background image
Kanker Paru Di R.S. Sumber Waras
dr. P. Handojo
, dr. J.Brotohusodo
dr. D. Sjahli , dr. L.Sidharta .
Pendahuluan
Insiden tumor ganas paru di negara-negara berkembang
bertambah dengan pesatnya sehingga dari suatu tumor yang
jarang didapat menjadi tumor ganas yang menyebabkan
kematian utama pada kaum pria (CAIRN J, 1975).
Tumor ganas ini mengenai 75--90% laki-laki, banyak pada
orang tua dengan penyebab utama diduga adalah merokok dan
polusi debu-debu industri (MORGAN dkk 1974).
Di Indonesia, jenis tumor ganas ini mulai dilaporkan oleh
WOLFF pada tahun 1929, dan pada tahun 1927-1932, hanya
terdaftar tebanyak 23 katut; kemudian TAN KING POO me-
ngumpulkan 185 kasus dalam waktu 15 tahun dan menekan-
kan bahwa tumor ganas paru akhir-akhir ini meningkat (TKP
SECADININGRAT 1967). Kemudian berturut-turut laporan dari
Surabaya sebanyak 66 kasus antara
1965--1969 (KURNADI
1971), 21 kasus dari R.S. Kariadi Semarang antara tahun
1965--1970 (TIRTOSUGONDO 1972), 44 kasus dari R.S. Per-
sahabatan Jakarta pada tahun 1972 (RASYID 1972) dan 109
katut dari R.S. Persahabatan dalam waktu dua tahun (HADIAR-
TO 1975).
Pada ketempatan ini akan dilaporkan penderita kanker
paru yang dirawat di R.S. Sumber Warat Jakarta pada tahun
1975-1976.
Materi dan cara kerja
Penyelidikan ini dilakukan dengan memeriksa status pen-
derita yang dirawat di R.S. Sumber Waras pada tahun 1975
dan 1976. Keterangan klinik didapat dari status dan sebagian
dari status khusus yang dibuat untuk penderita kanker paru.
Penderita-penderita dengan data klinik tidak lengkap, diag-
nota meragukan atau tumor ganas yang diduga mungkin ber-
asal dari metastase tumor lain tidak dimasukkan dalam laporan
ini. Pemeriksaan terdiri dari pemeriksaan klinik, laboratorium,
radiologik dan sitologik tputum. Bila belum didapatkan hasil
yang memuaskan, maka dilakukan pemeriksaan bronchoscopi,
biopsi transbronchial, biopsi transthorakal, biopsi kelenjar
leher atau biopsi ditempat lainnya. Pada beberapa penderita,
beberapa data klinik tak tercatat secara lengkap, dan beberapa
penderita tak dapat diperiksa secara mendalam karena ke-
adaan umum yang buruk.
Diagnosa ditegakkan secara klinik disertai pemeriksaan
sitologik/histopatologik.
Ha
sil
Dari hasil penyelidikan selama dua tahun, didapatkan
30 kasus penderita kanker paru. Sepuluh penderita pada ta-
hun 1975 dan 20 penderita pada tahun 1976. Mereka ter-
diri dari 25 pria dan lima wanita. Dua puluh dua orang Tiong-
hoa atau keturunan Tionghoa, lima orang Jawa, satu orang
Ambon, satu orang Flores dan satu orang Sumbawa.
Penderita termuda adalah seorang wanita berumur 26 tahun
dan yang tertua berumur 82 tahun dengan kelompok yang ter-
banyak pada umur 50--70 tahun (lihat tabel 1). Pada umum-
nya keluhan utama mereka berupa batuk dan sesak napas.
Tiga penderita tanpa keluhan, satu ditemukan pada pemerik-
saan badan rutin, dan dua ditemukan karena dirawat dengan
penyakit lain. Penderita yang mengeluh sesak napas banyak
pada orang tua dan menderita emfitema paru (lihat tabel 2).
Tabel 1. Kelamin/umur penderita dengan kanker paru.
Umur
Laki
Wanita
26
1
30 -- 40
2
41--50
4
51 -- 60
6
3
61--70
8
71--80
4
1
Jumlah
24
5
Tabel 2.
Macam dan lama keluhan penderita dengan kanker paru.
Keluhan Utama
Jumlah
Lama
Tidak ada
3
--
Sesak napas
11
1 -- 6
bulan
Batuk
10
1/3 -- 6
bulan
Sakit dada
1
3
bulan
Badan lemah
1
3
bulan
Panas
2
3 -- 7
bulan
Leher membesar
2
2
bulan
dokter paru
R S
Sumber waras
Bagian Penyakit Dalam
R S
Sumber Waras Jakarta
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
33
background image
Gejala dan tanda-tanda klinik yang terdapat pada tabel 3
sebenarnya kurang lengkap, karena ada beberapa status yang
kurang lengkap.
Sebagian besar penderita datang dengan tumor yang sudah
meluas, bahkan beberapa orang datang dalam keadaan yang
sudah sangat payah sekali. Dari sepuluh penderita dengan
tumor yang terbatas pada paru hanya terdapat satu orang
dengan penampang tumor kurang dari tiga cm (lihat tabel 4).
Pada tiga penderita dengan tumor terbatas pada paru telah
terjadi penyebaran ke kelenjar leher dan pleura selama dalam
pemeriksaan.
Tabel 3:
Gejala dan tanda penderita dengan kanker paru
.
Macam
Juml.
Batuk
19
Batuk darah
8
Sakit dada
8
Sesak
12
Serak
4
Sakit menelan
2
Pleural effusion
8
Vena Cava Sup: Syndr:
2
Clubbing
2
Phlebitis
1
Lemah
2
Mengurus
9
Panas
3
Tabel 4 :
Luas tumor
Luas
Jumlah
Terbatas pada paru
10
Metastase kelenjar Medias-
tinum saja
2
Metastasis jauh
18
Kelenjar leher
6
Pleura
8
Tulang
3
Paru
3
Hati
1
Otak
1
Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan sitologik/histo-
patologik pada 21 orang, dan pada 19 orang didasarkan atas
hasil-hasil klinik. Sebagian besar dari mereka pada mana diag-
nosa telah dibuat atas dasar klinik, memiliki keadaan umum
yang sedemikian lemah sehingga tak memungkinkan me-
lakukan pemeriksaan-pemeriksaan yang lebih mendalam (li-
hat tabel 5).
Pemeriksaan sitologi sputum dikerjakan selama tiga hari
berturut-turut, kadang-kadang juga lebih lama. Bagi mereka
yang tak dapat mengeluarkan dahak secara spontan, dirang-
sang dengan embun air melalui alat pengembun (nebulizer).
Sputum yang jelas menunjukkan sel ganas dipakai untuk men-
diagnosa penderita ini. Sputum dengan hasil sitologik yang
tak pasti akan keganasannya tak dimasukkan. Pada beberapa
penderita dapat ditemukan sel ganas pada sputum, cairan
pleura atau biopsi kelenjar. Jenis tumor banyak ditentukan
dengan pemeriksaan biopsi kelenjar, dan sitologi cairan pleura.
Biopsi transbronchial dan transthorakel dapat memberikan
hasil jenis tumornya tetapi disini kasusnya hanya satu saja.
Dari pemeriksaan sputum, jenit tumor yang sering dapat di-
tentukan adalah jenit epidermoid (lihat tabel 6).
Tabel 5
Diagnosa penderita kanker paru:
Diagnosa
Jumlah
Klinik
9
Sitologi sputum
11
Sitologi bilasan bronch
1
Sitologi cairan pleura
2
Biopsi transbronchial
2
Biopsi transthorakal
1
Biopsi kelenjar
6
Biopsi tulang
1
Thoracotomi
1
Tabel 6:
Gambaran histopatologik penderita kanker paru.
Jenis
Jumlah
Epidermoid carcinoma
6
Adenocarcinoma
7
Anaplastik
3
Reticulum cell sarcoma
1
Tidak dapat ditentukan
4
Penyakit yang terbanyak terdapat bersamaan dengan
kanker paru adalah tuberculotis paru. Dari lima penderita,
ditemukan dua orang dengan kuman M. Tuberculosis dalam
dahaknya, satu orang masih dalam pengobatan dan dua orang
dengan tuberculosa lama. Satu orang ditemukan pada waktu
dirawat karena thrombotis cerebri dan satu orang menderita
thrombotis cerebri setelah selesai pengobatan (lihat tabel 7).
Tabel 7
Penyakit lain yang bersamaan pada penderita kanker
.
Penyakit
Jumlah
Tuberculosa paru
5
Emphysema
2
Asthma
1
Diabetes mellitus 1
Thrombosis cerebri
2
Lain-lain
3
Tabel 8:
Pengobatan penderita kanker paru:
Macam
Jumlah
Lobektomi
1
Radioterapi
8
Sitostatika
4
Radioterapi +
Sitostatika
1
Simtomatik/Pengobatan
tak dilanjutkan
16
34
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
background image
Dari 30 penderita yang dirawat ini, hanya ada dua orang yang
mungkin masih dapat dilakukan tindakan pembedahan.
Pada satu orang dilakukan lobektomi sedangkan yang lain
menolak. Pengobatan penyinaran dengan Co 60 diberikan pada
penderita dengan tumor paru yang terbatas atau yang masih
dapat dijangkau dengan penyinaran. Penderita-penderita de-
ngan metastasis jauh dan dengan keadaan umum yang baik
diberikan sitostatika. Pada lima dari 16 penderita yang baru
mendapatkan pengobatan penyinaran atau sitostatika, peng
obatan tak dilanjutkan oleh karena keadaan umum menjadi
buruk dan 11 penderita hanya menerima pengobatan simto-
matik dan suportip saja. Yang mengalami lobektomi adalah
seorang pria umur 74 tahun dengan hasil yang baik dan sampai
sekarang masih hidup (lihat tabel 8).
Masa hidup penderita-penderita ini cukup pendek. Yang
meninggal dalam waktu dua hari -- dua minggu sudah lima
orang, dan 15 orang sudah meninggal dalam bulan ke enam.
Yang paling lama hidup adalah seorang pria dengan kanker je-
nis epidermoid dan mendapat pengobatan penyinaran dan BCG.
Penderita ini meninggal bukan karena kanker paru
tetapi
karena sepsis dari ulcus dekubitus yang lama (lihat tabel 9).
Hubungan antara merokok dan kanker paru dapat dilihat
pada tabel 10. Tujuh penderita tak dicatat kebiasaan me-
rokoknya. Mereka yang merokok semuanya tergolong perokok
berat (lebih dari 20 batang sehari) dan selama lebih dari 20
tahun. Jenis rokok sukar diperinci, pada umumnya serutu
dan campuran rokok keretek dan rokok putih.
Tabel 9:
Lama masa hidup penderita kanker paru (Survival):
Lama
Juml:
2 -- 14 hari
5
15 -- 30 hari
1
1 -- 3 bulan
5
3 -- 6 bulan
4
18 bulan
1
Yang masih hidup )
5
Tidak diketahui
9
) Sampai Januari 1977:
Tabel 10 :
Hubungan antara merokok dan penderita kanker paru.
Merokok
16
Tidak merokok laki-laki
2
perempuan 5
Tidak diketahui
7
Pembicaraan
Agaknya penderita kanker paru yang dirawat di R.S. Sum-
ber Waras meningkat sebanyak dua kali bila dibandingkan
dengan tahun
sebelumnya, tetapi terlalu pagi untuk me-
ngatakan apakah insiden kanker paru meningkat atau karena
pemeriksaan yang lebih teliti dengan dipergunakannya alat-
alat yang baru. Perbandingan antara laki-laki dan wanita ada-
lah 5 : 1 dan ini sesuai dengan laporan dari R.S. Persahabatan
Jakarta. Perbandingan antara pria dan wanita ini berbeda
untuk tiap-tiap negara, perbedaan yang tinggi terdapat pada
negara Eropa/Amerika dan merendah pada negara Afrika
dan Asia (BELCHER,JR 1971). Di Hongkong perbandingan
antara pria dan wanita hanya 1 : 1,5 (NANDI, P. 1976). Per-
bedaan-perbedaan ini masih belum jelas sebabnya.
Dari 30 penderita hanya dua yang mungkin masih dapat
dioperasi. Angka ini sangat rendah, sehingga banyak dari
penderita ini tak mungkin lagi mendapat pengobatan yang
dapat memberikan kesembuhan. Banyak penderita yang me-
ngeluh begitu lama, dan diobati dengan antibiotika, tuber-
culostatika dan kadang-kadang dengan obat-obat rheumatik
tanpa ada kemajuan, akan tetapi masih belum dipikirkan
untuk dilakukan pemeriksaan yang menjurus kearah tumor
ganas paru. Hal ini menunjukkan bahwa belum disadari banyak
nya tumor ganas terutama pada orang tua dengan keluhan
respiratorik dan perokok. Di Amerikapun kanker paru ini
75% tidak dapat dilakukan reseksi lagi(SELECKY P 1975).
Jenis kanker paru disini banyak berbentuk adenocarcinoma,
disusul dengan jenis epidermoid dan baru jenis anaplastik,
ini sesuai dengan jenis kanker paru yang dibedah oleh dr.
TAN KING POO
(TKP
SECADININGRAT'67), tetapi berbeda de-
ngan laporan dari R.S. Persahabatan, dimana jenis epider-
moid sebanyak 60%, anaplastik 25%, adenocarcinoma hanya
15%. WEISS dkk (1972) mendapatkan jenis epidermoid, di-
susul adenocarcinoma dan smallcell carcinoma, sedangkan
AUERBACH (1975) mendapatkan jenis epidermoid disusul
small cell carcinoma baru adenocarcinoma pada orang-orang
yang merokok.
Perlu dikemukakan disini bahwa penderita-penderita pada
mana dilakukan tindakan reseksi sudah berumur 74 tahun
dan operasi berhasil baik tanpa komplikasi. Dulu para ahli
bedah segan untuk melakukan tindakan pembedahan pada
mereka yang berumur lebih dari 70 tahun karena mortalitas
yang tinggi, tetapi akhir-akhir ini faktor umur sudah tak
dijadikan pertimbangan untuk tidak dioperasi (BELCHER JR
1975):
Ross
juga sependapat tetapi sebaiknya jangan dilaku-
kan pneumektomi, tetapi terbatas pada lobektomi saja(Ross
NM. 1976).
Penyakit yang bersamaan dengan kanker paru adalah
tuberkulosa yang ditemukan pada lima orang (17%). Fre-
quensi penderita tuberkulosa dengan kanker paru memang
lebih tinggi daripada orang-orang normal.
LAZO
dkk (1974)
mendapatkan 10% dari penderita tuberkulosa yang berumur
lebih dari 40 tahun menderita tumor ganas paru. Jenis kanker
yang terbanyak adalah epidermoid,kemudian undifferentiated
carcinoma, adeno carcinoma dan oatcell carcinoma. Hal ini
penting sekali untuk diketahui sebab insiden tuberculosa paru
di Indonesia masih tinggi sehingga kemungkinan timbulnya
kanker paru atau kedua penyakit itu bersamaan adalah sangat
besar.
Hubungan antara merokok dan kanker paru sudah jelas
sekali dan telah dibuktikan, makin lama dan makin banyak
merokok kesempatan untuk menderita kanker makin besar
dan telah dibuktikan pula bahwa asap rokok adalah bahan
carcinogen (WYNDER 1972). Angka-angka disini adalah kecil
untuk dinilai, tetapi perbandingan antara perokok dan tidak
perokok pada pria adalah 16 : 2. Bila digabungkan dengan ke-
lima wanita, maka angka itu menjadi 16 : 11. Insiden kanker
paru pada wanita tidak merokok disini relatif tinggi bila di-
bandingkan dengan negara Barat. Pada umumnya mereka ada-
Cermin Dunia Kedokteran No: 12, 1978
35
background image
lah ibu rumah tangga yang bekerja sehari-hari di rumah. Apa-
kah ada hubungan antara pekerjaan dapur yang penuh dengan
asap dan kanker paru-paru ini masih memerlukan penelitian
yang lebih lanjut.
Dari data ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kanker
paru yang dirawat di R.S. Sumber Waras tidak sedikit dan
mungkin akan bertambah tiap tahun. Mereka biasanya ditemu-
kan dalam stadium yang lanjut sedangkan keluhan sudah
berlangsung cukup lama. Maka perlu disadari bahwa pada tiap
penderita yang berumur lanjut dengan keluhan respiratorik
khususnya mereka yang merokok dipikirkan akan kanker paru.
1. CAIRN J
KEPUSTAKAAN
: Cancer problem:
American Science
233:64, 1975.
2. MORGAN
WKC,
ANDREWS CE: Bronchogenic Carcinoma:
Textbook of pulmonary disease:
Little Brown and Co Boston,
1974.
3. -TKP SECADININGRAT :
Kanker paru di Indonesia:
P T Kinta,
1967.
4. KURNADI J, SANTOSO R :
Kanker paru di Surabaya:
Kong-
gres IAPI 1971.
5. TIRTOSUGONDO : Beberapa aspek mengenai tumor ganas pada
penderita R S Kariadi Semarang: MKI 22:56, 1972.
6. RASYID R :
Naskah ilmiah lengkap Muktamar IDI ke XII dan
kursus penyegar dan penambah ilmu kedokteran ke VII.
PN
Percetakan Negara RI Jakarta, 1972.
7. HADIARTO M : Kanker paru dan masalah penanggulangannya.
Medika
4:33, 1975.
8. BELCHER JR : World wide differences in sex ratio of bronchial
carcinoma.
Br JDis Chest
65:205, 1971.
9. WANDI P, LEUNG JSM, MOK CK, ONG GB : Bronchogenic
carcinoma in Hong Kong, Review of 390 cases:
Modern Medicine
12:8, 1976.
10. SELECKY P; Current and future concept of lung cancer in UCLA
conference:
Ann Intern Med
83:93, 1975.
11. WEIS W, BOUCOUT KR, SEIDMAN H, CARNAHAN WJ : Risk
of lung cancer, according to histologic type and cigarettes dosage:
JAMA 222:799, 1972.
12. AUERBACH O, GARFINGKEL L, PARK V A: Histologic type
of lung cancer in relation to smoking habit:
Chest
67:4, 1975.
13. BELCHER JR : Changing pattern of bronchial carcinoma: Br
JDisChest
69:247, 1975.
14. ROSE MM : How to deal with bronchogenic carcinoma in the
elderly:
Geriatric
June 107, 1976.
15. WYNDER EL : Etiology of lung cancer:
Cancer
30:1332, 1972.
16. LAZO BG, FERNER LL, SEIFF NS : A study of routin cyto-
logic screening of cancer in 800 men consecutively admitted to
tuberculosis service.
Chest
65:6, 1974.:
KINI
SUDAH DAPAT DIBELI
Buku Kumpulan Naskah Lengkap Pertemuan llmiah Tahu-
nan Ke V, Badan Koordinasi Gastro-enterologi Anak Indo-
nesia 9--12 Desember 1977:
Harga Rp : 2500,-- per exemplar, ongkos kirim 10%:
Peminat Dapat berhubungan dengan :
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK--USU
Jl. Prof H M Yamin SH No : 47
Medan.
A HIGHLY ACTIVE BACTERIOSTATIC AND BACTERICIDAL ANTIBIOTIC
WITH GUARANTEED BIOAVAILABILITY
KALTHROCIN
THE CHOICE OF
KALTHROCIN
®
MEANS
CHOOSING A REALLY ECONOMICAL PRICE
ERYTHROMYCIN WITH GUARANTEED
BIOAVAILABILITY.
KALTHROCIN
THE PREPARATION YOU CAN TRUST !!
36
Cermin Dunia Kedokteran No: 12, 1978