GARA-GARA EXTRA-DRIVE
'
Dok, ilmu kedokteran sekarang telah maju pesat
sekali. Saya masih ingat 30 tahun yll. untuk tiap-
tiap jenis pemeriksaan saya harus menanggalkan
semua pakaian
"
.
Tahun 1973, extra drive merupakan mode dalam Keluarga Berencana.
Dengan bekal alat-alat, obat-obat kontrasepsi yang cukup, ditambah lagi de-
ngan obat-obat BKIA untuk menarik masa, team K.B. pergi kedesa-desa
untuk mengejar target akseptor baru.
Kami kebetulan termasuk dalam sebuah team kabupaten, yang anggota-
nya terdiri dari: seorang dokter, seorang bidan, seorang PLKB dan seorang
pembantu. Ibu-ibu lebih banyak memilih ibu bidan untuk pemasangan IUD.
Didalam team kami, kebetulan bidannya sudah ubanan, lengkap dengan
kacamata. Pasien demi pasien dilayaninya sehingga karena banyaknya pe-
minat, peluhnya bercucuran.
Seorang pasien dengan gaya jalan 'sakit kelamin' datang kembali dan
mengeluh merasa sakit sekali pada kemaluannya. Ibu ini minta dicabut saja
IUD nya karena: dipakai jalan sakit, duduk tak dapat dan waktu diam pun
terasa ada yang mengganjal. Ibu bidan menerangkan: tak usah khawatir, itu
tak apa-apa. Sebentar saja rasa sakit juga akan hilang dengan sendirinya.
Ditambahkannya bahwa pada permulaan pemasangan spiral memang selalu
terasa demikian.
Ibu ini puas dengan keterangan tadi dan pulang kerumah. Akan tetapi se-
perempat jam kemudian datang lagi. Ini kali karena rasa sakit tak tertahan lagi.
Maka terpaksa sang dokter turun tangan. Ibu tersebut disuruh berbaring de-
ngan posisi 'seperti mau melahirkan'.
Apa yang dilihat membuat sang dokter mau tertawa, tapi kasihan;
mau menyalahkan bidan tak sampai hati juga. Ternyata bahwa........................
spekulumnya masih tertinggal dalam vagina. Karuan saja tidak tertahan rasa
sakitnya.
dr. Ny. S. WIADNYANA
DENPASAR.
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
29