background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Osteoporosis sebagai Problema
Klimakterium
P. Gonta
Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta
ABSTRAK
Penurunan kepadatan tulang dengan akibat osteoporosis terjadi pada setiap ganggu-
an poros hipotalamus-hipofisis-ovarium yang menyebabkan defisiensi estrogen. Dalam
klimakterium, gangguan poros ini terjadi secara alamiah, sehingga osteoporosis merupa-
kan problema yang serius untuk wanita pada masa tersebut.
Penilaian kepadatan tulang dapat meramalkan fraktur osteoporosis. Untuk maksud
ini diperlukan tehnik radiologi khusus, yaitu dual photon absorptiometry (DPA) atau dual
energy x-ray (DEXA). Oleh karena osteoporosis didasari defisiensi estrogen, terapi
utama untuk osteoporosis adalah estrogen juga. Estrogen untuk maksud ini dapat di-
berikan secara oral, transdermal atau sebagai implan perkutan.
Terapi non-estrogen dengan kalsitonin dan bifosfonat dapat diberikan sebagai terapi
tambahan atau sebagai terapi alternatif bila pemberian estrogen merupakan
kontraindikasi.
PENDAHULUAN
Osteoporosis adalah suatu problem klimakterium yang
serius. Di Amerika Serikat dijumpai satu kasus osteoporosis di
antara 2­3 wanita pasca menopause, suatu jumlah yang men-
capai 25 juta penderita
(1)
. Dengan bertambahnya usia harapan
hidup sebagai dampak pembangunan kesehatan di Indonesia,
osteoporosis menjadi suatu masalah kesehatan yang perlu di-
perhatikan.
DEFINISI
Menurut konsensus di Kopenhagen bulan Oktober 1990,
osteoporosis didefinisikan sebagai suatu penyakit dengan
karakteristik massa tulang yang berkurang dengan kerusakan
mikroarsitektur jaringan yang menyebabkan kerapuhan tulang
dan risiko fraktur yang meningkat
(2)
.
Osteoporosis dibedakan dengan dekalsifikasi. Osteoporosis
pada klimakterium terjadi akibat matrix kolagen tulang berku-
rang sebagai bagian dari gangguan jaringan ikat secara umum
akibat definisi estrogen. Aktifitas osteokias meningkat, sehingga
resorpsi tulang juga meningkat, walaupun kadar kalsium dan
hormon paratiroid dalam serum masih dalam batas normal.
Massa tulang pada manusia mencapai maksimum pada
usia sekitar 35 tahun, kemudian terjadi penurunan massa tulang
secara eksponensial. Penurunan massa tulang ini berkisar antara
3 sampai 5% setiap dekade, sesuai dengan kehilangan massa otot
dan dialami baik pada pria maupun wanita. Pada masa klimak-
terium penurunan massa tulang pada wanita lebih menyolok, dan
dapat mencapai 2­3% setahun secara eksponensial
(1)
. Pada usia
70 tahun kehilangan massa tulang pada wanita dapat mencapai
50%, sedangkan pada pria 90 tahun kehilangan massa tulang
ini baru mencapai 25%
(3)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 25
background image
ETIOLOGI BERKURANGNYA MASSA TULANG
Pendapat bahwa mobilisasi kalsium dan tulang disebabkan
gangguan absorpsi kalsium di usus telah ditinggalkan. Walaupun
kadar kalsium dalam plasma tetap dalam batas normal, osteopo-
rosis ternyata tetap terjadi. Albright mengemukakan bahwa ke-
hilangan massa tulang pada masa pasca menopause terutama
disebabkan penurunan fungsi ovarium pada masa itu
(4)
.
Walaupun adanya reseptor estrogen pada tulang belum jelas,
peranan estrogen dalam pencegahan osteoporosis tak dapat
disangkal.Pemberian suplemen kalsium saja sebanyak 1500mg/
hari tidak meningkatkan kepadatan tulang bila tidak disertai
pemberian estrogen
(5)
.Pengaturan kepadatan tulang oleh estro-
gen mungkin melalui kalsitonin, suatu hormon yang meng-
halangi resorpsi tulang. Pada tiroidektomi total, kalsitonin me-
nurun dan terjadi penurunan massa tulang. Estrogen dapat me-
ningkatkan kalsitonin pada wanita baik pada masa pra, maupun
pasca menopause. Estrogen mungkin pula berperan dalam mem-
pertahankan kepadatan tulang dengan hambatan langsung ter-
hadap osteoklas
(6)
. atau dengan stimulasi osteoblas secara lang-
sung
(7)
.
Defisiensi estrogen selama laktasi juga mengakibatkan pe-
nurunan kepadatan tulang. Dalam 3 bulan pertama, kepadatan
tulang vertebra lumbal menurun 4%, suatu jumlah yang bahkan
lebih banyak dibandingkan dengan penurunan pada masa pasca
menopause. Kepadatan tulang ini akan pulih setelah penyapih-
an
(8)
.
Pada gangguan poros hipothalamus-hipofisis-ovarium se-
perti anoreksia nervosa dan athletic amenorrhoea, juga terjadi
defisiensi estrogen yang menyebabkan kerapuhan tu1ang
(9)
.
GAMBARAN KLINIS
Tulang-tulang yang terutama terpengaruh pada osteoporosis
adalah: radius distal, corpus vertebra: terutama mengenai T8-L4,
dan collum femoris.
Pemeriksaan kepadatan tulang dengan radiologi standard
hanya memberi gambaran kasar dan tidak tepat. Pemeriksaan ini
baru dapat mengidentifikasi berkurangnya kepadatan bila massa
tulang telah berkurang sepertiga atau separuh
(10)
. Pada saat ini
kepadatan mineral tulang diukur dengan dual photon absorption-
metry (DPA) atau dual energy x-ray absorptiometry (DEXA).
Pemeriksaan dengan quantified computer tomography dapat me-
nilai sampai bagian sentral vertebra, tetapi memerlukan radiasi
agak banyak. Pemeriksaan dengan ultrasound sampai saat ini
hanya dapat menilai tulang-tulang perifer dengan mengukur ke-
cepatan bunyi yang menembus tulang. Manfaat ultrasound untuk
pengukuran vertebra dan tulang panggul masih diragukan.
Dengan pengukuran massa tulang pada masa pasca meno-
pause, wanita yang akan mengalami osteoporosis dapat diiden-
tifikasi dengan baik . Pengukuran kepadatan tulang panggul
dianggap sebagai metoda paling tepat untuk meramalkan fraktur
osteoporosis
(12)
. Terjadinya pelepasan massa tulang dapat juga
dinilai secara biokimiawi dengan mengukur ekskresi kalsium
dalam urine 24 jam, penurunan dalam serum kadan kalsium dan
kalsitonin, serta peningkatan alkali fosfatase.
PENANGANAN OSTEOPOROSIS
Terapi hormonal dengan estrogen
Osteoporosis merupakan suatu gangguan keseimbangan
antara pembentukan dan resorpsi tulang
(7)
dan terapi hormonal
dianggap sebagai terapi utama
(10)
, walaupun keamanan terapi ini
adakalanya dipertanyakan
(13)
. Pada osteoporosis, susunan tulang
dapat kembali seperti pada masa pra menopause dengan pem-
berian estrogen dan dengan demikian menurunkan risiko
fraktur
(14)
. Pemakaian estrogen pada masa pasca menopause me-
nurut suatu analisis lebih banyak menguntungkan walaupun
perlu evaluasi individual untuk mempertimbangkan kebutuhan
dan risiko
(15)
.
Untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis, estrogen
dapàt diberikan dengan berbagai cara. Pemberian estrogen se-
cara oral memerlukan dosis terendah 0.625 mg/hari estrogen
terkonyugasi
(16)
atau 0.5 mg/hari estradiol
(17)
. Dalam bentuk
estradiol valerat diperlukan dosis 2 mg/hari yang dapat di-
tambahkan dengan 75 mcg levonorgestrel untuk pelindung
endometrium
(19)
. Oleh karena estrogen oral melalui sirkulasi
porto-hepatik, maka estrogen juga dapat diberikan dalam bentuk
plester estradiol transdermal untuk menghindari hepatic first-
pass. Selain pemberian estrogen dalam bentuk ini, estrogen juga
dapat diberikan sebagai implan transdermal yang lebih murah,
lebih kosmetis dan juga lebih cocok untuk pasien yang kurang
disiplin dalam penggunaan obat. Untuk maksud ini ternyata 25
mg estradiol dalam bentuk implan dapat meningkatkan secara
nyata kepadatan mineral tulang setelah pemakaian selama satu
tahun
(20)
.
Lama pengobatan dengan preparat estrogen belum jelas,
mungkin lima tahun atau lebih. Untuk pasien yang telah meng-
alami fraktur, pengobatan sangat mungkin memerlukan waktu
sepanjang hidup, oleh karena peningkatan kepadatan yang telah
dicapai dengan terapi estrogen ternyata dapat merosot kembali
bila terapi dihentikan
(21)
.
Terapi non estrogen
Beberapa terapi alternatif yang ditemukan dalam kepustaka-
an menyebutkan metabolit vitamin D, strontium, kalsitonin dan
golongan bifosfonat sintetik.
Kalsitrol (1,25(OH)2 D3) dan metabolit vitamin D lain
seperti 25(OH)D3 dan 1-alpha (OH)D3 membantu absorpsi
kalsium. Manfaat untuk menambah massa tulang belum jelas
sehmngga masih ditunggu hasil pengujian jangka panjang
(22)
.
Strontium dalam dosis rendah merangsang pembentukan
tulang dan menghambat resorpsi tulang pada tikus, tetapi pada
dosis tinggi justru menyebabkan gangguan yang menyerupai
riketsia. Pada saat ini pengaruh strontium terhadap osteoporosis
masih dalam penelitian
(22)
.
Kalsitonin memperpendek masa hidup osteoklas dan dengan
demikian menghambat osteoporosis. Pemberian kalsitonin
dengan suntikan subkutan secara bertahap sehingga mencapai
dosis 5000 IU kalsitonin dalam 2 tahun, ternyata menghambat
osteoporosis setara dengan pemakaian implant estradiol 3 mg.
Kalsitonin juga dapat diberikan dalam bentuk semprotan hidung
50 lU/hari dan dengan dosis ini pun dapat mempertahankan ke-
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
26
background image
padatan tulang trabekuler. Kalsitonin juga mempunyai efek
analgesik yang menguntungkan dan dianggap sebagai preparat
yang aman. Penelitian yang banyak memberikan harapan sedang
berlangsung pada saat ini
(23)
. Sayangnya pemakaian kalsitonin
terbatas karena harganya yang mahal.
Golongan bifosfonat menghambat aktifitas osteokias dan
dengan demikian menghambat osteoporosis. Pengaruh golongan
bifosfonat yang baik ini terutama pada tulang kortikal dan tidak
tampak pada tulang trabekuler. Penelitian selama tiga tahun
dengan pemberian 400 mg etidronate dan penilaian radiologis
menunjukkan peningkatan kepadatan tulang sebanyak 2,3%
(24)
.
Hasil yang baik juga didapatkan dengan 220 mg klodronat, suatu
bifosfonat generasi kedua yang diberikan secara intravena dan
mampu menghambat penurunan kepadatan tulang
(25)
.
Derivat isoflavon alamiah dalam diet meningkatkan kadar
kalsium pada tikus, biri-biri dan ayam; karena itu ipriflavon di-
coba penggunaannya pada kasus-kasus osteoporosis. Ipriflavon
ternyata memperbaiki espons tulang terhadap terapi estrogen
dengan menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas. Ipriflavon
tidak memperlihatkan aktifitas hormonal, dan ternyata dapat
memperbaiki berbagai penyakit tulang lain seperti penyakit
Paget dan hiperparatiroidi primer. Ipnflavon sudah digunakan
di Hungaria, Italia dan Jepang dengan hasil yang baik. Dosis oral
optimal ipriflavon adalah 600 mg/hari
(22)
.
DISKUSI
Penurunan kepadatan tulang terjadi pada setiap gangguan
poros hipotalamus-hipofisis-ovarium yang disertai defisiensi
estrogen, karena itu sangatlah wajar bahwa estrogen merupakan
terapi utama untuk osteoporosis. Oleh karena pemberian estro-
gen saja meningkatkan risiko terhadap kanker endometrium
(15,26)
,
pemberian estrogen pada wanita yang belum mengalami his-
terektomi disertai progestagen. Progestagen belum jelas man-
faatnya untuk maksud ini
(27)
. Penambahan progestagen baik
secara kombinasi maupun secara sekuensial ternyata tidak mem-
pengaruhi manfaat estrogen untuk memperbaiki kepadatan tu-
lang
(28)
. Preparat hormonal pada masa pasca menopause hampir
tidak menunjukkan peningkatan risiko kanker payudara
(15)
,
sesuai dengan pengalaman pemakaian preparat hormonal untuk
kontrasepsi jangka panjang
(29)
.
Preparat non-estrogen tetap berkedudukan penting untuk
terapi osteoporosis pada pasien yang mempunyai kontraindikasi
estrogen, atau sebagai terapi tambahan. Preparat-preparat ini
tidak menunjukkan sifat sebagai hormon dan aman
(22)
. Efek
samping yang ditemukan pada penelitian pemakaian etidronat
selama 3 tahun adalah hipertonia (kramp) pada tungkai yang
dilaporkan 4% pemakai
(24)
.
KESIMPULAN
Osteoporosis merupakan gangguan yang terutama dialami
pada masa klimakterium. Gangguan ini ditandai dengan menu-
runnya kepadatan massa tulang dan dilatar belakangi defisiensi
estrogen.
Kepadatan massa tulang maksimum terjadi pada usia sekitar
35 tahun, karena itu pemberian suplemen kalsium sebelum usia
tersebut sangat penting. Olah raga yang dipengaruhi daya tarik
bumi (weight bearing exercises) menyokong pertumbuhan ke-
padatan tulang yang maksimal
(9)
.
Terapi estrogen masih tetap merupakan pilihan utama untuk
osteoporosis. Sebelum terapi ini dimulai sangat perlu diper-
bangkan manfaat dan kerugian terapi bagi secara individual.
Obat alternatif tetap mempunyai kedudukan penting, terutama
bila terapi hormonal merupakan kontraindikasi. Kalsitonin dan
bifosfonat merupakan pilihan obat alternatif yang dapat diper-
tanggung jawabkan pada saat ini.
KEPUSTAKAAN
1. Christiansen C. Hormonal prevention and treatment of osteoporosis - State
of the art 1990.1 Steroid Biochem Molec Biol 1990; 37(3): 44
2. Conference report: Consensus development conference: prophylaxis and
treatment of osteoporosis. Am J Med 1991; 90: 107-10.
3. Gordon GS. Prevention of bone toss and fractures in women. Maturitas
1984; 6: 224­42.
4. Albright F, Smith P, Richardson A. Postmenopausal osteoporosis,its
clinical features. JAMA 1941; 116: 2465­74.
5. Lindsay R, Tohme JF. Estrogen treatment of patients with established
osteoporosis. Obstet Gynecol 1990; 76: 290-95.
6. Hausler MR, Donaldson CA, Algretto EA, Marion SL, Mangelsdorf DJ,
Kelly MA, Pike 1W. New actions of 1,25-dihydroxyvitamin D3: possible
clues to the pathogenesis of postmenopausal osteoporosis. Dalam: Chris-
tiansenC, Arnaud CD, Nordin BEC, ParfittAM, Peck WA, Riggs BL
(eds.). Osteoporosis, Glostrup: Glostrup Hospital. 1984. pp. 725­36.
7. Duursma SA, Raymakers IA, Boereboom FTJ, Scheven BAA. Estrogen
and bone metabolism. Obst Gynec Survey 1991; 47: 38­44.
8. KalkwarfHJ, Specker BL. Bone mineral loss during lactation and recovery
after weaning. Obstet Gynecol 1995; 86: 26­32.
9. Wolman RL. Osteoporosis and exercise. BMJ 1994; 309: 400­3.
10. Eden J. Hormonal therapy and osteoporosis. J Paed Obstet Gynaec 1996;
22: 29­31.
11. Lockefeer JHM. Herziening consesus osteoporose. Ned Tijdshr Geneeskg
1992; 136(25): 1204­6.
12. Johnston Jr CC, Slemenda CW. Risk assessment: Theoretical considera-
tions. Am J Med. 1993; 95 (Suppl 5A): 2S­5S.
13. Grant ECG. Longterm dangers of hormonal treatment (letter). Lancet
1994; 343: 926.
14. Lindsay R. Hormone replacement therapy for prevention and treatment of
osteoporosis. Am J Med 1993 (Suppl 5A): 37S­39S.
15. Gorsky RD, Koplan JP, Peterson HB, Thacker SB. Relative risks and
benefits of long-term estrogen replacement therapy: A decision Obstet
analysis Gynecol 1994; 83: 161­66.
16. Lindsay R, Hart DM, Clark DM. The minimum effective dose of estrogen
for prevention of postmenopausal bone loss. Obstet Gynecol 1984;63;
579­84.
17. Ettinger B, Genant HK, Steiger P, Madvig P. Low dosage micronized 17
beta-estradiol prevents bone loss in postmenopausal women. Am J Obstet
Gynecol 1992; 479­88.
18. Christiansen C, Lindsay R,. Estrogen, bone loss and preservation.Osteo-
porosis int 1991; 1: 7­13.
19. Holland EFN, Leather AT, Studd JWW, Garnet Ti. The effect of a new
sequential oestradiol valerate and levonorgestrel preparation on the bone
mineral density of postmenopausal women. BrJ Ob Gyn 1993; 100:
20. HollandEFN, Leather AT, Studd JWW. The effect of 25mg percutaneous
estradiol implants on the bone mass of postmenopausal women. Obstet
Gynecol 1994; 83: 43­6.
21. Christiansen C, Christensen MS, Transbol I. Bone mass in postmenopausal
women after withdrawal of oestrogen/gestagen replacement therapy.
Lancet 28 Feb 1981; 459­61.
22. Brandi ML. New treatment strategies: ipriflavone, strontium, vitamin D
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 27
background image
Metabolites and analogs. Am J Med 1993; 95 (suppl 5A): 69S­74S.
26. Grady D, Gebretsadik T, Kerlikowske K, Ernster V. Petiti D. Hormone
replacement therapy and endometrial cancer risk: a meta-analysis. Obstet
Gynecol 1995; 85: 304­13.
23. Reginster JY. Calcitonin for prevention and treatment of osteoporosis. Am
J Med 1993; 95 (Suppl 5A): 44S­47S.
24. Hams ST. Watts NB, Jackson RD. Genant HK, Wasnich RD, Ross P,
Miller PD, Licta AA. Chestnut CH. Four year study of intennitent cyclic
etidronate treatment of postmenopausal osteoporosis: three year of blinded
therapy followed by one year open therapy. Am J Med 1993; 95: 557­67.
27. Brinton LA, Hoover RN and The Endometrial Cancer Collaborative
Group. Estrogen replacement therapy and endometrial cancer risk:
unresolved issue. Obstet Gynecol 1993; 81: 265­71.
28. Metka M, Holzer G, Heymanek G, Huber J. Hypergonadotropic hypo-
gonadic amenorrhea (World Health Organization 111) and osteoporosis.
Fertil Steril 1992; 57: 37­41.
25. Filipponi P, Pedetti M, Fedeli L, Cmi L, Palumbo R, Boldrini S. Massoni
C, Cristallini S. Cyclical clodronate is effective in preventing post-
menopausal bone loss: A comparative study with trancutaneous hormone
replacement therapy. J Bone Mineral Research 1995; 10: 697­903.
29. Schesselman ii. Net effect of oral contraceptive use on the risk of cancer in
women in the United States. Obstet Gynecol 1995; 85: 793­801.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
28