Hipertensi dan Stroke
Dr Djoenaidi Widjaja Ph.D
Laboratorium/UPF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya
PENDAHULUAN
Di Amerika Serikat stroke mer,tpakan sebab kematian ke-
dua yang paling lazim terdapat setelah penyakit kardiovaskular.
Angka kematiannya 147.470 per tahun dan biaya riset 46 juta
dollar setahun
(1)
.
Stroke merupakan hampir 50% dari semua penderita yang
dirawat di bangsal Ilmu Penyakit Saraf/RSUD Dr. Soetomo
Surabaya.
Hipertensi adalah penyebab paling lazim dari stroke; 60%
dari penderita hipertensi yang tak diobati akan mengalami
stroke
(2)
. Risiko timbulnya stroke trombotik pada hipertensi
adalah 4.5 kali lebih besar dari pada normotensi. Akan tetapi
pada penderita lebih dari 65 tahun risiko stroke hanya 1.5 kali
dari pada normotensi
(3)
.
AUTOREGULASI ALIRAN DARAH OTAK
(4)
Prevalensi hipertensi bertambah dengan meningkatnya
usia. Tekanan darah menahun mempengaruhi autoregulasi alir-
an darah otak (ADO) dan aliran darah otak regional (ADOR).
Kemampuan intrinsik pembuluh darah otak agar ADO tetap
walaupun ada perubahan dari tekanan perfusi utak dinamakan
autoregulasi ADO
(5)
.
Hukum Hagen-Poiseuille (Hagen 1839, Poiseuille 1846);
menurut hukum ini aliran darah melalui suatu arteri, berhu-
bungan langsung dengan tekanan perfusi pembuluh darah (P)
dan penampangnya pangkat 4 (r
4
); sedangkan kecepatan aliran
darah berhubungan terbalik dengan panjang arteri (1),
viskositas (n) dan faktor 8
(6,7)
.
Rumusnya sebagai berikut :
8
4
×
×
×
×
=
n
l
p
r
Q
Q = aliran darah darah
r = penampang pembuluh
Dibacakan pada : Simposium Penatalaksanaan Hipertensi Masa Kini, Sura-
baya, 8 Mei 1993
p = tekanan perfusi
1 = panjang pembuluh darah
n = viskositas darah
= konstan
Pada infark otak akut terdapat penurunan aliran darah otak
regional (ADOR). Menurut hukum Hagen-Poiseuille ini ADOR
dipengaruhi oleh :
1)
Resistensi serebrovaskular (RSV).
Ini dipengaruhi oleh penampang pembuluh darah (r).
ADOR sama dengan tekanan perfusi otak dibagi RS V(
6
).
2)
Tekanan perfusi otak (TPO).
TPO ini sama dengan tekanan darah sistemik (TDS) minus
tekanan darah vena kapiler (TDV). Yang belakangan ini tekan-
annya hanya beberapa mm air raksa, maka dari itu TPO boleh
dikatakan sama dengan TDS
(9)
.
3)
Viskositas dan koagulabilitas darah.
Viskositas darah dipengaruhi oleh
(10,11)
.:
-
Hematokrit
-
Fibrinogen darah
-
Rigiditas (kelenturan = fleksibilitas) butir sel darah merah
-
Agregrasi trombosit
4)
Tekanan intrakranial.
Bila pembuluh darah otak tersumbat maka terdapat daerah
inti iskemi berat dikelilingi oleh daerah dengan aliran darah
berkurang yang tekanan perfusinya dipertahankan oleh aliran
kolateral. Aliran darah melalui pembuluh kolateral yang melebar
ini tergantung pada TPO. Penurunan tekanan arterial sistemik
menyebabkan bertambahnya daerah dengan iskemi. Bila ADO
turun di bawah 20 ml g' min-', aktivitas listrik otak terganggu
dan timbul gejala neurologik. Biokimia selular terganggu karena
suplai oksigen tak memadai. Bila ADO turun lagi sampai 1020
m1
4
min-' maka kemampuan sel membran untuk mempertahan-
kan perbedaan ion terganggu dengan akibat keluarnya K' intra-
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
24
selular ke ruangan ekstraselular dan masuknya Ca
++
ekstraselular
ke dalam sel dengan akibat kematian sel.
Keadaan neuron-neuron tak berfungsi tetapi masih hidup
dan dapat sembuh bila ada reperfusi dinamakan ischemic
penumbra. Penurunan sedikit saja tekanan darah di daerah ini
dapat memperbesar daerah inti iskemi
(8)
.
Ada 3 teori mengenai autoregulasi ADO :
1)
Teori metabolik
(5,12,13)
Hipotesis metabolik ini lebih masuk akal untuk menjelaskan
autoregulasi ADO. Dulu dikatakan bahwa karbondioksida (CO
2
)
langsung mempengaruhi arteriol serebral atau otot polos, akan
tetapi sekarang dianggap bahwa efek ini primer melalui pH
ekstraselular. CO
2
dapat berdifusi secara bebas melalui sawar
darah otak, akan tetapi ion-ion hidrogen dan bikarbonat tidak. Sel
glia kaya akan karbonik-anhidrase dan CO
2
adalah transmitter
lokal dari neuronal ke ekstraselular atau ekstraselular ke sel glia.
Jadi sel glia mempunyai peranan penting untuk keseimbangan
ion hidrogen dan CO
2
pada tingkat neuronal dan arteriolar.
2)
Teori neurogenik
Pembuluh darah besar ekstraparenkim otak dipengaruhi
oleh susunan saraf autonom. Semua ini melalui efek Bayliss,
yaitu suatu mekanisme intrinsik di sel otot polos arteri atau
arteriol yang bereaksi terhadap kenaikan tekanan dalam
dinding dengan cara mengadakan konstriksi. Dengan efek
Bayliss ini dapat dipertahankan suatu TPO adekuat pada awal
pembuluh penetrasi kortek. Penyelidikan terakhir mengatakan
bahwa ada pengaruh neurogen dari RAS (reticular activating
system) atau pusat di batang otak pada pembuluh darah otak.
Lain halnya dengan Scremin
(14)
yang mengatakan bahwa
saraf parasimpatik tidak mengandung serat-serat vasodilator dan
ia bukan sumber dari asetilkolin yang dikira bersangkut paut
dengan regulasi ADO. Denervasi saraf simpatik menahun sedikit
atau tidak berpengaruh sama sekali terhadap respon vasodilator
otak pada tikus normotensif dan stroke prone spontaneously
hypertension yang diturunkan tekanan darahnya secara akut
(15)
.
3)
Teori sistim renin-angiotensin
(13)
Sistim renin-angiotensin pembuluh darah mempengaruhi
autoregulasi ADO. Penghambat angiotensin I-converting
enzyme (ACE I-inhibitor) menggeser batas bawah dan atas dari
autoregulasi ke tekanan darah lebih rendah. Efek ini mungkin
disebabkan oleh karena dilatasi pembuluh darah resisten besar
(larger resistance vessels) di otak dengan cara memblokir
tonus otot yang dipengaruhi oleh angiotensin-II.
Pada normotensi batas normal autoregulasi ADO terletak
antara 65150 mm/Hg
t8.13i
Pada hipertensi batas ini bergeser ke
kanan, di mana kenaikan tekanan darah dapat ditahan lebih
baik daripada hipotensi
(16)
. (Gambar 1).
Hukum untuk mengukur ambang autoregulasi aliran darah
adalah sebagai berikut: Tekanan darah arterial rata-rata = tekan-
an darah diastolik + 1/3 (tekanan diastolik - tekanan sistolik)
(13)
.
Respon autoregulasi otak cepat sekali, ialah 1530 detik
setelah perubahan tekanan darah(
13
).
Pada tikus percobaan dengan hipertensi spontan atau me-.
nahun, Batas bawah tekanan darah autoregulasi ADO bergeser ke
Gambar 1. Autoregulasi ADO pada normotensi dan hipertensi
tingkat yang lebih tinggi: 95 mm/Hg
(17)
atau 7089 mm/Hg
(18)
;
sedangkan pada tikus normotensi batas ini adalah 62 mm/Hg
atau 50-69 mm/Hg". Pada tikus dengan hipertensi spontan
laktat otak atau rasio laktat/piruvat cepat naik, ATP cepat turun
dan ADO menurun bila tekanan darahnya diturunkan sampai
50 mm/ Hg. sedangkan pada normotensi terjadi perubahan
sedikit, bila tekanan darahnya diturunkan sampai 40 mm/Hg.
Bertambahnya resistensi vaskular pembuluh darah otak akibat
hipertensi menahun, adalah penyebab utama kepekaan terhadap
iskemi otak pada tikus dengan hipertensi
(17,18)
. Pada penurunan
tekanan darah di bawah batas autoregulasi, 50% dari tikus
hipertensi menunjukkan lesi otak iskemik, sedangkan pada
tikus normotensi hanya 1 dari 6 tikus menunjukkan kelainan
(18)
.
Tekanan darah yang naik mendadak (hipertensi akut) dan
sangat tinggi dapat menyebabkan fenomen sosis atau tasbih
(sausage or bead-string phenomenon) dan dilatasi paksa (forced
dilatation). Tekanan darah tinggi ini menerobos respon vaso-
konstriktor (break-through phenomenon) dan men yebabkan
robekan pada sawar darah-otak dengan pembentukan edema
(edema hidrostatik). Pada keadaan ini autoregulasi tak bekerja
lagi dan ADO mengikuti secara pasif tekanan perfusi
(19)
.
HIPERTENSI MENAHUN
Pada hipertensi menahun terdapat 2 perubahan pembuluh
darah arterial otak :
I.
Bertambah hebatnya aterosklerosis dan timbulnya
stroke trombotik
Hipertensi mempercepat permulaan dan menambah hebat-
nya aterosklerosis. Stenosis pembuluh darah servikal, sirkulus
Wilisii dan batang utama arteri intrakranial lebih sering terdapat
pada hipertensi dari pada normotensi
(20)
. Pembuluh darah arteri
kecil 300500 µm, misalnya arteri penetrasi dari kapsula
interna, ganglia basalis dan pons hanya terkena pada hipertensi
menahun. Pada basis otak, arteri kecil ini terkena tekanan darah
tinggi akibat letaknya tegak lurus pada batang utamanya
(20)
.
Peranan trombosit dan faktor-faktor koagulasi pada pemben-
tukan trombus
(4,21)
Hipertensi menyebabkan kerusakan dinding pembuluh da-
rah dan pelepasan kolagen. Endotil yang terkelupas, menye-
babkan membran basal bermuatan positif dan menarik trombosit
yang bermuatan negatif, sehingga terjadi agregasi trombosit
(bagan 1). Selain itu terdapat pelepasan trombokinase dan
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 25
faktor XII (faktor kontak) sehingga terbentuk fibrin melalui
kaskade faktor koagulasi. Trombosit yang beragregasi bersa-
maan dengan fibrin yang terbentuk menyebabkan gumpalan
darah stabil (stabilisation of haemostatic plaque).
Bagan 1. Peranan trombosit pada pembentukan trombus
(21)
.
Penyebab paling lazim pada pembentukan trombus ada-
lah
(22)
:
1.
Perubahan aterosklerosis din ding pembuluh darah
(turbulensi di atas stenosis vaskular).
2.
Lesi endotel di dekat bifurkasio pembuluh darah (krisis
hipertensi, trauma dan sebagainya).
3.
Nekrosis dinding pembuluh darah, hipertensi dan arteritis
(jarang)
Daerah pembentukan trombus, dalam urutan frekuensi ter-
banyak adalah sebagai berikut(22) :
1.
Arteri karotis interna (langsung setelah bifurkasio karotis
komunis)
2.
Arteri serebri media
3.
Arteri vertebralis
Perjalanan histologis pada infark otak
(22)
:
1)
06 jam : stadium inaktivitas fungsional dengan kemung-
kinan sembuh total.
2)
612 jam : stadium inaktivitas fungsional, dengan ke-
mungkinan sembuh parsial.
Pada penutupan akibat emboli kerusakan sel mulai setelah
46 ja'm (eosinofili dari sitoplasma, piknosis).
Tabel 1. Kejadian patofisiologik pada infark otak (akibat gangguan auto
regulasi
ADO
dan
kontrol neurogen dari pembuluh darah)
(22)
Pembuluh darah otak
Metabolisme otak
Timbulnya nekrosis
Lesi jaringan ireversibel
Penekanan pembuluh darah
kapilar
Pernbentukan edema
Gangguan sawar darah-otak
aliran darah
Menurunnya
kapiler
"Steal-phenomena"
(hypercapnia)
Vasoparalisis
(daerah infark)
Akumulasi laktat
Viskositas darah meningkat
Gangguan hipoksik reversibel dan
metabolisme & fungsi sel saraf
(4 6 jam)
ATP > ADP
Pelepasan neurotransmitter
Pelepasan noradrenalin/dopamin
Retensi cairan intraselular
Aktivitas transpor membran
selular
Influx Ca++ dan Na+/
Efflux K+
Aktivasi Ca++ dari membran set
Fosfolipase
Pelepasan asam lemak bebas
Sintesis leukotrin
Tromboksan & prostaglandin
Membubumya eritrosit
Agregasi trombosit
Pada penutupan akibat trombosis yang timbul secara pelan-
pelan, kerusakan mulai setelah 812 jam.
3)
1224 jam : stadium inaktivitas fungsional; kesembuhan
total mungkin bila iskemi hanya parsial.
4)
2436 jam (hari 12) : stadium permulaan infark.
5)
4872 jam (hari 23) : tanda-tanda pasti dari infark otak.
Terdapat edema substansi putih, CT-scan positip, tanda-
tanda kenaikan tekanan intrakranial, hemiasi transtentorial dan
penekanan batang otak.
6)
Hari 4 : Terdapat makrofag yang mengandung lemak (fat-
granule cells) dalam infark, proliferasi dan hipertrofi astroglia
pada tepi infark.
7)
Hari 710 : Membuburnya infark (encephalomalacia),
edema mulai berkurang, proliferasi vaskular pada tepi infark.
8)
Setelah beberapa bulan : Infark berubah menjadi kista;
dinding glia pada tepi kista, penimbunan makrofag.
Atas dasar tersebut obat-obatan hams diberikan sedini
mungkin, kurang dari 6 jam, agar kesembuhan dapat sempuma.
Kejadian-kejadian di dalam neuron pada iskemi otak timbul
dalam waktu singkat sekali. Atas dasar ini Scheinberg
(23)
meng-
anjurkan pengobatan stroke sedini mungkin (paling baik dalam
kurun waktu 1 jam) sama seperti pada serangan jantung.
Sampai saat ini pengobatan stroke iskemik kurang memuaskan
disebabkan pemberian pengobatan terlambat
(24,25)
.
II. Lesi spesifik pada arteri intraserebral dengan diameter
kecil
Ada dua jenis lesi arteri intraserebral pada hipertensi me-
nahun :
A. Lipohialinosis = (Hypertensive arteriolosclerosis)
(20,26)
.
Proses patologi-anatominya mengenai pembuluh darah
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
26
Penjelasan :
ATP = adenosin trifosfat NMFDA = N-methyl D-aspartat
AMPA
=
a-amino-3-hidroksi-5-metil-4-isoksasol-proprionat
Ca++
=
kalsium
FFA = asam lemak bebas
K
=
kainate
Q
=
quisqualate
LRC = ligand regulated calcium channel
VRC = voltage-regulated calcium channel
Bagan 2. Kejadian-kejadian dalam neuron pada iskemia otak (Djoenaidi,
1992)
(28)
dengan penampang 50-200 mikron. Pada pemeriksaan
patologis terdapat : destruksi mural, penebalan fokal pembuluh
darah, makrofag lemak atau sel busa (foam cell), penutupan
trombotik, ekstravasasi hemoragik dan penumpukan fibrinoid.
Semua ini dapat menyebabkan infark lakunar (etat lacunaire).
Infark lakunar ini disebabkan oleh hipertensi menahun dan
tak ada hubungan dengan penyakit pemhuluh darah arteri
ekstrakranial, emboli otak atau diabetes. Penampang infark
lakunar bervariasi antara 0.5-15 mm (paling lazim 2-4 mm).
Paling sering terdapat di nukleus lentikularis, terutama
putamen, diikuti oleh pons, talamus dan nukleus kaudatus,
jarang pada substansia putih otak. Lakun ini tak terdapat di
kortek, jarang di serebelum dan tak pernah ada di medula
oblongata dan sumsum tulang.
Lakun ini sering berhubungan dengan perdarahan dan
infark : perdarahan terdapat pada 35% dan infark 26%. Infark
lakunar terdapat pada 10-20 persen dari semua stroke
(27)
.
Ada 4 jenis stroke lakunar (tabel 2)
(26)
Tabel 2. Jenis stroke lakunar
Nama
Sisi lesi
Jalur terkena
Gejala klinis
Hemiparesis
motorik murni
Stroke sen-
sorik mumi
Ataksia homo-
lateral dan
paresis krural
Disartria
dan tangan
kaku
Kapsula intema
atau pons
Talamus
Kapsula intema
atau korona
radiata
Pont
Tr. kortikobulbar,
kortikospinal
Lemniskus medial,
Tr. spinotalamikus
Tr. kortikopontin
dan tr. kortiko-
spinal
Tr. kortikobulbar
dan kortikospinal
Kelumpuhan wajah,
lengan, tungkai
Rasa tebal, hilang-
nya rasa sensorik
pada wajah,lengan,
tubuh, tungkai
Kelemahan tungkai,
ataksia lengan,
tungkai
Disartria, paresis
N. VII + XII sentral,
ataksia lengan
Keterangan : Tr = traktus
B. Aneurisma Milier (Charcot Bouchard)
Perdarahan intraserebral primer (non traumatik) (P.I.S.)
sering disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma dari Charcot
Bouchard yang mengenai pembuluh darah penetrasi (perforasi)
kecil dengan penampang antara 100-300 mikron. Hipertensi
menahun adalah penyebab terbentuknya mikroaneurisma ini
(20,28)
.
Pecahnya pembuluh darah yang mengalami lipohialinosis
dan nekrosis fibrinoid adalah penyebab dari PIS, diikuti oleh
pecahnya arteri sekunder pada bagian distal dari hematoma
yang membesar dengan cara kaskade (cascade or avalanche
fashion)
(29,30)
.
Etiologi PIS kebanyakan oleh karena hipertensi (24.9-
68.5%), disusul oleh aneurisma (6.2-37.7%), AVM (3-10%),
tumor otak yang tumbuh cepat (primer atau metastasis) (1.5-
11%), diskrasia darah (1.2-13%)
(31)
. Dengan adanya CT-scan
dan MRI (magnetic resonance imaging) ditemukan bahwa PIS
dapat timbul oleh sebab lain, antara lain: hawa dingin;
pencabutan gigi dan operasi neuralgia trigeminus; setelah
infark emboli, setelah endarterektomi karotis, setelah operasi
defek jantung kongenital, endokarditis lenta, migren,
tromboflebitis serebral, arteritis/periarteritis nodosa, eklampsia,
terapi elektrosyok dan ensefalopati toksik
(31)
.
Pada tahun 1990 PIS merupakan 39.4% dari semua stroke
yang masuk rumah sakit di bangsal Lab./UPF Ilmu Penyakit
Saraf/RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Angka kematiannya 57.1%
dan terdapat kecenderungan kenaikan angka kejadian PIS dari
22.7% pada tahun 1986 menjadi 39.4% pada tahun 1990.
Tempat predileksi PIS akibat hipertensi adalah putamino-
kapsular (basal ganglia), talamus, pons dan serebelum.
Putamen (40%), lobar (22%), talamus (15%). serebelum (8%)
dan nukleus kaudatus (7%)
(31)
.
Gejala dan tanda-tanda dari macam-macam bentuk stroke
dapat dilihat pada tabel 3.
SISTIM SKOR
Untuk memudahkan diagnosis differensial stroke hemor-
agik dan non-hemoragik digunakan sistim skor (sistim skor ini
digunakan pada daerah dimana CT-scan tak terdapat) seperti
tersebut di bawah ini (tabel 3). Kedua macam stroke ini perlu
dibedakan karena prognosis dan pengobatannya berlainan
(8)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 27
Tabel 3. Gejala dan tanda-tanda macam-macam stroke
Signs and
Symptoms
S A.H
LC.H
Cerebral
thrombosis
Cerebral
emboli
Proceeding
hA
Onset
Time of
onset
Headache
Vomiting
at onset
Hypertension
Heart disease
(heart failure,
atrial
fibrillation)
Conscious-
ness
Neck
stiffness
Hemiparesis
Padaological
reflexes
Deviation of
eyes
Speech
disturbances
Cerebrospi-
nal fluid
Subhyaloid
hemorrhage
None
Abrupt
(1-2 min.)
During the
day (activity)
Very severe
& sudden
Frequent
Not usually
None
May be lost
momentarily
Invariably
present
Frequently
absent
May be
present
Never at
onset
Very rare
Usually
bloodstained
May be
present
Very rare
Sudden
(min. -hrs)
During the
day (activity)
Severe
Frequent
Almost +
Supervenes as
the patient
'
s
condition
progressively
worsen
Usually lost
Rare
Frequent from
onset
Immediately
May be
present
Frequent
Frequently
bloodstained
Uncommon
Frequent
More gradual
During the
night,
esp. 2-5 A.M.
(or at rest)
Mild/absent
Uncommon
except in
brainstem
lesion
Frequent
Rare
May be lost
Absent
Frequent from
onset
After 24-48
hrs
May be
present
Frequent
Usually dear
Absent
Very rare
Sudden
(seconds-
min.)
During the
day (activity)
Mild/absent
Uncommon
Absent
Common
May be lost
Absent
Frequent from
onset
After 12-24
hrs
May be
present
Frequent
Usually dear
Absent
Keterangan :
SAH = subarachnoid haemorrhage ICH = intracerebral haemorrhage
TIA
=
transient
ischemic
attack Min
= minute
Hrs.
=
hours Esp.
=
especially
1) Skor Guy's Hospital
(32)
(tabel 4)
Skor dari tiap pcnderita didapat dengan cara menambah
atau mengurangi konstan 12.6 dari skor macam-macam
variabel klinik.
Tabel 4. Guy's Hospital Score (1985)
(32)
Gejala/Tanda Klinis
Skor
Derajat kesadaran 24 jam setelah MRS:
Mengantuk
Tak
dapat
dibangunkan
Babinski bilateral
Permulaan serangan
Sakit kepala dalam 2 jam setelah serangan
atau
kaku
kuduk
Tekanan darah diastolik setelah 24 jam
Penyakit katup aorta/mitral
Gagal jantung
Kardiomiopati
Fillrilasi atrial
Rasio kardio-torasik > 0.5 (pada X-foto toraks)
+ 7.3
+ 14.6
+ 7.1
+ 21.9
+ (Tekanan darah
diastolik x 0.17)
- 4.3
- 4.3
- 4.3
- 4.3
Infark jantung (dalam 6 bulan)
Angina, klaudikasio atau diabetes
TIA atau stroke sebelumnya
Anamnesis adanya hipertensi
- 4.3
- 3.7
- 6.7
- 4.1
Skor<+25 menunjukkan infark (stroke non-hemoragik)
dan bila skor > 5 termasuk perdarahan (stroke hemoragik).
Skor+14 adalah titik dengan kemungkinan infark dan
perdarahan 0.5, sedangkan bila skor < +4 kemungkinan
perdarahan kurang dari 0.10. Sensitivitas (rumah sakit Oxford
dan London) untuk diagnosis stroke hemoragik adalah 8188%
dan untuk stroke nonhemoragik (infark) 70%78%. Ketepatan
keseluruhannya 78-82%.
2) Skor Stroke (Djoenaidi,1988)
(33)
Tabel 5. Skor stroke hemoragik dan non-hemoragik
(31)
Tanda/Gejala Skor
T.I.A. sebelum serangan
1
Permulaan serangan
Sangat mendadak (1-2 menit)
6.5
Mendadak (beberapa menit - 1 jam)
6.5
Pelan-pelan (beberapa jam)
1
Waktu serangan
Waktu kerja (aktivitas)
6.5
Waktu istirahat/duduk/tidur
I
Waktu bangun tidur
I
Sakit kepala waktu serangan
Sangat hebat
10
Hebat 7.5
Ringan
1
Tak ada
0
Muntah
Langsung habis serangan
10
Mendadak (beberapa men it - jam)
7.5
Pelan-pelan (1 hari atau lebih)
1
Tak ada
0
Kesadaran
Hilang waktu serangan (langsung)
10
Hilang mendadak (beberapa menit - jam)
10
Hilang pelan-pelan (1 hari atau lebih)
1
Hilang sementara kemudian sadar pula (sepintas)
1
Tak ada
0
Tekanan darah
Waktu serangan sangat tinggi (> 200/110)
7.5
Waktu MRS sangat tinggi (> 200/110)
7.5
Waktu serangan tinggi (> 140/110 - < 200/110)
1
Waktu MRS tinggi (> 140/110 - < 200/110)
1
Tekanan darah tinggi tak terkontrol
7.5
Tanda rangsangan selaput otak
Kaku kuduk hebat
10
Kaki' kuduk ringan
5
Tak ada
0
Fundus okuli
Perdarahan subhyaloid
1
Perdarahan retina (flame shaped)
7.5
Normal
0
Pupil
Isokor
0
Anisokor 5
Pinpoint kanan dan
10
Midriasis kanan dan kiri
10
Kecil + reaksi lambat
10
Kecil + reaktip
10
Skor Total :
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
28
Bila skor > 20 termasuk stroke hemoragik, skor < 20 ter-
masuk stroke non-hemoragik.
Ketepatan diagnostik dengan sistim skor ini 91.3% untuk
stroke hemoragik, sedangkan pada stroke non-hemoragik
82.4%. Ketepatan diagnostik seluruhnya 87.5%
03)
.
3) Skor Siriraj Hospital (Poungvarin, 1991)
(36)
Tabel 6. Siriraj Hospital Score
(36)
Versi orisinal :
= (0.80 X kesadaran) + (0.66 X muntah) + (0.66 X sakit kepala) + (0.33
X tekanan darah diastolik - (0.99 X atheroma) - 3.71
Versi disederhanakan :
= (2.5 X kesadaran) + (2 X muntah) + (2 X sakit kepala) + (0.1 X tekanan
darah diastolik) - (3 X atheroma) -12
Kesadaran : sadar = 0; mengantuk, stupor = 1; semikoma, koma = 2
Muntah : tidak = 0; ya = 1
Sakit kepala dalam 2 jam : tidak = 0; ya = 1
Tanda-tanda ateroma : tidak ada = 0; 1 atau lebih tanda stemma = 1
(anamnesis diabetes; angina; klaudikasio intermiten)
Tanda meningeal, tanda Babinski, anamnesis hipertensi, stroke sebelumnya,
dan penyakit jantung diberi skor 1
Skor > 1 perdarahan otak; skor < -1 infark otak :
Sensitivitas untuk perdarahan (skor> 1) : 89.3% (confidence interval 83.9 -
94.8%)
Sensitivitas untuk infark (skor < -1) : 93.2% (confidence interval 85.8 -
100.6%)
Ketepatan diagnostik : 90.3%
HIPERTENSI AKUT
Tekanan darah yang naik mendadak dan sangat tinggi dapat
menyebabkan fenomena sosis atau tasbih (sausage or bead-
string phenomenon) dan dilatasi paksa (forced arterial dilata-
tion). Tekanan darah yang mendadak tinggi ini menerobos
respon vasokonstriksi (breakthrough of autoregulation) dan
menyebabkan rusaknya sawar darah-otak dengan pembocoran
fokal dari cairan melalui dinding dari arteri yang sudah terentang
berlebihan (overstretched and dilated arteries) serta pemben-
tukan edema otak (edema hidrostatik)
(4,20,31)
. Pada keadaan ini
autoregulasi tidak bekerja lagi, ADO mengikuti secara pasif
tekanan perfusi
(19)
dan timbul ensefalopatia hipertensif.
Lesi arteri yang khas adalah nekrosis lapisan media otot
dengan penimbunan butir darah merah dan adanya zat merah
muda pada pengecatan dengan eosin. Ini dinamakan nekrosis
hialin atau fibrinoid.
Pada orang dewasa jarang timbul ensefalopati hipertensif
bila tekanan darah kurang dari 250/150 mm/Hg, kecuali bila
sebelumnya normotensi
(34)
. Ensefalopati hipertensif dapat
timbul }iada semua umur antara neonatus sampai usia lanjut,
akan tetapi paling lazim antara 2040 tahun
(34)
, sedangkan PIS
akibat hipertensi terdapat antara umur 5170 tahun
(30)
atau rata-
rata umur 55 tahun
(35)
.
Ensefalopati hipertensif dapat terjadi pada penyakit ginjal
akut (acute glomerular nephritis); toksemia gravidarum; vaskuli-
tis disseminata (misalnya poliarteritis nodosa); rangsangan
autonomik sekunder pada kandung seni atau distensi gastrointes-
tinal; rebound hypertension dengan kenaikan berlebihan dari
plasma katekolamin setelah penghentian mendadak dari obat
klonidin dan lain-lain obat antihipertensi; makan makanan yang
mengandung tiramin bersamaan dengan obat penghambat
monoamin oksidase (MAO inhibitor). Pada anak-anak ensefa-
lopati hipertensif timbul pada stenosis arteri renalis; trombosis
atau koarktasi aorta; trauma termal
(20,34)
.
Diagnosis banding antara PIS akibat hipertensi dan ensefa-
lopati hipertensif dapat dilihat pada tabet 7.
Tabel 7. Diagnosis banding PIS (akibat hpertensi) dan ensefalopati hi
pertensit
(31)
PIS
Hppertensif
Ensefalopati
Hppereensif
Defisit neurologik unifokal
Hipertensi hebat & akut
Cairan serebrospinal
CT-scan
Isotope brainscan
Echoensefalografi
Permulaan
Kelainan pupil
+
±
berdarah
(80-90%)
Hematoma
(densitas 80 HU)
abnormal
shift garis
tengah
mendadak
sering +
±
+
jemih
edema otak difus
atau iskemi
normal
normal
normal
-
Keterangan :
HU = Hounsfield Unit
PENATALAKSANAAN STROKE YANG BERHUBUNG-
AN DENGAN HIPERTENSI
I. STROKE TROMBOTIK
Umum :
Hukum 5 "No" dari Meier-Ruge
(22)
:
No Antihypertensives
Menurunnya tekanan darah pada fase akut dari stroke trom-
botik dapat mengganggu aliran darah kolateral dan mempercepat
timbulnya infark
(22)
. Selain itu secara reflektoris terdapat ke-
naikan tekanan darah pada stroke akut (Cushing reflex) dan
pada hipertensi menahun autoregulasi dari ADO bergeser Ice
kanan, ke tekanan darah lebih tinggi. Penurunan tekanan darah
tinggi yang menahun mengganggu ketahanan terhadap tekanan
darah rendah dan memperburuk ADO (gambar 1).
Pada keadaan tertentu bila tekanan darah harus diturunkan,
sebaiknya ditunggu setelah hari ke 3, dimana infark sudah mapan
(lihat stadia perjalanan perubahan histologis pada infark
otak
(22)
. Dosis antihipertensi dikurangi setelah hari ke 3; oleh
karena tekanan darah turun setelah hari-hari tersebut (Cushing
ref lex)
(37)
. Penulis menganjurkan sebaiknya penurunan
tekanan darah setelah fase akut selesai ialah setelah 710 hari,
pada saat edema otak telah hilang.
Penurunan tekanan darah pada hipertensi menahun harus
pelan-pelan (berbulan-bulan) bertahap untuk menghindari ter-
ganggunya autoregulasi ADO
(13)
. Jangan gunakan obat anti-
hipertensi dengan efek vasodilator otak misalnya hydralhzine,
sodium nitroprusside, kalsium bloker, oleh karena meng-
ganggu autoregulasi ADO dan menaikkan tekanan intrakra-
nial
(8,13)
. Diasoksid tak mempunyai efek pada ADO dan auto-
regulasi ADO
O)
. Alfa dan beta adrenergik bloker, ganglionik
bloker dan penghambat ACE (angiotensin-converting enzyme
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 29
inhibitors) adalah obat antihipertensi paling baik, karena mem-
punyai pengaruh sedikit pada ADO dan menggeser
autoregulasi ADO ke tekanan darah lebih rendah
(8,13)
.
-
No diuretics
Diuretika menambah viskositas darah dan mengganggu
aliran darah kolateral,
-
No dexamethasone
Dexamethasone menambah disbalans elektrolit dan
gangguan metabolisme lokal. Selain itu pada penyelidikan klinis,
steroid dalam dosis rendah atau tinggi tak ada gunanya
(38,39,40)
dan dapat berbahaya pada neuron iskemik
(41)
.
-
No glucose infusion
Glukosa menambah laktat pada daerah iskemi. Asidosis
laktat dapat mematikan neuron dengan cara menekan pernafas-
an mitokondria sehingga menghambat pembentukan ATP. pH
jaringan yang rendah dapat memacu pembentukan radikal
bebas dan peroksida lemak
(25)
.
-
No anticoagulant 4 hours after onset of stroke
Bahaya timbulnya infark hemoragik atau ensefaloragia.
Medikamentosa
Sampai saat ini tak ada obat-obatan yang memuaskan
untuk pengobatan stroke akut.
Pemberian obat yang barn beredar di Indonesia: nimodipin
suatu penghambat ion kalsium yang larut dalam lemak, sampai
saat ini khasiatnya masih diragukan
(23,42,43)
, walaupun ada penulis
yang mengatakan berguna bila diberikan kurang dari 6 jam
dengan injektor automatik
(44)
. Nimodipin tak dianjurkan pada
edema otak;pada binatang percobaan infark otak dan edema otak
terjadi dalam kurun waktu 2 jam, maksimal dalam 3 jam
(45)
. Se-
lain itu nimodipin adalah vasodilator arterial otak yang hebat
(23)
sehingga dapat menimbulkan intracerebral steal. Kalsium bloker
menaikkan tekanan intrakranial dan menurunkan tekanan
perfusi otak (TPO), sehingga mengganggu autoregulasi aliran
darah ke otak atau ke daerah iskemi
(8,46)
. Secara teori nimodipin
tak dapat mencegah pelepasan glutamat secara besar-besaran
ke dalam ruangan ekstraselular yang menimbulkan efek
neurotoksik dengan cara mengaktivasi reseptor NMDA (N-
metil-D-aspartat) dan menyebabkan masuknya kalsium ke
dalam membran postsinaptik serta merusak mitokondria (lihat
bagan 2). Jadi nimodipin tak dapat menghambat reseptor
glutamat yang letaknya lebih awal dari reseptor kalsium, atas
dasar ini nimodipin kurang bermanfaat.
Obat penghambat reseptor NMDA (MK-801 dan AP5)
masih dalam taraf penyelidikan. Hasil pengobatan ini masih
bertentangan. Gabungan hipotermi dan antagonis NMDA lebih
baik dari pada NMDA saja
(47,48,49)
.
Obat antagonis reseptor AMPA (a-amino-3-hidroksi-5-
metil-4-isosasolproprionat), misalnya NBQX (2,3-dihidroksi-6-
nitro-7-sulfamoksilbenso (F) quinoksalin) masih dalam taraf
penyelidikan. Dikatakan bahwa obat antagonis reseptor AMPA
lebih baik dari pada antagonis reseptor NMDA
(50)
.
Mencegah edema otak
Gliserol:Kegunaan gliserol untuk stroke masih diragukan
(51)
,
hanya ada satu makalah yang mengatakan gliserol berguna
(52)
.
Mannitol: adalah penghancur radikal bebas, ia dapat me-
ngurangi edema sitotoksik, memperbaiki mikro-sirkulasi,
menstabilkan aliran darah kortikal dan pH otak intraselular
pada ischemic penumbra, akan tetapi tidak pada daerah inti dari
iskemia. Bahaya penggunaan jangka pan jang dapat menyebab-
kan gangguan elektrolit, edema otak (rebound phenomenon)
dan kejang-kejang
(38,39)
.
Hiperventilasi: efek kerjanya cepat setelah 1030 detik dan
maksimum setelah 23 menit. Keburukannya: tekanan intra-
kranial kembali ke ambang semula setelah 1218 menit atau
230 jam
(53)
Albumin: pemberian infus isovolemik dengan albumin
hiperosmolar berguna untuk edema iskemik
(54)
.
Pengobatan medikamentosa stroke sampai saat ini kurang
memuaskan
(55)
. Ini disebabkan karena waktu optimal untuk
pengobatan (therapeutic window) stroke sempit (hanya beberapa
jam) dan penyebabnya multifaktor. Kegagalan metabolik
terjadi dalam waktu 3-4 jam bila aliran darah ke daerah terkena
tak diperbaiki
(56)
serta infark otak dan edema otak timbul 2 jam
(maksimal 3 jam) setelah penutupan pembuluh darah otak
(45)
.
Atas dasar ini Scheinberg menganjurkan pengobatan stroke
sedini mungkin (paling baik dalam kurun waktu 1 jam) sama
seperti pada pengobatan serangan jantung
(23)
.
II. PERDARAHAN INTRASEREBRAL PRIMER SPON
TAN (PIS)
Medikamentosa
Antihipertensiva : Pandangan umum mengatakan bahwa
tekanan darah harus segera diturunkan pada PIS akut
(57)
, akan
tetapi Powers
(8)
pada tahun 1993 ini menganjurkan agar tekanan
darah jangan diturunkan oleh karena pada PIS jarang timbul
perdarahan ulang, selain itu tak ada hubungan antara naiknya te-
kanan darah waktu serangan dan perdarahan ulang. Bila tekanan
darah diturunkan lebih dari 40% dari tekanan semula, maka
akan timbul gejala-gejala hipoperfusi otak
(58)
. Hayashi dan
kawankawan
(4)
menyelidiki pengaruh nifedipin, klorpromasin
dan reserpin pada PIS dengan tekanan intrakranial meningkat
20-40 mm/Hg (kelompok I) dan > 40 mm/Hg (kelompok II).
Hasilnya obat-obat tersebut di atas menurunkan tekanan darah
rata-rata 18-20%, akan tetapi tekanan intrakranial dan tekanan
perfusi otak (TPO) menurun 20-30% pada kelompok I dan 40-
54% pada kelompok II. Dari penyelidikan ini diketahui bahaya
menurunkan tekanan darah pada PIS dengan obat
antihipertensiva dengan efek vasodilatasi. Sodium nitroprusside
yang dikatakan obat tekanan darah yang terbaik untuk PIS
07
)
dibantah oleh Powers, berhubung obat ini adalah obat
antihipertensiva dengan efek vasodilator
(8)
.
Pada PIS gumpalan darah menekan jaringan otak sekitarnya
dan menyebabkan iskemi. ADO pada daerah ini rendah sekali.
Tekanan intrakranial yang meningkat, tambah merusak TPO
serta ADO lokal dan pada tempat yang jauh (diaskisis). Perubah-
an tekanan darah sistemik mengganggu autoregulasi akibat
iskemia dan vasodilatasi karena tekanan intrakranial meningkat.
Jadi penurunan tekanan darah dapat mengganggu ADO serta
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
30
memburuknya iskemi dari jaringan otak sekitar hematoma
(47)
.
Mencegah perdarahan ulang (obat-obat anti fibrinolisis):
Perdarahan ulang pada PIS jarang sekali terdapat, kecuali
bila etiologinyi aneurisma atau AVM. Epsilon aminocaproic
acid (EACA) atautranexamic acid dianjurkan hanya pada
kasus PIS karena aneurisma yang pecah
(59)
Mencegah
kejang :
Kejang-kejang timbul pada 10% dari PIS pada waktu per-
mulaan atau pada 3 hari pertama setelah PIS. Kejang dapat
menaikkan tekanan intrakranial, edema otak dan mengganggu
kardiovaskular, maka pemberian obat antikonvulsan adalah
layak sebagai profilaksis, terutama bila letaknya dekat kortek
(misalnya perdarahan lobar)
(37)
.
Mencegah tekanan intrakranial meningkat :
Posisi kepala :
Pada semua penderita dengan tekanan intrakranial tinggi
kepala harus ditinggikan 20-30°, dengan mengganjal bagian
kepala dari tempat tidur
(30,38)
.
Obat-obat hiperosmolar :
Mannitol: pemberian mannitol sebaiknya diberikan 4 jam
setelah serangan PIS berhubung perdarahan intraserebral baru
berhenti. Mannitol pelan-pelan dihentikan mulai dari hari ke 4
tergantung pada tingkat kesadaran. Harus dipantau osmolaritas
serum, karena osmolaritas serum lebih dari 330 mempunyai
efek inotropik negatif pada jantung
(37)
dan ensefalopatie
(60)
,
selain itu perlu dipantau serum elektrolit dan fungsi ginjal.
Kortikosteroid: tak dianjurkan pada PIS
(37,61,62)
Obat-obat neuroprotektif
Dikatakan bahwa nimodipin, suatu penghambat ion kalsium
yang larut dalam lemak, mempunyai efek neuroprotektif. la
berguna pada PIS dengan perdarahan kurang dari 60 ml, bila
diberikan kurang dari 6 jam dengan injektor automatik,
kesadaran Glasgow coma scale lebih dari 10
(44)
.
Pada binatang percobaan pemberian nimodipin sebelum
terjadinya PIS tak ada gunanya
(63)
. Percobaan di Lab./UPF Ilmu
Penyakit Saraf/RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan tak
ada perbedaan bermakna pada pemberian nimodipin dan peng-
obatan konservatif
(25)
.
Menurut Caplan PIS yang kecil dengan penampang ter-
besar kurang dari 2 cm, tak perlu pengobatan sebab sembuh
sendiri
(57)
Pada PIS dengan volume darah kurang dari 50 ml, 10%
meninggal bila diobati secara konservatif
(64)
.
Tindakan bedah
Hasilpembedahan tergantung dari : tingkat kesadaran;
tempat lesi; penampang hematoma; volume darah; waktu yang
tepat untuk operasi.
Tingkat kesadaran
Angka kematian pada kesadaran menurun (koma atau
stupor) berkisar antara 70-100%
(64)
. Penderita koma sebaiknya
tak diperasi, oleh karena dioperasi atau tidak dioperasi sama-
sama meninggal. Penderita yang sadar atau somnolen tak perlu
dioperasi, kecuali bila keadaan neurologik atau kesadarannya
bertambah buruk
(65)
.
Lain halnya dengan perdarahan serebellum, yang hasilnya
kadang-kadang memuaskan walau kesadaran koma atau sopor.
Kanno menganjurkan pada hematoma serebellum dan koma,
pemberian mannitol dan pemeriksaan somatosensoric evoked
potential (SSEP). Bila SSEP bertambah baik setelah pemberian
mannitol, maka hasil operasi memuaskan
(66)
.
Tempat lesi
·
Hematoma lobar
Hematoma lobar yang tak diikuti oleh tekanan intrakranial
meningkat tak memerlukan operasi
(38)
. Bila hematoma lobar
diikuti oleh edema dan tekanan intrakranial meningkat dan
cepat memburuk keadaan klinisnya, maka perlu operasi secepat
mungkin
(37,67)
. Angiografi diperlukan berhubung banyaknya
penyebab dari hematoma lobar
(67)
.
·
Hematoma kecil dan sedang di daerah putamen sembuh
spontan. Bila hematoma lebih dari 3 cm, pengobatan pertama
medisinal, akan tetapi bila defisit neurologik bertambah jelek
atau kesadaran mengantuk perlu tindakan bedah
(61)
.
·
Perdarahan talamus
Pada umumnya tak dioperasi, hanya ditujukan pada hidrosefa-
lus dengan ventrikulo-peritoneal shunt darurat atau permanen
(67)
.
Operasi langsung pada perdarahan talamus sedikit gunanya
(61)
.
·
Perdarahan pons
Perdarahan pons paling dramatis dan paling sulit diobati
dari semua perdarahan
(67)
. Perdarahan kecil sudah fatal dan
operasi langsung sedikit gunanya
(61)
. Walaupun demikian ada
laporan dengan kesembuhan spontan
(68)
.
·
Perdarahan mesensefalon
Perdarahan mesensefalon jarang dapat dioperasi dengan
sukses
(37)
. Operasi dilakukan bila keadaan neurologik bertambah
buruk oleh karena perdarahan ulang atau hidrosefalus
(61)
.
·
Perdarahan serebelum
Hasil operasi kadang-kadang sangat memuaskan walau
penderita koma
(38)
. Dengan pengobatan konservatif 71-73%
meninggal, sedangkan dengan operasi angka kematian 36%
(64)
.
Penampang hematoma
Pada umumnya penampang lebih dari 3 cm merupakan
pedoman dilakukannya operasi, terutama bila letaknya di pu-
tamen, lobar dan serebelum
(64,67)
. Bila defisit neurologik cepat
memburuk, kesadaran menurun dan terdapat tanda-tanda pene-
kanan batang otak diperlukan operasi walau hematomnya
kurang dari 3 cm
(67)
. Pada perdarahan mesensefalon operasi
jarang berhasi1
(67)
.
PIS kecil dengan penampang kurang dari 2 cm tak perlu
pengobatan sebab sembuh sendiri. Pada PIS sedang dengan
penampang 2-4 cm dianjurkan operasi bila terdapat tanda-tanda
tekanan intrakranial meningkat. Dekompresi medikal dengan
cara intubasi serta hiperventilasi buatan, serta pemberian
mannitol. Pada PIS sangat besar (penampang lebih dari 4 cm)
biasanya meninggal sebelum pemberian pengobatan
(57)
.
Volume perdarahan
Pengobatan konservatif pada hematoma lebih dari 50 ml
diikuti oleh 80-90% kematian
(38,64)
, sedangkan pengobatan non-
bedah pada hematoma kecil berhubungan dengan 10% kemati-
an
(38)
.Atas dasar ini dianjurkan pembedahan pada hematoma
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 31
lebih dari 50 ml
(38)
.
Saat pembedahan
Luessenshop menganjurkan operasi secepat mungkin 7
jam setelah serangan, jadi sebelum timbulnya edema otak
(89)
.
Kanno juga menganjurkan indikasi operasi kurang dari 6
jam
(66)
.
Bila tak dapat dioperasi sedini mungkin, penulis lain meng-
anjurkan operasi pada hari ke 5-15 dimana initial vegetative
storm mulai mereda
(59,64)
.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada stroke akut tekanan darah sebaiknya jangan diturun-
kan, berhubung autoregulasi aliran darah ke otak terganggu.
Pilihlah obat antihipertensi yang menggeser autoregulasi
ke tekanan darah lebih rendah dan yang tak mengganggu auto-
regulasi aliran darah ke otak. Obat tekanan darah dengan efek
vasodilatasi menaikkan tekanan intrakranial dan mengganggu
tekanan perfusi otak dengan akibat autoregulasi-aliran darah ke
otak terganggu.
Pengobatan stroke sebaiknya diberikan sedini mungkin
pada jam-jam pertama.
KEPUSTAKAAN
1.
National Center for Health Statistics. National Institutes of Health: Public
Health Service, 1990.
2.
Hodge. Change in causes of death in treated hypertension: Am Heart J
1967; 73: 441. 30.
3.
Lechner H, Bertha G. Transient ischaemic attacks. In: Meier-Ruge (ed).
Vascular brain disease in old age. Basel, Karger, 1990, pp 97-133.
4.
Djoenaidi W. Patofisiologi iskemia dan infark otak. Simposium Tata
laksana/pengobatan gangguan pembuluh darah otak & metabolisme sel
otak. Surabaya, 14 Januari, 1984.
5.
Meyer IS, Desmukh VD, Welch KMA. Experimental studies concerned
with the padaogenesis of cerebral ischaemia and infarction. In: Ross
Russell RW (ed). Cerebral arterial disease. New York: Curchill
Livingstone, 1976, pp 57-84.
6.
Hossmann KA. Treatment of experimental cerebral ischaemia. J Cereb
Blood Flow 1982; 2: 275-297.
7.
Kappert A. Modem concept in the phannacotherapy of arterial occlusive
diseases. Folia Angiologica Supplementa 1981; 7: 11-12.
8.
Powers WJ. Acute hypertension after stroke. Neurology 1993; 43: 461-7.
9.
Meldrum BS. Concluding discussion on perfusion pressure. In: Brierley
JB, Meldrum BS. Brain hypoxia. Philadelphia: JB Lippincott Co, 1971,
p 306.
10.
Grotta J, Ackerman R, Correia Jet al. Whole blood viscosity parameters
and cerebral blood flow. Stroke 1982; 13: 296-301.
11.
Thomas DJ. Whole blood viscosity and cerebral blood flow. Stroke 1982;
13: 285-6.
12.
McHenry LC. Cerebral blood flow and metabolism. In: Harrison MJG,
Dyken ML (eds). Cerebral vascular diseases. London: Butterworth, 1983,
pp 67-85.
13.
Paulson OB, Strandgaard S. The old brain's blood flow. In: Meier-Ruge W
(ed). Vascular brain diseases in old age. Basel, Karger, 1990, pp 2-41.
14.
Scremin OU, Sonnenschein RR, Rubinstein EH. Cholinergic cerebral
vasodilatation: lads of involvement of cranial parasympadaetic nerves. J
Cereb Blood Flow Metabol 1983; 3: 362-8.
15.
Sadoshima S, Heisted DD. Regional cerebral blood flow during hypoten
sion in normotensive and stroke-prone spontaneously hypertensive rats:
Effect of sympadaetic denervation. Stroke 1983; 14: 575-9.
16.
Lassen NA, Paulson OB. Padaophysiology of cerebral apoplexy (stroke)
with special regard to changes in regional cerebral blood flow. Hartbulletin
1975; 6: 92-95. 45.
17.
Nekatomi Y, Fujishima M, Ishitsuka T et al. Effects of arterial hypotension
in brain metabolism in no notensive and spontaneously hypertensive rats.
Stroke 1981; 12: 356-359.
18.
Barry DI, Strandgaard S, Graham DI et al. Cerebral blood flow in rats with
renal and spontaneous hypertension: Resetting of the lower limit of auto-
regulation. J Cereb Blood Flow Metabol 1982; 2: 347-353.
19.
Vinall PE, Simeone FA. Cerebral autoregulation. Stroke 1981; 2: 640-2.
20.
Gautier IC Cerebral ischaemia in hypertension. In: Ross Russell RW (ed).
Cerebral arterial diseases. Edinburgh, London: Churchill Livingstone,
1976. pp 181-209.
21.
Djoenaidi W. Pencegahan dan pengobatan serangan iskemia otak sepintas.
Cermin Dunia Kedokteran 1980; 17: 26-34.
22.
Meier-Ruge W. The padaophysiology of stroke, causes and mechanisms of
cerebral infarction. In: Meier-Ruge W (ad). Vascular brain disease in old
age. Basel, Karger, 1990, pp 43-95.
23.
Scheinberg P. The biologic basis for treatment of acute stroke. Neurology
1991; 41: 1867-73.
24.
Djoenaidi W. Dimensi ban' penatalaksanaan gangguan peredaran darah
otak sepintas dan stroke iskemik akut. Konas II Ikatan Dokter Ahli
Rehabilitasi Indonesia (IDARI). Semarang, 20 September 1991.
25.
Djoenaidi W. Pengobatan gangguan petedaran dash otak akut (stroke) atas
dasar patofisiologinya. Neurona 1991; 10: 19-22.
26.
Djoenaidi W. Pengobatan medik pada penyakit pembuluh dash otak
iskemik. Simposium CVD, Medan, 30 Juli 1984.
27.
Dobkin BH. Heparin for lacunar stroke in progression. Stroke 1983; 14:
421-423.
28.
Richardson A. Spontaneous intracerebral and cerebellar haemorrhage. In:
Ross Russell RW (ed). Cerebral arterial diseases. Edinburgh London,
Churchill Livingstone, 1976, pp 210-30.
29.
Kase CS, Mohr JP. General features of intracerebral haemorrhage. In:
Bameu HIM, Stein BM, Mohr JP, Yatsu FM (eds). Stroke:
padaophysiology, diagnosis and management Vol 1, New York, Churchill
Livingstone, 1986, pp 497-523.
30.
Muller HR, Radu EW. Intracerebral haematoma. In: Harrison MJG,
Dycken ML (Ms). Cerebral vascular disease. London, Butterworths, 1983,
pp 320-351.
31.
Djoenaidi W. Perdarahan intraserebral primer (nor-traumatik),
patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan. Simposium CVD, KONAS
IDASI, Ujung Pandang, 1988.
32.
Sandercock P, Allen CMC, Colston RN et al. Clinical diagnosis of intra-
cranial haemorrhage using Guy's Hospital Score. BMJ 1985; 291: 1675-7.
33.
Djoenaidi W. Sistem skor pada stroke. KONAS IDASI, Ujung Pandang,
29-31 Oktober 1988.
34.
Gates PC, Bamett HJM, Vinters HV et al. Primary Ultra ventricular
haemorrhage in adults. Stroke 1986; 17: 872-876.
35.
Mutlu N, Berry RG, Alpers BJ. Massive cerebral haemorrhage, clinical
and padaological correlations. Arch Neurol 1963; 8: 644-661.
36.
Poungvarin A, Viriyavejakul A, Komontri C. Siriraj stroke score and
validation study to distinguish supratentorial intracerebral haemorrhage
from infarction. BMJ 1991; 302: 1565-7.
37.
Ropper AH. Cerebral haemorrhage. In: Johnson RT (ed). Current therapy
in neurologic disease-2. Toronto, Philadelphia: BC Decker Inc, 1987, pp
163-5.
38.
Grotta JC. Current medical and surgical therapy for cerebrovascular
disease. N Engl J Med 1987; 317: 1505-1516.
39.
Meyer FB, Sundt Jr TM, Yanagihara T, Anderson RE. Focal cerebral
ischemia: Padaophysiologic mechanisms and rationale for future avenues
of treatment Mayo Clin Proc 1987; 62: 35-55.
40.
Norris JW, Hachinski VC. High dose steroid treatment in cerebral
infarction. BMJ 1986; 292: 21-3.
41.
Sapolsku RM, Pulsinelli WA. Glucocorticoids potentiate ischaemic injury
to neurons: therapeutic implications. Science 1985; 229: 1397-1400.
42.
Editor. Warning letter for Miles on Nimotop. Scrip 1992; 1700: 13.
43.
Vermeulen M. De toepassing van calciumblokkeerders bij patiifnten met
cerebrovasculaire ziekten. Ned Tijdschr Geneesk 1988; 132: 2228-9.
44.
Chandra B. A new form of management of- stroke in diabetes. The Asean
Federation of Endocrine Societies. 6th. Congress, Jakarta, Indonesia, July
2-4, 1992.
45.
Norris JW. Future stroke management. Stroke 1991; 22: 1609.
46.
Hayashi M, Kobayashi HI, Kawano H et al. Treatment of systemic hyper-
tension and intracranial hypertension in cases of brain hemorrhage. Stroke
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
32
1988; 19: 314-321.
47.
Albers GW, Goldberg MP, Choi DW. Do NMDA antagonists prevent
neuronal injury? Yes. Arch Neurol 1992; 49: 418-420.
48.
Clifford Rose J. Clinical diagnosis and therapy of stroke. In: Meier-Ruge
(ed). Vascular brain diseases in old age. Basel, Karger, 1990, pp 135-175.
49.
Buchan AM. Do NMDA antagonists prevent neuronal injury? No. Arch
Neurol 1992; 49: 420-421.
50.
Hachinsky V. NMDA antagonist protection from neuronal injury. Arch
Neurol 1992; 47: 421.
51.
Nellgard B, Wieloch T. Postischemic blockage of AMPA but not NMDA
receptors mitigates neuronal damage in the rat brain following transient
severa cerebral ischaemia. J Cereb Blood Flow Metab 1992; 12: 2-11
52.
Sandercock P. Important new treatment for acute ischaemic stroke. BMJ
1987; 295: 1224-5.
53.
Bayer AJ, Paday MS, Newcombe R. Double blind randomised trial of
intravenous glycerol in acute stroke. Lancet 1987; 1: 405-408.
54.
Prasetyo N, Djoenaidi W. Penatalaksanaan edema otak. Referat 1989.
55.
Allen CMC, Harrison MJG, Wade DT. The management of acute stroke.
Tumbridge Wells, Kent, Castle House Publ Ltd, 1988. p 132.
56.
Sandercock P, Willems H. Medical treatment of acute ischaemic stroke.
Lancet 1992; 339: 537-9.
57.
Editor. Treatment for stroke. Lancet 1991; 337: 1129-1130.
58.
Caplan LR. Intracerebral haemorrhage. Lancet 1992; 339: 656-658.
59.
Dinsdale HB. Hypertensive encephalopaday. In: Bamett HIM, Stein BM,
Mohr JP, Yatsu FM (eds). Stroke: padaophysiology, diagnosis and manage-
ment. Vol 2, New York, Churchill Livingstone, 1986: 869-874.
60.
Paillas JE, Alliez B. Surgical treatment of spontaneous intracerebral haem-
orrhage. J Neurosurg 1973; 39: 145-51.
61.
Fishman P A. Brain edema. In: Bamett HJM, Stein BM, Mohr JP, Yatsu
FM (eds). Stroke: padaophysiology, diagnosis and management. Vol 1,
New York, Churchill Livingstone, 1986, pp 119-126.
62.
Ojemann RG, Hems RC. Spontaneous brain haemorrhage. Stroke 1983;
14: 468-75.
63.
Poungvarin N, Bhoopat W, Viriyavejakul A et al. Effects of
dezamethasone in primary supratentorial intracerebral haemorrhage. N
Engl J Med 1987; 316: 1230-3.
64.
Teasdale G, Mendelow AD, Graham DI et al. Efficacy of nimodipine in
cerebral ischaemia or haemorrhage. Stroke 1990; 21 (suppl IV): IV-13-IV-
125.
65.
Regli F, Jeanmonod D. Ursachen, spontanverlauf and prognose der Him-
blutungen. Akt Neurol 1979; 6: 155-170.
66.
Marshall J. Should spontaneous cerebral haematomas be evacuated and if
so when? In: Warlow C, Garfield J (eds). Dilemmas in the management of
the neurologic patient. Edinburgh, Churchill Livingstone, 1984; pp 54-61.
67.
Kanno T. Intracerebral haematoma. Continuing Medical Education. Su-
rabaya, 27 Augustus, 1988.
68.
Crowell RM, Ojemann RG. Spontaneous brain haemorrhage: Surgical
considerations. In: Bamett HJM, Stein BM, Mohr JP, Yatsu FM (eds).
Stroke: padaophysiology, diagnosis and management. Vol 2, New York,
Churchill Livingstone, 1986, pp 1191-1206.
69.
Lawi E, Rothman S, Reches A. Primary
porcine
haemorrhage
with
complete recovery. Arch Neurol 1981; 38: 320.
70.
Luessenhop AJ, Shevlin WA, Ferrero AA et al. Surgical management of
primary intracerebral haemorrhage. J Neurosurg 1967; 27: 419-427.
71.
Djoenaidi W. Pengalaman pengobatan nimodipine pada stroke hemoragik
akut di bangsal Lab./UPF Ilmu Penyakit Saraf/Dr. Soetomo, Surabaya,
1993 (unpublished data).
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 33