27
Keadaan Rongga Mulut Anak
Usia kurang dari 2 tahun
di Poliklinik RSU Penyabungan
Charles Darwin Siregar, Bidasari, Ikhwan H.H
Rumah Sakit Umum Penyabungan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara
PENDAHULUAN
Rongga mulut merupakan hal yang penting bagi kesehatan
dan rasa sejahtera setiap anak. Setiap anakbemsia sampai 2 tahun
memerlukan pemeriksaan rongga mulut, dan sebaiknya dilaku-
kan pada saat-saat gigi sulung akan tumbuh. Pada usia demikian
ini setiap perubahan dalam rongga mulut perlu mendapat per-
hatian, dan kepada orangtuanya perlu diberi petunjuk untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut
(1)
.
Perawatan kebersihan rongga mulut anak berusia sampai 2
tahun sangat tergantung dari perhatian dan pengetahuan orang-
tuanya, karena si anak sendiri belum bisa berbuat sesuatu bagi
kebersihan rongga mulutnya. Kebersihan rongga mulut yang
buruk merupakan penyebab utama terjadinya penyakit-penyakit
gusi dan periodontal, yang bisa menyebar ke jaringan sekitarnya,
selain itu juga bisa merupakan sumber bakteremia
(2)
. Sebaliknya
ada tanda atau kelainan rongga mulut yang merupakan bagian
dari gejala penyakit sistemik, seperti bercak Koplik pada penya-
kit campak dan lidah arbei pada demam Skarlet
(3)
.
Penyakit-penyakit rongga mulut seperti gingivitis dan glossi-
tis akan menyebabkan gangguan makan anak yang bila berlanjut
terus bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan. Penyakit rongga
mulut lainnya seperti infeksi periapikal dari gigi sulung bisa me-
nyebabkan gangguan pertumbuhan gigi tetap, dan bila infeksi
periapikal ini menjadi kronis bisa menyebabkan keadaan bakte-
remia
(1)
. Tidak jarang diagnosis dan pengobatan penyakit gigi
anak memerlukan kerjasama antara doktcr gigi dengan dokter
khususnya dokter spesialis anak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengctahui kaitan keadaan
rongga mulut dan keadaan umum anak-anak berusia 2 tahun di
Poliklinik RSU Penyabungan, Kabupaten Tapanuli Selatan,
Propinsi Sumatera Utara.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini merupakan studi deskriptif dilakukan setiap
hari Kamis yang merupakan hari "pekan" di Kecamatan Penya-
bungan, dari tanggal 5 Desember 1991 sampai dengan 30 Januari
1992. Peserta penelitian ini adalah anak-anak berusia 2 tahun
yang berkunjung ke UPF Kesehatan Anak dan UPF Gigi dan
Mulut RSU Penyabungan selama periode penelitian tersebut.
Sebelum dilakukan pemeriksaan, kepada orangtua setiap
anak diberikan kuesioner yang mcmuat antara lain :
1. Riwayat
keluarga.
2. Riwayat pemberian makanan.
3. Riwayat pertumbuhan gigi sulung.
4. Riwayat
pengobatan
sebelumnya.
5. Pernah atau tidak mengikuti penyuluhan tentang Usaha Ke-
sehatan Gigi atau Perawatan rongga mulut anak.
Setiap peserta setelah memperoleh pemeriksaan umum dan
pemeriksaan-pemeriksaan lain yang sesuai dengan keluhan atau
pcnyakitnya, peserta dari UPF Kcsehatan Anak dirujuk ke UPF
Gigi dan Mulut untuk pcmcriksaan khusus gigi; sebaliknya
peserta yang lebih dahulu berkunjung ke UPF Gigi dan Mulut
dirujuk ke UPF Kesehatan Anak untuk pemeriksaan keadaan
umum. Sctiap anak yang tidak memerlukan rawat-inap dianjur-
kan untuk bcrkunjung kcmbsit
;
pada hari Kamis berikutnya,
kccuali keluhan atau kcadaan penyakitnya semakin berat, dapat
datang setiap waktu.
Penilaian keadaan gizi tiap anak menggunakan Kartu Me-
nuju Sehat (KMS) yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehat-
an RI. Menilai usia pertumbuhan gigi sulung dipakai pedoman
Time of Eruption and Shedding of Primary Teeth dari American
Dental Association. Untuk menilai kebersihan rongga mulut
peserta, dipakai Simplified Oral Hygiene (0111-S) dari Green dan
28
Vermillion
(2)
.
HASIL
Jumlah peserta yang diperoleh selama periode penelitian
ini sebanyak 135 anak; 66 anak laki-laki dan 69 anak perempuan
dengan usia termuda adalah 12 bulan. Adapun pekerjaan orang-
tua para peserta adalah petani 110, pedagang 17, dan pegawai
negeri sipil 8. Sebelum penelitian ini semua peserta belum pernah
berkunjung ke UPF Gigi dan Mulut, demikian juga semua
orangtua peserta belum pernah mengikuti penyuluhan tentang
Usaha Kesehatan Gigi atau Perawatan rongga mulut anak.
Peserta yang lebih dahulu berkunjung ke UPF Gigi dan
Mulut ada 3 anak, masing-masing dengan keluhan gusi sering
berdarah; sedangkan yang lebih dahulu berkunjung ke UPF Ke-
sehatan Anak sebanyak 132 anak; 63 dengan keluhan mencret,
41 dengan keluhan demam, 14 dengan keluhan tak mau makan/
disusui, 8 dengan keluhan bisul-bisul, 2 dengan keluhan sesak-
nafas, 2 dengan keluhan keluar cairan dari telinga, dan 2 dengan
keluhan gatal-gatal.
Dari riwayat pengobatan sebelumnya ada 67 (49,63%) yang
sudah pernah memperoleh pengobatan di unit-unit Kesehatan di
luar RSU Penyabungan dan semuanya memperoleh antibiotik.
(tabel 1).
Pada riwayat pemberian makanan, semua anak ini telah
diberikan makanan berupa bubur nasi pada usia 12 bulan; se-
dangkan masa menyapih berbeda-beda, ada yang pada usia 2
bulan sudah disapih, tetapi ada yang sampai 2 tahun masih
disusui (10 anak). Jumlah seluruh anak yang masih disusui
sewaktu berkunjung sebanyak 68 anak (50;37%).
Urutan bersaudara yang hidup dalam keluarga tiap peserta,
yang terbanyak adalah anak pertama dan anak kedua sebanyak 63
orang (46,67%), kemudian anak ke tiga dan anak ke empat
sebanyak 36 (26,67%), 2 di antaranya merupakan anak ke sepuluh
yang hidup. Sedangkan yang masih mempunyai adik sewaktu
penelitian ini sebanyak 60 anak (44,44%). (tabel 3)
Hasil pemeriksaan umum dan khusus rongga mulut, pada
semua peserta tidak dijumpai adanya kelainan-kelainan konge-
nital. Pada penilaian kebersihan rongga mulut setiap anak, tidak
ditemui adanya kalkulus. Sehingga penilaian menggunakan
DI-S yang merupakan komponen OHI-S. Hasilnya didapati 74
anak dengan angka rata-rata 0.00.6, 27 anak dengan angka
rata-rata 0.71.8, dan 34 anak dengan angka rata-rata 1.93.
Nilai kebersihan rongga mulut anak-anak yang masih disusui
kelihatannya lebih baik dari pada anak-anak yang sudah disapih.
(tabel 2). Kebersihan rongga mulut menurut urutan bersaudara
yang hidup dalam keluarga serta ada/tidaknya adik peserta,
terbaik adalah anak pertama dan anak ke dua yang tanpa adik
yaitu 32 anak. Dari 32 anak ini 29 di antaranya dengan angka rata-
rata 0.00.6 (tabel 3).
Pertumbuhan gigi sulung dinilai berpedoman pada Time of
Eruption and Shedding of Primary Teeth (American Dental
Association): pada usia 12 bulan diharapkan telah tumbuh gigi
seri (incisor). Pada usia 1218 bulan telah tumbuh gigi seri, gigi
taring (cuspid), dan geraham pertama (molar pertama). Pada usia
1824bulan diharapkan sekurang-kurangnya semua gigi sulung
telah tumbuh, kecuali geraham ke dua rahang atas
(1)
.
Hasilnya pada 47 anak (34,81%) didapati 1 atau 2 gigi su-
lungnya belum tampak dalam rongga mulut (delayed eruption).
Dari 47 anak ini, 30 di antaranya adalah anak perempuan (tabel
4). Pada 3 anak di antara 47 anak tersebut ditemui malposisi gigi;
ketiga anak ini telah diberi susu botol sejak usia 1 bulan.
Keadaan gizi 47 anak yang mengalami delayed eruption: 5
dengan gizi baik, 32 dengan gizi kurang, dan 10 dengan gizi
buruk (tabel 5).
Tabel 1. Distribusi Keluhan Utama dan Pengobatan Sebeiumnya
Pengobatan sebelumnya
No. Keluhan
Utama
Antibiotik (+) Antibiotik ( )
Total
1. Mencret
32
31
63
2. Demam
18
23
41
3. Tak
mau
makan/disusui
10
4
14
4. Bisul-bisul
4
4
8
5. Sesak
nafas
1
1
2
6.
Keluar cairan dari telinga
2
2
7. Gatal-gatal
2
2
8.
Gusi sering berdarah
3
3
Jumlah
67
68
135
Tabel 2. Distribusi angka rata-rata kebersihan rongga mulut, menurut
keadaan
saat
diperiksa
Kebersihan rongga mulut
Sewaktu berkunjung
0.00.6 0.71.8 1.93
Total
1. Disusui (+)/ASI (+)
2. Disusui (-)/ASI ()
51
23
8
19
9
25
68
67
Jumlah
74
27
34
135
Chi
square
:
22.613
df
:
2 p
>
0.005
Tabel 3. Distribusi angka rata-rata kebersihan rongga mulut, menurut
urutan
dalam
keluarga
dan
ada/tidaknya
adik
peserta
Kebersihan rongga mulut
0.00.6 0.71.8 1.93
Total
Anak-I dan anak-II:
1. Adik (+)
21 3 7
31
2. Adik ()
29
2
1
32
Anak-III dan anak-IV:
1. Adik (+)
2 1 12 15
2. Adik ()
12
7
2
21
Anak ke V:
1. Adik (+)
1 6 7 14
2. Adik ()
9
8
5
22
Jumlah
74
27
34
135
Tabel 4. Distribusi Erupsi Gigi Sulung menurut Golongan Umur dan
Jenis Kelamin
0-12 bin
12-18 bin
18-24 bin
0 0 0 0 0 0
Total
1. Sesuai usia
2. Tertunda (delayed
eruption)
5
3
3
5
13
5
20
14
31
9
16
11
88
47
Jumlah
8 8 18 34 40 27 135
29
Pada pemeriksaan mukosa rongga mulut, ditemui mukosa
rongga mulut kering (Xerostomia) pada 105 anak (77,78%), di
antaranya 63 berkunjung dengan keluhan mencret, 26 dengan
keluhan demam, 14 dengan keluhan talc mau makan/disusui, dan
2 dengan keluhan sesak nafas. Tanda-tanda klinis adanya de-
hidrasi di antara 105 anak ini ditemui hanya pada 97 anak, se-
dangkan 8 sisanya ternyata menderita Rhinitis. Sariawan (oral
thrush) ditemukan pada 32 anak (23,70%), dan white coated
tongue ditemui pada 26 anak (19,26%).
Pemeriksaan tinja peserta yang berkunjung dengan keluhan
mencret mendapati Kandida albikans pada 28 anak (44,44%),
dan anak-anak ini juga menderita sariawan pada rongga mu-
lutnya (tabel 6).
Tabel 5. Distribusi Erupsi Gigi Sulung menurut Keadaan Gizi
Baik Kurang Buruk Total
1. Sesuai usia
2. Tertunda (delayed
eruption)
73
5
10
32
5
10
88
47
Jumlah
78
42
15
135
p>0.005
Tabel 6. Distribusi Peserta Diare
Penderita
diare
Pemeriksaan
tinja: Kandida
albikans(+)
Oral
Thrush
(+)
%
Pengobatan antibiotik (+)
1. Disusui (+)/ASI (+)
18
3
3
16,67
2. Disusui ()/ASI ()
14
14
14
100
Pengobatan antibiotik ()
1. Disusui (+)/ASI (+)
16
1
1
6,25
2. Disusui ()/ASI ()
15
10
10
66,67
Jumlah
63
28
28
44,44
DISKUSI
Penilaian terhadap kebersihan rongga mulut memakai pe-
doman Simplified Oral Hygiene (OHI-S) yang terdiri dari 2 kom-
ponen, yaitu Simplified Debris Index (DI-S) dan Simplified
Calculus Index (CI-S).
Kalkulus sangat jarang dijumpai pada bayi, dan bisa dijumpai
± 3% dari anak-anak berusia 2-4 tahun
(2)
. Pada penelitian ini
memang tidak dijumpai adanya kalkulus, sehingga untuk penilaian
kebersihan rongga mulut digunakan DI-S.
Kurangnya perhatian orangtua terhadap kebersihan rongga
mulut anaknya terutama anak usia < 2 tahun, bisa disebabkan
oleh kurangnya pengetahuan tentang cara-cara merawat rongga
mulut anak dan pengetahuan tentang akibat kebersihan rongga
mulut yang buruk. Bisa juga disebabkan oleh kesibukan-kesi-
bukan yang menyangkut nafkah keluarga ataupun oleh tugas-
tugas rumah tangga sebagai akibat dari terlalu dekatnya jarak
usia anak-anak atau sebagai akibat keluarga besar.
Pada penelitian ini semua orangtua peserta belum pernah
mengikuti penyuluhan mengenai Usaha Kesehatan Gigi atau
Perawatan rongga mulut anak, kelihatannya anak pertama dan
anak kedua tanpa adik kebersihan rongga mulutnya lebih baik.
Sedangkan kebersihan rongga mulut antara anak-anak yang
masih disusui dengan anak-anak yang sudah disapih, kelihat-
annya angka rata-rata anak-anak yang masih disusui lebih baik.
Hal ini bisa memberi gambaran bahwa menyusui anak atau pem-
berian ASI pada anak-anak sampai usia 2 tahun mempunyai
manfaat bagi kebersihan rongga mulut.
Pada pemeriksaan vertumbuhan gigi sulung ditemukan 47
anak (34,81%) mengalami delayed eruption, dan hanya 3 anak
yang menderita malposisi gigi; sedangkan tanda-tanda klinis
penyebab delayed eruption tidak ditemui pada anak-anak yang
lain. Lunt dan Law berpendapat bahwa tidak ada perbedaan
maturasi gigi di antara anak-anak yang berbeda ras atau keku-
rangan gizi
(5)
. Pada penelitian ini temyata 34,81% dari seluruh
anak yang disertakan mengalami delayed eruption.
Xerostomia ditemui pada 105 anak, dan tanda-tanda klinis
adanya dehidrasi didapatkan hanya pada 97 anak, sisanya ter-
nyata menderita rhinitis. Xerostomia pada penderita rhinitis bisa
disebabkan karena bernafas melalui rongga mulut, akibatnya
mukosa rongga mulut tampak mengering.
ASI mengandung sejumlah laktoferin, yaitu suatu bakteri-
ostatik yang sangat kuat, yang mungkin juga efektif terhadap
Kandida albikans
(3)
. Pada penelitian ini di antara peserta dengan
keluhan mencret didapatkan 28 anak menderita sariawan dan
padapemeriksaan tinjanya ditemui Kandida albikans. Kelihatan-
nya infeksi Kandida albikans lebih banyak terjadi pada anak-
anak yang sudah disapih dan memperoleh pengobatan antibiotik
sebeluinnya, dibandingkan dengan anak-anak yang masih di-
susui dan belum memperoleh pengobatan antibiotik.
KESIMPULAN
Dari 135 anak yang disertakan dalam penelitian ini, hanya
54,81% yang mempunyai angka rata-rata kebersihan rongga
mulut 0.0-0.6; perhatian ataupun pengetahuan orangtua tentang
perawatan kebersihan rongga mulut anak terutama anak usia 2
tahun masih kurang.
Pemberian ASI pada anak sampai usia 2 tahun bermanfaat
bagi pemeliharaan kebersihan rongga mulut, di samping itu juga
memiliki peran protektif terhadap infeksi Kandida albikans pada
rongga mulut dan saluran cema.
Pengaruh keadaan gizi sebagai salah satu penyebab delayed
eruption masih belum jelas, memerlukan penalaran lebih lanjut.
KEPUSTAKAAN
1. Lawrence AF. The oral cavity. Dalam: Behrman, Vaughan V, C. Nelson
Textbook of Pediatrics, Edisi 12. Philadelphia: WB Saunders Co, 1983;
Hal 874887.
2. Carranza FA. The Epidemiology of gingival and periodontal disease.
Dalam: Glickman's Clinical Periodontology, Edisi 6. Philadelphia: WB
Saunders Co, 1984; Hal 30938.
3. Berkow R. Dental and oral disorders. Dalam: The Merck Manual of
Diagnosis and Therapy, Edisi 12. West Point: Merck and Dohme Research
Lab, 1977; Hal 165171.
4. Clovano NR. Hasil-hasil perubahan tata-cara di rumah sakit dalam
menyusui dan kesehatan. Direktorat Bina Gizi Departemen Kesehatan,
Unicef dan Perdhaki. Hal 13958.
5.
Sanders B. Dental maturation. Dalam: Pediatric Oral and Maxillofacial
surgery, Edisi 1. St Louis: CV Mosby Co, 1979; Hal 41-4.