background image
264
| MEI - JUNI 2010
PENDAHUlUAN
latar Belakang
Dewasa ini populasi lanjut usia makin
bertambah. Penduduk lansia di In-
donesia berjumlah 15,8 juta jiwa atau
sekitar 7,25% dari seluruh penduduk
Indonesia (2005).
1
Umur harapan hidup
(UHH) manusia pun makin meningkat,
UHH manusia di Indonesia pada tahun
2006 adalah sekitar 69,4 tahun dan
meningkat menjadi 70,6 tahun pada
tahun 2009.
4
Seiring bertambahnya
usia, manusia mengalami penurunan
fungsi normal organ dan sistem or-
gan, dan
beberapa penyakit dege-
naratif seperti kanker, Alzheimer dan
sebagainya makin sering ditemui.
2,3
Walaupun UHH makin tinggi, jika
tidak dibarengi dengan kualitas hidup
yang tinggi pula, banyak orang pada
usia tuanya akan mengalami banyak
penderitaan dan tidak lagi menikmati
hidupnya.
5
Sampai saat ini beragam metode
anti penuaan telah dikembangkan, di
antaranya memperbaiki gaya hidup,
mencegah stres, membasmi polusi,
sampai pengembangan berbagai
macam suplemen anti penuaan. Salah
satu metode yang sedang marak
diteliti adalah terapi sulih hormon.
Terapi sulih hormon bekerja mem-
perbaiki fungsi tubuh yang menurun
akibat penurunan produksi hormon
saat penuaan. Tetapi penelitian DHEA
terutama pada manusia belum ban-
yak dilakukan. Manfaat DHEA dalam
memperbaiki kualitas hidup pada usia
tua pun masih dipertanyakan.
Sem Samuel Surja, Victor Nugroho Wijaya
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya,
Jakarta, Indonesia
Terapi Sulih DHEA
sebagai Metode Anti Penuaan
ABSTRAK
Dehidroepiandrosteron (DHEA) dan Dehidroepiandrosteron Sulfat (DHEAS) merupakan hormon yang sebenarnya
diproduksi secara alami di tubuh manusia. Kadar DHEA dalam tubuh mencapai puncaknya pada saat lahir dan pada usia
20-24 tahun, kemudian menurun sebanyak 2-3% per tahun setelahnya. Berkurangnya hormon ini akan menyebabkan
penurunan beberapa fungsi tubuh. Karena berpotensi besar sebagai salah satu metode anti penuaan, DHEA banyak
dipelajari efektivitasnya pada manusia.
Karya tulis ini berbentuk tinjauan pustaka, bertujuan mempelajari manfaat terapi sulih DHEA. Pada beberapa penelitian,
DHEA terbukti dapat meningkatkan kadar testosteron dan estradiol, meningkatkan Bone Mineral Density (BMD) be-
berapa tulang tertentu dan mengurangi resorpsi tulang oleh osteoklas. Namun, beberapa penelitian lain menunjukkan
hasil berbeda, antara lain bahwa DHEA tidak berpengaruh terhadap hormon insulin, tidak dapat meningkatkan massa
dan kekuatan otot, dan tidak mempengaruhi komposisi lemak tubuh. Kesimpulan kami, terapi sulih DHEA bermanfaat
mencegah penuaan dalam meningkatkan kualitas tulang. Namun, masih perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan
waktu penelitian yang cukup panjang.
Kata kunci: DHEA, terapi sulih DHEA, anti penuaan.
Tujuan
Tujuan penulisan adalah untuk menge-
tahui efek terapi sulih DHEA yang
berkaitan dengan anti penuaan pada
beberapa sistem organ manusia dan
kelemahan-kelemahannya.
DHEA
DHEA (dehidroepiandrosteron) meru-
pakan steroid yang dibentuk di ko-
rteks adrenal. DHEA dan bentuk sul-
fatnya dehidroepiandrosteron sulfat
(DHEAS) merupakan prekursor andro-
gen dan diproduksi di zona fasikulata
dan retikularis korteks adrenal.
6
Selain
itu, ada indikasi DHEA juga disintesis
di otak dan berperan dalam fungsi dan
perkembangan otak.
7
Metabolisme
DHEA terangkum dalam gambar 1.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 264
4/26/2010 10:55:14 AM
background image
265
| MEI - JUNI 2010
Androstarone
Androstenedione
Testosterone
Glucocorticoids
Mineralocorticoids
Progesterone
Cholesterol
Pregnenolone (P)
17,20-Desmolase
Cortisol
DOC
DHEA
DHEAS
HSS
HSS
SH
SH
P-S
5 -R
5 -R
5 -R
5 -R
3-HSD
3-HSO
35-THP
35-THP
P-450
P-450
Estradiol
17-KSR
17-HSD
17-HSD
3-HSD
3-HSD
3-HSD
THDOC
Gambar 1. Metabolisme DHEA
8
Age (years)
DHEAS (nmol/l)
10
4000
8000
Fetal
Life
Birth
0
20
30
40
50
60
70
DHEA dan DHEAS dapat mengalami
interkonversi secara metabolik oleh
enzim phosphoadenosine-phospho-
sulfate-dependent sulfotransferase.
9
Secara umum, saat usia 20-35 tahun,
kadar DHEA dan DHEAS pada pria
10-20% lebih besar daripada wanita.
2
Pada dewasa muda, sekresi DHEA ± 4
mg/hari, sedangkan sekresi DHEAS ±
25 mg/hari.
3
Konsentrasi DHEAS mencapai puncak
saat fetus, saat lahir konsentrasinya
menurun cepat. Pada usia sekitar enam
tahun, konsentrasi DHEAS meningkat
kembali, disebut adrenarche, menca-
pai puncaknya pada usia 20-30 tahun,
kemudian akan turun seiring dengan
bertambahnya usia.
2,10
(Gambar 2).
Gambar 2. Variasi Konsentrasi DHEAS dalam Darah berdasarkan Pertambahan Usia
11
DHEA berperan sebagai pro hormon
steroid seks. DHEA mengimbangi efek
glukokortikoid.
12
Di samping itu, peran
fisiologis DHEA dan DHEAS juga ter-
gantung pada hasil transformasi DHEA
dan DHEAS, yakni testosteron dan
estradiol.
13
DHEA juga berperan da-
lam penghambatan glukosa-6-fosfat
dehidrogenase (G6PD), jalur pentose
shunt, ornithine decarboxylase, atau
blokade K-channel dan juga beberapa
sitokin. DHEA bersifat hipolipidemik,
berhubungan dengan kadar koles-
terol khususnya low-density lipopro-
tein (LDL).
12
Dalam hal imunitas tubuh,
DHEA dapat meningkatkan produksi
interleukin-2 (IL-2) dan fungsi efektor
sel limfosit T; berarti DHEA berperan
dalam regulasi fisiologis respon imun
tubuh.
14
Selain itu, DHEA dan DHEAS
memiliki fungsi penting mengatur
neokorteks selama perkembangan
otak. Dalam hal ini DHEA dan DHEAS
terbukti memiliki fungsi neurotropik.
15
Penuaan
Penuaan adalah proses berkurang-
nya fungsi tubuh yang berhubungan
dengan pertambahan usia makhluk
hidup. Hal ini dihubungkan den-
gan berkurangnya sintesis protein,
berkurangnya massa tubuh bebas
lemak (lean body mass) dan massa
tulang, serta meningkatnya lemak tu-
buh.
16
Proses penuaan dapat disebab-
kan oleh berbagai hal; beberapa di
antaranya adalah perubahan hormon,
pemendekan telomer, stress oksidatif,
dan sebagainya.
17
Penuaan berhubungan dengan me-
kanisme selular dan berkaitan erat
dengan fungsi jaringan. Perubahan
jaringan yang berhubungan dengan
proses penuaan paling jelas terlihat
pada kekakuan progresif yang ber-
pengaruh terhadap berbagai sistem
tubuh, termasuk pembuluh darah,
pernapasan, dan muskuloskeletal.
Penuaan meningkatkan otoantibodi
dan kompleks imun (ikatan antibodi-
antigen) dan menurunkan toleransi
imun terhadap sel tubuh sendiri, yang
selanjutnya dapat menurunkan efekti-
fitas sistem imun.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 265
4/26/2010 10:55:15 AM
background image
266
| MEI - JUNI 2010
Berkurangnya ovum pada wanita dan
berkurangnya spermatogenesis pada
pria juga merupakan efek penuaan.
Penurunan kecepatan pengosongan
lambung, penurunan sekresi hormon
lambung dan asam hidroklorid meru-
pakan efek penuaan pada lambung.
Pada otot terjadi atrofi dan penurunan
kontraktilitas yang berpengaruh pada
gerak dan mobilitas. Sarkopenia dapat
terjadi seiring dengan penuaan. Kulit
juga mengalami atrofi dan berkerut.
Terjadi perubahan tubuh secara total
termasuk penurunan tinggi badan,
penurunan lingkar leher, paha, dan
lengan, pelebaran panggul, peman-
jangan hidung dan telinga. Beberapa
perubahan tersebut adalah akibat
atrofi jaringan dan penurunan massa
tulang akibat osteoporosis dan os-
teoarthritis.
Komposisi tubuh juga turut terpen-
garuh oleh proses penuaan. Pada usia
paruh baya dapat terjadi pertambah-
an berat badan dan massa lemak yang
diikuti dengan penurunan massa sel
tubuh dan massa tubuh bebas lemak.
Peningkatan lemak tubuh menyebab-
kan massa air tubuh berkurang. Pen-
ingkatan massa lemak tubuh dan dis-
tribusi lemak terpusat di abdomen
berhubungan dengan non-insulin de-
pendent diabetes mellitus (NIDDM)
dan penyakit jantung.
18
HUBUNGAN KADAR DHEA/DHEAS
DENGAN PENUAAN
Penurunan kadar DHEAS plasma
proposional dengan tingkat kepara-
han penyakit pada pasien gagal jan-
tung kronis.
19
Kadar DHEA dan DHEAS
rendah secara signifikan pada pasien
penyakit jantung.
20
Kadar DHEA rendah pada pasien
diabetes.
21
Obesitas yang sering ber-
hubungan dengan penuaan juga
menyebabkan
penurunan
kadar
DHEAS.
22
Kadar DHEA pada pasien kanker pros-
tat rendah secara signifikan.
20
Pada
pasien laki- laki dengan kanker paru,
kadar DHEAS rendah.
23
Demikian
pula, pada pasien kanker payudara,
kadar DHEAS menurun.
24
Penuaan juga ditandai dengan degra-
dasi kemampuan sistem imunitas tu-
buh. Hal ini sering berkaitan dengan
meningkatnya insidensi infeksi bakteri
maupun virus. Berkurangnya kadar
DHEA berhubungan dengan pening-
katan progresi infeksi Human Immu-
nodeficiency Virus (HIV).
25
PEMBAHASAN
Ringkasan penelitian terapi sulih
DHEA sebagai metode anti penuaan
terangkum dalam tabel 1.
Efek Terapi Sulih DHEA terhadap
Sistem Endokrin
Efek terhadap hormon seks
Terdapat peningkatan testosteron dan
estradiol pada pemberian 50 mg/hari
DHEA dibanding plasebo.
26
Efek terhadap hormon insulin
Salah satu efek positif DHEA yang di-
harapkan adalah efek terhadap hor-
mon insulin karena penurunan kadar
dan aksi insulin turut berpengaruh ter-
hadap terjadinya diabetes mellitus.
Villareal & Holloszy (2004) menyatakan
bahwa terapi sulih DHEA dapat mem-
perbaiki aksi insulin secara signifikan.
27
Namun, Nair dkk (2006) menyatakan
tidak ada efek signifikan terapi sulih
DHEA terhadap sensitivitas insulin.
28
Basu dkk (2007) juga menyatakan
terapi sulih hormon tidak memper-
baiki aksi insulin.
29
Perbedaan hasil
tadi karena jangka waktu penelitian
Villareal & Holloszky hanya enam bu-
lan, sedangkan Nair dkk dan Basu dkk
Penulis
Tahun
Besar
Sampel
(orang)
Durasi
Intervensi
Hasil
Flynn dkk
1999
39
9 bulan
DHEA 100 mg/hari atau
plasebo
tidak ada perubahan komposisi tubuh dan parameter
urinalisis
Baulieu dkk
2000
280
12 bulan
DHEA 50 mg/hari atau
plasebo
peningkatan kadar testosteron dan estradiol, kualitas
tulang, libido, dan status kulit
Percheron dkk
2003
280
12 bulan
DHEA 50 mg/hari atau
plasebo
tidak ada efek positif pada kekuatan otot
Villareal & Holloszy
2004
54
6 bulan
DHEA 50 mg/hari atau
plasebo
perbaikan aksi insulin dan penurunan kadar lemak perut
Jankowski dkk
2006
140
12 bulan
DHEA 50 mg/hari atau
plasebo
perbaikan BMD tulang panggul pria dan wanita dan
BMD tulang punggung wanita
Villareal & Holloszy
2006
51
10 bulan
DHEA 50 mg/hari atau
plasebo
peningkatan massa otot dan kekuatan otot
Nair dkk
2006
144
2 tahun
DHEA 75 mg/hari atau
plasebo
tidak ada efek signifikan pada komposisi tubuh,
konsumsi oksigen, kekuatan otot, sensitivitas insulin,
hasil bermakna pada pengukuran BMD
Basu dkk
2007
112
2 tahun
DHEA 50 mg/hari,
75 mg/hari, atau
plasebo
tidak mengubah IMT, lemak viseral, persentase lemak
tubuh, atau massa tubuh bebas lemak pada lanjut usia,
tidak memperbaiki aksi insulin dan tidak menambah
sekresi insulin, tidak terbukti memperbaiki toleransi
glukosa dan tidak mengubah pola metabolisme glukosa
postprandial pada sampel pria dan wanita
Tabel 1. Ringkasan Randomised Controlled Trial mengenai Efek Terapi Sulih DHEA Sebagai Terapi Anti Penuaan
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 266
4/26/2010 10:55:15 AM
background image
267
| MEI - JUNI 2010
mencapai dua tahun. Oleh karena itu
disimpulkan bahwa terapi sulih DHEA
tidak berpengaruh terhadap hormon
insulin.
Efek Terapi Sulih DHEA terhadap
sistim muskuloskeletal
Efek terhadap kekuatan dan massa
otot
Tidak ditemukan perubahan kekuatan
genggaman tangan dan kekuatan otot
lutut isokinetik pada kelompok DHEA
dibandingkan
dengan
kelompok
plasebo.
30
Nair dkk (2006) juga tidak
menemukan perubahan kekuatan
otot ekstensor lutut pada konsumsi
DHEA.
28
Namun, Villareal dan Holloszy
(2006) menyebutkan adanya pening-
katan massa otot paha dan kekuatan
otot lengan serta otot ekstensor lutut
setelah empat bulan latihan pada kel-
ompok yang mengonsumsi DHEA.
31
Dari rangkuman di atas, dua penelitian
konsisten bahwa terapi sulih DHEA
tidak dapat meningkatkan massa mau-
pun kekuatan otot manusia walaupun
digunakan dalam jangka waktu dua ta-
hun. Namun, terapi sulih DHEA mung-
kin dapat membantu peningkatan
massa dan kekuatan otot apabila dis-
ertai dengan latihan rutin pada otot.
Efek terhadap bone mineral density
(BMD)
Baulieu dkk (2000) menunjukkan per-
baikan BMD di beberapa bagian tu-
lang seperti leher femur dan Ward's
triangle pada wanita dan radius pada
pria; juga ditemukan penurunan re-
sorpsi tulang akibat penurunan aktivi-
tas osteoklas.
26
Jankowsky dkk (2006)
menunjukkan perbaikan BMD daerah
panggul dan beberapa bagian femur
(kecuali leher femur) pada pengkon-
sumsi DHEA.
32
Nair dkk (2006) menya-
takan ada peningkatan BMD radius ul-
tradistal pada wanita dan leher femur
pada pria.
28
Dari hasil tiga penelitian di atas, terapi
sulih DHEA dapat memperbaiki atau
meningkatkan BMD beberapa bagian
tulang baik pada pria maupun pada
wanita. Tulang-tulang yang menga-
lami perbaikan belum dapat diketahui
secara spesifik karena hasil penelitian
yang bervariasi. Terdapat juga hasil
terjadinya penurunan resorpsi tu-
lang oleh osteoklas pada terapi sulih
DHEA.
Efek Terapi Sulih DHEA terhadap
komposisi tubuh
Efek DHEA ditandai dengan peruba-
han komposisi lemak tubuh. Flynn
dkk (1999) tidak berhasil menemukan
adanya perubahan pada komposisi
lemak tubuh pada pemberian DHEA
selama sembilan bulan.
16
Villareal dan
Holloszy (2004) menemukan hasil ber-
beda, yakni penurunan komposisi le-
mak abdomen yang bermakna pada
enam bulan terapi sulih DHEA.
27
Tetapi
Basu dkk (2007) dengan jumlah sam-
pel 114 orang dan jangka waktu yang
cukup lama yaitu dua tahun, tidak me-
nemukan perubahan komposisi lemak
pada pemberian terapi sulih DHEA.
29
Oleh karena itu, disimpulkan bahwa
terapi sulih DHEA tidak mempengar-
uhi komposisi lemak tubuh.
Efek samping terapi sulih DHEA
Sampai saat ini, sebagian besar pene-
litian tidak menemukan efek samping
bermakna dalam aplikasi terapi sulih
DHEA pada manusia.
27,28,31
Efek samp-
ing serius tidak bermakna yang pernah
ditemukan adalah serangan iskemia
transien dan infeksi saluran kemih
32
.
Keterbatasan data terapi sulih
DHEA
Penggunaan terapi sulih DHEA masih
tergolong baru di dunia medis. Pada
umumnya penelitian terapi sulih DHEA
mempunyai jangka waktu pendek (
2 tahun), menyebabkan efek jangka
panjang terapi sulih DHEA sebagai
anti penuaan tidak diketahui. Sampai
saat ini belum didapatkan dosis terapi
sulih DHEA yang akurat. Selain itu me-
kanisme pasti mendasari efek terapi
sulih DHEA sebagai anti penuaan
masih belum diketahui.
SIMPUlAN
Seiring bertambahnya usia, berba-
gai fungsi tubuh manusia mengalami
penurunan. Hal tersebut dicoba dice-
gah dengan berbagai metode mence-
gah penuaan, contohnya terapi sulih
hormon. Salah satu hormon yang telah
banyak digunakan adalah dehidroe-
piandrosteron (DHEA). DHEA sebe-
narnya diproduksi secara alami oleh
tubuh manusia, namun produksinya
menurun seiring dengan bertambah-
nya usia.
Penelitian telah dilakukan untuk men-
cari manfaat terapi sulih DHEA seba-
gai metode anti penuaan. Beberapa
hasilnya kurang menggembirakan,
antara lain bahwa DHEA tidak ber-
pengaruh terhadap hormon insulin,
tidak dapat meningkatkan massa dan
kekuatan otot, dan tidak mempengar-
uhi komposisi lemak tubuh. Namun,
pada beberapa penelitian lain, DHEA
terbukti dapat meningkatkan kadar
testosteron dan estradiol serta men-
ingkatkan bone mineral density (BMD)
beberapa tulang tertentu dan mengu-
rangi resorpsi tulang oleh osteoklas.
Di samping itu, penelitian-penelitian
yang ada memiliki berbagai keter-
batasan, antara lain tidak ada yang
berjangka waktu lebih dari dua ta-
hun; sehingga sulit mengetahui efek
jangka panjang terapi sulih DHEA. Se-
lain itu, belum ada dosis akurat serta
penelitian efek samping. Yang cukup
penting adalah belum diketahuinya
mekanisme pasti yang mendasari efek
anti penuaan terapi sulih DHEA. Oleh
karena itu, perlu penelitian lebih lanjut
terutama dengan jangka waktu pene-
litian yang cukup panjang (lebih dari
dua tahun).
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami berterima kasih kepada dr. Pop-
py K. Sasmita, Sp.S, M.Kes, PA yang
telah membimbing penulisan karya
ilmiah ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Biro Pusat Statistik. Jumlah Penduduk menu-
rut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi,
dan Kabupaten/Kota, 2005 Number of Popu-
lation by Sex and Age Group [homepage
on the Internet]. c2008 [updated 2005; cited
2008 Jan 19]. Available from http://demografi.
bps.go.id/versi2/index.php?option=com_
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 267
4/26/2010 10:55:16 AM
background image
268
| MEI - JUNI 2010
tabel&task=&Itemid=45&lang=en
2. Kamel NS, Gammack J, Cepeda O, Flaherty
JH. Antioxidants and hormones as antiaging
therapies: High hopes, disappointing results.
Cleve Clin J Med 2006;73(12):1049-58.
3. Leow MKS, Loh KC. Controversial endocrine
intervention for the aged. Singapore Med J
2006; 47(7):569-579.
4. Departemen Kesehatan. Menyongsong Lan-
jut Usia Tetap Sehat dan Berguna [homepage
on the Internet]. c2008 [updated 2007 Jun 28;
cited 2008 Jan 19]. Available from http://www.
depkes.go.id/index.php?option=news&task=
viewarticle&sid=2674
5. Buford TW, Willoughby DS. Impact of DHEA(S)
and cortisol on immune function in ag-
ing: a brief review. Appl Physiol Nutr Metab
2008;33:429-33.
6. Granner DK. The Diversity of the Endocrine
System. In: Murray RK, Granner DK, Mayes
PA, Rodwell VW (Eds). Harper's Illustrated
Biochemistry 27
th
ed. Singapore: McGraw-Hill,
2006; p:448.
7. Maninger N, Wolkowitz OM, Reus VI, Epel
ES, Mellon SH. Neurobiological and neurop-
sychiatric effects of dehydroepiandrosterone
(DHEA) and DHEA sulfate (DHEAS). Front
Neuroendocrinol. [serial on the Internet]. (2009
,Jan), [cited January 11, 2009];30(1):65-91.
8. Synthesis
of
dehydroepiandrosterone
(DHEA), DHEA sulfate (DHEAS), and other
steroids. [image on the Internet]. c2000.
Available from: http://www.medscape.com/
viewarticle/406925_4.
9. Baulieu E. Dehydroepiandrosterone (DHEA): a
fountain of youth?. J Clin Endocrinology Me-
tab [serial on the Internet]. (1996, Sep), [cited
January 9, 2009]; 81(9): 3147-3151.
10. Auchus RJ, Rainey WE. Adrenarche: Physiol-
ogy, Biochemistry and Human Disease. Clin
Endocrinol [serial on the internet]. (2004,Mar),
[cited January 12,2009];60(3):288-296. Avail-
able
from:
http://www.medscape.com/
viewarticle/470730_1
11. Variation in circulating deydroepiandrosterone
sulphate (DHEA-S) concentrations throughout
human life. [image on the Internet]. c2004.
Available from: http://www.medscape.com/co
ntent/2004/00/47/07/470730/470730_fig.html
12. Shealy C. A review of dehydroepiandrosterone
(DHEA). Integrative Physiological And Behav-
ioral Science: The Official Journal Of The Pav-
lovian Society [serial on the Internet]. (1995,
Sep), [cited January 11, 2009]; 30(4): 308-313.
13. Buvat J. Androgen therapy with dehydroe-
piandrosterone. World J.Urol. [serial on the
Internet]. (2003, Nov 10), [cited January 11,
2009]; 21(5): 346-355.
14. Suzuki T, Suzuki N, Daynes R, Engleman E. De-
hydroepiandrosterone enhances IL2 produc-
tion and cytotoxic effector function of human
T cells. Clin. Immunol. and Immunopathol. [se-
rial on the Internet]. (1991, Nov), [cited January
11, 2009]; 61(2 Pt 1): 202-211.
15. Compagnone N, Mellon S. Dehydroepiandros-
terone: a potential signalling molecule for
neocortical organization during development.
Proc Natl Acad Sci USA [serial on the Internet].
(1998, Apr 14), [cited January 11, 2009]; 95(8):
4678-4683.
16. Flynn M, Weaver-Osterholtz D, Sharpe-Timms
K, Allen S, Krause G. Dehydroepiandrosterone
replacement in aging humans. J Clin Endo-
crinol. Metab [serial on the Internet]. (1999,
May), [cited January 10, 2009]; 84(5): 1527-
1533.
17. Caruso LB, Silliman RA. Geriatric Medicine
(Some Theories of Aging). In: Fauci AS, Braun-
wald E, Kasper DL et al, editors. Harrison's
Principle of Internal Medicine 17
th
ed. New
York: McGraw-Hill, 2008; p.54, t.9-1.
18. McCance KL, Grey TC. Altered Cellular and
Tissue Biology. In: McCance KL, Huether SE,
eds. Pathophysiology: The Biologic Basic for
Disease in Adults and Children. 5th ed. St.
Louis: Mosby Inc, 2006; p.86.
19. Moriyama Y, Yasue H, Yoshimura M, Mizuno
Y, Nishiyama K, Tsunoda R, et al. The plasma
levels of dehydroepiandrosterone sulfate are
decreased in patients with chronic heart failure
in proportion to the severity. J Clin Endocrinol.
Metab [serial on the Internet]. (2000, May),
[cited January 11, 2009]; 85(5): 1834-1840.
20. Stahl F, Schnorr D, Pilz C, Dörner G. Dehy-
droepiandrosterone (DHEA) levels in patients
with prostatic cancer, heart diseases and un-
der surgery stress. Exp Clin Endocrinol [se-
rial on the internet]. (1992), [cited January
12,2009];99(2):68-70.
21. Buffington C, Pourmotabbed G, Kitabchi A.
Case report: amelioration of insulin resistance
in diabetes with dehydroepiandrosterone.
AJMS [serial on the Internet]. (1993, Nov),
[cited January 11, 2009]; 306(5): 320-324.
22. Williams D, Boyden T, Pamenter R, Lohman T,
Going S. Relationship of body fat percentage
and fat distribution with dehydroepiandroster-
one sulfate in premenopausal females. J Clin
Endocrinol. Metab [serial on the Internet]. (1993,
July), [cited January 11, 2009]; 77(1): 80-85.
23. Bhatavdekar J, Patel D, Chikhlikar P, Mehta R,
Vora H, Karelia N, et al. Levels of circulating
peptide and steroid hormones in men with
lung cancer. Neoplasma [serial on the Inter-
net]. (1994), [cited January 11, 2009]; 41(2):
101-103.
24. Bhatavdekar J, Patel D, Shah N, Giri D, Vora
H, Karelia N, et al. Endocrine status in stage II
vs. advanced premenopausal and postmeno-
pausal breast cancer patients. Neoplasma [se-
rial on the Internet]. (1992), [cited January 11,
2009]; 39(1): 39-42.
25. Jacobson MA, Fusaro RE, Galmarini M, Lang
W. Decreased serum dehydroepiandrosterone
is associated with an increased progression
of human immunodeficiency virus infection in
men with CD4 cell counts of 200-499. J Infect
Dis [serial on the internet]. (1991, Nov), [cited
January 12 , 2009];164(5):864-8.
26. Baulieu EE, Thomas G, Legrain, Lahlou N,
Roger M, Debuire B, et al. Dehydroepiandros-
terone (DHEA), DHEA sulfate, and aging: Con-
tribution of the DHEAge Study to a sociobio-
medical issue. Proc Natl Acad Sci U S A 2000;
97(8): 4279­84.
27. Villareal DT, Holloszy JO. Effect of DHEA on
abdominal fat and insulin action in elderly
women and men: a randomized controlled
trial. JAMA 2004; 292(18): 2243-8.
28. Nair KS, Rizza RA, O'Brien P, Dhatariya K, Short
KR, Nehra A, et al. DHEA in elderly women
and DHEA or testosterone in elderly men. N
Engl J Med 2006; 355(16): 1647-59.
29. Basu R, Dalla Man C, Campioni M, Basu A,
Nair KS, Jensen MD, et al. Two years of treat-
ment with dehydroepiandrosterone does not
improve insulin secretion, insulin action, or
postprandial glucose turnover in elderly men
or women. Diabetes 2007; 56(3): 753-66.
30. Percheron G, Hogrel JY, Denot-Ledunois S,
Fayet G, Forette F, Baulieu EE et al. Effect of
1-Year Oral Administration of Dehydroepi-
androsterone to 60- to 80-Year-Old Individuals
on Muscle Function and Cross-sectional Area.
Arch Intern Med. 2003; 163: 720-7.
31. Villareal DT, Holloszy JO. DHEA enhances
effects of weight training on muscle mass
and strength in elderly women and men.
Am J Physiol Endocrinol Metab 2006; 291(5):
E1003-8.
32. Jankowski CM, Gozansky WS, Schwartz RS,
Dahl DJ, Kittelson JM, Scott SM, et al. Effects
of dehydroepiandrosterone replacement ther-
apy on bone mineral density in older adults: a
randomized, controlled trial. J Clin Endocrinol
Metab 2006; 91(8): 2986-93.
TINJAUAN
PUSTAKA
CDK ed_177 mei ok.indd 268
4/26/2010 10:55:16 AM