background image
LAPORAN KASUS
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
504
PENDAHULUAN
Intervensi pada janin telah berkembang sangat pesat dan mem-
berikan harapan meningkatkan kualitas hidup janin manusia.
Harapan diberikan oleh terapi pada janin berupa intervensi awal
terhadap kelainan janin yang mengancam jiwanya agar dapat
memberikan hasil terbaik.
1
Salah satu intervesi pada janin yang sering dilakukan dan
hasilnya menggembirakan adalah shunting dari tubuh janin ke
ruang amnion. Beberapa jenis shunting yang pernah dilakukan
antara lain: pada hidrosefalus, uropati obstruktif, asites, efusi
perikardial dan efusi pleura pada janin.
Shunting dapat dilakukan melalui pungsi aspirasi secara serial
atau dengan pemasangan kateter pada janin. Pemasangan
kateter pada janin untuk shunting kini sangat banyak dikerjakan
dengan hasil baik. Jenis kateter juga beragam, yang paling
populer adalah double pig-tail catheter, yaitu kateter dengan
dua lengkungan seperti ekor babi masing-masing di kedua
ujungnya.
Di Jepang kini dikembangkan penggunaan jenis double-basket
catheter yang masih dalam tahap uji klinis dan belum dapat
dipasarkan. Jenis kateter ini telah digunakan beberapa kali di
Departement Maternal Fetal Medicine Saitama Medical Center,
Saitama, Jepang oleh Profesor Kazunori Baba.
2
DOUBLE BASKET CATHETER
Telah dilakukan shunting dengan double-basket catheter pada 8
kasus bladder outlet obstruction yang didiagnosis saat prenatal.
Vesicoamniotic shunting telah dilakukan pada 8 janin dengan
usia kehamilan 13,7 ­ 25,4 minggu (19,7±3,5 minggu).
Diagnosis akhir kasus-kasus tersebut meliputi 5 kasus posterior
urethral valves, 1 anomali kloaka, 1 stenosis uretra, dan 1 tidak
diketahui kelainannya. Tidak ditemukan komplikasi maternal
yang berkaitan dengan prosedur shunting. Satu pasien dengan
kasus posterior urethral valves memutuskan menggugurkan
kehamilannya, 1 janin meninggal spontan di dalam rahim.
Enam pasien melahirkan bayi hidup, satu bayi memerlukan
dukungan ventilator. Dari enam neonatus, 4 selamat dengan
fungsi ginjal normal, 1 dengan penurunan fungsi ginjal dan 1
meninggal saat usia 3 bulan karena gagal ginjal.
3
Pemasangan double-basket catheter pada vesicoamniotic shunting
mungkin efektif meningkatkan luaran perinatal dan neonatal
dengan menghilangkan kompresi pada traktus urinarius janin
dalam jangka panjang pada kasus-kasus yang terseleksi baik.
3
Masakatsu S et al. juga melaporkan satu kasus janin 22 minggu
dengan efusi pleura berat dan hydrops berhasil ditangani dengan
drainase pleura jangka panjang menggunakan double-basket
catheter sejak usia kehamilan 22 minggu sampai 39 minggu.
4
Contoh kasus
Prof. Baba mempresentasikan kasus efusi pleura pada janin yang
diintervensi dengan pemasangan "double-basket catheter".
Pada diskusi tersebut juga dipresentasikan satu kasus janin
suspect meconeal peritonitis dengan asites yang sedang di-
tangani oleh Divisi Feto-Maternal Denpasar. Kasus tersebut telah
mendapat intervensi berupa pungsi serial cairan asites janin
sebagai upaya untuk mengurangi tekanan pada diafragma janin
dan reduksi air ketuban. Idealnya dilakukan shunting dengan
kateter namun kateter untuk shunting pada janin tidak tersedia
di Indonesia.
Profesor Baba memberikan pendapat kasus tersebut mungkin
akibat kebocoran pembuluh limfe janin yang menyebabkan
asites. Pendapat tersebut didasari oleh gambaran cairan asites
yang hypoechoic tanpa hyperechoic. Kelainan tersebut dikenal
dengan chycloascites. Disarankan melakukan analisis terhadap
cairan asites; pada kasus chycloascites terjadi peningkatan kadar
limfosit.
Menurut beliau idealnya dilakukan pemasangan shunt untuk
mengurangi cairan asites agar tidak menekan diafragma dan
mengganggu hemodinamik dan pertumbuhan paru-paru.
2
Penggunaan Double-basket Catheter
untuk Prosedur Shunting pada Intervensi
Intrauterin: Oleh-oleh dari Jepang
Hariyasa Sanjaya
Divisi Feto-Maternal, Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Univeritas Udayana/RS Sanglah Denpasar, Bali, Indonesia
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
505
LAPORAN KASUS
Evaluasi janin dengan ultrasonografi colour doppler. Saat insersi
juga dipandu dengan ultrasonografi. Tindakan aseptik pada
abdomen dengan larutan antiseptik, dilanjutkan dengan pema-
sangan kain steril untuk menutupi bagian tubuh ibu hamil yang
tidak ter-aseptik. Kemudian probe dilumuri jelly akustik, dibungkus
plastik steril memanjang sampai menutupi kabel probe.
Selanjutnya dilakukan evaluasi ultrasonografi untuk menentu-
kan tempat insersi target organ janin dan berusaha menjauhi
posisi plasenta. Setelah target ditentukan, diberi suntikan anestesi
lokal lidokain sampai ke abdominal sheath (fascia abdomen).
Jarum trocar 14 G ditusukkan sampai target organ; kemudian
mandren ditarik dan penutup kateter (no.1 pada gb.1) dibuka
dilanjutkan dengan memasukkan double-basket catheter (no.2
pada gb. 1) yang sudah terpasang pada jarum insertornya (no.
3 pada gb. 1). Kateter ditusukkan sampai melewati dinding
organ janin yaitu dinding dada (atau abdomen) sehingga satu
ujung kateter dengan satu basket berada di rongga tubuh janin
dan satu ujung kateter lainnya dengan satu basket lainnya
berada di luar tubuh janin (gb. 4); sehingga dapat terjadi aliran
cairan dari rongga tubuh janin ke rongga amnion. Setelah itu
insertor pendorong kateter ditarik, diikuti dengan menarik jarum
trocar 14 G. Evaluasi janin setelah pemasangan kateter dengan
mengukur detak jantung dan pemantauan kontraksi uterus
dengan kardio-tokografi. Prosedur ini rutin dilakukan untuk
mendeteksi risiko persalinan preterm. Jika ditemukan kontraksi
uterus, diberi tokolitik dan dirawat di rumah sakit. Di Saitama
Medical Center pasien akan dirawat di ruang Maternal Fetal
Intensive Care Unit dengan pengawasan ketat.
Kasus shunting pada janin usia kehamilan 27 minggu 5 hari
dengan efusi pleura karena tumor paru telah berhasil lahir
dengan seksio sesaria saat usia kehamilan 37 minggu 2 hari
dengan kondisi baik; berat janin 2914 gram. Double-basket
catheter dicabut saat lahir.Menurut Profesor Baba, kateter ini
sangat mudah dicabut. Selanjutnya pada kasus bayi ini dilakukan
eksisi tumor intrathorak setelah lahir.
(Gambar 6).
5
Gambar 6. Keadaan bayi saat lahir dengan kateter masih menempel di
dada sisi kiri. Tumor intrathorak yang telah dieksisi. Dan gambaran bayi
saat hari kedua puluh satu pasca operasi.
(Courtesy of Professor Kazunori Baba).
2
Kasus di atas merupakan kasus sukses Prof. Kazunori Baba di
Maternal Fetal Medicine Unit, Saitama Medical Center, Saitama,
Jepang.
Pada kasus chylothorax (hydrothorax karena kebocoran saluran
limfe di rongga dada) yang bukan didasari oleh hydrops,
tindakan thoracocentesis atau pemasangan shunt sangat
berhubungan dengan luaran yang baik pada janin.
6
Pertanyaan Michael Harrison:"If these babies can't be saved after
they're born, why not before?"
7
menegaskan harapan masa
depan terapi janin untuk meningkatkan luaran.
Double-basket catheter yang sedang diuji klinis di Jepang
semoga dapat dimanfaatkan lebih luas untuk shunting di dunia
termasuk Indonesia. Perusahaan yang memproduksi double-
basket catheter ini sedang menunggu ijin pengesahan dari
pemerintahan Jepang untuk dipasarkan.
2
DAFTAR PUSTAKA:
1. Beverly G Coleman BG et al. Fetal therapy:state of the art. J Ultrasound Med
21:1257-1288
2. Baba K. komunikasi langsung dan kuliah.
3. Won HS et al. Vesicoamniotic shunting using a double-basket catheter
appears effective in treating fetal bladder outlet obstruction. Acta Obstet
Gynecol
Scand.2006;85(7):879-84
4. Masakatsu S et al. Successful treatment of primary fetal hydrothorax with a
double basket catheter. Am J Perinatol 2002;19:405-12
5. Baba K et al. Efficacy of thoracoamniotic shunting with double-basket
catheters for fetal pleural effusion. Ultrasound in Obstetrics and Gynecology
2006;28(4):458.
6. Weber AM,Philipson EH. Fetal pleural effusion: a review and meta-analysis for
prognostic indicators. Obstet Gynecol 1992;79:281-6
7. Hermanto TJ. Bedah janin intrauterin. Kumpulan makalah Himpunan
Fetomaternal
Indonesia.
LAPORAN KASUS
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
506
Cara insersi
Akan dipaparkan secara singkat tentang double-basket catheter,
cara insersinya serta contoh kasus yang menggunakan kateter
tersebut.
Gambar 1. Double-basket catheter. Komponen dari kateter.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
Kateter ini panjangnya 4,5 cm, kedua ujungnya berbentuk
seperti basket atau keranjang. Kateter ini berbahan plastik seperti
yang digunakan pada kateterisasi jantung. Ukuran diameter 16
G. Untuk insersi diperlukan jarum trocar 14 G dengan mandren
di dalamnya untuk akses ke target organ yaitu janin; jarum ini
panjangnya 20 cm seperti jarum spinal. Kemudian kateter
dimasukkan ke dalam jarum insertor yang panjangnya 25 cm
dengan 3 garis sebagai penanda. Insertor ini menyerupai jarum
untuk cordosentesis. Kateter ini memiliki pembungkus dari
plastik. (gambar 1).
Gambar 2. Double-basket catheter.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
Gambar 3. Double-basket catheter. Basket mengembang.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
Kateter ini jika dimasukkan ke dalam jarum insertornya (no. 3 pada
gb. 1) akan menjadi lurus seperti pipa kecil (gb. 2). Dan jika telah
lepas dari insertornya maka kedua basket akan mekar (gb. 3).
Gambar 4. Skema prosedur insersi double-basket catheter.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
Gambar 5. Gambar ultrasonografi sebelum pemasangan double-
basket catheter dan 1 minggu setelah pemasangan.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
1
2
3
4
UCAPAN TERIMAKASIH :
Terimakasih yang sangat dalam penulis sampaikan kepada
Prof. Kazunori Baba yang telah memberikan kesempatan
observasi selama 10 hari di Saitama Medical Center, serta
perhatian dan bimbingan beliau yang sangat luar biasa kepada
rombongan Divisi Feto-Maternal,Bagian/SMF Obstetri dan
Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah Denpasar Bali yang di-
pimpin oleh Dr. Made Kornia Karkata,SpOG(K).
Tim diikuti pula oleh Dr. Tjokorda Gede Agung Suwardewa,
SpOG(K) dan penulis.
Terimakasih juga untuk Profesor H.Seki, para dokter, bidan,
perawat di Saitama Medical Center,Saitama, Jepang.
background image
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
505
LAPORAN KASUS
Evaluasi janin dengan ultrasonografi colour doppler. Saat insersi
juga dipandu dengan ultrasonografi. Tindakan aseptik pada
abdomen dengan larutan antiseptik, dilanjutkan dengan pema-
sangan kain steril untuk menutupi bagian tubuh ibu hamil yang
tidak ter-aseptik. Kemudian probe dilumuri jelly akustik, dibungkus
plastik steril memanjang sampai menutupi kabel probe.
Selanjutnya dilakukan evaluasi ultrasonografi untuk menentu-
kan tempat insersi target organ janin dan berusaha menjauhi
posisi plasenta. Setelah target ditentukan, diberi suntikan anestesi
lokal lidokain sampai ke abdominal sheath (fascia abdomen).
Jarum trocar 14 G ditusukkan sampai target organ; kemudian
mandren ditarik dan penutup kateter (no.1 pada gb.1) dibuka
dilanjutkan dengan memasukkan double-basket catheter (no.2
pada gb. 1) yang sudah terpasang pada jarum insertornya (no.
3 pada gb. 1). Kateter ditusukkan sampai melewati dinding
organ janin yaitu dinding dada (atau abdomen) sehingga satu
ujung kateter dengan satu basket berada di rongga tubuh janin
dan satu ujung kateter lainnya dengan satu basket lainnya
berada di luar tubuh janin (gb. 4); sehingga dapat terjadi aliran
cairan dari rongga tubuh janin ke rongga amnion. Setelah itu
insertor pendorong kateter ditarik, diikuti dengan menarik jarum
trocar 14 G. Evaluasi janin setelah pemasangan kateter dengan
mengukur detak jantung dan pemantauan kontraksi uterus
dengan kardio-tokografi. Prosedur ini rutin dilakukan untuk
mendeteksi risiko persalinan preterm. Jika ditemukan kontraksi
uterus, diberi tokolitik dan dirawat di rumah sakit. Di Saitama
Medical Center pasien akan dirawat di ruang Maternal Fetal
Intensive Care Unit dengan pengawasan ketat.
Kasus shunting pada janin usia kehamilan 27 minggu 5 hari
dengan efusi pleura karena tumor paru telah berhasil lahir
dengan seksio sesaria saat usia kehamilan 37 minggu 2 hari
dengan kondisi baik; berat janin 2914 gram. Double-basket
catheter dicabut saat lahir.Menurut Profesor Baba, kateter ini
sangat mudah dicabut. Selanjutnya pada kasus bayi ini dilakukan
eksisi tumor intrathorak setelah lahir.
(Gambar 6).
5
Gambar 6. Keadaan bayi saat lahir dengan kateter masih menempel di
dada sisi kiri. Tumor intrathorak yang telah dieksisi. Dan gambaran bayi
saat hari kedua puluh satu pasca operasi.
(Courtesy of Professor Kazunori Baba).
2
Kasus di atas merupakan kasus sukses Prof. Kazunori Baba di
Maternal Fetal Medicine Unit, Saitama Medical Center, Saitama,
Jepang.
Pada kasus chylothorax (hydrothorax karena kebocoran saluran
limfe di rongga dada) yang bukan didasari oleh hydrops,
tindakan thoracocentesis atau pemasangan shunt sangat
berhubungan dengan luaran yang baik pada janin.
6
Pertanyaan Michael Harrison:"If these babies can't be saved after
they're born, why not before?"
7
menegaskan harapan masa
depan terapi janin untuk meningkatkan luaran.
Double-basket catheter yang sedang diuji klinis di Jepang
semoga dapat dimanfaatkan lebih luas untuk shunting di dunia
termasuk Indonesia. Perusahaan yang memproduksi double-
basket catheter ini sedang menunggu ijin pengesahan dari
pemerintahan Jepang untuk dipasarkan.
2
DAFTAR PUSTAKA:
1. Beverly G Coleman BG et al. Fetal therapy:state of the art. J Ultrasound Med
21:1257-1288
2. Baba K. komunikasi langsung dan kuliah.
3. Won HS et al. Vesicoamniotic shunting using a double-basket catheter
appears effective in treating fetal bladder outlet obstruction. Acta Obstet
Gynecol
Scand.2006;85(7):879-84
4. Masakatsu S et al. Successful treatment of primary fetal hydrothorax with a
double basket catheter. Am J Perinatol 2002;19:405-12
5. Baba K et al. Efficacy of thoracoamniotic shunting with double-basket
catheters for fetal pleural effusion. Ultrasound in Obstetrics and Gynecology
2006;28(4):458.
6. Weber AM,Philipson EH. Fetal pleural effusion: a review and meta-analysis for
prognostic indicators. Obstet Gynecol 1992;79:281-6
7. Hermanto TJ. Bedah janin intrauterin. Kumpulan makalah Himpunan
Fetomaternal
Indonesia.
LAPORAN KASUS
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
506
Cara insersi
Akan dipaparkan secara singkat tentang double-basket catheter,
cara insersinya serta contoh kasus yang menggunakan kateter
tersebut.
Gambar 1. Double-basket catheter. Komponen dari kateter.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
Kateter ini panjangnya 4,5 cm, kedua ujungnya berbentuk
seperti basket atau keranjang. Kateter ini berbahan plastik seperti
yang digunakan pada kateterisasi jantung. Ukuran diameter 16
G. Untuk insersi diperlukan jarum trocar 14 G dengan mandren
di dalamnya untuk akses ke target organ yaitu janin; jarum ini
panjangnya 20 cm seperti jarum spinal. Kemudian kateter
dimasukkan ke dalam jarum insertor yang panjangnya 25 cm
dengan 3 garis sebagai penanda. Insertor ini menyerupai jarum
untuk cordosentesis. Kateter ini memiliki pembungkus dari
plastik. (gambar 1).
Gambar 2. Double-basket catheter.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
Gambar 3. Double-basket catheter. Basket mengembang.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
Kateter ini jika dimasukkan ke dalam jarum insertornya (no. 3 pada
gb. 1) akan menjadi lurus seperti pipa kecil (gb. 2). Dan jika telah
lepas dari insertornya maka kedua basket akan mekar (gb. 3).
Gambar 4. Skema prosedur insersi double-basket catheter.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
Gambar 5. Gambar ultrasonografi sebelum pemasangan double-
basket catheter dan 1 minggu setelah pemasangan.
(Courtesy of Prof. Kazunori Baba).
2
1
2
3
4
UCAPAN TERIMAKASIH :
Terimakasih yang sangat dalam penulis sampaikan kepada
Prof. Kazunori Baba yang telah memberikan kesempatan
observasi selama 10 hari di Saitama Medical Center, serta
perhatian dan bimbingan beliau yang sangat luar biasa kepada
rombongan Divisi Feto-Maternal,Bagian/SMF Obstetri dan
Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah Denpasar Bali yang di-
pimpin oleh Dr. Made Kornia Karkata,SpOG(K).
Tim diikuti pula oleh Dr. Tjokorda Gede Agung Suwardewa,
SpOG(K) dan penulis.
Terimakasih juga untuk Profesor H.Seki, para dokter, bidan,
perawat di Saitama Medical Center,Saitama, Jepang.