TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Gambaran Klinik
dan Psikofarmaka pada Penderita
Gangguan Kecemasan
Yusuf Alam Romadhon
Dokter PTT Puskesmas Kartasura II Kabupaten Sukoharjo, Jawa Teqgah
ABSTRAK
Dari aspek klinik kecemasan dapat dijumpai pada orang dengan stres normal;
pada orang dengan sakit fisik berat, lama dan kronis; pada penderita gangguan psikiatri
berat atau merupakan gangguan yang berdiri sendiri. Dikenal 5 jenis gangguan kece-
masan, yaitu 1) gangguan panik, 2) gangguan cemas umum, 3) gangguan fobik, 4)
gangguan obsesif kompulsif dan 5) gangguan stress pasca trauma.
Untuk penyembuhan dengan baik dan mencegah ketergantungan obat anxiolitik
diberikan terapi kombinasi yaitu psikoterapi dan psikofarmaka. Pendekatan psiko-
farmaka adalah dengan obat-obatan anxiolitik yang meliputi tranquilizer minor baik
golongan benzodiazepin maupun non benzodiazepin, hipnotik, antidepresan trisiklik,
monoamin inhibitor (MAOI), serotonin reuptake inhibitor (SRI) dan specific seroto-
nine reuptake inhibitor (SSRI).
Kata kunci: gangguan kecemasan - gambaran klinik - psikofarmaka
PENDAHULUAN
Istilah kecemasan dalam psikiatri muncul untuk merujuk
suatu respons mental dan fisik terhadap situasi yang menakut-
kan dan mengancam. Secara mendasar lebih merupakan res-
pons fisiologis ketimbang respons patologis terhadap ancaman.
Sehingga orang cemas tidaklah harus abnormal dalam perilaku
mereka, bahkan kecemasan merupakan respons yang sangat
diperlukan. Ia berperan untuk meyiapkan orang untuk meng-
hadapi ancaman (baik fisik maupun psikologik).
(3)
Perasaan cemas atau sedih yang berlangsung sesaat adalah
normal dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Ce-
mas pada umumnya terjadi sebagai reaksi sementara terhadap
stress kehidupan sehari-hari.
(9)
Bila cemas menjadi begitu besar atau sering seperti yang
disebabkan oleh tekanan ekonomi yang berkepanjangan, pe-
nyakit kronik dan serius atau permasalahan keluarga maka
akan berlangsung lama; kecemasan yang berkepanjangan
sering menjadi patologis. Ia menghasilkan serombongan
gejala-gejala hiperaktivitas otonom yang mengenai sistem
muskuloskeletal, kardiovaskuler, gastrointestinal dan bahkan
genitourinarius (Tabel 1). Respons kecemasan yang berke-
panjangan ini sering diberi istilah gangguan kecemasan, dan
ini merupakan penyakit.
(1,3,9)
Dari aspek klinik kecemasan dapat dijumpai pada orang
yang menderita stress normal; pada orang yang menderita
sakit fisik berat, lama dan kronik; pada orang dengan gang-
guan psikiatri berat (skizofrenia, gangguan bipoler dan depre-
si); dan pada segolongan penyakit yang berdiri sendiri yang
dinamakan gangguan kecemasan.
(1,10)
Yang dibahas di sini
adalah kelompok terakhir yang terdiri dari 5 macam yaitu: 1)
gangguan panik, dengan ciri munculnya mendadak tanpa
faktor pencetus; 2) gangguan cemas umum, yaitu kecemasan
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
24
yang diderita bersifat mengambang bebas dan berlangsung
menahun (kronik); 3) gangguan fobik yaitu kecemasan atau
ketakutan terhadap situasi atau obyek tertentu (spesifik); 4)
gangguan obsesif kompulsif, yaitu kecemasan yang men-
dorong penderita secara menetap untuk mengulangi pikiran
atau perilaku tertentu dan; 5) gangguan stress pasca trauma
yaitu kecemasan yang timbul setelah penderita mengalami
peristiwa yang sangat menegangkan.
(1)
PREVALENSI GANGGUAN KECEMASAN
Survai terkini di Amerika (1996) melaporkan bahwa 15 -
33% pasien yang datang berobat ke dokter non psikiater me-
rupakan pasien dengan gangguan mental.
(1)
Dari jumlah ter-
sebut minimal sepertiganya menderita gangguan kecemasan.
(1)
Di Indonesia penelitian yang dilakukan di Puskesmas Ke-
camatan Tambora Jakarta Barat tahun 1984 menunjukkan bah-
wa di puskesmas jumlah gangguan kesehatan jiwa yang sering
muncul sebagai gangguan fisik adalah 28,73% untuk dewasa
dan 34,39% untuk anak.
(5)
DIAGNOSIS GANGGUAN KECEMASAN
Dalam makalah ini yang akan dibicarakan adalah diag-
nosis praktis. Pendekatan ini dianjurkan untuk dipakai oleh
para dokter umum yang mempunyai banyak pasien dalam
praktek medis sehari-hari.
(1)
Dari anamnesis dan pemeriksaan pasien dapat ditegakkan
diagnosis kerja (secara cepat) untuk gangguan kecemasan apa-
bila didapatkan keluhan baik somatik (fisik) maupun psiko-
logik dan kognitif serta tanda-tanda obyektif kecemasan.
(1,3)
Keluhan-keluhan dan tanda-tanda obyektif yang sering dida-
patkan dalam praktek medis sehari-hari yang merujuk pada
gangguan kecemasan adalah sebagai berikut (Tabel 1).
(1-3)
Tabel 1. Keluhan dan Tanda Obyektif dari Gangguan Kecemasan
(1,3)
Keluhan Kognitif dan Psikologis
-
Perasaan cemas, khawatir, was-was
-
Ragu-ragu untuk bertindak atau memutuskan sesuatu, takut salah.
-
Perasaan takut dalam situasi, obyek atau keadaan tertentu (sendirian, gelap,
kamar tertutup, berada di ketinggian dsb.)
-
Tidak enak, gelisah
-
Takut mati, takut menjadi gila atau pikiran-pikiran yang cenderung negatif
baik terhadap diri-sendiri ataupun lingkungan
-
Merasa tegang
-
Insomnia, sulit untuk memulai (jatuh) tidur/early insomnia
-
Mudah terkejut, terlalu waspada
-
Mudah marah (iritable)
-
Perasaan cemas tersebut mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan
penderita sehingga fungsi pertimbangan akal sehat, perasaan dan
perilakunya terpengaruhi.
Keluhan Fisik
·
Neurologik dan Vaskuler
-
Sakit kepala, pusing, kepala terasa enteng
-
Nggliyer (dizziness), seperti mau pingsan
-
Vertigo (pusing berputar)
-
Tangan gemetaran
-
Pandangan kabur
-
Baal dan kesemutan
·
Kardiovaskuler
-
Palpitasi (berdebar-debar/deg degan : Jawa)
-
Nyeri dada, dada terasa panas
·
Respirasi
-
Nafas pendek
-
Dispnoe (sesak nafas)
-
Hiperventilasi (frekuensi nafas sering)
·
Gastrointestinal
-
Mulut kering
-
Tenggorokan seperti tercekik; tenggorokan kering
-
Perasaan tidak enak di lambung
-
Nausea dan vomitus (mual dan muntah)
-
Diare
·
Genitourinarius
-
Sering berkemih
-
Nyeri saat berkemih
-
Ejakulasi prematur
-
Impotensia
·
Sistim Muskuloskeletal
-
Nyeri otot kepala terutama otot leher
-
Sakit dan nyeri otot
·
Kulit
-
Keringat berlebihan
-
Telapak tangan dan kaki basah dan terasa dingin
Tanda Obyektif
-
Penderita tampak gugup, gelisah, tidak dapat duduk santai
-
Suara bergetar, gagap
-
Palpitasi
-
Hiperventilasi
-
Berkeringat banyak atau telapak tangan dan kaki lembab
PSIKOFARMAKOLOGI
Untuk penyembuhan dengan baik pasien dengan gangguan
kecemasan adalah kombinasi farmakoterapi (psikofarmaka)
dengan psikoterapi. Mengapa kombinasi? Pertimbangannya
adalah bahwa psikoterapi mempunyai keunggulan tidak adiktif
tetapi kerugiannya lambat dalam efek terapetiknya. Sebaliknya
anxiolitik mempunyai keunggulan efek terapetik cepat dalam
menurunkan tanda dan gejala kecemasan tetapi mempunyai
kerugian resiko adiksi. Dalam terapi kombinasi diberikan obat
anxiolitik terlebih dahulu sampai 2 minggu, kemudian dila-
kukan psikoterapi yang dimulai pada awal minggu kedua di
samping obat anxiolitik masih tetap diberikan tetapi secara
bertahap diturunkan dosisnya (tapering off sampai minggu ke
empat pengobatan).
(1)
Ada juga yang membedakan kasus baru
dan lama. Kasus baru diberikan sampai 2 bulan bebas gejala
kemudian dilakukan tapering off untuk penghentian peng-
obatan; kasus lama diberikan sampai 6 bulan bebas gejala
kemudian dilakukan tapering off untuk penghentian peng-
obatan.
(5)
Psikoterapi yang sering digunakan untuk gangguan
kecemasan adalah psikoterapi berorientasi insight, terapi peri-
laku, terapi kognitif atau psikoterapi provokasi kecemasan
jangka pendek.
(l)
Obat-obatan yang sering digunakan untuk anxiolitik (me-
ngurangi atau menghilangkan gejala gangguan kecemasan)
adalah golongan benzodiazepin, non-benzodiazepin, anti-
depresan: trisiklik, monoamin inhibitor [MAOI], serotonin
reuptake inhibitor [SRI], specific serotonin reuptake inhibitor
[SSRI]. Mengenai penggolongan (klasifikasi) obat-obat anxi-
olitik, nama dagang serta dosis terapetiknya dapat dilihat pada
Tabel 2.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 25
Tabel 2. Klasifikasi Obat Anxiolitik, nama dagang di pasaran dan dosis
terapetiknya
(2,5,6,9)
Anxiolitik (tranquilizer minor)
a. Golongan benzodiazepin
Chlordiazepoxide
Librium
15 -100
Diazepam
Valium
4 - 80
Lorazepam
Ativan
2 - 10
Bromazepam
Lexotan
2 - 18
Chlorazepate
Tranxene
15
Clobazam
Frisium
20 - 30
Alprazolam
Xanax
0,75 - 4
Clonazepam
Rivotril
0,75 - 8
b. Golongan non-benzodiazepin
Opipramol
Insidon
50 - 300
Buspiron
Buspar
10 - 60
Hipnotika/antiinsomnia
a. Khasiat Panjang
Flurazepam
Dalmadorm
15 - 30
Diazepam
Valium
4 - 80
b. Khasiat Menengah
Estazolam
Esilgan
1- 4
Nitrazepam
Mogadon, Dumolid
2,5 - 5
c. Khasiat Pendek
Triazolam
Halcion
0,125 -
0,25
Lorazepam
Ativan
2 - 10
Antidepresan
a. Trisiklik
Amitriptiline
Laroxyl
75 -300
Imipramine
Tofranil
75 - 300
b. Siklik atipik
Amoxapine
Asendin
200 - 300
Maprotiline
Ludiomil
10 - 225
Mianserine
Tolvon
20 - 60
c. Monoamine Inhibitor (MAOI)
Moclobemide
Aurorix
30 - 600
d. Serotonin Reuptake Inhibitor
(SRI)
Clomipramine
Anafranil
50 - 150
e. Specific Serotonin Reuptake
Inhibitor (SSRI)
Fluoxetine
Prozac
20 - 80
Fluvoxamine
Luvox
50 - 300
Paroxetine
Seroxat
20 - 60
Sertraline
Zoloft
50 - 200
Secara umum obat-obatan di atas efektif untuk terapi
gangguan kecemasan, baik tunggal maupun kombinasi ter-
gantung pada kondisi pasien, dan pengalaman dokter terhadap
jenis atau golongan obat-obat tersebut.
Untuk gangguan obsesif kompulsif obat yang dikenal
efektif adalah clonazepam, SSRI yang meliputi fluoxetine,
paroxetine, fluvoxamine dan sertraline
(8)
(Tabel 3).
Tabel
3.
Farmakoterapi untuk masing-masing jenis gangguan kece-
masan
(2,4,6,8)
Jenis Gaugguan Kecemasan
Farmakoterapi
Gangguan Panik
Benzodiazepin
Antidepresan
trisiklik
MAOI
Buspiron
SRI
SSRI
Farmakoterapi kombinasi untuk
pasien membandel atau adanya
komorbiditas dengan gangguan
lainnya
Gangguan Fobik
Sama
Gangguan Cemas Umum
Sama
Gangguan Stress Pasca Trauma
Sama
Gangguan Obsesif Kompulsif
Clonazepam
Fluoxetine
Paroxetine
Sertraline
Fluvoxamine
PROGNOSIS
Dengan kombinasi farmakoterapi dan psikoterapi, anxietas
sekarang ini dapat disembuhkan dengan baik. Namun dalam
praktek sehari-hari sering pasien diberikan anxiolitik saja dan
tanpa kontrol yang ketat. Pada penderita seperti ini maka prog-
nosisnya buruk atau minimal dubia.
(1)
KEPUSTAKAAN
1.
Aris Sudiyanto. Aspek Klinik Gangguan Kecemasan. Simposium Nasio-
nal Awareness Anxiety Programe. 5 Agustus 2000.
2.
Biederman J. Psychopharmacology. In Wiener JM, editor. Textbook of
Child and Adolescent Psychiatry 1
st
ed. American Psychiatric Press,
1991; pp. 550, 552, 557.
3.
Deva MP. Presentation and Management of Anxiety Disorder in Family
Practice. Medical Progress January, 2001 pp. 16-20.
4.
Dirjen Yanmed, Depkes RI. Pedoman penatalaksanaan Kedaruratan
Psikiatri untuk RSU kelas C dan D. 1998; hal. 18-21.
5.
Dirjen Yanmed, Depkes RI. Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa di Fasi-
litas Umum. 1995. hal. 2-3; 29; 65-6.
6.
Joyce PR. Serotonine Reuptake Inhibitor A New Class of Anti-
depressants. Medical Progress. (June) 1993; pp. 11 4.
7.
Menkes DB. Antidepressant Drugs. Medical Progress. July, 1992; 17-8.
8.
Park T, et al. Obsessive Compulsive Disorder Treatment Option Medical
Progress (November) 1997; pp. 37-42.
9.
Trisulo Wasyanto. Gangguan Cemas pada Penyakit Jantung. Simposium
Nasional Awareness Anxiety Program. 5 Agustus 2000.
10.
Yul Iskandar. Aspek Biologik dari Anxietas. Simposium Nasional
Awareness Anxiety Program. 5 Agustus 2000.
The word that is heard perishes, the letter that is written remains
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
26