background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Osteoporosis Akibat Steroid
Bambang Setiyohadi
Sub Bagian Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Kortikosteroid sangat banyak digunakan untuk mengatasi
berbagai penyakit, terutama penyakit otoimun. Obat ini mem-
punyai banyak efek samping, salah satunya adalah menyebab-
kan kehilangan massa tulang yang ireversibel, bila digunakan
dalam dosis yang tinggi dan jangka panjang.
Efek kortikosteroid pada tulang trabekular jauh lebih besar
daripada efeknya pada tulang kortikal, dan kehilangan massa
tulang yang tercepat sampai terjadi fraktur pada umumnya
terjadi pada vertebra, iga dan ujung tulang panjang. Kehilang-
an massa tulang tercepat terjadi pada tahun pertama peng-
gunaan steroid yang dapat mencapai 20% dalam 1 tahun.
Insidens fraktur akibat osteoporosis pada pengguna steroid
tidak diketahui secara pasti. Selain itu, penggunaan steroid
dosis rendah termasuk inhalasi juga dapat menyebabkan osteo-
porosis. Dari berbagai penelitian, diketahui bahwa penggunaan
prednison lebih dari 7,5 mg/hari akan menyebabkan osteo-
porosis pada banyak penderita.
EFEK GLUKOKORTIKOID PADA TULANG
1) Histomorfometri
Secara histomorfometri, glukokortikoid akan mengakibat-
kan penurunan tebal dinding tulang trabekular, penurunan
mineralisasi, peningkatan berbagai parameter resorpsi tulang,
depresi pengerahan osteoblas dan penekanan fungsi osteoblas.
2) Efek pada osteoblas dan formasi tulang
Penggunaan glukokortikoid dosis tinggi dan terus menerus
akan mengganggu sintesis osteoblas dan kolagen. Replikasi sel
akan mulai dihambat setelah 48 jam paparan dengan gluko-
kortikoid. Selain itu juga terjadi penghambatan sintesis osteo-
kalsin oleh osteoblas.
3) Efek pada resorpsi tulang
In vitro, glukokortikoid menghambat diferensiasi osteo-
blas dan resorpsi tulang pada kultur organ. Efek peningkatan
resorpsi tulang pada pemberian glukokortikoid in vivo, ber-
hubungan dengan hiperparatiroidisme sekunder akibat peng-
hambatan absorpsi kalsium di usus oleh glukokortikoid.
4) Efek pada hormon seks
Glukokortikoid menghambat sekresi gonadotropin oleh
hipofisis, estrogen oleh ovarium dan testosteron oleh testes.
Hal ini akan memperberat kehilangan massa tulang pada
pemberian steroid.
5) Absorpsi kalsium di usus dan ekskresi kalsium di
ginjal
Penggunaan glukokortikoid dosis farmakologik akan
mengganggu transport aktif transelular kalsium. Mekanisme
yang pasti tidak diketahui dan tidak berhubungan dengan vitamin D. Gan
asupan natrium yang tinggi dan akan menurun dengan pem-
batasan asupan natrium dan pemberian diuretik tiazid.
6) Efek pada metabolisme hormon paratiroid dan vitamin D
Kadar PTH dan 1,25 dihidroksivitamin D (1,25 (OH)
2
D)
dalam serum meningkat pada pengguna glukokortikoid, walau-
pun kadar kalsium serum tinggi. Hal ini diduga berhubungan
dengan perubahan reseptor kalsium sel yang mengubah trans-
port kalsium. Glukokortikoid meningkatkan sensitivitas osteo-
blas terhadap PTH, meningkatkan penghambatan aktifitas
fosfatase alkali oleh PTH dan menghambat sintesis kolagen.
Efek 1,25(OH)
2
D juga dihambat oleh glukokortikoid,
walaupun kadar 1,25(OH)
2
D meningkat dalam darah. Hal ini
diduga akibat perubahan respons membran sel dan perubahan
reseptor. Ekspresi osteokalsin oleh osteoklas yang dirangsang
oleh 1,25(OH)
2
D, juga dihambat oleh glukokortikoid.
7) Efek pada sitokin
Interleukin-1 (IL-1) dan IL-6 mempunyai efek peningkat-
Dibacakan pada : Temu Ilmiah Reumatologi 1998, Hotel Millennium,
Jakarta 12 Desember 1998
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 27
background image
an reseorpsi tulang dan menghambat formasi tulang. Gluko-
kortikoid akan menghambat produksi IL-1 dan IL-6 limfosit-T.
Pada penderita artritis reumatoid, pemberian glukokortikoid
akan menurunkan aktifitas peradangan sehingga penurunan
massa tulang juga dihambat. Walaupun demikian, para ahli
masih berbeda pendapat, apakah hal ini merupakan efek
glukokortikoid pada tulang atau ada faktor-faktor lainnya.
8) Osteonekrosis
Osteonekrosis (nekrosis aseptik, nekrosis avaskular),
merupakan efek lain glukokortikoid pada tulang. Bagian tulang
yang sering terserang adalah kaput femoris, kaput humeri dan
distal femur. Mekanismenya belum jelas, diduga akibat emboli
lemak dan peningkatan tekanan intraoseus.
EVALUASI PENDERITA
Dengan dikembangkannya Dual-energy X-ray absorp-
tiometry (DXA), kita dapat mengetahui penurunan densitas
massa tulang sedini mungkin dengan lebih tepat pada tulang
vertebra lumbal, proksimal femur dan lengan bawah distal.
Pemeriksaan densitas massa tulang (bone mineral density,
BMD) akan memberikan nilai T-score, yang merupakan per-
bedaan deviasi standar dibandingkan dengan puncak densitas
massa tulang pada usia muda pada ras dan jenis kelamin yang
sama; dan Z-score yang merupakan perbedaan dalam deviasi
standar dengan kontrol sehat yang berusia sama pada ras dan
jenis kelamin yang sama. Berdasarkan kriteria WHO, T-score
> -1 menunjukkan osteopenia sedangkan T-score > -2,5 me-
nunjukkan osteoporosis yang nyata.
Karena tulang-tulang trabekular lebih dulu menunjukkan
kehilangan densitas pada pengguna steroid, maka perubahan
awal densitas massa tulang akan mudah dilihat pada BMD
vertebra, dalam hal ini tulang-tulang lumbal.
Idealnya, evaluasi densitas massa tulang dilakukan pada
daerah lumbal, proksimal femur dan lengan bawah distal.
Tetapi bila karena keterbatasan dana dan diputuskan untuk
hanya mengambil satu tempat saja, maka direkomendasikan
untuk memeriksa BMD lumbal pada penderita di bawah 60
tahun dan proksimal femur pada penderita di atas 60 tahun
karena BMD lumbal pada usia lanjut dapat meningkat akibat
proses osteoartrosis.
Sebaiknya pemeriksaan BMD dilakukan sebelum pem-
berian kortikosteroid jangka panjang (= 6 bulan), saat dimulai
atau segera setelah dimulai.
PENCEGAHAN
Walaupun glukokortikoid berhubungan dengan penurunan
massa tulang dan fraktur, tidak berarti semua pengguna gluko-
kortikoid akan mengalami fraktur. Walaupun demikian sangat
sulit untuk memprediksi, penderita mana yang akan meng-
alami fraktur. Oleh sebab itu, berbagai tindakan pencegahan
perlu dilakukan pada semua pengguna glukokortikoid, ter-
utama pada :
1) Penderita yang memerlukan glukokortikoid dosis tinggi.
2) Penderita dengan high bone turnover, misalnya wanita
pasca menopause, anak-anak dan penderita artritis reumatoid
yang aktifitas penyakitnya tinggi.
Tindakan umum yang harus dilakukan untuk mencegah
osteoporosis pada pengguna glukokortikoid adalah sebagai
berikut :
1) Berikan glukokortikoid pada dosis serendah mungkin dan
sesingkat mungkin.
2) Pada penderita artritis reumatoid, sangat penting meng-
atasi aktifitas penyakitnya, karena hal ini akan mengurangi
nyeri dan penurunan massa tulang akibat artritis reumatoid
yang aktif.
3) Bila mungkin, anjurkan penderita untuk melakukan akti-
fitas fisik, misalnya berjalan 30-60 menit/hari secara teratur.
Hal ini akan meningkatkan densitas massa tulang dan me-
nguatkan otot serta koordinasi neuromuskular, sehingga dapat
mencegah terjatuh.
4) Hindari sedatif dan obat anti hipertensi yang menyebab-
kan hipotensi ortostatik.
5) Hindari berbagai hal yang dapat menyebabkan penderita
terjatuh, misalnya lantai yang licin.
6) Jaga asupan kalsium 1000-1500 mg/hari, baik melalui
makanan sehari-hari rnaupun suplementasi.
7) Hindari defisiensi vitamin D, terutama pada penderita
dengan fotosensitifitas, misalnya SLE. Bila diduga ada defi-
siensi vitamin D, maka kadar 25(OH)D serum harus diperiksa.
Bila 25(OH)D serum menurun, maka suplementasi vitamin D
400 IU/ hari atau 800 IU/hari pada orang tua harus diberikan.
Pada penderita dengan gagal ginjal, suplementasi 1,25(OH)
2
D
harus dipertimbangkan.
8) Hindari peningkatan ekskresi kalsium lewat ginjal dengan
membatasi asupan Natrium sampai 3 gram/hari untuk me-
ningkatkan reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal. Bila ekskresi
kalsium urin > 300 mg/hari, berikan diuretik tiazid dosis
rendah (HCT 25 mg/hari).
PENGOBATAN
Pengobatan osteoporosis akibat glukokortikoid diberikan
pada penderita-penderita :
1. Fraktur vertebra non-traumatik, dan/atau
2. Fraktur perifer non-traumatik, dan/atau
3. Pada pemeriksaan densitas massa tulang didapatkan
T-score <-2.
Pada penderita-penderita di atas, selain tindakan pence-
gahan yang sudah dijelaskan sebelumnya, juga harus diberikan
pengobatan. Saat ini terapi pengganti hormonal yang terdiri
dari kombinasi estrogen dan progesteron untuk wanita dan
testosteron untuk laki-laki yang diketahui kadar testosteron
serumnya rendah, merupakan pengobatan pilihan pada osteo-
porosis akibat steroid.
Pilihan lain adalah bisfosfonat, seperti etidronat, klodronat dan
alendronat. Alendronat merupakan bisofosfonat pilihan, ter-
utama pada wanita pra-menopause tanpa gangguan siklus haid
dan laki-laki dengan kadar testosteron normal, karena tidak
menyebabkan gangguan mineralisasi tulang, walaupun
kadang-kadang menyebabkan gangguan gastrointestinal. Obat
lain adalah kalsitonin, tetapi harganya mahal. Obat lain
mempunyai efek tambahan lain sebagai analgesik yang kuat.
Derivat prednisolon yang diduga mempunyai efek sam-
ping terhadap tulang lebih ringan daripada steroid lain adalah
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
28
background image
deflazacort. Obat ini mempunyai efek anti-inflamasi 80% dari
prednison dan menghambat absorpsi kalsium di usus dan
formasi tulang, tetapi lebih lemah dibandingkan prednison.
3. American College of Rheumatology Task Force on Osteoporosis Guide-
lines. Recommendations for the prevention and treatment of gluco-
corticoidinduced osteoporosis. Arthritis Rheum. 1996; 39 (11) :
1791-801.
4. Harlap S. The benefits and risks of hormone replacement therapy An
epidemiologic overview. Am J Obstet Gynecol. 1988; 166 (6 pt 2)
1986-92.
5. Isbagio H. Beberapa Aspek Perkembangan Terbaru di Bidang
Reumatologi. Dalam: Sudoyo AW, Markum HMS et al (eds). Naskah
Lengkap Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam 1988. Bagian
Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM 1998; 137-54.
KEPUSTAKAAN
1. Lukert BP. Glucocorticoid Drug-Induced Osteoporosis. In : Famus MJ
(ed). Primer on the Metabolic Bone Diseases and Disorders of Mineral
Metabolism. 3
rd
edition. Lippincott-Raven Publ. 1996; 278-82.
6
Sugondo S. Osteoporosis dan kortikosteroid. Dalam : Markum HMS,
Hardjodisastro D, Sudoyo AW (eds). Perkembangan Mutakhir Ilmu
Penyakit Dalam. Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM. 1996;
95-100.
2. Lems WJ, Jacobs JWG, Bijlsma JWJ. Corticosteroid-induced osteo-
porosis. Rheumatology in Europe. 1995; 24 (supp; 2) : 76-9.
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 29