background image
HASIL PENELITIAN
Pengaruh Ekstrak Kulit Buah
Citrus aurantifolia Swingle
terhadap Kontraksi Trakea Marmot
Terisolasi yang Diinduksi Histamin
in vitro
- penelitian pendahuluan
R. Irawan
Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian farmakodinamik terhadap ekstrak kulit buah Citrus
aurantifolia Swingle yang dipadukan dengan aspek fitokimia. Dalam uji farmako-
dinamik, untuk melihat salah satu efek penghambatan kontraksi trakea marmot
terisolasi yang diinduksi histamin secara in vitro, maka reseptor-reseptor yang
mempunyai aksi antagonis perlu diblok dengan propranolol 10
-6
M dan simetidin 10
-5
M. Senyawa aktif yang dapat menghambat, pada identifikasi dengan spektroskopi
ultraviolet menggunakan pereaksi diagnostik, adalah flavanon.
PENDAHULUAN
Citrus aurantifolia Swingle atau yang dikenal masyarakat
dengan nama jeruk nipis merupakan tumbuhan obat dari
familia Rutaceae
(1,2,3)
. Dalam pengobatan tradisional diguna-
kan antara lain sebagai peluruh dahak dan obat batuk
(4)
.
Telah dilakukan penelitian yang menunjukkan adanya
senyawa flavanon di dalam kulit buah Citrus sp
(5-8)
. Peneliti
Jepang, melaporkan bahwa Citrus aurantifolia Swingle mem-
perlihatkan efek anti alergi
(9)
.
Dalam penelitian ini telah diisolasi dan diidentifikasi
senyawa flavonoid golongan flavanon dengan cara KLT, KLT
Bidimensional (dua dimensi) dan KLT Preparatif. Uji farma-
kodinamik terhadap isolat menggunakan trakea marmot ter-
isolasi yang diinduksi histamin secara in vitro dan identifikasi
komponen berkhasiat dengan cara spektroskopi-ultra-violet.
Tanaman Citrus aurantifolia Swingle mempunyai be-
berapa nama daerah dan nama Latin. Beberapa nama daerah
tersebut, di antaranya : jeruk nipis (Sunda), jeruk pecel (jawa),
liman kapus, liman nipis (Sumatera) dan lebih dikenal dengan
nama jeruk nipis (Indonesia)
(3,16)
. Sementara, nama Latin yang
sering dipergunakan, di antaranya : Citrus medica Linn; Citrus
acida Roxb., Brands.; Citrus limunulus Miq.; Lemo tenuis
Rumph dan Citrus aurantifolia Swingle
(2)
. Adapun sistema-
tikanya seperti berikut ini: Divisio : Spermatophyta, Sub-
divisio : Angiospermae, Classis : Dicotyledonae, Ordo :
Rutaceae, Familia : Citrus, Genus: Citrus medica Linn; Citrus
acida Roxb Brandis.; Citrus tenuis Rumph.; Citrus auranti-
folia Swingle
(1,2)
.
METODOLOGI
Penelitian ini mencakup aspek fitokimia yang dilanjutkan
dengan aspek farmakodinamik terhadap Citrus aurantifolia
Swingle.
1) Aspek Fitokimia
Kulit buah Citrus aurantifolia Swingle yang kering
dihancurkan dan dihaluskan kemudian diekstraksi dengan
menggunakan pelarut metanol-air (1:1). Ekstrak yang di-
peroleh diuapkan dengan menggunakan penguap-putar ber-
tekanan rendah sampai diperoleh fraksi metanol dan air.
Dilanjutkan pengawalemakan menggunakan petroleum eter
(40°-60°C), kemudian dilakukan penguapan kembali meng-
gunakan penguap-putar (evaporator) bertekanan rendah agar
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 25
background image
diperoleh fraksi petroleum eter dan air. Selanjutnya pada
fraksi yang mengandung flavanoid dilakukan uji farmako-
dinamik pendahuluan. Terhadap isolat flavonoid yang dapat
menghambat efek kontraksi trakea marmot terisolasi setelah
diinduksi histamin in vitro dilakukan identifikasi dengan
menggunakan spektroskopi-UV. Rangkaian keseluruhan dari
proses tersebut secara skemafis dapat dilihat pada bagan
berikut :
Serbuk kulit buah Citrus aurantifolia Swingle
Ekstraksi : MeOH-air (1:1)
Dipekatkan
Fraksi MeOH encer
Fraksi H
2
O
Ditambah
petroleum
eter
Dipekatkan
Fraksi petroleum
Fraksi air
eter
encer
encer
Fraksi MeOH pekat
Dipekatkan
Dipekatkan
Fraksi petroleum
Fraksi air pekat
eter
pekat
2) Aspek Farmakodinamik
Pembuatan preparat trakea menggunakan metode
Timmermann dan Scheffer
(10)
. Marmot dibunuh dengan cara
memukul bagian belakang dekat kepala, kemudian trakea
dikeluarkan dan difiksasi dalam cawan petri yang telah berisi
larutan Krebs normal serta dialiri gas karbogen dengan suhu
37°C. Trakea dibersihkan dari jaringan-jaringan lain yang
masih melekat di sekelilingnya, kemudian dipotong-potong
melalui segmen-segmen tulang rawan dengan arah berlawanan
sedemikian rupa sehingga membentuk rangkaian cincin trakea,
(Gambar 1).
Gambar 1. Diagram skema pemotongan trakea marmot.
A - B : Otot polos trakea
C - D : Bagian trakea yang tidak terpotong
Selanjutnya salah satu ujung rantai trakea difiksasi di
dasar organ-bath volume 20 ml dan ujung yang lain dihubung-
kan dengan tranduser. Kemudian dilakukan ekuilibrasi selama
20 menu dan dilanjutkan dengan percobaan-percobaan sebagai
berikut
1. Trakea diinduksi histamin dengan langkah ½ log 10 mulai
kadar 10
-8
M sampai diperoleh efek maksimum.
2. Trakea diinduksi histamin dengan praperlakuan proprano-
lol 10
-6
M dan simetidin 10
-5
M yang digunakan sebagai kurva
baku.
3. Trakea diinduksi histamin dengan praperlakuan proprano-
lol 10
-6
M dan simetidin 10
-5
M serta perlakuan ekstrak kulit
buah Citrus aurantifolia Swingle dengan berat x mg sebagai
uji farmakodinamik pendahuluan.
4. Dilakukan percobaan seperti pada butir 3 di atas, tetapi
berat ekstrak diperbesar menjadi 2x atau 3x berat semula.
Analisis data dilakukan secara farmakodinamis, yaitu
hasil penghambatan efek kontraksi histamin dari trakea
marmot terisolasi karena perlakuan ekstrak kulit buah Citrus
aurantifolia Swingle yang mengandung senyawa flavonoid
dibandingkan dengan kurva baku histamin, sehingga diperoleh
prosen efek kontraksi dari ekstrak tersebut, dengan rumus
sebagai berikut :
% Efek kontraksi = a/b x 100%
a = kontraksi dari masing-masing kadar histamin
b = kontraksi maksimum untuk kurva baku histamin
Efek kontraksi trakea setelah penambahan histamin (H) yang
tercatat pada recorder, terlihaf pada Gambar 2.
Gambar
2. Hasil rekaman kontraksi trakea setelah penambahan
histamin (H)
Secara keseluruhan rangkaian proses tersebut dapat dilihat
pada skema 1.
BAHAN DAN ALAT
1) Bahan
Hewan uji marmot dengan berat badan 400 - 600 g dan
kulit buah Citrus aurantifolia Swingle.
Bahan uji farmakodinamik : DL-propranolol, simetidin
(semua dari Sigma Chemical) dan gas karbogen (campuran
antara 5% CO
2
dan 95 O
2
) dari PT. Aneka Gas dan Industri,
Semarang.
Larutan Krebs normal : natrium klorida, kalium klorida,
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
26
background image
magnesium sulfat, kalsium klorida dihidrat, glukosa mono-
hidrat, natrium hidrogen karbonat, natrium dihidrogen fosfat
monohidrat, natrium hidrogen karbonat, natrium dihidrogen
fosfat monohidrat (semua berkualitas "pro analisis" E. Merck).
Skema 1
Fraasi H
2
O
Uji Farmakodinamik
KLT
Pendahuluan
KLT dua dimensi
KLT
preparatif
Uji
Farmakodinamik
Zona
terpilih
Zona paling aktif
Identifikasi
dengan
Spektroskopi-UV
Bahan ekstraksi : metanol, petroleum eter (keduanya ber-
kualitas "pro analisis" (E. Merck), serta air kualitas ultra-
filtrasi NANOpure-II dari Laboratorium Farmakologi dan
Toksikologi Dasar, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.
Bahan KLT dan KLT Preparatif : fase diam selulosa dan
fase gerak asam asetat 15% (semuanya berkualitas E. Merck).
Bahan KLT dua dimensi : fase diam selulosa, fase gerak I.
t-butanol-asam asetat-air (3:1:1) serta fase gerak II. Asam
asetat 15%.
Bahan pereaksi diagnostik spektroskopi-UV : natrium
hidroksida 2,5% b/v dalam metanol, aluminium klorida 5%
b/v dalam metanol, asam klorida 0,5 N, serta asam borat
anhidrat, natrium asetat anhidrat, metanol p.a. (semua ber-
kualitas E. Merck).
2) Alat
Satu set peralatan operasi (gunting, pinset, jarum fiksasi,
skalpel, cawan petri, benang steril).
Alat uji farmakodinamik : "organ-bath" volume 20 ml,
thermostat (GDR., Fed. Rep. of Germany), thermomik type
(B. Brown, Fed. Rep. of Germany), isotonik lever tranducer
type 368 (HSE, Fed. Rep. of Germany), pemanas type M 22/1
(Framo-Gerato Technik, Fed. Rep. of Germany), vortex mixer
(CAT. M. Zippear GmbH. Etszenbach, Fed. Rep. of
Germany), dispenser pippete type 15415 (Gilson, France),
recorder (Kipp & Zonen BD41, the Netherlands).
Alat ekstraksi dan KLT : evaporator (Buchi, Switzerland),
bejana pengembang (Desaga, Japan), lampu-UV (Desaga,
Japan), seperangkat perlatan KLT (Desaga, Japan).
Alat identifikasi : Spektrofotometer UV/VIS type 150-20
Double-beam (Hitachi, Japan).
HASIL
Hasil uji ,farmakodinamik pendahuluan ternyata me-
nunjukkan bahwa ekstrak kulit buah Citrus aurantifolia
Swingle dapat menghambat efek kontraksi trakea marmot
terisolasi yang diinduksi histamin secara in vitro. Hal ini
terlihat dari adanya pengurangan efek kontraksi maksimum,
berturut-turut 28,61%, 37,60%, 43,99% (Tabel 1, Gambar 3).
Tabel 1. Pengurangan kontraksi maksimum dan pergeseran kurva
akibat induksi histamin setelah penambahan ekstrak kulit
buah Citrus aurantifolia Swingle.
Jumlah ekstrak
yang ditambahkan
(mg)
Pergeseran kurva
ke kanan
Pengurangan efek
kontraksi maksimum
(%)
0,90
4,50
9,00
0,18
0,02
0,23
28,61
37,60
43,99
· = kurva baku histamin ( n = 4)
o = 0,90 mg ekstrak (n = 4)
x = 0,90 mg ekstrak (n = 4)
= 9,00 mg ekstrak (n = 4)
Gambar 3. Kurva hubungan antara log dosis (histamin) vs % efek
(kontraksi) dengan perlakuan ekstrak kulit buah Citrus
aurantifolia Swingle.
Berdasarkan hasil uji farmakodinamik pendahuluan ter-
sebut, maka dilakukan sokletasi terhadap serbuk kulit buah
Citrus aurantifolia Swingle dengan menggunakan pelarut
metanol-air (1:1) serta dilakukan pengawalemakan dengan
menggunakan petroleum eter. Dari pemeriksaan terhadap
fraksi air, petroleum eter dan fraksi metanol, ternyata pada
fraksi air lebih cenderung memberi indikasi adanya senyawa
metanol, ternyata pada fraksi air lebih cenderung memberi
indikasi adanya senyawa flavonoid, sedang pada fraksi
petroleum eter dan metanol tidak demikian.
Pada deteksi dengan menggunakan sinar UV 366 nm
fraksi petroleum eter dan air berupa cairan taanwarna (tak
berwarna atau jernih), demikian juga pada deteksinya dengan
sinar UV 366 nm yang diberi uap amoniak. Sedang pada fraksi
air pada deteksi sinar UV 366 nm memberi warna kuning
kecoklatan dan pada deteksi menggunakan sinar UV 366 nm
yang disertai uap amoniak memberi warna coklat tua.
Dalam keadaan demikian berarti senyawa yang terdapat
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 27
background image
di dalam fraksi air berupa glikosida.
Selanjutnya pada fraksi air dilakukan pemisahan melalui
KLT yang ternyata pada uji Ease diam dan Ease gerak yang
terpilih adalah selulosa dan asam asetat 15% dengan memberi-
kan enam buah bercak yang mempunyai warna-warna jelas
dan dua bercak yang tanwarna. Keenam bercak berwarna ter-
sebut terpisah secara baik dan jelas pada deteksi menggunakan
sinar UV 366 nm yang diberi uap amoniak (Gambar 4).
Hasil kromatografi lapis tipis fraksi air.
Keterangan
:
Sampel
: fraksi air
ase diam
: selulosa
Fase gerak
: asam asetat 15%
Deteksi
: sinar UV 366 nm
sinar UV 366 nm dan uap amoniak
Jarak rambat
: 10 cm
Warna bercak :
bercak 1
: ungu tua
bercak 2
: fluoresensi biru muda
bercak 3
: hijau kuning
bercak 4 dan 5 : hijau kuning
bercak 6
: ungu tua keruh
bercak a dan b : tanwarna (tak berwarna)
28
Gambar 4. Kromatografi lapis tipis fraksi air.
Pengujian selanjutnya menggunakan KLT dua dimensi
dengan fase diam selulosa, fase gerak I TBA (t-butanol-asam
asetat-air 3:1:1 v/v) dan fase gerak II asam asetat 15% dengan
pembanding rutin. Hasil menunjukkan bahwa pada fraksi air
diidentifikasikan adanya senyawa flavonoid. Pada deteksi
dengan sinar UV 366 nm maupun sinar UV/nm dengan diberi
uap amoniak berwarna fluoresensi ungu terang serta harga Rf
0,81 (TBA) dan 0,61 (HOAc 15%) (Gambar 5).
Hasil kromatografi lapis tipis duA dimensi fraksi air.
Gambar 5. Kromatogram lapis tipis dua dimensi air dengan fase diam
selulosa dan fase gerak I. TBAA, fase gerak II. HOAc 15%.
Keterangan :
Deteksi
: sinar UV 366 nm
sinar UV 366 nm dengan uap NH3
Warna
: fluoresensi ungu terang
Harga Rf
: 0,81 (TBA); 0,61 (HOAc 15%)
Pembanding :
rutin
Ukuran lempeng : 20 x 20 cm
2
Tebal fase diam
: 0.25 mm
Pemisahan dan pengujian selanjutnya dengan melalui
KLT preparatif; sebagai fase diam selulosa dan fase gerak
asam asetat 15% yang merupakan fase-fase terpilih pada
penelitian ini. Hasil menunjukkan adanya enam zone (daerah)
yang terpisah dan berwarna ungu tua pada zone 2 berwarna
fluoresensi biru muda, zone 3 berwarna ungu floeresensi, zone
4 dan 5 berwarna hijau kuning dan zone 6 berwarna ungu tua
yang keruh, seperti yang terlihat pada Gambar 6.
Hasil kromatografi lapis tipis preparatif fraksi air.
Gambar 6. Kromatogram lapis tipis preparatif fraksi air dengan fase
diam selulosa dan fase gerak I. TBA, fase gerak II. HOAc
15%.
Keterangan :
Deteksi
: sinar UV 366 nm
sinar UV 366 nm dengan uap NH3
Warna zona :
Zona 1
: ungu tua
Zona 4 dan 5 : hijau kuning
Zona 2
: fluoresensi biru muda Zona 6
: ungu tua keruh
Zona 3
: ungu fluoresensi
Untuk mengetahui zona-zona yang aktif dalam meng-
hambat efek kontraksi trakea karena diinduksi histamin, maka
dilakukan uji farmakodinamik lanjutan. Hasil seperti terlihat
pada Tabel 2 dan Gambar 7a, 7b dan 7c.
Dari data dapat dibaca bahwa pada zona 2, 3, 4, 5 dan
zona 6 kesemuanya dapat menghambat efek kontraksi marmot
terisolir setelah diinduksi histamin, sedang untuk zona 1 mem-
beri efek potensiasi (memperkuat kontraksi).
Analisis selanjutnya yang lebih diutamakan adalah zona 2
dan zona 3 karena keduanya mempunyai kemampuan untuk
mengurangi efek kontraksi (dalam %) yang cukup besar
apabila dibandingkan dengan zona lainnya (Tabel 2).
Hasil uji farmakodinamik lanjut untuk zona 2 berturut-turut
adalah 34,15%, 36,68% dan 39,24% sedang untuk zona 3
berturut-turut adalah 67,51%, 70,21% dan 74,68% seperti
terlihat pada Tabel 3.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
background image
Tabel 2. Pengurangan kontraksi maksimum dan pergeseran kurva
akibat induksi histamin setelah penambahan tiap-tiap zona
hasil KLT preparatif.
Jumlah zona yang
ditambahkan (mg)
(n = 4)
Pergeseran kurva
ke kanan
Pengurangan efek
kontraksi maksimum
(%)
Zona 1 : 9,49
18,98
Zona 2 : 6,09
12,19
Zona 3 : 36,30
72,60
Zona 4 : 0,81
8,06
Zona 5 : 3,87
7,74
Zona 6 : 56,82
113,65
0,22
0,57
-0,23
0,42
0,70
0,77
0,17
0,19
0,40
0,43
-0,27
3,38
-61,34
-50,18
62,34
66,34
64,09
65,66
34,23
52,49
36,85
36,92
47,07
57,34
· = kurva baku histamin (n=4)
· = kurva baku histamin (n=4)
° = 9,49 mg zona 1 (n=4)
x = 6,09 mg zona 2 (n=4)
x = 18,98 mg zona 1 (n=4)
° = 12,19 mg zona 2 (n=4)
Gambar 7a. Kurva hubungan antara log dosis (histamin) vs % efek
(kontraksi) dengan Perlakuan : (A) Zona 1; (B) Zona 2.
· = kurva baku histamin (n=4)
· = kurva baku histamin (n=4)
x = 36,30 mg zona 3 (n=4)
x = 0,81 mg zona 4 (n=4)
° = 72,60 mg zona 3 (n=4)
° = 8,06 mg zona 4 (n=4)
Gambar 7b. Kurva hubungan antara log dosis (histamin) vs. % efek
(kontraksi) dengan Perlakuan : (C) Zona 3; (D) Zona 4.
· = kurva baku histamin (n=4)
· = kurva baku histamin (n=4)
x = 3,87 mg zona 5 (n=4)
x = 56,82 mg zona 6 (n=4)
° = 7,74 mg zona 5 (n=4)
° = 113,65 mg zona 6 (n=4)
Gambar 7c. Kurva hubungan antara log dosis (histamin) vs % efek
(kontraksi) dengan Perlakuan : (E) Zona 5; (F) Zona 6.
Tabel 3. Pengurangan kontraksi maksimum dan pergeseran kurva
akibat induksi histamin setelah penambahan zona 2 dan 3 hasil
KLT preparatif.
Jumlah zona yang
ditambahkan (mg)
(n 4)
Pergeseran kurva
ke kanan
Pengurangan efek
kontraksi maksimum
(%)
Zona 2
: 0,61
1,23
2,46
Zona 3
: 3,63
7,26
14,52
0,12
0,15
0,19
0,90
0,93
0,98
34,15
36,68
39,24
67,51
70,21
74,68
Ternyata pada zona 3 mengandung komponen yang lebih
aktif dalam menghambat kontraksi trakea marmot terisolasi
apabila dibandingkan dengan zona 2, seperti terlihat pada
Tabel 3 dan Gambar 8. Atas dasar ini maka dilakukan analis-
is kandungan aktif yang terkandung dalam zona 3 dengan
menggunakan spektroskopi-UV. Hasil analisis seperti pada
Tabel 4 dan Gambar 9.
· = kurva baku histamin (n=4)
= kurva baku histamin (n=4)
= 0,61 mg zona 2 (n=4)
= 3,63 mg zona 3 (n=4)
° = 1,23 mg zona 2 (n=4)
° = 7,26 mg zona 3 (n=4)
x = 2,46 mg zona 2 (n=4)
x = 14,52 mg zona 3 (n=4)
Gambar 8. Kurva hubungan antara log dosis (histamin) vs % efek
(kontraksi) dengan perlakuan : (B) Zona 2; (C) Zona 3.
Tabel 4. Panjang gelombang (
) zona 3 yang diperoleh dari hasil KLT
preparatif fraksi air.
Panjang gelom-
bang maksimum
(nm) pita
Selisih Panjang
gelombang (nm)
pita
Pereaksi
diagnostik
I II I
II
Petunjuk penafsiran
MeOH
275
-
-
-
Flavon atau dihidro-
flavonol
NaOH
275
-
-
0
Tanpa OH bebas pada
cincin A, flavanon atau
dihidroflavonol tanpa
5,7-OH atau mungkin
tanpa 7-OH, flavanon
dengan 5-OH
A1C1
3
275
-
-
0
Tanpa 5-OH pada
cincin A
A1C1
3
/HCl 275
-
-
0
Tanpa o-diOH pada
cincin B dan tanpa o-
diOH pada cincin A
(6,7 atau 7,8)
NaOAc 275
324
sh
- 0 - Tanpaa
o-diOH
3'4'
pada cincin B
NaOAc/H
3
BO
3
275
324
sh
-
-
0
Tanpa o-diOH pada
cincin A (6,7 atau 7,8)
Keterangan :
sh ='shoulder' = bahu = infleksi
zona 3 = isolat flavonoid
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 29
background image
DISKUSI
Pada preparat trakea marmot terdapat reseptor-reseptor
yang apabila dirangsang aksinya saling antagonis, reseptor-
reseptor tersebut secara garis besar dibagi menjadi dua
golongan, yaitu yang dapat merelaksasi dan mengkontraksi
trakea. Reseptor yang dapat mengkontraksi adalah reseptor
histaminik H
l
, adrenergik alfa dan kholinergik, sedang yang
dapat merelaksasi trakea adalah reseptor adrenergik beta
1
,
beta
2
, histaminik-H
2
, dan prostaglandin E (prostaglandin seri
E)
(11)
. Untuk dapat melihat salah satu efek penghambatan dari
ekstrak kulit buah Citrus aurantifolia Swingle terhadap
kontraksi trakea yang disebabkan oleh reseptor histaminik-H
1
,
maka reseptor adrenergik beta
1
, dan beta
2
perlu dihambat
dengan propranolol 10
-6
M sedang reseptor histaminik-H
2
perlu dihambat dengan simetidin 10
-5
M; dengan demikian
diharapkan kerja ekstrak tersebut terhadap penghambatan
kontraksi trakea akan melalui reseptor histaminik-H
1
.
Untuk mengetahui komponen aktif dari zona 3 yang
mampu menghambat kontraksi trakea marmot terisolasi sete-
lah diinduksi histamin secara in vitro maka dilakukan analisis
dengan menggunakan spektroskopi-UV yang hasilnya dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Bentuk spektra isolat (zona 3) dalam MeOH, ternyata
pada pita II mempunyai rentang serapan maksimum di antara
250-300 nm yang puncak serapan maksimumnya adalah 275
nm, sedang pada pita I tidak menunjukkan adanya puncak
serapan maksimum sama sekali. Bentuk spektra yang demi-
kian dimiliki oleh senyawa flavonoid golongan isoflavon,
dihidroflavonol dan flavanon. Hal ini karena ketiganya
Hasil analisis spektroskopi zona 3 (isolat) yang diperoleh dari
kromatografi lapis tipis preparatif fraksi air
Gb.16a. Spektrum UV dalam MeOH Gb. 16b. Spektrum UV dalam MeOH
dan MeOH+ NaOH
dalam MeOH + AlCl3 dan
MeOH + AlCl 3+ BCl
Gb. 16c. Spektra UV dalam MeOH dalam MeOH + NaOAc dan MeOH +
NaOAc + HgBO
3
Gambar 9. Hasil analisis spektrum ultraviolet isolat (zona 3) hasil KLT
preparatif fraksi air.
mempunyai bentuk spektrum yang serupa, yaitu pada pita II
mempunyai bentuk spektrum dengan intensitas serapan yang
sangat kuat, sedang pada pita I mempunyai intensitas serapan
yang lemah atau hanya berupa shoulder saja
(12)
. Selanjutnya,
rentang serapan maksimum isolat terletak di antara 245-270
nm, sedang rentang serapan maksimum dihidroflavonol dan
flavanon terletak di antara 270-290 nm pada pita II dan tidak
mempunyai serapan sama sekali pada pita I
(12)
. Hal ini karena,
baik pada dihidroflavonol maupun flavanon keduanya tidak
mempunyai ikatan rangkap di antara atom C
2
dan C
3
, sedang
perbedaannya terletak pada atom C
3
, yaitu pada flavanon atom
C
3
mengikat kedua atom H sedang pada dihidroflavonol atom
C
3
mengikat satu atom H dan satu gugus OH. Adanya
perbedaan pada atom C
3
ini menyebabkan adanya perbedaan
yang relatif kecil terhadap bentuk spektrumnya. Atas dasar ini
maka dapat diasumsikan bahwa isolat flavonoid tersebut me-
ngandung dihidroflavonol serta flavanon, dan bukan iso-
flavanon.
Pada penambahan NaOH yang merupakan basa kuat,
ternyata pada isolat flavonoid tidak mengalami perubahan
bentuk spektra baik pada pita II maupun pita I. Selanjutnya,
pita II dalam MeOH (275 nm) dan pita II dalam NaOH (275
nm), ternyata tidak mengalami pergeseran sama sekali. Atas
dasar ini maka dapat diasumsikan bahwa pada isolat tidak
mempunyai gugus OH pada cincin A dan mungkin pula
merupakan senyawa flavonoid golongan dihidroflavonol atau
flavanon yang tanpa 5,7-OH atau mungkin tanpa 7-OH dan
mungkin juga merupakan flavanon dengan gugus 5-OH.
Dengan tidak terjadinya perubahan bentuk spektrum pada pita
I maka dapat diasumsikan bahwa pada isolat flavonoid tidak
mempunyai gugus o-diOH pada posisi 3',4' dari cincin B.
Penambahan AlCl
3
, ternyata juga tidak mengubah per-
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
30
background image
geseran pada pita II, sehingga dapat diasumsikan bahwa pada
isolat flavonoid tidak mempunyai gugus 5-OH pada cincin A.
Penambahan HCl ke dalam isolat flavonoid yang telah
berisi AlCl
3
, ternyata juga tidak menyebabkan pergeseran
sama sekali. Atas dasar ini maka pada isolat flavonoid dapat
diasumsikan tidak mempunyai gugus o-diOH pada cincin A
(C
6,7
atau C
7,8
) dari pita II.
Pengaruh NaOAc ternyata dengan membandingkan
bentuk spektrum pada pita II dalam MeOH dengan pita II
NaOAc yang keduanya mempunyai puncak serapan mak-
simum yang sama yaitu 275 nm. Hal ini berarti juga tidak
mengalami pergeseran sama sekali dan hanya menunjukkan
adanya shoulder yang lemah sekali dengan panjang gelom-
bang 334
sh
nm pada pita I. Atas dasar ini maka dapat
diasumsikan bahwa isolat flavonoid tidak mempunyai gugus
7-OH bebas pada cincin A.
Penambahan H
3
BO
3
ke dalam isolat flavonoid yang telah
berisi NaOAc, ternyata juga tidak menyebabkan adanya per-
geseran sama sekali dan hanya menunjukkan adanya shoulder
yang lemah sekali dengan panjang gelombang 334
sh
nm pada
pita I. Sejanjutnya, dengan membandingkan pita I dalam
MeOH (275 nm) dengan pita I dalam NaOAc/H
3
BO
3
(275 nm)
ternyata juga tidak mengalami pergeseran sama sekali. Atas
dasar ini maka isolat flavonoid tersebut dapat diasumsikan
tidak mempunyai gugus o-diOH pada cincin A (C
6,7
atau C
7,8
).
Atas dasar serangkaian analisis spektrum ultraviolet ter-
hadap komponen aktif yang terkandung di dalam isolat
flavonoid untuk selanjutnya lebih menjurus ke arah adanya
senyawa flavonoid ini golongan flavanon. Kecenderungan
tersebut tidak didasari atas alasan-alasan berikut di bawah ini.
Alasan pertama, dengan memperhatikan data spektrum
ultraviolet tersebut telah diperoleh kenyataan yang menunjuk-
kan adanya puncak serapan maksimum 175 nm pada pita II
sementara tidak menunjukkan puncak serapan maksimum
sama sekali atau hanya berupa shoulder dengan intensitas
serapan yang sangat lemah pada pita I (Gambar 9), sehingga
pada asumsinya lebih mengarah pada adanya flavanon. Hal ini
sesuai dengan pemyataan Mabry et al,
(12)
bahwa rentang
serapan maksimum dari flavanon terletak di antara 270-295
nm pada pita II. Bahkan menurut Harbone
(13)
panjang
gelombang maksimum utama flavanon mempunyai rentang
serapan maksimum pada 275-278 nm pada pita II, sedang
pada pita I berupa shoulder atau merupakan puncak serapan
yang sangat lemah sekali intensitasnya pada panjang
gelombang di atas 300 nm.
Alasan kedua, pada umumnya senyawa flavonoid banyak
tersebar pada tanaman, akan tetapi untuk flavanon tidak
demikian
(14)
. Karena merupakan golongan `flavonoid minor'
yang berarti flavonoid dengan pola penyebaran terbatas.
Namun demikian, meskipun terdapat dalarn jumlah terbatas
ternyata flavanon lebih banyak tertumpuk di dalam kulit buah
Citrus sp.
(5,8)
dan merupakan senyawa pahit yang mudah larut
di dalam air berupa glikosida dan sedikit sekali yang berupa
aglikon
(13)
.
Alasan ketiga, pada penyebaran senyawa flavonoid secara
taksonomi dalam tanaman menunjukkan adanya kecenderung-
an yang kuat dan berhubungan sangat erat
(15)
. Artinya, dalam
dunia tumbuhan yang secara taksonomi mempunyai hubungan
erat maka akan menghasilkan senyawa flavonoid pada
tumbuhan lain yang sistematikanya sama. Sistematika untuk
tumbuhan Citrus aurantifolia Swingle akan sama dengan
sistematika tumbuhan Citrus sp. pada umumnya, yang ke-
semuanya termasuk divisio Spematophyta, subdivisio Angios-
permae, familia Rutaceae serta genus Citrus
(1,2,8,12,13,15,17)
. Hal
ini serupa dengan pernyataan dari Geissman
(18)
, senyawa
flavanon golongan flaavanon selain terdapat di dalam kulit
buah Citrus aurantifolia Swingle maka terdapat juga di dalam
kulit buah Citrus nobilis, penelitian yang sama telah menemu-
kan pula adanya senyawa flavonoid golongan flavanon pada
kulit buah Citrus sp yang lain
(7,8,9)
.
Mekanisme ekstrak kulit buah Citrus aurantifolia Swingle
yang dapat menghambat efek kontraksi trakea marmot
terisolasi yang diinduksi histamin secara in vitro dapat melalui
beberapa kemungkinan, yang antara lain seperti dijelaskan
berikut ini.
Kemungkinan pertama, antagonis yang terkandung di
dalam kulit buah Citrus aurantifolia Swingle dan agonis
(histamin) berikatan dengan reseptor yang sama, sehingga
terjadi antagonisme kompetitif, untuk dapat menimbulkan efek
yang sama maka agonis berikatan dengan reseptor yang sama.
Selanjutnya untuk menimbulkan efek maka agonis harus
berinteraksi dengan reseptornya dan efek maksimum diperoleh
apabila semua reseptornya diduduki agonis. Dengan adanya
antagonis maka agonis untuk dapat memperoleh efek yang
sama memerlukan dosis yang lebih besar sehingga kurva
bergeser ke kanan (Gambar 7a dan 8), akan tetapi dalam
kurva tersebut ditunjukkan juga bahwa dengan memperbesar
dosis antagonis maka akan memperkecil efek agonis. Hal ini
ditunjukkan dengan terjadinya pengurangan efek kontraksi
maksimum dan pengurangan efek ini tidak bisa diatasi dengan
memperbesar dosis agonis (histamin), keadaan yang demikian
mencirikan terjadinya antagonis non-kompetitif. Atas dasar ini
maka kerja dari antagonis yang terkandung di dalam kulit
buah Citrus aurantifolia Swingle dan agonis (histamin) me-
lalui perpaduan antara antagonisme kompetitif dan non-
kompetitif.
Kemungkinan kedua, oleh karena di dalam trakea marmot
reseptor prostaglandin E yang mempunyai aksi meningkatkan
kadar siklit-adenosa mono pospat (c-AMP) sehingga me-
nyebabkan relaksasi yang dalam kerjanya berhubungan
dengan reseptor adrenergik beta, maka dengan naiknya kadar
siklik-AMP akan dapat menghambat produksi histamin lebih
lanjut
(18,19,20)
. Produksi dan pelepasan histamin terjadi karena
adanya degranulasi mastosit (mast-cells)
(20)
. Aksi dari reseptor
prostaglandin E yang demikian ini terlihat pada waktu trakea
terisolasi tersebut sebelum diinduksi dengan histamin terlebih
dahulu diberi ekstrak kulit buah Citrus aurantifolia Swingle
sehingga terjadi relaksasi (Gambar 10). Namun demikian
perlu diketahui bahwa prostaglandin E mempunyai waktu
paruh yang pendek
(21)
, sehingga kemungkinan terjadi interaksi
antara prostaglandin E dengan reseptornya sangat kecil sekali.
Jadi dapat diperkirakan bahwa efek pengurangan kontraksi
trakea melalui prostaglandin E tersebut relatif kecil sekali
sehingga dapat diabaikan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 31
background image
SARAN
1) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai mekanis-
me efek penghambatan kontraksi trakea marmot, terisolasi
yang diinduksi histamin secara in vitro dengan adanya
senyawa aktif yang terkandung di dalam zona 3 hasil KLT
fraksi air.
2) Perlu dilakukan elusidasi struktur lebih lanjut terhadap
zona 3.
KEPUSTAKAAN
1. Pulle A.A. Compendium van der Terminologie Nomenclatuur en
Systematiek der Zaadplanten, N.V.A. Oosthoek's Uitg. Mij., Utrecht,
1952.
2.
Sastroamidjojo S. Obat Aseli Indonesia, Dian Rakjat, Djakarta, 1952.
3. Anonim, Indeks Tumbuh-tumbuhan di Indonesia, P.T. Eisal, Jakarta,
1986.
Gambar 10. Hasil rekaman relaksasi trakea terisolasi yang disebabkan
oleh reseptor prostaglandin E setelah penambahan ekstrak
kulit buah Citrus aurantifolia Swingle.
4.
Anonim, Tanaman Obat Indonesia, Jilid I, Dep. Kes. R.I., Jakarta, 1985.
5. Harborne J.B. Phytochemical Methods, Champman and Hall, London,
1973; p. 52-9.
6.
Trease Evans, Pharmacognosy, Bailliere Tindall, 11
th
ed., London 1978;
p. 409.
KESIMPULAN
1) Kontraksi trakea marmot terisolasi yang diinduksi his-
tamin dapat dihambat oleh ekstrak kulit buah Citrus
aurantifolia Swingle secara in vitro.
7.
Amellal M. Inhibitor of Mast-cell Histamine Release by Flavonoids and
Biflavonoids, Planta Medica 1985; 16-9.
8. Middleton E. The Flavonoids, Trends in Pharmacological Sciences
1984; (August.) : 335-8.
2)
Kontraksi trakea marmot terisolasi yang diinduksi
histamin dapat dihambat oleh fraksi air dari ekstrak kulit buah
Citrus aurantifolia Swingle.
9. Sankawa U. Antiallergic Substances from Chinese Medical Plants,
Internati Symp on Chinese Medical Materials Research, Hongkong,
1984; p. 29.
10. Timmerman H, Sceffer N.G. A New Tracheal Strip Preparation for the
Evaluation of Beta-adrenergic Activity, Pharm J., 1968; 20 : 78-9.
3) Hasil KLT preparatif fraksi air dengan menggunakan fase
diam selulosa dan fase gerak HOAc 15% menunjukkan enam
buah zona.
11. Soepono S. Aspek Neurofisiologik Asma Bronkiaal, Simposium RSUP
DR. Sardjito, Yogyakarta, 1985.
4) Dari keenam zona tersebut, ternyata zona 3 paling aktif
dalam menghambat kontraksi trakea marmot terisolasi yang
diinduksi histamin secara in vitro.
12. Mabry TJ., Markham KR., Thomas MB. The Systematic Identification
of Flavonoids, Springer Verlag, Berlin, New York, 1970; p. 165-74.
13. Harborne JB. Metode Fitokimia, Edisi II. ITB, Bandung, 1987.
14. Horowitz W. Official Methods of Analysis of The Association of
Official Agricultural Chemists, AOAC, Washington DC. 1865; p. 341.
5) Senyawa yang terkandung di dalam zona 3 (isolat) me-
rupana senyawa flavonoid golongan flavanon atau turunannya
dengan struktur umum sebagai berikut :
15. Markham KR. Cara Mengidentifikasi Flavonoid, (Terjemahan), ITB,
Bandung 1988, hal. 1-53.
16. Sugeng. Tanaman Apotik Hidup (Jamu-jamu Tradisional), C.V Aneka
Ilmu, Semarang, 1984, hal. 89-90.
17. Geissman. The Chemistry of Flavonoid Compounds, Dept. of
Chemistry, University of California, Los Angeles, The Macmillan
Company, New York.
18. Kuzemko JA. Asthma pada Anak, Yayasan Essentia Medica, Jakarta,
1972, p. 11-3.
19. Frick OL. Fundenberg, Stites DP. Cadwell JL. Well eds. Immediate
Hypersensitivity, Basic and Clinical Immunology, 3
rd
ed., Los Altos,
California; Lange Medi p. 274-95.
20. Crofton SJ. Douglas A. Respiratory Disease, 3
rd
ed., Blacwell Scient
Publ, Osney, Mead, Oxford, 1983; p. 278-508.
21. Burgen ASV. Mitchell JR Gaddum's Pharmacology, Oxford University
Oxford, 3
rd
ed., 1983.
Everything is as you take it
Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000
32