ANTARA KE PE RCAYAAN DAN KENYATAAN:
kolpitis gonorrhoea pada bayi dan anak
dr Oetomo Sigit, dr Sugastiasri
Bagian llmu Penyakit kulit dan kelamin
RS. Dr. Kariadi
Semarang
SUMMARY
Three cases of colpitis gonorrhoea in one infant and two chil-
dren are hereby reported. Their own father happens to be the
source of infection. Transfer of the disease is very unusual,
namely "rubbing of the penis against the vulva of his children"
which is base on his
"
belief" that by doing so, his disease will
be cured. It is the duty of the doctor to provide information
to the population a about the ways of infection and the
dangers of venereal diseases.
Pendahuluan
Telah kita ketahui, bahwa sejak lama penyakit kelamin,
terutama gonorrhoea ( GO ), telah merajalela dan tersebar
luas di dunia ini.
Apalagi dengan meningkatnya turis dari ataupun ke beberapa
negara membuat penyakit GO ini makin sulit untuk diberan-
tas.
Penularan penyakit GO
yang lazimnya terjadi, adalah
dengan melakukan hubungan sex, ataupun dengan variasinya
antara lain : oral-sex (terjadinya pharyngitis GO), anal-sex
(terjadinya proctitis
GO) juga terjadinya gonoblenorrhoea
pada mata bayi yang baru lahir dari ibu-ibu yang menderita
GO ataupun terjadinya kolpitis GO pada bayi atau anak wani-
ta karena yang merawat sehari-harinya menderita GO adalah
merupakan cara penularan lain yang dapat terjadi.
Disini kami akan melaporkan tiga kasus kolpitis GO pada
bayi (3
bulan) dan anak wanita (3
tahun) saudara kandung,
kasus ke-tiga anak wanita umur empat tahun, dimana cara
penularannya sangat diluar dugaan kami.
Laporan kasus:
Kasus 1 dan 2 Pada tanggal 17 Juni 1978 datang di-poflklinik kulit-
kelamin seorang ibu dengan membawa sekaligus dua orang anaknya
(kakak-beradik) .
Kasus I bernama S ; Jenis kelamin wanita berumur 3
bulan.
Kasus II bernama W ; Jenis kelamin wanita berumur 3
tahun.
Keluhan utama :
Pada saat yang bersamaan, keduanya mengeluarkan
darah putih dari kemaluan sejak tiga hari yang lalu.
Pada pemeriksaan : (a).
status venereologik, pada genitalia externa
didapatkan : vulva ; labia mayora et minora
: oedem, erythema dan adanya discharge
yang purulen.
Urethra juga oedem ; erythema, nampak
adanya ectropion dengan discharge yang
purulen.
(b).
laboratorik
,
dilakukan
pemeriksaan :
sediaan hapus dengan pengecatan Gram
pemeriksaan KOH untuk jamur/Candida
-
pemeriksaan dengan
larutan 0,1% NaC1
flsiologis untuk trichomonas.
(c).
hasil : ditemukan pada kedua penderita
tersebut diatas kuman Gram negatip diplo-
kokus
:
positip
Candida :
negatip
trichomonas :
negatip
Terapi yang diberikan :
Kasus I
:
Penisilin-prokain 300.000 U, tiga kali berturut-turut
tiap hari.
Kasus II
:
Penisilin-prokain 600.000 U, tiga kali berturut-turut
tiap hari.
Pada hari ke-empat, kedua penderita datang kembali untuk kontrol.
Pemeriksaan klinik didapatkan, genitalia externa yang tenang dan
discharge tidak ada.
Laboratorik tidak ditemukan kuman diplokokus Gram negatip.
Pada kedua kasus ini, sesudah ditemukan Gram negatip diplokokus,
maka dilakukan pemeriksaan serupa pada ibu penderita, dengan hasil
sebagai berikut :
Gram negatip diplokokus tidak dijumpai
Candida tidak dijumpai
Trichomonas :
tidak dijumpai.
Selanjutnya menurut pengakuan ibunya, kedua anak tersebut selama
ini diasuh sendiri, sebab sedang tidak ada pembantu. Oleh karena itu,
kami melanjutkan pemeriksaan untuk menemukan "contact-persons"
dan untuk ini menasehatkan agaz suaminya diperiksakan juga. Keesokan
harinya, suaminya seorang karyawan hotel di Semarang, berumur
34 tahun datang untuk memeriksakan diri.
Pada anamnesa ditemukan adanya hubungan kelamin terakhir (coitus-
suspectus) dengan WTS, lima hari yang lalu.
Pada pemeriksaan klinik, status venereologik didapatkan oedema pada
orificium urethra externum, erythema, tak dijumpai ectropion dan
didapatkan discharge yang sero-mucoid.
Pemeriksaan laboratorik didapatkan kuman Gram negatip diplokokus
intraseluler. Penderita diberikan Penisilin prokain 900.000 U, tiga kali
berturut-turut tiap hari. Pada hari ke-empat, penderita datang kembali
untuk kontrol.
Pada pemeriksaan klinik, orificium urethra externa tenang, discharge
tidak ada, sedangkan pada pemeriksaan laboratorik kuman Gram ne-
gatip diplokokus tidak dijumpai.
Kasus 3 :
Pada tanggal 20 Juni 1978, datang di-polikHnik kulit-kelamin,
seorang ibu dengan membawa seorang anak wanita bernama E, umur
4 tahun, dengan keluhan utama mengeluarkan darah putih dari kema-
luan sejak lima hari yang lalu. Pemeriksaan klinik, status venereologik,
didapatkan keadaan yang sama dengan kasus 1 dan 2 serta laboratorik
ditemukan kuman Gram negatip diplokokus; sedang candida dan
Trichomonas tidak ditemukan.
Terapi yang diberikan adalah Penisilin prokain 600.000 U, tiga kali
berturut-turut tiap hari. Pada hari ke-4, penderita datang kembali
untuk kontrol. Pada pemeriksaan klinik, status venereologik genitalia
32
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
externa : tenang, discharge tidak ada. Pemeriksaan laboratorik tak
ditemukan kuman Gram negatip diplokokus.
Pada pemeriksaan lanjutan, dilakukan sama seperti pada kasus 1 dan 2.
Kebetulan pada saat yang sama, suaminya juga datang untuk berobat
karena sakit pada saat kencing.
Hasil pemeriksaan ibu, klinik ; status venereologik didapatkan portio
cervix, vagina, maupun orificium urethra externa, tenang, discharge
tidak ada. Pemeriksaan laboratorik : Gram negatip diplokokus; Candida
dan Trichomonas tak ditemukan.
Hasil pemeriksaan suaminya, seorang buruh bangunan berumur 30
tahun:
Pada anamnesa didapatkan hubungan kelamin terakhir ( coitus suspec-
tus) dengan WTS, tujuh hari yang lalu.
Pada pemeriksaan klinik, status venereologik didapatkan orificium
urethra ext
oedem dengan erythema dan discharge yang
sero-
mucoid.
Pemeriksaan laboratorik didapatkan kuman Gram negatip diplokokus,
intra seluler dan beberapa extra-seluler.
Terapi yang diberikan : Penisilin prokain 900.000 U, tiga kali berturut-
turut tiap hari. Pada hari ke-4, penderita datang kembali untuk kontrol.
Klinis, didapatkan orificium urethra externa yang tenang, discharge
tidak ada, sedangkan laboratorik : Gram negatip diplokokus tidak
dijumpai.
Diskusi
Adanya discharge yang sero-mucoid pada suami-suami
tersebut, ternyata pada anamnesa mereka telah minum sendiri
kapsul tetracycline yang tentunya dosisnya tidak adequate.
Tidak kami lakukan biakan untuk Neisseria-gonococcus atau-
pun fermentasi test. Diagnose kami tegakkan atas dasar :
Adanya coitus suspectus
Gejala dan keluhan subyektip yang berupa waktu
kencing sakit
Adanya discharge yang sero-mucoid
Laboratorik, ditemukan kuman Gram negatip diplo-
kokus.
Sesudah diajukan beberapa pertanyaan dengan berbagai cara
kepada mereka (kedua suami tersebut) dan diberitahu bahwa
anak-anak mereka terkena penyakit kelamin dan juga sesudah
didesak bahwa penyakit kelamin anak-anaknya hanya bisa
terjadi karena didalam keluarga harus ada yang sakit kelamin,
akhirnya diakui dengan terus terang bahwa mereka adalah
sumber penularannya, dengan cara : mengoleskan secara lang-
sung penis mereka kepada vulva anak-anak mereka, yang mana
penderita mempunyai kepercayaan bahwa dengan melakukan
hal tersebut, penyakitnya dapat sembuh. Dengan demikian
telah ditemukan contact-persons pada kasus yang sama pada
waktu yang relatip hampir bersamaan, empat hari.
Salah satu penularan yang kiranya sangat jarang terjadi dan
perlu dipikirkan kepada para suami sebagai
"
contact-persons ",
apabila didapatkan kasus-kasus kolpitis GO pada bayi dan
anak wanita.
Tetapi sebaliknya ada juga kepercayaan disebagian kalangan
wanita tuna susila (WTS) yang tentunya mempunyai sakit
kelamin, mencari dan mengajak berhubungan sex dengan para
remaja laki-laki yang masih "ingusan", yang sebelumnya me-
mang belum pernah melakukan coitus dalam arti yang sebe-
narnya. Dengan melakukan hubungan sex tersebut, mereka
percaya bahwa penyakitnya akan sembuh.
Ringkasan
Telah dilaporkan tiga kasus kolpitis-gonorhoea pada bayi
dan anak wanita yang ternyata bahwa sumber penularannya
adalah dari ayahnya sendiri yang kiranya sangat jarang terjadi,
yaitu dengan mengoleskan secara langsung penis penderita
kepada vulva anak-nya. Suatu kepercayaan yang
"salah
kaprah " dan hal ini menjadikan salah satu tugas para sejawat
untuk memberikan penerangan sejelas-jelasnya kepada masya-
rakat luas dalam arti cara penularannya, bahaya serta akibat
dari penyakit kelamin.
KEPUSTAKAAN
1. CATERALL R D : Advances in the treatment of sexually trans-
mitted diseases.
The Practitioner
1240 (207) : 516,1975.
2. DEHERAGODA : Diagnosis of rectal gonorrhoea by blind anorectal
swabs compared with direct vision swabs taken via a proctoscope.
British Jof Venereal Diseases
5 (53) : 311, 1977.
3. DARROW W W, WEISNER P J: Personal prophylacsis for vcnercal
diseases. JAMA 223 (5) : 444 -- 445, 1975.
4. KING A, NICOL C :
Venereal diseases.
3rd ed. Bailliere Tindal.
London, 1975.
5. NITISAPUTRO, RAHARDJO
R M : Urethral discharge.
MKI
VIII (1) : 12 -- 20, 1958.
6. SURIA DJANDA : Penggunaan antibiotika pada beberapa derma-
tosis dan pada penyakit kelamin. Simposium
Antibiotika
42 -- 46,
1976.
7. WILLCOX R R : Importance of the so-called sexually transmitted
diseases.
British J of Venereal Diseases
51 : 221 -- 225, 1975.
8. WISE R : Rational choice of antibiotics.
The Practitioner
1312
(219) : 449, 1977.
Tahukah anda ??????..................... bahwa ................
Jumlah penduduk Indonesia pada waktu ini telah
sangat meningkat ( 141 juta -1978 ) dengan angka
pertumbuhan penduduk sebesar 2,4% setahun. Sebagian
besar, 112,8 juta ( 80 % ) diantaranya tinggal di pedesaan
dan 62 juta ( 44% ) berumur 0--14 tahun. Sedangkan
21,15 juta ( 15% ) adalah Balita. Angka kematian bayi
rata-rata 110 0/0o sedangkan untuk anak-anak Balita
angka kematian sekitar 634500 setahun. ( 30 o/oo ).
Angka kematian perinatal 73,2 o/oo setahun dan ang-
ka kelahiran 38 o/oo setahun. Enam puluh prosen pen-
duduk melek huruf, 48% ( 67,7 juta ) penduduk hidup
dibawah garis kemiskinan. G.N.P. pertahunnya sekitar
120 dolar.
Sampai sekarang permasalahan penyakit di lndone-
sia masih meliputi penyakit-penyakit kurang gizi, infesta-
si dan infeksi, termasuk penyakit-penyakit pada saluran
pencernaan, saluran pernafasan, tuberkulosa, malaria dan
senagainya. Penyakit-penyakit tersebut menyebabkan ter
ganggunya pertumbuhan anak baik fisik maupun mental
dan sosial serta mengakibatkan kematian.
Rekomendasi keputusan sidang or-
ganisasi KONIKA IV,
Yogyakarta 21--25
Mei 1978
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
33