CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
261
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
262
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Keracunan akut pestisida masih merupakan masalah di masyarakat,
19 negara melaporkan 500.000 kasus pertahun dengan angka
kematian 1% yang berarti 5.000 orang meninggal karena keracu-
nan pestisida pertahun. Angka kejadian keracunan sesungguhnya
lebih besar yaitu 2 juta pertahun, 40.000 kasus di antaranya
meninggal, sebagian besar (75%) terjadi di negara sedang ber-
kembang. Di Indonesia, tahun 1979-1986, 27 propinsi melaporkan
26 juta orang penderita keracunan pestisida akut di 98 kabupaten
dan 2092 orang meninggal; penyebab keracunan terbesar pestisida
golongan organofosfat dan karbamat
1,2
.
Gejala keracunan organofosfat akibat hambatan aktifitas enzim
kolinesterase darah baru muncul jika aktifitas kolinesterase darah
< 50% (keracunan sedang dan berat). Aktifitas kolinesterase
darah pada petani penyemprot dengan keracunan sedang akan
normal kembali dalam waktu 3 minggu; pada keracunan derajat
ringan, kadar kolinesterase pada sinap cepat kembali normal
dan gejala keracunan akan hilang dalam 24 jam
3-6
. Kembali
normalnya aktifitas kolinesterase sangat tergantung pada aktifitas
detoksikasi di hati melalui cara oksidasi-dealkilasi pada ikatan
organofosfat dengan kolinesterase dengan bantuan enzim
glutation peroksidase
7-10
.
Enzim glutation peroksidase (sangat tergantung Selenium)
sangat berperan dalam pengaktifan kembali enzim kolinesterase
melalui : (1). Pengaktifan AMP siklik yang secara langsung dapat
mengaktifkan enzim kolinesterase. (2). Keseimbangan NADP
dan NADPH pada jalur glikolisis erobik dalam eritrosit sehingga
eritrosit tidak rusak; kerusakan eritrosit dapat mnurunkn produksi
kolinesterase darah. (3). Peranan ko faktor prostaglandin pada
sintesis tromboksan A2 yang memacu trombogenesis dan
vasokonstriksi pembuluh darah; bersamaan dengan terben-
tuknya tromboksan akan diaktifkan cAMP yang secara langsung
mengaktifkan kinase protein termasuk kinase protein enzim
kolinesterase. (4). Sebagai antioksidan yang dapat melindungi
sel termasuk eritrosit dari kerusakan akibat radikal bebas. (5).
Sebagai ko faktor proses oksidasi dealkilasi ikatan organofosfat
dengan kolinesterase darah
6,11,12,13
.
Penambahan Se akan meningkatkan konsentrasi GPX yang
selanjutnya akan meningkatkan konsentrasi enzim kolinesterase
darah (ChEA)
14,15
.
Vitamin C dikenal sebagai antioksidan, berperan membantu
mengurai radikal bebas secara simultan bersama antioksidan
endogen SOD dan GPX. Selain itu, juga berperan penting mem-
pertahankan kestabilan Se di dalam lambung (Se stabil pada
suasana asam)
16,17
.
Tujuan penelitian : menjelaskan pengaruh Selenium + vitamin
C terhadap kadar ChEA melalui kadar Hemoglobin dan enzim
Glutation peroksidase darah sebagai upaya pencegahan keracunan
akut pestisida organofosfat pada petani penyemprot pestisida.
METODE
Desain penelitian adalah eksperimen murni dengan rancangan
Pretest-Posttest Control Group Design
18
.Populasi target adalah
seluruh petani penyemprot pestisida organofosfat, sedangkan
populasi terjangkau adalah seluruh petani penyemprot organo-
fosfat yang bertempat tinggal di desa Pasuruan, Kecamatan Bulu,
Kabupaten Temanggung. Petani desa Pasuruan dipilih karena
mereka menjadi petani secara turun temurun, tidak mempunyai
pekerjaan lain, memenuhi kriteria inklusi, makan dan minum dari
hasil bumi mereka dan mempraktekkan penyemprotan pestisida
organofosfat yang tidak sesuai aturan.
Pada populasi terjangkau dilakukan randomisasi untuk menen-
tukan subyek penelitian dan kontrol. Perlakuan pada penelitian
ini adalah pemberian Selenium (kelompok I), Selenium + Vitamin
C (kelompok II) sedangkan kelompok III adalah kelompok
kontrol (Bagan 1).
Bagan 1. Rancangan penelitian. Pretest-Prosttest Control Group Design
18
O
1
----------------X
1
--------------- O
2
R
O
3
--------------- X
2
--------------- O
4
O
5
---------------- C --------------- O
6
Keterangan:
R
: Randomisasi
X
1
: Perlakuan pemberian suplemen Se (200 ąg)
X
2
: Pemberian suplemen Se ( 200 ąg ) +Vit.C (100 ąg)
C
: Kontrol.
O
1,3,5
: Pengukuran ChEA, GPX dan Hb sebelum perlakuan
O
2,4,6
: Pengukuran ChEA, GPX dan Hb setelah perlakuan
Perhitungan besar sampel minimal menggunakan rumus besar
sampel untuk data numerik sebagai berikut :
Keterangan :
_ = Selisih rerata kedua kelompok yang bermakna
S_ = Perkiraan simpang baku selisih rerata
_ = Tingkat kemaknaan (95%)
1-_= Power penelitian (80%)
Apabila _ = 0,05, power 0,80 serta selisih rerata ChEA yang
dianggap bermakna adalah 5% dan simpang baku dari selisih
rerata adalah 10%, besar sampel minimal adalah 33 untuk
setiap kelompok. sehingga dibutuhkan 99 orang.
Karena responden adalah petani yang sangat jarang kontak
dengan petugas kesehatan, terlebih terhadap jarum suntik,
maka untuk menghindari drop out, jumlah responden masing-
masing 35 petani per kelompok.
Kriteria inklusi :
1. Umur petani antara 25-45 tahun.
2. Tidak menderita hemoroid atau penyakit perdarahan
spontan
lain.
3. Status gizi normal berdasarkan tinggi badan dan berat badan.
4. Jenis kelamin laki-laki.
Kriteria eksklusi :
1. Bertempat tinggal tidak tetap di lokasi penelitian.
2. Terjadi alergi atau komplikasi lain akibat perlakuan.
Prosedur Penelitian :
Penelitian dilakukan melalui 2 tahap yaitu : Tahap I, adalah tahap
persiapan pemilihan lokasi penelitian dan tahap ujicoba terha-
dap 9 orang sukarelawan. Ujicoba dilakukan untuk mendapat-
kan dosis yang sesuai untuk kelompok responden di daerah
penelitian. Ujicoba dilaksanakan dengan membagi 9 orang
sukarelawan menjadi 3 kelompok masing-masing 3 orang.
Kelompok I diberi suplemen Selenium 100 ąg, kelompok ke II
diberi Selenium 100 ąg + vit C 50 mg dan kelompok III sebagai
kontrol. Sampel darah diambil sebelum perlakuan (pretest) dan
pada hari ke 8 (setelah 7 hari perlakuan) sebagai posttest.
Hasil tahap uji coba ini, pada kelompok perlakuan hanya kadar
Hb yang meningkat, sedangkan kadar GPX dan ChEA turun.
Kemudian dosis dinaikkan menjadi Selenium 200 ąg dan vit C
100 mg Hasil uji coba dapat dilihat di lampiran 1
Tahap II adalah tahap pelaksanaan menggunakan prosedur
yang sama pada 99 orang petani penyemprot pestisida organo-
fosfat di desa Pasuruan Kecamatan Bulu Temanggung ; mereka
dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 33 orang. Kelompok
I diberi suplemen Selenium 200 ąg, kelompok II diberi Selenium
200 ąg + Vit C 100 mg dan kelompok III sebagai kontrol.
Sebelum suplementasi diambil sampel darah 15 ml untuk
pengukuran kadar GPX, ChEA dan Hb, kemudian diberi suple-
men Selenium atau Selenium + Vit C selama 7 hari berturut
turut, hari ke 8 diambil sampel darah kembali untuk pengukuran
ulang kadar GPX, ChEA dan Hb. Data dianalisis menggunakan
uji t-test berpasangan dan uji Mancova.
Hubungan Pemberian Selenium dan
Vitamin C dengan Peningkatan Kadar
Kolinesterase Darah Petani Penyemprot
Organofosfat di Temanggung
Ari Suwondo
Staf Pengajar Bagian K-3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
ABSTRAK
Latar belakang : Gejala keracunan organofosfat timbul akibat hambatan aktivitas enzim kolinesterase darah ( ChEA ),
kembali normalnya ChEA sangat tergantung pada kemampuan detoksikasi dengan bantuan enzim glutation
peroksidase (GPX) di hati, enzim yang sangat tergantung pada Selenium.
Tujuan penelitian : mempelajari pengaruh penambahan Selenium dan vit C terhadap kadar ChEA, GPX dan Hb
petani penyemprot pestisida, sebagai upaya pencegahan keracunan akut pestisida organofosfat.
Metoda: penelitian eksperimen murni dengan desain Pretest-posttest Control Groups Design. Sampel 99 petani
penyemprot organofosfat di desa Pasuruan, kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah yang
memenuhi kriteria inklusi; dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 33 orang. Kelompok I diberi Selenium, kelom-
pok II Selenium + vit C dan kelompok III sebagai kontrol. Perlakuan selama 7 hari berturut-turut. Pemeriksaan kadar
ChEA, GPX dan Hb dilakukan sebelum dan setelah perlakuan ( hari ke 8 ).
Hasil : Ada perbedaan bermakna kadar ChEA kelompok Selenium dibandingkan kelompok kontrol ( p = 0,050 ),
juga pada kelompok Selenium + Vit C dibandingkan kelompok kontrol ( p = 0,014 ).
Simpulan: Penambahan Selenium 200 ąg selama 7 hari meningkatkan kadar ChEA sebesar 1,85% dan kadar Hb
sebesar 2.66%.
Kata kunci : Selenium, vit C, Eksperimen, kadar ChEA, GPX dan Hb.
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
261
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
262
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Keracunan akut pestisida masih merupakan masalah di masyarakat,
19 negara melaporkan 500.000 kasus pertahun dengan angka
kematian 1% yang berarti 5.000 orang meninggal karena keracu-
nan pestisida pertahun. Angka kejadian keracunan sesungguhnya
lebih besar yaitu 2 juta pertahun, 40.000 kasus di antaranya
meninggal, sebagian besar (75%) terjadi di negara sedang ber-
kembang. Di Indonesia, tahun 1979-1986, 27 propinsi melaporkan
26 juta orang penderita keracunan pestisida akut di 98 kabupaten
dan 2092 orang meninggal; penyebab keracunan terbesar pestisida
golongan organofosfat dan karbamat
1,2
.
Gejala keracunan organofosfat akibat hambatan aktifitas enzim
kolinesterase darah baru muncul jika aktifitas kolinesterase darah
< 50% (keracunan sedang dan berat). Aktifitas kolinesterase
darah pada petani penyemprot dengan keracunan sedang akan
normal kembali dalam waktu 3 minggu; pada keracunan derajat
ringan, kadar kolinesterase pada sinap cepat kembali normal
dan gejala keracunan akan hilang dalam 24 jam
3-6
. Kembali
normalnya aktifitas kolinesterase sangat tergantung pada aktifitas
detoksikasi di hati melalui cara oksidasi-dealkilasi pada ikatan
organofosfat dengan kolinesterase dengan bantuan enzim
glutation peroksidase
7-10
.
Enzim glutation peroksidase (sangat tergantung Selenium)
sangat berperan dalam pengaktifan kembali enzim kolinesterase
melalui : (1). Pengaktifan AMP siklik yang secara langsung dapat
mengaktifkan enzim kolinesterase. (2). Keseimbangan NADP
dan NADPH pada jalur glikolisis erobik dalam eritrosit sehingga
eritrosit tidak rusak; kerusakan eritrosit dapat mnurunkn produksi
kolinesterase darah. (3). Peranan ko faktor prostaglandin pada
sintesis tromboksan A2 yang memacu trombogenesis dan
vasokonstriksi pembuluh darah; bersamaan dengan terben-
tuknya tromboksan akan diaktifkan cAMP yang secara langsung
mengaktifkan kinase protein termasuk kinase protein enzim
kolinesterase. (4). Sebagai antioksidan yang dapat melindungi
sel termasuk eritrosit dari kerusakan akibat radikal bebas. (5).
Sebagai ko faktor proses oksidasi dealkilasi ikatan organofosfat
dengan kolinesterase darah
6,11,12,13
.
Penambahan Se akan meningkatkan konsentrasi GPX yang
selanjutnya akan meningkatkan konsentrasi enzim kolinesterase
darah (ChEA)
14,15
.
Vitamin C dikenal sebagai antioksidan, berperan membantu
mengurai radikal bebas secara simultan bersama antioksidan
endogen SOD dan GPX. Selain itu, juga berperan penting mem-
pertahankan kestabilan Se di dalam lambung (Se stabil pada
suasana asam)
16,17
.
Tujuan penelitian : menjelaskan pengaruh Selenium + vitamin
C terhadap kadar ChEA melalui kadar Hemoglobin dan enzim
Glutation peroksidase darah sebagai upaya pencegahan keracunan
akut pestisida organofosfat pada petani penyemprot pestisida.
METODE
Desain penelitian adalah eksperimen murni dengan rancangan
Pretest-Posttest Control Group Design
18
.Populasi target adalah
seluruh petani penyemprot pestisida organofosfat, sedangkan
populasi terjangkau adalah seluruh petani penyemprot organo-
fosfat yang bertempat tinggal di desa Pasuruan, Kecamatan Bulu,
Kabupaten Temanggung. Petani desa Pasuruan dipilih karena
mereka menjadi petani secara turun temurun, tidak mempunyai
pekerjaan lain, memenuhi kriteria inklusi, makan dan minum dari
hasil bumi mereka dan mempraktekkan penyemprotan pestisida
organofosfat yang tidak sesuai aturan.
Pada populasi terjangkau dilakukan randomisasi untuk menen-
tukan subyek penelitian dan kontrol. Perlakuan pada penelitian
ini adalah pemberian Selenium (kelompok I), Selenium + Vitamin
C (kelompok II) sedangkan kelompok III adalah kelompok
kontrol (Bagan 1).
Bagan 1. Rancangan penelitian. Pretest-Prosttest Control Group Design
18
O
1
----------------X
1
--------------- O
2
R
O
3
--------------- X
2
--------------- O
4
O
5
---------------- C --------------- O
6
Keterangan:
R
: Randomisasi
X
1
: Perlakuan pemberian suplemen Se (200 ąg)
X
2
: Pemberian suplemen Se ( 200 ąg ) +Vit.C (100 ąg)
C
: Kontrol.
O
1,3,5
: Pengukuran ChEA, GPX dan Hb sebelum perlakuan
O
2,4,6
: Pengukuran ChEA, GPX dan Hb setelah perlakuan
Perhitungan besar sampel minimal menggunakan rumus besar
sampel untuk data numerik sebagai berikut :
Keterangan :
_ = Selisih rerata kedua kelompok yang bermakna
S_ = Perkiraan simpang baku selisih rerata
_ = Tingkat kemaknaan (95%)
1-_= Power penelitian (80%)
Apabila _ = 0,05, power 0,80 serta selisih rerata ChEA yang
dianggap bermakna adalah 5% dan simpang baku dari selisih
rerata adalah 10%, besar sampel minimal adalah 33 untuk
setiap kelompok. sehingga dibutuhkan 99 orang.
Karena responden adalah petani yang sangat jarang kontak
dengan petugas kesehatan, terlebih terhadap jarum suntik,
maka untuk menghindari drop out, jumlah responden masing-
masing 35 petani per kelompok.
Kriteria inklusi :
1. Umur petani antara 25-45 tahun.
2. Tidak menderita hemoroid atau penyakit perdarahan
spontan
lain.
3. Status gizi normal berdasarkan tinggi badan dan berat badan.
4. Jenis kelamin laki-laki.
Kriteria eksklusi :
1. Bertempat tinggal tidak tetap di lokasi penelitian.
2. Terjadi alergi atau komplikasi lain akibat perlakuan.
Prosedur Penelitian :
Penelitian dilakukan melalui 2 tahap yaitu : Tahap I, adalah tahap
persiapan pemilihan lokasi penelitian dan tahap ujicoba terha-
dap 9 orang sukarelawan. Ujicoba dilakukan untuk mendapat-
kan dosis yang sesuai untuk kelompok responden di daerah
penelitian. Ujicoba dilaksanakan dengan membagi 9 orang
sukarelawan menjadi 3 kelompok masing-masing 3 orang.
Kelompok I diberi suplemen Selenium 100 ąg, kelompok ke II
diberi Selenium 100 ąg + vit C 50 mg dan kelompok III sebagai
kontrol. Sampel darah diambil sebelum perlakuan (pretest) dan
pada hari ke 8 (setelah 7 hari perlakuan) sebagai posttest.
Hasil tahap uji coba ini, pada kelompok perlakuan hanya kadar
Hb yang meningkat, sedangkan kadar GPX dan ChEA turun.
Kemudian dosis dinaikkan menjadi Selenium 200 ąg dan vit C
100 mg Hasil uji coba dapat dilihat di lampiran 1
Tahap II adalah tahap pelaksanaan menggunakan prosedur
yang sama pada 99 orang petani penyemprot pestisida organo-
fosfat di desa Pasuruan Kecamatan Bulu Temanggung ; mereka
dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 33 orang. Kelompok
I diberi suplemen Selenium 200 ąg, kelompok II diberi Selenium
200 ąg + Vit C 100 mg dan kelompok III sebagai kontrol.
Sebelum suplementasi diambil sampel darah 15 ml untuk
pengukuran kadar GPX, ChEA dan Hb, kemudian diberi suple-
men Selenium atau Selenium + Vit C selama 7 hari berturut
turut, hari ke 8 diambil sampel darah kembali untuk pengukuran
ulang kadar GPX, ChEA dan Hb. Data dianalisis menggunakan
uji t-test berpasangan dan uji Mancova.
Hubungan Pemberian Selenium dan
Vitamin C dengan Peningkatan Kadar
Kolinesterase Darah Petani Penyemprot
Organofosfat di Temanggung
Ari Suwondo
Staf Pengajar Bagian K-3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
ABSTRAK
Latar belakang : Gejala keracunan organofosfat timbul akibat hambatan aktivitas enzim kolinesterase darah ( ChEA ),
kembali normalnya ChEA sangat tergantung pada kemampuan detoksikasi dengan bantuan enzim glutation
peroksidase (GPX) di hati, enzim yang sangat tergantung pada Selenium.
Tujuan penelitian : mempelajari pengaruh penambahan Selenium dan vit C terhadap kadar ChEA, GPX dan Hb
petani penyemprot pestisida, sebagai upaya pencegahan keracunan akut pestisida organofosfat.
Metoda: penelitian eksperimen murni dengan desain Pretest-posttest Control Groups Design. Sampel 99 petani
penyemprot organofosfat di desa Pasuruan, kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah yang
memenuhi kriteria inklusi; dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 33 orang. Kelompok I diberi Selenium, kelom-
pok II Selenium + vit C dan kelompok III sebagai kontrol. Perlakuan selama 7 hari berturut-turut. Pemeriksaan kadar
ChEA, GPX dan Hb dilakukan sebelum dan setelah perlakuan ( hari ke 8 ).
Hasil : Ada perbedaan bermakna kadar ChEA kelompok Selenium dibandingkan kelompok kontrol ( p = 0,050 ),
juga pada kelompok Selenium + Vit C dibandingkan kelompok kontrol ( p = 0,014 ).
Simpulan: Penambahan Selenium 200 ąg selama 7 hari meningkatkan kadar ChEA sebesar 1,85% dan kadar Hb
sebesar 2.66%.
Kata kunci : Selenium, vit C, Eksperimen, kadar ChEA, GPX dan Hb.
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
263
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
HASIL PENELITIAN
HASIL
Pada saat pengambilan darah I (pretest) terkumpul 105 sampel;
dilanjutkan dengan pemberian perlakuan selama 7 hari. Saat
pengambilan sampel darah ke II (posttest) 3 responden tidak
datang karena ada urusan keluarga di luar kota, bukan karena
komplikasi perlakuan penelitian; ke tiga orang tersebut dinyatakan
drop out. Untuk menghindari bias hasil penelitian, maka analisis
dilakukan terhadap jumlah responden yang sama untuk tiap
kelompok perlakuan yaitu 33 responden, sehingga jumlah total
responden yang dianalisis adalah 99 orang.
Tabel 1 : Distribusi Responden Menurut Karakteristik dan Beberapa
Variabel Lainnya di Desa Pasuruan Kecamatan Bulu Kabupaten
Temanggung Tahun 2008
ANALISIS BIVARIAT
a. Kadar Hemoglobin (Hb)
Kadar hemoglobin saat pengukuran awal (pretest) dibandingkan
kadar hemoglobin setelah perlakuan (posttest) untuk ketiga
kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1, Grafik 1.
Kadar hemoglobin rata-rata kelompok Kontrol dan kelompok
Selenium + Vitamin C masing-masing turun 0,3 g/dl (1,96 %)
setelah perlakuan, sedangkan di kelompok Selenium meningkat
0,4 g/dl(2,66%).
Grafik 1. Perbandingan Rerata Kadar Hemoglobin (Hb) ketiga kelom-
pok Responden Sebelum dan Sesudah Perlakuan (n=33 per kelompok)
b. Kadar Aktivitas Kolinesterase (ChEA) Darah
Rerata kadar ChEA darah kelompok Kontrol turun 159,4 U/L
(2,12%) setelah perlakuan dari 7525,1 U/L saat pretest menjadi
7365,7 U/L saat posttest. Sebaliknya di kelompok Selenium
meningkat sebesar 143,1 U/L(1,85%) - dari 7733,6 U/L saat
pretest menjadi 7876,7 U/L saat posttest; di kelompok Selenium
+ Vitamin C meningkat sebesar 143,5 U/L(2,14%) - dari 6697,1
U/L menjadi 6840,6 U/L (Grafik 2).
Grafik 2. Perbandingan Rerata Kadar kolinesterase (ChEA) ketiga
kelompok Responden Sebelum dan Sesudah Perlakuan (n=33 per
kelompok)
c. Kadar Glutation Peroksida (GPX)
Glutation peroksidase adalah enzim yang keberadaannya sangat
tergantung pada Selenium, sehingga konsentrasinya dalam darah
akan berubah pada penambahan Selenium atau Selenium + vit C.
Fungsi metabolisme enzim GPX sangat luas, di antaranya, sebagai
antioksidan endogen dan sebagai katalisator proses oksidasi
kimiawi. Kadar Glutation Peroksida (GPX) dalam darah saat
pengukuran awal dan setelah perlakuan untuk ketiga kelompok
dapat dilihat pada Grafik 3.
Grafik 3. Perbandingan Rerata Kadar Glutation Peroksida (GPX)
Sebelum dan Sesudah Pemberian Perlakuan (n=33 per kelompok)
Rerata kadar GPX dalam darah pada kelompok Kontrol mening-
kat 0,9 U/gHb(2,53%) setelah perlakuan yaitu dari 35,5 U/gHb
saat pretest menjadi 36,4 U/gHb saat posttest . Di kelompok
perlakuan pemberian Selenium rerata kadar GPX dalam darah
turun cukup tajam sebesar 5,4 U/gHb(12,73%) yaitu 42,4
U/gHb saat pretest menjadi 37,0 U/gHb setelah diberi Selenium.
Kadar rerata GPX pada kelompok Selenium + Vitamin C juga
meningkat sangat sedikit - 0,015 U/gHb(0,04%); dari 36,418
U/gHb pretest menjadi 36,433 U/gHb posttest.
d. Uji Beda Rerata Sebelum dan Sesudah Perlakuan
Analisis statistik menggunakan uji t dua sampel berpasangan
untuk melihat perbedaan kadar Hb, ChEA, dan GPX sebelum
dan sesudah perlakuan pada tiga kelompok (tabel 2).
Rerata kadar Hb sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok
Kontrol (p=0,017), kelompok Se (p=0,001), dan kelompok Se +
Vitamin C (p=0,007) secara statistik berbeda bermakna (p<0,05).
Hal ini berarti ada perbedaan signifikan rerata kadar Hb antara
sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada ketiga kelompok.
Perbedaan rerata kadar ChEA sebelum dan sesudah perlakuan
pada kelompok Kontrol (p=0,124), kelompok Se (p=0,294), dan
kelompok Se + Vitamin C (p=0,122) secara statistik tidak bermakna
(p>0,05).
Perbedaan rerata kadar GPX sebelum dan sesudah perlakuan
pada kelompok Kontrol (p=0,390) dan kelompok Se + Vitamin C
(p=0,991) tidak bermakna (p>0,05). Sedangkan pada kelompok
Selenium perbedaan rerata kadar GPX sebelum dan sesudah
perlakuan terlihat bermakna ( p= 0,001).
ANALISIS MULTIVARIAT
Analisis statistik multivariat menggunakan Multivariate Analysis
of Covariance (MANCOVA) untuk mengetahui apakah ada
perbedaan nyata pada beberapa variabel terikat antar kelompok
perlakuan dengan melakukan kontrol terhadap beberapa
covariat yang diduga memiliki pengaruh langsung terhadap
variabel terikat. Setelah uji normalitas data dan uji kesamaan
varian-kovarian terpenuhi, dilakukan uji Mancova (Lampiran 2)
Hubungan antara pemberian Selenium dan vit C dengan
Aktivitas Kolinesterase
Pada tahap uji coba, Selenium 100 ąg dan vit C 50 mg selama
7 hari berturut-turut menurunkan kadar ChEA darah baik pada
kelompok perlakuan maupun pada kelompok kontrol. Dosis
kemudian ditingkatkan menjadi Selenium 200 ąg dan vit C 100
mg, selama 7 hari berturut-turut; hasilnya kadar ChEA meningkat
bermakna di kelompok perlakuan, tetapi justru turun di kelompok
kontrol ( Tabel 1, grafik 2 ). Hasil ini menunjukkan bahwa suplemen
Selenium atau Selenium+vit C selama 8 hari beraktivitas dapat
secara nyata meningkatkan kadar ChEA darah petani penyemprot
organofosfat yang selama penelitian tetap menjalankan aktivitas
penyemprotan; dibandingkan dengan penurunan bermakna, kadar
ChEA darah pada kelompok kontrol.
Hubungan antara pemberian Selenium dan Vit C dengan GPX
Kadar GPX darah petani penyemprot pestisida yang diberi dosis
Selenium 100 ąg dan vit C 50 mg selama 7 hari berturut-turut
pada tahap uji coba, turun sebesar 5,4 U/g Hb. Pada kelompok
Selenium + vit C, juga terjadi penurunan sebesar 10,2 U/g Hb.
Dosis kemudian dinaikkan menjadi Selenium 200 ąg dan vit C 100
mg selama 7 hari berturut-turut, hasilnya pada kelompok Selenium,
kadar GPX darah tetap turun sebesar 5,4 U/g Hb, sedangkan
pada kelompok Selenium + vit C, meningkat sebesar 0,015 U/g
Hb. Perbedaan hasil ini disebabkan oleh penambahan vit C.
Dari penelitian ini tampak bahwa pada penambahan vit C dosis
kecil 50 mg terjadi penurunan kadar GPX darah, tetapi ketika
dosis vit C ditingkatkan menjadi 100 mg terjadi peningkatan
kadar GPX darahnya (lihat Tabel 1,Grafik 3). Hasil ini sesuai
Tabel 2. Ringkasan Hasil Analisis Perbedaan Sebelum dan Sesudah
Perlakuan dengan Uji T Dua Sampel Berpasangan
264
No Variabel
Nilai t
Nilai p
Keterangan
Kelompok Kontrol
1
Kadar Hemoglobin
2,521
0,017
Ada perbedaan
2
Kadar ChEA
1,582
0,124
Tidak ada perbedaan
3
Kadar GPX
-0,872
0,390
Tidak ada perbedaan
Kelompok Selenium
1 Kadar
Hemoglobin -3,768 0,001 Ada
perbedaan
2
Kadar ChEA
-1,067
0,294
Tidak ada perbedaan
3 Kadar
GPX
3,609 0,001 Ada
perbedaan
Kelompok Selenium + Vit C
1 Kadar
Hemoglobin 2,898 0,007 Ada
perbedaan
2
Kadar ChEA
-1,587
0,122
Tidak ada perbedaan
3
Kadar GPX
-0,011
0,991
Tidak ada perbedaan
Variabel
Klp Placebo (n=33) Klp Se (n=33)
Klp Se + Vit C (n=33)
Min Max Mean
(SD) Min Max Mean
(SD) Min Max Mean
(SD)
Umur 25,0
44,7 32,9 (6,5)
25,0
45,1
34,6 (6,4)
25,0 43,0
34,0 (5,5)
Indeks Massa
Tubuh 17,0
24,2
20,4
(1,7)
16,9
25,6
20,1
(2,0)
17,1
23,4
19,8
(1,8)
Kadar Hb
pretest
13,3 17,3
15,3 (1,0)
12,8
16,3
15,0 (0,8)
13,5 16,7
15,3 (0,8)
Kadar ChEA
4042 12194 7525,1
4704 12209 7733,6
1704 10345 6697,1
pretest
(1818,8)
(1608,3)
(2243,3)
Kadar GPX
pretest 20,9
53,6
35,5
(8,5)
26,5
66,6
42,4
(12,1)
28,3
64,6
36,4
(8,1)
Kadar Hb
posttest
13,0 17,1
15,0 (1,1)
13,6
17,0
15,4 (0,8)
13,0 17,2
15,0 (0,9)
Kadar ChEA
2624 11594 7365,7
2459 12580 7876,7
1500 10213 6840,6
posttest
(1918,0)
(1879,3)
(2204,9)
Kadar GPX
posttest
23,8 56,9
36,4 (9,2)
22,0
62,3
37,0 (9,6)
23,8 56,8
36,4 (7,2)
Lama kerja
sbg penyemprot 2
10
5,3 (1,8)
2
15
5,8 (2,4)
1
15
6,7 (2,8)
Jumlah jenis
pestisida
3
6
3,6 (0,8)
2
7
3,8 (1,0)
2
4
3,1 (0,3)
Jumlah jam
menyemprot
4
7
5,7 (0,6)
2
7
4,4 (1,5)
2
10
4,1 (1,5)
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
263
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
HASIL PENELITIAN
HASIL
Pada saat pengambilan darah I (pretest) terkumpul 105 sampel;
dilanjutkan dengan pemberian perlakuan selama 7 hari. Saat
pengambilan sampel darah ke II (posttest) 3 responden tidak
datang karena ada urusan keluarga di luar kota, bukan karena
komplikasi perlakuan penelitian; ke tiga orang tersebut dinyatakan
drop out. Untuk menghindari bias hasil penelitian, maka analisis
dilakukan terhadap jumlah responden yang sama untuk tiap
kelompok perlakuan yaitu 33 responden, sehingga jumlah total
responden yang dianalisis adalah 99 orang.
Tabel 1 : Distribusi Responden Menurut Karakteristik dan Beberapa
Variabel Lainnya di Desa Pasuruan Kecamatan Bulu Kabupaten
Temanggung Tahun 2008
ANALISIS BIVARIAT
a. Kadar Hemoglobin (Hb)
Kadar hemoglobin saat pengukuran awal (pretest) dibandingkan
kadar hemoglobin setelah perlakuan (posttest) untuk ketiga
kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1, Grafik 1.
Kadar hemoglobin rata-rata kelompok Kontrol dan kelompok
Selenium + Vitamin C masing-masing turun 0,3 g/dl (1,96 %)
setelah perlakuan, sedangkan di kelompok Selenium meningkat
0,4 g/dl(2,66%).
Grafik 1. Perbandingan Rerata Kadar Hemoglobin (Hb) ketiga kelom-
pok Responden Sebelum dan Sesudah Perlakuan (n=33 per kelompok)
b. Kadar Aktivitas Kolinesterase (ChEA) Darah
Rerata kadar ChEA darah kelompok Kontrol turun 159,4 U/L
(2,12%) setelah perlakuan dari 7525,1 U/L saat pretest menjadi
7365,7 U/L saat posttest. Sebaliknya di kelompok Selenium
meningkat sebesar 143,1 U/L(1,85%) - dari 7733,6 U/L saat
pretest menjadi 7876,7 U/L saat posttest; di kelompok Selenium
+ Vitamin C meningkat sebesar 143,5 U/L(2,14%) - dari 6697,1
U/L menjadi 6840,6 U/L (Grafik 2).
Grafik 2. Perbandingan Rerata Kadar kolinesterase (ChEA) ketiga
kelompok Responden Sebelum dan Sesudah Perlakuan (n=33 per
kelompok)
c. Kadar Glutation Peroksida (GPX)
Glutation peroksidase adalah enzim yang keberadaannya sangat
tergantung pada Selenium, sehingga konsentrasinya dalam darah
akan berubah pada penambahan Selenium atau Selenium + vit C.
Fungsi metabolisme enzim GPX sangat luas, di antaranya, sebagai
antioksidan endogen dan sebagai katalisator proses oksidasi
kimiawi. Kadar Glutation Peroksida (GPX) dalam darah saat
pengukuran awal dan setelah perlakuan untuk ketiga kelompok
dapat dilihat pada Grafik 3.
Grafik 3. Perbandingan Rerata Kadar Glutation Peroksida (GPX)
Sebelum dan Sesudah Pemberian Perlakuan (n=33 per kelompok)
Rerata kadar GPX dalam darah pada kelompok Kontrol mening-
kat 0,9 U/gHb(2,53%) setelah perlakuan yaitu dari 35,5 U/gHb
saat pretest menjadi 36,4 U/gHb saat posttest . Di kelompok
perlakuan pemberian Selenium rerata kadar GPX dalam darah
turun cukup tajam sebesar 5,4 U/gHb(12,73%) yaitu 42,4
U/gHb saat pretest menjadi 37,0 U/gHb setelah diberi Selenium.
Kadar rerata GPX pada kelompok Selenium + Vitamin C juga
meningkat sangat sedikit - 0,015 U/gHb(0,04%); dari 36,418
U/gHb pretest menjadi 36,433 U/gHb posttest.
d. Uji Beda Rerata Sebelum dan Sesudah Perlakuan
Analisis statistik menggunakan uji t dua sampel berpasangan
untuk melihat perbedaan kadar Hb, ChEA, dan GPX sebelum
dan sesudah perlakuan pada tiga kelompok (tabel 2).
Rerata kadar Hb sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok
Kontrol (p=0,017), kelompok Se (p=0,001), dan kelompok Se +
Vitamin C (p=0,007) secara statistik berbeda bermakna (p<0,05).
Hal ini berarti ada perbedaan signifikan rerata kadar Hb antara
sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada ketiga kelompok.
Perbedaan rerata kadar ChEA sebelum dan sesudah perlakuan
pada kelompok Kontrol (p=0,124), kelompok Se (p=0,294), dan
kelompok Se + Vitamin C (p=0,122) secara statistik tidak bermakna
(p>0,05).
Perbedaan rerata kadar GPX sebelum dan sesudah perlakuan
pada kelompok Kontrol (p=0,390) dan kelompok Se + Vitamin C
(p=0,991) tidak bermakna (p>0,05). Sedangkan pada kelompok
Selenium perbedaan rerata kadar GPX sebelum dan sesudah
perlakuan terlihat bermakna ( p= 0,001).
ANALISIS MULTIVARIAT
Analisis statistik multivariat menggunakan Multivariate Analysis
of Covariance (MANCOVA) untuk mengetahui apakah ada
perbedaan nyata pada beberapa variabel terikat antar kelompok
perlakuan dengan melakukan kontrol terhadap beberapa
covariat yang diduga memiliki pengaruh langsung terhadap
variabel terikat. Setelah uji normalitas data dan uji kesamaan
varian-kovarian terpenuhi, dilakukan uji Mancova (Lampiran 2)
Hubungan antara pemberian Selenium dan vit C dengan
Aktivitas Kolinesterase
Pada tahap uji coba, Selenium 100 ąg dan vit C 50 mg selama
7 hari berturut-turut menurunkan kadar ChEA darah baik pada
kelompok perlakuan maupun pada kelompok kontrol. Dosis
kemudian ditingkatkan menjadi Selenium 200 ąg dan vit C 100
mg, selama 7 hari berturut-turut; hasilnya kadar ChEA meningkat
bermakna di kelompok perlakuan, tetapi justru turun di kelompok
kontrol ( Tabel 1, grafik 2 ). Hasil ini menunjukkan bahwa suplemen
Selenium atau Selenium+vit C selama 8 hari beraktivitas dapat
secara nyata meningkatkan kadar ChEA darah petani penyemprot
organofosfat yang selama penelitian tetap menjalankan aktivitas
penyemprotan; dibandingkan dengan penurunan bermakna, kadar
ChEA darah pada kelompok kontrol.
Hubungan antara pemberian Selenium dan Vit C dengan GPX
Kadar GPX darah petani penyemprot pestisida yang diberi dosis
Selenium 100 ąg dan vit C 50 mg selama 7 hari berturut-turut
pada tahap uji coba, turun sebesar 5,4 U/g Hb. Pada kelompok
Selenium + vit C, juga terjadi penurunan sebesar 10,2 U/g Hb.
Dosis kemudian dinaikkan menjadi Selenium 200 ąg dan vit C 100
mg selama 7 hari berturut-turut, hasilnya pada kelompok Selenium,
kadar GPX darah tetap turun sebesar 5,4 U/g Hb, sedangkan
pada kelompok Selenium + vit C, meningkat sebesar 0,015 U/g
Hb. Perbedaan hasil ini disebabkan oleh penambahan vit C.
Dari penelitian ini tampak bahwa pada penambahan vit C dosis
kecil 50 mg terjadi penurunan kadar GPX darah, tetapi ketika
dosis vit C ditingkatkan menjadi 100 mg terjadi peningkatan
kadar GPX darahnya (lihat Tabel 1,Grafik 3). Hasil ini sesuai
Tabel 2. Ringkasan Hasil Analisis Perbedaan Sebelum dan Sesudah
Perlakuan dengan Uji T Dua Sampel Berpasangan
264
No Variabel
Nilai t
Nilai p
Keterangan
Kelompok Kontrol
1
Kadar Hemoglobin
2,521
0,017
Ada perbedaan
2
Kadar ChEA
1,582
0,124
Tidak ada perbedaan
3
Kadar GPX
-0,872
0,390
Tidak ada perbedaan
Kelompok Selenium
1 Kadar
Hemoglobin -3,768 0,001 Ada
perbedaan
2
Kadar ChEA
-1,067
0,294
Tidak ada perbedaan
3 Kadar
GPX
3,609 0,001 Ada
perbedaan
Kelompok Selenium + Vit C
1 Kadar
Hemoglobin 2,898 0,007 Ada
perbedaan
2
Kadar ChEA
-1,587
0,122
Tidak ada perbedaan
3
Kadar GPX
-0,011
0,991
Tidak ada perbedaan
Variabel
Klp Placebo (n=33) Klp Se (n=33)
Klp Se + Vit C (n=33)
Min Max Mean
(SD) Min Max Mean
(SD) Min Max Mean
(SD)
Umur 25,0
44,7 32,9 (6,5)
25,0
45,1
34,6 (6,4)
25,0 43,0
34,0 (5,5)
Indeks Massa
Tubuh 17,0
24,2
20,4
(1,7)
16,9
25,6
20,1
(2,0)
17,1
23,4
19,8
(1,8)
Kadar Hb
pretest
13,3 17,3
15,3 (1,0)
12,8
16,3
15,0 (0,8)
13,5 16,7
15,3 (0,8)
Kadar ChEA
4042 12194 7525,1
4704 12209 7733,6
1704 10345 6697,1
pretest
(1818,8)
(1608,3)
(2243,3)
Kadar GPX
pretest 20,9
53,6
35,5
(8,5)
26,5
66,6
42,4
(12,1)
28,3
64,6
36,4
(8,1)
Kadar Hb
posttest
13,0 17,1
15,0 (1,1)
13,6
17,0
15,4 (0,8)
13,0 17,2
15,0 (0,9)
Kadar ChEA
2624 11594 7365,7
2459 12580 7876,7
1500 10213 6840,6
posttest
(1918,0)
(1879,3)
(2204,9)
Kadar GPX
posttest
23,8 56,9
36,4 (9,2)
22,0
62,3
37,0 (9,6)
23,8 56,8
36,4 (7,2)
Lama kerja
sbg penyemprot 2
10
5,3 (1,8)
2
15
5,8 (2,4)
1
15
6,7 (2,8)
Jumlah jenis
pestisida
3
6
3,6 (0,8)
2
7
3,8 (1,0)
2
4
3,1 (0,3)
Jumlah jam
menyemprot
4
7
5,7 (0,6)
2
7
4,4 (1,5)
2
10
4,1 (1,5)
PENDAHULUAN
Penatalaksanaan pria infertil merupakan masalah bagi para
klinisi yang menangani infertilitas. Hal ini terutama karena
sedikitnya pengetahuan tentang penyebab infertilitas pria,
serta keterbatasan nilai diagnostik analisis semen pada diagno-
sis infertilitas pria. Sehingga seringkali pria infertil ditangani
tanpa diagnosis klinis, hanya berdasar analisis semen yang
akurasinya juga meragukan.
Pemeriksaan pria pasangan infertil telah disederhanakan dan
dibakukan dalam Penuntun WHO untuk Pemeriksaan dan
Diagnosis Baku Pasangan Infertil yang telah diterbitkan pada
tahun 1993 (WHO, 1993) dan direvisi pada tahun 2000
(WHO, 2000). Penelitian menunjukkan bahwa protokol
WHO ini dapat diaplikasikan dengan memuaskan (Hinting
et al., 2001). Faktor penyebab didapatkan pada sekitar 60%
kasus infertilitas pria, sedangkan sisanya bersifat idiopatik.
Walaupun diagnosis infertilitas pria saat ini dapat ditegakkan,
namun kondisi yang masih bisa diobati secara konvensional
hanya sekitar 20% (Bhasin et al, 1994; Hinting et al., 2001).
Sebagian besar kasus-kasus pria infertil datang dalam keadaan
tidak bisa diobati (untreatable) atau telah dilakukan pengo-
batan tanpa hasil sehingga tidak ada pilihan pengobatan
yang efektif. Oleh karena itu teknologi reproduksi berbantu
(TRB)/(Assisted Reproductive Technology = ART) memegang
peranan penting dalam penanganan infertilitas pria.
PENGOBATAN KONVENSIONAL
Secara konvensional dapat dilakukan konseling, pemberian
obat-obatan, pembedahan, eliminasi faktor-faktor toksik
dan lingkungan atau pengobatan empiris pada pria infertil.
Pengobatan konvensional bisa dibagi menjadi pengobatan
kausal atau spesifik yang berdasarkan patofisiologi, dan
pengobatan empirik yang hanya berdasarkan pendekatan
hipotetik.
PENGOBATAN SPESIFIK
Kesulitan melakukan sanggama dapat diatasi dengan kon-
seling psikologis atau memberikan pengobatan disfungsi ereksi
dengan obat-obatan seperti sildenafil atau vasodilator intra
kavernosa, sehingga konsepsi dapat terjadi secara alamiah.
Perlu diingat bahwa faktor penyebab dari gangguan ereksi
atau ejakulasi seperti diabetes mellitus harus diatasi Dalam
beberapa kasus disfungsi ereksi atau gangguan ejakulasi
yang tidak terobati perlu dilakukan penampungan sperma
khusus atau pengambilan sperma epididymis/testis untuk
dilakukan TRB.
Sebab endokrin karena defisiensi gonadotropin (hipogona-
gotropik) dapat diobati dengan penyuntikan hormon gona-
dotropin. Dibutuhkan penyuntikan lebih dari 3 bulan untuk
menghasilkan sperma yang cukup untuk konsepsi. Kadang-
kadang konsepsi tidak kunjung tiba walaupun sperma telah
Penatalaksanaan
Infertilitas Pria Terkini
Aucky Hinting
Departemen Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya
ABSTRAK
Penatalaksanaan pria infertil saat ini masih merupakan masalah bagi para klinisi karena keterbatasan dalam
membuat diagnosis, memberikan pengobatan rasional dan tidak tersedianya fasilitas. Dengan protokol
yang ada, diagnosis infertilitas pria saat ini dapat ditegakkan dan pengobatan dapat diberikan secara
konvensional maupun lanjut. Pengobatan konvensional yang diberikan secara spesifik berdasar diagnosis
kausal, dapat memberikan hasil yang cukup efektif. Namun, data-data menunjukkan bahwa proporsi pria
infertil yang bisa diobati secara spesifik hanya sebagian kecil. Sebagian besar kasus-kasus pria infertil datang
dalam keadaan tidak bisa diobati (untreatable) atau telah dilakukan pengobatan tanpa hasil sehingga tidak
ada pilihan pengobatan yang efektif. Oleh karena itu teknologi reproduksi berbantu (TRB)/ (Assisted Repro-
ductive Technology = ART) memegang peranan penting dalam penanganan infertilitas pria. Sejak dilapork-
annya keberhasilan injeksi satu spermatozoon ke dalam sitoplasma oosit (Intra Cytoplasmic Sperm Injection
= ICSI), teknik ini menjadi pilihan penanganan infertilitas pria yang paling efektif. Namun demikian, tidak
semua klinik memiliki fasilitas ICSI dan tidak semua pasien mampu dan mau mengikuti program ICSI. Pada
sperma dengan kelainan ringan, bilamana pihak istri normal, maka masih ada tempat untuk mencoba
teknik lain seperti inseminasi intra uterin (IUI). Dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana kita melaku-
kan seleksi pasien dan menerapkan pilihan pengobatan dengan tepat. Dengan memberikan pelayanan
yang lengkap mulai dari pengobatan konvensional sampai ICSI, maka saat ini hampir semua masalah
infertilitas pria dapat ditangani dengan hasil yang efektif.
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
265
HASIL PENELITIAN
dengan penelitian Henning (1991) pada kelompok laki-laki sehat
yang diberi vit C dosis rendah ( 5 s/d 20 mg/hari ) kadar total
glutation secara bermakna menurun. Penelitian Johnston (1993)
terhadap orang dewasa sehat yang diberi vit C 500 mg/hari,
kadar glutation darahnya meningkat secara bermakna.
Hubungan antara Penambahan Selenium dan Vit C dengan
kadar Hemoglobin
Penambahan Selenium 100 ąg dan vit C 50 mg selama 7 hari
berturut-turut menaikkan kadar Hb darah baik di kelompok
Selenium maupun pada kelompok Selenium + vit C. Ketika dosis
dinaikkan menjadi Selenium 200 ąg dan vit C 100 mg, kelom-
pok Selenium tetap menunjukkan kenaikan kadar Hb, sedang-
kan kelompok Selenium + vit C, kadar Hb darahnya justru turun.
Keadaan ini semata-mata disebabkan oleh penambahan dosis
vit C, mengingat pada kelompok Selenium saja baik dosis 100
ąg maupun 200 ąg, kadar Hb darahnya tetap meningkat.
Penurunan kadar Hb pada penambahan vit C akibat efek Pro-
Oksidant vit C pada proses reduksi besi feri
15
. Kombinasi vit C
dengan redok aktif besi dapat memicu terbentuknya lipid
peroksidasi yang akhirnya dapat merusak membran sel eritrosit.
In vivo, besi terikat pada protein transferin dan feritin pada
kondisi tidak siap sebagai katalisator, walaupun demikian pro-
oksidan alamiah yang kuat dari komplek vit C besi dapat
meningkatkan risiko kerusakan oksidatif pada seseorang yang
memiliki simpanan besi tinggi dan mendapat suplemen vit C
(Tabel 1 dan Grafik 1 ).
Hasil uji statistik Mancova (Lampiran 1):
1. Ada perbedaan bermakna kadar ChEA kelompok Selenium
dengan kelompok kontrol ( p = 0,050 ), juga antara kelompok
Selenium + Vit C dengan kontrol ( p = 0,014 ).
2. Tidak ada perbedaan bermakna kadar GPX antara kelompok
Selenium dengan kelompok kontrol ( p = 0,202 ), juga tidak
ada perbedaan bermakna kadar GPX antara kelompok
Selenium + Vit C dengan kontrol ( p = 0,511 ).
3. Ada perbedaan bermakna kadar Hb antara kelompok Selenium
dengan kelompok kontrol ( p = 0,0001 ), tetapi tidak untuk
kelompok Selenium + Vit C dibanding kontrol ( p = 0,534 ).
SIMPULAN
(1). Penambahan Selenium 200 ąg pada petani penyemprot
organofosfat dapat meningkatkan kadar ChEA darah sebesar
1,85%, penambahan Selenium 200 ąg dan vit C 100 mg
meningkatkan
2,14%
kadar ChEA darah.
(2). Penambahan Selenium 200 ąg pada petani penyemprot
organofosfat menurunkan kadar GPX darah sebesar 12,73%,
penambahan Selenium 200 ąg dan vit C 100 mg, mening-
katkan kadar GPX darah sebesar 0,04%.
(3). Penambahan Selenium 200 ąg pada petani penyemprot
organofosfat meningkatkan kadar Hb darah sebesar 2,66%,
penambahan Selenium 200 ąg dan vit C 100 mg malah
menurunkan kadar Hb darah sebesar 1,96%.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kaloyanova F P, EI batawi MA. Human Toxicology of Pesticides. Florida, Boston London
CRC
Press.
1991;
3-34.
2. WHO International Programme on Chemical Safety. Organophosphorous Insecticides.
A General Introduction. WHO Geneva 1986.
3. Moreto A. et.al. Biological Monitoring of Occupational Exposures to Organophos-
phate Insecticides. CRC Press. 1995; 217-21.
4. Lotti M. Treatment of Acute Organophosphate Poisoning. Med. J. Aust. 1991 (154);
51-55.
5. Kusnoputranto H. Toksikologi Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1995.
6. OťBrien RD, Yamamoto I. Eds. Biochemical Toxycology of Insecticides. New York, San
Fransisco, London : Academic Press, 1970.
7. Djojosumarto P. Toksikologi Pestisida; Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka
2008 (1) : 238-261.
8. Spears. R. Recognized and Possible Exposure to Pesticides. Handbook of Pesticide
Toxicology, 1991 (1): 245-272.
9. Ekha Isvasta. Dilema Pestisida dalam Tragedi Revolusi Hijau. Yogyakarta: Kanisius, 1988.
10. Hollingworth RM. The Dealkylation of Organophosphorus triester by Liver Enzyme.
Biochem. Tox. Of Insecticides 1970 ; 75-92.
11. Fukami J, Shishido T. The Role of GSH on Liverťs Microsome. J. Ecol Entomol. 1966 (59)
:
1338.
12. Stenersen J. Biochemical Metabolism of some Organophosphorus Compound. J. Ecol
Entomol. 1969 ; 62 : 1043.
13. Cowarf RP, Bonner FL, Epps EA. Rate of Hydrolysis of Seven Organo-Phosphorus
Pesticides. Bull. Environ. Toxicol.1971; 6(3) : 231-234,
14. Brody T. Selenium and Gluthation Peroxidase. Nut. Biochem. 1994; 9 : 209-279.
15. Levander OA. Selenium; Trace Element in Human and Animal Nutrition. Academic
Press. Orlando 1986 (2) : 209-279.
16. Henning SM, Zhang JZ, Mc Kee RW, Sweindseid ME, Jacob RA. Glutathion blood
levels and other Oxidant Defence Indices in men fed diets low in vit C. J Nutr 1991 ;121
:
1969-1975.
17. Youngson R. Antioxidant : Vitamin C & E for Health. Sheldon Press, Great Britain,
London
1998.
18. Campbell DT, Stanley JC. Experimental and Quasi-experimental designs for Research.
Land Mc Nally College Pub.Chicago, 1966.
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
266