terhadap vektor (Ae. aegypti) telah
banyak dilakukan diantaranya dengan menggunakan insektisida baik terhadap dewasa
maupun pradewasa. Secara umum hasilnya memang memuaskan, namun penggunaan
insektisida yang terus menerus dapat merangsang timbulnya kekebalan pada Ae. aegypti.
Salah satu alternatif menggunakan cara menanggulangi permasalahan ini adalah dengan
pengendalian hayati dengan menggunakan Bacillus thuringiensis H- 14. Pentingnya
penggunaan B. thuringiensis H- 14 dalam formulasi tepung tidak menimbulkan efek
samping atau keracunan terhadap manusia maupun organisme yang bukan sasaran lain-
nya. Kejadian ini disebabkan karena daya racunnya yang spesifik terhadap serangga dan
mempunyai spektrum yang sempit. Pengujian B. thuringiensis H- 14 formula tepung pada
berbagai instar larva Ae. aegypti dilakukan dengan cara menyemprotkan B. thuringiensis
pada habitat larva Ae. aegypti dengan 4 macam konsentrasi dan 4 kali ulangan. Rancang -
an yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan faktorial dengan variabel
macam konsentrasi, waktu dan banyaknya ulangan. Pengamatan dilakukan secara
langsung dengan melihat jumlah larva yang lumpuh selama satu jam dan jumlah larva
yang mati selama 48 jam kemudian dilakukan uji daya bunuh B. thuringiensis H-l4 setiap
satu minggu sekali sampai B. thuringiensis H- 14 tidak mempunyai daya bunuh.
PENDAHULUAN
Penyakit demam berdarah dengue telah menyebabkan ke-
sakitan dan kematian yang cukup tinggi setiap tahun. Pada tahun
1983 saja jumlah penderita sebanyak 11 .062 jiwa dengan angka
kematian 442 jiwa (CFR = 4,1%), kemudian pada tahun 1988
jumlah penderita 47.573 jiwa dengan angka kematian 1.527
(CFR = 3,2%); selanjutnya pada tahun 1991 jumlah penderita
sebanyak 21. 120 jiwa dengan angka kematian 578 jiwa (CFR=
2,8%) dan pada tahun 1993 jumlah penderita menurun menjadi
7.392 kasus dengan angka kematian 171 jiwa (CFR = 2,3%);
tahun 1993 jumlah penderita mencapai 14.427 jiwa dengan
angka kematian 461 jiwa (CFR = 3.4%). Kejadian luar biasa
penyakit DBD secara nasional terjadi setiap 5 tahun sekali.
Mengingat sampai saat sekarang belum diketemukan obat
untuk membunuh virus dengue, penanggulangan penyakit ini
berupaperawatan penderita dan pemberantasan vektor. Pengen-
dalian vektor secara kimia untuk memutuskan transmisi penyakit
dilakukan dengan fogging untuk membunuh nyamuk dewasa dan
larvasida dilakukan dengan menebar Abate pada tempat pem-
biakan nyamuk, juga melibatkan masyarakat berupa pembersih-
an sarang nyamuk di lingkungan daerah endemis.
Secara umum penggunaan insektisida sangat berhasil me-
ngendalikan beberapa jenis serangga pengganggu maupun hama;
namun penggunaan insektisida yang terus menerus akan me-
nyebabkan resistensi dari berbagai masalah lingkungan. Salah
satu cara untuk menanggulangi permasalahan tersebut adalah
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 27
background image
dengan pengendalian biotik atau cara hayati.
Pemberantasan dengan carapengendalian biotik merupakan
pengaturan populasi vektor oleh musuh-musuhnya di alam di
antaranya pemangsa, parasit, virus, bakteri maupun cacing yang
hidup pada tempat yang sama dengan cara menyebarkan agen di
tempat pembiakan vektor, sehingga dapat menurunkan populasi
vektor, di samping dampak terhadap lingkungan dapat diperkecil
(Debach, 1974).
Salah satu pengendali hayati yang sedang digalakkan
penggunaannya adalah Bacillus thuringiensis H-14 dengan ber-
bagai formulasi. B. thuringiensis dibagi menjadi beberapa varietas
atau subspecies berdasarkan H. antigen atau serotipe flagella dan
serotipe kristalnya (Aronson et al, 1986); merupakan basil gram
positifaerob ­ artinya untuk pertumbuhannya memerlukan oksi-
gen, soliter atau berantai pendek. Bakteri ini berukuran panjang
3­5 mikron dan lebar 1­1,2 mikron. Endospora berbentuk batang
dan dapat menghasilkan endotoksin pada masa pembentukan
spora (Gibson and Gordon, 1974).
Karakteristik B. thuringiensis adalah kemampuannya untuk
menghasilkan endotoksin yang disebut paraspora crystal (kris-
tal paraspora) yang bersifat toksik terhadap serangga terutama
dari Ordo Diptera dan Lepidoptera (Baumen et al, 1984). Kristal
parasporal dapat berbentuk kubik. bipiramidal, ovoid ataupun
amorph; setiap sel bakteri dapat menghasilkan 2 sampai 3 kristal
parasporal (Tyrell et al, 1981).
Patogenitas B. thuringiensis berkaitan erat dengan toksin
yang dihasilkannya dan sampai saat ini telah diketahui ada 4 jenis
toksin yaitu eksotoksin alpha, eksotoksin beta, eksotoksin gamma
dan endotoksin delta. Eksotoksin alpha dan gamma tidak banyak
dibicarakan karena bukan merupakan komponen yang aktif me-
rusak tubuh induk semang (Burgerjon dan Martouret, 1971).
Eksotoksin beta disebut juga fly toxin atau fly vector yang sangat
toksik dan digunakan untuk membunuh larva Lepidoptera,
Hymenoptera dan Diptera. Toksin ini larutdalam air, tahan panas
dan akan merembes ke dalam media fermentasi padat selama
proses pertumbuhan vegetatif (Dubois dan Lewis, 1981). Ekso-
toksin beta ini terbukti toksis terhadap larva serangga pada fase
pergantian kulit atau selama proses metamorfosa. namun se-
baliknya tidak toksis terhadap serangga dewasa (Bond et al,
1971).
Eksotoksin beta terdiri dari adenin, gula ribosa dan fosfat
dengan perbandingan masing-masing berbanding satu. Ekso-
toksin beta ini mempunyai struktur yang mirip dengan ADP dan
ATP, bekerja menghambat sintesis RNA, terutama RNA poli-
merase yang memenlukan DNA untuk bergerak di sepanjang utas
yang akan ditranskripsi menjadi RNA. Enzim ini memerlukan
empat ribonukleosida tri fosfat (ATP, GTP, CTP dan UTP);
karena struktur eksotoksin beta mirip dengan ATP maka akan
mengakibatkan pertumbuhan rantai RNA terhenti (Sabesta dan
Horska, 1970).
B. thuringiensis menginfeksi inang masuk melalui mulut,
setelah sampai di usus sporanya akan pecah dan menembus
dinding sel. Kemudian masuk ke haemocoel dan berkembang
dalam haemolymph. Dari sinilah baru tersebar ke seluruh tubuh
induk semangnya. Daya racun dari B. thuringiensis disebabkan
oleh larutnya elemen toksik yang terdapat di dalam spora. Proses
pelarutan ini berlangsung di dalam menesteron dengan me-
libatkan enzim proteolitik (Laksma dan Yoni, 1990). Akibat
pengaruh enzim proteolitik dan pH usus yang alkalis dalam
tubuh induk semangnya maka knistal-kristal akan lepas, se-
hingga toksinnya atau racunnya akan ke luar. Racun ini akan
menyebabkan terjadinya pembengkakan sel-sel epitel usus
tengah. Kerusakan struktur dan fungsi usus tengah ini menye-
babkan keseimbangan pH dan ion di dalam hemolimfe ter-
ganggu, akibatnya terjadi kelunipuhan yang mengakibatkan
kematian.
Efektivitas B. thuringiensis dipengaruhi oleh beberapa faktor,
salah satu di antaranya adalah formulasi yang diberikan pada
serangga sasaran dapat berbentuk granula, cair maupun tepung.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan yang digunakan adalah larvasida Bacillus thu-
ringiensis H- 14 dalam bentuk tepung wadah air plastik dengan
ukuran 36,5 cm x 28,5 cm x 8 cm, air kran berasal dari air tanah,
larva Aedes aegypti dan berbagai instar, pH meter dan sebagai-
nya.
Metode penelitian menggunakan rancangan faktorial de-
ngan 4 macam dosis, terhadap perlakuan berbagai instar, selama
waktu 4 minggu dan masing-masing dikerjakan 4 ulangan. Apabila
dalam pengamatan ada perbedaan maka dilanjutkan dengan uji
beda nyata terkecil (BNT) (Steel and Tornie, 1991). Perlakuan
larvasida B. thuringiensis yang diuji cobakan terdiri dari 4 dosis
yaitu 832 mg/m
2
624 mg/m
2
416 mg/m
2
dan 208 mg/m
2
serta
kontrol tanpa perlakuan larvasida B. thuringiensis H- 14.
Ke dalam wadah air diisikan air kran sebanyak 4,5 liter;
sebanyak 20 wadah air digunakan sebagai tempat pengujian.
Kemudian pada setiap wadah yang telah terisi air dimasukkan
larva masing-masing 25 ekor. Selanjutnya setiap dosis larvasida
dimasukkan ke dalam alat semprot yang telah berisi air kran se-
banyak 0,5 liter. Penentuan dosis dan cara aplikasi ini disesuai-
kan dengan petunjuk WHO. Setelah larut homogen, disemprot-
kan ke dalarn permukaan air. Indikator kemampuan kerja larva-
sida B. thuringiensis H- 14 adalah pensentase kematian larva yang
ditandai seluruh tubuh larva berwarna hitam dihitung mulai dari
1 Jam, 2 jam, 4 jam, 24 jam dan 48 jam setelah kontak dengan B.
thuringiensis.
Untuk melihat lama kerja efektif B. thuringiensis H-14
formula tepung dalam membunuh larva Aedes aegypti, maka
setiap minggu dimasukkan kembali 25 ekor larva dari berbagai
instar ke dalam wadah air yang telah mengandung B. thuringien-
sis H-14. Pengamatan dilakukan setelah 24 jam aplikasi dengan
melihat secara langsung dan menghitung jumlah larva yang mati.
Percobaan dihentikan apabila hasil pengamatan 0% untuk ke-
matian larva Ae. aegypti. Bila ternyata kematian larva kontrol
melebihi 15% maka data hasil pengujian harus dikoreksi dengan
formula ABBOT. (Brown and Pal, 1971)
Al = (A ­ C) x 100%
100 ­ C
dimana:
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
28
background image
Al = angka kematian setelah dikoreksi C = angka kematian
pada kontrol A = angka kematian pada perlakuan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Secara kumulatif persentase kematian larva instar 1 lebih
tinggi jika dibandingkan dengan instar yang lebih lanjut, karena
larva instar 1 pertumbuhannya masih harus mengalami adaptasi
dengan lingkungannya; kejadian ini serupa dengan penelitian di
lapangan terhadap larva Culex quinquefasciatus instar awal
(Seregeg dan Sukirno, 1987). Selain itu mungkin instar lain da-
lam keadaan kenyang sehingga tingkat tertelannya B. thuringien-
sis H- 14 relatifrnenjadi rendah; karena ternyata B. thuringiensis
H-14 tidak dapat membunuh pupa serangga sasaran yang tidak
makan lagi, hal tersebut disebabkan karena proses infeksinya
melalui mulut dan pengaruhnya terjadi di dalam tubuh serangga
sasaran. Menurut Garcia dan Tozer (1976) larva Ae. aegypti
instar 4 lebih rentan dibandingkan dengan tingkat instar lainnya;
disebutkan juga bahwa tingkat kerentanan larva berbeda-beda
tergantung dari tingkat instar larva (Ghuterland dan Khoo, 1987).
Pernyataan di atas hampir sarna dengan hasil penelitian pada
instar 3 dan 4 (Tabel 1). Walaupun persentase angka kematian
pada instar I ini cukup tinggi namun kematian bukan hanya
disebabkan oleh infeksi B. thuringiensis H-l4 melainkan juga
oleh faktor lain; Larva instar I yang berumur beberapa jam belum
dapat beradaptasi dengan lingkungan atau mungkin untuk men-
dapatkan makanan masih sulit. Hal ini juga ditunjang dan hasil
pengamatan larva yang mati, warna tubuhnya tidak menghitam,
yang menandakan matinya larva bukan karena B. thuringiensis
H-14.
Kematian larva setelah kontak 48 jam dengan B. thuringien-
sis H-I 4dalam bentuk tepung ternyata bila dilihat dari dosis yang
digunakan, secara kurnulatif dosis terbesar yaitu 832 mg/m
2
dapat membunuh lebih banyak dibandingkan dengan dosis lain-
nya; bahkan pada seluruh instar semuanya mengalami kematian
100% (Tabel 1). Namun pada umumnya kematian larva pada
dosis terendahpun rata-rata cukup tinggi (86,1%); untuk memati-
kan separuh populasi larva uji, dosis yang diperlukan masih di
bawah 208 mg/m
2
sedangkan untuk mematikan 95% populasi
larva uji dosisnya di antara 416 mg/m
2
dan 624 mg/m
2
.
Tabel 1. Jumlah persentase kematian larva Aedes aegypti dari berbagai
instar setelah disemprot Bacillus thuringiensis H-14 formulasi
tepung dalam berbagai dosis setelah kontak 48 jam
Kematian larva instar (%)
Dosis
mg/m
2
Satu Dua Tiga
Empat
Jumlah
% rata
rata
kematian
208 100 56 95 94 345 86,1
416 100 76 96 96 371 92.7
624 99 96 98 100 393 98,2
832 100 100 100 100 400 1
(8)
Kemampuan daya bunuh B. thuringiensis H- 14 formula
tepung ternyata hanya bertahan sampai minggu ke tiga setelah
diaplikasikan pada instar larva 4; sedangkan pada instar larva 1,
2, dan 3 hanya bertahan sampai 2 minggu (Tabel 2). B. thu-
ringiensis H-14 formulasi tepung dengan dosis terendah 208 mg/
m
2
hanya membunuh 3% larva.instar satu pada minggu pertama
sedangkan dosis tertinggi hanya 38%. Pada minggu ke dua
dengan dosis 208 mg/m
2
daya kemampuan B. thuringiensis
membunuh larva menurun menjadi 0%, sedangkan pada dosis
yang tertinggi yaitu 832 mg/m
2
pada minggu ke dua hanya dapat
membunuh 10% dari seluruh larva uji.
Tabel 2. Jumlah kematian kumulatif berbagai instar larva Aedes aegypti
setelah diaplikasi B. thuringiensis H-14 kaitannya dengan waktu.
Waktu pengamatan (minggu)
( %)
Instar
Dosis
I II III IV
Jumlah
1 208 3 0 0 0 3
416
24 4 0 0 28
624
23 4 0 0 27
832
38 I 0 0 39
II
208
8
0 0 0
8
416 9 3 0 0 12
624
9
3 0 0
12
832
12 9 0 0 21
111
208 I 0 0 0 1
416 6 3 0 0 9
624
22
4 0 0
26
932
11 9 0 0 20
IV
208 9 0 0 0 9
416
34 6 II 0 51
624
38 8 10 0 56
832
39 10 12 0 61
B. thuringiensis H- 14 formulasi tepung terhadap larva instar
dua pada minggu pertama dengan dosis 208 ing/m
2
mampu
membunuh 8% sedangkan pada dosis tertinggi yaitu 832 mg/m
2
daya bunuhnya mencapai 21%; pada minggu ke dua kemampuan
daya bunuh menurun yaitu pada dosis terendah tidak ditemukan
adanya larva yang mati, pada dosis tertinggi hanya rnencapai 9%.
Pada pengujian lebih lanjut pada minggu ke tiga dan empat pada
dosis terrendah maupun dosis tertinggi larva uji tidak ada yang
mati.
Terhadap larva instar ke III pada minggu pertama ternyata
pada dosis 208 mg/m
2
hanya mampu membunuh 1% dan dosis
832 mg/m
2
jumlah persentase larva yang mati hanya 11%. Per-
kembangan lebih lanjut pada minggu ke dua ternyata dengan
dosis terendah semua larva dalam keadaan hidup namun se-
baliknya pada dosis tertinggi angka kernatian larva mencapai
9%, sedangkan pada rninggu ke 3 dan 4 baik pada dosis tertinggi
maupun terendah jumlah angka kematian 0%.
Kemampuan daya bunuh B. thuringiensis H- 14 formula
tepung terhadap larva instar IV ternyata pada dosis terendah
persentase kematian mencapai 9% dan pada dosis tertinggi yaitu
832 mg/m
2
jumlah kematian mencapai 39% pada minggu per-
tama. Ternyata larva instar IV lebih rentan dibandingkan instar
lainnya pada pengujian minggu pertama. Pada minggu ke dua
hasil uji coba larva instar lV dengan dosis terendah tidak ada yang
mati sedangkan pathi dosis 832 mg/rn niencapai 10% larva yang
inati, sedangkan pada minggu ke empat semua larva dalam ke-
adaan hidup.
Dari hasil pengamatan di lapangan ternyata aktivitas larva-
sida B. thuringiensis H­ 14 cepat hilang jika diaplikasikan di
dalam air yang berlumpur karena bakteri tersebut diserap oleh
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 29
background image
partikel-partikel yang terdapat dalam lumpur. Besarnya persen-
tase bakteri yang diserap tersebut sangat tinggi mencapai 99,8%
dalam waktu 45 menit setelah aplikasi. Namun B. thuringiensis
H-14 masih mampu mempunyai daya bunuh 90% dan populasi
larva Ae. aegypti bila dipisahkan dari lumpur (Ohana et al, 1987).
Hasil analisis faktorial untuk mengetahui efektivitas B.
thuringiensis H-14 formula tepung terhadap larva Ae. aegypti
berdasarkan faktor waktu, variasi dosis, dan bentuk instar tertera
pada Tabel 3. Pada analisis sidik ragam ternyata F hitung > F
tabel, berarti ada perbedaan jumlah kematian larva yang ber-
makna antar perlakuan berbagai dosis B. thuringiensis H-14
formula tepung yang diberikan; sedangkan di antara berbagai
instar sendiri mempunyai perbedaan jumlah kematian larva yang
bermakna. Selanjutnya interaksi antara faktor dosis dan instar
diperoleh F hitung = 9,15 dan F tabel = 2,80 (a = 0,01) dan 2,08
(a = 0,05), hal ini berarti bahwa interaksi antar faktor dosis dan
instar terhadap jumlah kematian mempunyai hubungan yang
erat. Hasil uji BNT untuk kematian larva Ae. aegypti antar per-
lakuan dosis ternyata berbeda sangat nyata pada dosis 208 mg/m
2
(Tabel 4). Sedangkan hasil uji BNT untuk kematian larva Ae.
aegypti antar perlakuan instar memperlihatkan perbedaan yang
sangat nyata pada instar II.
Kematian larva Ae. aegypti yang disebabkan oleh B. thu-
ringiensis H-14 berdasarkan pengamatan selama penelitian di-
tandai dengan seluruh tubuh larva Ae. aegypti berwarna hitam,
disebabkan kristal yang tertelan larva yang melepaskan toksin
akibat keasaman tubuh larva Ae. aegypti; toksin yang keluar
mengakibatkan sel-sel di saluran pencernaan mengalami parali-
sis dan epitheliumnya hancur atau rusak (Munif, 1996).
Efektivitas B. thuringiensis H- 14 yang digunakan sebagai
pengendali hayati terhadap serangga dipengaruhi oleh sifat khas
spesies bakteri, metode pembiakan dan cara memformulasikan-
Tabel 3. Analisis sidik ragam jumlah kematian larva Aedes aegypti dengan
perlakuan penggunaan Basillus thuringiensis H-14 formula
tepung.
F tabel
Sumber
keragaman
Derajat
bebas
Jumlah
kuadrat
Kuadrat
tengah
F hitung
0,01 0,05
Dosis 3
115,3
38,43
16,2
4,2
2
8
Instar 3
182,05
60,7
25,5
4,2
2,8
Interaksi 9 196,01
21,8 9,2 4,2 2
8
Galat 48
114,25
2,4
Total 63
607,61
Tabel 4. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) jumlah kematian larva Ae.
aegypti antar perlakuan dosis aplikasi dan B. thuringiensis H-14
formula
tepung.
Dosis aplikasi
Dosis
mg/m
2
Rata-rata
832 mg/m
2
624 mg/m
2
416 mg/m
2
208 mg/m
2
832 25 ­
624 24,56
0,44 ­
416 23,19
1,81 1,37 ­
208 21,56
3,44**
3,00**
1,63 ­
BNT 5% = 2,21
BNT 1%= 2,95
Tabel 5. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) kematian larva Aedes aegypti
antar
perlakuan
instar.
Instar Rata-rata Satu Empat Tiga Dua
Satu 24,94 ­
Empat 24,38 0,56 ­
Tiga
24,31
0,63 0,07 ­
Dua 19,44 5,5**
4,93**
4,87**
­
BNT 5% = 2,21
BNT 1 % = 2,95
Keterangan:
** = berbeda sangat nyata
*
=
berbeda
nyata
nya (Prihatingintyas, 1989). Walaupun bahan dasar pembuatan
biosida sama yaitu B. thuringiensis, namun pengaruhnya terha-
dap serangga dapat berbeda karena perbedaan bentuk keemasan
dan pembuatannya, sedangkan banyaknya toksin yang dihasilkan
tidak berbanding langsung dengan banyaknya kristal paraspora.
Juga suatu pembuatan yang berhasil menumbuhkan banyak
spora belurn menjamin akan memproduksi banyak kristal para-
spora yang menghasilkan toksin.
B. thuringiensis yang mempunyai daya insektisida yang
spesifik terhadap beberapa famili serangga dalam ordo diptera
saja mempunyai arti penting di masa depan sebagai pengendali
serangga karena aplikasinya akan sangat memperkecil kerusak-
an lingkungan dengan memperkecil risiko matinya serangga lain
ataupun mikroorganisrne yang bukan sasaran.
KESIMPULAN
1) Tingkat kerentanan larva Ae. aegypti berbeda-beda tergan-
tung tingkat instar larva dan instar larva 4 merupakan larva yang
paling rentan dibandingkan instar larva lainnya.
2) B. thuringiensis H- 14 formula tepung mempunyai kemam-
puan daya bunuh yang berbeda terhadap larva Ae. aegypti setelah
kontak 48 jam; dosis tertinggi yaitu 832 mg/m
2
merupakan dosis
yang efektif terhadap seluruh instar larva nyamuk.
3) B. thuringiensis H-14 formula tepung mempunyai daya
bunuh sampai minggu ke tiga pada dosis 832 mg/m
2
walaupun
persentase kematian larva hanya mencapai 12%. Sebaliknya
pada dosis terendah yaitu 208 mg/m
2
hanya mampu membunuh
dalam waktu 1 minggu.
4) Terdapat hubungan antara kemampuan membunuh larva
Aedes aegypti dengan besarnya dosis serta tingkatan instar larva.
KEPUSTAKAAN
1. Debach P. Biological Control by N Enemies. Canhridge University Press,
London. 1974.
2. Aronson A, Tyrell DJ. James PC, Bulla LA. Relationship of the syntheses
of spora coat protein and parasporal crystal protein in Bacillus
thuringiensis. J Bacteriol 1982; 151: 339­410.
3. Gibson T, Gordon RE. Endospora Forming Rods and Cocci. Dalani
Bergey's Manual of Determinative Bacteriology. ed. 8. Baltimora: William
and Wilkins Company.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
30
background image
4. Baumen L, Okamoto K, Unterman BM. Linch Ini. Baumen P. Phenotypic
characterization of Bacillus thuringiensis and Bacillus cereus. J Inverte
brate Pahtol 1984; 44: 329­4 I.
5. Burgejon A, Martouret D. Determination and significance of the host
spectrum of Bacillus thuringiensis, Dalam Microbial Control of Insects
and Mites, London: Acad Press.
6. Bond RPM, Boyce CBC, Rogof FHM, Shieh TR. The Termostable Eco
toxin of Bacillus thuringiensis. Dalam: Microbial Control of Indect and
Mites. London: Academic Press. 1971.
7. Sabesta K, Horska K. Mechanism of inhibition of DNA depent RNA Poly
merase by ecotoxm of Bacillus thuringiensis, Biochem Biophys ACRA,
1970; 209: 357­67.
8. Laksmayoni AMA. Uji biokimiawi terhadap isolasi Bacillus thuringiensis
dari peternakan ulat sutra di Kabupaten Sukabumi, Kediri dan Blitar.
Skripsi Sarjana FKH IPB Bogor. 1990.
9. Stell RQD, Tome JH. Pnnsip and Prosedur Stastisika. PT Gramedia Pu
saka Utama. Jakarta 1991 : h 210.
10. Brown AWA, Pal R. Insectisida Resistance in Arthropoda. WHO. Mono-
graph No. 38, 1971.
11. Seregeg, Sukirno M. Perbandingan pengaruh biosida Sandoz dengan
hactimos terhadap pencemar biologi Culex quinquefilsciatus dalam satu
uji coba lapangan di Jakarta, Indonesia. Bull Penelit Kes 1987; 15(1):
45­50.
12. Garcia R, Tozer W. Endospora Forming Rods and Cocci. Dalam Bergeys
Manual of Determinative Bacteriol. ed. 8. Baltimore: William and Wilkins
Company, l974.
13. Hana B, Margaliti, Barak. 2,19 Fate of Bacillus thuringiensis sub spesies
israelisis under simulated field conditions. J App Environment Microbiol
1987; 53: 828­31.
14. Munif A. Pengaruh beberapa dosis Bacillus thuringiensis formula granula
terhadap larva An. aconitus dan Culex quinquefasciates pada simulasi air
tergenang. Maj Kes Masy Indon 1996 tahun; XX(IV): S.
15. Prihatininatyas D. Pengaruh pemberian B. thuringiensis terhadap per-
kembangan stadion pradewasa lalat rumah Musca domestica. FKH - IPB.
Bogor. 1989.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 31