Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 29
Spondilitis Tuberkulosis dengan
Abses Retrofaringeal
Maryam, M. Farid
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin,
Rumah Sakit Umum Ujung Pandang, Ujung Pandang
SUMMARY
A case of cervical tuberculous spondylitis with retropharyngeal abcess in a three
year old boy was reported. The diagnosis was based on the history of illness, clinical
picture and radiological examination. He was treated with tuberculostatics and incision
of the abcess.
PENDAHULUAN
Spondilitis tbc ialah suatu osteomielitis kronik tulang
belakang yang disebabkan oleh kuman tbc
l
. Infeksi umumnya
mulai dari korpus vertebra lalu ke diskus intervertebralis dan
ke jaringan sekitarnya. Daerah yang paling sering terkena, ber-
turut-turut ialah daerah torakal terutama bagian bawah, daerah
lumbal dan serv ikal
1 - 4
. Akibat perkejuan akan terbentuk
abses yang dapat meluas ke sekitamya dan mencari jalan ke
luar. Paling sering mengikuti fasia otot psoas, berkumpul
dalam fosa iliaka sampai terjadi fistel kulit. Abses di daerah
servikal akan menyebar sebagalabses retrofaringeal
1,5
Makalah melaporkan satu kasus spondilitis tbc dengan
abses retrofaringeal, lokasi abses dingin yang paling jarang
dibanding dengan lokasi yang lain.
LAPORAN KASUS
S, laki-laki umur 3 tahun masuk Unit Perawatan Fungsional
Bagian Anak RSU Ujung Pandang dengan riwayat penyakit
sebagai berikut: sejak 2 bulan lalu terdapat benjolan di leher
dan bernanah. Leher nampak sukar digerakkan. Anak sukar
menelan dan sesak sejak 20 hari lalu. Sering demam, ber-
keringat malam, nafsu makan kurang dan makin hari makin
kurus. Serumah dengan neneknya yang menderita batuk darah.
Belum pernah mendapat vaksinasi BCG.
Pada pemeriksaan fIsik anak nampak sakit berat, gizi
buruk (BB
'
8,8 kg, PB 86 cm), kesadaran baik, suhu rektal
38,1°C, nadi 120/menit, reguler, berisi. Pernapasan 36 kali/
menit, stridor inspirasi.
Leher: tortikolis, pembesaran kelenjar limfe leher kiri,
kanan, bentuk paket, tak nyeri tekan, ada fistel dan jaringan
parut, warna kulit kebiru-biruan. Faring: nampak penonjolan
dinding posterior.
Toraks: simetris pada istirahat dan gerakan. Periksa ketok:
sonor kiri dan kanan, batas part depan dan belakang normal,
bunyi pemapasan vesikuler, tidak ada ronki. Jantung tidak
menunjukkan kelainan. Anggota gerak: tonus otot kesan
normal, sensibilitas baik, kekuatan kiri dan kanan normal,
refleks-refleks patologis tidak ada, wasting tidak ada. Kifosis:
setinggi ruas tulang belakang servikal II -- IV.
Hasil laboratorium: LED 65/jam I, Hb 11,6 gr%, leukosit
8000/mm3, hitung jenis: eos --, segmen 61, limfo 37, mono 2.
Uji tuberkulin 10 TU PPD 18 x 20 mm.
Pemeriksaan radiologik :
·
curiga destruksi korpus vertebra servikal II, III, IV dengan
penebalan . jaringan lunak pre vertebral.
·
bronkopneumonia.
Kesan: abses retrofaringeal, mungkin spondilitis tbc.
bronkopneumonia spesifik.
Diagnosis: Tuberkulosis paru
Spondilitis tuberkulosa
Abses retrofaringeal
Skrofuloderma
PEM (marasmus)
Pengobatan: Streptomisin 300 mg/hari i.m
INH 2 x 75 mg
Etambutol 2 x 100 mg
Vitamin A 1 x 100.000 IU
KC1 3 x 200 mg
Vitamin B kompleks dan C 2 x 1 tablet.
Pengamatan lanjut:
Hari 1 : Konsul THT : -abses retrofaringeal, insisi keluar pus.
Hari 4 : Keadaan umum baik.
Hasil pemeriksaan pus pada preparat langsung: ZN
basil tahan asam tidak ditemukan.
Hari 24: Konsul THT: tidak didapatkan abses retrofaringeal
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
30
dan luka insisi bersih.
Hari 30: Foto leher lateral kanan: jaringan lunak retrofaringeal
lebih tipis dibandingkan dengan foto sebelumnya;
kesan ada perbaikan.
DISKUSI
Tuberkulosis tulang terutama berasal dari fokus paru akibat
penyebaran hematogen maupun limfogen.. Penyebaran ke
tulang dapat segera berkembang dan manifes, atau tetap
tenang dan setelah beberapa bulan atau tahun menjadi aktif
4,6
.
Makin muda usia anak menderita kompleks primer, kemung-
kinan menderita tbc tulang makin besar. Semua bagian tulang
dapat terkena tetapi yang paling sering ialah tulang spongeus
l
.
Kelainan anatomi patologik yang mungkin terjadi pada tbc
tulang ialah
2
:
I) Masa kaseosa yang terjadi kecil sekali atau tidak terbentuk
sama sekali, terjadi erosi tulang, kanal Haversi runtuh, sedang
-
kan trabekule masih utuh sehingga terjadi osteoporosis.
Osteoklast memegang peranan penting dalam proses destruksi
ini.
2) Terjadi masa kaseosa, trabekule rusak, tulang melunak,
massa kaseosa menyebar ke jaringan lunak sekitarnya menim-
bulkan abses dingin. Kejadian ini lebih sering terjadi pada
tulang belakang.
Kerusakan korpus vertebrae membentuk deformitas yang
disebut gibus (kifosis). Jumlah vertebra yang terserang biasanya
lebih dari 1 buah, terbanyak 2--5 buah
5
.
Keluhan disebabkan oleh rangsangan dan penekanan ter-
hadap jaringan sekitamya, misalnya terhadap otot-otot dan
radiks dorsalis nervi spinalis dan gangguan fungsi medula
spinalis. Penderita selalu berusaha mengurangi gerakan tulang
belakang sehingga gerakan menjadi kaku
5,7
. Pada spondilitis
servikalis, nyeri dirasakan pada daerah belakang kepala dan
sekitar leher. Pergerakan leher terbatas, kadang-kadang tor-
tikolis.
Pada kasus yang dilaporkan, diagnosis spondilitis tbc dan
abses retrofaringeal ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit
berupa sering demam, berkeringat malam, nafsu makan kurang
yang sudah berlangsung 2 bulan, pergerakan leher terbatas,
tortikolis, penonjolan dinding posterior faring, stridor inspi-
rasi, sesak, uji tuberkulin positif dan diperkuat oleh pemeriksa-
an radiologik yang menunjukkan adanya destruksi korpus
vertebra servikal II--IV dengan penebalan jaringan lunak pre
vertebral.
RINGKASAN
Telah dilaporkan satu kasuslaid-laid umur 3 tahun dengan
spondilitis tbc servikalis yang disertai abses retrofaringeal.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, gambaran
klinik dan pemeriksaan radiologik. Diberi pengobatan tuber-
kulostatika dan insisi abses.
KEPUSTAKAAN
1.
Boyd W. A textbook of pathology. 7th ed. Philadelphia: Lea and
Febiger, 1964; 1232--4.
2.
Watts HG, Kirkpatrick J. The bones and joints. In: Behrman RE,
Vaughan VC, eds. Nelson textbook of pediatrics. 12th ed. Phila-
delphia: WB Saunders Co, 1983; 719--22.
3.
Caffey J, Silverman FN. Pediatric x--ray diagnosis. 4th ed. Chicago:
Year Book Medical Publishers, 1961; 1199-201.
4.
Staf Pengajar LIKA FKUI. Buku kuliah iimu kesehatan anak. Cetak-
an IV. Jakarta FKUI, 1985; 5 9 0 - 1 , 933--4.
5.
Sifontes JE. Tuberculosis. In: Bemett HL, Yinhom AH. Paediatrics.
15th ed. New York : Appleton Century Crofts, 1972; 6 6 2 - 9 0 .
6.
Smith MHD, Marqwis JR. Tuberculosis and other mycobacterial
infections. In: Feigin RD, Cherry JD, eds. Textbook of pediatric
infectious diseases. Philadelphia: WB Saunders Co, 1981; 1036--7.
7.
Miller FJW. Tuberculosis in children.1st ed. Edinburgh: Churchill
Livingstone, 1982; 1 9 0 - 8 .