HASIL PENELITIAN
Karakteristik Kematian Maternal
di Kabupaten Timor Tengah Utara,
1997
Sutrisno*, Lisa Andriani
Rumah Sakit Marsudi Waluyo Singosari, Malang/
* Mantan Kepala Puskesmas Maubesi, Insana, TTU, NTT
ABSTRAK
Tujuan : Mencari karakteristik, latar belakang dan penyebab kematian dari kasus-
kasus kematian maternal di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.
Lokasi : Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.
Waktu studi : 1 Januari 1997 sampai dengan 31 Agustus 1997.
Bahan dan cara : Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap kasus-kasus
kematian maternal di TTU periode 1 Januari 1997 sampai dengan 31 Agustus 1997
dengan menggunakan instrumen formulir AMP Departemen Kesehatan RI ditambah
dengan pemeriksaan hapusan darah dan tetes tebal untuk mengidentifikasikan spesies
Plasmodium. Kemudian dilakukan pembahasan bersama antara pengelola KIA tingkat
puskesmas dan Dinas Kesehatan TTU serta para dokter kepala puskesmas dan dokter
di RS Kefamenanu untuk memperoleh kesamaan persepsi dan mencari jalan keluar
terhadap semua masalah yang timbul.
Hasil : Dalam periode 1 Januari 1997 sampai dengan 31 Agustus 1997 didapatkan
28 kasus kematian maternal. Dari 28 kasus kematian maternal, usia terendah 19 tahun
dan tertinggi 39 tahun. Puskesmas kota dan puskesmas sangat terpencil mempunyai
peringkat tertinggi angka kematian maternalnya. 53,6% kematian maternal melakukan
ANC di fasilitas kesehatan akan tetapi 75% kematian maternal bersalin di rumah
dengan pertolongan dukun tidak terlatih dan keluarga (46,4%) dan dukun terlatih
(25%). 50% kematian maternal mempunyai paritas 3 atau lebih. Sebagian besar
pekerjaan penderita adalah petani (67,9%). Rata-rata usia kehamilan saat meninggal
adalah 35,036 minggu dengan 1 kasus abortus yang meninggal karena sepsis. Dari 28
kasus, hanya 1 orang yang mempunyai riwayat komplikasi obstetri (retensio plasenta)
pada kehamilan sebelumnya. Riwayat adanya trauma didapatkan pada dua kasus
(7,2%) yaitu dipukul oleh suami. Diagnosis penyebab kematian dari 28 kasus kematian
maternal adalah pendarahan (60,7%), malaria serebral (17,9%), sepsis (14,3%),
eklampsi (3,6%) dan KP yang diperberat kehamilan (3,6%).
LATAR BELAKANG
Sampai saat ini kematian maternal di negara berkembang
masih tetap menjadi masalah kesehatan utama dan belum
terpecahkan. Walaupun data yang akurat mengenai jumlah
yang pasti dari kematian maternal tidak diketahui, namun dapat
diperkirakan sekitar 500.000 wanita di negara-negara ber-
kembang meninggal karena sebab kehamilan, persalinan dan
abortus setiap tahunnya
(1)
. Di beberapa negara berkembang,
kematian maternal merupakan penyebab kematian utama bagi
wanita usia reproduksi
(2)
. Dalam kontek ini, yang dimaksud
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
36
kematian maternal adalah kematian wanita yang disebabkan
oleh kehamilan, terminasi kehamilan, persalinan dan kontra-
sepsi
(5)
.
Laporan-laporan statistik kesehatan menunjukkan bahwa
angka kematian maternal antara negara maju dan negara ber-
kembang memperlihatkan perbedaan yang tajam
(4)
. Seorang
wanita di negara-negara berkembang rata-rata mempunyai
risiko untuk meninggal karena penyebab yang berhubungan
dengan kehamilan antara 1 : 15 sampai 1 : 150, dibandingkan
dengan wanita di negara maju yang berkisar antara 1 : 4.000
sampai 1 : 10.000
(1)
. Masyarakat miskin di negara berkembang
terkesan menerima kematian maternal sebagai kemauan takdir
yang tak dapat dihindarkan, sementara ketidakpedulian politik
tetap mengabaikan kepentingan wanita di beberapa negara
berkembang hingga saat ini.
Angka kematian maternal di Indonesia sebesar
421/100.000 kelahiran hidup
(6)
dan terakhir diperkirakan
350/100.000 kelahiran hidup
(7)
. Angka ini 50 kali lebih tinggi
dari negara maju dan 3 kali lebih tinggi dari negara-negara
Asean
(7,10)
. Menurut BKFPENFIN tahun 1987, penyebab
kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan (52,17%),
toksemia (30,34%) dan sepsis (17,39%)
(5)
.
Permasalahan kesehatan di Propinsi Nusa Tenggara Timur
bersifat spesifik dan komplek. Angka kematian maternal
sebesar 1350/100.000 kh
(5)
. Di Kabupaten Timur Tengah Utara
pada tahun 1995, angka kematian maternalnya sebesar
1246/100.000 kh (Sutrisno, 1995). Angka kecacatan di Propinsi
NTT tertinggi di Indonesia
(5)
. Insiden sumbing bibir dan
langit-langit di NTT berkisar antara 5-9 per 1000 kelahiran
hidup
(6)
. Defisiensi mikronutrien zinc dalam serum ibu hamil
sebesar 75% dari seluruh ibu hamil di pulau Timor dan ini ber-
kaitan dengan rendahnya sumber zinc dalam diet dan me-
nyebabkan tingginya komplikasi obstetri dan malaria. Dengan
demikian NTT menghadapi masalah kesehatan yang dilatar-
belakangi masalah sosial ekonomi, ekologi dan kultural. Oleh
karena itu dalam rangka memacu pertumbuhan pembangunan
di NTT, Pemerintah Daerah setempat mencanangkan tujuh
program strategis yang akan dicapai Pemda NTT bersama
masyarakat NTT dengan program utama berupa peningkatan
kualitas sumber daya manusia
(12)
.
Kematian maternal hingga saat ini merupakan masalah
yang sulit dipecahkan di NTT. Kematian maternal sesungguh-
nya bukan hanya masalah kesehatan semata, tetapi dilatar-
belakangi masalah sosialekonomi, ekologi dan budaya. Berikut
akan dilaporkan karakteristik kematian maternal yang terjadi di
Kabupaten Timor Tengah Utara pada tenggang waktu antara
Januari 1997 sampai dengan Agustus 1997.
TUJUAN
Mencari karakteristik, latar belakang dan penyebab ke-
matian dari kasus-kasus kematian maternal di Kabupaten
Timor Tengeh Utara, Nusa Tenggara Timur.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini dilakukan secara restropektif terhadap
kematian maternal yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah
Utara, Nusa Tenggara Timur mulai 1 Januari 1997 sampai
dengan 31 Agustus 1997. Sumber data kematian maternal
diambil dari catatan KIA dan formulir kematian maternal yang
rutin diisi dan dilaporkan bidan desa setiap bulan. Dengan
menggunakan formulir Audit Maternal Perinatal (AMP) dari
Departemen Kesehatan yang telah ditambah dengan beberapa
pertanyaan yang mempunyai relevansi dengan kondisi
setempat, dilakukan penggalian riwayat dari kematian maternal
lewat suami dan atau keluarga terdekat (dilakukan verbal
autopsi). Penggalian riwayat dilakukan sedetail mungkin
dengan memanfaatkan banyak sumber informasi, agar infor-
masi yang didapat cukup valid, representatif dan berkualitas
untuk mencari penyebab kematian dari si ibu. Wawancara
dilakukan di desa, kemudian hasil wawancara didiskusikan
dengan bidan pengelola KIA dan dokter puskesmas di
puskesmas induk. Agar penyebab kematian dan permasalahan
lain yang mendasari dapat diketahui lebih jelas, hasil autopsi
verbal dari puskesmas dibahas ulang di tingkat kabupaten oleh
tim AMP tingkat kabupaten yang terdiri dari dokter rumah
sakit, Dinas Kesehatan, dokter puskesmas dan pengelola KIA
tingkat puskesmas. Khusus untuk malaria serebral, diagnosa
ditegakkan atas dasar gejala klinik, hapusan darah dan tetes
tebal yang diambil pada saat sakit berat atau saat menderita
dirawat di rumah sakit.
HASIL
Dalam kurun waktu antara 1 Januari 1997 sampai dengan
31 Agustus 1997 didapatkan 28 kasus kematian maternal.
(Tabel 1)
Tabel 1. Disiribusi usia kematian maternal.
No Usia
(tahun)
Persentase
N=28
1 <
20
3,6
2
20 - 25
25
3
26 - 30
32,2
4
31 - 35
14,4
5 >
35
25
Jumlah
100
Total kasus sebanyak 28 kasus, dengan usia termuda 19 tahun
dan usia tertua 39 tahun.
Bila ditinjau dari asal puskesmas, tampak dalam tabel 2.
Tabel 2. Kematian maternal per puskesmas.
No Puskesmas
Persentase
N=28
1 Eban
7,1
2 Oelolok
3,6
3 Lurasik
3,6
4 Manufui
7,1
5 Maubesi
7,1
6 Noemuti
3,6
7 Nunpene
3,6
8 Oemeu
3,6
9 Sasi
28,6
10 Wini
28,6
Total
100
Dari riwayat antenatal care, dari 28 kasus kematian mater-
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
37
nal sebanyak 53,6% mengaku melakukan antenatal care dan
46,4% mengaku tidak melakukan antenatal care walaupun di
desanya terdapat polindes dan ada bidan desa yang tinggal di
polindes tersebut. Mengenai paritas dari kasus kematian
maternal, didapatkan data sebagai berikut (Tabel 3) :
Tabel 3. Paritas kasus kematian maternal.
No Paritas
Persentase
N=28
1 1
35,6
2 2
14,3
3 3
21,4
4 5
14,3
5 6
7,2
6 8
3,6
7 9
3,6
Total
100
Dari 28 kasus kematian maternal latar belakang pekerjaannya
adalah pegawai (3,6%), ibu rumah tangga (28,6% dan petani
(67,9%).
Usia kehamilan saat meninggal, dari anamnesa dan pe-
meriksaan fisik, didapatkan hasil sebagai berikut (Tabe14) :
Tabel 4. Usia kehamilan dari kasus kematian maternal
No
Usia kehamilan
(minggu)
Persentase
N = 28
1 16
3,6
2 24
3,6
3 28
10,7
4 32
3,6
5 34
3,6
6 Aterm
74,9
Total
100
Dari penggalian riwayat komplikasi kehamilan. persalinan dan
nifas pada kehamilan sebelumnya, didapatkan data sebanyak
96,4% kasus kematian maternal tidak ada riwayat komplikasi
dan 3,6% mempunyai riwayat retensio plasenta berulang
sebanyak 2 kali.
Masyarakat Timor Tengah Utara pada umumnya tinggal
diperdesaan serta mereka mempunyai kebiasaan tinggal di
rumah kebun yang jauh dari perkampungan permukiman. Dari
wawancara dengan keluarga, tempat bersalin kasus kematian
maternal adalah di kebun (3,6%), di rumah sendiri (75%) dan
sisanya (21,4%) melahirkan di fasilitas kesehatan baik
polindes, puskesmas maupun rumah sakit kabupaten. Dari 28
kasus kematian mateial; penolong persalinan adalah bidan
(28,6%), dukun terlatih (25%) dan dukun tidak terlatih dan
keluarga (46,4%).
Di Nusa Tenggara Timur, mesih sering terjadi kasus-kasus
tindak kekerasan suami terhadap isterinya. Dari 28 kasus
kematian maternal, bila ditinjau dari riwayat tindak kekarasan
yang dilakukan suami yang bersangkutan, didapatkan 2 kasus
(7,2%) pemukulan yang terjadi dalam kurun waktu 1 minggu
sebelum meninggal.
Dengan cara kesepekatan lewat diskusi dalam forum AMP,
berdasarkan riwayat dan data-data yang berkumpul dan lapang-
an dan data laboraborium seta berdasarkan buku-buku acuan
yang relevan, penyebab kematian dari 28 kasus kematian
maternal di Timor Tengah Utara, terpampang dalam tabel 5.
Tabel 5. Penyebab kematian maternal.
No Penyebab
kematian
Persentase
N=28
1 Pedarahan
60,7
2 Malaria
serebral
17,9
3 Sepsis
14,3
4 Eklamsia
3,6
5
KP diperberat kehamilan
3,6
Jumlah
100
DISKUSI
Puskesmas Sasi adalah puskesmas kota Timor Tengah
Utara (TTU), sedangkan puskesmas Wini adalah salah satu
puskesmas terjauh (sangat terpencil) di TTU tetapi di kedua
puskesmas tersebut didapatkan jumlah kematian maternal yang
sama. Infrastruktur kesehatan di kota sudah cukup memadai
karena terdapat satu rumah sakit daerah tipe C dan beberapa
poliklinik swasta ditambah dengan beberapa orang dokter
swasta, sehingga akses ke pelayanan kesehatan cukup baik.
Sedangkan di Wini, puskesmasnya tidak ada dokternya dan
situasi alamnya sulit. Namun ternyata di kedua daerah ini
didapatkan jumlah kumulatif kematian maternal yang sama.
Data ini menunjukkan bahwa kematian maternal tidak hanya
semata-mata ditentukan oleh variabel fasilitas kesehatan (dan
tenaga kesehatan) tetapi oleh banyak faktor dominan lainnya
yang saling berinteraksi.
Di antara 28 kasus kematian maternal, 53,6% melakukan
antenatal care ke petugas kesehatan, tetapi saat persalinan
mereka lebih suka bersalin di rumah (75%) bahkan ada yang
bersalin di kebun (3,6%) dengan penolong dukun terlatih
(25%) dan dukun tidak terlatih/keluarga (46,4%), dan sisanya
(28,6%) yang minta pertolongan ke petugas kesehatan. Di
masyarakat Timor, kebiasaan memeriksakan kehamilan sudah
menjadi kegiatan rutin, terutama di posyandu, akan tetapi
belum dimengerti dengan baik tujuan dari antenatal care
sehingga yang pada saat hamil sebagian besar memeriksakan
diri ke petugas kesehatan akan tetapi pada saat bersalin mereka
memilih dukun. Keterikatan mareka pada adat kebiasaan sangat
besar Ibu-ibu hamil di Timor lebih mempercayai perkataan
dukun deripada petugas kesehatan. Bila dukun menganjurkan
ibu hamil untuk minum sopi (alkohol lokal) untuk memperkuat
kendungan, maka ibu hamil langsung meminumnya tanpa
banyak pertanyaan. Demikian juga bila dianjurkan untuk
makan sejenis tanah tertentu agar anaknya tumbuh sehat, maka
ibu hamil langsung memakannya juga. Akan tetapi bila ibu
bidan menganjurkan agar ibu hamil minum tablet tambah darah
dan kalsium secara teratur, ibu hamil banyak yang tidak
meminumnya bahkan ada yang dibuang di jalan, agar tidak
dimarahi ibu bidan bila diketahui tablet besinya masih sisa. Hal
ini diperkuat oleh tingginya angka KI (80%) dan rendahnya
persalinan tenaga kesehatan (23%)
(8)
. Di TTU aparat formal
menaruh perhatian yang besar dalam hal ini terbukti bila ada
posyandu perangkat desa berkeliling menabuh gong memanggil
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
38
ibu hamil dan ibu yang mempunyai anak balita agar datang ke
posyandu. Sering petugas keamanan (babinsa/babinkamtibmas)
turun ke desa dalam rangka posyandu ini, namun secara
kualitatif hasilnya belum menggembirakan. Para suami secara
umum mengerti permasalahan kesehatan ibu dan anak, tetapi
sulit mengambil keputusan sebab dalam proses pengambilan
keputusan dalam keluarga peran orang tua dan tua-tua adat
(dukun) sangat dominan
(8)
.
Dalam hal jumlah persalinan ternyata dari kematian
maternal yang ada 35,7% merupakan persalinan pertama, dan
persalinan ketiga dan seterusnya 50. Hal ini sesuai dengan yang
ditulis Royston bahwa risiko kematian maternal meningkat
seirama jumlah persalinan, walaupun tidak setajam pernyataan
Royston. Sementara Fortney JA menemukan bahwa 2/3
kematian maternal terjadi pada usia diatas 30 tahun atau paritas
3 atau lebih (Fortney JA, 1988).
Pekerjaan umum dari ibu-ibu yang meninggal adalah
petani (67.9%) dan ibu rumah tangga (28,6%). Ini membukti-
kan bahwa ibu-ibu dari kalangan sosial ekonomi rendah kurang
beruntung karena rendahnya akses terhadap pelayanan kesehat-
an oleh karena berbagai sebab. Ketidakberdayaan ibu-ibu
terhadap akses pelayanan kesehatan yang baik antara lain
karena sebab ekonomi menyebabkan peningkatan risiko men-
dapat komplikasi akibat kehamilan dan persalinan
(1,2)
.
Satu kasus di antara 28 kasus mempunyai riwayat retensio
plasenta, 27 kasus dari 28 kasus kematian, posisi anak normal.
Hal ini yang mendorong ibu-ibu bersalin ke dukun karena
berbukti sebelumnya (dianggap) tidak menghadapi masalah
dalam kehamilan dan persalinan. Di sisi lain para dukun cukup
gencar mempromosikan dirinya dengan disertai bahasa-bahasa
adat sebingga ibu-ibu hamil yang rata-rata berpendidikan
rendah lebih tertarik ke dukun.
Dua di antara 28 kasus mempunyai riwayat trauma dipukul
suami. Keduanya mengalami pardarahan setelah dipukul suami
dan terlambat mendapatkan patolongan dengan baik. Secara
umum terdapat pandangan bahwa kaum ibu adalah nomor dua
setelah suami. Banyak kasus-kasus kekerasan terhadap istri
yang dilakukan oleh suami-suami mereka dan biasanya sampai
pada urusan polisi walaupun akhirnya berdamai secara adat.
Perdarahan menduduki tempat pertama sebagai penyebab
kematian (60%), disusul malaria sarebral (17,9%), sepsis
(14,3%) kemudian eklamsia (3,6%) dan KP yang diperberat ke-
hamilan (3,6%). Ibu-ibu bersalin di NTT lebih mudah
mengalami perdarahan oleh karena kurang gizi, anemia dan
sebab lainnya. Kasus malaria masih sangat tinggi yang
mempunyai insiden 100-150 per 1000, termasuk didalamnya
malaria pada ibu hamil. Fakta lainnya adalah malaria pada ibu
hamil lebih resisten terhadap klorokuin sehingga potensi
menjadi malaria berat (Sutrisno et al, 1988).
Tuberkulosis sangat prevalen di NTT, namun menghadapi
kendala besar dalam hal pengobatan. Sepsis post partum
berkaitan erat dengan pertolongan persalinan oleh dukun yang
tidak higienis. Biasanya dukun memakai alat tradisional yang
tidak steril, dan luka pada ibu dan anak diberi ramu-ramuan
tradisional yang tidak higienis.
Faktor-faktor nonmedis mempunyai kontribusi yang besar
pada kasus-kasus kematian maternal
(13)
, sehingga pemecahan
masalah secara komprehensif dengan memberi penekanan
faktor sosioekonomi menjadi keharusan bila ingin menyelesai-
kan masalah kematian maternal dengan baik
(13)
.
Di beberapa negara Afrika, yang mempunyai masalah
serupa dengan Indonesia, telah dikembangkan beberapa strategi
untuk mengatasi masalah kematian maternal ini. Di suatu
distrik Ghana, pada tahun 1993 sampai dengan 1994, kamar
operasi dan bank darah disediakan dengan baik, fasilitas
kesehatan ibu dan alternatif sumber dana dipermudah. Kemu-
dian dokter ditempatkan secara menetap dan dilatih ilmu
obstetri dasar dan bidan dilatih lifesaving untuk tindakan
persalinan. Kemudian kebutuhan air dicukupi, serta di masya-
rakat dilakukan intervensi berupa penyuluhan untuk mening-
katkan kesadaran agar secepatnya mencari pertolongan ke
tenaga kesehatan bila menghadapi masalah persalinan. Dengan
usaha ini, wanita yang datang ke fasilitas tersebut karena
komplikasi obstetri meningkat tiga kali serta kasus rujukan ke
rumah sakit lebih besar menjadi berkurang. Bidan menjadi
lebih trampil dan berani melakukan tindakan dasar kebidanan
seperti manual plasenta, vakum ekstraksi dan episiotomi
(17
.
Di Kumasi Ghana, dokter, bidan, perawat da pembantu
perawat dilatih pencatatan, komplikasi da analisa data.
Monitoring dan supervisi dilakukan secara rutin. Dengan
metode ini kualitas hasil pencatatan meningkat, koleksi data
dan analisa data dilakukan secara rutin dan tetap. Dokter
menggunakan datayang ada untuk laporan pagi. Bidan dan
perawat bisa mengkompilasi data dan membuat klasifikasi
bulanan. Daerah lain mulai mengadopsi pola ini dan banyak
yang berhasil
(17)
.
Di Ekpoma, Nigeria, setelah fasilitas kesehatan secara
memadai, kemudian pinjaman dana untuk emergensi obstetri
dipermudah dan dikelola secara mandiri oleh anggota klan,
dibawah pengawasan dan supervisi dari pemerintah, usaha ini
mendatangkan hasil berupa berhasilnya 12 klan dari 13 klan
yang dibina. Setiap orang dipinjami US$ 7 - US$ 15, den 93%
pinjaman dapat dikembalikan secara penuh
(16)
.
Di Pakro Ghana, 1991, sebuah rumah bekas dilengkapi
dengan almari es, air, obat-obatan dan perlengkapan lainnya,
kemudian ditempatkan seorang perawat secara menetap oleh
depkes, lalu difungsikan sebagai klinik kesehatan ibu anak dan
keluarga berencana. Kemudian bidan senior ditempatkan secara
permanen dan memberi pelayanan obstetri secara baik. Periode
selanjutnya dievaluasi dan hasilnya menggembirakan
(19)
.
Di Sierra Leone, motivator (community motivator) dilatih
dan diberi sepeda. Tugas mereka adalah mendidik masyarakat,
membentuk suatu kelompok masyarakat mengatasi emergensi
obstetri dan mencari transportasi ke fasilitas rujukan. Hasilnya
dievaluasi dan ternyata kasus-kasus kegawatan obsbetri cepat
mendapatkan pertolongan
(19)
. Di Afrika Barat strategi untuk
mengatasi tingginya kematian maternal adalah membantu men-
dapatkan pinjaman dana, pelayanan obstetri secara cepat dan
tepat (24 jam) serta meningkatkan perilaku dan etos kerja dari
para staf. Pengalaman di Afrika Barat menunjukkan diperlu-
kannya pendekatan multidisipliner untuk menangani masalah
yang multiaspek, juga kolaborasi di antara tim untuk me-
ningkatkan kemampuan dan pengalaman, bantuan teknis
jangka panjang dan sitematis, pengadaan sumber daya manusia
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
39
dan material secara baik, serta pembentukan strategi yang tepat
sesuai kondisi lapangan.
Di Anambra State, Nigeria, Community contact person di-
bentuk dan mempunyai tugas meningkatkan kesadaran masya-
rakat akan komplikasi obstetri, memfasilitasi rujukan bagi yang
terkena komplikasi obstetri dan mempunyai jalinan kerja sama
yang baik dengan ibu hamil, alat transportasi dan alternatif
sumber donor darah. Setelah beberapa tahun hasilnya meng-
gembirakan
(16)
.
Di Kabupaten TTU dan Belu telah dilakukan uji coba
pembinaan desa secara berkelanjutan yang didanai oleh proyek
kesehatan wanita dan keluarga berencana dari Ausaid. Dari 7
puskesmas tempat uji coba, pola pembinaan berkelanjutan
lewat on the job training hasilnya cukup menggembirakan.
Karena dianggap berhasil, proyek ini akan diperluas ke
kabupaten lainnya
(18)
.
Di Ghana biaya yang digunakan sebesar US$30.000, 40%
dari proyek, 36% dari LSM, 15% dari pemerintah dan sisanya
9% dari masyarakat. Hal ini merupakan model yang menarik
karena ada kerja sama antara pemerintah, LSM dan masyarakat
dalam memecahkan masalah kematian ibu dan anak. Di
Kumasi Ghana dana yang digunakan untuk memperbaiki pen-
catatan 10 fasilitas kesehatan sebesar US$ 2543, 85% dana dari
proyek. Di Ekpoma biaya yang disediakan proyek sebesar US$
1360. Di Pakro, Ghana, biaya yang diperlukan US$ 12.550,
47% dari masyarakat, 43% dari LSM 7% dari proyek dan 3%
dari depkes. Dalam aspek pembiayaan pengalaman negara-
negara Afrika menunjukkan bahwa diperlukan biaya yang
besar untuk memperbaiki infrastruktur pelayanan obstetri dasar
serta diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah,
proyek, LSM dan masyarakat secara swadaya. Di Nusa
Tenggara Barat dikembangkan suatu model dengan menitik
beratkan jalinan kerja sama antara puskesmas dan rumah sakit
rujukan dan hasilnya dilaporkan cukup berhasil
(20)
.
Sebenarnya di Desa Bannae Kecamatan Insana TTU, ada
sekelompok masyarakat satu suku, yang mencoba mengem-
bangkan pola kerja sama secara mandiri dengan cara iuran
sejumlah uang secara rutin untuk bisa dipakai sewaktu waktu
bila ada anggota keluarga yang bersalin dan memerlukan biaya.
Usaha ini bisa berlangsung dalam waktu yang lama dan
hasilnya bisa dirasakan membantu oleh para anggotanya.
Tetapi pengelolaan dana tersebut masih sangat tradisional.
Ketika ditanya mengapa tidak mengikutsertakan masyarakat
lainnya dalam jumlah yang lebih besar, mereka mengakui
masih mudah curiga terhadap pengelola keuangan, tetapi
mereka juga belum siap menerima kehadiran pihak ketiga,
orang yang profesional, untuk mengelola keuangan mereka.
Kondisi semacam ini hampir merata di Timor sehingga
kreatifitas warga untuk meringankan beban mereka sendiri,
hilang oleh besarnya rasa ketidakpercayaan, walaupun secara
umum masyarakat menyadari bahwa biaya kesehatan termasuk
kesehatan ibu dan anak menjadi tanggung jawab mereka
sendiri.
Dalam kenyataannya strategi mengatasi kematian memer-
lukan pendekatan yang komprehensif, multidisipliner, sis-
tematis, berkelanjutan dan berjangka panjang. Pengalaman di
Afrika Barat menunjukkan bahwa pendekatan multidisipliner
berguna untuk menangani masalah yang multiaspek, kolaborasi
antar tim berguna untuk meningkatkan pengetahuan dan peng-
alaman, sistematis, berkelanjutan dan berjangka panjang ber-
guna menjaga kelangsungan program dan strategi yang telah
ditetapkan.
KESIMPULAN
Telah dilakukan penelitian mengenai kematian maternal di
Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dalam
periode 1 Januari 1997 sampai dengan 31 Agustus 1997 di-
dapatkan 28 kasus kematian maternal. Dari 28 kasus kematian
maternal usia terendah 19 tahun dan tertinggi 39 tahun.
Puskesmas kota dan Puskesmas sangat terpencil mempunyai
peringkat tertinggi angka kematian maternalnya. 53,6%
kematian maternal melakukan ANC ke fasilitas kesehatan akan
tetapi 75% bersalin di rumah dengan pertolongan dukun tidak
terlatih atau keluarga (46,4%) dan dukun terlatih (25%). 50%
kematian maternal mempunyai paritas 3 atau lebih. Sebagian
besar pekerjaannya adalah sebagai petani (67,9%). Rata-rata
usia kehamilan saat meninggal adalah 35,036 minggu dengan 1
kasus abortus yang meninggal karena sepsis. Dari 28 kasus
kematian maternal, hanya 1 kasus yang mempunyai riwayat
komplikasi obstetri sebelumnya. Riwayat adanya trauma
karena dipukul suami didapatkan 2 kasus (7,2%). Diagnosa
penyebab kematian dari 28 kasus kematian maternal adalah
perdarahan (60,7%), malaria serebral (17,9%), sepsis (14,3%),
eklamsia (3,6%) dan KP yang diperberat kehamilan (3,6%).
Strategi mengatasi masalah kematian maternal memerlu-
kan pendekatan yang komprehensif, multidispliner, sistematis,
berkelanjutan dan berjangka panjang. Pendekatan multi-
disipliner berguna untuk mengatasi masalah yang multiaspek,
kolaborasi antar tim berguna untuk meningkatkan pengetahuan
dan pengalaman. Sistematis, berkelanjutan dan jangka panjang
berguna menjaga kelangsungan program dan strategi yang telah
ditetapkan.
KEPUSTAKAAN
1.
Royston E et al. Preventing Maternal Death, WHO, 1980.
2. Sabitu K et al. The Effect of Maternity Service in Secondary Facility,
Zaria, Nigeria. The Zaria PMM Team, Int J Gynaecol Obstet 1997 Nov;
Suppl 2; S99-S106.
3. Fortney JA et al. Reproductive Mortality in Two Developing Country.
Am J Public Health 1986 Feb; 76(2): 134-8.
4.
Chiwuzie J et al. Emergency Loan Fund to improve access to obstetric
care in Ekspoma, Nigeria. The Benin PMM Team, Ini J Gynaecol Obstet
1997 Nov; 59 Suppl 2 ; 5231-6.
5. Hidajat A et al. Studi Suplementasi Zinc pada ibu hamil di Nusa
Tenggara Timur. Fak. Kedoktetan Universitas Brawijaya, Malang, 1996.
6.
Hidajat A et al. Zinc Supplementation During Pregnancy and its effect on
the Incidence of Cleft Lip in Province of Nusa Tenggara Timur,
Indonesia. The first of the study paper presented at the 8
th
International
Congress on Cleft Palate and Related Craniofacial Anomaly, Singapura;
1997.
7.
Sutrisno et al. Fokus Grup Diskusi Sebagai Sarana Penggalian Masalah
Kesehatan Ibu dan Anak di Kecamatan Insana, Timor Tengah Utara,
NTT, Cermin Dunia Kedokt, Jakarta, 1997.
8. Sutrisno et at. Program kesehatan Ibu dan Anak Tantangan Kesehatan
Yang Menarik di Nusa Tenggara Timur, In press.
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
40
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
41
9. Sutrisno et al. Insiden Sumbing Bibir dan Langit-langit di Kecamatan
Insana. Timor Tengah Utara Nusa Tenggara Timor. In press.
10. Sutrisno et al. Efek Pengobatan Malaria dengan Klorokuin pada ibu hamil
di Timor Tengah Utara Nusa Tenggara Timur, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Depkes RI (Risbinkes) Jakarta, 1998.
11. Sweet B et al. Midwifery in Indonesia a professional snapshot, Mod
Midwife 1995 Jun; 5(6) : 8-13.
12. ............. Tujuh Program Strategis Pemerintah Daerah NTT, Kupang,
1996.
13. Maine D. Lessons for Program Design from the PMM Project. Int J
Gynaecol Obstet 1997 Nov ; 59 Suppl 2 : S259-65.
14. Kandeh HB et al. Community Motivator Promote Use of emergency
Obstetric service in Rural Sierra Leone. The Freetown/Makeni PMM
Team .
15. Kamara A et al. Lesson Leam from The PMM Network Experience. Int J
Gynaecol Obsetat 1997 Nov ; 59 suppl 2 : S253-8.
16. Nwankoby B et al. Community Contact Person Promote Utilization of
Obstretic Service. Anambra State, Nigeria. The Unugu PMM Team. Int J
Gynaecol Obstet 1997 Nov ; 59 Suppl 2 : S219-24.
17. Opoku SA et al. Community Education to Improve Utilization to
Emergency Obstretic Service in Ghana. The Kumasi PMM Team, Int J
Gynaecol Obstetat 1997 Nov ; 59 Suppl 2 : S201-7.
18. Martin J et al. Teaching Village Midwife at Puskesmas Trial Conducted
at 7 Puskesmas, Kabupaten TTU and Belo, NTT. Naskah dipresentasikan
pada pertemuan Perinasia Menado, 1997.
19. Senah KA et al. From Abandoned Warehouse to Life Saving Facility.
Pakro Ghana. The Accra PMM Team, Int J Gynaecol Obstet 1997 Nov ;
59 suppl 2 : S91-7.
20. Soesbandoro DSA. Experiences on Developing Basic Emergency
Obstetric care in Health Center at West Nusa Tenggara.
Saula, lembu bertanduk raksasa
di hutan rimba Vietnam.......
sebagai 7 raksasa mamalia
yang ditemukan abad ini !