HASIL PENELITIAN
Insidensi
Tes Serologi Mikoplasma Positif
di Rumah Sakit Hasan Sadikin,
Bandung
Zul Dahlan, E. Soerie Soemantri
Subunit Pulmonologi, Bagian/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/
Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung
PENDAHULUAN
Di negara berkembang, Mycoplasma pneumonia dianggap
sebagai salah satu penyebab utama penyakit infeksi saluran nafas
akut
(1)
, terutama usia muda dan pertengahan
(2)
. Tetapi di negara
yang sedang berkembang, besarnya masalah ini belum diketahui
karena kurangnya fasilitas laboiatorium dalam penegakan
diagnosis yaitu dengan menemukan peningkatan kadar titer
complement fixing antibody empat kali lipat, selama perjalanan
penyakitnya
(3)
. Laporan kasus atau penelitian khusus untuk kasus
infeksi ini di Indonesia sangatjarang
(4)
.
Pada tahun 1989, kami mendapatkan kesempatan untuk me-
neliti insidensi infeksi Mycoplasma pneumonia di RS Hasan
Sadikin Bandung berdasarkan hasil serologic yang positif. Telah
diteliti 60 subjek untuk mengetahui kadar IgG serum yang
spesifik untuk Mycoplasma pneumonia, terdiri dari 33 pasien
yang menderita infeksi pernafasan bawah akut (grup A), dan 27
subjek pasien tanpa infeksi saluran pernafasan (grup B). Ke 27
subjek pada grup B ini terdiri dari 8 prang dengan penyakit
paru noninfeksi, 9 prang dengan penyakit demam tifoid
(terbukti secara bakteriologis) dan 10 prang pegawai rumah
sakit yang sehat. Hasilnya dilaprrkan di bawah ini.
BAHAN DAN CARA KERJA
Sampel serum diambil 2 kali, dengan jarak waktu antara
pengambilan pertama dan kedua antara 10 sampai dengan 14
hari. Tes mikoplasma yang dikerjakan sesuai dengan metode
Whittaker, yaitu didasarkan atas metoda Elisa (Enzyme Linked
Imunoabsorbent Assay). Tes ini didesain untuk menentukan
kadar IgG spesifik terhadap Mycoplasma pneumonia dalam
serum atau untuk evaluasi sampel serum 2 x berturutan atas
adanya kenaikan titer yang bermakna sebagai bukti kuat adanya
infeksi Mycoplasma pneumonia baru.
Cara interpretasi hasil adalah sebagai berikut:
1) Nilai serologi Mikoplasma:
·
0,17 atau lebih tinggi : Positif sebanding dengan CF titer
sebesar 1 : 8 lebih. Terdapat kontak dengan Mikoplasma pneu-
monia melalui infeksi.
·
0.170.27 Positifrendah.
·
0.28 1.05 Positif sedang.
·
2 1.06: Positif kuat.
2) Nilai critical ratio :
Nilai critical ratio didapat sebagai berikut :
Critical ratio =
)
(
)
(
acute
value
isa
mycoplamal
mean
nt
convalesce
value
lisa
mycoplasma
mean
mean mycoplarmali a blue (acute/
·
Critical ratio 1,471,64: harga terendah yang dianggap
sangat menyokong adanya peningkatan kadar antibodi/sangat
menyokong untuk adanya infeksi aktif. Sebanding dengan pe-
ningkatan CF-titer 4 kali lipat.
·
Critical ratio 2 1,65: peningkatan kadar antibodi yang
sangat berguna. Sebanding dengan peningkatan CF-titer lebih
dari 4 kali lipat.
HASIL
Ke 60 subjek penelitian ini semua menetap di Bandung,
berumur 18 sampai dengan 70 tahun. Grup A (dengan infeksi
saluran pernafasan) terdiri dari 25 pria dan 8 wanita. Grup B
(grup tanpa infeksi saluran pemafasan) terdiri dari 14 pria dan
13 wanita. Jumlah sampel antara kedua kelompok tidak berbeda
bermakna (p = 0.29).
Hasil positif pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna
(p = 0.28). Nilai hasil positif kelompok dengan infeksi saluran
nafas tidak berbeda bermakna bila dibandingkan dengan hasil
Dibacakan di Join; International Congress of 2nd Asian Pacific Society & 5th
Indonesia Association of Pulmonology. Bali. Indonesia. Juli l4. /990
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
26
Tabel 1. Tes Seroloxgi Mikoplasma
Nilai Tes Serologi Mikoplasma
Positif Negatif Total
Kelompok Pasien
n % n % n %
A. Infeksi Saluran
nafas
B. Tanpa infeksi
Saluran Nafas
1. Orang sehat
2. Penyakit paru lain
3 D. Tifoid
21
19
7
5
7
63.6
70.3
12
8
3
3
2
36.7
29.7
33
27
10
8
9
100
100
Total
40 66.7 20 33.3 60 100
positif masing-masing subkelompok di kelompok B, yaitu sub-
kelompok subjek sehat (70%), subkelompok dengan penyakit
pans lain (62.5%) dan pasien kelompok dengan infeksi saluran
nafas tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tanpa
infeksi saluran pernafasan. Rata-rata keselumhan bagi seluruh
subjek, insidens hasil positif adalah 40 (66.7%) (Tabel 1).
Critical ratio> 1.65 ditemukan pada 3 orang (14.3%) pasien
kelompok A dan 4 orang dari kelompok B. Hasil ini tidak berbeda
bermakna (p > 0.2).
Tabel 2. Critical ratio Plasmalisa > 1.65
Kelompok pasien
Rasio kritis > 1.65
A
B
Infeksi Paru-paru
Non infeksi
1. Orang sehat
2. Penyakit paru lain
3. Demam tifoid
3 (14.3%)
4(21.0%)
1
1
2
Total
7
(100,0%)
DISKUSI
Mycoplasma pneumonia adalah prototipe penyebab
pneumonia atipikal, di samping menyebabkan penyakit saluran
nafas lain dan penyakit di luar paru antara lain pada kulit, susunan
saraf pusat, darah jantung dan sendi-sendi
(3,5)
. Di negara barat
menyebabkan 15-20% pneumonia, bahkan mencapai 60% pada
usia sekolah dan dewasa muda. Dapatjuga terjadi infeksi usia di
abs 60 tahun" '. Sering gejala dan tanda klinis tidak cukupjelas
untuk dapat menegakkan diagnosis adanya infeksi Mycoplasma
pneumonia
(7)
.
Mikoplasma adalah gram negatif, tetapi tak dapat dikenali
dalam sediaan dengan pulasan gram, karena itu diagnosis pasti
tergantung pada kultur danatau pemeriksaan test semlogi yang
spesifik (complement fixation test) atau tak spesifik (cold
aglutinin). Kultur dan identifikasi sangatlah lambat, hal ini
biasanya hanya digunakan sebagai perangkat penelitian atau
pada keadaan tertentu
(5,7)
.
Beberapa reaksi serologis yang tak spesifik dan spesifik ter-
jadi pada infeksi Mycoplasma pneumonia. Cold hemagglutinin
adalah antibodi tak spesifik, sedangkan respons imunologi yang
spesifik antara lain; complement fixation. growth inhibition, dan
radioimmunoprecipitation. Test antibodi complement fixation
cukup memuaskan untuk dipergunakan sebagai alat diagnostik
yang rutin. Penentuan komposisi imunoglobulin spesitik serum
pada fase konvalesen menggambarkan bahwa IgM, IgA. dan
IgG timbul secara berturutan. IgG timbul terakhir, tetapi juga
menetap paling lama
(5,9)
.
Untuk mendiagnosis penyakit secara serologis, darah harus
diambil segera pada awal saki( dan diulang kembali pada hari
ke 10-14 sakit, atau pada lase konvalesen. Sampel tunggal yang
diambil pada akhir perjalanan penyakit dan menunjukkan titer
yang tinggi tidak dapat menentukan apakab penyakit itu baru
terjadi atau suatu infeksi lama. Peningkatan titer antibodi 4 kali
lipat dapat diterima sebagai bukti telah terjadinya infeksi baru.
Adanya peningkatan antibodi IgM spesifik dengan indirect
fluorescent test dapat digunakan untuk deteksi penyakit baru atau
infeksi awal Mycoplasma pneumonia
(8)
.
Test Mycoplasmalisa dari Whittaker Co., M.A. Bioproducts
USA, adalah suatu lea serologis Elisa untuk menentukan kadar
IgG spesitik terhadap Mycoplasma pneumonia.
Tabel 3. Laporan Antibodi IgG Mikoplasma di Indonesia
Hasil Pasitif
Institusi n
IgG > 0.17
c. Ratio > 1.67
1. RS Cipto Mangunkusumo
Jakarta, 1988
a. < 2 tahun
b. 211 tahun
c. 1215 tahun
2. RS Hasan Sadikin
Bandung, 1989
Dewasa
200
60
82(41%)
12
29
41
40(66.7%)
?
7(11.7%)
Angka insidens Mycoplasma pneumonia di Indonesia be-
him diketahui. Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSCM, Jakarta
telah meneliti insidensi IgG spesitik mikoplasma positif pada
pasien rawat nginap dan rawat jalan yang mengalami penyakit
pam dalam waktu 3 bulan, dari bulan Juni s/d September 1986.
Dan 200 pasien yang berusia 2 bulan s/d 15 tahun, 129 mem-
punyai penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan 71
dengan penyakit pam kronis disertai batuk. Dilakukan peme-
riksaan serum secara tunggal untuk menentukan kadar Myco-
plasma specific IgG secara Mycoplasmalisa (Whittaker). Hasil
penelitian terlihat pada Tabel 3. Ditentukan kecenderungan
peningkatan titer sesuai dengan peningkatan umur. Tidak di-
temukan tanda infeksi mikoplasma yang patognomonik dalam
pemeriksaan klinis, laboratorium maupon radiologis. Disimpul-
kan bahwa Mycoplasma pneumonia memainkan peranan pada
infeksi pemafasan akut di Bagian Anak RSCM
(10)
.
Dibandingkan dengan penelitian di RSCM, pada penelitian
kami terhadap orang dewasa mendapatkan persentasi antibodi
IgG positif yang lebih tinggi (66.7%).
Beberapa peneliti melaporkan persentasi mikoplasma po-
sitif secara serologis (IgG) pada pasien adalah 85.2% (Calandi,
1985), dan 89% (Ali, I986). Bilaterjadi suatu infeksi akut walau-
pun oleh kuman lain is dapat menjadi aktif dan meningkatkan
reaksi antibodi terhadap mikoplasma. Mungkin juga ada
mikoplasma tertentu yang bertanggung jawab ats eksaserbasi
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 27