background image
Titer Reseptor Poly-HSA dan HbeAg
pada Pengidap HBeAg Sehat
dan Hepatitis B Menahun
W. Soemarto
Sub Raglan Hepato-Gastroenterologi, Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
RSUD Dr Soetomo, Surabaya
PENDAHULUAN
Secara ideal pada semua orang yang mengandung HBsAg
perlu dilakukan pemeriksaan HBeAg di samping HBV­DNA
untuk mengetahui daya penularannya. Seperti telah diketahui,
HBeAg merupakan salah satu petunjuk adanya replikasi VB di
samping HBV­DNA, karena bila HBeAg positif, artinya di
dalam darah terdapat partikel Dane lengkap dalam jumlah
besar
l
).
Mengingat pentingnya arti pemeriksaan HBeAg dari segi
klinik dan epidemiologik, maka diupayakan mencari parameter
lain yang setara nilainya dengan HBeAg tetapi dapat dikerjakan
dengan alat sederhana agar biayanya terjangkau oleh sebagian
besar masyarakat. Pemeriksaan HBeAg yang sampai sekarang
dilakukan dengan cara RIA maupun ELISA biayanya cukup
mahal karena memerlukan peralatan dan reagensia yang mahal
serta teknis juga relatif sulit dikerjakan.
Pada penelitian-penelitian terdahulu ditemukan bahwa
banyak serum yang mengandung HBeAg dapat bereaksi dengan
albumin serum manusia yang telah dipolimerisasikan (PHSA).
Diduga bahwa reseptor untuk PHSA ini terdapat pada VB, dan
akan mengikat PHSA dari serum manusia untuk menempel
pada reseptor di dinding hepatosit
'4
. Jadi dalam serum yang
mengandung HBsAg terdapat r­PHSA dari VB yang akan
bereaksi dengan PHSA; dan menurut Imai dkk (1979) serum
yang mengandung HBsAg dan bereaksi dengan PHSA ini
"sebagian besar" mengandung HBeAg. Temyata serum dengan
HBeAg positif akan bereaksi lebih kuat dari pada yang anti­
HBe positif
2
. Imai dkk (1979) menemukan tes untuk
mendeteksi r­PHSA dari VB ini yang sangat praktis dan
mudah dikerjakan.
Penelitian ini dilakukan untuk menilai apakah titer r­PHSA
ini sejalan dengan ada tidaknya HBeAg.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan secara prospektif dalam periode
antara September 1988 sampai Pebruari 1989 pada pen-
derita yang sedikitnya sejak 6 bulan sebelumnya mengandung
HBsAg.
Pada semua penderita dilakukan pemeriksaan fisik, pe-
meriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan serologik,
pemeriksaan ultrasonografi, dan bila diperlukan pemeriksaan
dilanjutkan dengn pemeriksaan foto esofagus dan pemeriksaan
endoskopi. Bila pada dugaan hepatoma, juga dilakukan
pemeriksaan AIpha Feto Protein dan pemeriksaan arteriografi.
Pada beberapa pen derita dilakukan biopsi hati.
HBsAg diperiksa dengan metoda Reversed Passive Hemag-
glutination, menggunakan kit (Entebe cell, Hepatika Lab,
Mataram). Titer HBsAg ditentukan oleh pengenceran tertinggi
(serial 2 kali) yang masih memberikan hemaglutinasi. Reseptor
albumin serum manusia yang dipolimerisasikan (r­PHSA)
diperiksa dengan metoda hemaglutinasi, menggunakan reagen
yang dibuat di Laboratorium Hepatitis NTB. Reagen
hemaglutinasi dibuat dari eritrosit domba (SRBC) yang
ditempeli PHSA. (Imai dkk, 1979). Sampel serum diencerkan
secara serial dua kali dalam lempeng mikrositer, kemudian
diteteskan 25 mikroliter suspensi 1% SRBC yang telah
ditempeli PHSA. Setelah inkubasi 1 jam pada temperatur
kamar, hemaglutinasi yang terjadi dibaca. Titer ditunjukkan
oleh pengenceran tertinggi (2 pangkat n) dari sampel yang
masih memberikan hemaglutinasi.
HBeAg dan anti­HBe diperiksa dengan metoda solid
phase enzyme immunoassay, dengan kit Institute of Immu-
nology Co., Ltd., Tokyo, Japan.
Tes faal hati dan AFP dilakukan di Laboratorium Patologi
Klinik, sedangkan foto esofagus dan arteriografi dilakukan di
Laboratorium Radiologi FK Unair­RSUD Dr. Soetomo.
Analisa statistik dilakukan dengan tes t­Student.
HASIL
Tujuh puluh lima penderita yang diikut sertakan terdiri
2 kelompok besar; yaitu kelompok I 30 penderita pengidap
sehat (P), dan kelompok II 45 penderita penyakit hati me-
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
18
background image
nahun yang terdiri dari 23 Hepatitis Menahun (HM), 14 Sirosis
Hati (SH) dan 8 Hepatoma (H).
Pada kedua kelompok besar ini diperbandingkan titer r­
PHSA pada HBeAg dan anti­HBe positif. Penderita dengan
HBeAg dan anti­HBe negatif tidak diperbandingkan karena
,
jumlahnya dianggap terlalu sedikit.
Kelompok I.
Pada gambar 1 tampak bahwa ada 11 penderita HBeAg
positif, dengan ­log titer r­PHSA rata-rata 5.86a (t = 5.86a)
sedangkan 17 penderita pada anti­HBe positif dengan ­log titer
r­PHSA rata-rata 0.85a (r7
2
= 0.85a). Temyata pada kelompok
I ini (pengidap sehat) titer r­PHSA rata-rata pada HBeAg
positif (5.86a) lebih tinggi dari pada yang anti­HBe positif
(0.85a), dan perbedaan ini secara statistik bermakna (p<0.01).
Gambar 1. Titer r­PHSA pada HBeAg dan anti­HBe + pada ke-
lompok I. (pengidap sehat)
HBeAg +
anti­HBe +
HBeAg/anti­HBe -
- Log titer
r­PHSA
10a
*
8a
**
6a **
a
**
**
4a
*
++
2a
+++ A
++++++++
0
+++ A
Sigma : 64.5a 14.5a 1.5a
N : 11 17 2 Jumlah 30
Mean : 5.86a 0.85a 0.75a
SD : 1.45a 0.82a 1.06a
Keterangan :
* = titer r­PHSA pada pengidap dengan HBeAg yang positif
+ = titer r­PHSA pada pengidap dengan anti­HBe positif
A
=
titer r­PHSA pada pengidap yang baik HBeAg maupun anIt
HBe-nya
negatif
A = log. 2 = 0.3010
Untuk mencari titer r­PHSA yang dapat dipakai sebagai
pembatas antara kemungkinan adanya HBeAg positif: atau
negatif pada kelompok I ini, maka diambil titer r­PHSA
sebesar R
I
­ 1 SD, yaitu 5.86a ­ 1.45a = 4.41a atau dibulatkan
menjadi 4.5a. Apabila titer r­PHSA 4.5a ini dipakai sebagai
titer pembatas maka dari gambar 1 terdapat 10 dari 11
penderita pada HBeAg positif yang titer r­PHSAnya di atas
4.5a, hanya seorang dengan titer r­PHSAnya di bawah 4.5a;
sedangkan tidak seorangpun pada anti­HBe positif yang titer r­
PHSAnya di atas 4.5a (tabel 1).
Kelompok II.
Pada gambar 2 terdapat 10 penderita penyakit hati dengan
HBeAg positif. dengan -log titer r­PHSA rata-rata 2.5a (xr =
2.5a) dan 32 orang dengan anti­HBe positif dengan ­log titer
r­PHSA rata-ratal .03a(x
2
= 1.03a).
Tabel 1. Titer r­PHSA pada HBeAg dan anti­HBe positif pada ke-
lompok I.
Titer r­PHSA
HBeAg +
Anti­HBe +
> 4.5a
10
0
< 4.5 a
1
17
2 sisa
n = 30
11
17
2 sisa
Keterangan :
Sensitivitas
=
10/11 = 90.9 %
Spesifisitas =
17/17
=
100
%
Positive predictive value
=
10/10 = 100 %
Negative predictive value
=
17/18 = 95 %
Gambar 2. Titer r­PHSA pada HBeAg dan anti­HBe pada kelompok II
(penyakit hati menahun).
HBeAg +
Anti­BHe +
'HBeAg/anti­HBe -
- Log. titer
r­PHSA
7a
6a
5a
*
*
4a
3a
*a
+
++
2a
+
+
la
*
*** +++++ A
0 **
*********+
Sigma :
25a 33a
2a
n
: 10
32
3 Jumlah
45
Mean :
2.5a 1.03a 0.66a
SD :
2.53a
1.40a
1.15a
Keterangan :
* = Hepatitis Manahan (HM
+ = Sirosis Hepatis (SH )
A
=
Hepatoma
(H)
a = log. 2 = 0.3010
Di sinipun terlihat bahwa x
t
(2.5a) lebih tinggi dari x
2
(1.03a), tetapi perbedaan ini secara statistik tidk bermakna
(p>0.05).
Apabila titer r­PHSA 4.5a sebagai pembahas diterapkan
pada kelompok II, maka akan terdapat gambaran seperti terlihat
pada tabel 2, dengan mengabaikan 3 penderita yang HBeAg
dan anti­HBe negatif.
PEMBAHASAN
Pada tahun 1974 dilaporkan adanya faktor yang dapat
menimbulkan aglutinasi eritrosit domba yang ditempel
dengan polimer albumin serum manusia (PHSA). Faktor
tersebut didapatkan pada serum penderita penyakit hati yang
HBsAg-nya positif. Pada tahun 1979 Imai dkk melaporkan
bahwa faktor tersebut berkaitan langsung dengan HBsAg,
walaupun tidak semua serum dengan HBsAg positif dengan
titer yang kurang lebih sama menunjukkan reaktivitas yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991 19
background image
Tabel 2. Titer r­PHSA pada HBeAg dan anti­HBe positif pada ke-
lompok II.
Titer r­PHSA
HBeAg +
Anti­HBe +
> 4.5a
3
2
< 4.5a
7
30
3 sisa
n = 45
10
32
3 sisa
Keterangan :
Sensitivitas
= 3/10
=
30 %
Spesifisitas =
30/32
=
94.5
%
Positive predictive value
= 3/5 = 60 %
Negative predictive value
= 30/37 = 82.5 %
Catatan : Nilai pembatas 4.5a = 4.5 log.2 = titer r­PHSA pada peng-
enceran 2 pangkat 4.5 ( 4.52 ).
sama. Ternyata serum dengan HBsAg positif akan bereaksi
lbih kuat bila juga didapatkan HBeAg, sedangkan bila ter-
dapat anti­HBe maka serum kurang bereaksi
2
. Pada penelitian
lebih lanjut ternyata bahwa r­PHSA didapatkan pada partikel
Dane, yaitu partikel HBsAg yang bulat maupun yang
memanjang yang dihasilkan pada fase HBeAg masih positif.
Jadi HBsAg dari serum.yang HBeAg-nya positif berbeda
dengan HBsAg dari serum dengan anti­HBe, dalam arti bahwa
HBsAg pada serum yang HBeAg positif mempunyai r­PHSA
yang lebih tinggi titernya dari pada yang anti­HBe positif
4
.
Pada tahun 1983 dilaporkan bahwa titer reseptor ini mem-
punyai arti panting terhadap prognosis penyakit. Apabila nilai
awal dari reseptor ini pada hepatitis B rendah, maka akan
terjadi konversi menjadi anti­HBe.
Dari uraian di atas jelas adanya dugaan keterkaitan yang
erat antara r­PHSA dengan HBeAg. Maka apabila r­PHSA
dapat diperiksa, hasil yang didapat sedikit banyak 'akan men-
cerminkan pula keadaan HBeAg dalam serum yang diperiksa.
Tes aglutinasi untuk mengetahui adanya r­PHSA telah
dikembangkan oleh Imai dkk. (1979). Tes ini dianggap lebih
sederhana, lebih mudah dilaksanakan dan memerlukan per-
alatan yang lebih murah dari pada tes untuk menentukan
HBeAg dengan cara ELISA dan RIA. Yang perlu diteliti lebih
lanjut ialah apakah r­PHSA ini mempunyai arti yang sama
untuk berbagai keadaan penyakit hati seperti penyakit hati akut,
menahun dan pengidap sehat.
Pada penelitian ini diperbandingkan titer r­PHSA pada
pengidap sehat dengan HBeAg dan dengan anti­HBe. Ter-
nyata bahwa titer r­PHSA pada yang HBeAg positif me-
ngelompok pada titer yang lebih tinggi daripada yang dengan
anti­HBe, sehingga nilai rata-ratanya jauh berbeda (Gambar 1).
Hal ini sesuai dengan pernyataan lmai dkk (1979). Nilai rata-
rata r­PHSA pada HBeAg (5.86a, SD 1.45a) berbeda secara
bermakna dengan nilai rata-rata pada anti­HBe untuk ke-
lompok pengidap sehat (0.85a, SD 0.82a) ( p < 0.01 ). Bila
dibandingkan nilai rata-rata r­PHSA pada HBeAg dengan
anti­HBe pada kelompok penyakit hati menahun, maka
terdapat perbedaan yang tidak terlalu besar dan juga tidak
bermakna pada tingkat p > 0.05. Apabila perbedaan HBeAg
dari anti­HBe dalam nilai titer r­PHSA dinyatakan dengan
suatu nilai pembatas atau nilai ambang, yang pada penelitian
ini diambil Mean ­ 1 SD atau 5.86a ­ 1.45a, atau 4.5a, maka
didapatkan angka-angka sensitivitas, spesifisitas dan nilai pre-
diksi seperti yang terpapar pada tabel 1 dan 2.
Nampaknya dad penelitian ini dapat ditarik kesimpulan
bahwa pada pengidap sehat pemeriksaan r­PHSA dapat meng-
gantikan pemeriksaan HBeAg, oleh karena sensitivitas maupun
spesifisitasnya, yang cukup tinggi. Hal ini berbeda dengan apa
yang ditemukan oleh Soewignyo dkk, yang mendapatkan nilai
sensitivitas hanya sekitar 50%
3
.
Di pihak lain, pada penderita penyakit hati menahun,
dengan nilai rata-rata sebesar 1.5, maka nilai ambang 4.5 tak
dapat menjaring arti yang bermakna, oleh karena semua
penderita baik dengan HBeAg maupun dengan anti­HBe
mempunyai nilai r­PHSA di bawah nilai ambang. Pada
gambar 2 juga dapat terlihat, bahwa sebaran nilai r­PHSA
pada penderita penyakit hati menahun dengan HBeAg .yang
positif terlalu bervariasi, sehingga karenanya juga didapatkan
nilai simpangan baku (SD) yang lebih tinggi dari nilai rata-rata
(mean).
Nampaknya pada penderita penyakit hati menahun dalam
berbagai bentuknya, secara kelompok, pemeriksaan r­PHSA
tidak dapat memberikan informasi apa-apa tentang ada tidak-
nya HBeAg. Apakah hal ini juga berlaku bagi masing-masing
jenis penyakit hati menahun secara sendiri-sendiri, masih perlu
diteliti lebih lanjut dengan jumlah penderita yang lebih banyak.
RINGKASAN DAN KESIMPULAN
Telah diteliti titer r­PHSA dan HBeAg seta anti­HBe pada
30 pengidap sehat dan 45 penderita penyakit hati menahun,
yang terdiri dari 23 penderita penyakit hepatitis menahun, 14
penderita sirosis hati dan 8 penderita karsinoma hati.
Pada pengidap sehat didapatkan titer r­PHSA rata-rata
5.86a pada penderita yang HBeAg positif, dan berbeda bar-
maka dengan yang anti­HBe positif (0.85a) ( p < 0.01 ).
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
20
background image
Bila dibandingkan dengan sensitivitas dan spesifisitas terhadap
HBeAg/anti­HBe, maka didapatkan nilai-nilai yang cukup
tinggi, sehingga dapat disimpulkan, bahwa pemeriksaan
r­PHSA pada pengidap sehat dapat menggantikan pemeriksa-
an HBeAg.
Pada kelompok penyakit hati menahun, secara kelompok
didapat titer rata-rata r­PHSA yang juga lebih tinggi pada yang
HBeAg positif daripada yang anti­HBe positif, tetapi
perbedaan ini tidak bermakna ( p > 0.05 ). Apabila sebagai nilai
batas diambil titer r­PHSA pada pengence,Jan 2 pangkat 4.5,
maka pemeriksaan r­PHSA sebagai pengganti pemeriksaan
HBeAg hanya akan berguna untuk pengidap sehat dan tidak
pada kelompok penyakit hati menahun.
KEPUSTAKAAN
1.
Miyakawa Y, Mayumi M. Hepatitis B e antigen and Antibody
(HBeAg/Anti­HBe) in: Gerty RY (ed): Hepatitis. New York Academic
Press Inc.; 1985. p 47­76.
2.
Thung SN, Gerber MA. Hepatitis B virus and Poly-albumin receptors.
Progress in Liver Diseases, VIII. Grune and Stratton; 1986 : p. 335­45.
3.
Soewignjo S, Widjaja A, Muljanto D, Sumarsidi, Mayumi M. Aglu-
tinasi eritrosit yang diliputi Albumin Serum Manusia, suatu petunjuk dari
adanya HBeAg dalam sera yang HBsAg positif. Pertemuan Ilmiah ke II,
PPHI, Jakarta, 1983, hal. 327­36.
4.
Alberti A, Pontisso E, Schiavon E, Realdi G. An antibody which
precipitates Dane particles ini Acute Hepatitis type B; relation to receptor
sites which bind Polymerized Human Serum Albumin on virus particles.
Hepatology 1984; p 4 : 220-6.
5.
Gerken G, Manns M, Wass G. Virus associated receptors for Polymerized
Human Serum Albumin (r­PHSA) in patients with Chronic Active
Hepatitis B treated with Recombinant Leucocyte A Interferon, Digestion
1987; p 37 : 96-102.
6.
Milich DR, Gottfried TB, Vyas GN. Characterization of the inter-action
berween Polymerized Human Albumin and Hepatitis B Surface Antigen.
Gatroenterology 1981; p 81 : 219-25.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih saya sampaikan kepada dr. Siswanto dari Lab/UPF Patologi
Klinik F.K. UNAIR Surabaya yang telah membantu dalam pengambilan dan
pengiriman sampel darah penderita ke Lab. Hepatitis Mataram, serta kepada
dr. Mulyanto beserta Staf dart Lab. Hepatitis Mataram yang telah melakukan
pemeriksaan laboratorium yang diperlukan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991 21