background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Sindrom Hepatorenal
Sudung O. Pardede
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Sindrom hepatorenal (SHR) adalah terjadinya gagal ginjal pada penyakit hati
kronis, gagal hati tahap lanjut, dan hipertensi portal yang ditandai dengan penurunan
fungsi ginjal tanpa kelainan patologis pada ginjal atau gagal ginjal lain yang diketahui
sebabnya. Sindrom hepatorenal terjadi akibat vasokonstriksi ginjal sehingga terjadi
perubahan hemodinamik sistemik dan splanhnik, kelainan sistem neurohumoral seperti
hipertensi portal, vasodilatasi arteriol perifer, peningkatan volume plasma, aktivasi
sistem renin-angiotensin dan sistem saraf simpatis, dan hipersekresi hormon anti-
diuretik.
Diagnosis sindrom hepatorenal biasanya berdasarkan kriteria The International
Ascites Club. Sindrom hepatorenal biasanya progresif yang dapat dicetuskan oleh
perdarahan saluran cerna dan infeksi bakterial. Dalam tatalaksana SHR, selain terapi
umum, dapat diberikan vasodilator, vasokonstriktor, pirau peritoneovenous, pirau
portosistemik, dan dialisis. Transplantasi hati merupakan terapi definitif. Prognosis
sindrom hepatorenal umumnya buruk.
PENDAHULUAN
Sindrom hepato-renal (SHR) adalah keadaan terjadinya
gagal ginjal pada penderita penyakit hati yang berat, baik akut
maupun kronik, tanpa disertai kelainan patologis ginjal. Untuk
mendiagnosis SHR, penyebab lain gagal ginjal yang dapat
terjadi pada penyakit hati seperti hipovolemia, nefrotoksisitas
obat, sepsis, dan glomerulonefritis harus disingkirkan terlebih
dahulu. SHR ditandai dengan penurunan fungsi ginjal, kelainan
sirkulasi, dan kelainan aktivitas sistem vasoaktif endogen.
1-4
SHR dapat terjadi berdasarkan teori underfill dan overflow.
Berbagai mediator seperti nitric oxide, prostaglandin, trombok-
san, leukotrien, endotoksin, dan lain-lain telah diketahui turut
berperan dalam patogenesis SHR; juga beberapa hormon
seperti hormon antidiuretik dan glukagon. Meskipun sebagian
besar patogenesis SHR telah diketahui, pengobatannya belum
memuaskan. Secara umum, tatalaksana SHR terdiri dari terapi
suportif seperti terapi cairan, penghentian obat nefrotoksik,
dan mengatasi infeksi. Selain itu diperlukan optimalisasi
homeostasis ginjal, terapi bedah dan transplantasi hati. Ber-
bagai obat telah dicoba dalam tatalaksana SHR seperti orni-
pressin dan dopamin, dan midodrine dan octreotide.
1-3
.
Angka kejadian
SHR sangat jarang ditemukan dan belum ada data yang
jelas mengenai angka kejadiannya. Pada anak, SHR lebih
jarang ditemukan, mungkin karena jarangnya sirosis hepatis
pada anak.
1,3
Pada penelitian terhadap anak dengan gagal hati
berat yang dirujuk ke Universitas Pittsburgh, SHR didiagnosis
pada 12 di antara 294 (4,1%) dan pada 7 di antara 133 (5,3%)
anak yang menjalani transplantasi hati.
4
Dengan meningkatnya
kesadaran dokter terhadap penyakit ini, maka mungkin pe-
nyakit ini akan makin sering ditemukan.
1,3
Patogenesis SHR
Patogenesis SHR bersifat multifaktorial. Ada tiga faktor
yang dominan dalam terjadinya SHR yaitu: 1. Perubahan
hemodinamik yang menyebabkan penurunan tekanan arteri
rata-rata (mean arterial pressure). 2. Stimulasi sistem saraf
simpatis. 3. Meningkatnya sintesis mediator vasoaktif humoral
dan ginjal. Peranan masing-masing mediator ini berbeda pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
20
background image
setiap pasien, juga pada SHR akut dan kronik.
1,2
PERUBAHAN HEMODINAMIK
Pada penyakit hati berat dengan asites yang merupakan
risiko tinggi terjadinya SHR, dapat terjadi kelainan hemo-
dinamik atau kelainan ginjal sebelum terjadi SHR.
1,2,4
Kelainan
hemodinamik dapat berupa peningkatan curah jantung, vaso-
dilatasi arteriol yang menyebabkan penurunan resistensi vasku-
lar sistemik, hipotensi arterial, dan peningkatan resistensi
vaskular ginjal karena vasokonstriksi arteri renalis yang diikuti
dengan penurunan aliran darah ginjal dan laju filtrasi glome-
rulus (LFG). Retensi cairan terjadi karena berkurangnya volu-
me intravaskular akibat aktivasi sodium retaining hormonal
system seperti sistem saraf simpatis dan sistem renin angio-
tensin aldosteron (SRAA). Retensi natrium terjadi sekunder
sebagai respons terhadap aktivasi sistem saraf simpatis, SRAA,
dan lain-lain. Keadaan ini disebut dengan teori underfill.
1,2,4,5
Berdasarkan teori overflow, terjadi reabsorbsi natrium dan
air, serta peningkatan aktivitas saraf simpatis ginjal yang
menyebabkan vasokonstriksi ginjal. Kelainan primer adalah
retensi natrium karena meningkatnya reabsorbsi natrium dalam
ginjal. Retensi natrium menyebabkan volume intravaskular
meningkat yang akan masuk ke dalam rongga ekstravaskular
dan menyebabkan asites dan edema.
4,5
Retensi natrium merupa-
kan kelainan fungsi ginjal paling dini dan yang paling sering
ditemukan. Pada kebanyakan pasien sirosis hepatis, retensi
natrium telah terjadi pada LFG yang masih normal karena
meningkatnya reabsorbsi natrium di tubulus proksimal dan
distal. Retensi natrium mungkin juga terjadi akibat aktivitas
SRAA dan sistem saraf simpatis.
1,2,4,5
Retensi air timbul setelah retensi natrium karena ketidak-
mampuan ginjal mengekskresi air sehingga menyebabkan pe-
ningkatan cairan tubuh dan hiponatremia dilusional. Gangguan
ekskresi air terjadi karena meningkatnya kadar vasopresin,
menurunnya sintesis prostaglandin ginjal, menurunnya jumlah
filtrat ke ansa Henle karena peningkatan absorbsi natrium di
tubulus proksimal dan penurunan LFG.
4
Vasokonstriksi ginjal terjadi belakangan dan menyebabkan
penurunan aliran darah ginjal dan LFG tanpa disertai kelainan
anatomis ginjal yang bermakna. Terjadinya vasokonstriksi
ginjal dimediasi oleh sistem renin angiotensin, prostaglandin
ginjal, tromboksan, endotelin, sistem saraf simpatis, dan nitric
oxide.
1,2,4
Selain teori di atas, dikenal juga teori vasodilatasi perifer
yang mungkin terjadi karena hipertensi portal dan vasodilatasi
arteri splanhnik. Baroreseptor arteri menerima dilatasi arteri
sebagai penurunan volume darah arteri efektif dan memberikan
respons dengan menaikkan curah jantung, menurunkan resis-
tensi perifer dan aktivasi vasokonstriktor dan sodium retaining
hormonal system.
1,2,4,5
Beberapa zat atau mediator yang berperan dalam perubah-
an hemodinamik:
a. Nitric oxide
Nitric oxide disintesis oleh sel endotel dan sel otot polos
vaskular, dibentuk dari L- arginin menjadi L-sitrulin dan nitric
oxide dengan bantuan enzim nitric oxide synthetase. Nitric
oxide merupakan vasodilatator sistemik yang poten dan bersifat
antagonis terhadap efek vasokonstriktor angiotensin II dan
endotelin I.
1,2,4
b. Glukagon
Pada SHR, glukagon plasma akan meningkat dan me-
nyebabkan desensitisasi sirkulasi mesenterik terhadap katekola-
min dan angiotensin II yang mengakibatkan vasodilatasi.
Glukagon juga meningkatkan c-AMP intraselular yang bekerja
secara sinergistik dengan endotoksin untuk menginduksi nitric
oxide syntethase dan mengakibatkan pengeluaran nitric oxide
oleh sel otot polos vaskular.
1
c. Prostaglandin dan eikosanoid lainnya
Prostaglandin ginjal berperan mempertahankan fungsi
ginjal pada keadaan peningkatan kadar renin, angiotensin,
norepinefrin, atau vasopresin plasma seperti pada dehidrasi,
syok, dan penyakit hati dekompensasi. Prostaglandin mem-
punyai efek protektif pada sirkulasi ginjal melalui vasodilatasi
arteri, sebagai modulasi efek tubular arginin vasopresin (AVP)
dengan meningkatkan kadar PGE
2
melalui efek antagonis AVP
pada tubulus koligens, dan membantu pemeliharaan ekskresi
air bebas, PGE
2
dan PGI
2
(prostasiklin) adalah vasodilator
ginjal.
Pada SHR terdapat defisiensi prostaglandin ginjal dan
prostaglandin endoperoksidase sintetase di tubulus koligens
medula, tetapi defisiensi ini tidak terdapat pada pasien gagal
hati tanpa gagal ginjal.
1,2
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pada SHR terdapat penurunan ekskresi PGE
2
dan 6-keto PGF
1
alfa (metabolit PGI
2
) melalui urin. Hal ini menunjukkan bahwa
penurunan sintesis prostaglandin ginjal merupakan faktor pe-
nyebab terjadinya SHR. Kadar PGI
2
juga meningkat pada
SHR
(1)
.
d. Potassium channel
ATP-sensitive potassium channel dapat menyebabkan
vasodilatasi karena hiperpolarisasi sel otot polos vaskular.
Aktivator yang paling penting adalah hipoksia jaringan,
prostasiklin, dan nitric oxide.
1
e. Endotoksemia
Endotoksin diproduksi di lumen usus, memasuki sirkulasi
sistemik melalui pirau portosistemik dan merangsang produksi
nitric oxide. Endotoksin merupakan vasokonstriktor ginjal yang
poten tetapi dapat menyebabkan vasodilatasi sirkulasi lainnya.
4
Pada penyakit hati dekompensasi atau SHR, kadar endotoksin
biasanya meningkat karena peningkatan translokasi bakteremia
atau pirau portosistemik.
1
f. Sistem renin-angiotensin-aldosteron
Sistem renin-angiotensin-aldosteron (SRAA) distimulasi
pada 80% sirosis hepatis dan SHR dan menyebabkan pe-
ningkatan aktivitas renin dan aldosteron plasma. Pengeluaran
renin diatur melalui mekanisme: penurunan perfusi ginjal,
menurunnya sensasi terhadap konsentrasi NaCl di makula
densa, dan stimulasi sistem saraf simpatis melalui adrenoseptor
beta-1 di aparatus jukstaglomerulus. Peningkatan kadar angio-
tensin II akan melindungi fungsi ginjal melalui mekanisme
vasokonstriksi umum dan vasokonstriksi selektif arteriol eferen
glomerulus. Angiotensin II menyebabkan kontraksi otot polos,
vasokonstriksi, dan secara langsung menghambat absorbsi
natrium di tubulus, serta dapat memperbaiki LFG.
1,2,4
Pe-
ningkatan aldosteron terjadi karena meningkatnya produksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 21
background image
renin oleh ginjal dan bukan karena menurunnya katabolisme
aldosteron. Aldosteron akan meningkatkan absorbsi natrium di
tubulus koligens. Aktivasi SRAA akan membantu mem-
pertahankan tekanan darah pada penyakit hati berat. Pemberian
inhibitor angiotensin converting enzyme atau antagonis reseptor
angiotensin (saralasin) akan menyebabkan penurunan tekanan
darah sistemik dan resistensi vaskular sistemik pada pasien
sirosis hepatis dengan asites.
4
g. Hormon antidiuretik
Hormon antidiuretik (ADH) atau arginin vasopresin (AVP)
akan menyebabkan vasokonstriksi melalui reseptor V
1
dan
retensi air melalui reseptor V
2
di duktus koligens medula.
Sekresi AVP juga dipengaruhi oleh perubahan tekanan darah
dan peningkatan osmolalitas serum akan menyebabkan pe-
ningkatan kadar AVP. Pada sirosis hepatis dekompensasi dan
SHR, kadar AVP meningkat, akan menyebabkan vasokons-
riksi ginjal serta menurunkan aliran darah ginjal dan LFG.
4
h. Peptida natriuretik atrial
Atrial natriuretic peptide (Peptida natriuretik atrial - PNA)
dilepaskan ke sirkulasi sebagai respons terhadap distensi atrial
atau peningkatan kadar vasoaktif seperti AVP, angiotensin II,
dan endotelin. PNA menyebabkan vasodilatasi arteriol aferen
dan vasokonstriksi arteriol eferen yang mengakibatkan pening-
katan LFG. Pada sirosis hepatis dekompensasi dan SHR
terdapat peningkatan PNA.
4
i. Calcitonin gene related peptide
Calcitonin gene related peptide (CGRP) merupakan
vasodilator poten yang memediasi vasodilatasi pembuluh darah
mesenterik dan bertindak sebagai vasodilator arteri renal.
CGRP terdapat di susunan saraf, pembuluh darah, sistem
endokrin, serabut saraf perivaskular dalam hati, pembuluh
darah mesenterik, dan ginjal. Pada SHR kadar CGRP me-
ningkat. Belum jelas apakah CGRP merupakan mediator SHR
atau meningkatnya CGRP pada sirosis terjadi akibat penurun-
an klirens hati.
4,6
j. Sistem kinin kalikrein ginjal, sitokin, dan adenosin
Aktivasi kinin melalui enzim kalikrein akan menyebabkan
vasodilatasi ginjal dan meningkatkan aliran darah ginjal. Kinin
juga menghambat absorbsi natrium di tubulus ginjal. Aktivitas
sistem kinin dapat dinilai dengan mengukur ekskresi kalikrein
urin yang menggambarkan produksi kalikrein ginjal. Pada
SHR, terdapat penurunan ekskresi kalikrein yang berarti pro-
duksi kalikrein ginjal menurun dan berperan dalam terjadinya
gagal ginjal.
4
Bradikinin menurun mungkin akibat disfungsi
hati tetapi hubungannya dengan SHR belum jelas.
3
Adenosin akan menyebabkan vasodilatasi splanhnik dan
vasokonstriksi renal. Pada SHR terdapat peningkatan beberapa
sitokin dalam sirkulasi seperti tumor necrosis factor dan inter-
leukin-6 yang berperan penting dalam induksi nitric oxide
syntethase.
1,2
STIMULASI SISTEM SARAF SIMPATIS
Pada penyakit hati, kadar katekolamin plasma merupakan
indeks prognostik kelangsungan hidup ginjal. Pada sirosis
hepatis dan SHR, terjadi stimulasi sistem saraf simpatis. Pada
SHR peningkatan norepinefrin disebabkan oleh sekresi yang
meningkat di vascular beds ginjal dan splanhnik. Aksis sim-
patis dapat distimulasi melalui tiga mekanisme yaitu:
a.
Melalui reseptor tekanan (pressure receptor) sebagai res-
pons terhadap hipotensi di arkus aorta dan glomus
karotikus, serta reseptor volume (volume receptor) sebagai
respons terhadap hipovolemia di atrium.
b.
Melalui baroreseptor hepar yang tidak tergantung volume
(nonvolume dependent)
c.
Sekunder terhadap perubahan metabolik seperti respons
terhadap hipoglikemia.
Peningkatan tekanan intrahepatik berhubungan dengan
peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis eferen renal. Efek
predominan perangsangan sistem saraf simpatis ginjal adalah
vasokonstriksi arteriol aferen ginjal (adrenoreseptor-) dengan
penurunan aliran plasma ginjal dan LFG serta retensi natrium.
Hal ini dapat mengaktifkan sekresi renin (reseptor ) yang
selanjutnya menyebabkan retensi natrium. Pemberian bloker-
akan menginduksi berbagai respons pada sirosis hati, tetapi
tidak dapat diberikan pada SHR. Blokade adrenergik-
akan
menginduksi hipotensi arterial, dan memperburuk perfusi
ginjal. Sebaliknya, pemberian norepinefrin biasanya menye-
babkan perbaikan fungsi ginjal pada SHR yang kemungkinan
terjadi sekunder akibat perbaikan hemodinamik sistemik.
1
SINTESIS MEDIATOR HUMORAL DAN VASOAKTIF
GINJAL
Pada SHR terdapat peningkatan sintesis mediator vasoaktif
yang menyebabkan kontraksi sel mesangial, serta penurunan
koefisien ultrafiltrasi kapiler glomerulus (K
f
) dan fraksi filtrasi.
Beberapa mediator tersebut antara lain:
a. Endotelin
Endotelin adalah peptida asam amino 21 yang terutama
disintesis oleh sel endotel dan mengakibatkan kontraksi otot
polos vaskular. Di ginjal, efek utama endotelin adalah vaso-
konstriksi yang menimbulkan penurunan aliran darah ginjal
dan LFG, serta merupakan agonis poten dari kontraksi sel
mesangial. Pada SHR dan penyakit hati dekompensasi, kon-
sentrasi endotelin-1 akan meningkat dan berkorelasi dengan
klirens kreatinin. Penyebab peningkatan endotelin plasma
belum diketahui dengan pasti.
1,4
b. Leukotrien sisteinil
Leukotrien C
4
dan D
4
diproduksi oleh sel inflamasi seri
mieloid dan merupakan vasokonstriksi ginjal yang poten dan
menyebabkan kontraksi sel mesangial. Sintesisnya distimulasi
oleh endotoksemia, aktivasi komplemen, atau oleh beberapa
sitokin. Pemberian leukotrien C
4
intravena menyebabkan pe-
ningkatan resistensi vaskular ginjal, penurunan aliran darah
ginjal dan LFG. Pada SHR, sintesis leukotrien sisteinil sistemik
dan ginjal meningkat. Leukotrien E
4
seperti N-asetil leukotrien
E
4
dalam urin sangat meningkat.
1,4
c. Tromboksan A
2
Tromboksan A-2 adalah vasokonstriktor ginjal. Produksi
tromboksan A
2
dirangsang oleh iskemi ginjal yang menye-
babkan vasokonstriksi dan kontraksi sel mesangial. Peningkat-
an kadar prostaglandin dan tromboksan A
2
sejalan dengan
koreksi klirens kreatinin pada pasien SHR dibandingkan
dengan pada pasien dengan gagal hati berat. Inhibisi sintesis
tromboksan A
2
dengan dazoxiben tidak mempengaruhi fungsi
ginjal.
1,2,4
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
22
background image
PATOFISIOLOGI
Hipoperfusi ginjal terjadi akibat vasokonstriksi ginjal yang
merupakan tanda utama SHR. Pada SHR ada dua teori yang
dikemukakan untuk menjelaskan hipoperfusi ginjal: Teori
pertama adalah: hipoperfusi ginjal berhubungan dengan hati
yang sakit tanpa ada hubungan dengan gangguan sistem
hemodinamik. Teori ini berdasarkan hubungan langsung ginjal
hati, yaitu penyakit hati dapat menginduksi vasokonstriksi
ginjal yang menyebabkan penurunan perfusi ginjal dan hati
dapat mengatur fungsi ginjal melalui refleks hepatorenal. Teori
kedua adalah: hipoperfusi ginjal berhubungan dengan perubah-
an sistem hemodinamik yang merupakan hipotesis vasodilatasi
arteri. Menurut teori ini, underfilling sirkulasi arteri menyebab-
kan hipoperfusi ginjal, bukan sebagai konsekuensi penurunan
volume intravaskular tetapi karena vasodilatasi arteriol yang
hebat yang terjadi pada sirkulasi splanhnik.
1,2,4
Selain vasokonstriksi pembuluh darah ginjal, terjadi juga
gangguan hemodinamik ekstrarenal berupa tahanan vaskular
sistemik yang menurun dan hipotensi arterial (Bataller
dkk.,1998). Pada sirosis hepatis tanpa SHR terdapat vaso-
dilatasi sistemik sedangkan pada sirosis hepatis dengan SHR
terdapat vasokonstriksi perifer. Keadaan ini membuktikan
bahwa pada SHR terdapat penumpukan darah splanhnik yang
menimbulkan penurunan aliran darah ginjal. Pemberian vaso-
presin yang menyebabkan vasokonstriksi splanhnik terbukti
dapat meningkatkan aliran darah ginjal dan LFG. Vasokons-
triksi ginjal mungkin berhubungan dengan peningkatan pro-
duksi tromboksan-A2 (suatu vasokonstriktor) dan penurunan
prostaglandin-2 (suatu metabolit dilatasi).
7
Secara garis besar, ada dua faktor yang berperan pada
patofisiologi SHR yaitu vasokonstriktor dan vasodilator.
Faktor vasokonstriktor : Sistem renin angiotensin dan sistem
saraf simpatis merupakan mediator vasokonstriktor ginjal
pada SHR. Pada sirosis hepatis dan SHR terdapat peningkatan
AVP, endotelin, eikosanoid, adenosin, dan endotoksin yang
menyebabkan aktivitas sistem vasokonstriktor meningkat,
aliran darah ginjal dan LFG menurun. Endotelin meningkat
mungkin disebabkan meningkatnya produksi peptida dalam
hati atau sirkulasi splanhnik.
1,2,4
Faktor vasodilator : Pada sirosis hepatis dan SHR terdapat
peningkatan vasodilator ginjal seperti prostaglandin, nitric
oxide, dan peptida natriuretic (PNA, peptida natriuretic brain,
urodilatin). Prostaglandin dapat mengimbangi efek yang timbul
karena peningkatan kadar vasokonstriktor terhadap fungsi
ginjal. Pemberian prostaglandin akan menurunkan aliran darah
ginjal dan LFG. Prostaglandin dapat mempertahankan aliran
urin dan ekskresi natrium pada peningkatan konsentrasi ADH,
renin, dan aldosteron dalam urin. Pemberian inhibitor sintetase
prostaglandin pada sirosis hepatis dekompensasi akan me-
nurunkan pengeluaran urin dan ekskresi garam. Blokade pada
reseptor peptida natriuretik A dan B dengan antagonis selektif
HS-142-1 dapat menginduksi vasokonstriktor ginjal tanpa
perubahan pada hemodinamik sistemik, menimbulkan dugaan
bahwa peptida ini berperan dalam mempertahankan perfusi
ginjal pada sirosis hepatis.
1,2,4
Beberapa zat tertentu dapat mencetuskan SHR. Bilirubin
conjugated dan garam empedu dapat mencetuskan kerusakan
anoksik terhadap ginjal. Endotoksin merupakan vasokonstriktor
yang mengaktivasi sistem renin angiotensin dan menyebabkan
kadar renin dan angiotensin II plasma meningkat.
Peningkatan tonus simpatis terjadi karena meningkatnya
tekanan intrahepatik dan penurunan volume darah arteri efektif.
Peningkatan aktivitas simpatis menyebabkan stimulasi saraf
ginjal dan pelepasan renin yang menyebabkan penurunan aliran
plasma ginjal dan LFG, serta meningkatnya retensi natrium
baik secara langsung maupun melalui peningkatan aktivitas
angiotensin II.
3
Pada arteriografi renal selektif dan
113
Xe washout studies
terbukti bahwa kelainan pada SHR adalah kelainan fungsi
ginjal. Pada pemeriksaan patologi anatomi dapat ditemukan
kelainan berupa glomerulosklerosis dan glomerulonefritis
membranoproliferatif.
8
Penyebab vasokonstriksi kortikal ginjal
pada SHR belum diketahui dengan pasti. Salah satu teori
menyebutkan bahwa vasokonstriksi terjadi sekunder karena
penurunan volume plasma ekstrarenal. Ginjal akan meningkat-
kan pengeluaran renin dan produksi angiotensin II, menye-
babkan penurunan LFG yang mengakibatkan gagal ginjal
oligurik. Pada SHR terdapat perubahan hemodinamik sistemik
dan regional. Pada sirosis hepatis tanpa SHR, terdapat vaso-
dilatasi sistemik sedangkan pada SHR terdapat vasokonstriksi
perifer yang menunjukkan bahwa pada SHR terdapat pe-
numpukan darah splanhnik yang menyebabkan penurunan
aliran darah ginjal. Hal ini diperkuat hasil penelitian yang
melaporkan bahwa pemberian 8-ornitin vasopresin yaitu suatu
vasokonstriktor splanhnik menyebabkan peningkatan aliran
darah ginjal dan LFG pada pasien sirosis hepatis dengan gang-
guan fungsi ginjal.
SHR dapat terjadi karena ketidakseimbangan produksi
vasodilatator dan vasokonstriktor lokal. Sintesis vasodilator
prostaglandin PGE
2
dan PGI
2
oleh ginjal
akan meningkat pada
sirosis hepatis tetapi akan menurun secara bermakna jika sirosis
hepatis disertai SHR. Pada SHR vasokonstriksi dapat disebab-
kan oleh penurunan produksi prostaglandin. Bukti ketidakse-
imbangan vasokonstriksi dan vasodilatasi ginjal diperkuat oleh
penelitian tentang pemberian tromboksan A
2
(TxA
2
) yaitu suatu
vasokonstriktor kuat pada SHR. Pada sirosis hepatis dengan
SHR, terdapat peningkatan tromboksan B
2
urin
yaitu bentuk
inaktif TxA
2,
serta penurunan PGE
2
urin jika dibandingkan
dengan sirosis hepatis tanpa SHR. Dengan demikian, SHR
dapat disebabkan oleh peningkatan produksi vasokontriktor
TxB
2
atau penurunan vasodilator PGE
2
atau ketidakseimbangan
keduanya.
1,2,4
FAKTOR PREDIKTOR SHR
Beberapa faktor prediktor terjadinya SHR pada sirosis
hepatis nonazotemik adalah: asites, tidak ada hepatomegali,
gizi buruk, LFG menurun, kreatinin dan ureum serum mening-
kat, hiponatremia, hiperkalemia, retensi natrium atau ekskresi
natrium urin yang rendah, osmolalitas plasma yang rendah,
osmolalitas urin yang tinggi, aktivitas renin plasma yang
meningkat, hipotensi arterial, klirens air bebas yang rendah
peningkatan norepinefrin plasma, dan terdapatnya varises
esofagus.
2,4,9
Di antara faktor prediksi ini, faktor prediksi yang
paling utama terjadinya SHR adalah tidak terdapatnya hepato-
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 23
background image
megali, status gizi buruk, dan varises esophagus. Fungsi hati
dan penyebab sirosis hepatis tidak mempunyai nilai dalam
memprediksi terjadinya SHR.
9
Menurut Gines dkk (1993), kemungkinan terjadinya SHR
pada sirosis hepatis nonazotemik dengan asites adalah 24%
(56/234), 18% terjadi dalam 1 tahun dan 39% dalam 5 tahun,
9
sedangkan menurut Bataller dkk. (1998), kemungkinan terjadi-
nya SHR adalah 20% dalam tahun pertama dan 40% dalam 5
tahun.
2
Pada 50% (28/56) pasien SHR, didapatkan faktor
pencetus berupa infeksi bakteri berat pada 16 kasus (8 sepsis, 7
peritonitis bakterial spontan, 1 pneumonia), perdarahan saluran
cerna pada 10 kasus, parasentesis dengan pemberian albumin
intravena 2 kasus, dan tidak satu pasien pun yang mengalami
renjatan sebelum terjadinya SHR. Pada 28 kasus (50%), tidak
terdapat faktor pencetus sebelum terjadinya SHR. Perbaikan
fungsi ginjal selama pemantauan didapatkan pada 2 kasus yang
keduanya mendapat parasentesis dengan pemberian albumin
intravena. Pada 54 pasien lainnya, SHR berlangsung dengan
progresif.
9
GAMBARAN KLINIS
SHR dapat terjadi pada penyakit hepatoselular yang berat
dan pada ikterus minimal dengan disfungsi hati. Pada sebagian
besar sirosis hepatis yang datang ke rumah sakit belum terdapat
gagal ginjal akut. Diagnosis SHR biasanya ditegakkan setelah
pasien dirawat di rumah sakit. Awitan gagal ginjal tidak jelas
dan dapat dicetuskan oleh perdarahan saluran cerna, pemberian
diuretik yang agresif, dan parasentesis abdominal.
SHR ditandai dengan gagal ginjal progresif cepat pada
pasien dengan ikterus, hepatosplenomegali, hipertensi portal,
hipoalbuminemia, dan asites. Hipotensi biasanya terjadi pada
stadium terminal. Pada sebagian besar pasien, kadar natrium,
kalium, dan albumin di bawah normal.
3,10
Kreatinin dan ureum
meningkat perlahan-lahan dalam beberapa hari sampai bebe-
rapa minggu tetapi peningkatannya tidak setinggi seperti pada
gagal ginjal. Dapat terjadi hipokalemia karena kehilangan
kalium melalui saluran cerna akibat muntah dan diare atau
karena pemberian diuretik. Hiponatremia terjadi karena pe-
nurunan klirens air bebas.
Fungsi tubulus umumnya normal dan natrium urin biasa-
nya < 10 mEq/l, namun pada beberapa kasus dilaporkan
natrium urin > 10 mEq/l. Karena kemampuan konsentrasi urin
pada SHR tidak terganggu, maka umumnya osmolalitas urin
lebih tinggi daripada osmolalitas plasma, fraksi ekskresi
natrium < 1%, osmolalitas urin/plasma > 1, rasio kreatinin urin
/plasma >10, dan ekskresi kalium meningkat. Protein urin harus
< 500 mg/hari dan sedimen urin normal atau hampir normal.
Pada SHR biasanya tidak ada kerusakan glomerulus dan
tubulus yang bermakna dan tidak terdapat hematuria dan pro-
teinuria. Jika terdapat hematuria dan atau proteinuria maka
diagnosis SHR perlu dipertimbangkan lagi karena kemung-
kinan besar keadaan ini merupakan kelainan glomerulus.
2,6,11
Sebagian besar pasien SHR meninggal dalam waktu 3
minggu sejak awitan azotemia dan pasien jarang hidup dalam
beberapa bulan dengan azotemia, meskipun ada laporan ter-
jadinya penyembuhan.
10
Secara klinis, SHR dapat juga dibagi menjadi SHR tipe I
(SHR akut) dan SHR tipe II (SHR kronik).
SHR tipe I
Pada SHR tipe I atau SHR akut pasien biasanya tampak
sakit berat disertai anuria, oliguria, hiponatremia, hiperkalemia,
ikterus, ensefalopati, dan koagulopatia. Sering terdapat pada
pasien hepatitis alkoholik dan gagal hati fulminan. Biasanya
pasien dirawat dengan kadar kreatinin serum yang masih nor-
mal dan gagal ginjal terjadi selama perawatan. Peningkatan
ureum dan kreatinin terjadi dengan cepat dalam waktu 1-14
hari.
4
Kurang lebih 50% SHR tipe I akan terjadi spontan tanpa
faktor pencetus, dan pada 50% lagi biasanya disertai faktor
pencetus seperti infeksi bakteri, perdarahan saluran cerna, para-
sentesis tanpa pemberian plasma expander, pemberian diuretik,
perburukan fungsi hati, dan operasi besar.
2
Sekitar 15% sirosis
hepatis dengan peritonitis bakterialis spontan akan menjadi
SHR tipe I. SHR juga terjadi pada 10-15% pasien sirosis hepa-
tis dengan asites yang menjalani terapi parasentesis tanpa
pemberian plasma expander, dan penurunan fungsi ginjal
terjadi karena disfungsi sirkulasi setelah parasentesis.
1,2,7
SHR
akut mempunyai prognosis yang buruk dengan median survival
time kurang dari 2 minggu.
4
SHR tipe II
SHR tipe II atau SHR kronik adalah SHR dengan gagal
ginjal yang progresif perlahan-lahan dengan peningkatan
ureum dan kreatinin terjadi dalam beberapa minggu hingga
beberapa bulan. SHR kronik biasanya dihubungkan dengan
penyakit hati tahap lanjut tetapi relatif stabil seperti penyakit
hati kronik karena hepatitis B, hepatitis C, dan sirosis bilier
primer. Kadang-kadang SHR kronik memberikan respons tem-
porer terhadap penambahan volume cairan. Survival time lebih
lama dari SHR akut tetapi lebih singkat dibandingkan dengan
pasien asites tanpa gagal ginjal.
4
SHR kronik ditandai dengan gagal ginjal oliguria, hipo-
natremia, kadar natrium urin yang rendah, biasanya ditandai
dengan asites yang resisten terhadap diuretik, dan terdapat
ikterik ringan.
1,2
Pengukuran serial kadar natrium urin dan
osmolalitas urin dapat digunakan untuk membedakan SHR dari
nekrosis tubular akut (NTA) karena kadar natrium urin akan
naik dan osmolalitas urin biasanya sama dengan osmolalitas
plasma.
2,4,7
DIAGNOSIS
Sampai saat ini belum ada pemeriksaan yang spesifik
untuk mendiagnosis SHR. Biasanya SHR didiagnosis dengan
mengevaluasi LFG dan menyingkirkan penyebab gagal ginjal
prerenal, glomerulonefritis, nekrosis tubular akut, dan nefro-
toksisitas karena obat. Adanya proteinuria bermakna dan atau
kelainan ginjal akan mengarah ke penyakit ginjal lain.
1,2,4
Pada tahun 1978, di Sassari, Italia, diajukan kriteria
diagnostik SHR yang terdiri dari kriteria mayor dan kriteria
minor, tetapi pada tahun 1994, di Chicago, The International
Ascites Club menyempurnakan kriteria di atas dengan kriteria
baru. Dalam mendiagnosis SHR, semua kriteria mayor harus
ada sedangkan kriteria tambahan tidak harus terpenuhi
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
24
background image
semuanya.
Kriteria mayor terdiri dari: 1. penyakit hati akut atau
kronik dengan gagal hati lanjut atau hipertensi portal; 2.
penurunan LFG yang ditandai dengan peningkatan kreatinin
serum > 1,5 mg/dl atau klirens kreatinin < 40 ml/menit; 3.
tidak ada penyebab gagal ginjal yang lain seperti syok, infeksi
bakterial, pemberian obat nefrotoksik, kehilangan cairan me-
lalui saluran cerna (muntah atau diare), dan kehilangan cairan
melalui ginjal; 4. tidak ada perbaikan fungsi ginjal dengan
penghentian diuretik, perbaikan volume plasma atau dengan
pemberian cairan NaCl isotonik; 5. proteinuria < 500 mg/dl dan
dengan pemeriksaan ultrasonografi tidak terlihat uropati obs-
truktif atau penyakit parenkim ginjal.
Kriteria tambahan adalah oliguria, natrium urin < 10
mEq/l, osmolalitas urin > osmolalitas plasma, sel darah merah
urin < 50 per lapangan pandang besar, dan konsentrasi Na
serum < 130 mEq/l.
11
Diagnosis SHR harus dipertimbangkan pada setiap pasien
sirosis hepatis yang disertai gagal ginjal oligurik atau non oli-
gurik, tetapi perlu diingat bahwa gagal ginjal akut dapat terjadi
pada penyakit hati kronik akibat NTA, azotemia prerenal, dan
SHR.
6
Diagnosis banding
Beberapa penyakit yang dapat menyerupai SHR antara
lain:
1. Nekrosis tubular akut
Nekrosis tubular akut (NTA) relatif sering terjadi pada
sirosis hepatis dengan asites, hipotensi, sepsis, dan nefrotoksik
karena obat seperti aminoglikosida terutama jika obat ini
dikombinasi dengan sefotaksim. Pada NTA biasanya sedimen
urin memperlihatkan silinder granular dan ekskresi natrium
urin > 10 mEq/l. Enzim urin seperti gamma glutamiltrans-
peptidase, leusin aminopeptidase, dan
-2 mikroglobulin dapat
digunakan untuk membedakan NTA dengan SHR.
4
2. Gagal ginjal karena obat
Beberapa obat seperti antiinflamasi non steroid, antibiotik,
zat kontras intravena, dan diuretik dapat mencetuskan gagal
ginjal. Obat antiinflamasi non steroid seperti aspirin, ibuprofen,
piroksikam, indometasin akan menghambat sintesis prostaglan-
din, menyebabkan vasokonstriksi arterial dan penurunan aliran
darah ginjal dan LFG.
4
3. Glomerulopati
Glomerulopati karena penyakit kompleks imun (seperti
krioglobbulinemia) dan nefropati IgA dapat menyerupai SHR
4. Azotemia prerenal
Pada SHR terdapat penurunan volume vaskular dan
vasokonstriksi ginjal yang ditandai dengan natrium serum yang
rendah, osmolalitas urin yang meningkat, rasio osmolalitas
urin/plasma yang meningkat, dan rasio kreatinin urin/plasma
yang tinggi. Gambaran laboratorium dalam darah dan urin
sama dengan azotemia prerenal. Keadaan ini berbeda dengan
NTA yang ditandai dengan meningkatnya natrium dalam urin
(>30 mEq/L), osmolalitas urin sama dengan plasma, rasio
osmolalitas urin : plasma yang rendah, dan rasio kreatinin urin :
plasma yang rendah (< 20 : 1).
4,5,11
Pemberian plasma expander seperti salin normal atau
koloid dapat digunakan sebagai uji diagnostik untuk menying-
kirkan gagal ginjal prerenal.
3
Pada gagal ginjal prerenal,
penurunan LFG akan kembali normal dengan pemberian
plasma expander dan ini tidak terjadi pada SHR.
3,4,5,11
TATALAKSANA
Tatalaksana SHR bertujuan untuk mengatasi masalah yang
masih reversibel dan dapat diobati (misalnya hipovolemia)
serta terapi suportif untuk regenerasi hati (pada penyakit hati
akut), sedangkan tatalaksana definitif adalah transplantasi hati.
Menurut Dictant dan Gonwa (1993), tata laksana SHR terdiri
dari tatalaksana umum, optimalisasi homeostasis ginjal, terapi
suportif ginjal, terapi bedah dan transplantasi hati.
12
Pada sirosis hepatis, insufisiensi ginjal biasanya terjadi
sekunder karena hipovolemia (karena pemberian diuretik dan
perdarahan saluran cerna), obat anti inflamasi nonsteroid, dan
sepsis.
2,4,5,12
Tatalaksana yang paling penting pada SHR adalah
mencegah dan menangani keadaan yang dapat mencetuskan
terjadinya SHR mengingat saat ini tidak ada terapi yang efektif.
Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid, demeclocycline
hydrochloride, dan obat nefrotoksik seperti aminoglikosida
harus dihindari pada pasien gagal hati. Dehidrasi, perdarahan
saluran cerna, dan septikemia harus ditatalaksana dengan
adekuat untuk menurunkan risiko terjadinya SHR. Pemberian
diuretik harus hati-hati untuk mencegah defisit cairan intra-
vaskular. Loop diuretic seperti muzolimin menyebabkan
diuresis lebih perlahan dan efek kehilangan kalium yang lebih
rendah, dan aktivitas stimulasi renin yang lebih rendah.
3,7
Pemberian antibiotik untuk mencegah peritonitis bakterialis
pada sirosis hepatis risiko tinggi dapat menurunkan insidens
SHR. Gagal ginjal akut ditatalaksana sebagaimana gagal ginjal
akut pada umumnya.
2,4,5,6,12
Beberapa tindakan lain sudah dicoba seperti lumbar
symphatectomy, penambahan volume plasma dan ex vivo
baboon liver perfusion tetapi hasilnya tidak memuaskan.
4
Head-out water immersion dapat memperbaiki diuresis dan
perfusi ginjal tetapi pelaksanaannya tidak praktis untuk
pemakaian jangka lama. Plasma exchange dilaporkan tidak
efektif.
4,5
Meskipun parasentesis abdominal perlu dihindari pada
pasien dengan asites yang tegang, penelitian membuktikan
bahwa tindakan tersebut dapat menjadi aman jika dilakukan
bersamaan dengan pemberian albumin intravena.
2,5,6,12
Drainase
cairan asites dengan parasentesis dapat memperbaiki hemo-
dinamik ginjal dan fungsi ginjal melalui penurunan tekanan
vena renalis. Namun demikian, parasentesis abdominal hanya
menyebabkan perbaikan sesaat, tidak dalam jangka panjang.
4,6
Dalam tatalaksana SHR, perlu perhatian terhadap pening-
katan produksi sitokin yang mungkin sebagai konsekuensi
endotoksin dalam sirkulasi atau stres oksidan. Peningkatan
konsentrasi F
2
-isoprostanes pada SHR mengindikasikan adanya
peningkatan peroksidasi lipid dan menyebabkan stres oksidan.
Oxidant-stress-dependent pathways terbukti berperan pada
ekspresi gen dari berbagai sitokin pada SHR. Saat ini perhatian
lebih dipusatkan pada terapi suportif untuk mencapai keadaan
yang optimal atau transplantasi hati.
12
1. Vasodilator ginjal
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 25
background image
Vasodilator ginjal bertujuan menurunkan tahanan vaskular
intrarenal. Beberapa telah digunakan dalam tatalaksana SHR
seperti prostaglandin A
1
atau E
1
, misoprostol (analog PGE
1
),
alpha adrenergic blockers, beta adrenergic agonist, asetilkolin,
dan papaverin.
4
Pemberian vasodilatator prostaglandin PGE
1
dan PGA
1
(3,6,7)
dan misoprostol (bentuk sintetik PGE2) tidak
selalu diikuti perbaikan fungsi ginjal pada SHR.
2
Upaya memaksimalkan aliran darah ke ginjal dapat dilaku-
kan dengan pemberian dopamin, optimalisasi tekanan darah,
dan modulasi K
f
. Optimalisasi rerata tekanan arteri sangat
penting dan tekanan darah yang diinginkan tergantung pada
usia anak. Modulasi K
f
diduga dapat memperbaiki aliran darah
ke ginjal, tetapi belum ada penelitian tentang efek antagonis
setiap faktor (endotelin dan leukotrin) yang mempengaruhi
modulasi K
f
.
12
Pemberian antagonis spesifik reseptor endotelin A
(BQ123) dapat memperbaiki fungsi ginjal pada SHR.
2
Infus
dopamin dosis rendah yang berfungsi untuk menginduksi
vasodilatasi ginjal dapat memperbaiki aliran darah ke ginjal,
tetapi ada laporan yang menyebutkan bahwa pada sirosis hati
dengan atau tanpa SHR, dopamin tidak menyebabkan
perbaikan LFG. Holt dkk (1998) melaporkan bahwa pemberian
N-asetil sistein pada SHR dapat memperbaiki fungsi ginjal.
13
Hadengue dkk. (1998) memberikan terlipressin selama 2 hari
pada SHR dan tampak peningkatan klirens kreatinin, diuresis
yang meningkat tanpa mempengaruhi kadar natrium. Kadar
renin dan aldosteron plasma menurun secara bermakna, tetapi
kadar ANP tidak terpengaruh.
14
Ornipressin yang diberikan
bersama dopamin bermanfaat dalam tata laksana SHR terutama
sebelum transplantasi hati.
15
Glipresin atau oktapresin akan
menginduksi perubahan sirkulasi hiperdinamik, menurunkan
angiotensin dan katekolamin plasma, serta menyebabkan diu-
resis dan natriuresis.
1
2. Vasokonstriktor
Hipoperfusi ginjal pada SHR berhubungan dengan
underfilling sirkulasi arterial sehingga vasokonstriktor dapat
memperbaiki perfusi ginjal dengan meningkatkan tahanan
vaskular sistemik dan penekanan aktivitas vasokonstriktor
sistemik. Pemberian vasokonstriktor seperti norepinefrin, meta-
raminol, angiotensin II, ornipressin, dan aprotinin pada SHR
akan menginduksi vasokonstriksi arterial yang menyebabkan
peningkatan tekanan arteri dan tahanan vaskular sistemik serta
menurunkan indeks kardiak.
Infus vasopresin, desmopresin, dan norepinefrin dapat
memberikan hasil yang memuaskan. Ornipresin yaitu analog
vasopresin yang merupakan vasokonstriktor splanhnik poten
dapat memperbaiki sirkulasi hiperdinamik, meningkatkan LFG
dan ekskresi natrium urin, namun dapat menimbulkan vaso-
konstriksi sistemik yang dapat menyebabkan nekrosis iskemik.
Mekanisme kerja diduga melalui vasokonstriksi sirkulasi
splanhnik. Aprotinin akan memperbaiki natriuresis dengan cara
menghambat sistem kalikrein-kinin yang menimbulkan vaso-
konstriksi sirkulasi splanhnik dan peningkatan aliran darah
ginjal.
4,16
Kombinasi vasokonstriktor seperti ornipressin dan nore-
pinefrin dengan vasodilatasi ginjal seperti dopamin dan
prostasiklin dilaporkan tidak dapat memperbaiki fungsi ginjal.
Pada SHR, kombinasi ornipressin dan albumin dapat mem-
perbaiki fungsi ginjal, memperbaiki perubahan hemodinamik,
serta menormalkan aktivitas berlebih renin-angiotensin, sistem
saraf simpatis, dan peningkatan PNA.
1,2
Pemberian midodrine
dan octreotide yang merupakan vasokonstriktor dapat meng-
hambat pelepasan vasodilator endogen, dan terbukti efektif dan
aman untuk tatalaksana SHR
17
Uriz dkk (2000) melaporkan
bahwa terlipressin (analog vasopressin) yang diberikan ber-
sama infus albumin ternyata efektif dan aman. Terdapat
perbaikan sirkulasi dengan meningkatnya rerata tahanan arteri
dan penurunan aktivitas sistem vasokonstriktor berupa pe-
nurunan aktivitas renin dan norepinefrin plasma, dan kreatinin
serum juga menurun.
16
3. Pirau peritoneovenous
Dengan pemasangan pirau peritoneovenous maka terdapat
aliran terus menerus cairan asites dari kavum peritoneum ke
dalam sirkulasi sistemik yang menyebabkan peningkatan curah
jantung dan volume intravaskular. Efek hemodinamik pirau
peritoneovenous ini akan menekan aktivitas sistem vasokons-
triktor, meningkatkan ekskresi natrium, memperbaiki LFG dan
aliran darah ginjal. Pirau peritoneovenous dapat memperbaiki
tekanan vena sentral dan volume intravaskular tetapi tidak
banyak manfaatnya dalam jangka lama. Pirau peritoneovenous
dapat menstabilkan fungsi ginjal tetapi tidak dapat memperpan-
jang hidup pasien SHR. Pirau peritoneovenous tidak dapat
digunakan sebagai terapi standard pada SHR.
2,5,6,12
Belakangan ini, pirau peritoneal-sistemik terutama
peritoneo-jugular LeVeen shunt dan Denver shunt mulai
mendapat perhatian. Penurunan tekanan intrabdominal disertai
peningkatan volume darah sentral yang terjadi akibat pirau
akan memperbaiki hemodinamik, curah jantung, perfusi ginjal,
LFG, diuresis, dan ekskresi natrium yang menyebabkan
aktivitas renin plasma dan kadar aldosteron serum menurun,
namun prosedur ini masih diikuti mortalitas yang tinggi akibat
infeksi dan koagulopati.
3,4
4. Pirau portosistemik
Pirau portosistemik bukanlah terapi standar pada SHR
karena morbiditas dan mortalitas prosedur bedah yang masih
tinggi. Para ahli telah mengembangkan teknik dekompresi
portal non bedah transjugular intrahepatic portasystemic shunt
(TIPS) yaitu pemasangan stent antara vena hepatik dengan
vena porta bagian intrahepatik melalui pendekatan transjugular.
Dengan TIPS, mortalitas bedah berkurang dan komplikasi yang
paling sering adalah ensefalopati hepatis dan obstruksi oleh
stent. TIPS dapat memperbaiki fungsi ginjal dengan mening-
katkan LFG,
2
menurunkan kreatinin dan ureum serum, me-
ningkatkan eksresi natrium urin, menurunkan aldosteron
plasma, dan menurunkan kadar norepinefrin, sedangkan
endotelin tidak berubah.
4,12,18
. TIPS dapat menurunkan aktivitas
renin angiotensin dan SSS, namun efikasi TIPS ini masih perlu
dievaluasi lebih lanjut.
18,19
Brensing dkk. (2000) melaporkan
bahwa TIPS dapat memperbaiki fungsi ginjal dalam jangka
lama dan sebagian besar pasien SHR yang belum ditrans-
plantasi. dapat tetap hidup.
20
5. Dialisis
Terapi suportif terhadap ginjal dilakukan jika mungkin
terjadi penyembuhan hati atau kemungkinan transplantasi hati,
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
26
background image
karena jika tidak maka terapi suportif terhadap ginjal hanyalah
memperlambat kematian. Berbagai terapi dapat dilakukan se-
perti dialisis peritoneal, hemodialisis, atau hemofiltrasi.
7,12
Hemodialisis dan dialisis peritoneal dilakukan untuk mengganti
fungsi ginjal sambil menunggu perbaikan penyakit hati atau
transplantasi hati.
2,4,12
Hemodialisis dapat mengatasi ketidakse-
imbangan air dan elektrolit, namun tidak dapat menyembuhkan
SHR. Gonwa dkk (1991,) melakukan hemodialisis terhadap 11
anak yang menderita SHR sebelum transplantasi hati.
21
Dialisis
yang lama tidak banyak pengaruhnya terhadap SHR karena
tidak dapat mengurangi atau menghambat perjalanan gagal hati
atau gagal ginjal.
5
Wood dkk (1987) melaporkan 4 pasien
dengan penyakit hati stadium akhir menjalani dialisis dan 3 di
antaranya tetap hidup sampai dilakukan tindakan transplantasi
hati.
22
Pada SHR biasanya terdapat hipotensi sehingga dapat
dilakukan tindakan continuous arteriovenous hemofiltration
atau continuous arteriovenous ultrafiltration dengan hasil yang
cukup baik pada anak.
6
6. Transplantasi hati
Transplantasi hati dan terapi spesifik yang dapat
memulihkan fungsi hati harus dipertimbangkan pada semua
pasien SHR. Transplantasi hati merupakan terapi standar SHR
karena dapat dengan cepat memperbaiki penyakit hati dan
fungsi ginjal.
2,4
Tanpa transplantasi hati, mortalitas SHR sangat
tinggi yaitu sebesar 80-90%. Transplantasi hati dapat mem-
berikan hasil yang baik tetapi dapat juga terjadi kelainan
glomerulus dan gagal ginjal karena efek nefrotoksik siklosporin
dan FK056.
2,7
Pada satu penelitian dilaporkan bahwa pada 407 pasien
non SHR, LFG menurun dari 94,1 ml/menit menjadi 59,8
ml/menit dan 56,7 ml/menit pada 1 tahun dan 4 tahun setelah
transplantasi; sedangkan pada 34 pasien SHR, LFG meningkat
dari 14,1 ml/menit menjadi 44 ml/menit dan 45,6 ml/menit
pada 1 tahun dan 4 tahun setelah transplantasi. LFG tetap lebih
rendah secara bermakna pada pasien SHR sampai 4 tahun
setelah transplantasi.
12
PROGNOSIS
Prognosis SHR buruk dan umumnya fatal dengan morta-
litas antara 80-90% yang bergantung pada etiologinya. Biasa-
nya pasien SHR akan meninggal dalam beberapa hari atau
beberapa minggu. Kematian biasanya bukan hanya karena
gagal ginjal melainkan karena gagal organ multipel,
3,4,6,9,19
tetapi tidak diketahui keadaan mana yang lebih berperan.
9
Kurang lebih 75% pasien meninggal dalam waktu 3 minggu
dan 90% dalam waktu 8 minggu dengan mean survival biasa-
nya 10-14 hari.
1
. Gines dkk. (1993) melaporkan bahwa mean
survival time setelah didiagnosis SHR adalah 1,7 minggu. SHR
tanpa faktor pencetus mempunyai survival time yang lebih
lama (2,6 minggu) daripada SHR dengan faktor pencetus (1,3
minggu).
9
Kelangsungan hidup atau perbaikan fungsi ginjal
umumnya bergantung pada efektivitas regenerasi hepar atau
transplantasi hati.
1
Kelangsungan hidup pada SHR tipe II biasanya lebih lama
dan sekitar 4-10% pasien dapat mengalami pemulihan fungsi
ginjal.
4
Guevara dkk (1998) melaporkan 3 pasien SHR yang
tetap hidup lebih dari 3 bulan setelah pemasangan TIPS dengan
rerata survival 4,72 bulan (0,3-17 bulan).
18
Kelainan pada SHR
dapat reversibel setelah transplantasi hati ortotopik atau jika
penyakit hati primer dapat diobati.
21
Jika sembuh, biasanya
terjadi karena perbaikan penyakit hati dan bukan karena
penyembuhan primer SHR.
6
Gines dkk., (1993) melaporkan
perbaikan fungsi ginjal pada 2 di antara 56 kasus (3,5%) SHR.
Faktor lain yang juga berperan dalam kematian adalah per-
darahan saluran cerna, infeksi bakteri, dan karsinoma hepato-
selular.
9
KESIMPULAN
SHR merupakan sindrom gagal ginjal fungsional akibat
penyakit hati stadium akhir. SHR terjadi akibat penurunan
tekanan perfusi ginjal, stimulasi sistem saraf simpatis ginjal,
dan produksi berbagai mediator yang menyebabkan kontraksi
mesangial, penurunan fraksi filtrasi, dan vasokonstriksi ginjal.
SHR harus dibedakan dengan penyebab lain gagal ginjal. SHR
ditatalaksana dengan menghindari faktor pencetus (seperti
diuretik, perdarahan saluran cerna, obat antiinflamasi non-
steroid), dan pemberian terapi suportif (pressure support dan
antibiotik). Terapi suportif ginjal diberikan jika ada kemung-
kinan pemulihan fungsi hati atau transplantasi hati.
KEPUSTAKAAN
1.
Van Rocy G, Moore K. The hepatorenal syndrome. Pediatr Nephrol
1996;10: 100-7
2.
Bataller R, Sort P, Gines P, Arroyo V. Hepatorenal syndrome:
Definition, pathophysiology, clinical features and management. Kidney
Internat 1998; 53; Suppl 66: S47-S53.
3.
Chan JCM, Alon U, Oken DC. The hepatorenal syndrome. Dalam:
Edelmann CM, penyunting, Pediatric Kidney Disease, edisi ke-2,
Boston: Little, Brown, 1992; h. 1932-3.
4.
Pyne J, Morgan TM. Hepatorenal syndrome. Dalam: Friedman LS,
Keeffe EB. Penyunting, Handbook of Liver Disease, Toronto: Churchill
Livingstone, 1998: 167-83.
5.
Hand MM, Alexander SR, Harmon WE. Hepatorenal syndrome. Dalam:
Martin TM, Avner ED, Harmon WE, penyunting. Pediatric nephrology,
edisi ke-4, Baltimore:Lippincott Williams & Wilkins, 1999: h. 1136-7.
6.
Hardy SC, Kleinman RE. Hepatorenal syndrome. Dalam: Suchy FJ,
penyunting, Liver disease in children, St Louis:Mosby Year Book, 1994;
h. 238-41.
7.
Shepherd R. Complications and management of chronic liver disease.
Dalam: Kelly DA, penyunting. Disease of the liver and biliary system in
children. ed. ke-1, Oxford.: Blackwell Science, 1999. h.189-207.
8.
Crawford DHG, Endre ZH, Alexsen RA, dkk. Universal occurence of
glomerular abnormalities in patients receiving liver transplantation. Am
J Kidney Dis 1992; 19: 339-44.
9.
Gines A, Escorsell A, Gines dkk. Incidence, predictive factors, and
prognosis of the hepatorenal syndrome in cirrhosis with ascites.
Gastroenterology 1993; 105: 229-36.
10.
Epstein M. Hepatorenal syndrome. Dalam: Schiff L dan Schiff ER,
Penyunting. Diseases of the liver, edisi ke-17, Philadelphia: JB
Lippincott, 1993; h. 1027-30.
11.
Arroyo V, Gines P, Gerbes AL, dkk. Definition and diagnostic criteria of
refractory ascites and hepatorenal syndrome in cirrhosis. Hepatology
1996; 23: 164-76.
12.
Dictant DA, Gonwa TA. The kidney in liver transplantation. J Am Soc
Nephrol 1993; 4: 129-36.
13.
Holt S, Goodier D, Marley R, Patch D, Burroughs A, Fernando B, dkk.
Improvement in renal function in hepatorenal syndrome with N-
acetylcysteine. Lancet 1999; 353: 294-5.
14.
Hadengue A, Gadano A, Moreau R, Giostra E, Durand F, Valla D, dkk.
Beneficial effects of the 2-days administration of terlipressin in patients
with cirrhosis and hepatorenal syndrome. J Hepatol 1998; 29: 565-70.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 27
background image
15.
Gulberg V, Bilzer M, Gerbes AL. Long-term therapy and retreatment of
hepatorenal syndrome type 1 with ornipressin and dopamine. Hepato-
logy 1999;30: 870-5.
16.
Uriz J, Gines P, Cardenas A, Sort P, Jimenez W, Salmeron JM dkk.
Terlipressin plus albumin infusion: an effective and safe therapy of
hepatorenal syndrome. J Hepatol 2000; 33: 43-8.
17.
Angeli P, Volpin R, Gerunda G, Craighero R, Roner P, Merenda R, dkk.
Reversal of type 1 hepatorenal syndrome with administration of
midodrine and octreotide. Hepatology 1999; 29: 1690-7.
18.
Guevara M, Gines P, Bandi JC, Gilabert R, Sort P, Jimenez W, dkk.
Transjugular intrahepatic portosystemic shunt in hepatorenal syndrome:
effects on renal function and vasoactive systems. Hepatology 1998; 28:
416-22.
19.
Wong F. Blendis L. Pathophysiology and treatment of hepatorenal
syndrome. Gastroenterologist 1998; 6: 122-35.
20.
Brensing KA, Textor J, Perz J, Schiedermaier P, Raab P, Strunk K, dkk.
Long term outcome after transjugular intrahepatic portosystemic stent-
shunt in non-transplant cirrhosis with hepatorenal syndrome: a phase II
study. Gut 2000; 47: 299-5.
21.
Gonwa TA, Morris CA, Goldstein RM, Husberg BS, Klinthalm CM.
Long-term survival and renal function following liver transplantation in
patients with and without hepatorenal syndrome - experience in 300
patients. Transplantation 1991; 51: 428-30.
22.
Wood RP, Ellis D, Starzl TE. The reversal of the hepato-renal syndrome
in four pediatric patients following successful orthotopic lever trans-
plantation. Ann Surg 1987; 205: 415-9.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
28