background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Asma dan Polusi Udara
M. Yusuf Hanafiah Pohan, Faisal Yunus, Wiwien Heru Wiyono
Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Asma adalah penyakit yang telah mendapat banyak per-
hatian dalam beberapa tahun ini. Salah satu aspek yang me-
ngejutkan adalah prevalensi yang meningkat di banyak negara
industri. Aspek lain dari industrialisasi yaitu polusi udara yang
terus menerus di perkotaan akibat jumlah kendaraan yang
makin banyak. Polusi udara secara meyakinkan berhubungan
dengan bertambahnya gejala asma. Tingkat polusi udara
berhubungan dengan efek yang merugikan kesehatan individu
penyandang asma.
1,2
Efek-efek tersebut antara lain penurunan
fungsi paru, peningkatan hiperesponsivitas bronkus, angka kun-
jungan ke gawat darurat dan rawat inap, peningkatan peng-
gunaan obat, perubahan peradangan, interaksi antara polusi
udara dan faktor alergen serta perubahan sistim imun.
1
Tinjauan pustaka ini membahas hubungan antara polusi
udara dengan tanda dan gejala asma, yang akan memaparkan
hubungan polusi udara dengan masing-masing efek terhadap
kesehatan penderita asma.
Polusi udara
Polusi udara terdiri dari partikel dan berbagai gas yang
dapat berasal dari berbagai sumber. Polusi udara sendiri dapat
terjadi di dalam dan di luar ruangan (indoor dan outdoor).
3
Sumber polusi udara dapat berasal dari alam dan aktivitas
manusia. Sumber polutan alam meliputi aktivitas gunung ber-
api, kebakaran hutan, badai debu dan radiasi zat radioaktif dari
alam seperti radon. Sumber polutan yang berasal dari aktivitas
manusia yaitu dari kendaraan bermotor, pembakaran bahan
bakar fosil pada tempat tak bergerak (fuel combustion in
stationary sources), pembuangan sampah padat, proses industri
dan lain-lain. Ada pula yang berasal dari aktivitas manusia
dalam ruangan seperti merokok, penggunaan kompor, mesin
pengganda kertas, dan lain-lain.
4
Jenis polutan utama pada polusi udara luar ruangan yaitu
karbon oksida (CO dan CO
2
), sulfur oksida (SO
2
), nitrogen ok-
sida (NO
x
), volatile organic compounds (VOC) seperti hidro-
karbon, particulate matter (PM) dan ozon.
3,4
Untuk melaporkan
konsentrasi udara sehari-hari banyak negara menggunakan
pollutant standard index (PSI). Indonesia sendiri menggunakan
istilah indeks standar pencemar udara (ISPU) dengan pembagi-
an sebagai berikut:
dikutip dari 3
-
PSI < 50
sehat
-
PSI 50-100
sedang
-
PSI 101-199
tidak begitu baik
-
PSI 200-299
tidak sehat
-
PSI 300-399
berbahaya
-
PSI > 400
sangat berbahaya
Hubungan antara faktor lingkungan dan genetik asma
Faktor lingkungan termasuk mutu udara dianggap berperan
penting pada asma sejak permulaan kehidupan dan sebagai
pencetus eksaserbasi asma. Faktor genetik termasuk atopi,
hiperesponsivitas jalan napas intrinsik dan perbedaan struktur
reseptor B
2
pada jalan napas mungkin menunjang anak-anak
menjadi penyandang asma. Peran gen-gen ini dipengaruhi oleh
faktor lingkungan antara lain dengan bioalergen seperti kecoa,
tungau debu dan partikel udara luar ruangan.
2
Pada gambar 1 dapat dilihat interaksi faktor lingkungan
dan genetik dalam perjalanan asma. Fungsi paru normal saat
kelahiran bayi yang nantinya dapat berkembang menjadi asma.
Saat asma telah muncul maka pajanan lingkungan berperan
sebagai pencetus disfungsi jalan napas dan eksaserbasi klinis.
Penurunan Fungsi Paru
Spirometri dan metode pengukuran fungsi paru mekanik
lainnya telah digunakan luas dalam studi efek polusi udara dan
di bidang studi epidemiologis polusi udara. Banyak studi me-
neliti subjek yang terpajan SO
2,
setelah diketahui bahwa pe-
nyandang asma sensitif terhadap inhalasi SO
2
. Inhalasi SO
2
1,0
ppm (part per million) selama 10 menit dalam aktivitas sedang
dapat menurunkan VEP
1
23% dan meningkatkan tahanan paru
total rata-rata 67%.
5
Koenig dan Pierson melaporkan bahwa
pajanan selama 2,5 menit cukup untuk menimbulkan bronko-
konstriksi pada penyandang asma.
5
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 27
background image
Kreit dkk
6
mengevaluasi perubahan fungsi paru pada orang
sehat dan asma setelah 2 jam terpajan 0,40 ppm ozon. Penyan-
Environmental Exposures :
Allergens, Infections,
Tobacco Smoke
"Trigers"
Normal Lung
Inception of
Mild
Severe
Function
Asthma
Asthma
Asthma
Genetic Factors :
Atopy
Airways
Hyperreactivity
Gambar 1. Hubungan antara faktor lingkungan dan genetik pada asma
Dikutip dari (2)
dang asma mengalami penurunan fungsi paru lebih besar
setelah pajanan. Basha dkk
7
juga melakukan penelitian pada
orang sehat dan asma. Subjek terpajan selama 6 jam dengan
0,20 ppm ozon dan udara tersaring. Bronchooalveolar lavage
(BAL) dilakukan setelah 18 jam pajanan. Tidak ada kelompok
yang menunjukkan perubahan fungsi paru berarti, namun pe-
nyandang asma menunjukkan peningkatan hiperesponsivitas
bronkus yang bermakna.
Penelitian pajanan PM dalam laboratorium sangat sulit,
karena PM merupakan campuran debu, asap dan kabut di ling-
kungan. Beberapa penelitian telah mengikutkan penyandang
asma pada penelitian asam sulfur, salah satu bentuk PM. Seper-
ti pada SO
2
, penyandang asma lebih sensitif terhadap asam
sulfur daripada orang sehat. Penurunan VEP
1
dan KVP dapat
dilihat pada konsentrasi 35, 70 dan 100 ug/m
3
selama 30-40
menit latihan.
8
Penelitian dengan NO
2
tidak menunjukkan pe-
nurunan fungsi paru pada orang sehat dan penyandang asma.
1
Beberapa penelitian menunjukkan perubahan arus puncak
ekspirasi (APE) yang berhubungan dengan SO
2
, PM atau ozon.
Satu penelitian di Jerman
9
atas 155 anak dan 102 dewasa pe-
nyandang asma melaporkan bahwa level SO
2
berhubungan
dengan penurunan APE. Penurunan APE rata-rata 0,9%
(0,46%-1,35%) berhubungan dengan kenaikan SO
2
rata-rata
128 mug/m
3
.
Peningkatan hiperesponsivitas bronkus
Kriet dkk
6
mengevaluasi efek pajanan ozon pada orang
sehat dan penyandang asma dan menemukan peningkatan res-
pons terhadap uji provokasi metakolin hanya pada penyandang
asma. Telah dilakukan penelitian meta analisis untuk menilai
perubahan hiperesponsivitas bronkus setelah terpajan NO
2
.
Meta analisis dari 20 studi yang menggunakan penyandang
asma dan 5 studi dengan orang sehat menemukan peningkatan
kecil hiperesponsivitas bronkus namun bermakna pada
penyandang asma. Rata-rata kenaikan setelah pajanan NO
2
adalah 60%.
10
Kunjungan ke gawat darurat dan rawat inap
Tidak diragukan bahwa polusi udara di luar ruangan mem-
perburuk asma. Beberapa polutan berhubungan dengan pening-
katan kunjungan ke gawat darurat karena asma. Dalam tiga
penelitian yang dilakukan di Anchorage
11
dan Seattle
12
ditemu-
kan hubungan bermakna antara pengukuran bahan partikel
(PM) dan peningkatan kunjungan karena asma. Di Anchorage
peningkatan PM
10
10 ug/m
3
berhubungan dengan 3%-6% pe-
ningkatan kunjungan asma. Di Seattle perubahan PM 11 ug/m
3
berhubungan dengan peningkatan 15% kunjungan asma.
Karbon monoksida (CO) juga berperan pada kunjungan asma
di Seattle. Tidak ada mekanisme biologis yang masuk akal bagi
CO untuk menyebabkan eksaserbasi asma, namun CO diper-
kirakan sebagai indikator umum polusi udara. Di Seattle ter-
dapat korelasi tinggi antara kadar CO 24 jam dengan nilai
PM
10
.
12
Romieu dkk
13
melaporkan ozon dan SO
2
berhubungan
bermakna dengan kunjungan gawat darurat karena asma di
Meksiko. Penelitian terbaru kunjungan gawat darurat asma di
12 rumah sakit di London melaporkan peningkatan bermakna
kunjungan yang berhubungan dengan SO
2
, NO
2
, dan PM
10
.
14
Peningkatan gejala dan penggunaan obat
Polusi udara berhubungan dengan peningkatan serangan
asma dan lama serangan serta gejala dan penggunaan obat.
Pada penelitian di Kalifornia Selatan dengan 25 anak pe-
nyandang asma menunjukkan bahwa perburukan asma ber-
hubungan dengan PM. Penelitian ini juga menemukan bahwa
konsentrasi rerata ozon 12 jam berhubungan dengan peng-
gunaan bronkodilator pada penyandang asma anak.
15
Perlu
diketahui NO
2
sebagal polutan umum luar ruangan juga me-
rupakan polutan yang menetap dalam ruangan. Banyak laporan
peningkatan gejala pernapasan pada anak yang terpajan NO
2
dalam ruangan juga pada perempuan penyandang asma, se-
bagai akibat emisi gas untuk memasak.
16
Perubahan peradangan
Seperti telah dijelaskan penyandang asma mengalami per-
ubahan fungsi paru terinduksi ozon lebih besar dibanding orang
sehat. Menjadi pertanyaan apakah penyandang asma tersebut
mengalami tingkat peradangan paru yang lebih tinggi. Peneliti-
an terhadap 19 penyandang asma yang terpajan 0,2 ppm ozon
selama 4 jam latihan, secara umum tidak menunjukkan per-
ubahan uji fungsi paru yang lebih besar. Pada penelitian ter-
sebut dilaporkan peningkatan IL-8 lebih tinggi, protein dan
tanda peradangan lain dalam cairan BAL penyandang asma.
17
Penelitian Basha dkk
6
juga menemukan peningkatan IL-8 dan
netrofil pada penyandang asma setelah paparan ozon.
Interaksi antara polusi udara dan faktor alergen
Beberapa penelitian menunjukkan peranan pajanan polusi
udara dalam meningkatkan faktor alergen. Penelitian pertama
melaporkan hubungan positif pada 7 penyandang asma dengan
paparan ozon 0,12 ppm selama 1 jam mengurangi konsentrasi
alergen rerumputan untuk menyebabkan penurunan 20%
VEP
1
.
18
Pajanan NO
2
memperlihatkan peningkatan efek aler-
gen pada penyandang asma. Penelitian ini menemukan setelah
paparan NO
2
terjadi
peningkatan respons terhadap alergen
serbuk sari pohon dan rumput.
19
Penelitian lain dengan tungau
debu
20
juga memberi hasil serupa.
Perubahan sistem imun
Ada satu laporan menyatakan bahwa pajanan ozon dapat
menyebabkan hiperesponsivitas bronkus, juga mempengaruhi
sistem imun. Penelitian ini mengevaluasi kesehatan respirasi,
faktor alergi dan respons imun pada 218 anak dalam komunitas
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003
28
background image
ozon tinggi (Grup A), dibandingkan dengan 281 anak dari
komunitas tingkat ozon rendah (Grup B). Hiperesponsivitas
bronkus lebih sering pada anak-anak grup A. Perbandingan
serum IgE tidak menunjukkan perbedaan antara kedua kelom-
pok. Pada grup A terdapat rasio sel T helper/supresor yang
rendah secara bermakna.
21
Interaksi antara polusi udara dan makanan
Konsentrasi vitamin antioksidan dalam makanan dan
plasma berhubungan dengan status asma. Individu dengan
asma mempunyai tingkat serum antioksidan lebih rendah,
seperti vitamin C, E dan beta karoten dibandingkan populasi
umum. Beberapa penelitian mencoba membedakan apakah
suplemen vitamin akan berdampak pada respons terhadap ozon.
Tujuh belas penyandang asma dewasa terpajan ozon 0,12 ppm
atau udara selama 45 menit latihan sedang yang dilakukan
secara intermiten. Hiperesponsivitas bronkus dinilai dengan 10
menit inhalasi SO
2
(0,1 dan 0,25 ppm). Pemberian vitamin
berhubungan dengan hiperesponsivitas bronkus yang lebih
rendah terhadap SO
2
dibandingkan dengan plasebo. Hasil ini
menunjukkan suplemen vitamin C dan E berguna bagi penyan-
dang asma dewasa yang terpajan polusi udara.
22
Polusi udara dan penyebab asma
Telah dijelaskan hubungan antara polutan udara spesifik
dengan perburukan asma. Kekuatan efek masing-masing polut-
an terhadap perburukan asma dapat dilihat di Tabel 1.
Ada cukup bukti bahwa asap rokok adalah faktor risiko
asma. Juga ada bukti dari penelitian kesehatan kerja bahwa
polusi udara di tempat kerja seperti toluene diisocyanate dapat
menyebabkan asma. Tidak terdapat bukti yang nyata bahwa
polusi udara umum mempengaruhi perkembangan asma.
23
Tabel 1. Hubungan efek asma dan paparan polutan
Efek Asma
SO
2
NO
2
PM Ozon
Penurunan fungsi paru
++
0
+
++
Hiperresponsivitas bronkus
+/-
+
*
++
Kunjungan GD/Rawat inap
*
+
++
++
Gejala/penggunaan obat
*
+
+
+
Peradangan +/-
+/-
*
++
Respons
alergen
* + * +/-
Efek
imun
* + * +
Keterangan : * Tidak ada data
Dikutip dari (1)
Pajanan SO
2
dapat menyebabkan bronkokonstriksi. Pajan-
an ozon berhubungan dengan banyak tanda perburukan asma
seperti penurunan fungsi paru, peradangan jalan napas, angka
kunjungan gawat darurat dan rawat inap serta peningkatan
respons terhadap alergen udara secara umum. PM berhubungan
dengan penurunan fungsi paru, peningkatan gejala gangguan
respirasi, peningkatan penggunaan obat asma dan kunjungan
tak terjadwal ke gawat darurat.
KESIMPULAN
Tidak ada keraguan bahwa polusi udara berhubungan
dengan perburukan asma. Kita masih menunggu penelitian
lanjutan untuk memastikan apakah polusi udara secara umum
benar-benar menyebabkan asma. Para dokter harus menjelas-
kan pada pasien bahwa polusi udara merupakan salah satu
faktor yang dapat mencetuskan asma.
KEPUSTAKAAN
1.
Koenig JQ. Air pollution and asthma. J Allerg Clin Immunol 1999; 104:
717-22.
2.
Teague WG, Bayer CW. Outdoor air pollution: Asthma and other
concerns. Pediatr Clin North Am 2001; 48: 1167-83.
3.
Aditama TY. Penilaian polusi udara. J Respir Indon 1999; 1: 4-10.
4.
Cohen MJ. Air Pollution. In: Miller GT, ed. Living the environment 7
th
ed. California: Wadsworth Publ Co; 1992. p.5575-601.
5.
Koenig JQ, Pierson WE. Air pollutans and the respiratory system:
toxicity and pharmacologic interventions. J Toxicol Clin Toxicol 1991;
29: 401-11.
6.
Kreit JW, Gross KB, Moore TB, Lorenzen TJ, D'Arcy J, Eschenbacher
WL. Ozone-induced changes in pulmonary function and bronchial
responsiveness in asthmatic. J Appl Physiol 1989; 66: 217-22.
7.
Basha MA, Gross KB, Gwizdala CJ, Haidar AH, Popovich J Jr.
Bronchoalveolar lavage neutrophilia in asthmatic and healthy volunteers
after controlled exposure to ozone and filtered purified air. Chest 1994;
106: 1757-65.
8.
Hanley QS, Koenig JQ, Larson TV, Anderson TL, van Belle G, Rebol-
ledo V, et al. Response of young asthmatic patients to inhaled sulfuric
acid. Am Rev Respir Dis 1992; 145: 326-31.
9.
Peters A, Goldstein IF, Beyer U, Franke K, Heindrick J, Dockery DW, et
al. Acute health effects of exposure to high levels of air pollution in
Eastern Europe. Am J Epidemiol 1996; 144: 570-81.
10.
Folinsbee LJ. Does nitrogen dioxide exposure increase airways respon-
siveness? Toxicol Indust Health 1992; 8: 273-83.
11.
Gordian ME, Ozkaynak H, Hue J, Morris SS, Spengler JD. Particulate air
pollution and respiratory disease in Anchorage, Alaska. Environ Health
Perspect 1996; 104: 290-7.
12.
Norris G, YoungPong SN, Koenig JQ, Larson TV, Sheppard L, Stout JW.
An association between fine particles and asthma emergency visit for
children in Seattle. Environ Health Perspect 1999; 107: 489-93.
13.
Romieu I, Meneses F, Sienra-Monge JJL, Huerta J, VelasSR, White MC,
et al. Effects of urban air pollutants on emergency visits for childhood
asthma in Mexico City. Am J Epidemiol 1995; 141: 546-53.
14.
Delfino RJ, Zeiger RS, Seltzer JM, Street DH. Symptoms in pediatric
asthmatic and air pollution: differences in effects by symptom severity,
anti-inflammatory medication use and particulate averaging time. Environ
Health Perspect 1998; 106: 751-61.
15.
Jarvis D, Chinn S, Luczynska C, Burney P. Association of respiratory
symptoms and lung function in young adults with domestic gas
appliances. Lancet 1996; 347: 426-31.
16.
Atkinson RW, Anderson HR, Strachan DP, Bland JM, Bremmer SA,
Ponce de Leon A. Short term association between outdoor air pollution
and visit to accident and emergency departments in London for
respiratory complaints. Eur Respir J 1999; 13: 257-65.
17.
Scannell C, Chen L, Aris RM, Tager I, Christian D, Ferrando R, et al.
Greater ozone induced inflammatory responses in subject with asthma.
Am J Respir Crit Care Med 1997; 154: 24-9.
18.
Molvino NA, Wright SC, Katz I, Tarlo S, Silverman F, McClean PA, et
al. Effect of low concentrations of ozone on inhaled allergen responses in
asthmatic subjects. Lancet 1991; 338: 199-203.
19.
Strand V, Rak S, Barck C, Bylin G. Repeated exposure to an ambient
level of NO
2
enhances asthmatic response to a nonsymptomatic allergen
dose. Eur Respir J 1998; 12: 6-12.
20.
Rusznak C, Devalia JL, Davies RJ. Airway response of asthmatic subjects
to inhaled allergen exposure to pollutants. Thorax 1996; 51: 1105-8.
21.
Zwick H, Popp W, Wagner C, Reisser K, Schmoger J, Bock A, et al. Ef-
fects of ozone on the respiratory health, allergic sensitization and cellular
immune system in children. Am Rev Respir Dis 1991; 144: 1075-9.
22.
Troisi RJ, Willet WC, Weiss, Trichopoulos D, Rosner B Speizer FE. A
prospective study of diet and adult-onset asthma. Am J Respir Crit Care
Cermin Dunia Kedokteran No. 141, 2003 29