background image
347
| JULI - AGUSTUS 2010
PENDAHULUAN
Myelinolysis adalah kelainan neurolo-
gis yang dapat terjadi pasca koreksi
hiponatremia secara cepat.
1
Penyakit
ini sudah dikenal lebih dari 50 tahun
yang lalu.
1,2
Saat itu penyakit ini dike-
nal dengan nama central pontine
myelinolysis (CPM). Akan tetapi akhir-
akhir ini diketahui bahwa penyakit ini
mengenai pons dan juga beberapa
struktur lainnya.
3,4
Central pontine myelinolysis adalah
demielinisasi simetris non inflamasi
yang terjadi di sentral basis pons. De-
mielinisasi dapat juga terjadi di luar
pons (misalnya pada mesensefalon,
talamus, nuklei basalis, dan serebe-
lum) disebut extrapontine myelinolysis
(EPM). Bila proses patologis mengenai
pons dan struktur di luar pons dise-
but osmotic demyelination syndrome
(ODS).
3,4
Perubahan patologis EPM
identik dengan CPM; dari sebuah
laporan kasus otopsi, setengahnya
ditemukan hanya CPM saja, 2/5 kasus
hanya ditemukan EPM saja, sedang-
kan ODS ditemukan pada 3/5 kasus.
4
Sejarah myelinolysis dimulai pada ta-
hun 1949, saat seorang pria 38 tahun
dirawat di rumah sakit Boston den-
gan diagnosis delirium tremens dan
pneumonia. Saat perawatan terjadi
kuadriplegia, kelemahan saraf wajah,
disfagia, mutism, dan tanda Babinski
bilateral. Setelah 22 hari, pasien me-
ninggal dunia. Pada otopsi ditemukan
lesi simetris bilateral basis pons. Pada
pemeriksaan mikroskopik dijumpai
kerusakan mielin hebat, sedangkan
neuron dan akson tidak mengalami
kerusakan berarti. Setelah obser-
vasi selama 10 tahun, Adams dkk.
mendeskripsikan central pontine my-
elinolysis sebagai entitas klinis pada
tahun 1959.
5
Mereka menekankan lo-
kasi lesi pada basis pons dan bersifat
simetris; oleh karena itu mereka men-
duga penyebab CPM adalah gang-
guan metabolik dan mencurigai ke-
mungkinan gangguan nutrisi karena
ditemukan pada pasien pecandu alko-
hol dan kurang gizi. Hubungan kelai-
Central Pontine Myelinolysis :
Diagnosis dan Penatalaksanaan
Michael Setiawan
Bagian Neurologi RS Pluit, RS Puri Indah, Siloam Hospital Kebon Jeruk, Jakarta
ABSTRAK
Central Pontine Myelinolysis (CPM) pertama kali dideskripsikan oleh Adams dkk. pada tahun 1959 sebagai penyakit
yang mengenai pasien kurang gizi dan pecandu alkohol. Konsep ini makin berkembang dengan ditemukannya lesi di
luar pons yang disebut extrapontine myelinolysis (EPM). Bila proses patologis mengenai pons dan struktur di luar pons
disebut sebagai osmotic demyelination syndrome (ODS). Hubungan kelainan ini dengan koreksi natrium yang cepat
pada pasien hiponatremia ditemukan pada tahun 1982. Gambaran klinis CPM sangat bervariasi, pada umumnya berupa
penurunan kesadaran, kuadriparesis, dan gejala pseudobulbar seperti disartria dan disfagia, kadang-kadang ataksia,
gangguan gerak, atau gangguan tingkah laku. Diagnosis ditegakkan dengan kecurigaan klinis dan ditunjang pemerik-
saan magnetic resonance imaging (MRI). Penatalaksanaan yang direkomendasikan bersifat suportif. Pernah dilaporkan
penggunaan Thyrotropin-releasing hormone (TRH), metilprednisolon, intravenous immunoglobulins (IVIg), dan plas-
maferesis untuk pengobatan CPM atau EPM. Identifikasi pasien dengan risiko CPM, mencegah koreksi natrium yang
cepat, diagnosis dini, dan penatalaksanaan komplikasi akan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas.
nan ini dengan koreksi natrium yang
cepat pada pasien hiponatremia baru
ditemukan pada tahun 1982.
EPIDEMIOLOGI
CPM dan ODS adalah kelainan medis
yang jarang. Insidensi yang tepat tidak
diketahui, dan hanya berdasarkan la-
poran otopsi atau laporan kasus. Pada
suatu laporan otopsi 3548 pasien de-
wasa, CPM atau ODS hanya ditemu-
kan pada 0,25% kasus.
6
Musana dkk.
melaporkan 6 kasus yang didiagnosis
CPM atau ODS selama tahun 1986-
2003 di klinik Marshfield/RS St Joseph,
Amerika Serikat.
3
Insidensi lebih tinggi
dijumpai pada pasien pecandu alko-
hol dan penerima transplantasi hati.
Insidensi tertinggi pada usia 30-50
tahun; anak-anak juga dapat terkena
CPM atau ODS.
2,7
CPM lebih sering
mengenai wanita.
ETIOLOGI
CPM berhubungan dengan koreksi
cepat hiponatremia, tetapi penyebab
pastinya belum diketahui. Pada lapo-
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_178_a.indd 347
20/06/2010 21:46:58
background image
348
| JULI - AGUSTUS 2010
ran kasus 442 pasien, ditemukan 39,4%
pecandu alkohol, 21,5% mendapat
koreksi natrium karena hiponatremia,
17,4% penerima transplantasi hati.
8
Walaupun beberapa artikel melapor-
kan banyak penyebab metabolik se-
bagai etiologi, para ahli berpendapat
bahwa penyebab CPM yang sering
ditemukan adalah kenaikan kadar na-
trium yang cepat pada koreksi hipona-
tremia.
1,2,3,4
Terdapat beberapa kondisi yang
merupakan predisposisi CPM
2
, yaitu :
Pecandu alkohol, Penyakit hati, Mal-
nutrisi, Hiponatremia.
Faktor-faktor risiko terjadinya CPM
pada penderita hiponatremia adalah:
- Kadar natrium dalam darah kurang
dari 120 mEq/L selama lebih dari
48 jam.
- Terapi cairan intravena yang
agresif menggunakan NaCl hiper-
tonik.
- Terjadinya hipernatremia saat per-
awatan.
Banyak pasien hiponatremia yang di-
koreksi dengan cepat tidak menga-
lami CPM. Oleh karena itu mungkin
masih terdapat faktor risiko lain yang
belum diketahui. Akan tetapi, sangat
jarang pasien hiponatremia akut (ku-
rang dari 48 jam) yang mengalami
CPM pasca koreksi natrium.
2
PATOFISIOLOGI
Berdasarkan penelitian binatang, ter-
dapat hubungan antara timbulnya
myelinolysis dengan koreksi natrium.
Binatang percobaan dibuat hipona-
tremia dengan pemberian vasopresin
selama beberapa hari, kemudian di-
beri infus NaCl hipertonik. Binatang
percobaan yang awalnya lemah ka-
rena hiponatremia mengalami per-
baikan sementara. Umumnya dalam
48 jam setelah kadar natrium normal,
binatang mengalami kelumpuhan. Se-
telah otopsi, ditemukan myelinolysis
simetris pada sentral pons. Penelitian
binatang juga memperlihatkan kor-
elasi kenaikan kadar natrium dengan
insidensi CPM. Bila kadar natrium se-
rum naik lebih dari 14 mmol/L selama
24 jam, 71% binatang percobaan men-
galami
myelinolysis. Myelinolysis tidak
ditemukan pada binatang dengan hi-
ponatremia yang tidak dikoreksi, dan
tidak ditemukan pada binatang yang
dikoreksi natriumnya secara berta-
hap.
3
Beberapa penelitian menunjukkan ba-
hwa otak memiliki mekanisme proteksi
untuk mencegah edema pada kondisi
hiponatremia. Hiponatremia akan me-
nyebabkan penurunan konsentrasi na-
trium dan kalium di dalam otak. Otak
juga akan kehilangan anion dalam ben-
tuk klorida dan osmolit organik yaitu
fosfokreatin, mioinositol, asam amino
glutamin, taurin, dan asam glutamat.
Dengan adanya mekanisme proteksi
ini, kandungan air dalam otak akan nor-
mal kembali dalam waktu 48 jam.
Saat otak sudah beradaptasi terhadap
hiponatremia, otak akan rentan ter-
hadap stres osmotik yang disebab-
kan koreksi natrium. Dengan koreksi,
kadar natrium dan kalium dalam otak
akan kembali seperti semula dalam
beberapa jam, tetapi osmolit organik
membutuhkan waktu 5-7 hari untuk
kembali ke kadar yang normal. Selama
koreksi cepat natrium, darah menjadi
lebih hipertonik dibandingkan dengan
otak. Hal ini menyebabkan edema
intra mielin, kerusakan sawar darah-
otak, dan degenerasi oligodendro-
sit. Peneliti lain menemukan adanya
proses oksidasi pada koreksi natrium.
Akan tetapi saat ini belum diketahui
hubungan perubahan osmolit otak,
hidrasi, kompetensi sawar darah-otak,
dan stres oksidatif terhadap kerusakan
mielin.
9,10
GAMBARAN KLINIS
Tampilan klinis CPM sangat bervaria-
si. CPM mempunyai perjalanan klinis
yang bifasik, awalnya menunjukkan
gejala ensefalopati atau kejang akibat
hiponatremia, kemudian terjadi per-
baikan akibat koreksi natrium, bebe-
rapa hari kemudian kondisi memburuk
kembali. Gambaran khas pada peme-
riksaan fisik neurologis adalah penuru-
nan kesadaran (delirium), kelumpuhan
gerak mata horisontal, dan kuadriple-
gia. Gejala awal CPM pada fase per-
burukan kedua berupa disartria, disfa-
gia dan kelemahan otot leher (akibat
gangguan traktus kortikobulbar), ku-
adriparesis flaccid (akibat gangguan
traktus kortikospinal) yang akan beru-
bah menjadi spastik. Gejala-gejala ini
timbul karena adanya lesi basis pons.
Bila lesi meluas ke tegmentum pontis,
timbul gangguan refleks pupil, dan
gangguan gerak bola mata. Gang-
guan gerak bola mata dapat berupa
Gambar 1. Gambaran patologi central pontine myelinolysis
4
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_178_a.indd 348
20/06/2010 21:46:59
background image
349
| JULI - AGUSTUS 2010
kelumpuhan gerak mata horisontal
akibat lesi di pons, dan bila sudah
meluas ke mesensefalon menyebab-
kan kelumpuhan gerak mata vertikal.
Penurunan kesadaran bervariasi dari
delirium (paling sering ditemukan),
sampai koma. Tidak pernah dijum-
pai kelainan sensorik. Lesi luas basis
pons akan menyebabkan locked-in
syndrome, kelumpuhan semua saraf
wajah bagian bawah dan kelumpuhan
ekstremitas bilateral; gerak bola mata
vertikal tidak terganggu, pasien tetap
sadar, dapat mengedipkan mata, dan
pernafasan normal.
1,2
Kadang-kadang
manifestasi klinis berupa ataksia,
gangguan gerak, atau gangguan ting-
kah laku.
EPM dapat memberikan gejala mu-
tism, parkinsonism, distonia, dan
katatonia. Gambaran klinis EPM ber-
variasi dan dapat berubah-ubah. Per-
nah dilaporkan pasien dengan tremor
ekstremitas dan mioklonik, kemudian
berubah menjadi parkinsonism dan
koreoatetosis.
4
Gangguan gerak aki-
bat EPM merepresentasikan mani-
festasi ODS yang dapat diobati. Ge-
jala parkinsonism dapat mengalami
perbaikan dengan pengobatan simto-
matik obat-obat golongan dopamin-
ergik.
DIAGNOSIS
Diagnosis CPM didasarkan atas kecu-
rigaan klinis dan dikonfirmasi dengan
pemeriksaan neuroimaging. Magne-
tic resonance imaging (MRI) adalah
metode imaging pilihan untuk diag-
nosis. Sensitivitas MRI lebih tinggi
dibanding CT scan, dan dapat lebih
baik memperlihatkan EPM. Gamba-
ran CPM atau EPM berupa lesi hipo-
intens pada T1, lesi hiperintens pada
T2 dan FLAIR (Fluid Attenuation Inver-
sion Recovery), serta tidak menyangat
(enhanced) pada pemberian kontras.
Munculnya gambaran lesi pada MRI
mungkin sangat terlambat, dan bila
secara klinis dicurigai CPM, peme-
riksaan imaging dapat diulang dalam
10-14 hari.
Pernah dilaporkan perubahan gamba-
ran Diffusion weighted imaging (DWI).
DWI mungkin mampu mendeteksi
CPM. Pada satu laporan kasus, terli-
hat perubahan gambaran DWI pada
pasien kuadriplegia dalam 24 jam on-
set, yang belum dapat terdeteksi den-
gan MRI konvensional.
3,11
Pemeriksaan lumbal punksi tidak rutin
dilakukan, apalagi bila etiologi dan
diagnosis sudah jelas. Pemeriksaan li-
kuor serebrospinalis memperlihatkan
gambaran peningkatan tekanan pem-
bukaan, peningkatan protein, pleosit-
osis mononuklear, dan peningkatan
myelin basic protein. Pemeriksaan
brain stem auditory evoked potensials
memperlihatkan abnormalitas beru-
pa gambaran perlambatan konduksi
batang otak. Pemeriksaan electroen-
cephalography (EEG) memperlihatkan
gambaran perlambatan simetris difus
pada kedua hemisfer bilateral. Pada
pemeriksaan patologi anatomi dite-
mukan demielinisasi, penurunan jum-
lah oligodendroglia, sedangkan akson
dan neuron relatif tidak mengalami
kerusakan.
2
PENATALAKSANAAN
Langkah paling penting dalam pe-
natalaksanaan CPM adalah men-
genali pasien yang memiliki risiko,
dan mencegah koreksi natrium yang
cepat, terutama pada pasien dengan
hiponatremia kronis. Hiponatremia
kronis didefinisikan sebagai hipona-
tremia yang terjadi lebih dari 48 jam.
Apabila diagnosis sudah ditegak-
kan, penatalaksanaan CPM terutama
adalah suportif, sekaligus mencegah
timbulnya komplikasi sekunder yang
dapat memperberat morbiditas dan
mortalitas.
Beberapa
rekomendasi
koreksi
hiponatremia yang pernah dipublika-
sikan:
4
-
2,5 mmol/L/jam dan tidak bo-
leh lebih dari 20 mmol/hari (Berl
1990).
-
Tidak lebih dari 12 mmol/L/hari
pada hari pertama, kecepatan
koreksi dikurangi pada hari-hari
berikutnya (Sterns 1987-1992).
-
15 mmol/L dalam 24 jam (Kumar
dan Berl 1998).
-
Kurang dari 10 mmol/L/hari dalam
24 jam pertama, dan kecepatan
koreksi dikurangi pada hari-hari
berikutnya (Karp dan Laureno
2000).
-
Tidak melebihi 1-2 mmol/L/jam
dan tidak lebih dari 8 mmol/L/hari
(Brown 2000)
-
Tidak melebihi 8 mmol/L/hari
(Adrogue 2000).
Empat modalitas penatalaksanaan
yang pernah dilaporkan adalah :
1. Thyrotropin-releasing
hormone
(TRH). Chemaly dkk. melaporkan
pengobatan EPM dengan TRH 0,6
mg IV selama 6 minggu pada anak
perempuan berusia 13 tahun. Ter-
jadi perbaikan klinis dalam be-
berapa hari, dan TRH dilanjutkan
sampai pasien sembuh.
12
2. Metilprednisolon. Konno dkk.
Gambar 2. Gambaran MRI CPM (A) dan EPM (B)
7
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_178_a.indd 349
20/06/2010 21:46:59
background image
350
| JULI - AGUSTUS 2010
melaporkan
metilprednisolon
375mg IV/hari merupakan pengo-
batan yang efektif untuk CPM.
13
Nishino dkk. melaporkan satu ka-
sus CPM yang mengalami perbai-
kan setelah terapi metilpredniso-
lon dan koreksi hiponatremia.
14
3. Intravenous
immunoglobulins
(IVIg). Finsterer dkk. melaporkan
IVIg 0,4mg/kgBB/hari selama 5 hari
efektif untuk pengobatan CPM.
IVIg mempunyai efek mengurangi
jumlah zat mielotoksik, menurunkan
pembentukan antibodi antimielin,
dan membantu remielinisasi.
15
4. Plasmaferesis pernah digunakan
untuk pengobatan CPM. Bibl dkk.
melaporkan 3 kasus yang diterapi
dengan plasmaferesis, dan ketig-
anya mengalami perbaikan.
16
Mekanisme ke-empat modalitas pen-
gobatan di atas belum dapat dije-
laskan dengan pasti. Sampai saat ini
belum ada studi acak untuk meng-
konfirmasi efektivitas cara-cara pen-
gobatan di atas. Oleh karena itu para
ahli belum dapat merekomendasikan
terapi-terapi tersebut.
3,4
Pendekatan konservatif, berupa pen-
gobatan kondisi yang mendasari
atau faktor pencetus, dan perawatan
suportif yang baik masih dibenarkan
sambil menunggu studi yang meng-
konfirmasi efektivitas pengobatan di
atas.
3,4
KOMPLIKASI
Komplikasi mungkin terjadi akibat ce-
dera sistem saraf pusat yang berat,
serta akibat berkurangnya aktivitas
fisik. Komplikasi yang dapat terjadi
adalah
2
: Ketergantungan ventilator,
Pneumonia aspirasi, Trombosis vena,
Emboli paru, Kontraktur,Atrofi otot,
Ulkus dekubitus, Infeksi traktus urina-
rius, Depresi
PROGNOSIS
Beberapa laporan kasus CPM awal
mengindikasikan angka kematian
hampir 100% dalam 3 bulan per-
awatan. Perbaikan maksimal biasanya
membutuhkan waktu beberapa bulan.
Defisit neurologis kronis yang dapat
terjadi berupa kuadriparesis spastis
sampai dengan locked-in syndrome
pada CPM, sedangkan pada EPM
dapat berupa tremor dan ataksia. Lohr
dkk. melaporkan 34 kematian dari 74
pasien CPM pasca koreksi hipona-
tremia antara tahun 1962-1994, dan
terjadi defisit neurologis yang berat
pada pasien yang dapat bertahan
hidup.
17
Menger dan Jorg melaporkan
44 pasien CPM dan EPM antara ta-
hun 1990-1996. Dari 44 pasien, hanya
34 yang memiliki data follow up, 32
pasien dapat bertahan hidup. Dari
32 pasien tersebut, 10 dengan defisit
neurologis berat, 11 dengan defisit
neurologis ringan, 11 tanpa defisit
neurologis.
18
Musana dkk. melapor-
kan 6 pasien dengan CPM atau ODS,
semuanya mengalami perbaikan klinis
saat pulang dari rumah sakit.
3
Prog-
nosis ODS tidak lebih berat daripada
CPM. Secara statistik, tidak ada hu-
bungan bermakna antara beratnya
gejala neurologis dengan perjalanan
penyakit. Tidak ada hubungan ber-
makna antara besarnya lesi basis pons
dengan perjalanan klinis pasien.
SIMPULAN
CPM dan EPM adalah komplikasi pen-
gobatan hiponatremia dengan gejala
yang berat dan dapat mengancam
jiwa. Hal ini terjadi karena peningka-
tan tonisitas serum secara cepat pada
pasien dengan hiponatremia kronis
berat yang sudah beradaptasi dengan
kondisi hipotonik. Penatalaksanaan
berupa identifikasi pasien dengan re-
siko CPM, mencegah koreksi natrium
yang cepat, diagnosis dini, dan pena-
talaksanaan komplikasi. Penatalaks-
anaan yang baik dapat mengurangi
angka morbiditas dan mortalitas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Laureno R, Karp BI. Myelinolysis after Correc-
tion of Hyponatremia. Ann. Intern. Med. 1997;
126:57-62.
2. Luzzio C. Central Pontine Myelinolysis. http://
emedicine.medscape.com/article/1174329-
overview. (diunduh 13 Januari 2010).
3. Musana AK, Steven H. Central Pontine My-
elinolysis: Case Series and Review. Wisconsin
Medi.J. 2005;104(6):56-60.
4. Martin RJ. Central Pontine Myelinolysis and
Extra Pontine Myelinolysis: The Osmotic De-
myelination Syndrome. J Neurol Neurosurg
Psychiatry 2004;75(suppl III):iii22-28.
5. Adams RD, Victor M, Mancall EL. Central pon-
tine myelinolysis: a hitherto undescribed dis-
ease occuring in alcohol and malnourished pa-
tients. Arch Neurol Psychiatry 1959;81:154-172.
6. Adams RD, Victor M. The acquired metabolic
disorders of the nervous system. Dalam: Prin-
ciples of Neurology 5
th
ed. New York: McGraw
Hill, Inc;1993:891-893.
7. Brito AR, Vasconcelos MM, da Cruz LCH, de
Oliviera MEDCQ, dkk. Central pontine and
extrapontine myelinolysis: report of a case
with a tragic outcome. Jornal de Pediatria
2006;82:157-160.
8. Lampl C, Yazdi K, Central Pontine Myelinolysis.
Eur Neurol 2002;47:3-10.
9. Rojiani AM, Prineas JW, Cho ES. Electrolyte-
induced demyelination in rats. 1. Role of the
blood-brain barrier and edema. Acta Neuro-
pathol (Berl). 1994; 88:287-292.
10. Mickel HS, Oliver CN, Starke-Reed PE. Protein
oxidation and myelinolysis occur in brain fol-
lowing rapid correction of hyponatremia. Bio-
chem Biophys Res Commun. 1990;172:92-97.
11. Ruzek KA, Campeau NG, Miller GM. Early Di-
agnosis Central Pontine Myelinolysis with Dif-
fusion Weighted Imaging. Am J Neuroradiol
2004;25:210­213.
12. Chemaly R, Halaby G, Mohasseb G, Medlej R,
Tamraz J, el-Koussa S. Extrapontine Myelin-
olysis: treatment with TRH. Rev Neurol (Paris)
1998;154:163-165.
13. Konno S, Nagawa T, Yoshida T, et al. A Case
Report of Central Pontine Myelinolysis associ-
ated with serum hyperosmolality after open
heart surgery. Kyobu Geka 1993;46:150-154.
14. Nishino K. Yasuda T, Kowada M. A case of cen-
tral pontine myelinolysis with neurological re-
covery after administration of glucocorticoid.
No To Shinkei 1991;43:483-488.
15. Finsterer J, Engelmayer E, Timka E, Stiskal M. Im-
munoglobulins are effective in pontine myelinoly-
sis. Clin Neurophamacol. 2000;23:110-113.
16. Bibl D, Lampl C, Gabriel C, Jungling G, Brock
H, Kostler G. Treatment of central pontine
myelinolysis with therapeutic plasmapheresis.
Lancet 1999;353:1155.
17. Lohr JW. Osmotic demyelination syndrome
following correction of hyponatremia: as-
sociation with hypokalemia. Am J Med.
1994;96:406-413.
18. Menger H, Jorg J. Outcome of central pontine
myelinolysis and extrapontine myelinolysis . J
Neurol. 1999;246:700-705.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_178_a.indd 350
20/06/2010 21:46:59