Progra
m
Cost Containment
di Rumah Sakit
Tanggapan dalam Mengantisipasi
Perkembangan Teknologi Kesehatan di lndonesia
Amal C. Sjaaf
Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Jakarta
LATAR BELAKANG
Rumah sakit sebagai salah satu mata rantai pelayanan dalam
Sistim Kesehatan Nasional di Indonesia akhir-akhir ini menun-
jukkan pertumbuhan yang cukup bermakna. Dalam kurun waktu
15 tahun ini (akhir Pelita I sampai awal Pelita V) angka pertum-
buhan rumah sakit umum dan khusus adalah 37% atau rata-rata
2,1% per tahun (dari 1.116 menjadi 1.533 RS). Sedangkan angka
pertumbuhan tempat tidur di rumah sakit menunjukkan pertum-
buhan yang lebih tinggi yaitu 45% dalam 15 tahun atau 2,5% per
tahun (dazi 81.753 TT menjadi 118.565 TT).
Rumah sakit umum sendiri, yang jumlahnya relatif sama
besar dengan rumah sakit khusus, menunjukkan pertumbuhan
sekitar 30% selama kurun waktu tersebut (dari 581 RSU menjadi
756 RSU). Sedangkan jumlah tempat tidurnya menampilkan
pertumbuhan sekitar 44% dalam waktu yang sama yaitu dari
63.643 TT menjadi 81.888 TT. Ini menampilkan bahwa walau-
pun jumlah RSU dan RS Khusus hampir sama, tetapi jumlah
tempat tidur RSU adalah sekitar 78% dari seluruh rumah sakit
yang ada.
Yang menarik untuk diperhatikan adalah jumlah rumah
sakit umum swasta pada kurun waktu 15 tahun menampilkan
angka pertumbuhan sekitar 104% (dari 113 menjadi 231 rumah
sakit). Angka ini, pada akhir tahun 1990 ternyata bertambah
menjadi sebesar 244 rumah sakit swasta di Indonesia. Dari
pertumbuhan ini berarti jumlah rumah sakit umum swasta yang
pada akhir Pelita I hanya sekitar 19% dari seluruh RSU, pada
akhir 1990 tumbuh menjadi sekitar 32% dari seluruh RSU di
Indonesia.
Sesuai dengan sifat layanan kesehatan di rumah sakit yang
terutama diarahkan pada jenjang layanan kesehatan sekunder
Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI
Hospital Expo, Jakarta,
21 25 November 1993.
dan tersier maka dapat dipahami bahwa rumah sakit secara relatif
akan ada di daerah urban dan semi-urban. Sebagai contoh, pada
awal Pelita V hampir 9% dari RSU di Indonesia berada di Jakarta
yaitu sebanyak 71 RSU. Jumlah ini kemudian meningkat pesat
dengan tingkat pertumbuhan sekitar 11,8% per tahun sehingga
pada tahun 1991 terdapat 86 RSU di Jakarta.
Ditinjau dari jumlah tempat tidur yang sebanyak 11.591
maka dapat dikatakan bahwa sekitar 12,7% dari seluruh tempat
tidur RSU di negeri ini berada di Jakarta. Tetapi, dengan angka
pertumbuhan tempat tidur RSU per tahun sebesar 0,96% maka
dapat dilihat bahwa di Jakarta terjadi kecenderungan tumbuhnya
RSU dengan jumlah tempat tidur 50100 buah per RS, di bawah
rata-rata nasional yang sekitar 125150 tempat tidur per RS.
Mengacu kepada angka pertumbuhan keadaan di daerah urban
atau semi-urban lainnya di Indonesia tersebut maka dapat
dikatakan bahwa tingkat kompetisi antar RSU terutama swasta di
daerah urban akan cukup tinggi. Dengan tingkat kompetisi yang
tinggi adalah wajar bagi setiap rumah sakit untuk melakukan
segala upaya yang diperlukan dalam mempertahankan keber
-
adaannya.
KOMPETISI DAN ECONOMIES OF SCALE LAYANAN
DI RUMAH SAKIT
Dalam situasi kompetisi yang ketat, tidak dapat disangkal
bahwa peranan pembiayaan dalam menyediakan layanan di
rumah sakit menjadi sangat penting. Hanya rumah sakit yang
dapat menyediakan layanan yang bermutu dengan pembiayaan
yang relatif rendah dapat unggul dapatkompetisi ketat tersebut.
Untuk itu maka perlu diketahui beberapa faktor yangdiasumsi-
kan terkait erat dengan biaya layanan rumah sakit.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
4 1
Secara spesifik, Feldstein (1983) menggambarkanhubung-
an antara biaya rata-rata layanan di rumah sakit dengan faktor-
faktor tertentu sebagai berikut :
BRL = f
(TT, FL, JP, M, DP, PU, E, P, L)
di mana :
BRL
= biaya rata-rata layanan yang dapat diukur dengan biaya
per hari rawat atau biaya per admisi
TT
= jumlah tempat tidur terpasang
JP
= jenis penderita menurut klasifikasi diagnosis
M
= mutu layanan yang dapat diukur dengan tindakan dan/
atau pemeriksaan penunjang yang dilakukan
DP
= derajat beratnya penyakit yang dapat diukur dengan
jumlah operasi yang dilakukan
PU
= penyesuaian rumah sakit berdasarkan upah yang diberi-
kan kepada tenaga RS
E
= tingkat efisiensi layanan
p
= program pendidikan yang dilakukan di RS
L
= faktor lain seperti jumlah penderita rawat jalan, dan
lain-lain.
Dengan memanfaatkan model ini, melalui analisis regresi ganda,
diharapkan dapat ditentukan faktor-faktor yang berpengaruh
pada biaya rata-rata layanan rumah sakit di suatu daerah.
Lebih jauh dikatakan bahwa hubungan antara faktor-faktor
tersebut dengan biaya rumah sakit secara teoritis dapat digam-
barkan dengan bentuk kurva U. Sebagai contoh, rumah sakit
dengan jumlah tempat tidur sedikit akan memiliki biaya rata-rata
layanan lebih tinggi daripada rumah sakit yang memiliki tempat
tidur lebih banyak. Tetapi, biaya ini akan meningkat lagi pada
rumah sakit yang memiliki tempat tidur yang paling banyak.
Dikatakan bahwa hal ini sebagian terjadi karena pengaruh biaya
tetap (fixed cost) dalam kegiatan layanan. Hubungan tersebut
dapat dilihat pada Gambar 1 .
Gambar 1. Hubungan Jumlah Tempat Tidur dengan Biaya Rata-rata
Layanan di Rumah Sakit
Dari bentuk kurva U di atas maka dapat dikatakan bahwa
economies
of
scale terjadi pada rumah sakit dengan jumlah
tempat tidur yang paling besar tetapi dengan biaya rata-rata
layanan yang paling kecil. Untuk rumah sakit yang memiliki
tempat tidur sedikit dengan biaya tinggi dan yang memiliki
banyak tempat tidur dengan biaya yang juga tinggi dikatakan
42
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
telah mengalami diseconomies
of
scale. Dikaitkan dengan situasi
kompetisi yang ketat maka jelas hanya rumah sakit dengan
economies
of
scaleyang akan tetap bertahan hidup. Atau dengan
kata lain, bila suatu rumah sakit mengalami diseconomies of
scale tetapi masih tetap ingin hidup maka ia harus berusaha
melakukan upaya pembenahan pembiayaannya (cost contain-
ment).
Tetapi, perlu juga diperhatikan bahwa rumah sakit selalu
memberikan jenis pelayanan yang tidak sama walaupun mereka
klasifikasinya sama. Misalnya, sebuah rumah sakit umum de-
ngan rumah sakit umum lainnya akan berbeda jenis layanan yang
diberikan oleh karena jenis penderita yang dilayani juga tidak
sama. Adanya perbedaan ini memungkinkan rumah sakit dengan
jumlah tempat tidur yang akan menampilkan biaya rata-rata
layanan yang berbeda. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa
economies
of
scale dari rumah sakit dengan jumlah tempat tidur
yang sama dapat berbeda tergantung dari faktor-faktor lain, di
antaranya jenis penderita yang dilayani (Gambar 2).
Gambar 2. Variasi Hubungan Jumlah Tempat Tidur dengan Biaya Rata-
rata Layanan di Rumah Sakit
Dari bahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pema-
haman terhadap terjadinya economies dan diseconomies
of scale
padarumah sakitharus dilihatdalamlingkup yang relatif majemuk.
Artinya, apabila hasil analisis biaya rata-rata layanan rumah sa-
kit dilakukan untuk menentukan faktor yang akan diintervensi
untuk cost containment maka hal ini harus dilakukan dengan
cukup cermat. . Tanpa memperhatikan kemajemukan faktor-
faktor tersebut bukannya tidak mungkin intervensi yang di-
lakukan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.
Memperhatikan faktor-faktor dengan cermat, sukar untuk
ditolak adanya asumsi bahwa hampir pada semuanya akan terkait
langsung atau tidak langsung dengan pemanfaatan teknologi
kesehatan. Sebagai contoh, makin banyak jumlah tempat tidur
yang terpakai akan terkait dengan makin meningkatnya peman-
faatan kamar bedah maupun penunjang medik seperti radiologi,
laboratorium, dan lain-lain. Makin majemuk jenis penyakit yang
dierita maka makin tinggi pula pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan maupun kecanggihan tindakan invasifnya.
Kesemuanya ini akan mengarahkan rumah sakit untuk me-
lengkapi dirinya dengan teknologi kesehatan yang dibutuhkan.
Dorongan yang terjadi seperti ini tidak jarang membawa
rumah sakit ke arah pengertian yang kurang menguntungkan.
Yaitu, tanpa adanya teknologi canggih seperti ini maka mereka
akan tertinggal dalam kompetisi yang ketat dalam menyediakan
pelayanan yang ber"mutu" bagi masyarakat. Lebih jauh, hal ini
tanoa disadari dapat mendorong rumah sakit untuk memaksakan
dirinyamenjadi "pusat unggulan" agar tetap dapat bertahan. Pada
gilirannya, akan dapat dipahami bahwa biaya untuk "bertahan"
tadi sebetulnya sudah melebihi kemampuan untuk bertahan itu
sendiri. Misalnya, hal terakhirdapat terjadi karenafaktortersedia
atau tidak tersedianya tenaga ahli yang akan menggunakan alat
canggih tertentu.
Sebagai ilustrasi, Joskow (1981) mengatakan bahwa sekitar
60% biaya rumah sakit dihabiskan untuk mengadakan masukan
atau input yang dibutuhkan bagi pelaksanaan kegiatan. Dari
biaya untuk input ini ternyata sekitaz 75% dihabiskan untuk
kegiatan yang dikaitkan dengan peningkatan jumlah, kualitas
dan lingkup jenis layanan. Apabila disepakati bahwa ketiga hal
terakhir ini sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan teknologi
kesehatan maka dapat disebutkan bahwa biaya yang dihabiskan
untuk pemanfaatan tadi cukup bermakna bagi layanan di rumah
sakit.
Di lain pihak, sukar pula dibantah bahwa dorongan akan
pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan yang canggih
ini merupakan daya tarik khusus. Daya tarik ini memiliki efek
ganda yaitu daya tarik ekonomi bagi para administrator rumah
sakit dan daya tarik peningkatan kualitas bagi tenaga profesi
medik. Di samping itu ada faktor lainnya yang juga terkait
dengan hal di atas yaitu faktor peningkatan sosio-ekonomi
masyarakat yang dikaitkan dengan peningkatan demand ter-
hadap pemeriksaan dengan alat canggih. Dan tentunya, juga
sangat erat kaitannya dengan proses inovasi, difusi, inkorporasi,
utilisasi luas serta pengabdian teknologi yang sangat diwarnai
oleh interes produsen alat-alat tersebut.
Memahami bahasan di atas, dengan tanpa mengabaikan
peranan faktor lain dalam upaya cost containment, bahasan
berikut ini akan dibatasi pada aspek pembiayaan teknologi ke-
sehatan dan penyediaan tenaga ahli penggunanya. Walaupun
demikian, agar pemahaman tersebut dapat dilakukan secara
menyeluruh, pembahasan tentang cost containment di rumah
sakit perlu didahului dengan bahasan terhadap beberapa aspek
penting di dalamnya.
PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KESEHATAN CANG-
GIH DAN COST CONTAINMENT DI RUMAH SAKIT
Kalau disimak secara teliti dapat dilihat bahwa produsen
teknologi kesehatan canggih sebenarnya merupakan produsen
utama dari teknologi militer. Masuknya dunia ke era pasca pe-
rang dingin agaknya sukar untuk ditolak oleh produsen tersebut
untuk tidak menekan produksi teknologi militernya. Diversifi-
kasi yang relatif mudah dan tidak memerlukan biaya yang terlalu
tinggi adalah dengan memfokuskan produksi mereka pada
perkembangan teknologi canggih di bidang kesehatan. Dengan
demikian akan mudah dipahami bahwa pada era mendatang
secara global akan terjadi perkembangan teknologi canggih ke-
sehatan yang relatif lebih cepat dari masa sebelumnya. Inovasi-
inovasi "baru" akan cepat bermunculan walaupun "baru" di sini
harus lebih banyak diartikan sebagai "penambahan yang non
esensial tetapi peningkatan kemudahan fungsional".
Untuk Indonesia yang secara murni masih jauh dari keikut
sertaan dalam tahapan inovasi perkembangan teknologi kese-
hatan canggih, hal ini perlu diantisipasi dengan hati-hati. Ketidak
ikut sertaan dalam tahapan ini jelas akan menempatkan kita
dalam posisi hanya sebagai penerima dan pemakai teknologi
canggih ini. Ditambah dengan cepatnya perubahan produksi ke
generasi berikutnya dan disertai dengan teknik percepatan ta-
hapan difusi oleh produsen, jelas akan menempatkan kita dalam
kedudukan sebagai bagian dari percepatan tahapan difusi itu
sendiri. Ironisnya, karena adanya faktor prestise dan nilai tambah
ekonomi di sini maka tidak jarang yang tumbuh adalah kebang-
gaan yang harus dibayar cukup mahal. Kalau dilanjutkan maka
jelas pembiayaan ini akan dibebankan kepadamasyarakatpeman-
faat teknologi tanpa disertai dengan kesadaran yang cukup akan
manfaatnya.
Sebenarnya tahapan difusi ini secara alamiah akan terham-
bat prosesnya apabila dana untuk pembiayaan pemanfaatan
teknologi juga terbatas. Dengan kata lain, tahapan berikutnya
yaitu inkorporasi teknologi baru harus dapat diantisipasi untuk
dikembangkan secara seksama. Secara spesifik, apabila cara
pembiayaan pemanfaatan tidak dapat ditentukan dengan tingkat
kepastian yang tinggi, misalnya dengan cara pembiayaan out of
pocket maka proses ini akan terjadi lambat. Pengembangan cara
pendanaan pelayanan kesehatan baik yang disubsidi oleh peme-
rintah atau murni oleh swasta apabila dilakukan tidak dengan
seksama dan tepat guna jelas akan mendorong penerimaan dan
pemanfaatan teknologi ke arah yang merugikan seluruh masya-
rakat. Dapat diasumsikan di sini kesalahan antisipasi dalam ta-
hapan inkorporasi ini bukannya tidak mungkin akan meng-
akibatkan biaya pelayanan kesehatan akan meningkat tajam
seperti yang terjadi di Amerika Serikat.
Antisipasi yang kurang tepat terhadap perkembangan tek-
nologi kesehatan pada tahapan difusi dan inkorporasi di atas
akibatnya akan diikuti oleh tahapan utilisasi yang juga tidak
tepat. Salahnya antisipasi pada dua tahapan sebelumnya akan
mengakibatkan "banjirnya" teknologi canggih di rumah sakit
masa datang tanpa dapat dicegah. Dikaitkan dengan biaya yang
telah dikeluarkan oleh rumah sakit dan cepatnya tingkat perkem-
bangan yang terjadi maka wajar akan terjadi tingkat pemanfaat-
an yang juga tinggi. Ironisnya, tingginya tingkat pemanfaatan
(over utilization) tadi sukar untuk dapat disebutkan sesuai de-
ngan tingkat kebutuhan pemeriksaan itu sendiri.
Keadaan ini akan lebih diperburuk lagi apabila teknologi
yang dimanfaatkan tadi belum dipastikan derajat keamanan
penggunaannya di Indonesia. Hal ini terjadi karena evaluasi
teknis umumnya dilakukan di negara produsen pada tahapan
inovasi dan dengan tingkat reliabilitas yang relatif rendah. Perlu
ditambahkan di sini, adalah sukar bagi kita untuk menentukan
korelasi antara hasil evaluasi badan pengawas di negara pro-
dusen dengan tingkat kepatuhan penggunaan teknologi tersebut
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
43
di luar negara produsen.
Pada tahapan akhir, pengabaian yang perlu diantisipasi akan
terjadi di Indonesia adalah karena cepatnya perkembangan dan
mudahnya pengadaan teknologi terutama di kota besar maka
besar kemungkinan akan terjadi dumping dari teknologi lama.
Dumping ini akan terjadi relatif cepat dari kota besar ke tempat
yang relatif jauh dari pusat pengembangan iptek kesehatan dan
pusatpengembangan ekonomi. Apabila hal ini terjadi setidaknya
harus diantisipasi tiga hal pokok yaitu :
a) Kekurangan relatif dari tenaga pelaksana yang pada giliran-
nya akan menyebabkan pemanfaatan teknologi yang kurang atau
tidak tepat,
b) Peningkatan pembiayaan layanan rumah sakit secara ke-
seluruhan akibat adanya pemanfaatan pada butir a. di atas, dan
c) Karena jauh dari pusat pengembangan ekonomi perlu di-
antisipasi akan terjadinya subsidi pemerintah terhadap pelayan-
an dengan pemanfaatan teknologi tadi.
Berikutnya, hal yang perlu diantisipasi secara cermat adalah
yang dikaitkan dengan cepatnya pertumbuhan inovasi di negara
industri dan waktu yang diperlukan untuk didifusikan ke Indo-
nesia. Pada umumnya perkembangan teknologi canggih dan
setiap suku cadang penggantinya (spare parts) setidaknya
disiapkan untuk produksi selama 5 tahun. Di beberapa negara
industri secara resmi pemerintah menetapkan waktu produksi
teknologi canggih ini guna menghindari hilangnya perangkat
pengganti pada saat teknologi tadi habis masa hidupnya.
Untuk negara berkembang dapat dipahami rentang waktu
seperti ini akan menjadi lebih sempit. Akibatnya, kebutuhan
akan suku cadang untuk penggantian yang dibutuhkan agar da-
pat terus berfungsi jelas akan terancam. Sehubungan dengan hal
ini perlu diantisipasi akan terjadi dua hal pokok :
a) Pemanfaatan teknologi akan terhenti sementara oleh karena
perangkat pengganti yang dibutuhkan perlu disediakan dari
negara produsen,
b) Bila masa hidup alat sudah selesai dan perangkat pengganti
tidak tersedia lagi akan terjadi kanibalisme dari teknologi ter-
sebut.
Apapun yang terjadi dampaknya sudah jelas yaitu terjadi-
nya peningkatan biaya pemanfaatan teknologi canggih tersebut
dan beban ini akan ditanggung oleh masyarakat luas baik yang
memanfaatkannya maupun yang tidak memanfaatkannya.
Menyimak siklus hidup teknologi kesehatan canggih seperti
diuraikan di atas maka secara mendasar efektifitas upaya cost
containment harus dilakukan pada aspek demand terhadap la-
yanan dan aspek supply dari layanan kesehatan di rumah sakit.
Pada aspek demand, yang erat kaitannya dengan tahapan inkor-
porasi dalam siklus hidup teknologi kesehatan canggih, maka
yang perlu diamati adalah bagaimana perilaku masyarakat ter-
hadap pemanfaatan teknologi tadi dikaitkan dengan tersedianya
pembiayaan dari pihak ke tiga (asuransi kesehatan).
Umumnya yang dilakukan adalah dengan menerapkan
mekanisme pembiayaan layanan yang sebagian ditanggung oleh
penderita. Artinya, dalam menerima suatu layanan di rumah
sakit dan tidak seluruh pembiayaannya ditanggung oleh pihak ke
III (perusahaan dan/atau asuransi), sebagian harus dibayar oleh
penderita. Dengan cara ini diharapkan penderita akan mengu-
rangi demand terhadap layanan yang sebetulnya tidak diperlu-
kan. Adanya pengurangan demand seperti ini akan jelas mengu-
rangi biaya yang harus dikeluarkan oleh rumah sakit.
Dari aspek supply tampaknya bentuk upaya yang dapat
dilakukan cukup beragam dan majemuk yang secara sederhana
dapat dibagi dalam :
a) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Pendek yang men-
cakup kegiatan-kegiatan:
Penetapan pagu anggaran
Perampingan jumlah sumber daya manusia
Pengawasan terhadap remunerasi sumber daya manusia
Pengawasan terhadap pola tarif
Pengawasan terhadap jumlah layanan tertentu
Efek dari pelaksanaan upaya ini terhadappemanfaatan tekno-
logi kesehatan canggih relatif akan lebih tampak pada tarif yang
relatif bersaing sebagai akibat dari terjadinya economies of scale
pemanfaatan teknologi tersebut.
b) Upaya Pengawasan Tidak Langsung Jangka Pendek yang
mencakup kegiatan-kegiatan :
·
Pembenahan skala nilai relatif dari produksi teknologi ke-
sehatan yang ada pada saat ini
·
Pembuatan daftar positif dan negatif dari produk teknologi
kesehatan canggih
·
Pembatasan terhadap promosi teknologi kesehatan canggih
kepada calon pemakai
·
Penyampaian daftar harga teknologi kesehatan canggih
kepada calon pemakai
·
Pembuatan profil kegiatan dokter secara berkala terhadap
teknologi kesehatan yang ada pada saat ini
Efek dari kegiatan ini jelas lebih diarahkan untuk mencegah
terjadinya dua hal pokok: pengadaan teknologi yang tidak priori-
tas dan kemungkinan akan terjadinya pemanfaatan yang ber-
lebihan.
c) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Menengah yang
mencakup kegiatan-kegiatan :
·
Pengawasan terhadap pembangunan dan pengembangan
fisik
·
Pengawasan terhadap pengadaan alat kesehatan canggih
·
Pengawasan dan insentif bagi kegiatan inovasi
d) Upaya Pengawasan Langsung Jangka Panjang yang men-
cakup kegiatan-kegiatan:
·
Pengawasan terhadap jumlah mahasiswa baru kedokteran
·
Pengawasan terhadap jumlah peserta program spesialisasi
Adanya kegiatan butir c. dan d. di atas akan mengarahkan
rumah sakit untuk dengan teliti membuat perencanaan tentang
pengadaan teknologi kesehatan canggih dengan melakukan per-
hitungan cermat terhadap tenaga ahli yang dibutuhkan untuk
menggunakannya.
Mengacu kepada uraian di atas maka jelas terlihat bahwa
upaya cost containment yang dilakukan pada faktor teknologi
kesehatan dan tenaga ahli pemakainya dapat menampilkan hasil
dalam waktu singkat dan juga lama. Dalam rentang waktu
singkat hal ini dibutuhkan agar rumah sakit dapat bertahan hidup
dalam kompetisi yang relatif ketat. Dalam rentang waktu me-
44
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994
nengah dan lama di mana diperlukan perencanaan yang cermat
dan matang maka hasilnya akan menempatkan rumah sakit yang
bersangkutan sebagai pimpinan dalam kompetisi yang ada.
Kalau uraian sebelumnya kelihatannya didasari atas aspek
rentang waktu pelaksanaan maka ditinjau dari aspek komponen
pelaksanaan upaya cost containment dapat diuraikan dalam
tahapan sebagai berikut :
a) Pengurangan Biaya Operasional :
Pada tahapan ini pengamatan adalah terhadap pengeluaran
yang dilakukan untuk membiayai kegiatan layanan. Adanya
pengeluaran yang dianggap terlalu besar akan secara langsung
ditindak lanjuti dengan melakukan pengurangan/reduksi ter-
hadapnya. Tindakan ini akan menunjukkan manfaat langsung
dan segera sehingga dapat dikelompokkan dalam tindakan
jangka pendek langsung.
b) Pembenahan Biaya Operasional :
Dalam lingkup yang diamati dan ditindak lanjuti adalah
adanya peningkatan pengeluaran operasional yang dijaga untuk
tidak melebihi pertumbuhan inflasi pada kurun waktu yang
sama. Salah satu komponen pengeluaran yang cukup besar baik
nilai nominal maupun pertumbuhannya adalah biaya tenaga
kerja. Apabila hal ini dapat disubstitusi oleh alat/cara lain yang
relatif lebih murah maka hasilnya diharapkan akan timbul
segera. Karena itu, tahapan ini sebenarnya dapat dikelompokkan
ke dalam tindakan jangka pendek langsung dan tidak langsung.
c) Pengawasan Biaya Penggantian Teknologi :
Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengganti teknologi
seharusnya benar-benar dikeluarkan untuk penggantian alat baru
bukan hanyamake-up dari yang lama. Pengertian make-up di sini
harus dilihat dalam arti teknologi baru yang tidak sepenuhnya
baru dan dalam arti teknologi lama dengan perangkat tambahan
tertentu. Lebih jauh, perlu juga diwaspadai adanya efek dumping
teknologi seperti dibahas sebelumnya. Dalam klasifikasi ber-
dasarkan rentang waktu, upaya ini jelas termasuk dalam upaya
langsung jangka menengah.
d) Penghindaran terhadap Biaya yang tidak perlu :
Dalam batasan tertentu dapat diambil sebagai contoh yaitu
tentang pendidikan atau pelatihan sumber daya manusia yang
diadakan dengan dalih pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Peningkatan seperti ini dalam pengertian yang kurang
menguntungkan adalah dapat meningkatkandemand tenaga ahli
yang sudah dilatih untuk mengadakan suatu alat kesehatan
canggih.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari bahasan yang mengacu kepada aspek rentang waktu
dan komponen pelaksanaan upaya cost containment di atas
maka dapat disimpulkan bahwa :
a) Proses perencanaan komprehensif mencakup aspek supply
dan demand terhadap pengadaan teknologi kesehatan canggih
merupakan upaya pokok dalam menghindari pembiayaan yang
tinggi dari pemanfaatan teknologi yang dimaksud.
b) Dalam melakukan perencanaan di atas, hal yang perlu diper-
hatikan adalah adanya akibat pengadaan teknologi kesehatan
canggih terhadap peningkatan biaya tetap (fixed cost) yang akan
mempengaruhi terjadinya economies atau diseconomies of scale
dari rumah sakit yang bersangkutan.
c) Terjadinya economies of scale suatu rumah sakit dikaitkan
dengan pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan secara
tepat akan membuat kedudukan yang mantap bagi suatu rumah
sakit dalam situasi kompetitif yang ada.
d) Untuk menghindari terjadinya diseconomies of scale akibat
pengadaan dan pemanfaatan teknologi kesehatan canggih perlu
dilakukan upaya cost containment secara berkala dengan pene-
kanan pada efisiensi komponen biaya tetap.
e) Upaya efisiensi komponen biaya tetap pengadaan teknologi
yang dibutuhkan berdasarkan perencanaan matang sejauh
mungkin dapat ditransformasikan ke biaya tidak tetap (variable
cost) misalnya dengan cara bagi hasil.
f)
Dalam hal pengeluaran biaya tetap yang terkait dengan
pendidikan dan pelatihan tenaga ahli perlu dikembangkan kerja-
sama yang saling menguntungkan bagi setiap pihak. Komponen
biaya tetap seperti ini sewajarnya dikompensasikan dengan
mekanisme ikatan kerja bagi tenaga ahli dengan memperhati-
kan pengembangan jenjang karirnya.
g) Dalam skala luas, pihak pemerintah, PERSI dan ikatan
profesi kesehatan secara bersama harus mengembangkan regu-
lasi dan/atau kesepatan formal tentang pengawasan perkem-
bangan teknologi kesehatan yang dibutuhkan bagi peningkatan
kualitas layanan bagi masyarakat.
h) Pihak yang samadiharapkandapat mengembangkanlangkah-
langkah pokok upaya cost containment pemanfaatan teknologi
kesehatan canggih secara nasional dan menyerahkan tetapi
mengarahkan pelaksanaannya di setiap daerah disesuaikan de-
ngan situasi dan kondisi daerah masing-masing.
Apabila hal-hal di atas terutama butir g. dan h. tidak diper-
hatikan dan disertai dengan belum dikembangkannya regulasi
tentang pembiayaan oleh pihak ke tiga terhadap pemanfaatan
teknologi ini maka dapat diasumsikan akan terjadi dua hal
penting yaitu :
·
Kompetisi layanan yang tidak sehat (termasuk dalam aspek
ketenagaan) dan cenderung mengganggu mutu layanan yang
diberikan dikaitkan dengan efisiensi biaya, dan
·
Pelonjakan biaya layanan kesehatan di rumah sakit secara
menyeluruh yang akan melebihi lonjakan biaya yang terjadi
secara umum.
Kedua fenomena di atas jelas harus sekuat mungkin diupaya-
kan untuk tidak terjadi karena bukannya tidak mungkin akan
menghasilkan keadaan di mana masyarakat yang tidak mampu
akan semakin jauh dazi jangkauan layanan kesehatan rumah sakit
dan yang dapat menjangkaupun dikhawatirkan akan menerima
kualitas layanan yang relatif kurang baik.
KEPUSTAKAAN
1. Broto Wasisto. Kebijaksanaan Departemen Kesehatan di Bidang Pe-
rumahsakitan dalam PJPT 11, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, De-
partemen Kesehatan, 1993.
2.
Cleverly WO. Essentials of Health Care Finance. Aspen System Corpora-
tion, Rockville, Maryland, 1986.
3. Cleverly WO. Handbook of Health Care Accounting and Finance. Aspen
System Corporation, Rockville, Maryland, 1983.
Cermin Duniu Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
45
4.
WHO. Economic Support for National Health For A11 Strategies. Geneva:
World Health Organization, 1988.
5. Feldstein PJ. Health Care Economics. Second ed. New York: John Wiley
and Sons, 1983.
6. Joskow PL. Controlling Hospital Costs; the Role of Government Regu-
lation. Cambridge: Massachusetts: MIT Press, 1981.
7. Mansfield E. Microeconomics, Theory and Application. Shorter Fourth
Ed. New York: W.W. Norton Co., 1982.
8. Miller R LeRoy. Intermediate Microeconomics; Theory-Issues-Applica-
tions, 2nd ed. New York: McGraw-Hill Inc., 1982.
9.
Sjaaf AC. Antisipasi Investasi Terhadap Perkembangan Teknologi Kese-
hatan Dalam Dasawarsa 90-an, akan diterbitkan dalam Jurnal Administrasi
Rumah Sakit, Vol 1. No. 2, Oktober/Desember 1993.
10. Sobak SJ. Cost Containment · Challenge to the Health Care Industry,
unpublished, 1993.
11. Steinwald B, Sloan F. Regulatory Approaches to Hospital Cost Contain-
ment; a Synthetic of the Empirical Evidence, in A New Approach to the
Economics of Health Care, edited by Mancur Olson, the American Enter-
prise Institute, 1981.
12. Thakur M et al. Cost Containment in Small Hospitals: Targeting Strategies
beyod this Decade, Hospital and Health Services Administration. May/
June, 1986.
46
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994