Pengobatan Fluor Albus
di Puskesmas Cempaka Putih Barat
Emillana Tjltra, Marvel Reny dan Rita Marleta Dewi
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian & Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan pengobatan terhadap 163 penderita fluor albus, di Puskesmas
Cempaka Putih Barat I, Jakarta, 411111 11988/1989. Untuk mengetahui penyebab, gejala
klinis dan efikasi obat anti fluor albusyang tersedia di Puskesmas, semua penderita
diperiksa secara klinis, ginekologis, parasitologis dan bakteriologis.
Trichomoniasis (3,7%) terutama ditemukan pada ibu tidak hamil dan tidak KB
(50,0%) dengan keluhan bau (83,3%), gatal (50%) dan dispareunia (50%); sedangkan
angka kesembuhan dengan metronidazol adalah 100%. Candidiasis (52,8%) terutama
ditemukan pada akseptor KB AKDR (49,8%) dengan keluhan bau (66,3%), gatal (25,6%),
disuria (5,8%) dan dispareunia (18,6%); sedangkan angka kesembuhan dengan nistatin
adalah 80%. Infeksi campuran trichomoniasis dan candidiasis (4,3%) ditemukan padaibu
tidak hamil yaitu akseptor KB AKDR, hormonal dan non akseptor KB yaitu masingmasing
28,6%, dengan keluhan bau (85,7%), gatal (57,1%), disuri (14,3%) dan dispareunia
(28,7%); sedangkan angka kesembuhan dengan metronidazol dan nistatin adalah 25%.
Gonorrhoe (1,2%) terutama ditemukan pada akseptor KB steril (100%) dengan keluhan bau
(50%), dan gatal (100%); sedangkan angka kesembuhan dengan amoksilin adalah 100%.
Vaginosis (38,0%) terutama ditemukan pada akseptor KB AKDR (50%) dengan keluhan
bau (64,5%), gatal (40,3%), disuria (4,8%) dan dispareunia (12,9%).
Candidiasis tampaknya merupakan penyebab utama fluor albus kecuali pada akseptor
KB kondom dan steril. Umumnya penderita datang berobat karena adanya keluhan bau dan
gatal; dan terbanyak ditemukan pada penderita candidiasis. Obat-obat anti fluor albus yang
tersedia di Puskesmas ternyata masih cukup efektif kecuali pada pengobatan infeksi
campuran.
PENDAHULUAN
Fluor albus atau keputihan adalah keluarnya cairan per
vaginam yang bukan darah, berlebihan dan disertai dengan
keluhan yang sangat tergantung dari kepribadian dan pengetahu-
annya
(1)
.
Penderita fluor albus terutama terdapat pada wanita usia
reproduktif
(2)
sehingga tak mengherankan banyak ditemui di
poliklinik KIA (Kesehatan Ibuu dan Anak) Puskesmas.
Fluor albus dapat disebabkan oleh infeksi parasit (trichomo-
niasis) atau jamur (candidiasis) atau bakteri antara lain go-
norrhoe
(3,4)
. Dari keluhan-keluhan dan kelainan yang ditemukan
pada pemeriksaan, dapat diperkirakan penyebabnya dan peme-
niksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Supaya dapat mengobati fluor albus, diperlukan penge-
tahuan tentang penyebab dan gejala-gejala klinis yang ditimbul-
kan. Keberhasilan pengobatan sangat tergantung pada ketepatan
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
22
diagnosis dan pemberian obat. Khusus pada candidiasis, peng-
obatan juga sangat tergantung pada adanya faktor predisposisi
(2)
.
Saat ini terdapat beberapa obat anti jamur dan antibiotika
baru yang hargany cukup mahal dan belum tersedia di Puskes-
mas. Untuk itu dilakukan penelitian fluor albus untuk menge-
tahui penyebab, gejala klinik dan efikasi obat anti fluor albus
yang tersedia di Puskesmas.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan di Puskesmas Cempaka Putih Barat I,
Jakarta, pada tahun 1988/1989.
Semua penderita fluor albus mempunyai buku status dan
diperiksa secara :
1.
Klinis, dilakukan dengan tanya jawab dan pemeriksaan
fisik.
2.
Ginekologis, dilakukan dengan inspeksi dart periksa dalam
dengan spekulum cocor bebek untuk yang sudah menikah.
3.
Parasitologis dan bakteriologis, dilakukan untuk menge-
tahui penyebab fluor albus dari spesimen yang diambil dengan
kapas lidi steril pada waktu dilakukan pemeriksaan inspekulo.
Untuk mengetahui adanyaTrichomonasvaginalisdigunakan
sediaan langsung memakai larutan garam fisiologis. Candida
spp dapat diketahul dengan pemeriksaan sediaan langsung me-
makai larutati KC1R 10% atau dibiak dengan agar Sabouraud.
Nensetia gonorrhoeae dilihat dengan menggunakan pewarnaan
Gram
Penderita diobati sesuai dengan penyebabnya kecuali ibu
hamil yaitu :
1.
Trichomoniasis dengan metronidazol 3 X 250 mg/hari,
peroral, selama 7 hani.
2.
Candidiasis dengan nistatin 1 X 10.000 U/hari,
pervaginam, selama 7 hari
(2)
.
3.
Trichomoniasis dan candidiasis dengan metronidazol 3 X
250 mg/hari, peroral; dan nistatin 1 X 10.000 U/hari, pervagi-
nam, selama 7 hari.
4.
Gonorrhoe dengan amoksisilin 3g, dosis tunggal, peroral
(5)
.
Penderita yang tidak diketemukan penyebabnya dengan
pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, dikelompokkan sebagai
penderita vaginosis atau vaginitis non spesifik
(6,7)
. dan diobati
secara simptomatik. Demikian pula ibu hamil dengan fluor
albus diobati secara simptomatik.
Setelah 7 hari pengobatan, penderita diperiksa ulang untuk
menilai keberhasilan pengobatan baik secara klinis, gnekologis,
parasitologis dan bakterilogis.
Data diolah dan dianalisis secara deskriptif.
HASIL
Terdapat 163 penderita fluor albus yang datang berobat
dengan umur antara 18-56 tahun yang kebetulan semuanya
sudah menikah.
Ternyata 3,7% kasus adalah trichomoniasis, 52,8% kasus
adalah candidiasis, 4,3% kasus adalah infeksi campuran tricho-
moniasis dan candidiasis, 1,2% kasus adalah gonorrhoe, dan
38,0% kasus adalah vaginosis (tabel 1).
Dan 18 ibu hamil dan 25 ibu tidak hamil dan tidak KB yang
fluor albus, sebagian besar terinfeksi oleh candidiasis yaitu
66,7% dan 48%. Demikianpulapada77 akseptorKB AKDRdan
30 akseptor KB hormonal yang fluor albus, sebagian besar
terinfeksi candidiasis yaitu 54,6% dan 53,3%; sedangkan 2
akseptor KB kondom semuanya terinfeksi vaginosis (100%)
dan 11 akseptor KB steril sebagian besar terinfeksi oleh
vaginosis yaitu 45,5% (tabel 1).
Trichomoniasis tertinggi tampak pada ibu tidak hamil dan
tidak KB yaitu 50,0%, sedangkan candidiasis tertinggi pada
Tabel 1. Dletribusl penderita fluor aibus berdasarkan keadaan ibu dan penyebabnya, di Puskesmas
Cempaka Putih Barat I, Jakarta, tahun 1988/1989
Jumlah
penderita
Keadaan ibu
T
C
T+C
Go
V
Jumlah
n % n % n % n % n % n %*
Hamil
0 0
** 12 66,7 1 5,6 0 0 5 27,7 18 11,1
0
* 14,0 14,2 0 8,1
Tidak hamil
Non KB
3 12,0 12 48,0 2 8,0 0 0 8 32,0 25 15,3
50,0 14,0 28,6 0 12,9
KB AKDR
2
2,6
42
54,6
2
2,6 0 0 31 40,2 77 47,2
33,3 48,8 28,6 0 50,0
Hotmonal
1 3,3 16 53,3 2 6,7 0 0 11 36,7 30 18,4
16,7 18,6 28,6 0 17,7
Kondom
0 0 0 0 0 0 0 0 2 100 2 1,2
0 0 0 0 3,2
Steril 0
0
4
36,3
0
0
2
18,2
5
45,5
11
6,8
0
4,6
0
100
8,1
Jumlah (%) **
6
3,7
86
52,8
7
4,3
2
1,2
62
38,0 163
100
Keterangan
:
T
=
trichomoniasis * persen
kolom
C
=
candidiasis ** persen
baris
Go =
gonorrkoe
V = vaginosis
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 23
diagnosis dan pemberian obat. Khusus pada candidiasis, peng-
obatan juga sangat tergantung pada adanya faktor predisposisi
(2)
.
Saat ini terdapat beberapa obat anti jamur dan antibiotika
baru yang hargany cukup mahal dan belum tersedia di Puskes-
mas. Untuk itu dilakukan penelitian fluor albus untuk menge-
tahui penyebab, gejala klinik dan efikasi obat anti fluor albus
yang tersedia di Puskesmas.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan di Puskesmas Cempaka Putih Barat I,
Jakarta, pada tahun 1988/1989.
Semua penderita fluor albus mempunyai buku status dan
diperiksa secara :
1.
Klinis, dilakukan dengan tanya jawab dan pemeriksaan
fisik.
2.
Ginekologis, dilakukan dengan inspeksi dart periksa dalam
dengan spekulum cocor bebek untuk yang sudah menikah.
3.
Parasitologis dan bakteriologis, dilakukan untuk menge-
tahui penyebab fluor albus dari spesimen yang diambil dengan
kapas lidi steril pada waktu dilakukan pemeriksaan inspekulo.
Untuk mengetahui adanyaTrichomonasvaginalisdigunakan
sediaan langsung memakai larutan garam fisiologis. Candida
spp dapat diketahul dengan pemeriksaan sediaan langsung me-
makai larutati KC1R 10% atau dibiak dengan agar Sabouraud.
Nensetia gonorrhoeae dilihat dengan menggunakan pewarnaan
Gram
Penderita diobati sesuai dengan penyebabnya kecuali ibu
hamil yaitu :
1.
Trichomoniasis dengan metronidazol 3 X 250 mg/hari,
peroral, selama 7 hani.
2.
Candidiasis dengan nistatin 1 X 10.000 U/hari,
pervaginam, selama 7 hari
(2)
.
3.
Trichomoniasis dan candidiasis dengan metronidazol 3 X
250 mg/hari, peroral; dan nistatin 1 X 10.000 U/hari, pervagi-
nam, selama 7 hari.
4.
Gonorrhoe dengan amoksisilin 3g, dosis tunggal, peroral
(5)
.
Penderita yang tidak diketemukan penyebabnya dengan
pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, dikelompokkan sebagai
penderita vaginosis atau vaginitis non spesifik
(6,7)
. dan diobati
secara simptomatik. Demikian pula ibu hamil dengan fluor
albus diobati secara simptomatik.
Setelah 7 hari pengobatan, penderita diperiksa ulang untuk
menilai keberhasilan pengobatan baik secara klinis, gnekologis,
parasitologis dan bakterilogis.
Data diolah dan dianalisis secara deskriptif.
HASIL
Terdapat 163 penderita fluor albus yang datang berobat
dengan umur antara 18-56 tahun yang kebetulan semuanya
sudah menikah.
Ternyata 3,7% kasus adalah trichomoniasis, 52,8% kasus
adalah candidiasis, 4,3% kasus adalah infeksi campuran tricho-
moniasis dan candidiasis, 1,2% kasus adalah gonorrhoe, dan
38,0% kasus adalah vaginosis (tabel 1).
Dan 18 ibu hamil dan 25 ibu tidak hamil dan tidak KB yang
fluor albus, sebagian besar terinfeksi oleh candidiasis yaitu
66,7% dan 48%. Demikianpulapada77 akseptorKB AKDRdan
30 akseptor KB hormonal yang fluor albus, sebagian besar
terinfeksi candidiasis yaitu 54,6% dan 53,3%; sedangkan 2
akseptor KB kondom semuanya terinfeksi vaginosis (100%)
dan 11 akseptor KB steril sebagian besar terinfeksi oleh
vaginosis yaitu 45,5% (tabel 1).
Trichomoniasis tertinggi tampak pada ibu tidak hamil dan
tidak KB yaitu 50,0%, sedangkan candidiasis tertinggi pada
Tabel 1. Dletribusl penderita fluor aibus berdasarkan keadaan ibu dan penyebabnya, di Puskesmas
Cempaka Putih Barat I, Jakarta, tahun 1988/1989
Jumlah
penderita
Keadaan ibu
T
C
T+C
Go
V
Jumlah
n % n % n % n % n % n %*
Hamil
0 0
** 12 66,7 1 5,6 0 0 5 27,7 18 11,1
0
* 14,0 14,2 0 8,1
Tidak hamil
Non KB
3 12,0 12 48,0 2 8,0 0 0 8 32,0 25 15,3
50,0 14,0 28,6 0 12,9
KB AKDR
2
2,6
42
54,6
2
2,6 0 0 31 40,2 77 47,2
33,3 48,8 28,6 0 50,0
Hotmonal
1 3,3 16 53,3 2 6,7 0 0 11 36,7 30 18,4
16,7 18,6 28,6 0 17,7
Kondom
0 0 0 0 0 0 0 0 2 100 2 1,2
0 0 0 0 3,2
Steril 0
0
4
36,3
0
0
2
18,2
5
45,5
11
6,8
0
4,6
0
100
8,1
Jumlah (%) **
6
3,7
86
52,8
7
4,3
2
1,2
62
38,0 163
100
Keterangan
:
T
=
trichomoniasis * persen
kolom
C
=
candidiasis ** persen
baris
Go =
gonorrkoe
V = vaginosis
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 23
Tabel 2. Gejala klinis penderita fluor albus berdasarkan penyebabnya, di Puskesmas Cempaka Putih
Barat I, Jakarta, 1988/1989.
Jumlah
penderita
GeJala Minis
T
C
T+C
Go
V
E
n % n % n % n % n % n %*
Bau
5 4,6**
57
.
52,3 6 5,5 1 0,9 40 36,7
109
66,9
83,3***
66,3 85,7 50 64,5
Gatal
3 5,4 22 S9,3 4 7,1 2 3,6 25 44,6 56 34,4
50,0 25,7 57,1 100 40,3
Disuria
0 0 5 55,7 1 11,0 0 0 3 33,2 9 5,5
0 5,8 14,3 0 4,8
Dispareunia 3
10,3
16
55,2
2
6,9
0
0
8
27,6
29
17,8
50,0 18,6 28,7 0 12,9
Keterangan
:
T
=
trichomoniasis * persen
dari
jumlah
total
kasus
C
=
candidiasis ** persen
dari
jumlah
kasus
dengan
gejala
tersebut
Go =
gonorrkoe
***
persen
dari
jumlah
kasus
dengan
sebab
tersebut
V = vaginosis
E = jumlah
akseptor KB AKDR yaitu 48,8%. Infeksi campuran trichomo-
niasis dan candidiasis dijumpai pada ibu tidak hamil dan tidak
KB, juga terdapat pada akseptor KB AKDR dan hormonal
yaitu masing-masing 28,6%. Gonorrhoe ditemukan pada
akseptor KB steril yaitu 100% dart vaginosis tertinggi pada
akseptor KB AKDR yaitu 50% (tabel 1).
Da 109 kasus fluor albus yang mengeluh bau, sebagian
besar adalah penderita candidiasis (52,3%) dan vaginosis
(36,7%). Da 56 kasus fluor albus yang disertai dengan gatal,
sebagian besar adalah penderita vaginosis (44,6%) dan
candidiasis (39,3%). Da 9 kasus yang mengeluh dengan
disuria, sebagian besar adalah penderita candidiasis (55,7%)
dan vaginosis (33,2%). Demikian pula dari 29 kasus
dispareunia, sebagian besar adalah penderita candidiasis dan
vaginosis yaitu 55,2% dan 27,6% (tabel 2).
Da 6 penderita trichomoniasis, 83,3% mengeluh ban dan
50% mengeluh gatal dan dispareunia. Dari 86 penderita candi-
diasis, 66,3% mengeluh bau, 25,6% gatal, 5,8% disuria dan
18,6% dispareunia. Dari 7 penderita infeksi campuran
trichomoniasis dan candidiasis, 85,7% mengeluh bau, 57,1%
gatal, 14,3% disuria dan 28,7% dispareunia. Dan 2 penderita
gonorrhoe, 50% mengeluh bau dan 100% mengeluh gatal. Dari
62 penderita vaginosis, 64,5% mengeluh bau, 40,3% gatal,
4,8% disuria dan 12,9% dispareunia (tabel 2).
Hanya 3 dari 6 kasus trichomoniasis yang kembali kontrol
setelah 7 hari pengobatan dengan metronidazol, dan semuanya
sembuh (100%). Dari 86 kasus candidiasis yang diobati dengan
nistatin, hanya 35 yang kembali kontrol setelah 7 han peng-
obatan, dan 28 dinyatakan sembuh (80%). Dari 7 kasus infeksi
campuran trichomoniasis dan candidiasis, hanya 4 yang kembali
kontrol setelah 7 hari pengobatan dengan metronidazol dan
nistatin, angka kesembuhan adalah 25% dan kegagalan semua-
nya karena masih adanya infeksi candidiasis. Dari 2 kasus
gonorrhoe yang diobati dengan amoksisilin dosis tunggal dan
kembali kontrol pada hari Ice 7, mempunyai angka
kesembuhan 100% (tabel 3).
PEMBAHASAN
Infeksi trichomoniasis (3,7%), candidiasis (52,8%), cam-
puran trichomoniasis dan candidiasis (4,3%), gonorrhoe (1,2%),
dan vaginosis (38,0%) dari penderita fluor albus pada
penelitian ini, berbeda dengan yang didapatkan oleh Biran
(1988) yaitu trichomoniasis 25,6%, candidiasis 39,4%,
campuran trichomoniasis dan candidiasis 1,3%, dan vaginosis
33,7%
(8)
.
Trichomoniasis yang ditemukan di sini adalah rendah
(3,7%) dan hanya ditemukan pada penderita tidak hamil,
sedangkan Budihardjo dick (1976) mendapatkan infeksi
trichomoniasis 8,9% dan didapatkan tidak hanya pada penderita
tidak hamil (9,7%) tetapi juga yang hamil (7,1%)
(9)
.
Da penderita trichomoniasis ini, 50% tidak ber KB, 33,3%
sebagai akseptor AKDR dan 16,7% akseptor hormonal. Soe-
prihatin dkk (1976) juga mendapatkan kasus trichomoniasis
tinggi pada penderita tidak hamil dan bukan akseptor KB yaitu
63,8%
@
). Lubis dkk (1988) mendapatkan kasus t ichomoniasis
pada akseptor lebih rendah yaitu 23,5% dengan AKDR dan
5,3% dengan hormonal
(10)
; sedangkan Lestadi dkk (1988) men-
dapatkan trichomoniasis pada akseptor AKDR 16,6%
(11)
.
Penderita trichomoniasis umumnya disertai sekret berbau,
gatal, disuria, dan dispareunia
(2,12)
. Dalam penelitian ini ditemu-
kan keluhan penderita trichomoniasis berupa bau (83,3%),
gatal (50%) dan dispareunia (50%); sedangkan peneliti lain
menemukan keluhan gatal hanya 14,3%
(9)
.
Dengan hanya jumlah penderita yang kembali kontrol 50%,
pengobatan trichomoniasis dengan metronidazol menunjukkan
hasil yang baik (100%). Biran (1988) mendapatkan angka ke-
sembuhan 91,7% dengan menggunakan derivat metronidazol
(8)
.
Candidiasis yang ditemukan pada penelitian ini cukup tinggi
yaitu 52,8%, sedangkan peneliti-peneliti lain mendapatkan lebih
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
24
Tabel 3. Angka kesembuhan penderita fluor albus setelah pengobatan 1
minggu, di Puskesmas Cempaka Putih Barat I, Jakarta, tahun
1988/1989
Angka kesembuhan
Obat
%
Metronidazol
Nistatin
Metronidazol dan nistatin
Amoksilin
3/ 3
28135
1/ 4
2/ 2
100
80
25
100
Keterangan :
Angka kesembuhan = persen dari kasus yang sembuh dengan obat tersebut
setelah 7 hari pengobatan (pada waktu kontrol).
rendah yaitu 39,3(
2
), 39,4%(
s
), dan 40,8%
0
Dari penderita candidiasis ini, 72% terdapat pada penderita
ber KB yaitu 48,8% dengan AKDR, 18,6% dengan hormonal,
dan 4,6% dengan steril. Peneliti-peneliti lain mendapatkan kasus
candidiasis lebih rendah yaitu 28,0% pada akseptor KB
(4)
, 40%
pada akseptor AKDR dan 3,5% pada akseptor hormonal
(8)
.
Candidiasis umumnya disertai dengan keluhan gatal, dan
pada infeksi lanjut dapat disertai disuria, dispareunia, dan
sekretnya berbau(
212
). Penderita candidiasis pada penelitian ini,
66,3% disertai dengan keluhan bau, 25,6% gatal, 5,8% disuria,
dan 18,6% dispareunia.
Pengobatan candidiasis dengan nistatin supositoria, mem-
berikan angka kesembuhan yang masih cukup baik yaitu 80%,
sedangkan Biran (1988) dengan menggunakan ketokonasol oral
memberikan angka kesembuhan 90%
(8)
.
Infeksi campuran trichomoniasis dan candidiasis yang
ditemukan pada penelitian ini juga lebih banyak yaitu 4,3%
dibandingkan peneliti-peneliti lain yaitu 1,3%
(8)
, dan 0,9%
(4)
.
Dari penderita infeksi campuran ini, 85,8% ditemukan pada
penderita tidak hamil yaitu pada non akseptor KB (28,6%),
akseptor AKDR (28,6%) dan akseptor hormonal (28,6%).
Soeprihatin dkk (1976) mendapatkan 90% pada penderita tidak
hamil yaitu pada akseptor KB (70%), akseptor AKDR (5%)
dan hormonal (15%)
(4)
.
Keluhan yang terdapat pada infeksi campuran ini merupa-
kan gabungan keluhan infeksi trichomoniasis dan candidiasis;
dan yang paling menonjol adalah sekret berbau (85,7%), kemu-
dian gatal (57,1%), dispareunia (28,7%) dan disuria (14,3%).
Dengan hanya 57,1% penderita yang kembali kontrol,
pengobatan gabungan dengan metronidazol dan nistatin mem-
berikan angka kesembuhan yang kurang baik yaitu 25%. Jadi
dalam infeksi campuran perlu dipikirkan penggunaan obat
altematif lain.
Pada penelitian ini ditemukan 2 kasus gonorrhoe yang
semuanya pada penderita akseptor KB steril (1,2%). Menurut
Benson (1988) dan Soeprihatin (1981), gonorrhoe dapat
disertai dengan keluhan sekret berbau, disuria, gatal dan
dispareunia. Kedua penderita tersebut hanya mengeluh gatal
(100%) dan sekret berbau (50%). Pada pengobatan dengan
amoksisilin, didapat angka kesembuhan 100%.
Vaginosis atau vaginitis non spesifik pada penelitian ini
ditemukan 38,0%. Peneliti-peneliti lain menemukan 33,7%
(8)
,
88,3%
(11)
, dan 55,9
(10)
.
Kasus vaginosis ini ditemukan pada ibu hamil dan tidal;
hamil terutama pada akseptor KB AKDR (50%) dan hormonal
(17,7%), sedangkan peneliti lain mendapatkan 28,2% pada
akseptor KB AKDR dan 5,7% pada hormonal
(10)
.
Keluhan yang mungkin timbul pada penderita vaginosis
tergantung penyebabnya, antara lain sekret berbau, disuria,
gatal dan dispareunia
(12)
. Keluhan penderita vaginosis yang
ditemukan pada penelitian ini adalah sekret berbau (64,5%),
gatal (40,3%), dispareunia (12,9%) dan disuria (4,8%).
KESIMPULAN
Candidiasis merupakan penyebab utama fluor albus kecuali
pada akseptor KB kondom dan steril. Penderita fluor albus
datang berobat terutama karena adanya keluhan bau dan gatal,
dan keluhan terbanyak ditemukan pada penderita candidiasis.
Obat-obat anti fluor albus yang tersedia di Puskesmas masih
cukup efektif kecuali pada pengobatan infeksi campuran.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih ditujukan kepada :
1.
Bapak Ka Kanwil/Ka Dinkes Depkes DKI, Ka Sudinkes Jakpus, Ka Pus-
kesmas Cempaka Putih Barat I dan staf, yang memungkinkan penelitian ini
dapat terlaksana.
2.
Bapak Ka Puslit Penyakit Menular, Badan Litbangkes, Depkes RI, Jakarta,
yang mengijinkan makalah ini dapat diterbitkan.
3.
Semua teman-teman yang telah membantu penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
1.
Syarifuddin P, Soeprihatin SD. Infeksi Trichomonas vaginalis dan Can-
dida, serta cara penanggulangannya. Kumpulan Naskah KPPIK X FKUI,
Jakarta, 1979; 95-100.
2.
Suprihatin SD. Tinjauan etiologi keputihan dan pengobatannya. Saninar
pengobatan rasional keputihan, Jakarta 1981.
3.
Samil RS. Vaginitis : Diagnosis dan terapi. Simposium Vaginitis KOGI
VI, Ujung Pandang, 1985.
4.
Soeprihatin SD, Syarifuddin PK, Lubis M. Berbagai hat dihubungkan
dengan fluor albus. Maj Kedokt Indon 1976; 26: 997-1004.
5.
Turatmo W. Pengalaman klinik pengobatan fluor albus di Rumah Sakit
Anak dan Bersalin Harapan Kita. Pekan Pertemuan Bmiah V. Fakultas
Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta 13 Desember 1986.
6.
Mc Carthy T, Ratnam S. Bacterial vaginosis. Paediatr. Obstetr. Gynaecol
1987; 13: 13-20.
7.
Suhartono DS. Vaginosis. Simposium Vaginitis Up-date. Kongres Obstetri
Ginekotogi Indonesia VI, Ujung Pandang, 1985.
8.
S. Biran HD. Pengalaman klinik pengobatan keputihan. Diskusi berkala
Kelompok Studi Dokter Keluarga dalam pelaksanaan keputihan dalam
praktek doktet keluarga. Jakarta, 30 Januari, 1988.
9.
Budihardjo,MusfirohS,BaedhowiCA,YudomustopoB.InsidensiTricho-
monas vaginalis di Poliklinik Rumah Sakit Mangkuyudan, Yogyakarta.
Berkala Ilmu Kedokteran 1976; VIII (2): 55-7.
10.
Lubis M, Soepardiman HM; Siantuti MHR. Keputihan pada akseptor
keluarga berencana. Diskusi berkala Kelompok Studi Dokter Keluarga I,
Jakarta, 30 Januari 1988.
11.
Lestadi J. Soemedhi, Lestari SB. Pengobatan keputihan pada akseptor KB
pil, akseptor KB spiral dan kelompok non KB dengan AlbothyL Medika
1988; 5: 401-5.
12.
Benson RC. Current Obstetric & Gynaecology Diagnosis & Treatment, 3rd
ed. Singapore: Lange Medical Publ Maruzan Asia, 1980: 155-64.
13.
McLennan MT dkk. Diagnosis of vaginal mycosis and trichomoniasis.
Obstetr Gynaecol 1972; 40: 231.
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 25