TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Paronikia
gambaran klinis dan penatalaksanaannya
Raflizar
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Paronikia adalah suatau reaksi peradangan mengenai lipat-
an kulit dan jaringan di sekitar kuku. Paronikia akut paling
sering diakibatkan oleh infeksi bakteri, umumnya Staphylo-
coccus aureus atau Pseudomonas aeruginosa, sedangkan
Paronikia kronis disebab oleh jamur Candida albicans
(1,2,3)
.
Paronikia ditandai dengan jaringan kuku menjadi lembut
dan membengkak serta dapat mengeluarkan pus (nanah), kuku
bertambah tebal, berubah warna dan membentuk garis
punggung melintang
(4)
. Bila infeksi telah kronis, maka terdapat
cerah horizontal pada dasar kuku biasanya menyerang 1-3
jari
(1,5)
.
Penyakit ini berkembang pada orang-orang yang tangannya
lama terendam air; kalau jari terluka sedikit saja, maka basil
atau jamur akan merusak jaringan sekitar kuku. Penderita
diabetes atau kekurangan gizi lebih mudah diserangnya
(4)
.
Lebih banyak terjadi pada wanita, kadang-kadang penyakit
ini muncul pada anak-anak, khususnya yang gemar menghisap
jari tangannya. Setiap jari tangan dapat terkena, tetapi yang
lebih sering adalah jari manis dan jari kelingking
(6)
.
Antibiotika dan pengobatan secara topikal dapat digunakan
dalam penatalaksanaan Paronikia akut maupun kronis.
Untuk memahami Paronikia hendaknya lebih dahulu me-
ngetahui anatomi kuku dan jaringan sekitar kuku.
ANATOMI KUKU DAN JARINGAN SEKITARNYA
Bagian-bagian kuku terlihat pada gambar di bawah ini.
a. lempeng kuku (nail plate)
e. lipatan kuku lateral
b. lunula
f. dasar kuku (nail bed)
c. eponikiam
g. lempeng kuku
d. lipatan kuku posterior
a. kulit ari
d. lempeng kuku
b. eponikium
e. dasar kuku
c. lunula
f. matriks kuku
Gambar Anatomi Kuku
Bagian-bagian kuku :
1. Matriks kuku: merupakan pembentuk jaringan kuku yang
baru.
2. Dinding kuku (nail wall) : merupakan lipatan-lipatan kulit
yang menutupi bagian pinggir dan atas.
3. Dasar kuku (nail bed): merupakan bagian kulit yang
ditutupi kuku.
4. Alur kuku (nail groove) : merupakan celah antara dinding
dan dasar kuku.
5. Akar kuku (nail root): merupakan bagian tengah kuku
yang dikelilingi dinding kuku.
6. Lempeng kuku (nail plate) : merupakan bagian tengah
kuku yang dikelilingi dinding kuku.
7. Lunula : merupakan bagian lempeng kuku berwarna putih
dekat akar kuku berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh
kulit.
8. Eponikium : merupakan dinding kuku bagian proksimal,
kulit arinya menutupi bagian permukaan lempeng kuku.
9. Hiponikium : merupakan dasar kuku, kulit ari di bawah
kuku yang bebas (free edge) menebal.
Kutikula ialah stratum komeum yang terbentuk dari lipatan
kuku proksimal, yang lengket dengan lempeng kuku (nail
plate). Jari-jari tangan mendapat vaskularisasi pembuluh darah
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 25
yang berjalan paralel dan pembuluh darah tersebut beranas-
tomosis pada ruangan pulpa di bawah falangs terminal
membentuk lengkungan di sekitar tulang dan mevaskularisasi
jaringan lipatan kuku, di bantalan kuku juga terdapat glomus
yang merupakan struktur vaskuler khusus yang bekerja sebagai
arterivenosa untuk mengatur aliran darah pada cuaca dingin
(3,7)
.
GAMBARAN KLINIS
Paronikia Akut
Penyebab paronikia akut yang sering adalah: Staphylo-
coccus aureus, (80%) sedangkan sisanya adalah Streptococcus
dan bakteri gram negatif lain.
Paronikia superfisial tampak sebagai daerah kemerahan,
nyeri tekan di sekitar lipat kuku, bengkak, adanya abses intra
kutikular atau sub kutikular dan dapat juga pada sisi lateral lipat
kuku. Paronikia yang dalam memberikan gambaran pembeng-
kakan yang nyeri bila ditekan dan selulitis hampir di seluruh
jaringan proksimal kuku, yang paling sering dalam eponikium.
Pada awal sebelum pengobatan antibiotika tidak terlihat adanya
pus dan setelah pengobatan akan terbentuk pus yang ter-
lokalisasi
(10,11)
. Infeksi bakteri pada lipat kuku sering terjadi
sekunder karena trauma seperti kebiasaan mengisap dan
menggigit kuku, kesusuban atau tertusuk paku, adanya luka
lama dan perawatan kuku yang salah dengan pemakaian alat
yang tidak steril yang dapat mengakibatkan robeknya kuti-
kula
(6)
.
Paronikia Kronis
Berdasarkan etiologinya dibagi menjadi primer dan sekun-
der. Pada keadaan primer ada nyeri dan pembengkakan lipat
kuku lateral dan posterior, eritematosa tampak berkilat. Kuti-
kula biasanya terlepas dari lempeng kuku yang merupakan
gambaran diagnostik penting.
(6,12)
Pada stadium awal lempeng kuku masih tampak normal;
dengan proses lanjut daerah lempeng kuku bagian proksimal
dan lateral mengalami perubahan warna bahkan distropi.
Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita terutama pada
usia 30-60 tahun. Kadang-kadang muncul pada anak-anak yang
gemar mengisap jari tangannya
(6)
.
Etiologi dihubungkan dengan perendaman tangan dalam
air yang berlangsung lama. Penyakit ini banyak terjadi pada ibu
rumah tangga, tukang masak, perawat, orang dengan pekerjaan
yang berhubungan dengan ikan seperti nelayan, penjual ikan,
pekerja kantin (catering), penyakit sistemik yang merupakan
predisposisi seperti kencing manis (DM)
(6,9)
.
Peradangan ringan yang berlanjut pada lipat kuku sering
diikuti serangan akut yang terbentuk bintik-bintik pus yang
dapat diketahui dengan penekanan jaringan lipat kuku akan
keluar material seperi keju. Pus terbentuk dalam kantong di
bawah lipat kuku; tidak terlihat adanya abses dalam perinikium.
Serangan akut dan kronis yang berulang-ulang menyebab-
kan perubahan warna lempeng kuku bagian proksimal dan
lateral seperti warna kuning, coklat atau kehitaman
(3)
. Per-
ubahan warna ini disebabkan oleh dihidroksi aseton yang
dihasilkan organisme dalam lipat kuku. Pseudomonas mem-
berikan warna khusus hijau atau biru tergantung dari spesies
Pseudomonas. Pseudomonas pyocyanea memberikan warna
hijau karena pigmen piosianin, sedangkan Pseudomonas aeru-
ginosa warna hijau
(13)
.
Paronikia Candida mempunyai tanda sebagai berikut :
1. Kurangnya rasa sakit.
2. Pada perabaan kurang hangat, jika dibandingkan dengan
paronikia bakterial.
3. Tidak adanya pus atau nanah.
4. Berjalan secara kronis.
5. Sering disertai onikolisis
(3)
.
Pada paronikia Candida, lempeng kuku dipengaruhi secara
sekunder. Lempeng kuku kelihatan lebih gelap, cembung,
kadang-kadang lebih tipis, jarang terdapat adanya sub ungual
hiperkeratosis. Sedangkan pada Candidiasis kuku klinis di-
tandai dengan adanya sub ungual hiperkeratosis. Gambaran
klinis Candidiasis kuku sulit dibedakan dari tinea unguium.
Perbedaan dapat diketahui dengan cara biakan jamur
dengan adanya jamur Candida dan respon pengobatan yang
tidak baik dengan griseofulvin. Sedangkan pada tinea unguium,
biakan tumbuh jamur penyebab dermatofit, respon pengobatan
dengan griseofulvin membaik
(14)
. Pada Paronikia sekunder,
infeksi kuku biasanya disebabkan oleh : Hendersonula toru-
loidea atau Scytalidium hyalinum.
Mekanisme terjadinya paronikia kronis sekunder serupa
dengan paronikia primer. Gangguan pertama berupa lepasnya
eponikium dari lempeng kuku akibat perendaman dalam air
yang berlangsung lama. Paparan tersebut menyebabkan kuti-
kula lunak dan akhirnya lepas, sehingga terjadi invasi bakteri
dan jamur.
PENATALAKSANAAN
Paronikia akut umumnya disebabkan oleh bakteri, peng-
obatan pilihan preparat flucloxacilin 4 x 250 mg/hari
(6)
; umum-
nya berhasil baik. Bila terbentuk pus dilakukan drainase dengan
tidak mengabaikan 5 prinsip pengobatan infeksi tangan yaitu :
1. Pemberian antibiotik
2. Istirahat dan elevasi bagian yang terkena infeksi
3. Pengenalan lebih dini adanya pus dan daerah pus yang
tepat
4. Keluarkan pus, kalau perlu dilakukan debridemen pada
ruang abses
5. Pengobatan yang adekuat setelah tindakan
Pada Paronikia superfisial umumnya pus terlokalisasi dan
terlihat dengan jelas : dapat dilakukan drainase dengan insisi
bentuk bayonet atau skalpel lancip yang tajam dimasukkan ke
dalam sulcus dengan sudut oblique, dilakukan harus sejajar
dengan lempeng kuku. Setelah drainase maka dikompres
dengan larutan garam fisiologis hangat untuk memacu drainase
luka; pada beberapa kasus cukup dilakukan kompres dan
antibiotik Neosporin topikal. Posisi jari yang terinfeksi di-
istirahatkan dalam posisi fleksi untuk memercepat penyembuh-
an luka
(10)
.
Pada Paronikia dalam, sering ditemukan gejala klinis
pembengkakan, eritem tanpa titik pus yang jelas; dapat diberi-
kan antibiotika yang sensitif seperti kloksasilin atau eritro-
misin
(15)
. Setelah diberikan antibiotika dan kompres hangat
akan terjadi pus yang terlokalisata, kemudian terjadi drainase
spontan melalui lekukan lipat kuku, atau dapat dilakukan insisi
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
26
Penyembuhan luka terjadi secara secondary intention, bisa
mencapai 2 bulan
(9,13)
. Diperlukan waktu 2 - 3 bulan untuk
pembentukan kembali kutikula yang rusak seperti pada keadaan
semula terhadap Paronikia kronis. Pertumbuhan kuku yang
distropi diperlukan waktu pengobatan selama 6 bulan, penderita
harus menjaga terhadap paparan air selama dalam pengobatan
infeksi Paronikia tersebut
(13)
.
seperti Paronikia superfisial. Pada Paronikia sub ungual yang
tidak responsif terhadap antibiotika setelah 2 hari, perlu dilaku-
kan tindakan pembedahan dengan menghilangkan 1/3 prok-
simal lempeng kuku; lempeng kuku dipotong secara tranversal
dengan gunting kuku di bawah anestesi lokal tanpa adrenalin,
dapat juga dengan ethylchloride spray atau nitrogen cair.
Pada infeksi yang meluas pada sub ungual distal, 40%
kasus pus terjadi di bawah lempeng kuku
(16)
. Pada daerah yang
sakit dilakukan penetrasi lempeng kuku, sehingga pus dapat
dikeluarkan dan penanganan selanjutnya mengompres jari
dengan larutan antiseptik seperti : khlorheksidin 2x sehari, dan
dilakukan kompres basah tersebut akan mempercepat pe-
nyembuhan.
RINGKASAN
Telah dibahas secara ringkas mengenai penyakit Paronikia,
gambaran klinis serta penyebab terjadinya Paronikia. Penang-
gulangan Paronikia akut umumnya dilakukan dengan tindakan
dan pemberian antibiotika penanggulangan. Paronikia kronis
memerlukan kesabaran untuk selalu melindungi tangan agar
selalu dalam keadaan kering dan melakukan pengobatan secara
topikal. Koreksi faktor predisposisi perlu diperhatikan terhadap
penyakit yang mendasarinya. Apabila tindakan terapi yang
diberikan tidak responsif terhadap Paronikia kronis maka
alternatif akhir dapat dilakukan dengan pembedahan.
Penanganan Paronikia kronis membutuhkan kesabaran
dokter maupun pasien. Pada keadaan ini harus dicegah infeksi
bakterial kronis sehingga dilakukan pengompresan, sedangkan
kompres akan memperpanjang perjalanan penyakit serta mem-
perburuk keadaan. Penanganan umum adalah: mengurangi
paparan dengan air. Bila melakukan pekerjaan yang ber-
hubungan dengan air sebaiknya memakai pelindung sarung
tangan, lebih baik memakai sarung tangan dari katun dan
dilapisi dengan sarung tangan karet yang terbuat dari vinyl :
Bila sarung tangan sudah basah hendaknya diganti
(1,4,6)
.
Pemakaian agen pengering setelah melakukan pekerjaan
yang berhubungan dengan air dengan larutan khloroform atau
aluminium khlorida 6-20% dalarn alkohol; jika terjadi iritasi
dapat dianjurkan pemberian lotion atau krim kortikosteroid
(3)
.
KEPUSTAKAAN
1. Lily Soepardiman : Kelainan Kuku. Dalam; Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Ed. II, Adhi Djuanda, Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin,
Fak. Ked. UI Penerbit : Fak. Kedokteran UI 1993.
Mengingat infeksi Paronikia kronis penyebabnya ke-
banyakan Candida albicans pemakaian anti jamur dalam
bentuk tingtur dipakai 2x sehari yaitu : larutan klotrimoksasol,
haloprigin atau mikonazol. Pemakaian kombinasi anti jamur
yang lebih cepat dengan lotrisone secara topikal
(3)
. Menurut
Barlow dkk. pemakaian gentamisin pada siang hari dan nystatin
topikal pada malam hari
(6)
.
2.
Lookingbill DP, Marks JG. Principle of Dermatology. Philadelphia WB
Saunders. CO. 1996.
3.
Lynch PJ. Nail Diseases, In: Williams and Wilkins Dermatology For The
House Officer, Ed. 2, pp. 285-90 (Baltimore-London 1987).
4. Shryock H. Penuntun Perawatan & Pengobatan Modern. Indonesia
Puslishing House, Bandung, 1982; 413.
5. Lawrence AN. Disorders of the Nails, In : Moschella and Hurley
Dermatology. Philadelphia WB Saunders, 1992, Vol. 3, pp 1563-73.
Apabila terjadi tanda radang yang berupa, kemerahan,
panas, pembengkakan dan nyeri dianjurkan pemberian eritro-
misin secara oral, karena selalu ditemukan Staphylococcus di
sekitar luka yang masih sensitif terhadap antibiotika tersebut.
Antibiotika lain ialah larutan Sulfasetamid 15% dalam 50%
spiritus atau alkohol dan pemakaian cat castelani juga masih
efektif
(6,15,16)
.
6. Dawber RPR, Baron R. Disorders of Nails, In: Rook; Wilkinson and
Ebling Text Book of Dermatology Blackwell Scientific, Boston. 1992;
Vol. 4.
7.
Baden HP. Diseases of The Hair and Nails. London Year Book medical
Pub. Inc, 1987.
8.
Scher RK. Penyakit Kuku. Dalam; Rakel, P Andrianto Terapi Mutakhir
Conn, Penerbit; EGC Kedokteran 1985; hal. 727-8.
9.
Collect BS. Kelainan Kuku. Dalam The Merck Manual of Geriatrics, jilid,
II Alih bahasa, Andry Hartono, Penerbit Bina Rupa Aksara 1997, Jakarta :
hal. 188-207.
Pada penderita Paronikia yang juga menderita diabetes
aspek pengobatan yang terpenting adalah: terutama pengontrol-
an kadar gula darah. Paronikia ibu jari kaki sering diikuti
unguis incarnatus, dapat dilakukan tindakan pembedahan
setelah Paronikia terkontrol, dan dilakukan pencabutan kuku
secara radikal
(16)
.
10. Crondon HJ. Infection of The Hand, In RJ, Heward RL, Simmons eds;
Surgical Infection Desease. 2
nd
ed. Connecticut: Appleton & Lange 1988,
pp. 1999-810.
11. Samman P. Disoders of the Nail, In : Milton O Maibach, HI, Dahl MV
Dermatologi, Prentice - Hall International Inc 1991; pp. 357-60.
12. Robert DT. Paronychia. In : J-L, Verbov ed; Superficial fungal Infections.
lan. Caster; MTP Press Ltd. 1986; pp 35-44.
Dosis pengobatan radio terapi untuk kasus kronis 75
rad/minggu dengan 43-50 KM (Dermopan Siemens) sampai
dosis maksimum 450 rad (sebanyak 6x pemberian) sering
membantu penyembuhan
(17)
.
13. Dermis JD. Infections with Pseudomonas, A, In : Clinical Dermatology
Philadelphia Londan : JB Lippincott Company 1989; Vol. 3 pp 1-5.
14. Watabene, Seki S, Shimuzuma Y, Takizana M, Nails K. Candidiasis. Br.
J. Dermatol, 1985; pp 189-203.
15. Arnold, Odom HL, James RB, Andrews WD. Diseases of The Skin 8
th
ed.
Philadelphia: WB Sounders Co 1990.
Paronikia kronis yang tidak responsif terhadap segala
pengobatan perlu mendapat penanganan melalui pembedahan
dengan eksisi bentuk bulan sabit dari proksimal lipat kuku 5 - 6
mm. Pada bagian yang terlebar meluas ke lateral lipat kuku.
16. Rains AJH, Mann CV. Short Practive Of Surgery 12
th
ed. London English
Language Book Society, 1990.
17. Achten G, Wanet Rauard. Onychemicosis Bengium; Cilag Ltd 1981.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 27