background image
Gambaran Endoskopi Saluran Cerna
Bagian Atas di Bagian Penyakit Dalam
RSU dr. M. Jamil, Padang
Nasrul Zubir, Julius
Sub-bagian Gastroentero-Hepatologi Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/
RSUP dr. M. Jamil, Padang
PENDAHULUAN
Pemeriksaan endoskopi gastrointestinal serat optik dewasa
ini telah merupakan prosedur diagnostik canggih dan sudah baku
untuk para ahli dalam bidang gastroentero-hepatologi. Bahkan
pemanfaatan endoskopi gastrointestinal ini, bukan hanya untuk
kepentingan diagnostik bahkan sudah berkembang untuk tindakan
terapeutik
(1)
.
Di UPF Penyakit Dalam RSUP. Dr. M. Jamil Padang
pemakaian endoskopi serat optik berlangsung sudah sejak 10
tahun belakangan ini, baik untuk diagnostik maupun untuk
terapeutik.
Dalam makalah ini akan dilaporkan gambaran endoskopi
endoskopi saluran cerna bagian atas (SEBA) sejak 1 Januari
1990 sampai dengan 31 Desember 1991.
METODA DAN CARA
Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan meneliti
laporan endoskopi para penderita yang menjalani pemeriksaan
endoskopi saluran cerna bagian atas sejak 1 Januari 1990 sampai
dengan 31 Desember 1991.
Indikasi pemeriksaan endoskopi adalah penderita dengan
sirosis. had, sirosis hati dengan perdarahan saluran cerna, pen-
derita dengan keluhan dispepsia, gastritis, ulkus peptikum,
akhalasia serta kemungkinan tumor lambung.
Sebelum dilakukan pemeriksaan endoskopi, penderita di-
puasakan sejak jam 12.00 malam dan pada saat akan dilakukan
pemeriksaan diberikan sulfas atropin 0,5 mg dan 20 mg Bus-
copan® secara intramuskuler serta anestesi lokal pada orofaring.
Alai endoskopi yang dipergunakan adalah Olympus CIF P2
atau GIF Q dengan cold-light source. Penilaian terhadap varises
esofagus berdacarkan warna (colour), tanda wama merah (red
colour sign), bentuk (form) dan lokasi varises
(1)
.
Diagnosis endoskopis : gastritis, bila ditemukan mukosa
lambung hiperemis; "bile reflux gastritis" bila terdapat cairan
empedu pada lambung yang berasal dari duodenum; gastritis
kronis bila terdapat mukosa lambung hipertrofi/atrofi disertai
bercak-bercak hiperemis; esofagitis bila mukosa esofagus
mengalami hiperemis
(2)
.
HASIL
Sejak tanggal 1 Januari 1990 sampai dengan 31 Desember
1990 dari laporan endoskopi saluran cerna bagian atas pada sub-
bagian gastroentero-hepatologi Ilmu Penyakit Dalam RSUP. dr.
M. Jamil Padang, tercatat 810 penderita yang menjalani
pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas (SEBA) yang
terdiri dari laki-laki 515 orang dan wanita 295 orang (1,75 : 1).
Umur berkisar dari 16 tahun sampai 83 tahun dengan rata-
rata 49.50 ± 29.24 tahun. Distribusi golongan jenis umur dan
kelamin dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Golongan Umur dan Jenis Kelamin 810 Penderita
yang
Menjalani
Endoskopi
SEBA
Gol. Umur (th)
Laki-laki
Wanita
Jumlah
%
10 ­ 19
20 ­ 29
30 ­ 39
40 ­ 49
50 ­ 59
60 ­ 69
70­ 79
> 80
15
46
108
109
128
81
22
6
13
51
59
54
57
44
13
4
28
97
167
163
185
125
35
10
4,46
11,98
20,62
20,12
22,84
15,43
4,42
1,43
515
295
810
100,00
Tabel 1 memperlihatkan pemeriksaan endoskopi terbanyak
dilakukan pada golongan umur 50­59 tahun (22,84%) disusul
kelompok umur 30­39 tahun (20,62%) dan kelompok umur
Dibacakan di : Simposium Perkembangan Mutakhir Perlindungan Mukosa
Lambong, Padang.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
26
background image
40­49 tahun (20,12%).
Distribusi pekerjaan dari penderita dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Pekerjaan 810 Penderita yang Menjalani Pemeriksaan
Endoskopi
SEBA
Pekerjaan Jumlah Persentase
Pegawai negeri
Pensiunan
Swasta
Tani
Pedagang
Pelajar/Mahasiswa
Rumah Tangga
Lain-lain
254
79
133
66
41
53
156
28
31,36
9,75
16,42
8,15
5,06
6,54
19,26
3,46
810
100,00
Penderita terbanyak adalah Pegawai Negeri (31,36%)
kemudian disusul oleh ibu Rumah Tangga (19,26%).
Indikasi pemeriksaan endoskopi dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Indikasi 810 Penderita yang Menjalani Endoskopi Tahun 1990
dan
1991
Jumlah
No Indikasl 1990
1991
n %
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Perdarahan SEBA
Sirosis Had
Sirosis Had +
Perdarahan SEBA
Dispepsia
Gastritis
Ulkus peptikum
Akhalasia
Tumor Lambung
22
130
12
10
140
6
2
4
38
169
36
46
147
12
6
1
60
299
48
56
314
18
8
5
7,42
36,92
5,93
6,92
38,77
2,22
0,98
0,86
Jumlah
326
484
810 100,00
Indikasi terbanyak untuk endoskopi adalah kemungkinan
Gastritis 314 orang (38,77%) disusul dengan Sirosis Hati 299
(36,92%) dan selanjutnya perdarahan SEBA 60 penderita (7,2%).
Hasil endoskopi SEBA dari 810 penderita dapat dilihat
pada tabel 4.
Kelainan endoskopi SEBA terbanyak adalah varises eso-
fagus 196 penderita (23,17%), disusul "bile reflux gastritis" 143
penderita (16,90%) dan kemudian gastritis kronis 133 penderita
(15,72%). Sedangkan gambaran endoskopi normal ditemukan
pada 39 penderita (4,60%).
PEMBAHASAN
Pemeriksaan endoskopi merupakan pemeriksaan penunjang
dengan ketepatan yang tinggi kalau dilakukan oleh tenaga yang
terlatih, terampil dan berpengalaman('
1
. Pemeriksaan foto ba-
rium lambung-duodenum akan saling menunjang bila dilakukan
bersamaan dengan endoskopi
(3)
. Dengan pemeriksaan endoskopi
hampir 100% tukak peptik dapat dideteksi
(4)
.
Tabel
4.
Distribusi Kelainan Pemeriksaan Endoskopi SEBA 810
Penderita
Jumlah
No. Jenis
Kelainan Laki-laki Wanita
n %
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Varises esofagus
Gastritis
Bile reflux gastritis
Gastritis kronis
Gastroduodenitis
Esofagitis
Duodenitis
Esofagogastritis
Tumor lanbung
Tumor esofagus
Polip lambung
Tukak lambung
Tukak duodenum
Kista
Normal
156
41
88
79
4
46
­
45
4
3
3
16
21
­
27
40
30
55
54
6
51
1
38
7
4
4
7
3
1
12
196
71
143
133
10
97
1
83
11
7
7
23
24
1
39
23,17
8,39
16,90
15,72
1,18
11,47
0,12
9,81
1,30
0,83
0,83
2,72
2,84
0,12
4,60
Jumlah
846
100,00
Pada penelitian ini golongan umur 50­59 merupakan tahun
terbanyak menjalani pemeriksaan endoskopi. Hal ini dapat di-
terangkan karena kelompok umur ini teftttama adalah penderita
Sirosis had dan kelompok umur terbanyak lainnya adalah antara
30-39 tahun yang terutama ditempai penderita gastritis; hal ini
sesuai dengan laporan beberapa peneliti lain
(5,6)
.
Pemeriksaan endoskopi terutama dilakukan pada penderita
yang bekerja sebagai pegawai negeri (31,26%), hal ini dise-
babkan relatif masih tingginya biaya pemeriksaan endoskopi,
sehingga hanya dapat dicapai oleh penderita yang mampu atau
peserta asuransi kesehatan, seperti peserta PHB dan lain-lain.
Indikasi endoskopi terutama pada penderita gastritis (38,77%)
dan selanjutnya penderita sirosis hati (31,92%) sedangkan
penderita perdarahan SEBA, dilakukan pemeriksaan setelah
perdarahan berhenti; tidak dilakukan pemeriksaan endoskopi
emerjensi.
Kalau dibandingkan dengan jumlah pemeriksaan endoskopi
pada tahun 1990, ternyata terdapat peningkatan frekuensi pe-
meriksaan pada tahun 1991 (tabel 3).
Jenis kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan endoskopi
yang terbanyak adalah varises esofagus - 196 penderita (23,17%),
gastritis refluks menempati urutan tertinggi diantara gastritis
lainnya (41,21%). Jumlah tukak lambung dan tukak duodenum
pada penelitian ini hampir sebanding (1,04 : 1), berbeda dengan
laporan beberapa peneliti lain dimana tukak lambung lebih
sering ditemukan dibanding tukak duodenum
(7,8)
.
KESIMPULAN
Telah dikemukakan gambaran endoskopi saluran cerna
bagian yang terutama dilakukan pada golongan umur dekade IV
dan VI (22,24% dan 20,62%), pegawai negeri (31,36%), dengan
indikasi tersering adalah gastritis (38,77%) dan sirosis hati
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 27
background image
(36,92%); kelainan yang terbanyak ditermukan secara endo
skopi adalah gastritis (41,02%) dart varises esofagus (23,17%).
KEPUSTAKAAN
1. Fujita RM. Endoscopic Diagnosis and Classification of Esophageal Varices
in Japan, Fiberscopy of Gastric Diseases Tokyo; Igaku-Shoin. 1973.
217-220.
2. Bennett JR. Oesophageal disorders and dysphagia, Medicine Intemat. 1990;
10(3): 3176-81.
3. Tsuneoka K, Takemoto T, Fukuchi S Fiberscopy of Gastric Diseases.
Tokyo: Igaku-Shoin. 1973, 129-165.
4. Maratka Z. Terminology, definition and diagnostic criteria in Digestive
Endoscopy. Scand. J Gastrointestinal 1984; 14: 103.
5. Purwawidjaja S, Haryono Adenan, Soeliadi Hadiwandowo. Gambaran
endoskopi mukosa SEBA penderita dengan keluhan epigastrik di RSUP
Sardjito. Naskah lengkap KOPAPDI Ujung Pandang, 1987. 709-713.
6. Tantoro Harmono,Endoskopi di RSU Surakarta, Naskah lengkap KOPAPDI
Ujung Pandang 1987. 603-609.
7. Akil HAM. Diagnostik/Endoskopik Tukak Peptik. Naskah lengkap
KOPAPDI Ujung Pandang. 1987, 497-500.
8. Simadibrata S. Polipektorni endoskopik pada polip, Naskah lengkap
KOPAPDI Ujung Pandang, 1987. 511-516.
9. Cotton PB, Williams CB. Upper Gastrointestinal Endoscopy. London:
Blackwell Scient Publ 1980. hal 13­45.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
28