background image
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
102
Efek Pemberian Cairan RL dibandingkan NaCl 0,9%
terhadap Keseimbangan Asam-Basa
(Stewart Approach) pada Seksio Sesarea
M Mukhlis Rudi P
Bagian Anestesiologi & Reanimasi FKIK Universitas Jenderal Soedirman, RSUD Prof. DR Margono Soekarjo, Purwokerto
ABSTRAK
Latar belakang. Pemberian cairan pada pasien yang akan dioperasi, khususnya sectio caesaria (SC), jarang
didahului pemeriksaan elektrolit; padahal gangguan keseimbangan elektrolit dapat mempengaruhi proses
metabolik dan penyembuhan. Pemeriksaan elektrolit setelah operasi penting karena intervensi cairan selama
operasi untuk mengontrol elektrolit dan keseimbangan asam-basa.
Metode. Penelitian eksperimental uji klinik tahap 2 secara acak tersamar ganda untuk mengetahui cairan
yang lebih baik, RL atau NaCl 0,9% terhadap strong ion difference (SID) keseimbangan asam-basa berdasar-
kan metode Stewart. Pada pasien calon operasi SC; dipasang jalur intravena dan diambil darah venanya di
ruang bedah sentral; premedikasi serta loading cairan untuk mencegah hipotensi akibat obat regional ane-
stesi. Selama operasi pasien diberi cairan kristaloid. Setelah selesai, dilakukan pemeriksaan darah vena. Uji
statistik menggunakan t-test.
Hasil. Rerata sebelum operasi SID RL (38,58±2,28) menunjukkan alkalosis, sedangkan SID NaCl (37,42±4,35)
menunjukkan asidosis. Rerata setelah operasi SID RL (37,79±1,18) menunjukkan kestabilan dibandingkan
rerata SID NaCl (39,67±3,10) yang alkalosis.
Kesimpulan. Pemberian RL pada pasien sectio caesaria lebih menguntungkan dibandingkan NaCl, karena
NaCl mempengaruhi pergeseran SID keseimbangan asam-basa Stewart.
Kata kunci. Cairan kristaloid, keseimbangan asam-basa Stewart, sectio caesaria, anestesi regional.
PENDAHULUAN
Kasus-kasus dengan perdarahan hingga 15% EBV banyak
ditemukan pada sectio caesaria, laparotomi tanpa reseksi
usus, bedah urologi, pasien trauma ortopedi tertutup,
trauma kepala (EDH), dan operasi-operasi lain. Selama
ini, penggantian cairan pada pasien operasi dengan per-
darahan kurang dari 15% EBV lebih banyak mengguna-
kan cairan kristaloid Ringer Laktat (RL) atau NaCl 0,9% di-
bandingkan koloid hydroxy ethyl starch (HES), sementara
pasien dengan regional anestesi lebih banyak mengguna-
kan koloid.
Keseimbangan asam-basa merupakan keseimbangan antar
komponen elektrolit cairan tubuh yang dinilai dengan
menggunakan persamaan Stewart. Penilaian berdasarkan
hasil pemeriksaan laboratorium BGA, albumin, dan elek-
trolit (Na, K, Cl, Mg, PO
4
) preoperatif dan postoperatif
.
1,2
Pemilihan keseimbangan asam-basa Stewart karena di ICU
(intensive care unit) RSDK, terapi cairan berdasarkan cara
Henderson-Hasselbach tidak lebih baik daripada cara Stew-
art , dinilai dari hasil pemeriksaan blood gas analysis (BGA),
elektrolit, albumin, dan kondisi obyektif pasien.
Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian yang
membandingkan cairan dasar (RL dengan NaCl 0,9%), ka-
rena kedua cairan tersebut selain murah juga mudah didap-
at di daerah. Dilakukan penghitungan strong ion difference
(SID) berdasarkan hasil pemeriksaan elektrolit; albumin dan
HASIL PENELITIAN
CDK Maret April DR.indd 102
CDK Maret April DR.indd 102
2/23/2010 4:14:39 AM
2/23/2010 4:14:39 AM
background image
103
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
pCO
2
tidak diperiksa karena SID (strong ion difference) le-
bih mewakili status keseimbangan asam-basa Stewart.
3
METODE PENELITIAN
Metode eksperimental berupa uji klinik tahap 2 acak ter-
samar ganda untuk mengetahui efektivitas pemberian in-
fus RL dan infus NaCL terhadap keseimbangan asam-basa
(metode Stewart). Subyek penelitian adalah semua pasien
RSDK dengan operasi elektif ataupun cito sectio caesaria
usia 20-35 tahun dengan status sik ASA I-II, berat badan
50-70 kg, tinggi badan 150-170 cm, tidak ada indikasi kontra
untuk tindakan anestesi regional. Lama operasi antara 60-
120 menit. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Sentral
RS. Dr. Kariadi Semarang antara 19 Oktober 2006 hingga 20
Desember 2006.
HASIL
Analisis dilakukan pada karakteristik penderita berdasar-
kan umur dan lama operasi, distribusi SID kedua kelompok
sebelum dan sesudah operasi, rerata SID kedua kelompok
sebelum dan sesudah operasi, serta rerata masing-masing
kelompok sebelum dan sesudah operasi. Penelitian dilaku-
kan terhadap 48 pasien yang terbagi 2 kelompok, 24 orang
diberi RL dan 24 orang diberi NaCl 0,9%.
Tabel 1.1 Karakteristik Pasien Kelompok RL dan NaCl 0,9%
Karakteristik
Kelompok SID
RL
(n=24)
Kelompok SID
NaCl
(n=24)
p
Umur (Tahun)
1.
Lama Operasi (menit)
2.
26,54 ±2,963
84,79±13,947
26,58±3,55
84,79±12,022
0,965
1
Nilai rata-rata ± simpangan baku tidak berbeda bermakna
( p > 0,05).
Di kelompok RL pra operasi pasien asidosis 33,33%, alkalo-
sis hipernatremik 58,33% dan normal 8,33%. Di kelompok
NaCl 0,9% didapatkan asidosis sebesar 58%, yang alkalosis
42%.
Data nilai SID RL pra operasi tidak normal (uji Kolmogorov-
Smirnov p = 0,017). Data nilai SID NaCl pra operasi normal.
(uji Kolmogorov-Smirnov SID p 0,733 >0,05). Nilai SID kelom-
pok SID RL dan SID NaCl sebelum operasi tidak berbeda (uji
t p = 0,253) dan Mann Whitney p = 0,264; p > 0,05).
Pasca operasi pasien kelompok RL yang mengalami asi-
dosis 25% (6 orang) dan yang mengalami alkalosis 29,16%
(7 orang), sisanya 45,83% (11 orang) normal. Distribusi
SID kelompok NaCl pasca operasi menunjukkan bahwa
pasien asidosis 54 % (13 orang), sedangkan sisanya 46%
(11 orang) mengalami alkalosis (uji KS 0,063 > 0,05 distri-
busi normal); data nilai SID NaCl pasca operasi normal (uji
KS 0, 455 > 0,05)
Nilai SID kelompok SID RL dan SID NaCl diuji t (p = 0,01)
dan Mann-Whitney (p = 0,043), berarti nilai SID kelompok
SID RL dan SID NaCl setelah operasi berbeda bermakna.
Tabel 1.2 Rerata SID pada Kelompok RL, NaCl Pra dan
Pasca Operasi
Waktu Operasi
Kelompok SID RL
Kelompok
SID NaCl
p
Sebelum operasi (Pra)
38,58±2,28
37,42±4,35
0,253
Setelah operasi
(Pasca)
37,79±1,18
39,67±3,10
0,01*
*Signi cant<0,05 (independent t test)
SID RL sebelum operasi secara garis besar alkalosis, se-
dangkan SID NaCl sebelum operasi secara garis besar asi-
dosis.
SID RL setelah operasi secara garis besar asidosis, sedang-
kan SID NaCl setelah operasi secara garis besar alkalosis.
Tabel 1.3 Rerata SID pada kelompok NaCl pra dan pasca
operasi
Waktu Operasi
Kelompok SID
NaCl Pra
Kelompok
SID NaCl
Pasca
p
Sebelum dan sesudah
operasi (Pra dan Pasca)
37,42±4,35
37,92±4,14
0,218
Rata-rata SID NaCl sebelum operasi bersifat asidosis (<38),
sedangkan SID pasca operasi juga bersifat asidosis (<38)
(tabel 1.3).
Tabel 1.4 Rerata SID pada kelompok RL pra dan pasca
operasi
Waktu Operasi
Kelompok SID
RL Pra
Kelompok
SID RL Pasca
p
Sebelum dan sesudah
operasi (Pra dan Pasca)
38,58±2,28
37,96±0,91
0,074
Rata-rata SID RL sebelum operasi bersifat alkalosis (>38), se-
dangkan SID RL setelah operasi turun bersifat netral (=38).
PEMBAHASAN
Pemilihan cairan pengganti selama tindakan operasi, se-
lama ini masih kontroversial Keduanya dianggap merupa-
kan cairan dasar yang paling baik kandungannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa infus NaCl 0,9% akan
berpengaruh pada pergeseran keseimbangan asam-basa
Stewart, karena pada pasien dengan SID < 38, larutan NaCl
0,9% dalam jumlah sesuai kebutuhan, mungkin menjadi asi-
dosis lebih berat atau bahkan alkalosis yang lebih berat, ka-
rena keseimbangan kadar natrium dan klorida dalam cairan
tersebut. Namun, bila diberi larutan RL, pergeseran kese-
imbangan asam-basanya tidak besar, karena kandungan
HASIL PENELITIAN
CDK Maret April DR.indd 103
CDK Maret April DR.indd 103
2/23/2010 4:14:39 AM
2/23/2010 4:14:39 AM
background image
105
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
natrium dan kloridanya tidak sama, selain itu juga ada
tambahan laktat, yang akan dimetabolisme melalui siklus
Krebb dan kemudian akan di buffer oleh bikarbonat men-
jadi asam bikarbonat dan akhirnya akan dilepaskan mela-
lui paru-paru
4
, sehingga tidak menggeser keseimbangan
asam-basa secara berlebihan.
Hasil SID untuk kelompok RL dan SID NaCl dengan meng-
gunakan uji t (p=0,253) dan Mann Whitney (P=0,264),
tidak berbeda bermakna (p > 0,05), hal ini mungkin ka-
rena intervensi cairan hanya 500 ml dan berfungsi seba-
gai "loading" untuk mengatasi kemungkinan hipotensi
akibat anestesi regional. Untuk menimbulkan perubahan
yang nyata pada SID, paling tidak dibutuhkan intervensi
hingga 3 kali perdarahan yang hilang. Kondisi elektrolit
pasien sebelum operasi juga akan sangat mempengaruhi
SID pasca intervensi.
Nilai SID dari kelompok SID RL dan SID NaCl setelah ope-
rasi berbeda bermakna (uji t (p=0,01) dan Mann-Whitney
(p = 0,043), p < 0,05). Pemberian cairan yang disesuaikan
dengan perdarahan, akan mengakibatkan perubahan ke-
seimbangan elektrolit, karena setiap perdarahan atau ke-
luarnya cairan tubuh akan disertai dengan perubahan kes-
eimbangan elektrolit tubuh.
5,6,7
Selain itu, NaCl 0,9% lebih hipertonis dibandingkan dengan
RL, karena mengandung Na+ (154 mmol/L) yang tinggi,
serta Cl- yang tinggi (154 mmol/L). Padahal kandungan Na+
plasma hanya berkisar antara 135 ­ 147 mmol/L, sedangkan
Cl- plasma sebesar 94 ­ 111 mmol/L. Pemberian infus NaCl
0,9% dalam jumlah yang besar akan berakibat asidosis.
4
Selama penelitian, tidak ditemukan gangguan akibat pem-
berian cairan, seperti alergi dan mual ­ muntah. Rasa mual,
biasanya lebih sering disebabkan oleh manipulasi operator
selama operasi. Menurut Magner dkk (2004), oksigenasi se-
lama operasi akan berperan dalam menurunkan kejadian
mual ­ muntah pasca operasi (PONV).
6
Distribusi data SID pada kelompok RL dan NaCl sebelum
operasi menunjukkan 33,33% (SID < 35) terjadi pada pasien
dengan pemberian NaCl awal, sedangkan 8,33% (SID = 38)
terdapat pada pemberian RL. Alkalosis banyak terjadi pada
pasien dengan pemberian RL sebelum operasi (58,33%),
sedangkan pada NaCl hanya 16,66%. Distribusi data SID
pasca operasi, menunjukkan bahwa asidosis berat (SID <
35) terjadi pada pemberian NaCl (25%), alkalosis juga lebih
banyak terjadi pada pemberian NaCl (25%).
Rerata SID kelompok NaCl pra operasi sebesar 37,42+4,35
dan pasca operasi 37,92±4,14 menunjukkan bahwa NaCl
bersifat asidosis (<38). Sedangkan pada RL rata-rata SID se-
belum operasi adalah 38,58 ± 2,28 berarti alkalosis (>38),
sedangkan SID setelah operasi turun menjadi 37,96 ± 0,19
berarti netral (=38).
Berdasarkan analisis data, penggunaan RL atau NaCl secara
statistik berbeda tidak bermakna, akan tetapi perbedaan
sebesar 1,00 secara klinis sangatlah bermakna.
Pemberian cairan kristaloid (RL / NaCl 0,9%) pada kedua
kelompok pasien yang menjalani SC sangat bervariasi,
disesuaikan dengan jumlah perdarahan selama operasi; se-
hingga perbedaan klinis SID kedua cairan sangat penting,
karena pergeseran keseimbangan sedikit saja akan beraki-
bat fatal. Distribusi SID pemberian cairan kristaloid pasca
operasi, menunjukkan bahwa SID 24 pasien yang diberi RL
berkisar antara 35 ­ 41. Sedangkan yang diberi NaCl < 35
dan > 41 tanpa SID yang normal, yang berarti memperberat
kondisi asidosis aataupun alkalosis.
Cairan pengganti diberikan berdasarkan 5 aspek utama
5
:
jenis cairan yang harus diberikan
1.
jumlah cairan harus jelas
2.
kriteria petunjuk terapi cairan harus jelas
3.
kemungkinan efek samping yang harus dipertimbangkan
4.
biaya
5.
Hipovolemi berhubungan dengan aliran yang tidak bisa
memenuhi jalur nutrisi sirkulasi. Selama hipovolemi yang
berhubungan dengan disfungsi hemodinamik, organisme
mencoba mengkompensasi de sit perfusi dengan meredis-
tribusi aliran ke organ vital (jantung dan otak) yang meng-
akibatkan kurangnya perfusi ke organ lain seperti usus, gin-
jal, otot, dan kulit. Aktifasi sistem saraf simpatis dan sistem
renin-angiotensin-aldosteron merupakan mekanisme
kom pensatorik untuk menjaga perfusi perifer. Banyaknya
substansi vasoaktif yang beredar dan mediator in amasi
merupakan kejadian tambahan pada situasi tersebut. Kom-
pensasi aktivasi neurohumoral awalnya bermanfaat, tetapi
mekanisme ini bisa merusak dan mungkin mengakibatkan
hasil buruk pada pasien kritis. Jadi, perbaikan adekuat vo-
lume intravaskuler tetap merupakan tindakan yang penting
dalam pengaturan pasien bedah.
16,17
Cairan mungkin bertahan dalam kompartemen intravasku-
ler atau seimbang dengan kompartemen cairan interstisial/
intraseluler. Tujuan utama penatalaksanaan cairan adalah
jaminan hemodinamik yang stabil oleh perbaikan sirkulasi
volume plasma, tetapi akumulasi cairan, terutama dalam
jaringan interstisial harus dihindari. Hipotesis Starling men-
ganalisis dan menjelaskan perubahan cairan yang melin-
tasi membran biologis. Berdasarkan persamaan tersebut,
tekanan onkotik koloid merupakan faktor penting dalam
menentukan aliran cairan yang melintasi membran kapiler
antara ruang intravaskuler dan interstisial. Jadi, adanya ma-
nipulasi tekanan onkotik koloid menjadi jaminan sirkulasi
volume intravaskuler yang adekuat.
14
Besar dan durasi efek
volume tergantung pada :
kapasitas substansi ikatan air yang spesi k
1.
berapa banyak substansi yang diinfuskan bertahan di
2.
rongga intravaskuler
HASIL PENELITIAN
CDK Maret April DR.indd 105
CDK Maret April DR.indd 105
2/23/2010 4:14:52 AM
2/23/2010 4:14:52 AM
background image
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
106
Karena sifat sikokimia yang berbeda, umumnya penggu-
naan cairan pengganti dibedakan berdasarkan pada te-
kanan onkotik koloid, efek volume, dan lamanya bertahan
dalam intravaskuler.
Keseimbangan elektrolit dan asam-basa harus dinilai dan
harus dikoreksi jika perlu, karena pemberian cairan krista-
loid (RL/NaCl) akan sangat berpengaruh. Kekurangan
waktu paruh intravaskuler dan hiponatremia, biasanya me-
ngurangi penggunaaan cairan saline < 0,9% untuk cairan
resusitasi dan pemeliharaan intraoperatif. Penyebab utama
pemilihan NaCl dan RL atau larutan garam berimbang yang
lain adalah efeknya terhadap rasio Na ekstraseluler dan ke-
seimbangan asam-basa.
Tabel 1.5 Pertimbangan kualitatif dalam pemilihan terapi
cairan intraoperatif
8
Pertimbangan
Kapasitas angkut oksigen
Faktor koagulasi
Tekanan onkotik koloid
Edema jaringan
Keseimbangan elektrolit
Keseimbangan asam-basa
Metabolisme glukosa / nutrisi
Abnormalitas serebral
DAFTAR PUSTAKA
Stewart PH. How to Understand Acid-Base : a Quantitative Acid ­ Base Primer for Biology and Medicine. From :
1.
http://www. acidbase..org.
Boldt J. Intraoperative Fluid Therapy ­ Crystalloid or Colloid Debate. Revista Mexicana de Anesthesiologia. 2005; 28 : 23-28
2.
Mustafa I, George YWH. Keseimbangan Asam-Basa (Paradigma Baru). Anesthesia & Critical Care. Vol 21. Jakarta. 2003
3.
Leksana E. SIRS, Sepsis, Keseimbangan Asam-Basa, Syok dan Terapi Cairan. CPD IDSAI Jateng-Bagian Anestesi dan Terapi Intensif FK Undip. Semarang. 2006
4.
Boldt J. Intraoperative Fluid Therapy ­ Crystalloid or Colloid Debate. Revista Mexicana de Anesthesiologia. 2005; 28 : 23-28
5.
Magner JJ, McCaul C, Carton E, Gardiner J, Buggy D. Effect of Intraoperative Intravenous Crystalloid Infusion on PONV after Gynaecological Laparoscopy
6.
:Comparison of 30 and 10 ml kg-1. BJA. 2004 ; 93(3) : 381-385.
Schierhout G, Roberts I. Fluid Resuscitation with Colloid or Crystalloid Solutions in Critically Ill Patients : A Systematic Review of Randomized Trials. BMJ. 1998;
7.
316 : 961-4
Soenarjo. Fisiologi Cairan. Simposium Tatalaksana Cairan, Elektrolit dan Asam-Basa (Stewart Approach). Semarang, 2006.
8.
Norris MC. Handbook of Obstetric Anesthesia. Lippincott, Philadelphia. 2000.
9.
Hood Vl, Tannen RL. Protection of Acid Base Balance by pH Regulation of Acid Production. NEJM 1998; 12 : 819-825.
10.
Cooper N. Acute Care : Volume Resuscitation. BMJ. 2004; 12 : 145-146.
11.
Singh G, Chaudry KI, Chaudry IH. Crystalloid is as Effective as Blood in the Resuscitation of Hemorrhagic Shock. J. Ann.Surg.. 1992; 04 : 377-382.
12.
HASIL PENELITIAN
Aldosteron meningkat segera mengikuti dan selama ope-
rasi, jadi meningkatkan absorbsi tubulus distal renal. Pe-
ningkatan aviditas tubulus terhadap natrium, memerlukan
pendampingan absorbsi ion negatif (Cl) yang lain atau
sekresi hidrogen atau ion K untuk menjaga netralitas elek-
trik tubulus renal. Jadi, jumlah Cl berhubungan dengan pe-
ningkatan Na, yang mungkin terjadi pada pemberian NaCl
0,9% jumlah besar ; sekresi hidrogen dan K akan diminimal-
kan dengan akibat hiperkloremi yang dipicu oleh asidosis
metabolik non-gap. Pemberian RL, bagaimanapun juga
akan lebih siologis (seimbang) dan tidak mengakibatkan
asidosis. Pemberian RL dalam jumlah besar mungkin akan
mengakibatkan alkalosis metabolik pasca operasi yang ber-
kaitan dengan adanya peningkatan bikarbonat dari metab-
olisme laktat.
9,10,11,12
SIMPULAN
Pemberian infus RL dan infus NaCl 0,9%, yang mulai diberi-
kan sebelum, selama, dan setelah operasi, kemudian dila-
kukan penilaian terhadap SID (strong ion difference) me-
nunjukkan hasil bahwa :
Pemberian RL lebih baik dibandingkan NaCl 0,9%.
1.
NaCl 0,9% dapat lebih mungkin menimbulkan asidosis
2.
ataupun alkalosis dibandingkan RL.
CDK Maret April DR.indd 106
CDK Maret April DR.indd 106
2/23/2010 4:14:59 AM
2/23/2010 4:14:59 AM