background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 31
HASIL PENELITIAN
Pengaruh Ekstrak Antanan
dalam Bentuk Salep, Krim dan Jelly
terhadap Penyembuhan Luka Bakar
Suratman, Sri Adi Sumiwi, Dolih Gozali
Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pen getahuan Alam, Universitas Padjadjaran, Bandung
LATAR BELAKANG
Kulit merupakan salah satu organ tubuh yang mempunyai
peranan penting dalam sistem fisiologi tubuh. Kulit berfungsi
sebagai indra perasa yang menerima rangsangan panas, dingin,
rasa sakit, halus dan sebagainya. Kulit juga berfungsi untuk
menjaga stabilitas suhu badan dan mencegah penguapan air yang
berlebihan. Dalam hal pencegahan terhadap infeksi, kulit me-
rupakan pelindung yang menghalangi masuknya mikroba dan
bahan-bahan asing lain yang mempunyai sifat patogenik. Kulit
sebagai alat ekskresi memiliki kelenjar minyak dan kelenjar
keringat
(1,2,3)
.
Kerusakan pada kulit dapat disebebkan oleh beberapa hal,
salah satu di antaranya adalah akibat terjadinya kontak antara
kulit dengan panas. Kontak antara kulit dengan panas dalam
batas-batas temperatur dan waktu kontak tertentu masih dapat
ditoleransi, tetapi panas yang tinggi dan waktu kontak yang
cukup lama dapat menyebabkan kerusakan jaringan kulit.
Makin tinggi temperatur makin sedikit waktu yang dibutuhkan
untuk dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan kulit
(3)
.
Antanan atau Centella asiatica (L.) Urban merupakan
tumbuhan liar yang termasuk keluarga Umbeliferae. Tumbuhan
ini telah lama digunakan sebagai lalab oleh sebagian masyarakat
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian terhadap efek penyembuhan luka bakar ekstrak herba
Centella asiatica (L.) Urban dalam bentuk sediaan salep, krim, dan jelli.
Penelitian dilakukan terhadap tikus putih jantan galur Wistar, dengan menggunakan
metode Morton. Kadar ekstrak Centella asiatica (L) Urban dalam sediaan uji terdiri atas
3%dan5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang diberi salep, krim dan jelli
dengan kadar ekstrak 3% berturut-turut sembuh setelah hari ke 13, 12 dan 11. Sedang
kelompok yang diberi sediaan salep, krim dan jelli dengan kadar 5% berturut-turut
sembuh setelah hari ke 12, 11 dan 11.
Dari hasil uji statistik yang masing-masing dilakukan pada kadar ekstrak 3% maupun
5%, dapat disimpulkan bahwa perubahan bentuk sediaan tidak berpenganuh secara nyata
terhadap efek penyembuhan luka bakar.
Hasil uji stabilitas menunjukkan bahwa sediaan krim dan jelli mempunyai stabilitas
yang relatif baik selama 3 bulan, sebaliknya sediaan salep mempunyai stabilitas yang
jelek.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
32
Jawa Barat. Dalam bidang pengobatan tanaman ini telah banyak
dimanfaatkan sebagai diuretik, obat sariawan, penambah nafsu
makan, penurun panas, dan obat luka terbuka maupun luka
bakar
(4,5)
. Centella asiatica (L.) Urban mengandung kelompok
senyawa terpenoid, flavonoid, senyawa polifenol, dan senyawa
poliasetilena. Senyawa yang terpenting dan telah diteliti mem-
punyai efek menyembuhkan luka terbuka atau luka bakar adalah
senyawa golongan triterpen saponin dan sapogenin yaitu asam
asiatat, asàm madekasat dan asiatikosid
(5,6)
.
Penggunaan ekstrak herba antanan untuk obat luka telah
diakui oleh kalangan medis, bahkan saat ini di pasaran telah
beredar salep yang mengandung ekstrak tumbuhan ini. Salep
adalah bentuk sediaan setengah padat untuk penggunaan ekster-
nal pada permukaan tubuh, kecuali salep mata. Salep bersifat
lembut, melembabkan, melindungi, tetapi pada umumnya ber-
sifat lengket dan sulit dicuci dengan air.
Bentuk sediaan setengah padat lain selain salep adalah krim
dan jelli. Saat ini di pasaran belum ada bentuk sediaan krim dan
jelli yang mengandung ekstrak Centella asiatica (L) Urban.
Atas dasar pemikiran tersebut maka dicoba untuk membuat
sediaan krim dan jelli yang mengandung ekstrak antanan, serta
melakukan uji efek penyembuhannya terhadap luka bakar dan
stabilitasnya.
IDENTIFIKASI MASALAH
Dari latar be1akang penelitian terungkap beberapa masalah
dan alternatif pemecahannya:
1) Perlunya dicari alternatif bentuk sediaan lain yaitu krim
dan jelli
2) Apakah bentuk sediaan krim dan jelli mempunyai efek
penyembuhan luka bakar lebih lemah, sama atau lebih kuat
dibandingkan bentuk sediaan salep.
3) Apakah stabilitas bentuk sediaan krim dan jelli lebih jelek,
sama atau lebih baik dibandingkan bentuk sediaan salep.
MAKSUD DAN TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penyem-
buhan luka bakar ekstrak herba antanan (Centella asiatica (L)
Urban) dalam bentuk sediaan salep, krim dan jelli serta menge-
tahui stabilitas dan ketiga bentuk sediaan tersebut.
METODOLOGI PENELITIAN
1) Ekstraksi simplisia
Ekstraksi simplisia dilakukan dengan metode perkolasi
menggunakan alkohol 70%. Ekstrak dikisatkan hingga diperoleh
ekstrak kering, kemudian dilakukan uji fitokimia terhadap be-
berapa kelompok senyawa yang terkandung di dalam Centella
asiatica (L) Urban.
2) Pembuatan sediaan uji
Sediaan uji berupa salep basis absorpsi (SBA), krim minyak
dalam air (KM/A) dan jelli basis carbopol-940 (JC). Masing-
masing dibuat dengan kadar ekstrak antanan 0% (kontrol ne-
gatif), 3%, 5%.
Formulasi dan masing-masing sediaan tercantum dalam
Tabel 1.
Tabel 1. Formula Salep, Krim dan Jelli antanan
Bentuk sediaan
SBA KM/A GC
Bahan
0% 3% 5% 0% 3% 5% 0% 3% 5%
Ekstrak antanan
­
3 5 ­ 3 5 ­ 3 5
Gelatin
­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­
Lanolin
10 10 10 ­ ­ ­ ­ ­ ­
Asam
stearat
­ ­ ­ 15 15 15 ­ ­
Borax
­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­
Carbopol940 ­ ­ ­ ­ ­ ­ 2 2 2
Cera
putih
­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­
Setil
alkohol 4 4 4 ­ ­ ­ ­ ­ ­
Gliserin
­ ­ ­ 10 10 10 ­ ­ ­
Parafin
cair
­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­
TEA
­ ­ ­ 1,5 1,5 1,5 1,65 1,65 1,65
Metilparaben 0,10 0,10 0,10
0,10 0,10 0,10 0,10 0,10 0,10
Propil
paraben 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05
Vaselin
hingga 100
100
100 ­ ­ ­ ­ ­ ­
Air
hingga
­ ­ ­ 100 100 100 100 100 100
Keterangan : Semua dalam satuan gram
3) Pengujian efek penyembuhan Luka bakar
Pengujian efek penyembuhan luka bakar dilakukan dengan
menggunakan binatang percobaan berupa tikus putih (Rattus
novergicus) galur Wistar jenis kelamin jantan.
a) Pengelompokan binatang percobaan
Untuk keperluan pengujian efek penyembuhan luka bakar
binatang percobaan dibagi sebagai berikut:
Kelompok I terdiri dari 5 ekor tikus, kelompok ini diinduksi
dengan panas tetapi tidak diberi pengobatan (KNTB).
Kelompok II terdiri atas sub kelompok IIA, IIB dan IIC.
Masing-masing sub kelompok terdiri dan 5 ekor tikus. Sub
kelompok IIA, IIB dan IIC berturut-turut diberi sediaan SBA
yang mengandung ekstrak antanan 0%, 3% dan 5%.
Kelompok III terdiri atas sub kelompok IIIA, IIIB dan IIIC.
Masing-masing sub kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Sub ke-
lompok IIIA, IIIB dan IIIC berturut-turut diberi sediaan KM/A
yang mengandung ekstrak antanan 0%, 3% dan 5%.
Kelompok IV terdiri atas sub kelompok IVA, IVB dan IVC.
Masing-masing sub kelompok terdin dan 5 ekor tikus. Sub
kelompok IVA, IVB dan IVC berturut-turut diberi sediaan JC
yang mengandung ekstrak antanan 0%, 3% dan 5%.
Kelompok V terdiri atas 5 ekor tikus, diberi salep antanan
yang ada di pasaran sebagai kontrol positif (KP).
b) Prosedur pengujian efek penyembuhan luka bakar
Tikus dicukur pada bagian punggungnya, kemudian di-
anestesi dengan kloroform. Kulit diinduksi dengan alat peng-
induksi panas dengan suhu 80° selama 5 menit. Alat penginduksi
panas berupa lempeng logam dengan diameter 2 cm yang di-
hubungkan dengan sebuah elemen pemanas yang mempunyai
daya 40 watt dan voltasenya 220 volt. Luka yang terjadi diukur
diameternya seperti Gambar 1. Kemudian dihitung diameter
rata-ratanya dengan rumus sebagai berikut:
background image
Luka yang terjadi diolesi dengan sediaan uji, kemudian
ditutup dengan kain kasa dan plester. Hari berikutnya plester dan
kain kasa dibuka, diameter luka diukur kemudian ditutup kern-
bali dengan kain kasa dan plester. Lakukan sampai luka sembuh
(diameter luka sama dengan nol bila lüka sudah teltutup oleh
jaringan baru).
c) Perhitungan persentase penyembuhan
Dilakukan dengan rumus sebagai berikut:
Px = Persentase penyembuhan hari ke-x
d = diameter luka hari pertama
dx = diameter luka hari ke-x
d) Analisis data dengan disain blok lengkap acak
5) Uji stabilitas sediaan
Uji stabilitas sediaan dilakukan dengan mengamati terjadi-
nya perubahan warna, bau, dan homogenitas. Lama pengamatan
3 bulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ekstraksi berupa ekstrak kering yang berwarna hijau
kehitaman dengan bau khas. Berat ekstrak kering yang diperoleh
20,6 gram per 200 gram simplisia. Hasil uji fitokimia terhadap
ekstrak antanan tercantum dalam Tabel 2.
Tabel 2. Hasil uji fitokimia terhadap Ekstrak Antanan
Golongan senyawa Kimia
Hasil
Alkaloid ­
Glikosida +
Flavonoid +
Tanin +
Steroid ­
Terpen +
Saponin +
Keterangan
:
+
=
terdeteksi
­ = tidak terdeteksi
Hasil perhitungan rata-rata persentase penyembuhan luka
bakar berbagai kelompok perlakuan tercantum dalam Tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata Persentase Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak
Herba Antanan dalam Bentuk Sediaan Salep, Krim dan Jelli
Kelompok
SBA KM/A JC
Hari
KNTB
0% 3% 5% 0% 3% 5% 0% 3% 5%
KP
1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
2 ­3,9 ­3,8 ­3,8
1
0,0 ­13 ­1,3 1,2 0,0 ­1,3 ­1,3
­13
3 ­6,7
­12,9 ­9,0
0,0 ­9,1
­14,3
3,0 ­9,0 ­28 3,5 ­1,6
4
­16,1 ­14,2 ­9,3
2,4 ­17,1 ­1,4 2,4 ­10,3 9,8
14,3 ­2,9
5 ­24,7 ­19,7 5,9 12,1 ­21,2
12,0 17,5 ­6,8 14,6 20,3 27,2
6 ­13,3 ­10,5 23,3 32,5 32,5­ 34,1 29,6 4,9 279 40,8 45,9
7
­10,9 2,3
40,1 48,5 ­8,6 41,8 55,2 20,9 46,0 65,3 77,9
8 0,9 22,0 51,8 65,2 ­0,7 58,4 78,0 42,5 64,1 858 89,4
9 8,2 43,6 66,9 79,2 16,0 79,1 89,2 46,4 88,8 88,3 96,5
10 24,8 49,0 82,8 91,7 28,7 91,7 96,0 60,4 97,8 98,5 98,7
11
41,0 65,4 90,7 96,9 40,0 96,9 100,0 69,6 100,0 100,0 100,0
12 49,6 72,8 96,6 100,0 55,9
100,0 * 78,7
* * *
13
61,4 82,0 100,0
*
63,4 * * 85,3
*
*
*
14
66,1
88,1
* *
83,1
* *
92,1
* * *
15
72,1
93,9
* *
92,6
* *
97,5
* * *
16
78,6 97,8
*
*
97,4 * * 100,0
*
*
*
17
82,6
100,0
* *
100,0
* * * * * *
18
88,2 * * * * * * * * * *
19
94,6 * * * * * * * * * *
20
100,0
* * * * * * * * * *
Keterangan Tanda * = Semua tikus telah sembuh 100% \
Tanda
­
= Luka
semakin
lebar
Kelompok yang diberi SBA mengandung ekstrak herba
antanan pada kadar 3% memberikan persentase penyembuhan
100% setelah hari ke 13, sedangkan pada kadar 5% memberikan
persentase penyembuhan 100% setelah hari ke 15. Waktu pe-
nyembuhan ini lebih baik dibandingkan dengan kelompok kon-
trol negatif yang hanya diberi basis SBA, yang baru sembuh
setelah hari ke 17 (Gambar 2).
Gambar 2. Histogram Penyembuhan Luka Bakar Kelompok yang
Diberi Sediaan Salep Basis Absorpsi (SEA)
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 33
background image
Kelompok yang diberi sediaan KM/A yang mengandung
ekstrak herba antanan kadar 3%, persentase penyembuhan 100%
tercapai setelah hari ke 12, sedangkan pada kadar 5% memberi-
kan persentase penyembuhan 100% pada hari ke 11. Waktu
penyembuhan ini lebih baik dibandingkan kelompok kontrol
negatif yang hanya diberi basis KM/A (Gambar 3).
Gambar 3. Histogram Penyembuhan Luka Bakar Kelompok yang Diberi
Sediaan
Krim
Air
dalam
Minyak
(KM/A)
Kelompok yang diberi sediaan JC yang mengandung ekstrak
antanan dengan kadar 3% dan 5% memberikan persentase
penyembuhan 100% pada hari ke 11. Waktu penyembuhan ini
lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yang
hanya diberi basis JC (Gambar 4).
Kelompok kontrol negatif yang tidak diberi basis (KNTB)
memberikan persentase penyembuhan 100% setelah hari ke-20.
Sedangkan kelompok kontrol positif (KP) yang diberi salep
antanan yang ada di pasaran, memberikan persentase penyem-
buhan 100% setelah hari ke 11.
Uji statistik membenkan hasil sebagai berikut (Tabel 4­7):
Tabel 4. Daftar Analisis Varians Persentase Penyembuhan Luka Bakar
Ekstrak Herba Antanan (Centella asiatica (L) Urban) dalam
Berbagai
Bentuk
Sediaan
dengan
Kadar
3%
Sumber
variasi
dk JK KT F
Rata-rata 1
103688,2
103688,2
Blok (hari)
12
91595,2
7632,9
Perlakuan 4
17884,4
4471,1
25,2
Kekeliruan eksperimen
48
8531,8
177,7
Jumlah 65
221699,6
Gambar 4. Histogram Penyembuhan Luka Bakar Kelompok yang Diberi
Sediaan
Jelli
(JC)
Dari tabel pada = 0,05 F
(12,48)
= 1,97 sedangkan pada =
0,01 F
(12,48)
= 2,60. Karena F hitung lebih besar dan F tabel, hal
ini menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada persentase
penyembuhan luka bakar di antara kelompok-kelompok per-
lakuan.
Tabel 5. Hasil Uji Rentang Newman-Keuls Rata-rata Persentase Penyem-
buhan Luka Bakar pada Uji Efek Penyembuhan Luka Berbagai
Bentuk Sediaan dengan Kadar Ekstrak Antanan 3%
Perbandingan Perbedaan
RST
a = 0,05
RST
a = 0,01
V lawan I
48,2
16,78*
20,41**
V lawan II
15,4
15,74
19,45
V lawan III
12,8
14,27
18,07
V lawan IV
7,0
11,90
15,86
IV lawan I
41,2
15,74*
19,45**
IV lawan II
8,2
14,27
18,45
IV lawan III
5,8
11,90
15,86
III lawan I
35,4
14,27*
18,07**
III lawan II
2,6
11,90
15,86
II lawan I
32,8
11,90*
15,86**
Keterangan : */**
=
ada
perbedaan bermakna/sangat bermakna
Hasil uji rentang Newman-Keuls untuk membandingkan efek
penyembuhan luka bakar dan tiap-tiap kelompok perlakuan
dengan kadan ekstrak antanan 3%, baik pada taraf kepercayaan
99,95% maupun pada taraf kepercayaan 99,99% menunjukkan
adanya perbedaan yang bernakna dan sangat bermakna antara
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
34
background image
Gambar 5. Perbandingan Efek Penyembuhan Luka Bakar dari Berbagai
Kelompok
Perlakuan
dengan
Kadar
3%
Gambar 6. Perbandingan Efek Penyembuhan Luka Bakar dari Berbagai
Kelompok
Perlakuan
dengan
Kadar
5%
kelompok II (SBA), III (KM/A), IV (JC), V (KP) dengan kelom-
pok I (KNTB). Sedang perbandingan di antara kelompok-ke-
lompok II, III, IV dan V tidak ada perbedaan yang bermakna.
Tabel 6. Daftar Analisis Varians Persentase Penyembuhan Luka Bakar
Ekstrak Herba Antanan (Centella asiatica (L) Urban) dalam
Berbagai
Bentuk
Sediaan
dengan
Kadar
5%
Sumber
variasi
dk JK KT F
Rata-rata 1
96352,3
96352,3
Blok (hari)
11
78035,3
7094,1
Perlakuan 4
19982,7
4995,7
25,5
Kekeliruan eksperimen
44
8617,7
195,9
Jumlah 60
202988,0
Tabel 7. Hasil Uji Rentang Newman-Keuls Rata-rata Persentase Penyem-
buhan Luka Bakar pada Uji Efek Penyembuhan Luka Berbagai
Bentuk Sediaan dengan Kadar Ekstrak Antanan 5%
Perbandingan Perbedaan
RST
a = 0,05
RST
a = 0,01
V lawan I
48,9
14,93*
19,05**
V lawan II
9,0
14,67
18.16
V lawan III
4,9
13,31
16,88
V lawan IV
1,8
11,06
14,78
IVIawanI 47,1
14,67*
18,16**
IV lawan II
7,2
13,31
16,88
IV lawan III
3,1
11,06
14,78
III lawan I
44,0
13,31 *
16,88**
III lawan II
4,1
11,06
14,78
II lawan I
39,9
11,06*
14,78**
Keterangan : */**
=
ada
perbedaan bermakna/sangat bermakna
Dari daftar untuk cx = 0,05 F
(11,44)
= 2,70 sedangkan untuk
= 0,01 F
(11,44)
= 2,02. Karena F hitung lebih besar dan F tabel,
maka menunjukkan adanya perbedaan persentase penyembuhan
luka bakar di antara kelompok-kelompok perlakuan.
Hasil uji rentang Newman-Keuls baik pada taraf kepercaya-
an 99,95% maupun 99,99% menunjukkan adanya perbedaan
yang bermakna dan sangat bermakna antara kelompok II (SBA),
III (KM/A), IV (JC), V (KP) dengan kelompok I (KNTB).
Sedangkan perbandingan di antara kelompok II, III, IV dan V
tidak ada perbedaan yang bermakna.
Hasil uji stabilitas sediaan yang dilakukan selama 3 bulan
pada suhu kamar tercantum dalam Tabel 8.
Tabel 8. Hasil Uji Stabilitas Sediaan
Bentuk sediaan
SBA KM/A JC
Pengamatan
0% 3% 5% 0% 3% 5% 0% 3% 5%
Wama
+ + + ­ ­ ­ ­ ­ ­
Bau
+ + + ­ ­ ­ ­ ­ ­
Homogenitas + + + ­ ­ ­ ­ ­ ­
Keterangan
:
+
=
terjadi
perubahan
­ =
tidak
terjadi
perubahan
Pada bentuk sediaan salep yang mengandung ekstrak an-
tanan 3% dan 5% pada hari ke 65 tampak adanya koloni-koloni
jamur pada permukaan. Salep basis absorpsi yang tidak mengan-
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996 35
background image
dung ekstrak herba antanan menunjukkan hal yang sama pada
hari ke 72. Tetapi hal tersebut tidak terjadi pada bentuk sediaan
yang lain. Hal ini mungkin disebabkan adanya kontaminan yang
berasal dari bahan-bahan pembantu yang digunakan dalam
pembuatan formula.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada kadar ekstrak 3% bentuk sediaan salep, krim dan jelli
memberikan waktu penyembuhan berturut-turut 13, 12, dan 11
hari. Sedang pada kadar ekstrak 5% bentuk sediaan salep, krim.
danjelli memberikan waktu penyembuhan berturut-turut 12, 11.
dan 11 hari. Dan hasil uji statistik dapat disimpulkan, baik pada
kadar 3% maupun 5% ketiga bentuk sediaan tersebut memberi-
kan efek penyembuhan luka bakar yang sama. Jadi perubahan
bentuk sediaan tidak berpengaruh terhadap efek penyembuhan
luka bakan ekstrak herba antanan.
Hasil uji stabilitas sediaan menunjukkan bahwa bentuk
sediaan krim dan jelli baik yang mengandung ekstrak herba
antanan 3%, 5% maupun 0%, mempunyai stabilitas yang baik.
Sedang bentuk sediaan salep dengan kadar 3%, 5% dan 0%
mempunyai stabilitas yang jelek.
Penggunaan ekstrak herba antanan (Centella asiatica (L.)
Urban) selain untuk mengobati luka bakar juga digunakan untuk
pengobatan luka setelah operasi. Maka disarankan untuk
melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh bentuk
sediaan salep, krim dan jelli terhadap efek penyembuhan luka
setelah operasi. Serta meneliti stabilitas bentuk sediaan yang
paling baik, dengan waktu pengamatan yang lebih lama serta
parameter pengamatan yang lebih banyak (pH, viskositas dan
sebagainya).
KEPUSTAKAAN
1. Pearce EC. Anatomi dan Fisiologi Manusia Untuk Paramedis, terjemahan
Sri Yuliath, Cetakan kesembilan. Jakaita-PT Gramedia, 1987; h. 239-244.
2. Antoni, Thibodeau. Structure and Function of the Body. London: CV.
Mosby Co, 1980; p. 28­30.
3. Balinger WF et al. The Management of Trauma, 2nd. ed.. Philadelphia:
WB Saunders Co, 1973; p. 650­705.
4. Farnsworth NR. Biological and phytochemical screening of plant, J Phar
maceut Sci 1966; 55(3): 243­269.
5. Tang W, Eisandbrand. Chinese Drugs of Plant Origin. New York: Springer
Verlah, 1992; p. 273­276.
6. Chandel RS, Rastogi RP. Triterpenoid Saponin and Sapogenin: 1973­
1978, Phytochemistry 1979; 19: 1889­1908.
7. Ansel H. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta: UI-
Press, 1989; h. 489­5 15.
Cermin Dunia Kedokteran No. 108, 1996
36