CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
25
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
26
Peranan Spesialis Penyakit Dalam
dalam Penatalaksanaan Perioperatif
Rully Roesli
Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
Bandung, Indonesia
PENDAHULUAN
Definisi
Yang dimaksud dengan perioperatif adalah waktu sebelum
(pre), pada saat (intra), dan setelah (post) operasi. Bila operasi
telah direncanakan beberapa saat sebelumnya disebut sebagai
operasi terencana (elective), sedangkan bila operasi dilakukan
secara mendadak atau gawat darurat disebut sebagai operasi
cito. Pasien dengan banyak faktor risiko yang dapat mempe-
ngaruhi operasi atau pembiusan dan berpotensi timbul kompli-
kasi post-operatif, disebut pasien risiko tinggi (high-risk patient).
Tindakan bedah juga dapat dibedakan antara pembedahan
risiko tinggi (high-risk procedure) dan pembedahan dengan risiko
rendah (low-risk procedure). Seorang pasien walaupun dengan
risiko tinggi pre-operatif bila dipersiapkan dengan baik maka
komplikasi post-operatif yang mungkin terjadi dapat dihindari.
Insidensi :
Sebagian besar pasien operasi elektif tidak memerlukan konsultasi
ke seorang Spesialis Penyakit Dalam (SpPD) , kecuali yang sudah
diketahui mempunyai penyakit ikutan (ko-morbid). Menurut
penelitian Jenssen dkk (2008)
1
di Swedia konsultasi perioperatif
dimintakan kepada seorang SpPD karena kasus sulit (83%),
problem spesifik (81%), dan untuk persiapan pasien sebelum
operasi (50%). Kasus-kasus sulit yang sering dikonsultasikan
adalah optimalisasi penderita penyakit jantung (93%), stratifikasi
faktor risiko jantung (83%), penggunaan
-blockers (76%),
pengelolaan pasien diabetes (74%).
Tugas seorang SpPD:
a. Menemukan penyakit ko-morbid yang dapat merupakan
faktor risiko untuk pembe-dahan atau pembiusan
b. Meng-optimasi kondisi pasien pre-operatif
c. Mengenal dan mengobati komplikasi yang berhubungan
dengan
operasi
d. Bekerjasama dalam satu tim (dengan spesialis bedah, anastesi,dll)
Algoritma
Seorang SpPD jika dimintai konsultasi peri-operatif, dapat
bekerja berdasarkan algo-ritma berikut (Gambar 1) :
Gambar 1: Algoritma peranan SpPD dalam penatalaksanaan peri-operatif
Seorang SpPD diharapkan melakukan Basic Health Assessment
dengan cermat, yang terdiri dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang baik. Jika tidak ditemukan penyakit penyerta (ko-
morbid), tidak menghadapi pasien atau operasi risiko tinggi
maka ia dapat langsung mempersiapkan pasien untuk operasi
dan memantau kemungkinan komplikasi post-operatif. Jika
yang dihadapi adalah pasien dengan komorbiditas atau dengan
risiko tinggi, maka diperlukan pemeriksaan penunjang yang
sesuai dan atas indikasi, agar dapat menghindari komplikasi
intra dan post-operatif.
PENATALAKSANAAN PRE-OPERATIF
1. Basic Health Assessment (BHA)
Berdasarkan panduan ICSI (Institute for Clinical Systems Improve-
ment) Health Care Guidelines
2
yang dimaksud dengan BHA
adalah anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan
baik. Pemeriksaan penunjang (laboratorium, rontgen) tidak perlu
pada sebagian besar pasien peri-operatif, kecuali atas indikasi.
Pemeriksaan penunjang diagnostik tidak termasuk BHA.
Pemeriksaan BHA pre-operatif harus meliputi paling sedikit
hal-hal berikut :
a. Anamnesa
Harus diketahui hal-hal sebagai berikut :
· Indikasi pembedahan
· Riwayat pembedahan atau trauma sebelumnya
· Riwayat alergi obat-obatan termasuk obat anestesi yang akan
· Riwayat obat-obatan yang digunakan secara menahun
· Riwayat penggunaan obat-obatan narkotik
· Riwayat dan gejala penyakit yang sedang atau telah diderita
· Kondisi (status) kardiovaskuler dan paru-paru
· Kondisi/riwayat anemia atau perdarahan
· Kemungkinan sedang hamil (pada wanita)
· Riwayat merokok dan konsumsi alkohol
· Faktor risiko (luka) pada tempat (area) operasi akan dilakukan
b. Pemeriksaan Fisik :
· Berat dan tinggi badan (IMT=indeks massa tubuh)
· Tanda-tanda vital ( tekanan darah,nadi,pernafasan,dll-)
· Status kardio-pulmonal
· Pemeriksaan fisik lainnya
Menurut Cohn dkk (2007)
3
dan Michota (2006)
4
, pemeriksan
penunjang diagnostik hanya dilakukan pada pasien yang mem-
punyai penyakit penyerta (ko-morbid) atau pasien dengan
operasi risiko tinggi . Oleh karena itu dalam menerima konsul-
tasi pre-operatif, seorang SpPD harus mengenal jenis pasien-
pasien yang mempunyai penyakit penyerta atau mempunyai
risiko tinggi .
2. Pasien dengan risiko tinggi
(High risk patients)
Pasien dengan risiko tinggi dapat dibedakan berdasarkan gang-
guannya yaitu jantung (kardio-vaskuler) atau bukan. Berdasar-
kan hal tersebut maka pasien yang dianggap mempunyai risiko
tinggi adalah sebagai berikut
2
:
Risiko Kardiovaskular
· unstable coronary syndromes :
-
recent myocardial infarction (terjadi dalam 1 - 6 bulan
sebelumnya)
- unstable or severe angina
· gagal jantung kongestif
· aritmia berat
-
high-grade atrioventricular block
-
symptomatic ventricular arrhythmias (in the presence of
underlying heart disease)
-
supraventricular
arrhythmias (with uncontrolled ventricular rate)
· peny katup berat (severe valvular disease)
· hipertensi berat (diastolik > 110 mmHg, sistolik > 180 mmHg)
· kelainan jantung kongenital
Risiko Non-Kardiovascular
· kelainan paru menahun (berat atau simptomatik)
(chronic obstructive pulmonary (COPD), respiratory distress,
asthma, cystic fibrosis)
· diabetes yang tidak terkontrol
· anemia simptomatik
Sedangkan menurut American Society of Anasthesiology (2002)
5
maka seorang pasien yang akan menjalani operasi, dibagi
menurut kriteria sebagai berikut (tabel 1).
Tabel 1 : Kriteria pasien pre-operatif menurut ASA (2002)
3. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Pemeriksaan Penunjang Diagnostik tidak perlu dilakukan secara
rutin pada konsultasi pre-operatif. Pemeriksaan hanya dilaku-
kan atas indikasi atau untuk pemantauan post-operatif.
Beberapa pemeriksaan penunjang diagnostik dan indikasinya
yang dianjurkan oleh ICSI (Institute for Clinical Systems Improve-
ment) Health Care Guidelines, sebagai persiapan pre-operatif,
adalah sebagai berikut (tabel 2)
2
:
Tabel 2 : Jenis Pemeriksaan Diagnostik beserta Indikasinya
Sedangkan Cleveland Clinic mempunyai panduan sendiri untuk
pemeriksaan laboratorium preoperatif beserta indikasinya
(tabel 3) :
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
25
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
26
Peranan Spesialis Penyakit Dalam
dalam Penatalaksanaan Perioperatif
Rully Roesli
Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran,
Bandung, Indonesia
PENDAHULUAN
Definisi
Yang dimaksud dengan perioperatif adalah waktu sebelum
(pre), pada saat (intra), dan setelah (post) operasi. Bila operasi
telah direncanakan beberapa saat sebelumnya disebut sebagai
operasi terencana (elective), sedangkan bila operasi dilakukan
secara mendadak atau gawat darurat disebut sebagai operasi
cito. Pasien dengan banyak faktor risiko yang dapat mempe-
ngaruhi operasi atau pembiusan dan berpotensi timbul kompli-
kasi post-operatif, disebut pasien risiko tinggi (high-risk patient).
Tindakan bedah juga dapat dibedakan antara pembedahan
risiko tinggi (high-risk procedure) dan pembedahan dengan risiko
rendah (low-risk procedure). Seorang pasien walaupun dengan
risiko tinggi pre-operatif bila dipersiapkan dengan baik maka
komplikasi post-operatif yang mungkin terjadi dapat dihindari.
Insidensi :
Sebagian besar pasien operasi elektif tidak memerlukan konsultasi
ke seorang Spesialis Penyakit Dalam (SpPD) , kecuali yang sudah
diketahui mempunyai penyakit ikutan (ko-morbid). Menurut
penelitian Jenssen dkk (2008)
1
di Swedia konsultasi perioperatif
dimintakan kepada seorang SpPD karena kasus sulit (83%),
problem spesifik (81%), dan untuk persiapan pasien sebelum
operasi (50%). Kasus-kasus sulit yang sering dikonsultasikan
adalah optimalisasi penderita penyakit jantung (93%), stratifikasi
faktor risiko jantung (83%), penggunaan
-blockers (76%),
pengelolaan pasien diabetes (74%).
Tugas seorang SpPD:
a. Menemukan penyakit ko-morbid yang dapat merupakan
faktor risiko untuk pembe-dahan atau pembiusan
b. Meng-optimasi kondisi pasien pre-operatif
c. Mengenal dan mengobati komplikasi yang berhubungan
dengan
operasi
d. Bekerjasama dalam satu tim (dengan spesialis bedah, anastesi,dll)
Algoritma
Seorang SpPD jika dimintai konsultasi peri-operatif, dapat
bekerja berdasarkan algo-ritma berikut (Gambar 1) :
Gambar 1: Algoritma peranan SpPD dalam penatalaksanaan peri-operatif
Seorang SpPD diharapkan melakukan Basic Health Assessment
dengan cermat, yang terdiri dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang baik. Jika tidak ditemukan penyakit penyerta (ko-
morbid), tidak menghadapi pasien atau operasi risiko tinggi
maka ia dapat langsung mempersiapkan pasien untuk operasi
dan memantau kemungkinan komplikasi post-operatif. Jika
yang dihadapi adalah pasien dengan komorbiditas atau dengan
risiko tinggi, maka diperlukan pemeriksaan penunjang yang
sesuai dan atas indikasi, agar dapat menghindari komplikasi
intra dan post-operatif.
PENATALAKSANAAN PRE-OPERATIF
1. Basic Health Assessment (BHA)
Berdasarkan panduan ICSI (Institute for Clinical Systems Improve-
ment) Health Care Guidelines
2
yang dimaksud dengan BHA
adalah anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan
baik. Pemeriksaan penunjang (laboratorium, rontgen) tidak perlu
pada sebagian besar pasien peri-operatif, kecuali atas indikasi.
Pemeriksaan penunjang diagnostik tidak termasuk BHA.
Pemeriksaan BHA pre-operatif harus meliputi paling sedikit
hal-hal berikut :
a. Anamnesa
Harus diketahui hal-hal sebagai berikut :
· Indikasi pembedahan
· Riwayat pembedahan atau trauma sebelumnya
· Riwayat alergi obat-obatan termasuk obat anestesi yang akan
· Riwayat obat-obatan yang digunakan secara menahun
· Riwayat penggunaan obat-obatan narkotik
· Riwayat dan gejala penyakit yang sedang atau telah diderita
· Kondisi (status) kardiovaskuler dan paru-paru
· Kondisi/riwayat anemia atau perdarahan
· Kemungkinan sedang hamil (pada wanita)
· Riwayat merokok dan konsumsi alkohol
· Faktor risiko (luka) pada tempat (area) operasi akan dilakukan
b. Pemeriksaan Fisik :
· Berat dan tinggi badan (IMT=indeks massa tubuh)
· Tanda-tanda vital ( tekanan darah,nadi,pernafasan,dll-)
· Status kardio-pulmonal
· Pemeriksaan fisik lainnya
Menurut Cohn dkk (2007)
3
dan Michota (2006)
4
, pemeriksan
penunjang diagnostik hanya dilakukan pada pasien yang mem-
punyai penyakit penyerta (ko-morbid) atau pasien dengan
operasi risiko tinggi . Oleh karena itu dalam menerima konsul-
tasi pre-operatif, seorang SpPD harus mengenal jenis pasien-
pasien yang mempunyai penyakit penyerta atau mempunyai
risiko tinggi .
2. Pasien dengan risiko tinggi
(High risk patients)
Pasien dengan risiko tinggi dapat dibedakan berdasarkan gang-
guannya yaitu jantung (kardio-vaskuler) atau bukan. Berdasar-
kan hal tersebut maka pasien yang dianggap mempunyai risiko
tinggi adalah sebagai berikut
2
:
Risiko Kardiovaskular
· unstable coronary syndromes :
-
recent myocardial infarction (terjadi dalam 1 - 6 bulan
sebelumnya)
- unstable or severe angina
· gagal jantung kongestif
· aritmia berat
-
high-grade atrioventricular block
-
symptomatic ventricular arrhythmias (in the presence of
underlying heart disease)
-
supraventricular
arrhythmias (with uncontrolled ventricular rate)
· peny katup berat (severe valvular disease)
· hipertensi berat (diastolik > 110 mmHg, sistolik > 180 mmHg)
· kelainan jantung kongenital
Risiko Non-Kardiovascular
· kelainan paru menahun (berat atau simptomatik)
(chronic obstructive pulmonary (COPD), respiratory distress,
asthma, cystic fibrosis)
· diabetes yang tidak terkontrol
· anemia simptomatik
Sedangkan menurut American Society of Anasthesiology (2002)
5
maka seorang pasien yang akan menjalani operasi, dibagi
menurut kriteria sebagai berikut (tabel 1).
Tabel 1 : Kriteria pasien pre-operatif menurut ASA (2002)
3. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Pemeriksaan Penunjang Diagnostik tidak perlu dilakukan secara
rutin pada konsultasi pre-operatif. Pemeriksaan hanya dilaku-
kan atas indikasi atau untuk pemantauan post-operatif.
Beberapa pemeriksaan penunjang diagnostik dan indikasinya
yang dianjurkan oleh ICSI (Institute for Clinical Systems Improve-
ment) Health Care Guidelines, sebagai persiapan pre-operatif,
adalah sebagai berikut (tabel 2)
2
:
Tabel 2 : Jenis Pemeriksaan Diagnostik beserta Indikasinya
Sedangkan Cleveland Clinic mempunyai panduan sendiri untuk
pemeriksaan laboratorium preoperatif beserta indikasinya
(tabel 3) :
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
27
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
28
Tabel 3 : Panduan Pemeriksaan Penunjang Diagnostik dan Indikasinya
(Claveland Clinic J Med 2007, 147 :S4-S7)
4
Perlu diperhatikan bahwa pemeriksaan penunjang diagnostik
yang disebutkan di atas adalah sebagai persiapan operasi,
bukan untuk menegakkan penyakit dasarnya. Pemeriksaan
penunjang diagnostik lainnya dapat dilakukan atas indikasi
sesuai dengan kelainan yang didapat pada pasien.
PENATALAKSANAAN PRE-OPERATIF PASIEN RISIKO TINGGI
ATAU DENGAN PENYAKIT PENYERTA (KO-MORBID)
Pasien-pasien yang pre-operatif sudah diketahui mempunyai
penyakit dasar (ko-morbid) memerlukan penatalaksanaan
khusus peri-operatif, mengingat penyakit maupun pengoba-
tannya telah berjalan menahun, serta dapat menimbulkan
komplikasi post-operatif yang lebih besar.
Beberapa penyakit yang perlu penatalaksaan khusus yang
sering dikonsultasikan pre-operatif antara lain :
1. Diabetes dan Tirotoksikosis
Diabetes
Seorang penderita diabetes yang akan menjalani operasi
harus mendapat perhatian dalam :
a. Terapi terhadap diabetesnya, dan target kadar gula darah
yang harus dicapai pre-operatif
b. Komplikasi yang mungkin timbul intra- dan post operatif.
Diabetes, terutama tipe 2, seringkali tidak diketahui oleh
pasien. Data epidemiologis menunjukkan bahwa insidensi
diabetes adalah 1-4% pada populasi di atas 40 tahun.
Mengingat besarnya komplikasi post-operatif pada pasien
dengan kadar gula darah tidak terkontrol, operasi elektif
sebaiknya ditunda sampai kadar gula darah terkontrol.
Rekomendasi kadar gula darah yang harus dicapai peri-operatif
berbeda berdasarkan jenis operasinya. American Diabetes Associa-
tion (ADA) merekomendasikan kadar gula darah yang harus
dicapai perioperatif adalah sebagai berikut (Tabel 4)
6
:
Tabel 4 : Rekomendasi Target Gula Darah Perioperatif
6
Terapi insulin intensif (target gula darah <110 mg/dl), masih
kontroversial. Pada penderita berpenyakit kritis dilaporkan ber-
manfaat, pada kelompok penderita lainnya belum terbukti
manfaatnya
7
Pemberian obat antidiabetik oral harus mendapat perhatian khusus.
Pada dasarnya semua obat oral sebaiknya dihentikan pada hari
operasi. Kadar gula darah harus diperiksa sebelum operasi dan
dilakukan pemantauan gula darah setiap 2 jam post-operatif
hingga kadar gula darah terkendali. Bila kadar gula darah cenderung
tinggi dan pasien masih harus puasa maka kontrol gula darah
harus dilakukan dengan insulin subkutan atau parenteral.
Berbagai obat anti diabetes oral mempunyai efek seperti tercan-
tum pada tabel 5
6
:
Tabel 5 : Obat Anti Diabetes Oral dan Pengaruh Perioperatifnya
Tabel 6 : Rekomendasi Penghentian Obat-obat Kardiovaskuler Pre-operatif
8
Penyakit-penyakit yang dapat memberikan risiko kardiovaskuler
(infark miokard, gagal jantung, kematian) post-operatif diklasi-
fikasikan seperti tercantum pada tabel 7 .
Tabel 7. Prediktor Terjadinya Komplikasi Kardiovaskuler Peri operatif
8
Sedangkan tindakan operasi dapat menimbulkan komplikasi
kardiovaskuler menurut beratnya tindakan (tabel 8).
Tabel 8. Stratifikasi Risiko Komplikasi Kardiovaskuler untuk Tindakan
Bedah Non-kardiak
9
Clinical Predictors or increase Perioperativ Cardiovascular Risk (Miyocardial Intraction, Heart Failure, Death)
Cardiac Risk* Stratification for Noncardiac Surgical Procedures
Pasien tergantung insulin, dianjurkan menurunkan dosis insulin
pada malam sebelum operasi. Ada berbagai panduan mengenai
pemberian insulin pre-operatif. Menurut Hoogwere (2006) pada
malam dan pagi hari sebelum operasi diberi insulin (intermedi-
ate-acting) setengah sampai duapertiga dosis biasa.
Obat oral anti diabetes tidak diberikan pada hari operasi. Pada
intra-operasi dan post-operasi insulin dapat diberikan kembali
sesuai pemantauan gula darahnya
7
.
Ada berbagai cara dan panduan untuk menentukan dosis
insulin drip. Panduan ADA6 adalah sebagai berikut:
Regular insulin (100 Unit) dilarutkan dalam 100 ml NaCl 0,9 %.
Dosis insulin (per jam) diberikan dengan rumus sbb:
Dosis Insulin (Unit/jam) = kadar glukosa / 150
Rumus tersebut merupakan panduan umum, pada kondisi
pasien yang berbeda dosis insulin dapat berubah. Pemberian
insulin maupun antidiabetes oral post-operatif, perlu disesuaikan
dengan kapan pasien boleh mendapat nutrisi seperti sebelum
operasi
7
.
Tirotoksikosis
Untuk menghindari komplikasi krisis tiroid, operasi elektif pada
pasien tirotoksikosis harus ditunda sampai pasien menjadi
eutiroid. Bila operasi tidak dapat ditunda, harus diberi iodine
dan obat antitiroid lain (misal : propylthiouracil, methimazole).
Untuk menghindari komplikasi palpitasi, takhikardia atau tremor
dapat diberikan propranolol. Tirotoksikosis krisis intra atau post
operatif akan ditandai dengan demam, berkeringat banyak,
takhikardia, muntah, nyeri abdomen hingga delirium.
2. Kardiovaskuler
Pasien dengan ko-morbiditas kardiovaskuler dapat menghadapi :
a. Operasi kardiovaskuler (CABG, operasi katup,dll)
b. Operasi non-kardiovaskuler
Perlu diperhatikan pasien-pasien ini mengkonsumsi obat-obatan
(kardiovaskuler) secara rutin dan menahun. Obat-obatan ini
dapat mempengaruhi tindakan anestesi atau menyebabkan
perdarahan post-operatif
8,9
.
Namun penghentian obat-obatan ini dapat mempengaruhi
penyakit kardiovaskulernya.
Beberapa obat dianjurkan dihentikan saat pre-operatif (tabel 6).
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
27
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
28
Tabel 3 : Panduan Pemeriksaan Penunjang Diagnostik dan Indikasinya
(Claveland Clinic J Med 2007, 147 :S4-S7)
4
Perlu diperhatikan bahwa pemeriksaan penunjang diagnostik
yang disebutkan di atas adalah sebagai persiapan operasi,
bukan untuk menegakkan penyakit dasarnya. Pemeriksaan
penunjang diagnostik lainnya dapat dilakukan atas indikasi
sesuai dengan kelainan yang didapat pada pasien.
PENATALAKSANAAN PRE-OPERATIF PASIEN RISIKO TINGGI
ATAU DENGAN PENYAKIT PENYERTA (KO-MORBID)
Pasien-pasien yang pre-operatif sudah diketahui mempunyai
penyakit dasar (ko-morbid) memerlukan penatalaksanaan
khusus peri-operatif, mengingat penyakit maupun pengoba-
tannya telah berjalan menahun, serta dapat menimbulkan
komplikasi post-operatif yang lebih besar.
Beberapa penyakit yang perlu penatalaksaan khusus yang
sering dikonsultasikan pre-operatif antara lain :
1. Diabetes dan Tirotoksikosis
Diabetes
Seorang penderita diabetes yang akan menjalani operasi
harus mendapat perhatian dalam :
a. Terapi terhadap diabetesnya, dan target kadar gula darah
yang harus dicapai pre-operatif
b. Komplikasi yang mungkin timbul intra- dan post operatif.
Diabetes, terutama tipe 2, seringkali tidak diketahui oleh
pasien. Data epidemiologis menunjukkan bahwa insidensi
diabetes adalah 1-4% pada populasi di atas 40 tahun.
Mengingat besarnya komplikasi post-operatif pada pasien
dengan kadar gula darah tidak terkontrol, operasi elektif
sebaiknya ditunda sampai kadar gula darah terkontrol.
Rekomendasi kadar gula darah yang harus dicapai peri-operatif
berbeda berdasarkan jenis operasinya. American Diabetes Associa-
tion (ADA) merekomendasikan kadar gula darah yang harus
dicapai perioperatif adalah sebagai berikut (Tabel 4)
6
:
Tabel 4 : Rekomendasi Target Gula Darah Perioperatif
6
Terapi insulin intensif (target gula darah <110 mg/dl), masih
kontroversial. Pada penderita berpenyakit kritis dilaporkan ber-
manfaat, pada kelompok penderita lainnya belum terbukti
manfaatnya
7
Pemberian obat antidiabetik oral harus mendapat perhatian khusus.
Pada dasarnya semua obat oral sebaiknya dihentikan pada hari
operasi. Kadar gula darah harus diperiksa sebelum operasi dan
dilakukan pemantauan gula darah setiap 2 jam post-operatif
hingga kadar gula darah terkendali. Bila kadar gula darah cenderung
tinggi dan pasien masih harus puasa maka kontrol gula darah
harus dilakukan dengan insulin subkutan atau parenteral.
Berbagai obat anti diabetes oral mempunyai efek seperti tercan-
tum pada tabel 5
6
:
Tabel 5 : Obat Anti Diabetes Oral dan Pengaruh Perioperatifnya
Tabel 6 : Rekomendasi Penghentian Obat-obat Kardiovaskuler Pre-operatif
8
Penyakit-penyakit yang dapat memberikan risiko kardiovaskuler
(infark miokard, gagal jantung, kematian) post-operatif diklasi-
fikasikan seperti tercantum pada tabel 7 .
Tabel 7. Prediktor Terjadinya Komplikasi Kardiovaskuler Peri operatif
8
Sedangkan tindakan operasi dapat menimbulkan komplikasi
kardiovaskuler menurut beratnya tindakan (tabel 8).
Tabel 8. Stratifikasi Risiko Komplikasi Kardiovaskuler untuk Tindakan
Bedah Non-kardiak
9
Clinical Predictors or increase Perioperativ Cardiovascular Risk (Miyocardial Intraction, Heart Failure, Death)
Cardiac Risk* Stratification for Noncardiac Surgical Procedures
Pasien tergantung insulin, dianjurkan menurunkan dosis insulin
pada malam sebelum operasi. Ada berbagai panduan mengenai
pemberian insulin pre-operatif. Menurut Hoogwere (2006) pada
malam dan pagi hari sebelum operasi diberi insulin (intermedi-
ate-acting) setengah sampai duapertiga dosis biasa.
Obat oral anti diabetes tidak diberikan pada hari operasi. Pada
intra-operasi dan post-operasi insulin dapat diberikan kembali
sesuai pemantauan gula darahnya
7
.
Ada berbagai cara dan panduan untuk menentukan dosis
insulin drip. Panduan ADA6 adalah sebagai berikut:
Regular insulin (100 Unit) dilarutkan dalam 100 ml NaCl 0,9 %.
Dosis insulin (per jam) diberikan dengan rumus sbb:
Dosis Insulin (Unit/jam) = kadar glukosa / 150
Rumus tersebut merupakan panduan umum, pada kondisi
pasien yang berbeda dosis insulin dapat berubah. Pemberian
insulin maupun antidiabetes oral post-operatif, perlu disesuaikan
dengan kapan pasien boleh mendapat nutrisi seperti sebelum
operasi
7
.
Tirotoksikosis
Untuk menghindari komplikasi krisis tiroid, operasi elektif pada
pasien tirotoksikosis harus ditunda sampai pasien menjadi
eutiroid. Bila operasi tidak dapat ditunda, harus diberi iodine
dan obat antitiroid lain (misal : propylthiouracil, methimazole).
Untuk menghindari komplikasi palpitasi, takhikardia atau tremor
dapat diberikan propranolol. Tirotoksikosis krisis intra atau post
operatif akan ditandai dengan demam, berkeringat banyak,
takhikardia, muntah, nyeri abdomen hingga delirium.
2. Kardiovaskuler
Pasien dengan ko-morbiditas kardiovaskuler dapat menghadapi :
a. Operasi kardiovaskuler (CABG, operasi katup,dll)
b. Operasi non-kardiovaskuler
Perlu diperhatikan pasien-pasien ini mengkonsumsi obat-obatan
(kardiovaskuler) secara rutin dan menahun. Obat-obatan ini
dapat mempengaruhi tindakan anestesi atau menyebabkan
perdarahan post-operatif
8,9
.
Namun penghentian obat-obatan ini dapat mempengaruhi
penyakit kardiovaskulernya.
Beberapa obat dianjurkan dihentikan saat pre-operatif (tabel 6).
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
Pemberian
-blockers menjadi kontroversi. Menurut rekomen-
dasi ACC/AHA (2002),
-blockers harus terus diberikan pada
penderita penyakit kardiovaskuler (aritmia, angina pektoris, hiper-
tensi, atau gagal jantung) yang sebelumnya mendapat obat ini
dan menjalani operasi non-kardiak. Selain itu
-blockers direko-
mendasikan pada pasien yang menghadapi operasi dengan
risiko tinggi komplikasi kardiovaskuler ( riwayat penyakit kardio-
vaskuler sebelumnya, diabetes, usia > 65 tahun, hipertensi, hiper-
lipidemia). Sedangkan untuk operasi dengan risiko kardiovaskuler
ringan atau sedang, pemberian
-blockers diperdebatkan
10
.
-blockers merupakan kontra-indikasi pada pasien yang diketahui
menunjukan gejala 2
nd
atau 3
rd
degree AB block, acute conges-
tive heart failure, bronkhospasme, denyut jantung < 60 x/menit,
tekanan darah sistolik < 100 mmHg, he-modinamik tidak stabil).
3. Ginjal
Gangguan ginjal peri-operatif dapat terjadi pada
11
:
a. Penderita dengan Penyakit Ginjal Krinis (PGK) yang akan
menjalani
operasi
b. Penderita post-operatif yang menderita Gangguan Ginjal Akut
Penderita Penyakit Ginjak Kronik (PGK)
12
Penderita PGK yang harus menjalani operasi harus mendapat
perhatian khusus karena biasanya pasien ini juga menderita
hipertensi. Penurunan fungsi ekskresi air dan elektrolit, sering
menyebabkan overhidrasi, hiperkalemia dan asidosis. Pasien
juga sering menderita azotemia dengan akibat anemia dan
gangguan perdarahan. Pemeriksaan rutin yang harus dilakukan
pada pasien PGK pre-op dapat dilihat pada tabel 9 :
Tabel 9. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik untuk Pasien PGK
12
Hiperkalemi : Penderita PGK sering mengalami hiperkalemi.
Walaupun tidak ada panduan pasti, dianjurkan agar kadar
kalium pre operasi <5,5 mEq/L. Kadar kalium dapat diturunkan
dengan resin exchange per oral atau anal. Dapat juga diberikan
natrium bikarbonat atau dextrose 10 % + insulin parenteral.
Jika kadar kalium sangat tinggi dan sulit diturunkan dengan
medikamentosa dapat dilakukan dialisis pre-operasi.
Perdarahan : Penderita PGK mempunyai tendensi perdarahan
karena gangguan fungsi trombosit. Terapi anti-platelet, misalnya
aspirin dan dipiridamol harus dihentikan 72 jam pre-operasi.
Anemi : Kurangnya hormon eritropoitin pada penderita PGK
sering menyebabkan anemi dan pasien sudah menyesuaikan
dengan kondisi tersebut. Kadar hematokrit pre-operasi diharap-
kan sekitar 20-26 %. Perlu diperhatikan bahwa transfusi,
terutama pada penderita transplantasi ginjal, tidak selalu mem-
perbaiki keadaan.
Hipertensi : Pemberian obat antihipertensi pada penderita PGK
peri-operatif harus tetap dilanjutkan. Bila penderita berpuasa,
obat anti-hipertensi harus diberikan parenteral. Pemantauan
tekanan darah peri-operatif harus dilakukan secara ketat.
Pemberian diuretik, sebaiknya dihentikan 1-2 hari pre-operatif,
agar tidak terjadi deplesi cairan atau hipotensi intra-operatif.
Kadar kreatinin pre-operasi berpengaruh terhadap terjad-inya
komplikasi post-operatif, termasuk terjadinya Gangguan Ginjal
Akut post-operatif, (tabel 10):
Tabel 10 : Hubungan antara kadar kreatinin serum pre-operatif dengan
angka kejadian GGA pasca-operatif
11
Jika kadar kreatinin serum pre-operatif > 2 mg/dl, angka
kejadian GGA post-operatif meningkat dua kali lipat dibanding-
kan dengan jika kadarnya < 2 mg/dl. Walaupun demikian,
tingginya kadar kreatinin bukan merupakan alasan untuk mem-
batalkan operasi, karena kadar kreatinin hanya merupakan
petanda fungsi ginjal.
IKLAN
STAFORIN
29
< 1 mg/dl
1 4 mg/dl
1,5 1,9 m/dl
2.0 2,9 mg/dl
0,5 %
0,8 %
1,8 %
4.9 %
Kadar kreatinin
serum pre-operatif
Angka Kejadian
GgGA post-operatif
Typical Preoperative Diagnostic Testing in Patients with Chronic
Kidney Disease (Krishnan M. http:// www.aafp.org)
Renal panel:
sodium, potassium, chloride, blood urea nitrogen, creatinine, calcium,
and bicarbonate levels
Anemia
(Complete blood count )
Arterial blood gas measurements
(if the bicarbonate level is below 18 mEq per L (18 mmol per L)
Bleeding time
(if uremic bleeding is a concern )
Physical examination,
(with emphasis on volume status)
Electrolyte levels
(repeat 2 to 3 hours before surgery )
Chest radiograph
(to evaluate fluid status )
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
31
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
32
Tabel 15. Kelas Risiko Pneumonia dan Gagal Paru berdasarkan Angka
(points) Prediksi.
5. Hematologi
Bila kadar Hb < 7 g/dl dan operasi adalah elektif, sebaiknya
tindakan ditunda; cari sebab anemi dan diobati. Bila operasi cito
dan tidak menimbulkan banyak perdarahan maka operasi dapat
dilanjutkan.
Bila kadar trombosit < 50.000/mL risiko perdarahan post-operatif
meningkat. Pemberian suspensi trombosit setiap labunya akan
menaikkan kadar trombosit 5000-10.000/mL dan bertahan
selama 2-3 hari. Bila terjadi trombositopeni post-operatif, perlu
dipertimbangkan disebabkan transfusi masif, sepsis, DIC, atau
obat-obatan (misal : diuretik)
1
.
6. Malnutrisi
Penilaian status nutrisi pre-operatif penting. Penilaiannya dapat
menggunakan berbagai cara, misalnya : SGA (systemic global
assessment), antroprometrik, protein darah, dll. Malnutrisi sedang
atau berat (penurunan BB 6%-12% dalam waktu 3-6 bulan)
atau kadar protein < 3,5 gram/dl dan transferin < 200 mg/dl
memerlukan penatalaksanaan khusus. Kadar albumin darah <
1,9 g/dl akan menyebabkan kematian > 50 % dalam 6 bulan
post- operatif (ASA) .
Bila jenis operasi elektif, diperbaiki terlebih dulu (1-2 minggu pre-
operatif), bila operasi cito atau mendesak perlu penatalaksanaan
post-operatif (terapi nutrisi enteral atau panenteral). Pemberian
preparat albumin bukan jalan keluar untuk mengatasi malnutrisi.
7. Geriatri
Penderita dengan usia > 65 tahun harus mendapat perhatian
lebih khusus, karena lebih banyak penyakit degeneratif yang
tidak terdiagnosis sebelumnya.tidak terdiagnosis sebelumnya.
Sering mereka telah diketahui menderita penyakit kronis (PPOK,
artritis, dll) dan mengkonsumsi obat secara rutin. Pada pasien
geriatri juga lebih besar risiko dementia atau delirium peri-
operatif.
PENATALAKSANAAN INTRA-OPERATIF
Penatalaksanaan intra-operatif biasanya dilaksanakan oleh sejawat
anestesi. Pada beberapa kasus seorang SpPD dimintai pendapat
dan bantuannya, misalnya pada aritmia intra-operatif. Diagnosis
banding untuk aritmia adalah : hipoksi, hipotensi, hipokalemi,
gangguan asam basa, stimulasi kateter CVP terhadap jantung,
dan gagal jantung akut. Takiaritmi supraventrikular dapat diterapi
dengan adenosine (iv), verapamil, propanolol, esmolol, atau
diltiazem. Fibrilasi atau flutter dapat dikelola dengan digoxin iv
atau kardioversi. Takikardi ventrikuler dapat dikelola oleh lidokain.
Pada semua jenis takhiaritmia yang disertai dengan gangguan
hemodinamik (hi-petensi, iskemi, gagal jantung dengan edema
paru) maka tindakan kardio-versi harus segera dilakukan. Bradi-
aritmi dapat dikelola dengan sulfas atropine i.v.
8,9,10
.
PENATALAKSANAAN POST-OPERATIF
Dengan penatalaksanaan pre-operatif yang baik maka komplikasi
post-operatif dapat dihindari atau dikurangi.
Demam
Demam yang terjadi 24 jam post-operatif biasanya disebabkan
oleh reaksi inflamasi akibat operasi dan akan mereda. Bila demam
terjadi > 48 jam post-operasi dan berlanjut maka harus dipikirkan
terjadi infeksi dan dicari penyebabnya (pneumonia, infeksi luka
operasi, dll) ; dilakukan biakan untuk mencari jenis kuman
16
.
Syok septik
Syok septik post-operatif menandakan bahwa penatalaksanaan
pre-operatif tidak dilakukan secara teliti, atau tidak secara
agresif menangani hipovolemi intra-operasi.
Penatalaksanaan : diagnosis dini, resusitasi cairan yang optimal,
penggunaan antibiotik dan obat vasoaktif
17
. Antibiotik profilaksis
(pre-operatif) masih merupakan kontroversi. Bila diberikan harus
tidak lama sebelum tindakan bedah dimulai. Pilihan antibiotik
harus disesuaikan dengan jenis operasi dan hasil kultur kuman
kamar operasi. Terapi antibiotik hanya diberikan paling lama 48
jam post-operatif
18
.
Gangguan Ginjal Akut Post-operatif
Pada seorang yang fungsi ginjalnya normal dapat terjadi Gang-
guan Ginjal Peri-operatif karena beberapa sebab. Gangguan ini
dapat terjadi peri-operatif, intra operatif, atau post-operatif
(tabel 11).
Tabel 11 : Etiologi dan Patofisiologi GGA Peri operatif
AKICS score
Palomba dkk (2007) mengajukan cara prediksi pasien pasca operasi
jantung elektif yang disebutnya sebagai AKICS (Acute Kidney
Injury following elective Cardiac Surgery) score (Tabel 12).
Tabel 12. AKICS score
13,14
Berdasarkan angka risiko kemudian dibuat kategori risiko untuk
meramalkan (prediksi) terjadinya GgGA pasca operasi (dalam %)
(tabel 13).
Tabel 13. Risiko terjadinya GgGA pasca operasi berdasarkan AKICS
score
13,14
Sebagai contoh : seorang pasien usia 65 tahun ( angka risiko =
2,3), gagal jantung NYHA > 2 (angka risiko = 3,2), kreatinin
preoperasi > 1,2 mg/dl (angka risiko= 3,1) mempunyai jumlah
angka risiko 8,6 ( 2,3+3,2+3,1) atau katagori risiko C (8,1-12).
Prediksi terjadinya GgGA pasca operasi pada pasien ini adalah
9,1 %. Bila pada pasien yang sama dilakukan operasi kombinasi
(angka risiko = 3,7) dan kadar gula darah preoperasi > 140
mg/dl (angka risiko 1,7), maka jumlah angka risiko menjadi 14,
dan kategori risiko menjadi D, artinya prediksi terkjadinya GgGA
pasca operasi pada pasien ini adalah 21.8 %.
4. Paru-paru
Komplikasi paru-paru merupakan salah satu komplikasi paling
sering yang menyertai operasi dengan risiko tinggi. Komplikasi
paru-paru yang paling sering terjadi adalah pneumonia atau gagal
nafas. Selain itu dapat juga terjadi atelektasis, bronkospasm,
dan PPOK.
Panduan American College of Physcian (ACP) untuk evaluasi
gangguan paru post-operatif (pneumonia ataupun gagal nafas)
dibuat berdasarkan jenis operasi (tabel 14) :
Tabel 14. Angka (point) Risiko Pneumonia dan Gagal Paru berdasarkan
Berbagai Parameter Klinik
Berdasarkan angka parameter klinik yang didapatkan dari tabel 14
maka dapat diprediksi risiko terjadinya pneumonia dan gagal
nafas berdasarkan 5 kelas risiko (Tabel 15).
FAKTOR RESIKO
ANGKA RESIKO
FAKTOR RESIKO
PREDIKSI GgGA (%)
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
31
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
32
Tabel 15. Kelas Risiko Pneumonia dan Gagal Paru berdasarkan Angka
(points) Prediksi.
5. Hematologi
Bila kadar Hb < 7 g/dl dan operasi adalah elektif, sebaiknya
tindakan ditunda; cari sebab anemi dan diobati. Bila operasi cito
dan tidak menimbulkan banyak perdarahan maka operasi dapat
dilanjutkan.
Bila kadar trombosit < 50.000/mL risiko perdarahan post-operatif
meningkat. Pemberian suspensi trombosit setiap labunya akan
menaikkan kadar trombosit 5000-10.000/mL dan bertahan
selama 2-3 hari. Bila terjadi trombositopeni post-operatif, perlu
dipertimbangkan disebabkan transfusi masif, sepsis, DIC, atau
obat-obatan (misal : diuretik)
1
.
6. Malnutrisi
Penilaian status nutrisi pre-operatif penting. Penilaiannya dapat
menggunakan berbagai cara, misalnya : SGA (systemic global
assessment), antroprometrik, protein darah, dll. Malnutrisi sedang
atau berat (penurunan BB 6%-12% dalam waktu 3-6 bulan)
atau kadar protein < 3,5 gram/dl dan transferin < 200 mg/dl
memerlukan penatalaksanaan khusus. Kadar albumin darah <
1,9 g/dl akan menyebabkan kematian > 50 % dalam 6 bulan
post- operatif (ASA) .
Bila jenis operasi elektif, diperbaiki terlebih dulu (1-2 minggu pre-
operatif), bila operasi cito atau mendesak perlu penatalaksanaan
post-operatif (terapi nutrisi enteral atau panenteral). Pemberian
preparat albumin bukan jalan keluar untuk mengatasi malnutrisi.
7. Geriatri
Penderita dengan usia > 65 tahun harus mendapat perhatian
lebih khusus, karena lebih banyak penyakit degeneratif yang
tidak terdiagnosis sebelumnya.tidak terdiagnosis sebelumnya.
Sering mereka telah diketahui menderita penyakit kronis (PPOK,
artritis, dll) dan mengkonsumsi obat secara rutin. Pada pasien
geriatri juga lebih besar risiko dementia atau delirium peri-
operatif.
PENATALAKSANAAN INTRA-OPERATIF
Penatalaksanaan intra-operatif biasanya dilaksanakan oleh sejawat
anestesi. Pada beberapa kasus seorang SpPD dimintai pendapat
dan bantuannya, misalnya pada aritmia intra-operatif. Diagnosis
banding untuk aritmia adalah : hipoksi, hipotensi, hipokalemi,
gangguan asam basa, stimulasi kateter CVP terhadap jantung,
dan gagal jantung akut. Takiaritmi supraventrikular dapat diterapi
dengan adenosine (iv), verapamil, propanolol, esmolol, atau
diltiazem. Fibrilasi atau flutter dapat dikelola dengan digoxin iv
atau kardioversi. Takikardi ventrikuler dapat dikelola oleh lidokain.
Pada semua jenis takhiaritmia yang disertai dengan gangguan
hemodinamik (hi-petensi, iskemi, gagal jantung dengan edema
paru) maka tindakan kardio-versi harus segera dilakukan. Bradi-
aritmi dapat dikelola dengan sulfas atropine i.v.
8,9,10
.
PENATALAKSANAAN POST-OPERATIF
Dengan penatalaksanaan pre-operatif yang baik maka komplikasi
post-operatif dapat dihindari atau dikurangi.
Demam
Demam yang terjadi 24 jam post-operatif biasanya disebabkan
oleh reaksi inflamasi akibat operasi dan akan mereda. Bila demam
terjadi > 48 jam post-operasi dan berlanjut maka harus dipikirkan
terjadi infeksi dan dicari penyebabnya (pneumonia, infeksi luka
operasi, dll) ; dilakukan biakan untuk mencari jenis kuman
16
.
Syok septik
Syok septik post-operatif menandakan bahwa penatalaksanaan
pre-operatif tidak dilakukan secara teliti, atau tidak secara
agresif menangani hipovolemi intra-operasi.
Penatalaksanaan : diagnosis dini, resusitasi cairan yang optimal,
penggunaan antibiotik dan obat vasoaktif
17
. Antibiotik profilaksis
(pre-operatif) masih merupakan kontroversi. Bila diberikan harus
tidak lama sebelum tindakan bedah dimulai. Pilihan antibiotik
harus disesuaikan dengan jenis operasi dan hasil kultur kuman
kamar operasi. Terapi antibiotik hanya diberikan paling lama 48
jam post-operatif
18
.
Gangguan Ginjal Akut Post-operatif
Pada seorang yang fungsi ginjalnya normal dapat terjadi Gang-
guan Ginjal Peri-operatif karena beberapa sebab. Gangguan ini
dapat terjadi peri-operatif, intra operatif, atau post-operatif
(tabel 11).
Tabel 11 : Etiologi dan Patofisiologi GGA Peri operatif
AKICS score
Palomba dkk (2007) mengajukan cara prediksi pasien pasca operasi
jantung elektif yang disebutnya sebagai AKICS (Acute Kidney
Injury following elective Cardiac Surgery) score (Tabel 12).
Tabel 12. AKICS score
13,14
Berdasarkan angka risiko kemudian dibuat kategori risiko untuk
meramalkan (prediksi) terjadinya GgGA pasca operasi (dalam %)
(tabel 13).
Tabel 13. Risiko terjadinya GgGA pasca operasi berdasarkan AKICS
score
13,14
Sebagai contoh : seorang pasien usia 65 tahun ( angka risiko =
2,3), gagal jantung NYHA > 2 (angka risiko = 3,2), kreatinin
preoperasi > 1,2 mg/dl (angka risiko= 3,1) mempunyai jumlah
angka risiko 8,6 ( 2,3+3,2+3,1) atau katagori risiko C (8,1-12).
Prediksi terjadinya GgGA pasca operasi pada pasien ini adalah
9,1 %. Bila pada pasien yang sama dilakukan operasi kombinasi
(angka risiko = 3,7) dan kadar gula darah preoperasi > 140
mg/dl (angka risiko 1,7), maka jumlah angka risiko menjadi 14,
dan kategori risiko menjadi D, artinya prediksi terkjadinya GgGA
pasca operasi pada pasien ini adalah 21.8 %.
4. Paru-paru
Komplikasi paru-paru merupakan salah satu komplikasi paling
sering yang menyertai operasi dengan risiko tinggi. Komplikasi
paru-paru yang paling sering terjadi adalah pneumonia atau gagal
nafas. Selain itu dapat juga terjadi atelektasis, bronkospasm,
dan PPOK.
Panduan American College of Physcian (ACP) untuk evaluasi
gangguan paru post-operatif (pneumonia ataupun gagal nafas)
dibuat berdasarkan jenis operasi (tabel 14) :
Tabel 14. Angka (point) Risiko Pneumonia dan Gagal Paru berdasarkan
Berbagai Parameter Klinik
Berdasarkan angka parameter klinik yang didapatkan dari tabel 14
maka dapat diprediksi risiko terjadinya pneumonia dan gagal
nafas berdasarkan 5 kelas risiko (Tabel 15).
FAKTOR RESIKO
ANGKA RESIKO
FAKTOR RESIKO
PREDIKSI GgGA (%)
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
33
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
TINJAUAN PUSTAKA
34
SIMPULAN
Sebagian besar pasien operasi elektif tidak memerlukan konsul-
tasi pada seorang Spesialis Penyakit Dalam (SpPD) , kecuali yang
sudah diketahui mempunyai penyakit ikutan (ko-morbid).
Konsultasi perioperatif dimintakan kepada seorang SpPD
biasanya karena kasus sulit (83%), problem spesifik (81%), dan
untuk persiapan pasien sebelum operasi (50%). Kasus-kasus
sulit yang sering dikonsultasikan adalah optimisasi penderita
jantung (93%), stratifikasi faktor risiko jantung (83%), penggu-
naan
-blockers (76%), pengelolaan pasien diabetes (74%).
Tugas seorang SpPD dalam penatalaksanaan perioperatif adalah :
a. Menemukan penyakit ko-morbid yang dapat merupakan
faktor risiko pembeda-han atau pembiusan
b. Mengoptimasi kondisi pasien pre-operatif
c. Mengenal dan mengobati komplikasi yang berhubungan
dengan
operasi
d. Bekerjasama dalam satu tim (dengan spesialis bedah,
anastesi,dll)
Terjadinya komplikasi post-operatif adalah karena penata-
laksanaan peri-operatif yang kurang teliti atau penatalaksanaan
komplikasi intraoperative yang kurang agresif.
REFERENSI
1. Paus-Jenssen L, Ward HA, Card SE. An Internist's role in perioperative medicine : a survey of
surgeon's opinions. BMC Fam Pract 2008 :9: 4.
2. Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI) ; Health Care Guidelines. Preoperative
Evaluation. 8th ed, July 2008.
3. Cohn L SL, Smetana GW. Update in Perioperative Medicine. Annals Int Med 2007 ;147 :
263-267
4. Michota FA . The preoperative evaluation and use of laboratory testing. Cleveland Clinical
Journal of Medicine; 73 (1) S4-S7
5. Eagle K et al. ACC/AHA Guideline Update for Perioperative Cardiovascular Evaluation for
Non-Cardiac Surgery- Executive Summary. JACC 2002:39:542-553
6. Loh-Trivedi, Rothenberg DM. Perioperative Management of the Diabetic Patients.
http://emedicine.medscpae.com/article/284451
7. Hoogwere BJ. Perioperative management of diabetes mellitus. Cleveland Clin J Med 2006;
73;
S95-S99.
8. Auerbach AD. Perioperative cardiac risk reduction. Cleveland Clin J Med 2006; 73; S25-S29.
9. Cohn SL . Cardiac risk stratification before non-cardiac surgery. Cleveland Clin J Med 2006;
73;
S25-S29.
10. American Heart Association/American College of Cardiology. Perioperative beta-blockers
therapy for non cardiac surgery. Published 06/26/2006. http:// www. medscape. Com
/viewartcle/536412
11. Roesli RMA. Gangguan Ginjal Akut Peri-operatif. Roesli RMA ed. Gangguan Ginjal Akut.
Diagnosis & Pengelolaan. Pusat penerbitan Ilmiah. Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran UNPAD/ RS dr. Hasan Sadikin. Bandung, 2008, hal 181-186.
12. Schreiber MJ. Minimizing perioperative complications in patients with renal insufficiency.
Cleveland Clin J Med 2006; 73; S116-S120.
13. Krishnan M. Preoperative care of patients with Kidney Disease. Am Fam Physician. 2002.
http://www.afp/20021015.
14. Rosner MH, Okuswa MD. Acute kidney injury associated with cardiac surgery. Clin J Am Soc
Nephrol
2006;1:19-32
15. Smetana GW. Preoperative pulmonary evaluation. Identifying and reducing risks for
pulmonary. Cleveland Clin J Med 2006; 73; S36-S40.
16. Pile JC. Evaluating postoperative fever. Cleveland Clin J Med 2006; 73; S62-S66.
17. Jahan A. Septic shock in the postoperative patient. Cleveland Clin J Med 2006; 73; S67-S71.
18. Gordon SM. Antibiotic prophylaxis against postoperative wound infections. Cleveland Clin J
Med 2006; 73; S42-S45.
Mengatasi Defisiensi Vitamin Mineral
adalah Investasi bagi Kemanusiaan
Yekti Hartati, Mira Dewi, Darwin Karyadi
Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor, Bogor, Indonesia
1. KONSEKUENSI DEFISIENSI VITAMIN DAN MINERAL
SELAMA SIKLUS KEHIDUPAN
Seribu hari pertama dari konsepsi sampai umur 2 tahun adalah
rentang waktu yang kritis bagi setiap anak untuk terjadinya
defisiensi gizi mikro. Bila dalam 6 bulan pertama setelah lahir
tidak diberi ASI eksklusif, atau bila makanan pendamping ASI
yang diberikan setelah masa itu tidak tercukupi baik secara
kualitatif (gizi mikro) maupun kuantitatif (gizi makro), maka bayi
akan berisiko mengalami defisiensi vitamin dan mineral
1
.
Secara global diperkirakan sekitar 2 biliun orang di seluruh dunia
menderita defisiensi vitamin dan mineral. Konsekuensinya adalah
meningkatnya kekerapan infeksi, penurunan kemampuan untuk
mengatasi infeksi, berkurangnya kelangsungan hidup, serta
gangguan kapasitas mental. Risiko-risiko ini mengancam dengan
serius selama masa tumbuh kembang anak. Proses pembelajaran
di sekolah terganggu karena sering sakit dan daya tangkap
pelajaran terganggu. Pada tahap dewasa, defisiensi vitamin dan
mineral mempengaruhi energi fisik, sehingga produktivitas kerja
menurun. Defisiensi pada wanita hamil mengancam kesehatan serta
mengancam keselamatan kelahiran dan kehidupan bayinya
2
.
Pada gambar 1 diperlihatkan pengaruh timbal balik akibat defisiensi
vitamin-mineral pada setiap tahap siklus hidup manusia.
Gambar 1. Konsekuensi dari defisiensi vitamin dan mineral selama siklus
kehidupan. Diadaptasi dari United Nations Administrative Committee on
Sub-Committee on Nutrition (ACC/SCN),
2. DAMPAK GIZI MIKRO PADA KESEHATAN MANUSIA
Sejak awal abad ke-20, temuan-temuan teknis dan ilmiah
telah membawa peningkatan kesehatan dan kesejahteraan
manusia. Salah satunya adalah temuan signifikan bahwa di
dalam makanan terkandung vitamin-mineral dan bila terjadi
defisiensi akan menimbulkan masalah serius pada kesehatan
serta tumbuh kembang. Riset dan studi mengenai intervensi
gizi mikro membuktikan manfaatnya terhadap kelangsungan
hidup dan tumbuh kembang serta penurunan angka mortalitas
dan morbiditas.
Gizi mikro hanya diperlukan dalam takaran yang relatif kecil
untuk menghasilkan dampak besar terhadap fungsi biologis
seperti otak, sistem saraf, pertumbuhan tulang, sistem imun
dan mata
3
.
Terdapat lima macam gizi mikro yang terpenting karena
dampaknya yang besar terhadap kelangsungan hidup, tumbuh
kembang dan kesehatan (tabel 1).
Tabel 1. Gizi mikro serta dampaknya terhadap kelangsungan
hidup, tumbuh kembang dan kesehatan
ABSTRAK
Kualitas manusia ditentukan oleh tercukupinya faktor gizi sedini mungkin. Tidak terpenuhinya kecukupan akan akses gizi
mikro baik melalui diet, fortifikasi maupun suplementasi, akan mengakibatkan penderitaan bagi individu, keluarga,
masyarakat dan bangsa. Upaya untuk mengatasi defisiensi gizi mikro atau mikronutrisi karenanya merupakan investasi
bagi manusia yang berkualitas di masa depan. Artikel ini membahas tentang penyebab utama dan konsekuensi dari
defisiensi vitamin dan mineral serta aspek pembiayaan dan azas manfaatnya.