HASIL PENELITIAN
Uji Coba Culinex T untuk Pengendalian
Jentik Aedes aegypti
di Kecamatan Ambarawa,
Jawa Tengah
Umi Widyastuti, RA. Yuniarti, Y. Ariati, Blondine ChP
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Rl, Salatiga
ABSTRAK
Efektivitas Culinex T (Bacillus thuringiensis israelensis dalam formulasi tablet)
telah diteliti terhadap jentik Aedes Aegypti pada tempat penampungan air (TPA) yaitu
drum metal, bak mandi, gentong (tempayan) dan TPA lain terbuat dari bahan plastik.
Penelitian dilakukan di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, meliputi dukuh
Kupang Kidul sebagai daerah perlakuan dan Kupang Rengas sebagai daerah kontrol,
masing-masing mencakup 100 rumah penduduk. Penebaran Culinex T sebanyak 1
tablet (0,4 gram) per 200 liter volume air untuk kepadatan jentik Ae. aegypti antara
50-250 ekor dilakukan setiap bulan, mulai Juli 1998 sampai Januari 1999. Untuk
mengetahui efektivitas Culinex T dalam menurunkan populasi jentik Ae. aegypti di-
lakukan penghitungan presentase penurunan jumlah TPA positif mengandung jentik
Ae. aegypti dengan menggunakan formula Mulla, 1971. Efektivitas Culinex (dosis 2
mg/l) terhadap jentik Ae. aegypti pada TPA berlangsung selama 1 bulan. Penurunan
jumlah TPA positif mengandung jentik Ae. aegypti pada bulan Agustus-Desember
1998 dan Januari-Pebruari 1999 berkisar antaral 53,94-98,31 %.
PENDAHULUAN
Upaya pencegahan dan pengendalian Demam Berdarah
Dengue (DBD) hingga saat ini ditekankan pada pemutusan
rantai penularan dengan mengendalikan vektor karena sampai
sekarang ini belum ditemukan obat/vaksinnya.
(1,2)
Pengendalian nyamuk Ae. aegypti (dewasa), menaburkan
racun jentik ke tempat perindukan dan pembersihan sarang
nyamuk (PSN) dewasa ini dipandang sebagai cara yang ber-
hasil guna. Akan tetapi dengan adanya resistensi nyamuk atau-
pun jentik Ae. aegypti terhadap insektisida/larvasida kimia,
perlu dipertimbangkan cara pengendalian alternatif lain yang
lebih berwawasan lingkungan. Salah satu cara yang banyak
dikembangkan adalah penggunaan Bacillus thuringiensis
israelensis (Bti) yang mempunyai patogenisitas tinggi terhadap
jentik nyamuk.
(3)
B. thuringiensis israelensis dalam formulasi tablet (Culi-
nex T) terbukti efektif membunuh jentik Ae. aegypti di labora-
torium, efikasinya bertahan selama 6-8 minggu pada konsen-
trasi 6-24 ppm. Hasil penelitian simulasi lapangan mengguna-
kan gentong bersemen telah dilakukan dengan pencidukan serta
penambahan air secara periodik. Efikasi Bti tablet tersebut
terhadap jentik Ae. aegypti mencapai 5 minggu dengan konsen-
trasi awal 10 ppm.
(4)
Hasil survai vektor DBD yang dilakukan di 9 wilayah
perkotaan di Indonesia pada tahun 1987 menunjukkan bahwa
jentik Ae. aegypti terdapat pada 1 di antara 3 rumah penduduk.
Perindukan yang paling potensial adalah tempat perindukan
jentik nyamuk vektor DBD pada penampungan air yang airnya
digunakan untuk keperluan sehari-hari terutama untuk minum
dan masak, maka larvisida yang digunakan harus mempunyai
sifat-sifat antara lain efektif pada dosis rendah, tidak bersifat
racun bagi manusia/mamalia, tidak menyebabkan perubahan
rasa, warna dan bau pada air yang diperlakukan dan efektivitas-
nya lama.
(3)
Berdasarkan informasi tersebut dilakukan penelitian peng-
gunaan Culinex T (Bti tablet) untuk mengendalikan jentik Ae.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
16
aegypti tempat penampungan air (TPA) di kecamatan Amba-
rawa dengan tujuan untuk mengetahui Culinex T (Bti tablet)
dalam menurunkan populasi jentik Ae. aegypti pada TPA.
METODOLOGI
1) Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang diuji coba adalah Culinex T, me-
rupakan B. thuringiensis israelensis dalam formulasi tablet
masing-masing dengan berat 0,4 gram, berwarna kuning kecok-
latan, produksi KABS Germany. Pemilik formulasi adalah
PT.Setrasari, Jakarta.
2) Cara Kerja
Pemilihan daerah, dengan melakukan survai pendahuluan
jentik Ae. aegypti pada berbagai TPA, seminggu sekali, lebih
kurang mencakup satu desa. Selanjutnya ditentukan daerah
yang akan digunakan untuk aplikasi/penebaran Culinex T, lebih
kurang 100 rumah baik untuk daerah perlakuan maupun
kontrol.
Pemetaan rumah penduduk yang digunakan dalam peneliti-
an di daerah perlakuan (Kupang Kidul) dan daerah kontrol
(Kupang Rengas).
Dilakukan pencatatan tipe, ukuran dan volume TPA untuk
menentukan jumlah tablet yang akan ditebarkankan ke dalam
masing-masing TPA.
Penebaran Bti tablet dengan dosis anjuran 2 mg/l (1 tablet
untuk 200 liter air), dilakukan setiap bulan mulai bulan Juli
1998 hingga Januari 1999.
Untuk mengukur keberhasilan penebaran Culinex T pada
TPA, dilakukan evaluasi entomologi berupa:
a. Survai jentik, seminggu sekali untuk mengetahui efektivi-
tas Culinex T yang ditebarkan.
b. Pemasangan ovitrap/perangkap telur. Perangkap telur
nyamuk Ae. aegypti berupa gelas di cat hitam, diisi air, di-
lengkapi dengan kertas saring pada sisi dalamnya sebanyak 60
buah, diletakkan di luar dan di dalam rumah. Seminggu sekali
kertas saring diambil dan diganti yang baru. Jumlah telur
dihitung dan kemudian ditetaskan dalam baki plastik berisi air,
dipelihara sampai instar III/IV, diidentifikasi untuk mengetahui
spesiesnya.
Untuk menghitung jumlah jentik Ae. aegypti secara pasti
dalam TPA dengan volume air yang besar ternyata sulit, oleh
karena itu hanya dilakukan penghitungan terhadap jumlah TPA
yang positif mengandung jentik Ae. aegypti baik di daerah per-
lakuan maupun kontrol. Untuk mengetahui efektivitas Culinex
T dalam menurunkan populasi jentik Ae. aegypti, persentase
penurunan jumlah TPA positif mengandung jentik Ae. aegypti
dihitung dengan menggunakan formula Mulla et al, 1971
(6)
sebagai berikut:
Cl x T2
Penurunan = 100 -
100
TI x C2
C1 = Jumlah TPA positif jentik Ae. aegypti pada kontrol sebelum penebaran
C2 = Jumlah TPA positif jentik Ae. aegypti pada kontrol sesudah penebaran
TI = Jumlah TPA positif jentik Ae. aegypti pada perlakuan sebelum penebaran
T2 = Jumlah TPA positif jentik Ae. aegypti pada perlakuan sesudah penebaran
HASIL DAN PEMBAHASAN
Efektivitas Culinex T terhadap jentik Ae. aegypti pada
TPA disajikan pada Tabel 1 dan Gambar 1 TPA yang tersedia
di daerah Kupang Kidul dan Kupang Rengas berupa drum
(metal), bak mandi, gentong (tempayan) dan TPA lain terbuat
dari bahan plastik. Jumlah TPA rata-rata berkisar antara
124,5-161,25 di Kupang Kidul dan 111,25-56,75 di Kupang
Rengas. Perkiraan jumlah jentik Ae. aegypti pada masing-
masing TPA positif jentik di Kupang Kidul dan Kupang Rengas
berkisar antara 50-250 ekor. Dari tabel 1 dan Gambar 1 dapat
dilihat bahwa penurunan jumlah TPA positif mengandung
jentik Ae. aegypti semakin meningkat dari bulan ke bulan mulai
Agustus, September, Oktober, Nopember, Desember 1998,
Januari dan Pebruari 1999 masing-masing berturut-turut
sebesar 53,94; 64,35; 78,51; 93,31; 97,02; 98,31 dan 98,29%.
Tabel 1. Presentase penurunan jumlah TPA positif jentik Ae. Aegypti di
Kupang Kidul
Jumlah TPA
Jumlah TPA positif jentik
Bulan Jenis
TPA
Perlakuan Kontrol Perlakuan
Kohtrol
Penurunan jumlah
TPA positif jentik (%)
Drum 2.5
8.25
0.5
3
Bak Mandi
62.25
68.25
13.75
10
Gentong 23
34
6
2.25
TPA lain
76.5
46.25
2.75
3
Juni
Jumlah 164.25 156.75 23 18.25
Drum 2.25
10
1.5
0.75
Bak Mandi
64.25
65.5
9.25
8.75
Gentong 24.5
41.5
8.25 4.5
TPA lain
56.25
41.5
3.75
2.5
Juli
1)
Jumlah 147.25
158.5
22.75 16.5
Drum 2.2
7.4
0.8
1.8
77.7
Bak Mandi
63.6
53.8
3.8
7.8
53.91
Gentong 20
25
3.4
3.2
48.31
TPA lain
69.2
43.4
1.4
2
53.33
Agustus
2)
Jumlah 156
129.6
9.4
14.8
53.94
Drum
2
7.75 0 1.5
100
Bak Mandi
46
51.5
3.75
7.75
54.23
Gentong 17
19.5
3
3.75
56.36
TPA lain
59.75
49
0.5
1.75
80.95
September
3)
Jumlah 124.75 127.75
7.25 14.75
64.35
Drum 1.5
10.25
0
1
100
Bak Mandi
65.25
57.75
2.5
7.5
68.41
Gentong 20.75
21
1.25 3.75
81.82
TPA lain
58
45.5
0.25
1.25
86.67
Oktober
4)
Jumlah 145.5
134.5 4 13.5
78.51
Drum 4
8.25
0
1.25
100
Bak Mandi
58.75
47.75
1.25
9.25
87.22
Gentong 18
20.5
0.25
4.75
97.13
TPA lain
46.75
34.75
0
1
100
Nopember
5)
Jumlah 127.5 111.25
1.5
16.25
93.31
Drum
3
6.8 0 1.4
100
Bak Mandi
57.2
48.6
0.4
7
94.59
Gentong 20.2
20.4
0.2 4.2
98.56
TPA lain
46.2
46.2
0
2
100
Desember
6)
Jumlah 126.6
122
0.6 14.6
97.02
Drum
2.5
12 0 3.5
100
Bak Mandi
117
55.5
0.25
9.5
97.51
Gentong 21.5
24
0.25 6
97.73
TPA
lain 43
47 0 2.5
100
Januari
7)
Jumlah 184
138.5
0.5
21.5
98.31
Drum 2.33
7
0
0
100
Bak Mandi
63
55.66
0.33
8.33
96.25
Gentong 17.66
21 0 5
100
TPA lain
50
44
0
0.66
100
Pebruari
Jumlah 132.99 127.66
0.33 13.99
98.29
Keterangan:
1. 2, 3, 4, 5, 6, 7) = Penebaran Culinex T I-VII
Rata-rata jumlah telur Ae. Aegypti per bulan yang diper-
oleh dari perangkap positif yang diletakkan di dalam dan di luar
rumah, serta ovitrap index di daerah perlakuan dan kontrol
disajikan pada Tabel 2, Gambar 2 dan 3. Dari data tersebut
terlihat bahwa rata-rata jumlah telur/bulan yang diambil dari
perangkap positif di dalam rumah berkisar antara 23,3-120,5 di
daerah perlakuan dan 110,5-346,5 di daerah kontrol sedangkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 17
dari perangkap telur positif yang dimbil dari luar rumah rata-
rata jumlah telur/bulan berkisar antara 33,5-122,75 di daerah
perlakuan 57-478,5 di daerah kontrol. Ovitrap index (dalam
rumah) berkisar antara 4,43-13,33% di daerah perlakuan dan
11,10-25,83% di daerah kontrol. Ovitrap index di luar rumah
berkisar antara 3,33-12,5% di daerah perlakuan dan 11,66-
19,16% di daerah kontrol. Ovitrap index tertinggi terjadi pada
bulan Agustus yaitu 13,33% dan 25,83% ; (di dalam rumah)
masing-masing di daerah perlakuan dan kontrol serta 12,5%
dan 19,16% (di luar rumah) masing-masing di daerah perlakuan
dan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa di daerah perlakuan
Kupang Kidul masih terdapat nyamuk Ae. aegypti yang ber-
keliaran yang setiap saat dapat bertelur di TPA milik penduduk,
berpotensi menetas menjadi jentik dan nyamuk penular DBD.
Culinex T dengan dosis yang relatif rendah 2 mg/l mampu
Gambar 1. Penurunan jumlah TPA positif mengandung jentik Ae. aegypti
di Kupang Kidul
Keterangan : Drum Bak Mandi Gentong TPA lain
Tabel 2. Rata-rata jumlah telur Ae. Aegypti per bulan dan ovitrap index di Kupang Kidul
(perlakuan) dan Kupang Rengas (kontrol).
Perlakuan Kontrol
Bulan
Ovitrap lndex
(% )
Jumlah
Dalam Luar Dalam Luar
Perangkap
30 30 30 30
Perangkap Positif
3,00 2,66 3,33 3,66
Telur
105,00 120,33 267,00 228,00
Juli
Ovitrap Index
10,00 8,86 11,10 12
20
Perangkap
30 30 30 30
Perangkap Positif
4,00 3,75 7,75 5,75
Telur 95,25
102,50
289,00
213,25
Agustus
Ovitrap Index
13,33 12,50 25,83 19,16
Perangkap
30 30 30 30
Perangkap Positif
2,60 2,00 4,00 3,60
Telur 57,40
56,40
138,40
112,60
September
Ovitrap Index
8,66
6,66
13,33
12,00
Perangkap
30 30 30 30
Perangkap Positif
2,75 3,00 5,25 4,00
Telur
103,25 122,75 346,50 135,00
Oktober
Ovitrap Index
9,16
10,00
17,50
13,33
Perangkap
30 30 30 30
Perangkap Positif
3,75 1,00 5,00 4,00
Telur 120,5
33,5
326,75
57,00
Nopember
Ovitrap Index
12,50
3,33
16,66
13,33
Perangkap
30 30 30 30
Perangkap Positif
2,00 1,60 5,60 3,60
Telur 28,60
57,80
236,60
238,00
Desember
Ovitrap Index
6,66
5,33
18,66
12,00
Perangkap
30 30 30 30
Perangkap Positif
1,50 2,00 5,50 3,50
Telur 25,50
55,00
110,50
478,50
Januari
Ovitrap Index
5,00
6,66
18,33
11,66
Perangkap
30 30 30 30
Perangkap Positif
1,33 1,66 5,66 3,66
Telur 23,33
55,33
191,00
298,66
Pebruari
Ovitrap Index
4,43
5,53
18,86
11,66
menurunkan populasi jentik Ae. aegypti secara efektif selama 7
bulan. Variasi hasil uji coba tersebut dapat terjadi karena
adanya berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi
efikasi B. thuringiensis israelensis terhadap jentik nyamuk.
Efikasi B. thuringiensis terhadap jentik nyamuk dipengaruhi
antara lain oleh faktor ekologis, biologis, dan fisik.
(7)
Faktor-
faktor seperti instar jentik, makanan, periode pemaparan
(expose period), kualitas air, strain bakteri, perbedaan kepekaan
masing-musing jentik yang diuji, suhu air dan formulasi
khususnya tingkat sedimentasi/pengendapan dilaporkan sangat
mempengaruhi B. thuringiensis terhadap jentik nyamuk.
(6,8,9)
Selain itu Aly, 1983
(10)
melaporkan bahwa efektivitas larvisida
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
18
mikrobia sangat tergantung pada tersedianya toksin di daerah
makan jentik (larval feeding zone)
(11)
dan perilaku/kebiasaan
makan dari spesies jentik nyamuk.
(12)
Gambar 2. Jumlah telur Ae. aegypti di Kupang Kidul (perlakuan) dan
Kupang Rengas (kontrol)
Perlakuan dalam Perlakuan lua Kontrol dalam Kontrol luar
Gambar 3. Ovitrap index di Kupang Kidul (perlakuan) dan Kupang
Rengas (kontrol)
Keterangan :
Perlakuan dalam Perlakuan luar Kontrol dalam Kontrol luar
Faktor fisik seperti halnya formulasi, khususnya tingkat
sedimentasi/pengendapan, tersedianya toksin di daerah makan
jentik dan kebiasaan makan dari jentik Ae. aegypti mungkin
berpengaruh pada efikasi Culinex T. Bti dalam formulasi "fizzy
tablet" (Culinex T) berwarna kuning kecoklatan dun carriernya
menempel pada dasar atau dinding bejana, sangat sesuai dengan
perilaku jentik Ae. aegypti yang mempunyai kebiasaan makan
di dasar perairan (bottom feeder).
(13)
Abbot, 1993 melaporkan bahwa formulasi liquid dun
granuler B. thuringiensis israelensis (Vectobac 12 AS dan Vec-
tobac G) dapat mengendalikan semua instar jentik nyamuk dan
efikasinya dapat dievaluasi 1-4 jam sesudah aplikasi tetapi
tidak lebih dari 7 hari.
(14)
Melihat hal tersebut tampak bahwa
Culinex T mempunyai prospek yang lebih menjanjikan baik
melalui pengujian skala laboratorium, semi lapangan
(4)
, maupun
skala lapangan, karma efikasinya terhadap jentik Ae. aegypti
dapat bertahan lebih lama.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Culinex T
dosis 2 mg/1 efektif menurunkan populasi jentik Ae. aegypti
selama 1 bulan di Kupang Kidul, Kecamatan Ambarawa,
Kabupaten Semarang. Penurunan jumlah TPA positif
mengandung jentik Ae. aegypti pada bulan Agustus - Desember
1998 dan Januari - Pebruari 1999 berkisar antara 53,94-98,31 %
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih yang sebesar-besarnya ditujukan kepada :
1. Dr. Damar Tri Boewono, MS selaku Kepala Stasiun Penelitian Vektor
Penyakit, Salatiga yang telah memberi kesempatan dan dukungan
jalannya penelitian.
2. Dr. Sustriayu Nalim, selaku ketua kelompok peneliti yang membimbing
penelitian dun penulisan makalah.
3.
Dokter Puskesmas Kecamatan Ambarawa dan staf yang telah membantu
penelitian di lapangan.
4. Dr. Norbert Becker, direktur KABS, Germany dan Bpk. Abdurrachim,
direktur PT Setrasari, Jakarta yang telah memberikan Culinex tablet.
KEPUSTAKAAN
1.
Mintarsih EA, Santoso L, Suwarsono H : Pengaruh suhu dan kelembaban
udara alami terhadap jangka hidup Ae. aegypti betina di Kotamadya
Salatiga dan Semarang. Cermin Dun. Kedokt. 1996; 107: 20-2.
2.
Suwarsono H : Berbagai cara pemberantasan jentik Ae. Aegypti. Cermin
Dun. Kedokt 1997; 119 : 32-4.
3.
WHO : Biological control of vectors of disease. Sixth report of the WHO
expert commitee on vector biology and control. 1982.
4.
Widyastuti U, Blondine ChP, Nalim S. : Pengujian efikasi Culinex T (B.
thuringiensis israelensis) terhadap larva nyamuk Ae. aegypti. 1982 ; 10
hal.
5.
Achmad HH : Variabel yang mempengaruhi partisipasi ibu rumah tangga
dalam pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk. Cermin Dun. Kedokt.
1997; 119 : 9-12.
6.
Mulla MS, Darwazeh HA, Aly C : Laboratory and field studies on new
formulations of two microbial control agents against mosquitoes. Bull Soc
Vector Ecol 1986; 11 (2): 255-63.
7.
Mulla MS, Darwazeh HA : Larvicidal efficay of various formulations of
B. thuringiensis serotype H-14 against mosquitoes. Bull Soc Vector Ecol.
1984; 9 (1): 51-8.
8.
Mian LC, Mulla MS : Factor influencing activity of the microbial agent B.
sphaericus against mosquito larvae. Bull Soc Vector Ecol. 1983 ; 8(2) :
128-34.
9.
Becker N, Margalit J : Control of Dipteria with Bti.
10. Aly C : Feeding behavior of Ae. vexans larvae (Dipteria: Culicidae) and
its influence on the effectiveness of B. thuringiensis israelensis. Bull Soc
Vector Ecol. 1983; 8(2) : 94-100.
11. Mulla MS, Darwazeh HA, Tietze NS : Efficay of B. sphaericus 2362
formulations against floodwater mosquitoes. J Am Mosq Contr Assoc,
1988; 4(2).
12. Ramoska WA, Hopkins TL : Effects of mosquito larval feeding behavior
on B. sphaericus efficacy, J Invert Pathot 1981; 37 : 269-72.
13. Becker N, Djakaria S, Kaiser A, Zulhasril O, Ludwig HW : Efficacy of
new tablet formulation of an asporogeno is strain of Bti against larvae of
Ae. aegypti. Bull Soc Vector Ecol. 1991; 16(1): 1-7.
14. Abott Lab. : BT H-14 life cycle. The sezuence of events associated with
using Bti for control of mosquito larvae. 1993.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 19