Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
21
Early Mild Carpal Tunnel Syndrome. J. Occup Environ Med. 1994; 36:
166-68.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Ergonomi Bagi Pekerja
Sektor Informal
Fikry Effendi
Staf Bagian Ilmu Kesehatan Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Pembangunan Nasional yang telah dan akan dilaksanakan
saat ini, dilakukan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan
teknologi maju dan telah mampu menghasilkan peluang kerja
sehingga diharapkan dapat meningkatkan status sosial ekonomi
dan kualitas hidup keluarga dan masyarakat. Hal ini akan ber-
hasil jika pelbagai risiko yang akan mempengaruhi kehidupan
para pekerja, keluarga dan masyarakat dapat diantisipasi. Pel-
bagai risiko tersebut adalah kemungkinan terjadinya penyakit
akibat kerja (PAK), penyakit yang berhubungan dengan pe-
kerjaan dan kecelakaan kerja yang dapat menyebabkan ke-
cacatan dan kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh
semua pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses
kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai
pendekatan ergonomik.
Istilah ergonomi (ergonomics) berasal dari ergo (Yunani
lama, yang berarti kerja), dalam hal ini pengertian yang dipakai
cukup luas termasuk faktor lingkungan kerja dan metode kerja.
International Labour Organization (ILO) mendefinisikan
ergonomi sebagai berikut: Ergonomi ialah penerapan ilmu bio-
logi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai
penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara
optimum dengan tujuan agar bermanfaat demi efisiensi dan
kesejahteraan.
Menyongsong era globalisasi, dalam rapat kerja ISO on
Occupational and Safety Management System di Geneva pada
tanggal 5-6 September 1996 telah diputuskan tentang penerap-
an secara internasional progam Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) sebagai salah satu syarat dalam standar inter-
nasional yang berkaitan dengan perdagangan bebas.
Perkembangan industri di Indonesia saat ini berlangsung
amat pesat, baik industri formal maupun industri di rumah
tangga, pertanian, perdagangan dan perkebunan. Hal ini akan
menimbulkan lapangan kerja baru dan menyerap tambahan
angkatan kerja baru yang diperkirakan untuk tahun 2001 ini
berjumlah 101 juta orang, dimana sebagian besar angkatan
kerja ini (70-80%) berada di sektor informal. Semua industri,
baik formal maupun informal diharapkan untuk dapat menerap-
kan K3. Yang dimaksud dengan industri informal adalah ke-
giatan ekonomi tradisional, usaha-usaha di luar sektor modern/
formal yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
-
Sederhana
-
Skala usaha relatif kecil
-
Umumnya belum terorganisisr secara baik
Menurut M. Mikhew (ICHOIS 1997), gambaran umum
industri sektor informal mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.
Timbulnya risiko bahaya pekerjaan yang tinggi.
2.
Keterbatasan sumber daya dalam mengubah lingkungan
kerja dan menentukan tentang pelayanan kesehatan kerja yang
adekuat
3.
Rendahnya kesadaran terhadap faktor-faktor fisiko kese-
hatan kerja.
4.
Kondisi pekerjaan yang tidak ergonomis, kerja fisik yang
berat dan jam kerja yang panjang.
5.
Pembagian kerja distruktur yang beraneka ragam dan
rendahnya pengawasan manajemen serta pencegahan bahaya-
bahaya pekerjaan.
6.
Anggota keluarga sering kali terpajan bahaya-bahaya aki-
bat pekerjaan.
7.
Masalah perlindungan lingkungan tidak terpecahkan
dengan baik.
8.
Kurangnya pemeliharaan kesehatan, jaminan keamanan,
sosial (asuransi kesehatan) dan fasilitas kesejahteraan.
Pelayanan kesehatan kerja yang diberikan melalui pene-
rapan ergonomi, diharapkan dapat meningkatkan mutu kehi-
dupan kerja (Quality of Working Life), dan hal ini berakibat
pada peningkatan produktifitas kerja dan penurunan prelavensi
penyakit akibat kerja, proses kerja dan lingkungan kerja.
Interaksi ini akan berjalan dengan baik bila ketiga komponen
tersebut dipersiapkan dengan baik dan saling menunjang. Mi-
salnya menyesuaikan ukuran peralatan kerja dengan postur
tubuh pekerja dan menilai kelancaran gerakan tubuh pekerja.
Dalam penerapan ergonomi akan dipelajari cara-cara
penyesuaian pekerjaan, alat kerja dan lingkungan kerja dengan
manusia, dengan memperhatikan kemampuan dan keterbatasan
manusia itu sehingga tercapai suatu keserasian antara manusia
dan pekerjaannya yang akan meningkatkan kenyamanan kerja
dan produktifitas kerja.
PENGENALAN MASALAH ERGONOMI
Permasalahan yang berkaitan dengan faktor ergonomi
umumnya disebabkan oleh adanya ketidak sesuaian antara
pekerja dan lingkungan kerja secara menyeluruh termasuk per-
alatan kerja.
Penerapan ergonomi dapat dilakukan melalui dua pen-
dekatan, yaitu
1.
Pendekatif kuratif
Pendekatan ini dilakukan pada suatu proses yang sudah atau
sedang berlangsung. Kegiatannya berupa intervensi/perbaikan/
modifikasi dari proses yang sedang/sudah berjalan. Sasaran
kegiatan ini adalah kondisi kerja dan lingkungan kerja dan
dalam pelaksanaannya harus melibatkan pekerja yang terkait
dengan proses kerja yang sedang berlangsung.
2.
Pendekatan konseptual
Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan sistem dan hal ini
akan sangat efektif dan efisien bila dilakukan pada saat pe-
rencanaan. Bila berkaitan dengan teknologi, maka sejak proses
pemilihan dan alih teknologi, prinsip-prinsip ergonomi sudah
seyogyanya dimanfaatkan bersama-sama dengan kajian lain
yang juga diperlukan, seperti kajian teknis, ekonomi, sosial
budaya, hemat akan energi dan melestarikan lingkungan. Pen-
dekatan holistik ini dikenal dengan pendekatan Teknologi
Tepat Guna (Manuaba, 1997). Jika dikaitkan dengan penyedia-
an lapangan kerja, pendekatan ergonomi secara konseptual
dilakukan sejak awal perencanaan dengan mengetahui kemam-
puan adaptasi pekerja sehingga dalam proses kerja selanjutnya,
pekerja berada dalam batas kemampuan yang dimiliki.
DIMENSI ANTROPOMETRI
Salah satu faktor pembatas kinerja tenaga kerja adalah
tiadanya keserasian ukuran, bentuk sarana dan prasarana kerja
terhadap tenaga kerja. Guna mengatasi keadaan tersebut
diperlukan data antropometri tenaga kerja sebagai acuan dasar
disain sarana dan prasarana kerja. Antropometri sebagai salah
satu disiplin ilmu yang digunakan dalam ergonomi memegang
peranan utama dalam rancang bangun sarana dan prasarana
kerja.
Data Antropometri digunakan untuk macam-macam keper-
luan. Pada kedokteran kehakiman, salah satu fungsi antro-
pometri adalah untuk identifikasi. Di sektor ketenaga kerjaan
peranan antropometri cukup dominan dalam menentukan efek-
tifitas dan efisiensi peralatan dan fasilitas kerja. Bagi seorang
ahli ergonomi, antropometri merupakan salah satu perangkat
untuk mendapatkan hasil akhir berupa hubungan yang harmo-
nis antara manusia dan peralatan kerja. Dikenal dua macam
antropometri, yakni antropometri statis dan antropometri di-
namis. Pada umumnya berkaitan dengan rancang bangun sara-
na dan prasarana kerja cukup digunakan data-data antropometri
statis. Dimensi tubuh manusia sangat bervariasi antara satu
orang dengan orang lainnya, antara laki-laki dan perempuan
dan antara beberapa suku bangsa.
Beberapa posisi yang penting untuk penerapan ergonomi
di tempat kerja adalah sebagai berikut :
-
Posisi berdiri
Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi badan berdiri, tinggi
bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, panjang lengan.
-
Posisi duduk
Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi duduk, panjang
lengan atas, panjang lengan bawah dan tangan, jarak lekuk
lutut dan garis punggung, serta jarak lekuk lutut dan telapak
kaki.
Penerapan antropometri dalam ergonomi menuntut adanya
suatu data antropometri tenaga kerja yang mewakili tenaga
kerja baik laki-laki maupun wanita. Pada penyajian data antro-
pometri akan diketengahkan nilai rata-rata, simpang baku, dan
standar deviasi. Rentang nilai dan penyajian data dalam bentuk
persentil.
Perancangan tempat kerja yang cocok untuk pekerja yang
terbesar dan yang terkecil tidak selalu berhasil, untuk itu diusa-
hakan memenuhi persyaratan buat mayoritas. Biasanya di-
lakukan pada Confidence Interval (CI) 90% atau 95%.
Bila rata-rata ( X ) dan standar deviasi (SD) diketahui, maka :
CI 95% = X
± 1.95 SD
CI 90% = X
± 1.65 SD
Bila yang digunakan ukuran persentil yang mencakup 90%
dari populasi pekerja (CI 90%), maka batas yang digunakan
adalah 5 dan 95 persentil yang sama dengan X
± 1.65 SD.
Nilai cacat.
a.
MMT 0
kehilangan fungsi 100%
b.
MMT 1
kehilangan fungsi 80%
c.
MMT 2
kehilangan fungsi 60%
d.
MMT 3
kehilangan fungsi 40%
e.
MMT 4
kehilangan fungsi 20%
f.
MMT 5
kehilangan fungsi 0%
Fleksor : Memperkecil sudut di antara 2 bagian rangka dalam
bidang sagital.
Extensor : Memperbesar sudut di antara 2 bagian rangka dalam
bidang sagital.
Rotator : Gerak sekeliling sumbu panjang bagian rangka atau
sekeliling sumbu yang hampir berhimpit dengan sumbu
panjang itu.
Abduktor : Menjauhkan bagian rangka dari bidang tengah
badan.
Adduktor : Mendekatkan bagian rangka dari bidang tengah
badan.
Pengenalan permasalahan ergonomi di tempat kerja perlu
mempertimbangkan beberapa aspek (bidang kajian ergonomi),
yaitu :
1.
Anatomi dan gerak
Terdapat 2 (dua) hal penting yang berhubungan, yakni :
a.
Antropometris
Dimensi Antropometris dipengaruhi oleh :
-
Jenis kelamin
-
Perbedaan bangsa
-
Sifat/hal-hal yang diturunkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
22
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002 23
-
Kebiasaan yang berbeda
b.
Biomekanik kerja
Misalnya dalam hal penerapan ilmu gaya antara lain sikap
duduk/berdiri yang tidak/kurang melelahkan karena posisi yang
benar dan ukuran peralatan yang telah diperhitungkan.
2.
Fisiologi
Dibagi menjadi :
-
Fisiologi lingkungan kerja
a.
Berhubungan dengan kenyamanan
b.
Pengamanan terhadap potential hazards, ruang gerak yang
memadai
-
Fisiologi kerja
3.
Psikologi
Rasa aman, nyaman dan sejahtera dalam bekerja yang didapat-
kan oleh tenaga kerja. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan
kerja (cahaya, ventilasi, posisi kerja dll.) tidak menimbulkan
stress pada pekerja.
4.
Rekayasa dan teknologi antara lain :
-
Merupakan kiat-kiat untuk melakukan disain peralatan
yang sesuai dengan ukuran tubuh dan batasan-batasan per-
gerakan manusia.
-
Memindahkan seseorang dalam melakukan pekerjaannya
sehingga lebih efisien dan lebih produktif, untuk itu diperlukan
disain mesin yang sesuai dengan operatornya.
-
Memberi rasa aman terhadap pekerjaannya.
5.
Penginderaan
-
Kemampuan kelima indra manusia menangkap isyarat-
isyarat yang datang dari luar.
APLIKASI ERGONOMI
1.
Posisi duduk/bekerja dengan duduk, ada beberapa per-
syaratan :
-
Terasa nyaman selama melaksanakan pekerjaannya.
-
Tidak menimbulkan gangguan psikologis.
-
Dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan memuas-
kan.
2.
Posisi bekerja dengan berdiri :
Berdiri dengan posisi yang benar, dengan tulang punggung
yang lurus dan bobot badan terbagi rata pada kedua kaki.
3.
Proses bekerja
Ukuran yang benar akan memudahkan seseorang dalam
melakukan pekerjaannya, tetapi sangat disayangkan akibat pos-
tur tubuh yang berbeda, perlu pemecahan masalah terutama di
negara-negara berkembang yang menggunakan peralatan
import sehingga perlu disesuaikan kembali, misalnya tempat
kerja yang harus dilakukan dengan berdiri sebaiknya ditambah-
kan bangku panjang setinggi 10-25 cm agar orang dapat
bekerja sesuai dengan tinggi meja dan tidak melelahkan.
4.
Penampilan tempat kerja
Mungkin akan menjadi baik dan lengkap bila disertai
petunjuk-petunjuk berupa gambar-gambar yang mudah diingat,
mudah dilihat setiap saat.
5.
Mengangkat beban
Terutama di negara berkembang mengangkat beban adalah
pekerjaan yang lazim dan sering dilakukan tanpa dipikirkan
efek negatifnya, antara lain : kerusakan tulang punggung, ke-
lainan bentuk otot karena pekerjaan tertentu, prolapsus uteri,
prolapsus ani ataupun hernia, dll.
Penggulangan permasalahan ergonomi di setiap jenis pe-
kerjaan dapat dilakukan setelah mengetahui terlebih dahulu
bagaimana proses kerja dan posisi kerjanya.
Di bawah ini akan diuraikan masalah ergonomi yang dapat
timbul akibat ketidaksesuaian antara pekerja dan pekerjaannya:
Perajin Kerupuk
Pekerjaan membuat kerupuk menggunakan bahan baku :
tepung tapioka, kanji, bahan tambahan pewarna dan penyedap.
Hasil produksinya berupa kerupuk yang siap dimakan.
Proses dan posisi kerja:
a.
Pembuatan adonan kerupuk
Tepung tapioka dalam karung seberat 50 kg diangkat
berdua dari tempat penampungan ke tempat pembuatan adonan
yang berjarak 2-8 meter. Bahan baku tersebut diaduk rata
secara mekanis selama 3-5 menit atau secara manual selama 7-
10 menit. Selanjutnya adonan tersebut diuleni kembali secara
manual selama 2 menit untuk mendapatkan adonan homogen.
Posisi kerja : proses menguleni adonan dilakukan sambil ber-
diri dengan meja kerja permanen setinggi 70 cm yang terbuat
dari ubin/kayu dan berat adonan 6-8 Kg.
b.
Pencetakan
Selanjutnya adoanan yang sudah homogen tersebut dimasukkan
ke dalam pencetak dan di mampatkan secara mekanis atau ma-
nual dan didapat keluaran berupa benang-benang adonan
setebal 1 mm dari lobang pencetak, benang-benang adonan di-
tampung pada pencetak kerupuk sambil diputar-putar sehingga
didapat bentuk yang bulat.
Posisi kerja : pekerjaan pencetakan dilakukan sambil duduk
di lantai.
c.
Pengkukusan
Kerupuk mentah tersebut segera dimatangkan dengan cara
pengkukusan selama 5-10 menit dan setelah matang dipindah
satu persatu dengan cara menjepit dengan jari-jari tangan ke
tempat yang lebih besar untuk dijemur di luar ruangan.
Pemindahan ke luar ruangan dilakukan dengan mengangkat
tampah tersebut tinggi-tinggi dengan kedua tangan.
Posisi kerja : pekerjaan memindahkan kerupuk setelah selesai
dikukus dilakukan pada posisi duduk di lantai/jongkok.
d.
Penjemuran
Kerupuk dijemur. Setelah kering ditampung dalam keranjang
plastik dengan berat per keranjang 17-20 kg untuk disimpan
sementara menunggu untuk digoreng.
Posisi kerja : berdiri dengan tempat jemuran (para-para) yang
terlalu rendah.
e.
Penggorengan
Kerupuk kering dalam keranjang dipindah ke tempat peng-
gorengan yang berjarak 10-12 meter. Proses penggorengan ke-
rupuk dilakukan dalam 2 tahap, dengan minyak dingin dilan-
jutkan dengan minyak panas.
Posisi kerja : proses penggorengan dilakukan dengan posisi
berdiri dengan 2 penggorengan dan tinggi wajan 70 cm; selesai
digoreng kerupuk dikemas dalam kaleng besar. Aliran udara di
bagian ini kurang baik.
f.
Pengemasan
Posisi kerja : proses pengemasan dalam posisi berdiri mem-
bungkuk
PENANGGULANGAN PERMASALAHAN ERGONOMI
Aplikasi ergonomi dapat dilaksanakan dengan prinsip pe-
mecahan masalah, dimana tahap awal adalah identifikasi masa-
lah yang sedang dihadapi. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengumpulkan sebanyak mungkin informasi.
Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas masalah;
masalah yang paling mencolok harus ditangani lebih dahulu.
Setelah analisis dikerjakan, maka satu atau dua alternatif inter-
vensi harus diusulkan.
Pada pengenalan/rekognisi telah dinyatakan adanya 3 hal
yang harus diperhatikan, ketiganya berinteraksi dalam penerap-
an ergonomi dan fokus utama adalah pada sumber daya manu-
sia (human centered design) :
1.
Kesehatan mental dan fisik harus diperhatikan untuk
diperbaiki sehinggga didapatkan tenaga kerja yang sehat fisik,
rohani dan sosial yang memungkinkan mereka hidup produktif
baik secara sosial maupun ekonomi.
2.
Kemampuan jasmani dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan antropometri, lingkup gerak sendi dan kekuatan
otot.
3.
Lingkungan tempat kerja
-
Harus memberikan ruang gerak secukupnya bagi tubuh
dan anggota badan sehingga dapat bergerak secara leluasa dan
efisien.
-
Dapat menimbulkan rasa aman dan tidak menimbulkan
stres lingkungan.
4.
Pembebanan kerja fisik
Selama bekerja, kebutuhan akan peredaran darah dapat
meningkat sepuluh sampai dua puluh kali. Meningkatnya per-
edaran darah pada otot-otot yang bekerja, memaksa jantung
untuk memompa darah lebih banyak.
Kerja otot dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu
kerja otot dinamik (ritmik) dan kerja otot statik (sikap). Kedua
bentuk kerja otot tersebut dapat diuraikan sebagai berkut:
-
Kerja otot dinamik, ditandai dengan kontraksi bergantian
yang berirama dan ekstensi, ketegangan dan istirahat.
-
Kerja otot statik, ditandai oleh kontraksi otot yang lama
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
24
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002 25
yang biasanya sesuai dengan sikap tubuh. Tidak dianjurkan
untuk meneruskan kerja otot statik dalam jangka lama karena
akan timbul rasa nyeri dan memaksa tenaga kerja untuk
berhenti.
5.
Sikap tubuh dalam bekerja
Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat
duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan
tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuran-ukuran
tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan me-
mungkinkan dkilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan.
Pada posisi berdiri dengan pekerjaan ringan, tinggi optimum
area kerja adalah 5-10 cm dibawah siku. Agar tinggi optimum
ini dapat diterapkan, maka perlu diukur tinggi siku yaitu jarak
vertikal dari lantai ke siku dengan keadaan lengan bawah men-
datar dan lengan atas vertikal. Tinggi siku pada laki-laki
misalnya 100 cm dan pada wanita misalnya 95 cm, maka tinggi
meja kerja bagi laki-laki adalah antara 90-95 cm dan bagi
wanita adalah antara 85-90 cm.
KEPUSTAKAAN
1. Kroemer KHE, Grandjean E. Muscular work. ed. Fitting the Task to
Human. A Textbook of Occupational Ergonomics. 5
th
ed. London : Tay
lor & Francis Ltd. Reprinted 2000; p. 1-16.
2.
Sanders MS, Mc Cormick EJ. ed. Workplace Design. Human Factors in
Engineering and Design. 7
th
ed. Singapore : Mc Graw-Hill International.
Ed. 1993; p. 415-52.
3.
Jeyaratman J. Occupational Health in National Development. In :
Jeyaratman J. Chia KS. ed. Singapore : World Scientific. 1994.
4.
Grady-vandenNieuwhoer JH. Designing for Specific Groups.
Ergonomics. In : Stellman JH. ed. Encyclopedia of Occupational Health
and Safety. 4
th
ed. Vol I. Geneva : ILO. 1998; p. 29-75.
5.
Bond BM. Occupational Health Services for Small Bussinesses and Other
Small Employee Groups. In : Zenz C, Dickerson OB, Hovarth EP, eds.
Occupational Medicine. 3
rd
St. Louis : Mosby Year Book Inc. 1994; p.
1079-87.