TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Peranan Antihistamin
pada Inflamasi Alergi
Iris Rengganis
Subbagian Alergi-Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Inflamasi merupakan proses yang vital untuk semua
organisme dan berperan baik dalam mempertahankan kesehat-
an maupun dalam terjadinya berbagai penyakit. Biasanya infla-
masi berupa respons protektif tubuh terhadap trauma atau
invasi mikroba yang berbahaya melalui jalan klasik dengan
gejala sakit (dolor), panas (calor), merah (rubor), bengkak
(tumor) dan hilangnya fungsi (functio laesa). Secara mikros-
kopis, inflamasi menunjukkan gambaran yang kompleks seperti
dilatasi arteriol, kapiler dan venul; peningkatan permeabilitas
dan arus darah; eksudasi cairan, termasuk protein plasma;
migrasi leukosit ke fokus inflamasi. Akumulasi leukosit yang
disusul dengan aktivasi sel merupakan kejadian sentral dalam
patogenesis hampir semua inflamasi. Bila reaksi inflamasi tidak
terjadi, pejamu akan menjadi imunokompromais. Sekarang kita
sudah mengetahui inflamasi pada tingkat molekuler dan seluler.
Bentuk inflamasi akut dan kronis terbanyak ditimbulkan oleh
pengerahan komponen humoral dan seluler dari sistem imun.
Eliminasi bahan asing secara imunologis terjadi dalam berbagai
tahap yang terintegrasi
1-6
.
INFLAMASI ALERGI
Proses alergi adalah kompleks, dimulai dengan pajanan
alergen-alergen yang ditangkap oleh Antigen Presenting Cell
(APC). Sel dendritik di saluran napas dan sel langerhans di
kulit, masing-masing berperan sebagai APC pada asma dan
dermatitis atopi. Setelah alergen ditangkap, lalu alergen di-
pecah menjadi peptida-peptida kecil, dalam APC peptida diikat
molekul HLA (MHC II) menjadi kompleks peptida-HLA,
kemudian dibawa ke permukaan APC dan dipresentasikan ke
sel Th2 CD4
+
yang MHC II dependen. Th2 diaktifkan dan
memproduksi sitokin. Sementara epitel (endotel) mengeks-
presikan molekul adhesi dan menimbulkan infiltrasi sel darah
putih terutama eosinofil yang melepas mediator dan sitokin
yang menimbulkan gejala alergi dan kerusakan jaringan. Dalam
jaringan sel-sel inflamasi dan sel residen melepas mediator dan
terjadi interaksi yang kompleks sehingga menimbulkan reaksi
alergi kronis. Bila kulit, hidung atau saluran napas subjek atopi
dirangsang dengan alergen, dalam beberapa menit akan terjadi
fase cepat reaksi hipersensitivitas tipe I Gell dan Coombs
berupa kemerahan dan bentol di kulit, gejala bersin, hidung
berair dan atau mengi.
Respons inflamasi alergi kulit, di mu-
kosa saluran napas atas dan bawah adalah sama, meskipun
respons organ sasarannya berbeda. Di tiga tempat tersebut,
terjadi degranulasi sel mast dan aktivasi sel T dengan profil
sitokin Th2, aktivasi sel epitel dan sel endotel, pengerahan leu-
kosit ke jaringan terutama eosinofil.
Fase cepat dapat diikuti oleh fase lambat yang puncaknya
terjadi antara 6-8 jam dan kemudian menghilang secara per-
lahan. Di kulit fase lambat ditandai dengan edema, merah dan
indurasi yang menimbulkan bengkak, di hidung berupa obs-
truksi dan di paru mengi yang menetap.
1-6
Minimal Persistent Inflammation (MPI)
Inflamasi sudah ditemukan pada subjek alergi tanpa gejala.
Asma dan rinitis dalam masa laten harus dianggap sebagai
penyakit inflamasi kronis. Mengapa konsep tersebut penting ?
Sel eosinofil dan ekspresi ICAM-1 yang merupakan petanda
penting pada alergi, selalu ditemukan di epitel konjungtiva,
nasal penderita rinitis alergi dan di epitel bronkus, cairan bilas
bronkus pada pasien asma yang alergi terhadap tungau debu
rumah dan alergen lainnya meskipun sedang tidak menunjuk-
kan gejala. Fenomena tersebut menetap selama ada pajanan
dengan tungau debu rumah/alergen lainnya dan disebut Mini-
mal Persistent Inflammation (MPI). MPI dapat menerangkan
sebagian sebab hipereaktivitas non-spesifik pada subjek alergi
dan kronisitas penyakit alergi. Penyakit rinitis alergi, asma,
dermatitis atopi, urtikaria kronis idiopatik merupakan penyakit
kronis yang dapat menimbulkan berbagai gangguan pada tidur,
konsentrasi belajar di sekolah, pekerjaan, kegiatan fisik,
rekreasi, sosial, bahkan karier, sehingga bila gangguan terjadi
kronis seiring dengan perjalanan penyakit, akan menurunkan
pula kualitas hidup. Atas dasar adanya hubungan antara derajat
inflamasi dengan derajat berat penyakit, telah pula dipikirkan
strategi untuk menggunakan MPI dengan menekan ekspresi
ICAM-1 dan influks eosinofil sebagai sasaran terapi farmako-
Dibacakan pada acara Simposium Allergy dan Clinical Immunology Update,
Hotel Marcopolo, Lampung, 12-13 April 2003
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 19
logis. Proses inflamasi hendaknya diobati sebelum pasien
menunjukkan gejala. MPI yang dihambat akan mengurangi
gejala dan derajat berat penyakit yang secara tidak langsung
akan meningkatkan kualitas hidup. Di negara maju, sudah
banyak dianjurkan untuk tidak hanya menggunakan gejala
klinis saja, tetapi juga kualitas hidup sebagai parameter dalam
terapi
7-16
.
HAMBATAN EKSPRESI ICAM-1
A.
Cetirizin
Cetirizin menghambat influks sel inflamasi eosinofil dan
ekspresi ICAM-1 di hidung, konjungtiva dan bronkus yang di-
timbulkan alergen melalui uji nasal, konjungtiva dan bronkus.
17
B.
Terfenadin
Terfenadin menghambat infiltrasi sel proinflamasi ter-
utama eosinofil dan ekspresi ICAM-1 di epitel nasal pada
pasien dengan rinitis alergi.
17
C. Fexofenadin
Fexofenadin menurunkan ekspresi ICAM-1 pada cell line
epitel konjungtiva dan fibroblas manusia yang lebih bermakna
dibanding terfenadin. Fexofenadin juga menghambat kemotak-
sis dan adherens eosinofil pada biakan endotel vena umbilikalis
manusia dan penglepasan ECP dari eosinofil.
18
Hambatan terhadap asma
Penelitian dengan cara single-blind, placebo-controlled
study dilakukan untuk menilai efek astemizol, bromfeniramin,
cetirizin, klorfeniramin, clemastin, siproheptadin dan terfenadin
versus plasebo terhadap provokasi dengan histamin dan meta-
kolin. Dosis yang diberikan adalah dosis yang dianjurkan
pabrik, sebagai dosis tunggal, 2-4 jam sebelum uji provokasi.
Dibandingkan dosis histamin/metakolin yang diperlukan untuk
menimbulkan penurunan 20% FEV1 (PC
20
FEV1) dengan pla-
sebo. Dalam studi ini semua antihistamin menghambat efek
bronkokonstriksi histamin dan tidak ditemukan antihistamin
yang menghambat efek bronkokonstriksi metakolin.
17
PERAN CETIRIZIN PADA INFLAMASI DAN
KUALITAS HIDUP
Kualitas hidup telah diteliti pada berbagai penyakit yang
ternyata menurun bermakna pada penyakit alergi seperti rino-
konjungtivitis dan asma
19
. Pasien menunjukkan adanya gang-
guan tidur, aktivitas dan stres, penurunan fungsi fisik maupun
mental yang mengakibatkan gangguan vitalitas serta persepsi
kesehatan secara umum. Pemberian cetirizin kepada pasien
dengan rinitis alergi tidak hanya mengurangi gejala, tetapi juga
meningkatkan kualitas hidup
20
.
Molekul adhesi ICAM-1 diekspresikan di sel epitel dalam
beberapa menit setelah reaksi alergi terjadi dan berperan dalam
migrasi sel inflamasi seperti eosinofil. ICAM-1 dan eosinofil
adalah petanda spesifik inflamasi alergi. Berbagai studi me-
nunjukkan bahwa cetirizin dapat menghambat ekspresi ICAM-
1 dan influks eosinofil baik in vitro maupun in vivo
21,22
.
Cetirizin menghambat kemotaksis eosinofil dan ekspresi
adhesi eosinofil dalam biakan sel endotel in vitro. Efek cetirizin
telah diteliti dengan double blind, randomized study terhadap
respons cepat dan lambat kulit dari alergen/pollen dan plasebo
pada pasien dengan rinitis alergi pollen. Tes kulit dilakukan
sebelum pemberian cetirizin dan 3 hari setelah pemberian
cetirizin 20 mg atau plasebo. Pada pasien yang mendapat
cetirizin ditemukan penurunan ekspresi ICAM-1 dan infiltrasi
sel inflamasi
17
.
Cetirizin juga menurunkan influks sel inflamasi eosinofil
dan ekspresi ICAM-1 di epitel hidung, konjungtiva dan
bronkus pasien alergi yang diuji dengan alergen. Pemberian
cetirizin 2x15 mg menurunkan jumlah eosinofil dalam cairan
bilas bronkus pasien asma yang bermakna dibanding dengan
plasebo. Pemberian cetirizin (2x10-15mg/hari) kepada subjek
asma alergi pollen yang ringan selama 4 hari menunjukkan
perbaikan asmanya. Beberapa studi menunjukkan adanya efek
proteksi dari cetirizin terhadap fase cepat dan fase lambat asma.
Pemberian cetirizin 2x15 mg/hari menunjukkan lebih banyak
perbaikan FEV
1
dibanding dengan plasebo
23
.
KESIMPULAN
1.
Reaksi alergi bukanlah fenomena yang sementara, tetapi
merupakan proses inflamasi yang kompleks dan kronis.
2.
Meskipun tidak menunjukkan gejala selama terpajan
dengan alergen, subyek alergi selalu menunjukkan MPI yang
dapat berperan dalam hipereaktivitas dan kronisitas.
3.
Penyakit alergi seperti rinitis alergi, asma, dermatitis atopi,
urtikaria kronis idiopatik merupakan penyakit kronis yang
dapat menimbulkan gangguan tidur, belajar, kegiatan fisik, re-
kreasi, sosial dan karier, sehingga dapat menurunkan kualitas
hidup.
4.
Dianjurkan agar kualitas hidup dapat digunakan sebagai
parameter dalam terapi penyakit alergi di samping gejala klinis.
5.
Terapi optimal penyakit alergi hendaknya dapat memodu-
lasi fenomena inflamasi dan mengontrol MPI agar gejala dapat
ditekan dan dicegah.
6.
Pemberian cetirizin kepada penderita alergi dapat mengu-
rangi ekspresi ICAM-1 dan menghambat kemotaksis eosinofil,
mengurangi gejala serta meningkatkan kualitas hidup.
KEPUSTAKAAN
1.
Cotran, RS. Inflammation: Historical Perspective. Dalam: Gallin JI,
Snyderman R (eds). Inflammation. Lippincot Williams & Wilkins. Ed.3.
Philadelphia. 1999; 5-12.
2.
Fireman P. The Mechanisms of Allergic Inflammmation. The Allergy and
Asthma Report. AAAAI March 1999.
3.
Kay AB. Allergic Inflammation Under the Microscope. 2
nd
International
Symposium on Allergy Management.. Cannes, France. 9
th
December
2000.
4.
Johansson SGO. Milestones in Understanding Allergy and Its Diagnosis.
2
nd
International Symposium on Allergy Management. Cannes, France .9
th
December 2000.
5.
Blumenthal M. The Gene Behind the Disease. The Allergy and Asthma
Report. AAAAI, March 1999.
6.
Howarth P. Allergic Inflammation in Airways Disease: Challenges for
New Century. Allergic Inflammation in Y2K. ICACI 2000, October 16,
2000, Sydney.
7.
Calderon E, Lockey RF. A Possible Role for Adhesion Molecules in
Asthma. J Allerg Clin Immunol 1992; 90: 852-65.
8.
Gundel RH, Wegner CD, Torcellini CA, Letts RG. The Role of Inter-
cellular Adhesion Molecule 1 in Chronic Inflammation. Clin Exp Allergy
1992; 22: 569-78.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
20
9.
Woolcock J. The Burden of Asthma. XII International Congress of
Allergology and Clinical Immunology in conjunction with the Asian
Pacific Association of Allergology and Clinical Immunlogy and the West
Pacific Allergy Symposium. Sydney 15-20 October 2000.
10.
Pariente PD, LePen C, Los F, Bousquet J. Quality of Life Outcomes and
the Use of Antihistamines in a French National Population Based Sample
of Patients with Perennial Rhinitis. Pharmacoeconomics 1997; 12:585-95.
11.
Meltzer EO. Does Rhinitis Compromise Night-time Sleep and Daytime
Productivity? Symposium on Quality of Life in Allergic Rhinitis. EAACI
Meeting, Lisbon, July 2, 2000.
12.
Settipane RA. Complications of Allergic Rhinitis. Allergy and Asthma
Proc. 1999 ; 209-13.
13.
Sheffer AL. Conclusion and Recommendation for the Future Assesment
Relating to Asthma Fatalities. Dalam: Sheffer AL (ed). Fatal Asthma.
Marcel Dekker, Inc. New York 1996 ; 537-40.
14.
Pawankar R. Allergy A Systemic Disease Affecting Quality of Life. 2
nd
Malaysian Congess of Allergy and Immunology. Jan. 19-22, 2001. Kuala
Lumpur.
15.
Busquet J, Bullinger M, Fayoi C et al. Assessment of Quality of Life in
Patients with Perennial Allergic Rhinitis with the French version of the
SF-36 Health Status Questionnaires. J Allergy Clin Immunol 1994; 94:
182-8.
16.
Vignola AM, Chanez P, Campbell AM et al. Airway Inflammation in
Mild Intermittent and in Persistent Asthma. Am J Respir Crit Care Med
1998; 157 : 403-9.
17.
Malick A,Grant JA. Antihistamines in the Treatment of Asthma.Allergy
1997; 52 : (S340) 55-66.
18.
Simon E. Are the anti-allergic properties of H
1
of any clinical relevance ?
New controversies in allergy. Symposium 18
th
Congress of the European
Academy of Allergology and Clinical Immunology (EAACI'98).
19.
Bousguet J. Symposium Quality of Life in Allergic Rhinitis.EAACI
Meeting, Lisbon, July 2, 2000.
20.
Bachert C. Symposium Quality of Life in Allergic Rhinitis. EAACI
Meeting Lisbon, July 2, 2000.
21.
Walsh GM. The Clinical Relevance of the Anti-inflammatory Properties
of Antihistamines. Allergy 2000; 55 : 53-61.
22.
Bagnasco M, Canonica GW. Influence of H
1
-receptor Antagonist on
Adhesion Molecules and Cellular Traffic. Allergy 1995; 50 : 17- 23
23.
Meltzer EO.The Use of Anti-H
1
Drugs in Mild Asthma. Allergy 1995; 24:
41-7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 21