HASIL PENELITIAN
Efek Ramuan Buah Mengkudu
dan Daun Kumis Kucing untuk
Menurunkan Tekanan Darah
pada Penderita Hipertensi
Lestari Handayani, Didik Budijanto
Pusat Penelitian dan Pen gembangan Pelayanan Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Keseharan Departemen
Kesehatan RI Surabaya
PENDAHULUAN
Menurut WHO prevalensi hipertensi di negara maju ber-
kisar 1020%, sedangkan di Indonesia sekitar 10%. Data SKRT
(Survai Kesehatan Rumah Tangga) 1992 dikatakan bahwa pe-
nyebab kematian terbanyak (16,4%) disebabkan oleh karena
penyakit jantung dan pembuluh darah yang di antaranya adalah
hipertensi, sedangkan kematian terbanyak akibat penyakit ini
dijumpai pada usia 44 tahun ke atas. Jumlah yang cukup besar
ini tentunya berpengaruh terhadap produktifitas kerja penderita-
nya karena menyerang pada usia produktif. Penderita usia lanj-
ut akan menjadi beban perekonomian terutama dalam lingkup
keluarga karena biaya pengobatan dan obat yang seringkali ber-
langsung seumur hidup.
Obat untuk hipertensi semakin berkembang dan tahun ke
tahun. Penelitian-penelitian untuk menemukan obat dengan
efektifitas yang lebih baik dan efek samping seminimal mungkin
terus berlanjut. Namun di sisi lain secara turun temurun sebe-
narnya telah dikenal pengobatan tradisional untuk mengatasi
hipertensi. Penggunaan obat tradisional sudah cukup luas dan
diakui secara empiris banyak membantu mengurangi keluhan
pada penderita hipertensi. Pengobatan tradisional ini secara ter-
samar telah mendampingi obat modern bahkan keberadaannya
mendahului pengobatan modern yang sekarang lebih dikenal dan
diakui.
Sehubungan dengan keadaan tersebut, studi ini bertujuan
mengkaji penggunaan buah Mengkudu dikombinasi dengan
daun Kumis Kucing sebagai obat hipertensi yang dilaksanakan di
Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Peng-
obatan Obat Tradisional (Laboratorium P4OT) di Surabaya.
Studi ini diharapkan dapat digunakan sebagai pijakan awal
dalam pengembangan lebih lanjut menjadi fitofarmaka meng-
ingat penelitian pendahuluan tentang isi bahan berkhasiat, pe-
nelitian pre klinik dan pembudidayaan dua jenis tumbuhan obat
ini sudah banyak dilakukan.
BAHAN DAN CARA
1) Sampel
Studi ini dilakukan di Laboratorium P4OT Surabaya dengan
sampel penderita hipertensi yang berobat di tempat pelayanan
pengobatan tradisional tersebut. Pengambilan sampel adalah
seluruh penderita hipertensi yang berobat di P4OT pada tahun
1994 dengan kriteria : tidak menderita penyakit berat lainnya,
tidak minum obat lain selain yang diberikan dalam penelitian
ini, minum obat secara teratur, dan bersedia mengikuti prosedur
pengobatan tanpa paksaan.
Pada penderita dilakukan pemeriksaan tekanan darah meng-
gunakan sphigmomanometer air raksa yang sama pada waktu
kunjungan pertama (sebelum minum ramuan obat). Dilakukan
pengukuran ulang pada kunjungan satu minggu pertama dan
kedua setelah minum ramuan obat. Pemeriksaan tekanan darah
dilakukan pada penderita yang berbaring dan diukur dengan
memasang manset pada 2/3 lengan kanan atas.
Kriteria Hipertensi :
Yang dimaksud penderita Hipertensi dalam penelitian ini
sesuai ketentuan WHO adalah penderita yang pada pengukuran
tekanan darah diperoleh tekanan sistolik 140 rnmHg dan/atau
tekanan diastolik 90 mmHg.
2) Identifikasi Bahan Ramuan
a) MENGKUDU
Nama Latin : Morinda citrifolia Linn.
Nama Daerah : Pace (Jawa), Cangkudu (Sunda).
Kandungan kimia :
Daun dan buah Morinda citrifolia mengandung alkaloid,
saponin, flavonoida dan antrakinon. Di samping itu daunnya
juga mengandung polifenol.
Khasiat dan kegunaan :
Telah dilakukan beberapa penelitian preklinik mengenai
kandungan kimia, efek anti inflamasi, anti bakteri dan antelmin-
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 29
tik, efek terhadap kadar gula darah binatang percobaan dan efek
hipotensif.
Penggunaan buah Mengkudu sebagai obat tekanan darah
tinggi di masyarakat pada umumnya adalah dengan minum air
perasan yang telah disaring dari dua buah Mengkudu masak dan
diminum 2 kali sehari dengan takaran yang sama.
b) KUMIS KUCING
Nama Latin : Orthosiphon stamineus Bent
Nama Daerah : Remujung (Jawa Tengah), Kumis Kucing (Jawa
Barat), Songot Koceng (Madura).
Kandungan Kimia :
Daun mengandung alkaloida, saponin, flavonoida, polifenol.
Khasiat dan kegunaan:
Sebagai diuretik, pelarut kalsium oksalat, anti bakteri.
Penggunaan sebagai obat hipertensi adalah karena khasiat
diuretik yang dimilikinya. Penggunaannya secara umum dengan
merebus setengah genggam daun yang ditambah air sebanyak 2
gelas dan direbus sehingga tersisa air sebanyak 1 gelas. Air
rebusan ini diminum 2 kali sehari sebanyak masing-masing
setengah gelas.
3) Penyediaan Bahan
Penyediaan bahan obat dilakukan di Laboratorium P4OT.
Kedua macam bahan tanaman obat diperoleh dan tanaman yang
berada di sekitar gedung Laboratorium P4OT, Surabaya.
Buah Mengkudu setengah masak dirajang tipis, dikeringkan
dengan cara diangin-anginkan selama dua hari dan kemudian
disimpan dalam almari pengering bersuhu 38°40°C sampai
kering. Buah yang telah kering disimpan dalam wadah tertutup.
Herba Kumis Kucing dikeringkan dengan cara diangin-
anginkan selama satu hari selanjutnya dimasukkan almari pe-
ngering bersuhu 38°40°C sampai kering. Herba Kumis Kucing
kering digiling dengan mesin giling menjadi serbuk halus yang
kemudian disimpan dalam wadah tertutup rapat.
4) Pengobatan
Pengobatan yang diberikan pada pasien hipertensi di Labo-
ratorium P4OT terdiri dari ramuan buah Mengkudu dan daun
Kumis Kucing yang sudah dikeringkan dan dikemas dalam
kantong plastik.
Setiap takar untuk penggunaan satu hari terdiri dari 10 gram
buah Mengkudu kering ditambah 2,5 gram serbuk herba Kumis
Kucing. Setiap takar ramuan direbus dengan cara ditambah
dengan air 2 (dua) gelas belimbing dan direbus sampai tersisa
air rebusan sebanyak sekitar I (satu) gelas atau 200 ml. Air
rebusan ini disaring, dibuang ampasnya dan diminum 2 kali
sehari masing-masing setengah gelas.
5) Analisa Rantai Markov
Efek kedua bahan yang diteliti akan dibahas secara deskrip-
tif dan dianalisis dengan metode Rantai Markov (Markov Chain)
untuk meramalkan hasil pengobatan secara terkelompok ter-
hadap periode waktu pengobatan.
Rantai Markov merupakan suatu proses berantai di mana
keadaan suatu kejadian hanya tergantung dan kejadian sebelum-
nyadan tidak tergantung dan kejadian sebelumnya lagi.
Keterangan:
al = a x a + b x c
bl = a x b + b x d
cl a x c + c x d
dl = b x c + d x d
HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Karakteristik Penderita Hipertensi
Selama kurun waktu satu tahun (1994) diperoleh 43 pen-
derita yang memenuhi kriteria sampel penelitian yang terdiri dari
wanita 28 orang (65,1%) dan laki-laki 15 orang (34,9%). Ber-
dasarkan pendidikannya diperoleh 7 orang (16,3%) buta huruf
atau tidak tamat sekolah dasar, 22 orang (51,2%) tamat sekolah
dasar, 9 orang (20,9%) tamat sekolah menengah pertama, 2 orang
(4,7%) tamat sekolah menengah atas dan 3 orang (7,0%) tamat
akademi atau sarjana.
Usia termuda adalah 30 tahun dan tertua 85 tahun sehingga
untuk kelompok umur dibagi 4 yaitu kelompok I kurang dari 50
tahun (12 orang), kelompok II antara 5060 tahun (16 orang),
kelompok III antara 6170 tahun (1 orang) dan kelompok IV
Iebih dari 70 tahun (4 orang).
2) Distribusi Frekuensi Tekanan Darah
Dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebelum pemberian
obat pada sampel sebanyak 43 orang. Satu minggu setelah pem-
berian obat, dilakukan pengukuran tekanan darah kembali dan
pada pengukuran ini seluruh sampel dapat tercakup (43 orang).
Pada minggu kedua dilakukan pengukuran ulang tekanan darah
pada sampel, ternyata sebanyak 17 orang penderita tidak hadir
sehingga pada pemeriksaan 2 minggu setelah pemberian obat
hanya diperoleh data dan 26 penderita. Dalam kajian ini dilihat
distribusi pasien berdasar tekanan sistolik saja, diastolik saja dan
gabungan sistolik dengan diastolik.
a) Tekanan Darah Sistolik
Dilakukan pengelompokan sampel berdasarkan tekanan da-
rah sistoliknya yaitu : kelompok I S < 140 mmHg, kelompok II
S = 140180 mmHg, dan kelompok III S>180 mmHg (Tabel 1).
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tekanan Darah Sistolik Berdasarkan Penge-
lompokan Sebelum Minum Ramuan, 1 minggu dan 2 minggu
Setelah Minum Ramuan.
Minum - Ramuan
Pre
1 Post 1 mg
Post 2 mg
Pengelompokan
tekanan sistolik
n % n % n %
< 140 mmHg
140-180 mmHg
> 180 mmHg
0
35
8
0,0
81,4
18,6
16
23
4
37,2
535
9,3
10
13
3
38,5
50,0
11,5
Jumlah
43 orang
43 orang
26 orang
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
30
b) Tekanan Darah Diastolik
Dilakukan pengelompokan sampel menjadi 3 berdasarkan
tekanan darab diastoliknya yaitu : kelompok I D <90 mmHg,
kelompok II D = 90105 mmHg, dan kelompok III D > 105
mmHg (Tabel 2).
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tekanan Darah Diastolik Berdasarkan
Pengelompokan Sebelum Minum Ramuan, 1 minggu dan 2
minggu
Setelah
Minum
Ramuan.
Minum - Ramuan
Pre
Post 1 mg
Post 2 mg
Pengelompokan
tekanan diastolik
n % n % n %
< 90 mmHg
90105 mmHg
> 105 mmHg
9
28
6
20,9
65,1
14,0
22
19
2
51,2
44,2
4,7
12
12
2
46,1
46,1
7,8
Jumlah
43 orang
43 orang
26 orang
c) Tekanan Darah Sistolik/Diastolik
Berdasarkan derajatnya, tekanan darah dikelompokkan
menjadi : Normal S < 140 mmHg dan/atau D < 90 mmHg,
Hipertensi ringan S 140180 mmHg dan/atau D 90105
mmHg, dan Hipertensi sedang/berat S > 180 mmHg dan/atau D
> 105 mmHg.
Derajat hipertensi pada awal, 1 minggu dan 2 minggu setelah
pemberian ramuan terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tekanan Darah Sistolik/Diastolik Berdasar-
kan Pengelompokan Sebelum Minum Ramuan, 1 dan 2 minggu
Setelah
Minum
Ramuan.
Minum - Ramuan
Pre
Post 1 mg
Post 2 mg
Pengelompokan
tekanan darah
n % n % n %
Normal
Hipertensi ringan
H. sedang/berat
0
33
10
0,0
767
23,3
5
34
4
11,6
79,1
9,3
3
20
3
115
77,0
11,5
Jumlah
43 orang
43 orang
26 orang
Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa setelah pengobatan
selama satu minggu ternyata kelompok I jumlahnya semakin
besar yang merupakan pindahan dan kelompok II atau III dan
berarti pula bahwa jumlah pasien pada kelompok II dan III
semakin kecil; demikian pula dengan pengelompokan setelah
pengobatan 2 minggu. Jadi ternyata terdapat pergeseran dis-
tribusi ke arah membaik (tensi normal atau hipertensi ringan);
distribusi setelah pengobatan 2 minggu hasilnya tidak jauh
berbeda.
Dalam membandingkan distribusi pasien pada kunjungan 2
minggu setelah pengobatan perlu perhatian terhadap ketidak-
hadiran 17 orang pasien sehingga dapat mempengaruhi distri-
businya. Penyebab ketidakhadiran dapat dipengaruhi oleh hasil
pengobatan (membaik, tetap ataupun meningkat). Melihat bahwa
distribusi kelompok I (lebih ringan hipertensinya) semakin tinggi
diduga pasien enggan untuk datang lagi karena merasa sudah
ringan keluhannya. Hal ini ditunjang oleh hasil anamnesis yang
menyatakan bahwa "keluhan berkurang setelah minum jamu"
cukup tinggi yaitu 22%.
3) Analisis hasil pengobatan dengan metode Rantai Markov
Ramalan hasil pengobatan dengan ramuan kedua bahan
yang diteliti dihitung dengan metode Rantai Markov. Diambil
salah satu hasil pengobatan yaitu pengukuran tekanan darah
diastolik yang dihitung untuk masing-masing periode pengobatan
dengan jangka waktu 1 minggu.
Keadaan ramalan hasil pengobatan pada tabel periode ke 2
sampai dengan ke 5 selalu berubah sedangkan pada periode ke 6
keadaan sama dengan periode ke 5. Ini berarti bahwa pada
periode ke 5 dan seterusnya akan menunjukkan keadaan yang
sama. Dari hasil ramalan dengan metode Rantai Markov dapat
dikatakan bahwa dengan ramuan yang sama dan dengan asumsi
bahwa tidak ada perubahan lingkungan yang berpengaruh, akan
diperoleh hasil maksimal pada periode ke 5 (Tabel 4).
KESIMPULAN
Hasil kajian ini memperlihatkan pergeseran tekanan darah
ke arah membaik pada 43 orang penderita hipertensi yang diteliti.
Tabel 4a. Keadaan periode ke I Probabilitas Konversi
Tekanan diastolik setelah terapi
Tek. Diastolik
sebelum terapi < 90 mmHg 90-105 mmHg > 105 mmHg
Total
< 90 mmHg
0,8888
( 8 orang)
0,1111
( I orang)
0,0000
(0 orang)
l,0
9 orang
90-105 mmHg
0,5000
(14 orang)
0,5000
(14 orang)
0,0000
(0 orang)
1,0
28 orang
> 105
0,0000
( 0 orang)
0,6667
( 4 orang)
0,3333
(2 orang)
1 0
6 orang
Tabel 4b. Keadaan periode ke 2 (ramalan) : Probabilitas Konversi
Tekanan diastolik setelah terapi
Tek. Diastolik
sebelum terapi < 90 mmHg 90-105 mmHg > 105 mmHg
Total
< 90 mmHg
0,8457
0,1543
0,0000
1,0000
90-105 mmHg
0,6945
0,3055
0,0000
10000
> 105
0,3333
0,5556
0,1111
1 0000
Tabel 4c. Keadaan periode ke 3 (ramalan) : Probabilitas Konversi
Tekanan diastolik setelah terapi
Tek. Diastolik
sebelum terapi < 90 mmHg 90-105 mmHg > 105 mmHg
Total
< 90 mmHg
0,8224
0,1776
0,0000
1,0000
90-105 mmHg
0,7995
0,2005
0,0000
10000
> 105
0,7047
0,2829
0,0124
1,0000
Tabel 4d. Keadaan periode ke 4 (ramalan) : Probabilitas Konversi
Tekanan diastolik setelah terapi
Tek. Diastolik
sebelum terapi < 90 mmHg 90-105 mmHg > 105 mmHg
Total
< 90 mmHg
0,8183
0,1817
0,0000
1,0000
90-105 mmHg
0,8178
0,1822
0,0000
1,0000
> 105
0,8144
0,1854
0,0002
1,0000
Tabel 4e. Keadaan periode ke 5 (ramalan) Probabilitas Konversi
Tekanan diastolik setelah terapi
Tek. Diastolik
sebelum terapi < 90 mmHg 90-1115 mmHg > 105 mmHg
Total
< 90 mmHg
0,8182
0,1818
0,0000
1,0000
90-105 mmHg
0,8182
0,1818
0,0000
1,0000
> 105
0,8182
0,1818
0,0000
1,0000
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 31
Tabel 4f. Keadaan periode ke 6 (ramalan) Probabilitas Konversi
Tekanan diastolik setelah terapi
Tek. Diastolik
sebelum terapi < 90 mmHg 90-105 mmHg > 105 mmHg
Total
< 90 mmHg
0,8182
0,1818
0,0000
1,0000
90-105 mmHg
0,8182
0,1818
0,0000
1,0000
> 105
0,8182
0,1818
0,0000
1,0000
Tampaknya tidak ada perbedaan berarti pada pengobatan selama
satu dengan dua minggu. Dengan analisis Rantai Markov dike-
tahui bahwa setelah 5 minggu pengobatan akan mencapai hasil
maksimal artinya tidak berubah lagi meskipun pengobatan di-
Ianjutkan. Tingginya kasus drop out pada kunjungan minggu ke
2 perlu diperhatikan penyebabnya karena telah mempengaruhi
distribusi pengelompokan.
Dari hasil penelitian ini disarankan agar ramuan Mengkudu
dan Kumis Kucing diperhitungkan sebagai salah satu yang
digunakan untuk pengobatan hipertensi yang didukung bukti
empiris oleh masyarakat. Kajian ini dapat dilanjutkan dengan
Iebih mendalam melalui penelitian-penelitian baik dan segi
farmasi ataupun penelitian klinik untuk memperoleh ramuan
yang lebih baik dan segi efektifitas, keamanan (efek samping),
penyediaan bahan dan bentuk sediaan obat.
Mengingat kasus kematian akibat hipertensi cukup tinggi,
Banyaknya jumlah penderita hipertensi yang tersembunyi (tidak
terdeteksi) serta mudahnya pembudidayaan ke duajenis tanam-
an obat ini, perlu kiranya kelanjutan penelitian agar selanjutnya
tanaman obat ini dapat dimanfaatkan oleeh masyarakat secara
benar sebagai obat alternatif dan obat modern.
KEPUSTAKAAN
1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) 1992. Jakarta: 1992.
2. Kloppenburg J - Versteegh. Petunjuk Lengkap Mengenai Tanam-tanaman
di Indonesia dan KhasiatnyaSebagai Obat-obatan Tradisional. Yogyakarta:
CD RS. Bethesda Yogya. Andi Offset, 1988.
3. Ravindran, Philips, Solberg. Operations Research Principles and Practice.
Second Edition. New York: John Wiley & Sons, 1987.
4. Siagian P. Penelitian Operasional : Teori dan Praktek. Jakarta: UI Press.
1987.
5. Sugati Sri, Jhony Ria Hutapea. Inventaris Tanaman Obat Indonesia 1.
Jakarta: Badan Litbangkes. Depkes. 1991.
6. Sugati, Sri et al. Penelitian Tanaman Obat di Beberapa Perguruan Tinggi
di Indonesia 1. Jakarta: Puslitbang Farmasi, 1989.
7. --------- Penelitian Tanaman Obat di Beberapa Perguruan Tinggi di
Indonesia II. Jakarta: Puslitbang Farmasi, 1989.
8. --------- Penelitian Tanaman Obat di Beberapa Perguruan Tinggi di
Indonesia III. Jakarta: Puslitbang Farmasi, 1991.
9. --------- Penelitian Tanaman Obat di Beberapa Perguruan Tinggi di
Indonesia V. Jakarta: Puslitbang Farmasi, 1993.
10. World Health Organization. Management Guidelines: A Mild Hyperten
sion. Medicine Digest. June 1995 : 2 8.
English Summary
Sambungan hal 4
THE EFFECT OF MENGKUDU
FRUIT AND KUMIS KUCING
LEAVES ON BLOOD PRESSURE
AMONG HYPERTENSIVE PA-
TIENTS
Lestari Handayaril, Didik Budi-
janto
Health Services Research and Deve-
lopment Centre, Health Research and
Development Board, Dept. of Health,
Indonesia
The fruit of Morinda citrifolla
Linn (Mengkudu) and the leaves
of Orthosiphon stamineus Benth.
(Kumis Kucing) are known as
hypertension remedies. This
study analyzed the effect of the
remedies to the blood pressure
of hypertensive patients. 43
hypertensive patients at tradi-
tional medicine laboratory have
been treated with these reme-
dies for two weeks and the blood
pressure was evaluated after
one and two weeks treatment.
The result showed that the
blood pressure was lowered after
one week treatment and there
was no different effect between
one and two weeks treatment.
It was recommended that this
study is followed up with further
researches.
Cermin Dunia Kedokt. 1997; 116: 2932
Lh, DB
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
32