background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Diagnostik Thalassemia
dengan Polymerase Chain Reaction
Sunarto
Laboratorium Ilmu Kesehatan AnakIUPF Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Macla
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta
Keywords : ­ thalassemia ­ gene mutation and deletion ­ polymerase chain reaction ­
amplification refractory mutation system ­ covalent reverse dot-blot
PENGANTAR
Thalassemia adalah sindrom klinik yang disebabkan oleh
defek gena yang menyandi sintesis globin dengan akibat sintesis
globin mengurang atau tak ada sama sekali. Kekurangan sintesis
globin pada penderita thalassemia telah dibuktikan secara in
vitro pada retikulosit darah tepi penderita
(1,2,3)
.
Manifestasi klinik thalassemia sangat beraneka ragam dan
keaneka ragaman tadi hanya dapat dijelaskan dengan studi
molekular. Berbagai cara telah dikembangkan untuk kepenting-
an penelitian maupun untuk kepentingan praktis di lapangan, di
antarahya adalah sequencing atau pengurutan DNA (desoxyribo-
nucleic acid sequencing)
(4-8)
, dengan probe oligonukleotid radio-
aktif atau nonradioaktif
(9-12)
, linkage analysis dan deteksi lang-
sung dengan allele specific oligonucleotide primer (primer
ARMS)
(13,14,15)
.
Pada teknik diagnosis di atas, kecuali yang terakhir, DNA
hams digandakan lebih dulu untuk memperoleh sejumlah DNA
yang cukup untuk dianalisis. Sebelum teknik polymerase chain
reaction (PCR) ditemukan, penggandaan DNA dilakukan de-
ngan kloning
(6,8,16,17)
. Penggandaan DNA dengan kloning, rumit
dan memerlukan waktu sampai 10 hari. PCR merupakan suatu
prosedur penggandaan DNA secara in vitro yang praktis dan
memerlukan waktu hanya kira-kira 3 jam. PCR baik sebagai cara
penggandaan maupun untuk diagnostik amat praktis dan mem-
punyai akurasi tinggi
(15,18)
. Pada prosedur PCR berbagai masalah
timbul, demikian pula pada pengembangannya sebagai uji
diagnostik di lapangan.
Dalam makalah ini akan dibahas prinsip dan masalah PCR
secara teknis, dasar kelainan genetik thalassemia, masalah dan
kepentingan diagnostik thalassemia dengan menggunakan PCR.
PEMBAHASAN
Dasar molekular thalassemia
Hemoglobin terdiri atas haem dan globin. Globin pada orang
normal terdiri atas sepasang rantai polipeptid- dan sepasang
rantai non- (, , atau ) . Sintesis globin disandi oleh gena
yang unik; gena yang menyandi sintesis polipetid bersama
terletak pada lengan pendek kromosom 16, menempati regio
16-25 kb (kilo base pair). Gena yang menyandi sintesis rantai ,
, atau terletak pada lengan pendek kromosom 11 menempati
regio 55-60 kb. Rantai- dan rantai- hanya disintesis pada awal
kehidupan janin. Analisis urutan nukleotid semua gena globin
telah sangat luas dilakukan dan struktur gena itu telah didoku-
mentasikan sepenuhnya
(19)
. Gena globin terdiri atas 3 exon, yaitu
bagian yang diekspresikan atau menyandi sintesis polipeptid
globin, dan di antara ketiga exon tadi terdapat intron atau inter-
vening sequence (IVS) yang tak diekspresikan. Di samping itu di
sebelah hulu ujung 5' dan hulu ujung 3' terdapat non-coding DNA
atau flanking DNA
(20)
(Gambar 1).
Thalassemia terjadi bila gena globin mengalami delesi
(terutama pada thalassemia-) atau mutasi noktah (point muta-
tion) (terutama thalassemia-). Delesi genaglobin dapat mengenai
hanya sebagian dari gena atau satu gena seutuhnya, bahkan dapat
mengenai beberapa gena bersama-sama
(21)
(Gambar 2).
Mutasi yang berakibat thalassemia dapat terjadi pada exon,
pada IVS, pada flanking DNA ujung 5' maupun 3'
(9,21,22)
. Kelain-
an-kelainan tensebut akan menyebabkan mRNA globin tidak
atau sedikit sekali terbentuk atau terbentuk mRNA abnormal
yang tidak berfungsi, tidak stabil dan akan dihancurkan; akibatnya
terjadi defisiensi sintesis globin
(23,24)
. Poladelesi maupun mutasi
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
26
background image
Gambar 1. Bagan gena globin
Gambar 2. Beberapa tipe delesi pada gena-
bervariasi untuk berbagai populasi/ras dan wilayah geografi dan
variasi ini menyebabkan manifestasi thalassemia yang beraneka
ragam pu1a
(20)
.
PRINSIP PCR
PCR diperlukan pada diagnosis molekular, termasuk tha-
lassemia. Cara ini diperkenalkan pertama kali oleh Saiki et al.,
dari kelompok Cetus, tahun 1984_1985
(25)
. Pada awalnya PCR
dikembangkan sebagai cara untuk menggandakan DNA secara
in vitro, sebagai alternatif dan cara in vivo yang rumit dan me-
merlukan waktu lama.
Prinsip PCR dapat dijelaskan sebagai berikut
(25)
: bila DNA
dicampur dengan oligonukleotid yang komplementer dan diberi
kondisi yang sesuai, maka oligonukleotid tadi akan berperan
sebagai titik awal (primer) sintesis copy DNA target dengan
DNA target sebagai cetakan (template). Dengan menggunakan
dua primer, satu di sebeiah hulu (5') dan satu di sebelah hilir (3'),
segmen DNA yang terietak di antara kedua primer tadi akan
tergandakan.
Dalam pelaksanaannya DNA bersama deoxynucleosid
triphosphate (dATP = deoxyadenosine triphosphate, dCTP =
deoxycytidine triphosphate, dGTP = deoxyguanosine
triphosphate, dan dTTP = deoxythymidine triphosphate), enzim
polimerase, garam, bufer dan sepasang primer dicampur dalam
tabung reaksi. Campuran itu diberi suhu yang berselang-seling,
mula-mula 95°C selama 15 detik, kemudian suhu diturunkan
menjadi 54°C selama 15 detik dan kemudian dinaikkan lagi men-
jadi 72°C selama 30 detik
(15)
. Pada suhu 95°C DNA untai ganda
akan terurai menjadi DNA untai tunggal (proses denaturasi);
pada suhu 54°C primer akan menempel pada segmen DNA yang
komplementer (annealing) dan selanjutnya pada suhu 72°C di
bawah pengaruh enzim polimerase primer akan mengalami pe-
manjangan (extension). Ketiga langkah ini merupakan satu siklus
dan akan menghasilkan untai DNA tunggal yang komplementer
dengan segmen DNA target (copy DNA target). Dalam satu
siklus, satu untai DNA tunggal akan tergandakan menjadi 2
untai. Dengan n siklus, dari satu untai DNA teoretis akan dihasil-
kan 2 untai. Dengan 25 siklus dan satu untai DNA tunggai akan
dihasilkan lebih dari 30 juta copy untai DNA tunggal, cukup
banyak untuk proses analisis selanjutnya.
Pada awal pengembangan PCR timbul masalah yang sangat
menghambat pelaksanaan, yaitu rusaknya enzim polimerase
(fragmen Kienow) akibat suhu yang tinggi, sehingga sejumlah
enzim baru harus selalu ditambahkan seteiah setiap satu siklus.
Hal ini amat merepotkan. Dengan ditemukannya enzim Taq
(berasal dari bakteri Thermoaquatus) yang tahan panas sampai
100°C, maka permasalahan tersebut teratasi. Enzim Taq yang
dicampurkan pada awal pengerjaan dapat bertahan sampai se-
lesai, sehingga otomatisasi pengerjaan dapat diterapkan. Dengan
enzim yang tahan panas segmen DNA berukuran sampai be-
berapa kilo base pair (kb) dapat digandakan
(26)
.
Prosedur PCR dapat dilakukan terhadap setiap sel berinti
(yang mengandung DNA) seperti sel mukosa pipi, leukosit, sel
dalam cairan amnion, viii korialis, bahkan dari bahan fosil yang
masih mengandung DNA. Hal ini sangat memudahkan dalam
memperoleh cuplikan. Metode ini sangat sensitif sehingga mem-
butuhkan hanya sejumlah kecil cuplikan saja; DNA sejumlah
1 ug telah cukup. Dari single copy genes dapat diperoleh se-
jumlah copy DNA cukup untuk dianalisis
(8)
. Setetes darah kering
pada kentas saring cukup untuk mendeteksi genotip penderita
tha1assemia
(10)
. DNA produk PCR dapat disimpan dan dapat di-
gunakan sebagai cuplikan untuk digandakan lagi.
Sensitivitas yang amat tinggi dan PCR menyebabkan ber-
bagai masalah
(15,25,26)
. DNA kontaminan yang amat sedikitpun
akan ikut tergandakan sehingga terbentuk sejumiah copy dari
DNA kontaminan. DNA kontaminan dapat berasal dari sel dalam
ludah, serpih kulit dari pemeriksa, dan sebagainya. Karena itu
pengerjaan PCR harus benar-benar teliti. Penempelan primer
secara nonspesifik pada segmen DNA non target akan meng-
hasilkan sejumiah copy DNA non target; hal ini dapat dihindari
dengan membuat primer sespesifik mungkin, antara lain dengan
menggunakan oligonukieotid yang tidak terlalu panjang maupun
terlalu pendek dan dengan memasukkan mismatched nucleotide,
misalnya nukieotid ­4 dari ujung 3'
(15)
. Pada percobaan dengan
siklus yang amat banyak, misalnya kalau cuplikan DNA terlalu
sedikit, dapat terbentuk dimer dan primer; dimer akan terlihat
sebagai DNA dengan ukuran kira-kira 40 bp, dan biasanya
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 27
background image
mudah dikenali sehingga tidak terlalu mengganggu. Selain
masalah di atas kekurangan aktivitas polimerase dari Taq akan
menyebabkan terjadinya salah baca dan penggabungan basa
yang salah (misincorporation); karena itu polimerase harus di-
tangani dengan amat cermat, misalnya dalam hal penyimpanan
bahan-bahan yang digunakan.
PCR PADA THALASSEMIA
Sebelum cara PCR ditemukan analisis DNA dilakukan
dengan prosedur yang panjang dan rumit, yaitu pertama-tama
membentuk perpustakaan (library construction) melalui digesti
dengan endonuklease restriktif dan kloning, kemudian skrining,
mapping, subkloning dan terakhir sekuensing. PCR dapat me-
nyingkat proses tersebut: dengan PCR, yang masih mengguna-
kan fragmen Klenow, dapat diperoleh fragmen DNA yang lang-
sung dapat disubklon
(27)
. Pada prosedur PCR sekarang, dengan
menggunakan enzim Taq, subkloning tidak diperlukan lagi.
Tipe delesi pada thalassemia- yang terbanyak di Asia
Tenggara adalah ­
3,4
dan ­
4,2
. Dengan menggunakan dua
primer ­ satu di hulu dan satu di hilir dan delesi ­ akan dihasil-
kan segmen DNA yang sekian bp lebih pendek daripada normal.
Pada hidrop fetalis Hb Bart tidak terbentuk copy dan gena-
sebagai produk PCR
(18)
. karena penderita sama sekali tidak mem-
punyai gena-. Winichagoon et al. (1989) membuktikan bahwa
PCR mampu mendeteksi delesi hanya sepanjang 4bp pada kodon
41/42 (­CTTT) dan gena-
(28)
.
Untuk mendeteksi mutan, yang merupakan dasar utama
kelainan genetik pada thalassemia- mula-mula segmen tempat
mutasi digandakan dan kemudian dianalisis dengan probe, de-
ngan endonuklease restriksi atau sekuensing. Prosedur yang
praktis untuk mendeteksi mutan secara langsung dari produk
PCR telah dikembangkan, yaitu amplification refractory muta-
tion system (ARMS)
(13,15)
. Pada sistem ini digunakan primer
ARMS, yaitu oligonukleotid ­ terdiri atas 20­30 bp ­ yang kom-
plementer dengan DNA mutan (allele specific oligonucleotide =
ASO); nukleotid ujung 3' dan primer ARMS komplementer
dengan nukleotid yang mengalami mutasi. Primer ARMS untuk
mutan tertentu akan merupakan primer atau amplimer bagi
mutan itu saja, dan tidak bagi DNA normal maupun mutan lain,
karena ujung 3' primer ARMS mutan tidak komplementer de-
ngan DNA normal maupun mutan lain. Satu primer ARMS yang
komplementer dengan segmen hilir DNA mutan tertentu ber-
sama dengan satu common primer (yang punya urutan nukleotid
sama dengan segmen DNA target di hulu) akan menggandakan
segmen DNA mutan yang terletak di antara kedua primer ter-
sebut.
Untuk mendeteksi mutasi IVS-1 nt5 (G ­> C) pada
gena- misalnya, digunakan primer ARMS, 5'
CTCCTTAAACCTGTCTTGTAACCTTGTTAG 3' dan
common primer 5' ACCTCACCCTGTGGAGCCAC 3'
(15)
.
Proses PCR digambarkan sebagai berikut (Gambar 3).
Dengan primer di atas akan diperoleh sejumlah besar copy
dari segmen DNA target denganukuran 285 bp, hanya kalau pada
DNA target terdapat mutasi IVS1 ntl (G­>C); DNA normal
tidak akan digandakan. Sebaliknya d tabung yang mengan-
dung primer normal yang ujung 3'-nya C (komplementer dengan
Gambar 3. Bagan deteksi mutan dengan prosedur ARMS: a/ penempelan primer ARMS pada DNA target
[gena-b dengan mutasi pada IVS-1 nt-5 (G­>C)] dan seterusnya ekstensi primer ARMS ­> ter-
bentuk DNA yang komplementer dengan DNA target; b/ common primer menempel pada DNA hasil
ekstensi primer ARMS dan seterusnya ekstensi common primer menghasilkan DNA dengan panjang
285
bp.
(c/)
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
28
background image
ujung 3' DNA normal G), akan terjadi penggandaan DNA nor-
mal, sedangkan penggandaan DNA mutan tidak terjadi. Segmen
DNA yang diperoleh kemudian dideteksi secara elektroforesis
dengan pengecatan etidium bromid.
Gambar 4 memperlihatkan hasil elektroforesis dari produk
PCR dan mutasi IVS1 nt5(G­>C)
(15)
.
Gambar 4. Hasil elektroforesis DNA produk dan ARMS.
0x174\Hae111 dipakai sebagai marker untuk menunjukkan
ukuran fragmen-fragmen. Adanya fragmen dengan ukuran
861 bp pada semua jalur menunjukkan efikasi PCR. Jalur 3,4
dari
kontrol
positif
menunjukkan
produk
dengan
ukuran
285
bp; ini berarti ada mutasi IVS1nt5(G­>C). Pada jalur 1, 2, 5
dan
kontrol
negatif
tidak
ada
mutasi
tersebut.
Meskipun prosedur ARMS cukup praktis, tetapi untuk meng-
identifikasi suatu mutan setiap primer ASO harus dicoba sendiri-
sendiri. Untuk mengatasi masalah tersebut Maggio et al. (1993)
menerapkan teknik hibridisasi covalent reverse dot blot (RDB)
dengan hasil sangat akurat
(11)
. Pada teknik ini ASO digunakan
sebagai probe (probe ASO) untuk alel mutan dan probe untuk alel
normal. Bermacam-macam probe ASO bersama dengan probe
normal difiksasikan terpisah-pisah pada lempeng nilon (Biodyne
Cnylon membrane). Pada carik lempeng sebelah atas difiksasikan
sederet probe untuk alel normal dan di sebelah bawahnya sederet
probe ASO untuk bermacam-macam alel mutan. DNA hasil
amplifikasi PCR yang mencakup segmen tempat mutasi yang
dicurigai dipaparkan pada canik lempeng tadi setelah didenatu-
rasi dengan pemanasan, maka akan terjadi hibridisasi DNA tadi
dengan probe yang ada pada lempeng. Alel normal hasil ampli-
fikasi akan mengalami hibridisasi pada deret atas dan lempeng,
sedangkan alel mutasi akan mengalami hibridisasi dengan probe
ASO yang sesuai di deret bawah. Setelah pengerjaan dengan
konyugat streptavidin horseradish peroxidase (HRP) atau avidin
alkaline phosphatase (AP) deteksi warna dilakukan dengan
substrat nitroblue tetrazolium (NBT) untuk AP atau tetrame-
thylbenzidine (TMB) untuk HRP. Pada prosedur RDB di atas
tidak diperlukan bahan radioaktif maupun elektroforesis, se-
hingga mudah dilaksanakan dan relatif murah. Di samping itu
terdapat keunggulan lain, yaitu beberapa primer ASO dapat
digunakan sekaligus, sehingga mutan langsung dapat dibaca
(Gambar 5); canik-carik lempeng yang berisi bermacam-macam
probe ASO yang diperlukan mudah disuplai untuk keperluan
lapangan
(11)
.
Gambar 5. Hasil reverse dot blot beberapa jenis mutasi
Pada prosedur ARMS maupun hibridisasi RDB, primer
ASO maupun probe ASO mudah disintesis jika pola mutasi dari
populasi yang diteliti sudah diketahui. Primer atau probe ASO
bagi mutan yang sering terdapat merupakan prioritas untuk
disediakan.
MANFAAT PCR
Penggandaan DNA dengan kloning tidak praktis terutama
untuk keperluan diagnosis prenatal yang berlomba dengan
waktu
(18)
, sedangkan PCR hanya memerlukan waktu 3 atau 4
jam, prosedur pengerjaannya seperti melakukan reaksi kimia biasa
dan telah digunakan dalam berbagai penelitian thalassemia
(5,16,29)
.
Dengan PCR dalam waktu 24 jam sejak pencuplikan vili korialis
(chorionic villous sampling) diagnosis prenatal sudah dapat di-
tegakkan
(18)
.
Pada studi pola mutasi diperlukan cara yang praktis dan
murah, dalam hal ini PCR dapat memenuhi tuntutan tersebut.
Varawalla et al. (1991) dengan 19 macam primer ARMS dan 5
macam common primer meneliti 702 carrier, yaitu ibu dari bayi
thalassemia- di Subbenua India
(15)
. Dengan primer yang amat
bervariasi tersebut berhasil diidentifikasi 98% genotip dan kasus
yang diteliti. Lima macam mutasi yaitu IVS-1 nt5 (G­>C), delesi
619 bp dan ujung 3' gena-, kodon 8/9 (+C), NS-l ntl (G­>T),
dan kodon 41/42 (­CTTT) merupakan 93,6% dari keseluruhan.
Jenis mutasi tersebut sama dengan yang ditemukan pada imigran
India di Inggris
(13)
. Ini berarti 5 macam primer ARMS untuk
mutan tersebut merupakan primer utama yang perlu disediakan
untuk wilayah Subbenua India atau untuk ras India.
Dengan menggunakan primer ARMS untuk IVS-1 ntl (G­
>A), IVS-1 nt5 (G­>C) dan kodon 15(G­>A) Sofro et al.
(1992) melaporkan jenis mutasi dan penderita thalassemia dan
trait thalassemia dari Yogyakarta dan sekitannya
(14)
. Dari 81
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 29
background image
subyek yang diteliti dapat diidentifikasi jenis mutasi dari 67
subyek dengan frekuensi mutan sesuai dengan hasil penelitian
Lie-Injo et al
(29)
dengan teknik PCR dan probe oligonukleotid
menemukan tipe mutasi berturut-turut dari yang tersering
IVS1ntl (G­>C), Kodon 26(HAH­>AAG), IVS2nt654(C­>T),
IVS1ntl (G­>T), Kodon 1 5(TGG­>TAG), Kodon 17(AAG­>
TAG), Kodon30(AGG­>ACG),IVS1ntl(G­>A),Kodon 35(­C),
Kodon4l/42(­CTTT). Berdasarkan penelitian itu, jika teknik
ARMS diterapkan di Indonesia primer yang terutama perlu
disediakan adalah:
5' TTAAACCTGTCTTGTAACCTFGATACGAAG 3' untuk
mutan IVS1 ntl(G­>C),
5' GAATAACAGTGATAATTTCTGGGTTATGGT 3' untuk
mutan IVS2 nt654(C­>T),
5' TTAAACCTGTCTTGTAACCTFGATACGAAA 3' untuk
mutan IVS1 ntl(G­>T),
5' CCACCAACTTCATCCACGTTCACTTGGCCT 3' untuk
mutan kodon 15(G­>A), dan
5' TAACCTTGATACCAACCTGCCCAGGGGCTT 3' untuk
mutan kodon 26(GAG­>AAG) atau HbE.
Dengan menggunakan teknik hibridisasi RDB Maggio et al.
(1993) dapat mengidentifikasi sembilan mutasi pada gena-
yang sering terdapat pada populasi Sicilia, berturut-turut dari
yang terbanyak mutasi kodon 39, IVS1nt110, IVS1nt6, IVS1nt1,
mutasi IVS2nt745 dan mutasi nt-87. Persentase dari masing-
masing mutan ternyata sesuai dengan penelitian sebelumnya.
Hal ini menunjukkan keakuratan dari cara tersebut
(11)
.
Karena prosedur PCR amat praktis maka besar harapan akan
dapat diimplementasikan sebagai prosedur rutin di Indonesia
khususnya untuk diagnosis prenatal bila alternatif pengendalian
thalassemia melibatkan diagnosis tersebut. Apabila polimerase
Taq dan primer/probe dapat ditekan harganya maka biaya tiap
satuan analisis akan tidak mahal
(18)
.
KESIMPULAN
PCR merupakan cara enzimatik yang sangat sensitif dan
spesifik untuk menggandakan DNA. Dengan ditemukannya
polimerase Taq prosedur ini makin praktis, sehingga kini cara
tersebut telah luas digunakan dan merupakan alternatif yang
praktis untuk memperoleh DNA dalam jumlah yang cukup guna
kepentingan studi molekular, termasuk thalassemia. Berdasar-
kan prinsip PCR telah dikembangkan cara diagnostik molekular
yang terbukti sangat akurat. Dengan prosedur ARMS yang
menggunakan allele specific oligonucleotide sebagai primer
mutan dapat dideteksi secara langsung. Teknik hibridisasi RDB
terhadap DNA produk PCR dengan menggunakan allele specific
oligonucleotide sebagai probe merupakan cara diagnostik
molekular yang relatif mudah. Untuk penyediaan primer maupun
probe yang sesuai bagi populasi atau ras tertentu, macam dan
frekuensi mutasi gena pada populasi yang bersangkutan harus
telah diketahui lebih dahulu.
KEPUSTAKAAN
1. Conconni F, Bargellesi A, Del Senno L, Menegatti E, Pontremoli S. Russo
G. Globin chain synthesis in Sicilian thalassemic subjects, Br J Haematol.
1970; 19: 469­75.
2. Friedman SH, Schwartz E, Ahern V, Ahern E. Globin synthesis in the
Jamaican Negro with l-thalassemia, Br J Haematol. 1974; 28: 505­13.
3. Todd D, Chan V, Schneider RG, Dozy AM, Kan YW, Chan TK. Globin
synthesis in hemoglobin New York (113
valin­>glutamic acid
, Br J Hematol.
1980; 46: 557­64.
4. Cheng TC, Orkin SH, Antonarakis SE. Potter MJ, Sexton JP, Markham AF,
Giardina PJV, Li A, Kazazian Jr HH. -thalassemia in Chinese use of in
vivo mRNA analysis and oligonucleotide hybridization in systemic cha-
racterization of molecular defects. USA: Proc NatI Acad Sci 1984; 81:
2821­25.
5. Chan V, Chan TK, Kan YW, Todd. A novel -thalassemia frameshift
mutation (codon 14/15), detectable by direct visualization of abnormal
restriction fragment in amplified genome DNA. Blood 198; 72: 1420­23.
6. Fucharoen 5, Kobayashi Y, Fucharoen G, Ohta Y, Miyazono K, Fukimaki
F, Takaku. A single nucleotide deletion in codon 123 of -g1obin gene
causes an inclusion bodies 3-thalassemia trait: A novel elongated globin
chain Makabe. Br J Haematol. 1990; 75: 393­99.
7. Romeo L, Almeido L, Higgs DR, Levinha J, Liebhaber SA. -thalassemia
resulting from deletion of regulatory sequences far upstream of the -
globin structural gene Blood 1991; 7: 1589­95.
8. Wong C, Antonarakis SE, Goff SC, Orkin SH, Forget BG, Nathan DG,
Giardina PJV, Kazazian Jr HH. -thalassemia due to two novel nucleotide
substitutions in consensus acceptor splice sequences of the -globin gene
Blood 1989; 73: 914­18.
9. Cal SP, Zhang JZ, Doherty M, Yuet WK. A new TATA box mutation
detected at prenatal diagnosis for -tha1assemia. Hum Genet 1989; 45:
112­14.
10. Huang SZ, Zhou XD, Thu H, RenZR, Zeng YT. Detection of-thalassemia
mutations in Chinese using amplified DNA from dried blood specimens,
Hum Genet 1989; 84: 129­3 1.
11. Maggio A, Giambona A, Cal SP, Wall J, Kan YW, Chebab FF. Rapid and
simultaneous typing of hemoglobin S, hemoglobin C, and seven Me-
diterranian -thalassemia mutations by covalent reverse dot-blot analysis:
Application to prenatal diagnosis to Sicily, Blood 1993; 81: 239­42.
12. Saiki RK, Gelfand DH, Stoffel 5, Scharf Si, Higuchi R, Ham GT, Mullis
KB, Erlich HA. Primer directed enzymatic amplification of DNA with a
thermostable DNA polymerase. Science 1988b; 239: 487­91.
13. Old JM, Varawalla NY, Weatherall DJ. Rapid detection and prenatal
diagnosis ofll-thalassemia: studies in Indian and Cypriot populations in the
UK. Lancet 1990; II: 834­37.
14. Sofro ASM, Lanni F, Ismadi. Globin gene mutations ofbeta-thalassemiaat
Dr. Sardjito General Hospital Yogyakarta-Indonesia Hum Genet 1992;
51(Y) Supl A: 343.
15. Varawalla NY, Old JM, Sarkar R, Venkatesan R, Weatherall DJ. The
spectrum of 1-thalassemia mutations on the Indian subcontinent: the basis
for prenatal diagnosis. Br J Haematol. 1991; 78: 242­7.
16. Nantomi Y, Nakashima H, Kagimoto M, Naito Y, Yokota E, Imamura T.
A common chinese -thalassemia mutation found in a Japanese family.
Hum Genet 1990; 86: 480­83.
17. Wang C, Antonarakis SE, Goff SC, Orkin SH, Forget BG, Boehm CD,
Kazazian Jr HH. On the origin of the spread of 1-thalassemia : Recurrent
observation on mutations in different ethnic groups, USA:Pro Natl Acd Sci
1986; 83: 6529­32.
18. Fucharoen 5, Winichagoon P. Thonglairoam V. Siriboon W, Siritanarakul
N, Kanokpongsakdi S. Vantanasiri V. Prenatal diagnosis of thalassemia
and hemoglobinopathies in Thailand : Experiences from 100 pregnancies
Southeast Asian, J Trop Med Pubi Health 1991; 22: 16­29.
19. Vogel F, Motulsky AG. Human Genetics Problem and Approaches 2nd ed.
Berlin: Springer-Verlag, 1986.
20. Fucharoen-Winichagoon P. Fucharoen S. Molecular mechanism of tha-
lassemiain Thailand. Thailand: J Sc Soc 1986; 12: 9­21.
21. Bunn HF, Forget BG. Hemoglobin : genetic and clinical aspects 1st ed.
Philadelphia: WB. Saunders Co 1986; pp 225­305.
22. Rosatelli MC, Oggiano L, Leoni GB, Tuveri T, Di Tucci A, Scalas MT.
Dore E, PistiddaP, Massa A, Longinotti M, Cao A. Thalassemiaintermedia
resulting from a mild -thalassemia mutation Blood 1989; 73: 601­05.
23. Kazazian HH, Ginder GD, Snyder PG. Van Beneden Ri, Wodhead AP.
Furtherevidence of quantitative deficiency of chain-specific globin mRNA
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
30
background image
in thalassemia syndromes, USA: Proc Nat Acad Sci 1975; 72: 567­71.
24. Nienhuis AW, Turner P, Benz Jr. EL Relative stability of c and 3-globin
messenger RNAs in homozygous 3+-thalassemia. USA: Proc Natl Acad
Sci 1977; 74: 3960­64.
25. Arnheim N, Levenson CH. Polymerase chain reaction CAEN ­ Special
Report, October 1990.
26. Saiki RK, Chang CA, Levenson CH, Waren IC. Boehm CD. Haig MS,
Kazazian H, Ehrlich HA. Diagnosis of sickle anemia and 3-thalassemia
with enzymatically amplified DNA and nonradioactive allele-specific
oligonucleotide probes. N Engl J Med 1988a; 319: 537­41.
27. Scarf SJ, Horn GT, Ehrlich HA. Direct cloning and sequence analysis of
enzymatically amplified genomic sequences. Science 1986; 233: 1076­78.
28. Winichagoon P. Kownkon J, Yetchinsomanus P. Thonglairoam V, Sirita-
naratkul N, Fucharoen S. Detection of 13-thalassemia and hemoglobin E
gene in Thai by a DNA amplification technique Hum Geret 1989; 82:
389­90.
29. Lie-Injo LE, Cai SP, Iskandar Wahidiyat, Moeslichan S. Lim ML, Evange-
lista I, Doherty M. Kan YM. 3-thalassemia mutations in Indonesia and
their linkage to 3-haplotype, Am J Hum Genet 1989; 45: 97 1­5.
30. Wong C, Dowling CE, Saiki RK, Higuchi RG, Erlich HA, Kazazian Jr HH.
Characterization of 3-thalassemia mutations using direct genomic sequenc-
ing of amplified single copy DNA. Nature 1987; 330: 384­6.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 31