background image
HASIL PENELITIAN
Karakteristik Tuberkulosis Anak
dengan Biakan Positif
Bambang Supriyatno, Nastiti N Rahajoe, Noenoeng Rahajoe, I. Boediman,
Mardjanis Said, Darmawan B Setyanto
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan di negara berkembang termasuk
Indonesia, baik dalam hal morbiditas maupun mortalitas. Di Indonesia, berdasarkan
survai kesehatan rumah tangga (SKRT) 1995, TB menempati urutan ke tiga sebagai
penyebab kematian.
Diagnosis TB pada anak masih sulit ditegakkan karena gejala klinis dan pe-
meriksaan penunjang tidak selalu mendukung. Diagnosis pasti TB adalah ditemukan-
nya M. tuberculosis pada biakan sputum, cairan bilasan lambung, cairan pleura atau
lainnya; sehingga pada anak, sangat sulit untuk mendapatkan kultur positif.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik TB anak baik klinis
maupun pemeriksaan penunjang. Metodologi yang digunakan bersifat retrospektif
dengan menelusuri lebih jauh gejala klinis maupun pemeriksaan penunjang pada TB
anak dengan kultur M.tbc positif. Hasil pemeriksaan dicatat pada formulir tertentu dan
dianalisis.
Hasilnya: dari tahun 1994-1997 didapatkan 171 kasus TB anak dengan biakan
M.tuberculosis positif dengan perbandingan lelaki dan perempuan 1:1; usia terbanyak
balita. Gejala klinis yang menonjol adalah demam (81,3%) diikuti batuk (79,5%),
anoreksia dan keringat malam (masing-masing 63,7%), penurunan berat badan
(54,7%), dan malaise (45,6%). Parut BCG didapatkan pada 108 (63,16%) anak.. Uji
tuberkulin positif didapatkan 129 pasien (75,4%). Pada rontgen dada 38 (22,2%)
pasien menunjukkan kelainan minimal berupa infiltrat ringan.
Kesimpulan penelitian ini adalah gejala klinis yang menonjol pada TB anak
adalah demam,, batuk, anoreksia, dan keringat malam. Terdapat 22,2% pasien TB anak
yang menunjukkan kelainan minimal pada rontgen parunya.
Kata kunci: Tuberkulosis, biakan positif, gambaran klinis
PENDAHULUAN
TB masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia baik
morbiditas maupun mortalitasnya. Berdasarkan SKRT 1995,
TB merupakan urutan ke tiga sebagai penyebab kematian
setelah penyakit saluran nafas dan kardiovaskuler. Permasalah-
annya bukan saja dalam menentukan diagnosis pasti, tetapi
juga termasuk tata laksana secara menyeluruh.
1,2
Diagnosis pasti TB anak adalah ditemukannya M. tuber-
culosis dari sputum, cairan bilasan lambung, cairan pleura, atau
yang lainnya. Selain biaya pemeriksaan yang mahal, dan perlu
waktu yang lama, sulitnya mendapatkan hasil positif merupa-
kan kendala pemeriksaan biakan M.tuberculosis. sehingga ge-
jala klinis dan pemeriksaan penunjang lainnya dapat diguna-
kan sebagai pedoman diagnostik.
2
Pada anak, gejala klinis TB tidak khas sehingga banyak
dijumpai over/under diagnosis atau over/under treatment. Se-
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
22
background image
lain itu, pemeriksaan penunjang pun tidak ada yang spesifik
seperti layaknya kultur M.tuberculosis. Telah banyak peme-
riksaan penunjang untuk membantu diagnosis TB anak seperti
uji serologis dan PCR, tetapi hasilnya sampai saat ini belum
memuaskan
3-5
;belum ada satupun pemeriksaan penunjang yang
dapat memberi informasi aktif tidaknya TB anak.
Dengan mengetahui karakteristik dan pemeriksaan penun-
jang yang ada pada pasien TB confirmed (TB pasti), maka
diharapkan gabungan keduanya menjadi pedoman untuk
menentukan diagnosis TB pada anak.
METODOLOGI
Populasi penelitian adalah semua pasien dengan diagnosis
TB yang berobat di ruang rawat inap dan rawat jalan Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM sejak 1994-1997. Pasien
TB anak menjalani pemeriksaan kultur M.tuberculosis melalui
sputum, cairan bilasan lambung, cairan pleura dll. Pemeriksaan
sputum dilakukan pada anak yang lebih besar (>14 tahun),
sedangkan pada anak yang lebih kecil diambil cairan bilasan
lambung selama 2 hari berturut-turut. Atas indikasi tertentu
dapat dilakukan pemeriksaan cairan pleura atau cairan sere-
brospinalis. Seluruh pemeriksaan dilakukan di laboratorium RS
Persahabatan. Dikatakan TB pasti (confirmed) jika ditemukan
M.tuberculosis pada salah satu cairan yang diperiksa.
Setelah didapatkan hasil biakan positif (confirmed TB),
maka ditelusuri catatan medik untuk mengetahui gejala klinis,
pemeriksaan penunjang dan data lain yang diperlukan. Bila
perlu pasien dipanggil untuk kontrol ke Poliklinik Pulmono-
logi.
HASIL
Didapatkan 171 biakan positif. Tidak ada pasien yang
biakannya positif lebih dari satu kali pemeriksaan. Berdasar-
kan penelusuran catatan medik didapatkan hasil perbandingan
lelaki dan perempuan adalah 1:1.
Karakteristik 171 pasien dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik pasien
Para meter
Jumlah
Prosentase
Kelamin
Laki-laki 85
49,7
Perempuan 86 50,3
Umur
<1 tahun
28
16,4
1 ­ 5 tahun
66
38,6
5 ­ 12 tahun
56
32,7
>12 tahun
21
12,3
Gejala
Demam 139
81,3
Batuk 136
79,5
Anoreksia 109
63,7
Keringat malam
109
63,7
Penurunan BB
97
56,7
Malaise 78
45,6
Parut BCG
Ada 108
63,5
Tidak ada
63
36,5
Uji tuberkulin
Positif 129
75,4
Negatif 42
24,6
Paisen terutama adalah balita (55,0%). Gejala klinis ter-
sering adalah demam (81,3%), diikuti batuk (79,5%), anoreksia
dan keringat malam (masing-masing 63,7%) dan penurunan
berat badan (54,7%). Gejala-gejala di atas dapat dijumpai se-
cara bersamaan pada satu pasien.
Riwayat imunisasi BCG yang ditandai adanya parut BCG
pada penelitian ini sebesar 63,2%. Sebagian besar (75,4%)
pasien hasil uji tuberkulinnya positif. Uji tuberkulin dilakukan
dengan cara Mantoux menggunakan PPD-RT23 2TU dan
dikatakan positif bila indurasi > 10 mm.
Pemeriksaan penunjang lain adalah foto rontgen dada.
Terdapat 77,8% gambaran foto dada dengan kelainan berupa
pembesaran kelenjar, milier, dan efusi pleura, sedangkan 3,5%
lainnya menunjukkan kelainan minimal.
Mengenai keterlibatan organ lain, 36 pasien dengan hepa-
tomegali, 12 di antaranya disertai splenomegali, sebagian besar
berusia di bawah 2 tahun; 6 pasien (3,5%) dengan meningitis
dan 6 pasien (3,5%) dengan spondilitis.
Pembesaran kelenjar getah bening dijumpai pada 122
pasien (71,3%); 43,9% servikal; 14,0% submandibular; 6,4%
aksilar, masing-masing 3,5%.di inguinal dan sudah terjadi
skrofuloderma.
Tabel 2. Gambaran radiologis (n=171)
Jenis kelainan
Jumlah
Prosentase
Infiltrat luas
49
28,7
Milier 41
24,0
Pembesaran kelenjar
24
14,0
Kelainan pleura
12
7,0
Kelainan bronkus
11
6,4
Atelektasis 9
5,3
Konsolidasi 8
4,7
Kavitas 7
4,1
Kelainan minimal
6
3,5
Lain-lain 4
2,3
Berdasarkan kultur M.tuberculosis dilakukan uji resistensi
dengan hasil 4,7% (Tabel 3). Multidrugs resistance (resistensi
ganda) dijumpai pada 0,6%.
Tabel 3. Resistensi kuman
Tahun 1977
(n=115)
Tahun 1996
(n=171)
Jenis obat
Jumlah % Jumlah %
INH
6 5,2 2 1,2
Rifampisin 3
2,6
0
0
PZA NA
-
2
1,2
Etambutol 4
3,5
0
0
SM
5 4,3 1 0,6
PAS
1 0,9 NA -
Kanamisin 2
1,7
0
0
INH + SM
4
3,5
2
1,2
INH+Rif 0
0
1
0,6
INH+PAS
3 2,6 NA -
INH+PAS+SM 7 6,0 NA -
INH+Rif+PZA NA - 0 0
>3 obat
6
5,2
0
0
Total 41
35,7
8
4,7
Catatan:
Rif: Rifampisin; PZA:Pirazinamid; M:Streptomisin; PAS:Paraaminosalycylic
acid;
NA: tidak ada data
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
23
background image
DISKUSI
Pemeriksaan biakan M.tuberculosis pada anak sulit dilaku-
kan. Kendalanya adalah sulitnya mendapatkan bahan yang
representatif. Pada dewasa untuk mendapatkan sputum cukup
mudah, tetapi pada anak sangat sulit. Usaha lain melalui cara
bilasan lambung karena anak sering menelan kembali
sputumnya
6.
Tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan dan
terbanyak adalah balita.; hal ini dapat dimengerti mengingat
secara alami balita mempunyai risiko tinggi terserang infeksi.
7,8
Gejala klinis pada TB anak yang menonjol pada penelitian
ini adalah demam dan batuk. Demam biasanya tidak terlalu
tinggi dan berlangsung lama. Konsensus TB anak menetapkan
demam sebagai salah satu gejala umum TB. Demam tersebut
bukan merupakan gejala penyakit tertentu yang sudah diketahui
seperti demam tifoid, malaria dll. Pada penelitian ini, meskipun
tidak dibuktikan dengan uji laboratorium, dari tipe demamnya
kemungkinan penyakit lain dapat disingkirkan. Setelah demam,
batuk merupakan gejala ke dua terbanyak. Batuk biasanya
berlangsung lama (kronik) dan dapat berulang. Gejala batuk ini
harus dibedakan dengan batuk kronik berulang (BKB) yang
mungkin disebabkan karena asma. Tidak mudah membedakan
keduanya; pada asma gejala batuk biasanya berlangsung malam
atau dini hari, episodik, ada faktor pencetus, dan ada riwayat
atopi.
9
Gejala lain yang cukup menonjol adalah anoreksia dan
keringat malam. Keluhan ini banyak disampaikan orang tua
karena anoreksia akan mengakibatkan penurunan berat badan;
anoreksia ini dapat saja disebabkan banyak hal antara lain
kesalahan pola pemberian makan, penyakit kronis lain, atau
ketidaktahuan orang tua.
Adanya penurunan berat badan (BB) atau berat badan
tidak bertambah biasanya merupakan gejala kedua setelah
demam; tetapi pada penelitian ini tidak; hal ini diduga karena
beberapa hal antara lain tidak adanya data awal pada catatan
medik bayi, tidak mempunyai KMS (kartu menuju sehat), tidak
biasa menimbang, dan sebagainya; konsensus Nasional TB
Anak menetapkan curiga TB jika dijumpai penurunan atau
tetapnya BB. Mungkin diagnosis TB dapat dideteksi lebih dini
jika kebiasaan mengisi KMS sudah merupakan budaya,
sehingga pengobatan dapat lebih cepat dimulai.
9
Pada algoritma TB anak, adanya reaksi cepat terhadap
BCG merupakan salah satu kriteria kecurigaan terhadap TB.
Penelitian ini sulit mendapatkan data tersebut mengingat
kejadiannya telah berselang cukup lama. Yang dapat di-
laporkan adalah riwayat imunisasi BCG. Salah satu bukti
bahwa pasien pernah diimunisasi BCG adalah adanya parut
BCG. Ada yang berpendapat bahwa imunisasi BCG hanya
dapat mencegah terjadinya TB berat, bukan mencegahnya sama
sekali; dan bahwa efektifitas BCG berkisar 0-80%.
10,11
Pada
penelitian ini didapatkan parut BCG pada 63,2% anak.
Salah satu pemeriksaan penunjang yang mempunyai nilai
diagnostik tinggi adalah uji tuberkulin yang dilakukan dengan
cara Mantoux, menggunakan PPDRT23 2TU dan dikatakan
positif bila indurasi > 10 mm. Pada penelitian ini didapatkan
hanya 75,4% anak dengan uji tuberkulin positif. Hal tersebut
dapat terjadi karena beberapa kemungkinan; pertama pasien
yang diikutkan termasuk TB berat seperti TB milier dan
meningitis tuberkulosis, sehingga mungkin terjadi false
negative (negatif palsu). Ke dua dapat saja anergi karena gizi
buruk
12,13
.
Pemeriksaan penunjang lain adalah foto rontgen dada.
Pada anak gambaran rontgen dada tidak spesifik untuk diagno-
sis TB meskipun pada keadaan tertentu dapat membantu
menegakkan diagnosis TB seperti adanya gambaran milier,
efusi pleura, atelektasis, dan destroyed lung. Penelitian ini
mendapatkan 3,5% gambaran radiologis hanya menunjukkan
kelainan minimal; adanya hasil tersebut membuktikan bahwa
gejala klinis dan pemeriksan penunjang lain harus diteliti
dengan baik. Demikian pula tidak dijumpainya kelainan pada
foto rontgen dada bukan berarti dapat menyingkirkan diagnosis
TB pada anak.
14
Penelitian ini mendapatkan resistensi pada 4,7% biakan;
berbeda dengan Rahajoe dkk.(1977)
16
yang menemukan resis-
tensi sebesar 5,7%. Hal ini mungkin karena pada tahun 1977
pengobatan TB belum secara menyeluruh dan kemungkinan
putus obat atau keadaan yang memungkinkan kuman resisten
cukup tinggi. Demikian pula resistensi ganda, terlihat penurun-
an yang berarti yaitu dari 11,2% menjadi 0,6%. Dikatakan
resistensi ganda apabila kuman resisten terhadap >3 (tiga)
macam OAT dan/ atau resisten terhadap rifampisin dan INH.
Kesimpulan dari penelitian ini ialah bahwa demam, batuk,
anoreksia, dan keringat malam merupakan gejala yang sering
dijumpai pada TB anak; uji tuberkulin dapat digunakan sebagai
uji tapis TB pada anak, dan tidak dijumpainya kelainan pada
foto rontgen dada tidak menyingkirkan kemungkinan diagnosis
TB pada anak. Terjadi penurunan resistensi kuman terhadap
OAT.
KEPUSTAKAAN
1.
Departemen Kesehatan RI. Gerakan terpadu nasional penanggulangan
tuberkulosis. Jakarta,1999; hal 1-16.
2.
Rahajoe NN. Beberapa masalah diagnosis dan tatalaksana tuberkulosis
anak. Dalam: Rahajoe N, Rahajoe NN dkk. Penyunting. Perkembangan
dan Masalah Pulmonologi Anak saat ini. Jakarta: FKUI, 1994; hal.161-
81.
3.
American Thoracic Society. Diagnostic standards and classification of
tuberculosis. Am Rev Respir Dis 1990; 142:725-35.
4.
Smith KC, Starke JR, Eisenach K, Ong LT, Denby M. Detection of
Mycobacterium tuberculosis in clinical specimens from children using a
Polymerase Chain Reaction. Pediatrics 1996; 97:155-60.
5.
Chiang IH, Suo J, Lin TP, Bai KJ. Serodiagnosis of tubeculosis. A Study
comparing three specific mycobacterial antigens. Am J Respir Crit Care
Med 1997; 156:906-11.
6.
Schluger NW, William NR. Current aproaches to the diagnosis of active
pulmonary tuberculosis. Am J Respir Crit Care Med 1994; 149:264-7.
7.
Lincoln EM, Sewell EM. Tuberculosis in children., London: McGraw
Hill Book, 1963; hal.18-54.
8.
Miller FJW. Tuberculosis in children. New York, 1982;hal 3-36.
9.
UKK Pulmonologi. Pertemuan UKK Pulmonologi Ikatan Dokter Anak
Indonesia, Bandung 12-13 Desember 1998.
10.
Sterne JAC, Rodrigues LC. Does the efficacy of BCG decline with time
since vaccination?. Int J Tuberc Lung Dis 1998; 2(3):200-7.
11.
Tidjani O, Amedome A, Dam HG. The protective effect of BCG
vaccination of the newborn against childhood tuberculosis in an African
community. Tubercle 1986; 67:269-81.
12.
Chee CBE, Soh CH, Boudville IC, Chor SS, Wang YT. Interpretation of
the tuberculin skin test in Mycobacterium bovis BCG-vaccinated
Singaporean schoolchildren.
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
24
background image
13.
Lockman S, Tappero JW, Rumisha D, et al. Tuberculin reactivity in a
pediatric population with high BCG vaccination coverage. Int J Tuberc
Lung Dis 1999; 3:23-30.
15.
Houwert KAF, Borggreven PA, Schaaf HS, Nel E, Donald PR, Stolk J.
Prospective evaluation of World Health Organization criteria to assist
diagnosis of tuberculosis in children. Eur Respir J 1998; 11:1116-20.
16.
Rahajoe NN, Rahajoe N, Boediman I. Primary tuberculosis in children
(review of 115 bacteriologically proven cases). Pediatr Indon 1977;
17:289-98.
14.
Smuts NA, Beyers N, Gie RP, Schaaf HS, Talent JM, Nel E, Zyl S, et al.
Value of the lateral chest radiograph in tuberculosis in children. Pediatr
Radiol 1994; 24:478-80.
Every child is to a certain extent a genius,
and every geniuses to a certain extent a child
(Schopenhauer)
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
25