background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengaruh Inhalasi Sulfur Dioksida
terhadap Kesehatan Paru
Eva Munthe, Faisal Yunus, Wiwien Heru Wiyono, Mukhtar Ikhsan
Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Sejalan dengan kehidupan masyarakat yang makin
moderen, jumlah kendaraan bermotor makin bertambah,
pabrik-pabrik industri juga meningkat; akibatnya polusi udara
makin bertambah dan menjadi masalah internasional, me-
nimbulkan dampak negatif berupa antara lain masalah
kesehatan.
Indonesia sebagai negara berkembang juga menghadapi
masalah polusi udara, paling sering disebabkan oleh asap
kendaraan bermotor dan asap pabrik. Tingkat polusi udara
terutama di kota-kota besar di Indonesia makin meningkat
sehingga masalah kesehatan terutama pernapasan juga ber-
tambah.
1
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional
tahun 1992
dikutip 1
menunjukkan bahwa penduduk Jakarta yang
menderita gejala batuk dalam satu bulan akibat polusi udara
meningkat dari 16,8 % menjadi 22,5 % dan kematian akibat
infeksi saluran napas juga meningkat dari 6,2 % pada tahun
1986 menjadi 9,2 % pada tahun 1992. Bahkan pajanan polusi
udara dalam jangka lama, dapat menimbulkan perubahan atau
kerusakan histopatologi paru.
2
Sulfur dioksida yang terdapat di atmosfir dapat digunakan
sebagai indikator polusi udara. Kadar standar SO
2
di Indonesia
adalah 0,1 part per million (ppm) per 24 jam.
1
Sulfur dioksida
dapat bereaksi dengan berbagai partikel
dan dapat membentuk hujan asam. Jumlah total SO
2
yang
dilepaskan di udara diperkirakan 100 X 10
6
ton per tahun.
3
Akibat pajanan SO
2
dapat timbul iritasi konjungtiva, kulit dan
saluran napas menyebabkan gangguan fungsi paru baik akut
maupun kronik, bahkan kematian.
4
SULFUR DIOKSIDA
Sulfur dioksida (SO
2
) merupakan bagian partikel gas yang
mencemari udara. Sifat SO
2
mudah larut dalam air, tidak
berwarna, berbau tajam atau pedas pada konsentrasi sekitar 0,5
sampai 0,8 part per million (ppm) dan iritan yang kuat. Sulfur
dioksida dapat berasal dari pembakaran batubara dan minyak
mentah yang mengandung sulfur, pembangkit tenaga listrik
bertenaga batubara, pabrik yang menghasilkan bubur kertas,
peleburan seng, timah dan tembaga serta pemanas ruangan.
5
Secara alamiah sumber SO
2
berasal dari dekomposisi zat-zat
organik,vulkanik dan garam laut.
3
Kadar SO
2
yang terpajan pada manusia di udara bebas
lebih rendah dibandingkan pada pekerja dalam ruangan yang
terpolusi. Batas pajanan jangka pendek untuk pekerja di
Amerika Serikat dan beberapa negara adalah 5 ppm.
6
Nilai
standar SO
2
berdasarkan National Primary Air Quality
Standards in the United States adalah 0,03 ppm (80
mikrogram/m
3
) rata-rata per tahun dan 0,14 ppm (365
mikrogram/m
3
) rata-rata per hari.
5
Konsentrasi SO
2
di udara
ambien tetap di bawah 0,04 ppm.
6
Metode pengukuran gas SO
2
menurut United States Environmental Protection (USEPA )
ialah dengan teknik pulsed fluorescent (continuous).
7
INHALASI SO2
Menurut penelitian inhalasi SO
2
paling sering terjadi di
kawasan industri seperti pabrik kertas dan daerah per-
tambangan.
8
Derajat gangguannya pada saluran napas dipeng-
aruhi oleh beberapa faktor yaitu
9
:
-
Karakteristik agregat
Diameter partikel akan mempengaruhi lokasi terjadinya
deposit. Partikel >10
µm akan terdeposit di saluran napas atas
dan partikel < 5
µm akan masuk ke saluran napas distal dan
alveoli.
-
Sifat kelarutannya di dalam air
Gas yang mudah larut dalam air akan menimbulkan efek
pada saluran napas atas; gas yang tidak mudah larut dalam air
akan menimbulkan efek di alveoli (gambar 1).
-
Jumlah
Gas yang mudah larut dalam air dalam jumlah besar dapat
menimbulkan gangguan sampai ke alveoli.
Pada pernapasan biasa melalui hidung, hampir 98 % gas
SO
2
akan diabsorbsi di nasofaring dan sisanya akan diabsorbsi
dengan cepat di mukosa serta epitel di bronkus.
Hal ini karena turbulensi udara dengan mukosa hidung
pada pernapasan biasa relatif sangat besar sehingga gas-gas
yang diabsorbsi meningkat; hanya sedikit bahkan hampir tidak
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003 29
background image
ada yang sampai ke saluran napas bawah. Pada pernapasan
melalui mulut, gas SO
2
yang diabsorbsi lebih sedikit dibanding-
kan melalui hidung. Namun dalam keadaan khusus misal
bekerja berat, ventilasi per menitnya akan meningkat, sehingga
jumlah udara yang dihisap melalui mulut meningkat dan deposit
gas SO
2
dapat mengenai saluran napas bawah.
5
Pajanan SO
2
pada kadar 1 - 5 ppm dapat menyebabkan
iritasi mata, konsentrasi SO
2
antara 5 - 10 ppm menyebabkan
iritasi mata dan mukosa hidung sedangkan pajanan dengan
konsentrasi antara 10 - 50 ppm selama 5 sampai 15 menit dapat
menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorok, juga timbul rasa
tercekik di leher, nyeri dada, dan bronkokonstriksi. Konsentrasi
SO
2
lebih dari 50 ppm menimbulkan kerusakan parenkim paru
dan vaskularisasi paru yang berat, sehingga terjadi perubahan
fungsi dan anatomi paru.
4,5
Ada beberapa pendapat mengenai mekanisme toksikologi
SO
2
, ada yang mengatakan terjadi peningkatan tahanan saluran
napas karena sifat SO
2
yang mudah larut dan diabsorbsi oleh air
yang terkandung di saluran napas, mukus dan cairan epitel
dinding bronkus, membentuk asam sulfur dan bisulfur. Ke-
mungkinan lain adalah reaksi inflamasi di saluran napas sebagai
respons terhadap SO
2
yang menghasilkan asam. Pada inflamasi
terjadi penglepasan mediator seperti histamin, leukotrien,
prostaglandin, faktor kemotaktik neutrofil dan faktor aktivasi
platelet serta sitokin, yang secara fungsional menyebabkan
peningkatan permeabilitas epitel. Selain itu faktor terjadinya
bronkokonstriksi adalah peningkatan refleks parasimpatis dan
penurunan aktivitas simpatis atau penurunan aktivitas inhibitory
non adrenergic.
6, 9
PENGARUH SO
2
TERHADAP PARU
SO
2
dapat menimbulkan berbagai macam gejala seperti
konjungtivitis, iritasi kulit, rhinorrhea, nyeri dada, batuk, sesak
napas. Pada orang sehat yang tidak hipereaktif bila terpajan
SO
2
pada konsentrasi di atas 5 ppm dapat timbul peningkatan
resistensi saluran napas. Dari beberapa penelitian ditemukan
bahwa pada penderita asma konsentrasi yang lebih rendah yaitu
0,25-0,5 ppm SO
2
sudah menyebabkan konstriksi saluran napas
dan gejala asma karena pada penderita asma sudah terdapat
peningkatan sensitivitas.
6
Pemeriksaan fisik akibat pajanan akut SO
2
yaitu hiperemia
mukosa faring, melemahnya suara napas, batuk dan mengi.
Gambaran foto toraks sering terlihat normal tapi pada saat
serangan akan terlihat hiperinflasi. Pemeriksaan faal paru pada
penderita asma kerja karena terpajan gas SO
2
akan menunjuk-
kan penurunan volume ekspirasi paksa pada detik pertama
(VEP
1
) dan ratio VEP
1
/ kapasitas vital paksa (KVP).
10
Bronchoalveolar lavage sering digunakan pada beberapa
kasus untuk mengetahui tanda-tanda inflamasi akut akibat
pajanan SO
2
. Pajanan SO
2
setelah 20 menit pada konsentrasi 10,
13, 20 dan 30 mg SO
2
m
3
meningkatkan limfosit, makrofag
alveolar, makrofag positif lisozim dan sel mast. Sebuah studi
kinetik menyatakan bahwa akibat rangsangan SO
2
terjadi
peningkatan sel-sel inflamasi setelah 4 jam, mencapai puncak-
nya dalam 8 - 24 jam dan kembali normal setelah 72 jam
(gambar 2). Makrofag alveolar ditemukan paling banyak dalam
bronchoalveolar lavage fluid (BALF): sekitar 90 %. Tidak ada
perubahan konsentrasi albumin, fibronektin, hialuronan atau
2
mikroglobulin.
6
Penelitian fungsi makrofag oleh Skornik dan Brain
pada
tupai dalam keadaan istirahat yang diberi pajanan SO
2
50 ppm
selama 4 jam menunjukkan penurunan yang tidak bermakna
sedangkan pajanan yang sama pada tupai yang berlari selama
40 menit dengan kecepatan 0.9 km/jam menyebabkan penurun-
an endositosis makrofag setelah 1 jam, bahkan 24 jam
kemudian efek ini masih bermakna; endositosis ini akan
kembali normal setelah 48 jam.
11
Rasio sesudah /sebelum pajanan
Keterangan :
Sel
Mast
Limfosit
Makrofag/Monosit
Jam sesudah pajanan
Gambar 2. Perubahan relatif jumlah total sel-sel pada cairan BAL
setelah 20 menit terpajan konsentrasi 20 mg SO
2
/ m
3
Dikutip dari (12)
Pajanan akut SO
2
konsentrasi tinggi dapat menyebabkan
trakeobronkitis berat yang ditandai dengan edema mukosa
membran, eksudasi masif, ulserasi, perdarahan dan nekrosis;
juga dapat menyebabkan bronkitis atau bronkiolitis akut dan
alveolitis.
8,12
Hal ini sering terjadi akibat kecelakaan di pabrik,
yang ditandai oleh konjungtivitis dengan ulserasi, batuk
progresif, nyeri dada, sesak napas hebat bahkan dapat timbul
sianosis. Foto toraks tampak normal walaupun terjadi penurun-
an suara napas disertai ronki, mengi dan hiperemia mukosa
faring; dapat juga terlihat gambaran opak yang bulat pada
seluruh lapangan paru dan sedikit bayangan konfluen. Selain
menyebabkan trakeobronkitis juga dapat menyebabkan kemati-
an karena paralisis pernapasan dan edema paru akibat kerusak-
an membran kapiler alveoli juga aktivasi sel-sel inflamasi yang
menyebabkan kerusakan epitel dan endotel.
8,9
Suatu penelitian pada kelompok laki-laki sehat, tidak
merokok, berusia 25 tahun dan telah menginhalasi SO
2
konsen-
trasi tinggi selama 15 menit karena kecelakaan di pabrik,
memperoleh hasil foto toraks dengan gambaran infiltrat, tetapi
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003
30
background image
akan hilang dalam 5 hari. Mereka mengalami batuk produktif
yang berat dan sesak napas disertai mengi. Setelah 20 bulan
kapasitas vital (KV) akan meningkat dari 2,18 menjadi 3,58
liter (nilai prediksi 4,32), tetapi forced expiratory flow between
25% and 75% vital capacity (FEF
25-75
) hanya mengalami
sedikit perubahan dari 0,48 menjadi 0,56 liter/detik.
13
Menurut
Rabinovitch dkk, 3 minggu setelah terpajan gas SO
2
konsentrasi
tinggi, pada dua kelompok berbeda umur dan tidak merokok
akan terjadi obstruksi berat, hipoksemia, menurunnya toleransi
kerja dan gangguan ventilasi dan perfusi yang terlihat pada
payar paru galium; setelah 12 bulan pada serial payar ventilasi-
perfusi akan terlihat perbaikan meskipun tidak kembali
normal.
10
Pengaruh pajanan kronik SO
2
terhadap paru dapat
menyebabkan bronkitis kronik, penyakit paru obstruksi kronik
(PPOK), fibrosis peribronkial. Biasanya terjadi pada karyawan
yang bekerja di pabrik-pabrik industri terutama pabrik kertas
yang menghasilkan bubur kertas atau penduduk yang tinggal
dekat kawasan industri. Penderita umumnya mengeluh batuk
produktif yang lama. Pajanan SO
2
jangka lama dapat me-
nyebabkan perubahan volume paru, histologi dan perubahan
BALF. Volume paru pada PPOK akan berubah, kapasitas paru
total (KPT) dan volume residual (VR) akan meningkat.
14
Selain
itu dapat timbul bronkiektasis, bronkiolitis obliterans yang
sering disertai pneumonia. Pada kondisi ini timbul gejala batuk,
sesak napas dan demam. Pemeriksaan fungsi paru menunjukkan
gangguan ventilasi restriksi dengan gangguan difusi dan
hipoksemia (penurunan KV, KPT dan VR).
9
Perubahan
histologi yang terjadi adalah hiperplasi dan hipertrofi epitel
bronkus, pelebaran rongga udara karena destruksi alveoli,
inflamasi peribronkial. Hasil BALF juga menunjukkan pe-
ningkatan protein, albumin, laktik dehidrogenase (LDH),
makrofag alveolar dan neutrofil.
14
Penelitian yang dilakukan oleh Abbey dkk serta penelitian
yang dilakukan di Eropa dan Kanada berkesimpulan bahwa ada
hubungan antara SO
2
dengan peningkatan insidens kanker paru
dan kardiopulmoner.
15
Data dua studi kohort memberi kesan
peningkatan mortalitas kardiopulmoner dan kanker paru yang
dihubungkan dengan lingkungan mengandung partikel polusi
udara dalam jumlah yang makin bertambah; hasil ini kurang
tepat untuk menyatakan ada hubungan spesifik antara polusi
udara dengan kanker paru, pada studi ini belum ada data
kematian akibat penyakit di luar respirasi. Namun beberapa
penelitian memperoleh hasil peningkatan insidens kanker paru
pada pajanan SO
2
dalam jangka waktu lama.
5
PENATALAKSANAAN
Pertolongan pertama sesudah terjadinya inhalasi SO2 yaitu
memindahkan segera pasien dari area yang berbahaya. Secara
praktis penanganan pada pasien sesudah terpajan gas SO
2
dibagi dalam 2 kelompok ( gambar 3) yaitu
9:
Sindrom iritasi saluran napas atas
Prinsip pengobatannya bersifat simptomatik; penata-
laksanaannya berupa:
1.
Antitusif jika diperlukan.
2.
Inhalasi simpatomimetik jika ada tanda-tanda obstruksi.
3.
Pemberian oksigen jika terjadi hipoksia.
4.
Pemberian obat sedasi ringan jika perlu.
5.
Pemberian antileukotrien
Jika gejala akut belum teratasi atau makin berat, penderita
harus dirawat di rumah sakit. Langkah penting yang harus di
lakukan dalam melakukan observasi adalah :
1.
Pemeriksaan fisik, saturasi oksigen, analisis gas darah dan
foto toraks. Pemeriksaan foto toraks dilakukan maksimal 8 jam
sesudah terinhalasi.
2.
Jika penderita mengeluh dada terasa berat, vertigo, nausea
maka harus dipikirkan terjadinya edema paru; pada keadaan ini
harus diberikan kortikosteroid intravena.
3.
Penderita edema paru harus segera dirawat di instalasi
perawatan intensif.
Sindrom iritasi saluran napas bawah
Prinsip penatalaksanaannya :
1.
Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia
2.
Perawatan di rumah sakit setelah inhalasi gas-gas toksik
adalah untuk mencegah terjadinya edema paru toksik dengan
pemberian kortikosteroid yaitu prednisolon intravena 0,25-1
gram dengan inhalasi steroid.
3.
Foto toraks berkala saat penderita masuk rumah sakit, 8
jam dan 24 jam kemudian.
4.
Pemeriksaan analisis gas darah pada saat masuk rumah
sakit, 8 jam dan 24 jam kemudian.
5.
Terapi simptomatik seperti bronkodilator, antitusif dan
sedatif.
6.
Pemberian antibiotik jika terjadi tanda-tanda inflamasi
(peningkatan C- reactive protein).
7.
Penggunaan ventilasi mekanik jika frekuensi napas lebih
dari 30 kali per menit, tekanan parsial oksigen arteri kurang dari
55 mm Hg.
KESIMPULAN
1. Sulfur dioksida dapat menyebabkan bronkokonstriksi
sehingga meningkatkan tahanan saluran napas.
2. Pajanan akut SO
2
dengan konsentrasi tinggi dapat me-
nyebabkan perubahan fungsi dan anatomi paru, bahkan
kematian.
3. Pajanan SO
2
dalam jangka waktu lama menyebabkan
perubahan volume paru, histologi dan perubahan BALF.
4. Terjadi peningkatan sel-sel inflamasi pada BALF terutama
sel makrofag alveolar dan penurunan endositosis makrofag.
KEPUSTAKAAN
1.
Mangunnegoro H, Sutoyo DK. Enviromental and occupational lung
diseases in Indonesia. Respirology 1996; 1:85-91.
2.
Marcelo B, Paulo HN, Saldiva, Pope AC, Capelozzi VL. Respiratory
changes due long-term exposure to urban level of air pollution. Chest
1998; 113:1312-8.
3.
Waldbott GL. The Sulfur oxides. In: Waldbott GL, ed. Health effects on
environnmental pollutants. 2
nd
ed. St Louis: CV Mosby Co; 1978. p. 85-
101.
4.
Malachowski MJ. Health effects of toxic substances. Inhalation SO
2
.
Available at http:www/ce.wsu.edu/research/westberg_HTML/SO
2
_module/ healtheffects.htm. Accessed 1995.
5.
Balmes RJ, Tager I. Air pollution. In: Murray JF, Nadel JA, eds. Textbook
of respiratory medicine. 3
rd
ed. Philadelphia: WB Saunders Co;
2000.p.1885-93.
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003 31
background image
6.
Sandstrom T. Respiratory effect of air pollutants: experimental studies in
humans. Eur Respir J 1995; 8:986-9.
11.
Skornik WA, Brain JD. Effect of sulfur dioxide on pulmonary
macrophage endocytosis at rest and during exercise. Am Rev Respir Dis
1990; 142:655-9.
7.
Lazarus CS, Wong HH, Watts JM, Boushey HA, Lavins BJ, Minkwitz
MC. The leukotriene receptor antagonist zafirlukast inhibits sulfur
dioxide-induced bronchoconstiction in patients with asthma. Am J Respir
Crit Care Med 1997; 156:1725-30.
12.
Sandstrom T, Stjernberg N, Anderson MC, Hedman-Kolmodin B,
Lundgren R, Rosenhall L, et al. Cell response in bronchoalveolar lavage
fluid after to sulfur dioxide: A time-response study. Am Rev Respir Dis
1989; 140:1828-31.
8.
Ross AS, Seaton A, Morgan C. Toxic gases and fumes. In: Morgan C,
Seaton A, eds. Occupational lung diseases. 3
rd
ed. Philadelphia: WB
Saunders Co; 1995.p.568-86.
13.
Bates DV. Occupational lung diseases. In: Lamsback W, ed. Respiratory
function in disease. 3
rd
ed. Philadelphia: WB Saunders Co; 1989.p.324-31.
14.
Kodavanti UP, Jackson MC, Ledbetter AD, Starcher BC, Evansky PA,
Harewood A, et al. The combination of elastase and sulfur dioxide
exposure causes COPD-like lesions in the rat. Chest 2000; 117:299S-
302S.
9.
Nowak D, Hoppe P. Acute exposure to toxic agents. In: Grassi C, Roisin
RR, Brambilla C, Stockley RA, Costabel U, Naeije R, eds. Pulmonary
diseases. London: McGraw-Hill; 1999.p.303-9.
10.
Rabinovitch S, Greyson ND, Weiser W, Hoffstein V. Clinical and
laboratory features of acute sulfur dioxide inhalation poisoning: two-year
follow up. Am Rev Respir Dis 1989; 139:556-8.
15.
Abbey DE, Nishino N, William F, McDonnell, Burchette RJ, Knutsen SF,
et al. Long term inhalable particles and other air pollutants related to
mortality in nonsmokers. Am J Respir Crit Care Med 1999; 159:373-82.
Ozon (O
3
)
Nitrogen dioksida
(NO
2
)
Brokiolus
Alveoli
Rendah
Sulfur dioksida
(SO
2
)
Klorin (Cl
2
)
Isosianat
Bronkus
Bronkiolus
Sedang
Amonia (NH
3
)
Hidrogen klorida
(HCl)
Formaldehida
(CH
2
O)
Akrolein (C
3
H
4
O)
Mata
Laring
Trakea
Tinggi
Substansi
Lokasi
Kelarutan dalam air
Gambar 1. Lokasi pajanan gas SO
2
Dikutip dari (9)
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003
32
background image
Gambar 3. Skema penatalaksanaan sesudah inhalasi gas-gas berbahaya
Inhalasi gas toksik yang menimbulkan iritasi saluran napas atas
Tidak ada keluhan
Sindrom iritasi
Pulang
Terapi dan observasi
Perbaikan Perburukan
Pulang sesudah perawatan Rawat
Inhalasi gas toksik yang menimbulkan iritasi
saluran napas bawah
Tidak ada keluhan
Keluhan tidak
spesifik
Terapi profilaksis
Tanda edema paru
jelas
Observasi
Tanda edema (-)
Tanda edema paru
Terapi dan rawat
Pulang
Dikutip dari (9)
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003 33